Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

FWD : OOT: Spiritualitas dan Religiusitas Dua Hal Yang Berbeda

Expand Messages
  • si Brewok
    Artikel ini diposting oleh dewa brata di milis reiki-sufi http://health.groups.yahoo.com/group/reiki-sufi/ http://www.reikisufi.uni.cc/
    Message 1 of 11 , Feb 3, 2005
      Artikel ini diposting oleh dewa brata di milis reiki-sufi


      http://health.groups.yahoo.com/group/reiki-sufi/


      http://www.reikisufi.uni.cc/


      =======================================




      ini benar benar artikel yang suangaaaaaaaaaat menarik sekali.bener


      bener artikel yang indah dan menakjubkan.silakan dibaca dan


      dimengerti.semoga membuka kebuntuan jalan pikir kita.




      salam


      dewa


      jakarta




      http://home.earthlink.net/~satorifoundation/shorts/indo%


      20articles/spiritualitas-religiositas.htm




      Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak tertembus alam pikiran kita


      memang benar-benar ada, memanifestasikan dirinya sebagai


      kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling kemilau yang hanya


      dapat dipahami akal pikiran kita yang tumpul dalam bentuknya yang


      paling primitif –pengetahuan ini, perasaan ini, berada di pusat


      keriligiusan sejati. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam


      pengertian ini saja, saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang


      religius dan bertakwa.


      ~ Albert Einstein




      Agama hanyalah sebuah sistem kepercayaan yang terorganisir,


      dilandaskan pada ketakutan dan hasrat akan rasa aman. Di mana


      terdapat kepentingan pribadi, keinginan akan rasa aman, pasti akan


      ada ketakutan; dan melalui agama anda mencari apa yang dinamakan


      keabadian, kepastian di alam baka, dan mereka yang menjamin dan


      menjanjikan keabadian tersebut menjadi panduan anda, guru anda dan


      otoritas anda. Maka dari hasrat anda akan kesinambungan yang


      bersifat egois, anda menciptakan pemeras-pemeras.


      ~ Krishnamurti




      Jalurnya banyak, namun tujuannya hanya satu. Tidakkah engkau melihat


      berapa banyak jalan menuju Ka'abah? Buat sebagian orang jalannya


      mulai dari Roma, buat yang lain dari Suriah, dari Persia, atau Cina;


      sebagian datang melalui laut dari India dan Yaman. Jika engkau


      sedang mempertimbangkan jalan-jalan yang berbeda, macamnya tak


      terkira dan perbedaannya tidak berujung; namun jika engkau


      mempertimbangkan tujuannya semuanya dalam harmoni dan satu. Hati


      setiap dan masing-masing dari mereka terpatri ke Ka'abah. Setiap


      hati memiliki keterikatan yang tak terperi –cinta yang menggebu bagi


      Ka'abah—dan di dalamnya tidak ada tempat bagi pertentangan.


      Keterikatan kepada Ka'abah tidk dapat dikatakan sebagai "ketidak


      tawakalan" atau "keimanan": ia tidak bercampur dengan berbagai jalan


      yang telah kita singgung. Begitu kalifah tiba di Ka'abah, seluruh


      pertengkaran dan perkelahian keji mengenai jalur yang berbeda-beda –


      orang yang ini berkata pada yang itu "Engkau salah! Engkau murtad!"


      dan yang lainnya berteriak balik dengan cara yang sama– berakhir;


      mereka menyadari bahwa apa yang mereka pertengkarkan hanyalah


      jalannya semata, dan tujuan mereka adalah satu.


      ~ Jalaluddin Rumi




      Demontrasi berbau keagamaan yang acap kali berakhir dengan kekerasan


      nampaknya tengah mendapat momentum di negara kita. Dari yang


      menuntut penutupan tempat-tempat hiburan malam yang dianggap sebagai


      pusat kemaksiatan dan pelacuran sampai yang menuntut pemecatan


      pejabat tertentu yang dipandang sebagai tidak bermoral sampai yang


      menuntut jihad dan pembantaian penganut agama lain. Dan orang-orang


      ini mengklaim sebagai religius. Mungkin memang demikian adanya,


      karena menjadi religius itu tidak sesulit menjadi spiritual. Untuk


      menjadi religius, mungkin orang perlu memeliharan jenggot (atau


      menggunduli kepala), berpakaian dengan model tertentu, berbicara


      dengan cara tertentu, melakukan ritus-ritus keagamaan tertentu dalam


      frekuensi yang sudah ditentukan, dan melekat tanpa syarat pada


      doktrin dan dogma tertentu.




      Di dalam ucapan Ken Wilber, penganjur teori psikologi


      transpersonal yang paling terkemuka dan juga seorang filsuf:


      Spiritual has to do with actual experience, not mere beliefs; with


      God as the Ground of Being, not a cosmic Daddy figure; with awakening


      to one's true Self; not praying for one's little self; with the


      disciplining of awareness, not preachy and churchy moralisms about


      drinking and smoking and sexing; with Spirit found in everyone's


      Heart, not anything done in this or that church. (Spiritual itu


      berhubungan dengan pengalaman aktual, bukan sekedar kepercayaan;


      dengan Tuhan sebagai Landasan Keberadaan, bukan sebagai figur Bapak


      dunia; dengan keterjagaan terhadap Diri yang sejati, bukan doa bagi


      diri yang kecil; dengan pendisiplinan kesadaran, bukan moralisme


      gereja dan menggurui, bukan hal-hal yang dilakukan di gereja ini atau


      gereja itu.) Dalam kerangka acuan ini, Mahatma Gandhi adalah


      spiritual; Khomeini adalah religius. Dalai Lama, Abdurrahman Wahid,


      Nurcholis Madjid, Romo Mangun, Albert Einstein, Martin Luther King,


      Emerson, Victor Frankl --spiritual. K.H. Zainuddin MZ, Amin Rais,


      Billy Graham, Pat Robertson, and banyak lagi misionaris Kristen yang


      bicaranya berapi-api sambil mengepalkan tangannya di atas Injil yang


      biasa kita saksikan di TV -- religius.




      Yang religius dan yang spiritual bisa ditemukan dalam


      setiap tradisi keagamaan atau bahkan yang tidak ada unsur


      keagamaannya sekalipun (seorang ilmuwan yang begitu fanatik dengan


      keilmuwanannya adalah juga religius dalam caranya sendiri), dan jati


      diri mereka dengan segera terungkap dengan tiap kata yang mereka


      ucapkan atau tiap tanda kebanggan palsu dan insekuritas yang mereka


      pancarkan.




      Yang religius itu biasanya dangkal, tapi yang spiritual


      sungguh dalam seperti sumur yang tidak pernah kering. Religius itu


      sering kali tidak rasional, spiritual transrasional (melampaui batas


      rasionalitas). Religius tidak percaya pada kebesaran Tuhan mereka


      walaupun mereka kelihatannya dan mengklaim begitu, oleh karenanya


      mereka merasa perlu berduyun-duyun turun ke jalan untuk membelaNya.


      Spiritual tidak melihat apapun atau siapapun yang perlu dibela oleh


      karena "ini" dan "itu" adalah suatu pembedaan yang semu. Sebagaimana


      dikatakan Upanishad, "Bilamanan ada yang lain, ada pula ketakutan."


      Dari rasa takut ini tumbuhlah kebencian, lalu kekerasan.




      Ken Wilber mengatakan, "If we are going to insist on identifying with


      just the little self in here, than others are going to bruise it,


      insult it, injure it. The ego, then, is kept in existence by a


      collection of emotional insults, it carries its personal bruises as


      the fabric of its very existence. It actively collects hurts and


      insults, even while resenting them, because without its bruises, it


      would be, literally, nothing." ("Jika kita berkeras untuk


      mengidentifikasikan diri dengan hanya sang diri yang kecil, maka


      orang lain akan membuatnya biru lebam, menginanya, melukainya. Ego


      itu, oleh karenanya, dipertahankan keberadaaannya oleh sekumpulan


      luka emosioanl, yang demikian adanya meski kita tidak menyukainya,


      karena tanpa biru lebam itu, ia, secara harfiah, bukanlah apa-apa.")


      Seseorang tidak perlu memiliki agama untuk menjadi


      spiritual (seperti Eisntein misalnya) namun seseorang jelas perlu


      melekat pada penafsiran agama yang dangkal dan letterlijk (harfiah)


      untuk menjadi religius. Orang religius tidak percaya pada kesetaraan


      seluruh umat manusia, orang spiritual merasakan hubungan yang erat


      dengan dan terpana pada seluruh semesta alam. Religius melihat


      orang lain yang tidak seiman atau sependapat dengan apa yang mereka


      yakini sebagai musuh potensial, spiritual tidak melihat relevansi


      dalam kategori dan label. Religius berkeras bahwa mereka yang tidak


      percaya pada versi Tuhan mereka akan dipanggang di neraka abadi,


      tidak ada tawar-menawar. Spiritual melihat nilai kebajikan dalam


      setiap agama, tradisi, kebudayaan dan manusia.




      Religius menjejalkan dogma keagamaan ke mulut anda. Spiritual
      bertapakur, berdialog dan


      berdiskusi. Religius acap kali bersorak-sorai di atas


      pengrusakan "suci" dan "ilahi". Spiritual mengayomi, membangun dan


      memberikan tempat bagi pertumbuhan dan pematangan diri. Religius


      memaksakan kesamaan dan kesesuaian yang cuma di kulit saja, spiritual


      mensyukuri perbedaan dan kebebasan berpendapat serta penjelajahan


      intelektual sementara secara hakiki mereka adalah satu dan sama.


      Religius sering kali bersifat fasis, spiritual bersifat humanis


      intelektual. Religius gampang disulut bahkan oleh tindakan kecil


      yang tidak memiliki maksud apa-apa karena, seperti yang disinggung di


      atas, keberadaan mereka bergantung pada luka dan hinaan. Spiritual


      bersifat kontemplatif dalam setiap pasang-surut kehidupan. Religius


      merasa perlu mempertontonkan ketakwaan mereka, spiritual puas dengan


      apa yang mereka ketahui tentang diri mereka sendiri. Religius


      menyembah Tuhan yang kecil, yang pandang bulu, pendendam dan


      yang "banyak tingkah," spiritual menemukan Tuhan di dalam diri mereka


      yang paling dalam.




      Religius telah membawa begitu banyak perang dan


      pertumpahan darah di sepanjang sejarah kemanusiaan. Spiritual tidak


      percaya pada keagungan semu perang. Religius memanipulasi agama


      bagi kepentingannya sendiri. Spiritual terlalu beradab untuk


      mengajari hal-hal yang tidak mereka yakini dan praktekkan sendiri.


      Religius berwatak mitik (percaya mitos). Spiritual


      berwatak mistik. Mistikisme itu evolusioner dan progresif, bukannya


      devolusioner dan regresif.




      Dalai Lama berkata, "Agama saya adalah cinta kasih." Gus


      Dur tidak merasa berdosa karena menemukan ketentraman berada di pura


      Hindu. Romo Mangun, pastur Katolik yang juga "saudara Gus Dur yang


      paling tersayang," membaktikan sebagian besar hidupnya bagi


      kesejahteraan dan kepentingan rakyat kecil beragama Islam. Amin


      Rais berseru bahwa "kesabaran kita ada batasnya, kita harus membela


      saudara kita seiman." K.H. Zainuddin MZ menyerukan kepada umat Islam


      untuk tidak memberikan suara bagi yang tidak seiman oleh karena


      mereka semata bukanlah manusia dengan derajad yang sama. Pat


      Robertson "mengasihani" orang-orang Hindu yang "sesat dan


      menyedihkan" karena mereka menyembah bermacam manifestasi yang


      berbeda dari satu Tuhan yang sama dan tidak secara eksklusif menerima


      darah Yesus yang kudus. Kita dapat dengan mudah memilah beras dari


      gabahnya.




      Apa yang benar-benar kita butuhkan saat ini bukanlah


      agama, namun sebuah gerakan spiritual yang berlandaskan pada filosofi


      perenis (perenis berarti universal yang melampaui seluruh aspek mitik


      dan eksoteris agama-agama yang saling bertentangan satu sama lain).


      Agama memecah-belah sementara spiritualitas mempersatukan. Agama


      adalah dogma sementara spiritualitas adalah pengalaman. Dogma itu


      mati, pengalaman itu hidup dan berkembang. Apakah ini sebuah


      himbauan bagi sisntesis dari berbagai macam agama? Jawabannya tentu


      tidaklah sesederhana ya atau tidak dan itu amat bergantung pada


      perspektif masing-masing orang: orang yang berbeda memliki tingkat


      kesiapan yang berbeda. Orang yang berbeda menemukan rasa aman pada


      dogma dan seperangkat kepercayaan yang berbeda. Satu hal yang


      selamanya benar adalah bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dalam


      diri kita yang paling dalam. Kebenaran tidak ditemukan di jalan, di


      dalam dakwah berapi-api para pendeta atau rahib atau ulama, tidak


      datang dari kitab suci, tidak pula dari orang-orang yang memiliki


      kekuasaan. Satu-satunya nasihat adalah jika anda bertemu Buddha di


      jalan, bunuhlah ia.
    • jayagiri9
      Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini. Apakah dia seorang spiritualis ataukah seorang religius ? Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin.
      Message 2 of 11 , Feb 7, 2005
        Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini. Apakah dia seorang spiritualis ataukah seorang religius ?
        Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin. Menurut artikel ini seorang spiritualis adalah seorang yg berwawasan luas, tidak dogmatis dan bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi . Tapi dilain sisi artikel ini sendiri jelas mendiskreditkan kaum religius ( sekaligus meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin kan kalau penulis seorang spiritualis.
        Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini juga sama tidak mungkinnya. Mana mungkin dia mencaci maki dirinya sendiri ?
        Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang meng'kotak2'an sesuatu dan suka mengkonfrontir hal satu dg lainnya sehingga orang merasa dihakimi oleh yg tidak berhak ?
        Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan spiritualis, bisa jadi penulis artikel ini seorang opportunis yg sedang mencari celah utk di obok2. he...he..

        Wassalam

        si Brewok <red_conjurer@...> wrote:

        Artikel ini diposting oleh dewa brata di milis reiki-sufi


        http://health.groups.yahoo.com/group/reiki-sufi/


        http://www.reikisufi.uni.cc/


        =======================================




        ini benar benar artikel yang suangaaaaaaaaaat menarik sekali.bener


        bener artikel yang indah dan menakjubkan.silakan dibaca dan


        dimengerti.semoga membuka kebuntuan jalan pikir kita.




        salam


        dewa


        jakarta




        http://home.earthlink.net/~satorifoundation/shorts/indo%


        20articles/spiritualitas-religiositas.htm




        Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak tertembus alam pikiran kita


        memang benar-benar ada, memanifestasikan dirinya sebagai


        kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling kemilau yang hanya


        dapat dipahami akal pikiran kita yang tumpul dalam bentuknya yang


        paling primitif �pengetahuan ini, perasaan ini, berada di pusat


        keriligiusan sejati. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam


        pengertian ini saja, saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang


        religius dan bertakwa.


        ~ Albert Einstein




        Agama hanyalah sebuah sistem kepercayaan yang terorganisir,


        dilandaskan pada ketakutan dan hasrat akan rasa aman. Di mana


        terdapat kepentingan pribadi, keinginan akan rasa aman, pasti akan


        ada ketakutan; dan melalui agama anda mencari apa yang dinamakan


        keabadian, kepastian di alam baka, dan mereka yang menjamin dan


        menjanjikan keabadian tersebut menjadi panduan anda, guru anda dan


        otoritas anda. Maka dari hasrat anda akan kesinambungan yang


        bersifat egois, anda menciptakan pemeras-pemeras.


        ~ Krishnamurti




        Jalurnya banyak, namun tujuannya hanya satu. Tidakkah engkau melihat


        berapa banyak jalan menuju Ka'abah? Buat sebagian orang jalannya


        mulai dari Roma, buat yang lain dari Suriah, dari Persia, atau Cina;


        sebagian datang melalui laut dari India dan Yaman. Jika engkau


        sedang mempertimbangkan jalan-jalan yang berbeda, macamnya tak


        terkira dan perbedaannya tidak berujung; namun jika engkau


        mempertimbangkan tujuannya semuanya dalam harmoni dan satu. Hati


        setiap dan masing-masing dari mereka terpatri ke Ka'abah. Setiap


        hati memiliki keterikatan yang tak terperi �cinta yang menggebu bagi


        Ka'abah�dan di dalamnya tidak ada tempat bagi pertentangan.


        Keterikatan kepada Ka'abah tidk dapat dikatakan sebagai "ketidak


        tawakalan" atau "keimanan": ia tidak bercampur dengan berbagai jalan


        yang telah kita singgung. Begitu kalifah tiba di Ka'abah, seluruh


        pertengkaran dan perkelahian keji mengenai jalur yang berbeda-beda �


        orang yang ini berkata pada yang itu "Engkau salah! Engkau murtad!"


        dan yang lainnya berteriak balik dengan cara yang sama� berakhir;


        mereka menyadari bahwa apa yang mereka pertengkarkan hanyalah


        jalannya semata, dan tujuan mereka adalah satu.


        ~ Jalaluddin Rumi




        Demontrasi berbau keagamaan yang acap kali berakhir dengan kekerasan


        nampaknya tengah mendapat momentum di negara kita. Dari yang


        menuntut penutupan tempat-tempat hiburan malam yang dianggap sebagai


        pusat kemaksiatan dan pelacuran sampai yang menuntut pemecatan


        pejabat tertentu yang dipandang sebagai tidak bermoral sampai yang


        menuntut jihad dan pembantaian penganut agama lain. Dan orang-orang


        ini mengklaim sebagai religius. Mungkin memang demikian adanya,


        karena menjadi religius itu tidak sesulit menjadi spiritual. Untuk


        menjadi religius, mungkin orang perlu memeliharan jenggot (atau


        menggunduli kepala), berpakaian dengan model tertentu, berbicara


        dengan cara tertentu, melakukan ritus-ritus keagamaan tertentu dalam


        frekuensi yang sudah ditentukan, dan melekat tanpa syarat pada


        doktrin dan dogma tertentu.




        Di dalam ucapan Ken Wilber, penganjur teori psikologi


        transpersonal yang paling terkemuka dan juga seorang filsuf:


        Spiritual has to do with actual experience, not mere beliefs; with


        God as the Ground of Being, not a cosmic Daddy figure; with awakening


        to one's true Self; not praying for one's little self; with the


        disciplining of awareness, not preachy and churchy moralisms about


        drinking and smoking and sexing; with Spirit found in everyone's


        Heart, not anything done in this or that church. (Spiritual itu


        berhubungan dengan pengalaman aktual, bukan sekedar kepercayaan;


        dengan Tuhan sebagai Landasan Keberadaan, bukan sebagai figur Bapak


        dunia; dengan keterjagaan terhadap Diri yang sejati, bukan doa bagi


        diri yang kecil; dengan pendisiplinan kesadaran, bukan moralisme


        gereja dan menggurui, bukan hal-hal yang dilakukan di gereja ini atau


        gereja itu.) Dalam kerangka acuan ini, Mahatma Gandhi adalah


        spiritual; Khomeini adalah religius. Dalai Lama, Abdurrahman Wahid,


        Nurcholis Madjid, Romo Mangun, Albert Einstein, Martin Luther King,


        Emerson, Victor Frankl --spiritual. K.H. Zainuddin MZ, Amin Rais,


        Billy Graham, Pat Robertson, and banyak lagi misionaris Kristen yang


        bicaranya berapi-api sambil mengepalkan tangannya di atas Injil yang


        biasa kita saksikan di TV -- religius.




        Yang religius dan yang spiritual bisa ditemukan dalam


        setiap tradisi keagamaan atau bahkan yang tidak ada unsur


        keagamaannya sekalipun (seorang ilmuwan yang begitu fanatik dengan


        keilmuwanannya adalah juga religius dalam caranya sendiri), dan jati


        diri mereka dengan segera terungkap dengan tiap kata yang mereka


        ucapkan atau tiap tanda kebanggan palsu dan insekuritas yang mereka


        pancarkan.




        Yang religius itu biasanya dangkal, tapi yang spiritual


        sungguh dalam seperti sumur yang tidak pernah kering. Religius itu


        sering kali tidak rasional, spiritual transrasional (melampaui batas


        rasionalitas). Religius tidak percaya pada kebesaran Tuhan mereka


        walaupun mereka kelihatannya dan mengklaim begitu, oleh karenanya


        mereka merasa perlu berduyun-duyun turun ke jalan untuk membelaNya.


        Spiritual tidak melihat apapun atau siapapun yang perlu dibela oleh


        karena "ini" dan "itu" adalah suatu pembedaan yang semu. Sebagaimana


        dikatakan Upanishad, "Bilamanan ada yang lain, ada pula ketakutan."


        Dari rasa takut ini tumbuhlah kebencian, lalu kekerasan.




        Ken Wilber mengatakan, "If we are going to insist on identifying with


        just the little self in here, than others are going to bruise it,


        insult it, injure it. The ego, then, is kept in existence by a


        collection of emotional insults, it carries its personal bruises as


        the fabric of its very existence. It actively collects hurts and


        insults, even while resenting them, because without its bruises, it


        would be, literally, nothing." ("Jika kita berkeras untuk


        mengidentifikasikan diri dengan hanya sang diri yang kecil, maka


        orang lain akan membuatnya biru lebam, menginanya, melukainya. Ego


        itu, oleh karenanya, dipertahankan keberadaaannya oleh sekumpulan


        luka emosioanl, yang demikian adanya meski kita tidak menyukainya,


        karena tanpa biru lebam itu, ia, secara harfiah, bukanlah apa-apa.")


        Seseorang tidak perlu memiliki agama untuk menjadi


        spiritual (seperti Eisntein misalnya) namun seseorang jelas perlu


        melekat pada penafsiran agama yang dangkal dan letterlijk (harfiah)


        untuk menjadi religius. Orang religius tidak percaya pada kesetaraan


        seluruh umat manusia, orang spiritual merasakan hubungan yang erat


        dengan dan terpana pada seluruh semesta alam. Religius melihat


        orang lain yang tidak seiman atau sependapat dengan apa yang mereka


        yakini sebagai musuh potensial, spiritual tidak melihat relevansi


        dalam kategori dan label. Religius berkeras bahwa mereka yang tidak


        percaya pada versi Tuhan mereka akan dipanggang di neraka abadi,


        tidak ada tawar-menawar. Spiritual melihat nilai kebajikan dalam


        setiap agama, tradisi, kebudayaan dan manusia.




        Religius menjejalkan dogma keagamaan ke mulut anda. Spiritual
        bertapakur, berdialog dan


        berdiskusi. Religius acap kali bersorak-sorai di atas


        pengrusakan "suci" dan "ilahi". Spiritual mengayomi, membangun dan


        memberikan tempat bagi pertumbuhan dan pematangan diri. Religius


        memaksakan kesamaan dan kesesuaian yang cuma di kulit saja, spiritual


        mensyukuri perbedaan dan kebebasan berpendapat serta penjelajahan


        intelektual sementara secara hakiki mereka adalah satu dan sama.


        Religius sering kali bersifat fasis, spiritual bersifat humanis


        intelektual. Religius gampang disulut bahkan oleh tindakan kecil


        yang tidak memiliki maksud apa-apa karena, seperti yang disinggung di


        atas, keberadaan mereka bergantung pada luka dan hinaan. Spiritual


        bersifat kontemplatif dalam setiap pasang-surut kehidupan. Religius


        merasa perlu mempertontonkan ketakwaan mereka, spiritual puas dengan


        apa yang mereka ketahui tentang diri mereka sendiri. Religius


        menyembah Tuhan yang kecil, yang pandang bulu, pendendam dan


        yang "banyak tingkah," spiritual menemukan Tuhan di dalam diri mereka


        yang paling dalam.




        Religius telah membawa begitu banyak perang dan


        pertumpahan darah di sepanjang sejarah kemanusiaan. Spiritual tidak


        percaya pada keagungan semu perang. Religius memanipulasi agama


        bagi kepentingannya sendiri. Spiritual terlalu beradab untuk


        mengajari hal-hal yang tidak mereka yakini dan praktekkan sendiri.


        Religius berwatak mitik (percaya mitos). Spiritual


        berwatak mistik. Mistikisme itu evolusioner dan progresif, bukannya


        devolusioner dan regresif.




        Dalai Lama berkata, "Agama saya adalah cinta kasih." Gus


        Dur tidak merasa berdosa karena menemukan ketentraman berada di pura


        Hindu. Romo Mangun, pastur Katolik yang juga "saudara Gus Dur yang


        paling tersayang," membaktikan sebagian besar hidupnya bagi


        kesejahteraan dan kepentingan rakyat kecil beragama Islam. Amin


        Rais berseru bahwa "kesabaran kita ada batasnya, kita harus membela


        saudara kita seiman." K.H. Zainuddin MZ menyerukan kepada umat Islam


        untuk tidak memberikan suara bagi yang tidak seiman oleh karena


        mereka semata bukanlah manusia dengan derajad yang sama. Pat


        Robertson "mengasihani" orang-orang Hindu yang "sesat dan


        menyedihkan" karena mereka menyembah bermacam manifestasi yang


        berbeda dari satu Tuhan yang sama dan tidak secara eksklusif menerima


        darah Yesus yang kudus. Kita dapat dengan mudah memilah beras dari


        gabahnya.




        Apa yang benar-benar kita butuhkan saat ini bukanlah


        agama, namun sebuah gerakan spiritual yang berlandaskan pada filosofi


        perenis (perenis berarti universal yang melampaui seluruh aspek mitik


        dan eksoteris agama-agama yang saling bertentangan satu sama lain).


        Agama memecah-belah sementara spiritualitas mempersatukan. Agama


        adalah dogma sementara spiritualitas adalah pengalaman. Dogma itu


        mati, pengalaman itu hidup dan berkembang. Apakah ini sebuah


        himbauan bagi sisntesis dari berbagai macam agama? Jawabannya tentu


        tidaklah sesederhana ya atau tidak dan itu amat bergantung pada


        perspektif masing-masing orang: orang yang berbeda memliki tingkat


        kesiapan yang berbeda. Orang yang berbeda menemukan rasa aman pada


        dogma dan seperangkat kepercayaan yang berbeda. Satu hal yang


        selamanya benar adalah bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dalam


        diri kita yang paling dalam. Kebenaran tidak ditemukan di jalan, di


        dalam dakwah berapi-api para pendeta atau rahib atau ulama, tidak


        datang dari kitab suci, tidak pula dari orang-orang yang memiliki


        kekuasaan. Satu-satunya nasihat adalah jika anda bertemu Buddha di


        jalan, bunuhlah ia.










        ---------------------------------
        Yahoo! Groups Links

        To visit your group on the web, go to:
        http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

        To unsubscribe from this group, send an email to:
        mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com

        Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.



        ---------------------------------
        Do you Yahoo!?
        Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.

        [Non-text portions of this message have been removed]
      • utrie ginting
        Salam spiritual, ... cukup baik buat direnungkan... :-) Menurut saya, cocok buat orang2 yang disebut religius oleh penulis.... :-) Saya tidak akan menghakimi
        Message 3 of 11 , Feb 10, 2005
          Salam spiritual,

          :-) Pendapat saya agak berbeda nih... Tulisan ini
          cukup baik buat direnungkan... :-) Menurut saya, cocok
          buat orang2 yang disebut religius oleh penulis.... :-)
          Saya tidak akan "menghakimi" dengan menyebutkan
          penulis sebagai spiritual atau religius, namun lebih
          baik kita melihat esensi tulisannya... Bukankah baik
          adanya bila kita tidak membeda-bedakan sesama
          ciptaanNya?

          Tulisan yang bagus... Bravo!

          Terima kasih,

          Gerry

          --- jayagiri9 <jayagiri9@...> wrote:

          >
          > Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini.
          > Apakah dia seorang spiritualis ataukah seorang
          > religius ?
          > Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin.
          > Menurut artikel ini seorang spiritualis adalah
          > seorang yg berwawasan luas, tidak dogmatis dan
          > bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi . Tapi
          > dilain sisi artikel ini sendiri jelas
          > mendiskreditkan kaum religius ( sekaligus
          > meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin kan
          > kalau penulis seorang spiritualis.
          > Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini
          > juga sama tidak mungkinnya. Mana mungkin dia mencaci
          > maki dirinya sendiri ?
          > Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang
          > meng'kotak2'an sesuatu dan suka mengkonfrontir hal
          > satu dg lainnya sehingga orang merasa dihakimi oleh
          > yg tidak berhak ?
          > Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan
          > spiritualis, bisa jadi penulis artikel ini seorang
          > opportunis yg sedang mencari celah utk di obok2.
          > he...he..
          >
          > Wassalam
          >




          __________________________________
          Do you Yahoo!?
          Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
          http://promotions.yahoo.com/new_mail
        • dewa brata
          menurut saya tulisan itu bagus sekali..... karena menunjukan peta dan kebenaran akan masa sekarang.penulis ini mengetahui dengan pasti dan menuliskan apa yang
          Message 4 of 11 , Feb 11, 2005
            menurut saya tulisan itu bagus sekali.....

            karena menunjukan peta dan kebenaran akan masa sekarang.penulis ini
            mengetahui dengan pasti dan menuliskan apa yang dilihatnya.tentu saja
            selama ada di dunia tetap akan ada yin dan yang,hitam dan putih.
            memang kita bisa saja tidak peduli akan semua itu.dan kemudian duduk
            untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri.tetapi tokh yang kita
            hadapi di dunia seperti itu.sebuah kebajikan tanpa adanya tindakan
            adalah omong kosong.pencerahan budha tanpa adanya pengajaran adalah
            kosong dan tak berguna.
            dan untuk menyebarkan tentu harus ditunjukan mana yang salah,mana
            yang benar,mana yang samsara,mana yang pencerahan.karena tujuanya
            mengajak orang lain untuk sadar dan sadar menuju tingkat yang lebih
            tinggi.
            waktu dan saat telah tiba bagi kita semua,bahwa spiritualitas memang
            harus diajarkan dan disebarkan.walaupun itu menghadapi kepala keras
            kaum religius.pertanyaanya?siapkah anda?siapkah anda menggugah
            kesadaran masyarakat dari dogma dogma keliru yang berdasarkan atas
            ayat ayat suci?yang sebenarnya telah dijalankan keliru oleh
            penganutnya?menjadi alasan bagi penghancuran dan pertumpahan darah?
            mau tidak mau pemikiran dan kesadaran ini harus dikembangkan dan
            diluaskan.kita tidak sekedar mencari kemampuan menyembuhkan atau
            sekedar main main energi disini kan?tujuan pencarian kita masuk ke
            arah spiritualitas adalah mencari pencerahan,melihat apa apa yang
            tidak benar dan menimbulkan samsara,lalu melihat dan mencoba
            menggapai pencerahan.oleh karena itu luruskan dahulu niat kita
            kita.banyak praktisi diluar milis ini yang tujuan awalnya hanya
            mencari kesaktian.kemampuan untuk mengolah energi,menyembuhkan.tapi
            ketika perluasan kesadaran mendekati dan menyentuh lembut mereka.hati
            mereka tetap keras membatu dan ahirnya mereka meninggalkan semua dan
            kembali lagi pada keadaan awal mereka.sadarilah sebelum semuanya
            terlambat.perbaiki niyatan kita dari awal......

            salam
            dewa
            jakarta

            --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, jayagiri9 <jayagiri9@y...>
            wrote:
            > Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini. Apakah dia
            seorang spiritualis ataukah seorang religius ?
            > Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin. Menurut artikel
            ini seorang spiritualis adalah seorang yg berwawasan luas, tidak
            dogmatis dan bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi . Tapi
            dilain sisi artikel ini sendiri jelas mendiskreditkan kaum religius (
            sekaligus meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin kan kalau
            penulis seorang spiritualis.
            > Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini juga sama tidak
            mungkinnya. Mana mungkin dia mencaci maki dirinya sendiri ?
            > Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang meng'kotak2'an
            sesuatu dan suka mengkonfrontir hal satu dg lainnya sehingga orang
            merasa dihakimi oleh yg tidak berhak ?
            > Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan spiritualis, bisa
            jadi penulis artikel ini seorang opportunis yg sedang mencari celah
            utk di obok2. he...he..
            >
            > Wassalam
            >
            > si Brewok <red_conjurer@y...> wrote:
            >
            > Artikel ini diposting oleh dewa brata di milis reiki-sufi
            >
            >
            > http://health.groups.yahoo.com/group/reiki-sufi/
            >
            >
            > http://www.reikisufi.uni.cc/
            >
            >
            > =======================================
            >
            >
            >
            >
            > ini benar benar artikel yang suangaaaaaaaaaat menarik sekali.bener
            >
            >
            > bener artikel yang indah dan menakjubkan.silakan dibaca dan
            >
            >
            > dimengerti.semoga membuka kebuntuan jalan pikir kita.
            >
            >
            >
            >
            > salam
            >
            >
            > dewa
            >
            >
            > jakarta
            >
            >
            >
            >
            > http://home.earthlink.net/~satorifoundation/shorts/indo%
            >
            >
            > 20articles/spiritualitas-religiositas.htm
            >
            >
            >
            >
            > Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak tertembus alam pikiran kita
            >
            >
            > memang benar-benar ada, memanifestasikan dirinya sebagai
            >
            >
            > kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling kemilau yang hanya
            >
            >
            > dapat dipahami akal pikiran kita yang tumpul dalam bentuknya yang
            >
            >
            > paling primitif –pengetahuan ini, perasaan ini, berada di pusat
            >
            >
            > keriligiusan sejati. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam
            >
            >
            > pengertian ini saja, saya termasuk ke dalam golongan orang-orang
            yang
            >
            >
            > religius dan bertakwa.
            >
            >
            > ~ Albert Einstein
            >
            >
            >
            >
            > Agama hanyalah sebuah sistem kepercayaan yang terorganisir,
            >
            >
            > dilandaskan pada ketakutan dan hasrat akan rasa aman. Di mana
            >
            >
            > terdapat kepentingan pribadi, keinginan akan rasa aman, pasti akan
            >
            >
            > ada ketakutan; dan melalui agama anda mencari apa yang dinamakan
            >
            >
            > keabadian, kepastian di alam baka, dan mereka yang menjamin dan
            >
            >
            > menjanjikan keabadian tersebut menjadi panduan anda, guru anda dan
            >
            >
            > otoritas anda. Maka dari hasrat anda akan kesinambungan yang
            >
            >
            > bersifat egois, anda menciptakan pemeras-pemeras.
            >
            >
            > ~ Krishnamurti
            >
            >
            >
            >
            > Jalurnya banyak, namun tujuannya hanya satu. Tidakkah engkau melihat
            >
            >
            > berapa banyak jalan menuju Ka'abah? Buat sebagian orang jalannya
            >
            >
            > mulai dari Roma, buat yang lain dari Suriah, dari Persia, atau Cina;
            >
            >
            > sebagian datang melalui laut dari India dan Yaman. Jika engkau
            >
            >
            > sedang mempertimbangkan jalan-jalan yang berbeda, macamnya tak
            >
            >
            > terkira dan perbedaannya tidak berujung; namun jika engkau
            >
            >
            > mempertimbangkan tujuannya semuanya dalam harmoni dan satu. Hati
            >
            >
            > setiap dan masing-masing dari mereka terpatri ke Ka'abah. Setiap
            >
            >
            > hati memiliki keterikatan yang tak terperi –cinta yang menggebu bagi
            >
            >
            > Ka'abah—dan di dalamnya tidak ada tempat bagi pertentangan.
            >
            >
            > Keterikatan kepada Ka'abah tidk dapat dikatakan sebagai "ketidak
            >
            >
            > tawakalan" atau "keimanan": ia tidak bercampur dengan berbagai jalan
            >
            >
            > yang telah kita singgung. Begitu kalifah tiba di Ka'abah, seluruh
            >
            >
            > pertengkaran dan perkelahian keji mengenai jalur yang berbeda-beda –
            >
            >
            > orang yang ini berkata pada yang itu "Engkau salah! Engkau murtad!"
            >
            >
            > dan yang lainnya berteriak balik dengan cara yang sama– berakhir;
            >
            >
            > mereka menyadari bahwa apa yang mereka pertengkarkan hanyalah
            >
            >
            > jalannya semata, dan tujuan mereka adalah satu.
            >
            >
            > ~ Jalaluddin Rumi
            >
            >
            >
            >
            > Demontrasi berbau keagamaan yang acap kali berakhir dengan kekerasan
            >
            >
            > nampaknya tengah mendapat momentum di negara kita. Dari yang
            >
            >
            > menuntut penutupan tempat-tempat hiburan malam yang dianggap sebagai
            >
            >
            > pusat kemaksiatan dan pelacuran sampai yang menuntut pemecatan
            >
            >
            > pejabat tertentu yang dipandang sebagai tidak bermoral sampai yang
            >
            >
            > menuntut jihad dan pembantaian penganut agama lain. Dan orang-orang
            >
            >
            > ini mengklaim sebagai religius. Mungkin memang demikian adanya,
            >
            >
            > karena menjadi religius itu tidak sesulit menjadi spiritual. Untuk
            >
            >
            > menjadi religius, mungkin orang perlu memeliharan jenggot (atau
            >
            >
            > menggunduli kepala), berpakaian dengan model tertentu, berbicara
            >
            >
            > dengan cara tertentu, melakukan ritus-ritus keagamaan tertentu dalam
            >
            >
            > frekuensi yang sudah ditentukan, dan melekat tanpa syarat pada
            >
            >
            > doktrin dan dogma tertentu.
            >
            >
            >
            >
            > Di dalam ucapan Ken Wilber, penganjur teori psikologi
            >
            >
            > transpersonal yang paling terkemuka dan juga seorang filsuf:
            >
            >
            > Spiritual has to do with actual experience, not mere beliefs; with
            >
            >
            > God as the Ground of Being, not a cosmic Daddy figure; with
            awakening
            >
            >
            > to one's true Self; not praying for one's little self; with the
            >
            >
            > disciplining of awareness, not preachy and churchy moralisms about
            >
            >
            > drinking and smoking and sexing; with Spirit found in everyone's
            >
            >
            > Heart, not anything done in this or that church. (Spiritual itu
            >
            >
            > berhubungan dengan pengalaman aktual, bukan sekedar kepercayaan;
            >
            >
            > dengan Tuhan sebagai Landasan Keberadaan, bukan sebagai figur Bapak
            >
            >
            > dunia; dengan keterjagaan terhadap Diri yang sejati, bukan doa bagi
            >
            >
            > diri yang kecil; dengan pendisiplinan kesadaran, bukan moralisme
            >
            >
            > gereja dan menggurui, bukan hal-hal yang dilakukan di gereja ini
            atau
            >
            >
            > gereja itu.) Dalam kerangka acuan ini, Mahatma Gandhi adalah
            >
            >
            > spiritual; Khomeini adalah religius. Dalai Lama, Abdurrahman Wahid,
            >
            >
            > Nurcholis Madjid, Romo Mangun, Albert Einstein, Martin Luther King,
            >
            >
            > Emerson, Victor Frankl --spiritual. K.H. Zainuddin MZ, Amin Rais,
            >
            >
            > Billy Graham, Pat Robertson, and banyak lagi misionaris Kristen yang
            >
            >
            > bicaranya berapi-api sambil mengepalkan tangannya di atas Injil yang
            >
            >
            > biasa kita saksikan di TV -- religius.
            >
            >
            >
            >
            > Yang religius dan yang spiritual bisa ditemukan dalam
            >
            >
            > setiap tradisi keagamaan atau bahkan yang tidak ada unsur
            >
            >
            > keagamaannya sekalipun (seorang ilmuwan yang begitu fanatik dengan
            >
            >
            > keilmuwanannya adalah juga religius dalam caranya sendiri), dan jati
            >
            >
            > diri mereka dengan segera terungkap dengan tiap kata yang mereka
            >
            >
            > ucapkan atau tiap tanda kebanggan palsu dan insekuritas yang mereka
            >
            >
            > pancarkan.
            >
            >
            >
            >
            > Yang religius itu biasanya dangkal, tapi yang spiritual
            >
            >
            > sungguh dalam seperti sumur yang tidak pernah kering. Religius itu
            >
            >
            > sering kali tidak rasional, spiritual transrasional (melampaui batas
            >
            >
            > rasionalitas). Religius tidak percaya pada kebesaran Tuhan mereka
            >
            >
            > walaupun mereka kelihatannya dan mengklaim begitu, oleh karenanya
            >
            >
            > mereka merasa perlu berduyun-duyun turun ke jalan untuk membelaNya.
            >
            >
            > Spiritual tidak melihat apapun atau siapapun yang perlu dibela oleh
            >
            >
            > karena "ini" dan "itu" adalah suatu pembedaan yang semu. Sebagaimana
            >
            >
            > dikatakan Upanishad, "Bilamanan ada yang lain, ada pula ketakutan."
            >
            >
            > Dari rasa takut ini tumbuhlah kebencian, lalu kekerasan.
            >
            >
            >
            >
            > Ken Wilber mengatakan, "If we are going to insist on identifying
            with
            >
            >
            > just the little self in here, than others are going to bruise it,
            >
            >
            > insult it, injure it. The ego, then, is kept in existence by a
            >
            >
            > collection of emotional insults, it carries its personal bruises as
            >
            >
            > the fabric of its very existence. It actively collects hurts and
            >
            >
            > insults, even while resenting them, because without its bruises, it
            >
            >
            > would be, literally, nothing." ("Jika kita berkeras untuk
            >
            >
            > mengidentifikasikan diri dengan hanya sang diri yang kecil, maka
            >
            >
            > orang lain akan membuatnya biru lebam, menginanya, melukainya. Ego
            >
            >
            > itu, oleh karenanya, dipertahankan keberadaaannya oleh sekumpulan
            >
            >
            > luka emosioanl, yang demikian adanya meski kita tidak menyukainya,
            >
            >
            > karena tanpa biru lebam itu, ia, secara harfiah, bukanlah apa-apa.")
            >
            >
            > Seseorang tidak perlu memiliki agama untuk menjadi
            >
            >
            > spiritual (seperti Eisntein misalnya) namun seseorang jelas perlu
            >
            >
            > melekat pada penafsiran agama yang dangkal dan letterlijk (harfiah)
            >
            >
            > untuk menjadi religius. Orang religius tidak percaya pada kesetaraan
            >
            >
            > seluruh umat manusia, orang spiritual merasakan hubungan yang erat
            >
            >
            > dengan dan terpana pada seluruh semesta alam. Religius melihat
            >
            >
            > orang lain yang tidak seiman atau sependapat dengan apa yang mereka
            >
            >
            > yakini sebagai musuh potensial, spiritual tidak melihat relevansi
            >
            >
            > dalam kategori dan label. Religius berkeras bahwa mereka yang tidak
            >
            >
            > percaya pada versi Tuhan mereka akan dipanggang di neraka abadi,
            >
            >
            > tidak ada tawar-menawar. Spiritual melihat nilai kebajikan dalam
            >
            >
            > setiap agama, tradisi, kebudayaan dan manusia.
            >
            >
            >
            >
            > Religius menjejalkan dogma keagamaan ke mulut anda. Spiritual
            > bertapakur, berdialog dan
            >
            >
            > berdiskusi. Religius acap kali bersorak-sorai di atas
            >
            >
            > pengrusakan "suci" dan "ilahi". Spiritual mengayomi, membangun dan
            >
            >
            > memberikan tempat bagi pertumbuhan dan pematangan diri. Religius
            >
            >
            > memaksakan kesamaan dan kesesuaian yang cuma di kulit saja,
            spiritual
            >
            >
            > mensyukuri perbedaan dan kebebasan berpendapat serta penjelajahan
            >
            >
            > intelektual sementara secara hakiki mereka adalah satu dan sama.
            >
            >
            > Religius sering kali bersifat fasis, spiritual bersifat humanis
            >
            >
            > intelektual. Religius gampang disulut bahkan oleh tindakan kecil
            >
            >
            > yang tidak memiliki maksud apa-apa karena, seperti yang disinggung
            di
            >
            >
            > atas, keberadaan mereka bergantung pada luka dan hinaan. Spiritual
            >
            >
            > bersifat kontemplatif dalam setiap pasang-surut kehidupan. Religius
            >
            >
            > merasa perlu mempertontonkan ketakwaan mereka, spiritual puas dengan
            >
            >
            > apa yang mereka ketahui tentang diri mereka sendiri. Religius
            >
            >
            > menyembah Tuhan yang kecil, yang pandang bulu, pendendam dan
            >
            >
            > yang "banyak tingkah," spiritual menemukan Tuhan di dalam diri
            mereka
            >
            >
            > yang paling dalam.
            >
            >
            >
            >
            > Religius telah membawa begitu banyak perang dan
            >
            >
            > pertumpahan darah di sepanjang sejarah kemanusiaan. Spiritual tidak
            >
            >
            > percaya pada keagungan semu perang. Religius memanipulasi agama
            >
            >
            > bagi kepentingannya sendiri. Spiritual terlalu beradab untuk
            >
            >
            > mengajari hal-hal yang tidak mereka yakini dan praktekkan sendiri.
            >
            >
            > Religius berwatak mitik (percaya mitos). Spiritual
            >
            >
            > berwatak mistik. Mistikisme itu evolusioner dan progresif, bukannya
            >
            >
            > devolusioner dan regresif.
            >
            >
            >
            >
            > Dalai Lama berkata, "Agama saya adalah cinta kasih." Gus
            >
            >
            > Dur tidak merasa berdosa karena menemukan ketentraman berada di pura
            >
            >
            > Hindu. Romo Mangun, pastur Katolik yang juga "saudara Gus Dur yang
            >
            >
            > paling tersayang," membaktikan sebagian besar hidupnya bagi
            >
            >
            > kesejahteraan dan kepentingan rakyat kecil beragama Islam. Amin
            >
            >
            > Rais berseru bahwa "kesabaran kita ada batasnya, kita harus membela
            >
            >
            > saudara kita seiman." K.H. Zainuddin MZ menyerukan kepada umat Islam
            >
            >
            > untuk tidak memberikan suara bagi yang tidak seiman oleh karena
            >
            >
            > mereka semata bukanlah manusia dengan derajad yang sama. Pat
            >
            >
            > Robertson "mengasihani" orang-orang Hindu yang "sesat dan
            >
            >
            > menyedihkan" karena mereka menyembah bermacam manifestasi yang
            >
            >
            > berbeda dari satu Tuhan yang sama dan tidak secara eksklusif
            menerima
            >
            >
            > darah Yesus yang kudus. Kita dapat dengan mudah memilah beras dari
            >
            >
            > gabahnya.
            >
            >
            >
            >
            > Apa yang benar-benar kita butuhkan saat ini bukanlah
            >
            >
            > agama, namun sebuah gerakan spiritual yang berlandaskan pada
            filosofi
            >
            >
            > perenis (perenis berarti universal yang melampaui seluruh aspek
            mitik
            >
            >
            > dan eksoteris agama-agama yang saling bertentangan satu sama lain).
            >
            >
            > Agama memecah-belah sementara spiritualitas mempersatukan. Agama
            >
            >
            > adalah dogma sementara spiritualitas adalah pengalaman. Dogma itu
            >
            >
            > mati, pengalaman itu hidup dan berkembang. Apakah ini sebuah
            >
            >
            > himbauan bagi sisntesis dari berbagai macam agama? Jawabannya tentu
            >
            >
            > tidaklah sesederhana ya atau tidak dan itu amat bergantung pada
            >
            >
            > perspektif masing-masing orang: orang yang berbeda memliki tingkat
            >
            >
            > kesiapan yang berbeda. Orang yang berbeda menemukan rasa aman pada
            >
            >
            > dogma dan seperangkat kepercayaan yang berbeda. Satu hal yang
            >
            >
            > selamanya benar adalah bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dalam
            >
            >
            > diri kita yang paling dalam. Kebenaran tidak ditemukan di jalan, di
            >
            >
            > dalam dakwah berapi-api para pendeta atau rahib atau ulama, tidak
            >
            >
            > datang dari kitab suci, tidak pula dari orang-orang yang memiliki
            >
            >
            > kekuasaan. Satu-satunya nasihat adalah jika anda bertemu Buddha di
            >
            >
            > jalan, bunuhlah ia.
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            > ---------------------------------
            > Yahoo! Groups Links
            >
            > To visit your group on the web, go to:
            > http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
            >
            > To unsubscribe from this group, send an email to:
            > mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com
            >
            > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
            Service.
            >
            >
            >
            > ---------------------------------
            > Do you Yahoo!?
            > Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
          • jayagiri9
            Ya pak dewa,. Buat Bapak, Bung Gerry , Dalai Lama, Gus Dur tulisan ini pasti bagus he...he. Bahkan buat sebagian besar orang yg mengaku dirinya spiritualis .
            Message 5 of 11 , Feb 13, 2005
              Ya pak dewa,.

              Buat Bapak, Bung Gerry , Dalai Lama, Gus Dur tulisan ini pasti bagus he...he. Bahkan buat sebagian besar orang yg mengaku dirinya 'spiritualis'.

              Tapi buat Khomeini, Zainudin MZ, Amien Rais, yg dicap religius pasti tidak seperti itu....
              Dan saya hanya mencoba ' to stand on their shoes '. Seandainya saya Khomeini, Amin Rais, Zainudin MZ dst...

              Religius itu kan (menurut tulisan ini) pemikirannya dangkal, intoleran, suka menghakimi etc..etc..sedangkan spiritualitas itu kan sebaliknya ( masih menurut tulisan ini lho )...Jadi kalau saya tanya penulis itu religius atau spiritualis, ya wajar saja. Just curiosity...

              Itu dari satu sisi yakni sisi menghakimi orang lain..
              .
              Dari sisi lain, walaupun saya bukan ahli bahasa, ada kecenderungan untuk membelokkan arti (konotatif) dari kata religius yg artinya selama ini, menurut saya, positif ( yakni seorang yg saleh, menjalankan syariat agama) menjadi sesuatu yg artinya cenderung negatif, yg lebih dekat pada indoktrinasi, dogmatisme dan fanatisme. Apa memang betul begitu ?

              Spiritual & religi(agama) jelas merupakan dua hal yg berbeda yg tidak bisa dibandingkan. Sama dengan kalau kita mau membandingkan Hakikat dan Syariat walaupun sebenarnya masih kurang tepat karena religi isinya bukan cuma syariat doang. Tapi paling tidak bisa mendekati pengertian umum tentang religi (agama)

              Yang lebih menakutkan bila memang pengertian istilah religius yg negatif ini ditelan generasi muda, bisa2 mereka menjauhi agama.

              Jadi ya hati2lah kalau menggunakan istilah ( maaf saya sendiri bukan ahli bahasa, pengertian religi diatas saya ambil dari pengertian umum)

              Dan kalau memang penulis ini mencap tokoh2 religius diatas sesuai dengan kriteria religius dari sang penulis yg berkonotasi negatif, ada baiknya penulis mengirimi mereka email ini sehingga mereka bisa mempunyai hak jawab. Kalau tidak, ya sama saja dg fitnah......

              Kalau saya sendiri, jelas ngga ada apa2nya dibandingkan Khomeini, Zainudin MZ, Amin Rais.
              Tapi ngga tau kalau penulis ya, mungkin beliau jauh lebih baik. he..he
              Semoga...


              dewa brata <bugullor@...> wrote:
              menurut saya tulisan itu bagus sekali.....

              karena menunjukan peta dan kebenaran akan masa sekarang.penulis ini
              mengetahui dengan pasti dan menuliskan apa yang dilihatnya.tentu saja
              selama ada di dunia tetap akan ada yin dan yang,hitam dan putih.
              memang kita bisa saja tidak peduli akan semua itu.dan kemudian duduk
              untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri.tetapi tokh yang kita
              hadapi di dunia seperti itu.sebuah kebajikan tanpa adanya tindakan
              adalah omong kosong.pencerahan budha tanpa adanya pengajaran adalah
              kosong dan tak berguna.
              dan untuk menyebarkan tentu harus ditunjukan mana yang salah,mana
              yang benar,mana yang samsara,mana yang pencerahan.karena tujuanya
              mengajak orang lain untuk sadar dan sadar menuju tingkat yang lebih
              tinggi.
              waktu dan saat telah tiba bagi kita semua,bahwa spiritualitas memang
              harus diajarkan dan disebarkan.walaupun itu menghadapi kepala keras
              kaum religius.pertanyaanya?siapkah anda?siapkah anda menggugah
              kesadaran masyarakat dari dogma dogma keliru yang berdasarkan atas
              ayat ayat suci?yang sebenarnya telah dijalankan keliru oleh
              penganutnya?menjadi alasan bagi penghancuran dan pertumpahan darah?
              mau tidak mau pemikiran dan kesadaran ini harus dikembangkan dan
              diluaskan.kita tidak sekedar mencari kemampuan menyembuhkan atau
              sekedar main main energi disini kan?tujuan pencarian kita masuk ke
              arah spiritualitas adalah mencari pencerahan,melihat apa apa yang
              tidak benar dan menimbulkan samsara,lalu melihat dan mencoba
              menggapai pencerahan.oleh karena itu luruskan dahulu niat kita
              kita.banyak praktisi diluar milis ini yang tujuan awalnya hanya
              mencari kesaktian.kemampuan untuk mengolah energi,menyembuhkan.tapi
              ketika perluasan kesadaran mendekati dan menyentuh lembut mereka.hati
              mereka tetap keras membatu dan ahirnya mereka meninggalkan semua dan
              kembali lagi pada keadaan awal mereka.sadarilah sebelum semuanya
              terlambat.perbaiki niyatan kita dari awal......

              salam
              dewa
              jakarta

              --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, jayagiri9 <jayagiri9@y...>
              wrote:
              > Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini. Apakah dia
              seorang spiritualis ataukah seorang religius ?
              > Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin. Menurut artikel
              ini seorang spiritualis adalah seorang yg berwawasan luas, tidak
              dogmatis dan bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi . Tapi
              dilain sisi artikel ini sendiri jelas mendiskreditkan kaum religius (
              sekaligus meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin kan kalau
              penulis seorang spiritualis.
              > Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini juga sama tidak
              mungkinnya. Mana mungkin dia mencaci maki dirinya sendiri ?
              > Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang meng'kotak2'an
              sesuatu dan suka mengkonfrontir hal satu dg lainnya sehingga orang
              merasa dihakimi oleh yg tidak berhak ?
              > Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan spiritualis, bisa
              jadi penulis artikel ini seorang opportunis yg sedang mencari celah
              utk di obok2. he...he..
              >
              > Wassalam
              >
              > si Brewok <red_conjurer@y...> wrote:
              >
              > Artikel ini diposting oleh dewa brata di milis reiki-sufi
              >
              >
              > http://health.groups.yahoo.com/group/reiki-sufi/
              >
              >
              > http://www.reikisufi.uni.cc/
              >
              >
              > =======================================
              >
              >
              >
              >
              > ini benar benar artikel yang suangaaaaaaaaaat menarik sekali.bener
              >
              >
              > bener artikel yang indah dan menakjubkan.silakan dibaca dan
              >
              >
              > dimengerti.semoga membuka kebuntuan jalan pikir kita.
              >
              >
              >
              >
              > salam
              >
              >
              > dewa
              >
              >
              > jakarta
              >
              >
              >
              >
              > http://home.earthlink.net/~satorifoundation/shorts/indo%
              >
              >
              > 20articles/spiritualitas-religiositas.htm
              >
              >
              >
              >
              > Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak tertembus alam pikiran kita
              >
              >
              > memang benar-benar ada, memanifestasikan dirinya sebagai
              >
              >
              > kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling kemilau yang hanya
              >
              >
              > dapat dipahami akal pikiran kita yang tumpul dalam bentuknya yang
              >
              >
              > paling primitif �pengetahuan ini, perasaan ini, berada di pusat
              >
              >
              > keriligiusan sejati. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam
              >
              >
              > pengertian ini saja, saya termasuk ke dalam golongan orang-orang
              yang
              >
              >
              > religius dan bertakwa.
              >
              >
              > ~ Albert Einstein
              >
              >
              >
              >
              > Agama hanyalah sebuah sistem kepercayaan yang terorganisir,
              >
              >
              > dilandaskan pada ketakutan dan hasrat akan rasa aman. Di mana
              >
              >
              > terdapat kepentingan pribadi, keinginan akan rasa aman, pasti akan
              >
              >
              > ada ketakutan; dan melalui agama anda mencari apa yang dinamakan
              >
              >
              > keabadian, kepastian di alam baka, dan mereka yang menjamin dan
              >
              >
              > menjanjikan keabadian tersebut menjadi panduan anda, guru anda dan
              >
              >
              > otoritas anda. Maka dari hasrat anda akan kesinambungan yang
              >
              >
              > bersifat egois, anda menciptakan pemeras-pemeras.
              >
              >
              > ~ Krishnamurti
              >
              >
              >
              >
              > Jalurnya banyak, namun tujuannya hanya satu. Tidakkah engkau melihat
              >
              >
              > berapa banyak jalan menuju Ka'abah? Buat sebagian orang jalannya
              >
              >
              > mulai dari Roma, buat yang lain dari Suriah, dari Persia, atau Cina;
              >
              >
              > sebagian datang melalui laut dari India dan Yaman. Jika engkau
              >
              >
              > sedang mempertimbangkan jalan-jalan yang berbeda, macamnya tak
              >
              >
              > terkira dan perbedaannya tidak berujung; namun jika engkau
              >
              >
              > mempertimbangkan tujuannya semuanya dalam harmoni dan satu. Hati
              >
              >
              > setiap dan masing-masing dari mereka terpatri ke Ka'abah. Setiap
              >
              >
              > hati memiliki keterikatan yang tak terperi �cinta yang menggebu bagi
              >
              >
              > Ka'abah�dan di dalamnya tidak ada tempat bagi pertentangan.
              >
              >
              > Keterikatan kepada Ka'abah tidk dapat dikatakan sebagai "ketidak
              >
              >
              > tawakalan" atau "keimanan": ia tidak bercampur dengan berbagai jalan
              >
              >
              > yang telah kita singgung. Begitu kalifah tiba di Ka'abah, seluruh
              >
              >
              > pertengkaran dan perkelahian keji mengenai jalur yang berbeda-beda �
              >
              >
              > orang yang ini berkata pada yang itu "Engkau salah! Engkau murtad!"
              >
              >
              > dan yang lainnya berteriak balik dengan cara yang sama� berakhir;
              >
              >
              > mereka menyadari bahwa apa yang mereka pertengkarkan hanyalah
              >
              >
              > jalannya semata, dan tujuan mereka adalah satu.
              >
              >
              > ~ Jalaluddin Rumi
              >
              >
              >
              >
              > Demontrasi berbau keagamaan yang acap kali berakhir dengan kekerasan
              >
              >
              > nampaknya tengah mendapat momentum di negara kita. Dari yang
              >
              >
              > menuntut penutupan tempat-tempat hiburan malam yang dianggap sebagai
              >
              >
              > pusat kemaksiatan dan pelacuran sampai yang menuntut pemecatan
              >
              >
              > pejabat tertentu yang dipandang sebagai tidak bermoral sampai yang
              >
              >
              > menuntut jihad dan pembantaian penganut agama lain. Dan orang-orang
              >
              >
              > ini mengklaim sebagai religius. Mungkin memang demikian adanya,
              >
              >
              > karena menjadi religius itu tidak sesulit menjadi spiritual. Untuk
              >
              >
              > menjadi religius, mungkin orang perlu memeliharan jenggot (atau
              >
              >
              > menggunduli kepala), berpakaian dengan model tertentu, berbicara
              >
              >
              > dengan cara tertentu, melakukan ritus-ritus keagamaan tertentu dalam
              >
              >
              > frekuensi yang sudah ditentukan, dan melekat tanpa syarat pada
              >
              >
              > doktrin dan dogma tertentu.
              >
              >
              >
              >
              > Di dalam ucapan Ken Wilber, penganjur teori psikologi
              >
              >
              > transpersonal yang paling terkemuka dan juga seorang filsuf:
              >
              >
              > Spiritual has to do with actual experience, not mere beliefs; with
              >
              >
              > God as the Ground of Being, not a cosmic Daddy figure; with
              awakening
              >
              >
              > to one's true Self; not praying for one's little self; with the
              >
              >
              > disciplining of awareness, not preachy and churchy moralisms about
              >
              >
              > drinking and smoking and sexing; with Spirit found in everyone's
              >
              >
              > Heart, not anything done in this or that church. (Spiritual itu
              >
              >
              > berhubungan dengan pengalaman aktual, bukan sekedar kepercayaan;
              >
              >
              > dengan Tuhan sebagai Landasan Keberadaan, bukan sebagai figur Bapak
              >
              >
              > dunia; dengan keterjagaan terhadap Diri yang sejati, bukan doa bagi
              >
              >
              > diri yang kecil; dengan pendisiplinan kesadaran, bukan moralisme
              >
              >
              > gereja dan menggurui, bukan hal-hal yang dilakukan di gereja ini
              atau
              >
              >
              > gereja itu.) Dalam kerangka acuan ini, Mahatma Gandhi adalah
              >
              >
              > spiritual; Khomeini adalah religius. Dalai Lama, Abdurrahman Wahid,
              >
              >
              > Nurcholis Madjid, Romo Mangun, Albert Einstein, Martin Luther King,
              >
              >
              > Emerson, Victor Frankl --spiritual. K.H. Zainuddin MZ, Amin Rais,
              >
              >
              > Billy Graham, Pat Robertson, and banyak lagi misionaris Kristen yang
              >
              >
              > bicaranya berapi-api sambil mengepalkan tangannya di atas Injil yang
              >
              >
              > biasa kita saksikan di TV -- religius.
              >
              >
              >
              >
              > Yang religius dan yang spiritual bisa ditemukan dalam
              >
              >
              > setiap tradisi keagamaan atau bahkan yang tidak ada unsur
              >
              >
              > keagamaannya sekalipun (seorang ilmuwan yang begitu fanatik dengan
              >
              >
              > keilmuwanannya adalah juga religius dalam caranya sendiri), dan jati
              >
              >
              > diri mereka dengan segera terungkap dengan tiap kata yang mereka
              >
              >
              > ucapkan atau tiap tanda kebanggan palsu dan insekuritas yang mereka
              >
              >
              > pancarkan.
              >
              >
              >
              >
              > Yang religius itu biasanya dangkal, tapi yang spiritual
              >
              >
              > sungguh dalam seperti sumur yang tidak pernah kering. Religius itu
              >
              >
              > sering kali tidak rasional, spiritual transrasional (melampaui batas
              >
              >
              > rasionalitas). Religius tidak percaya pada kebesaran Tuhan mereka
              >
              >
              > walaupun mereka kelihatannya dan mengklaim begitu, oleh karenanya
              >
              >
              > mereka merasa perlu berduyun-duyun turun ke jalan untuk membelaNya.
              >
              >
              > Spiritual tidak melihat apapun atau siapapun yang perlu dibela oleh
              >
              >
              > karena "ini" dan "itu" adalah suatu pembedaan yang semu. Sebagaimana
              >
              >
              > dikatakan Upanishad, "Bilamanan ada yang lain, ada pula ketakutan."
              >
              >
              > Dari rasa takut ini tumbuhlah kebencian, lalu kekerasan.
              >
              >
              >
              >
              > Ken Wilber mengatakan, "If we are going to insist on identifying
              with
              >
              >
              > just the little self in here, than others are going to bruise it,
              >
              >
              > insult it, injure it. The ego, then, is kept in existence by a
              >
              >
              > collection of emotional insults, it carries its personal bruises as
              >
              >
              > the fabric of its very existence. It actively collects hurts and
              >
              >
              > insults, even while resenting them, because without its bruises, it
              >
              >
              > would be, literally, nothing." ("Jika kita berkeras untuk
              >
              >
              > mengidentifikasikan diri dengan hanya sang diri yang kecil, maka
              >
              >
              > orang lain akan membuatnya biru lebam, menginanya, melukainya. Ego
              >
              >
              > itu, oleh karenanya, dipertahankan keberadaaannya oleh sekumpulan
              >
              >
              > luka emosioanl, yang demikian adanya meski kita tidak menyukainya,
              >
              >
              > karena tanpa biru lebam itu, ia, secara harfiah, bukanlah apa-apa.")
              >
              >
              > Seseorang tidak perlu memiliki agama untuk menjadi
              >
              >
              > spiritual (seperti Eisntein misalnya) namun seseorang jelas perlu
              >
              >
              > melekat pada penafsiran agama yang dangkal dan letterlijk (harfiah)
              >
              >
              > untuk menjadi religius. Orang religius tidak percaya pada kesetaraan
              >
              >
              > seluruh umat manusia, orang spiritual merasakan hubungan yang erat
              >
              >
              > dengan dan terpana pada seluruh semesta alam. Religius melihat
              >
              >
              > orang lain yang tidak seiman atau sependapat dengan apa yang mereka
              >
              >
              > yakini sebagai musuh potensial, spiritual tidak melihat relevansi
              >
              >
              > dalam kategori dan label. Religius berkeras bahwa mereka yang tidak
              >
              >
              > percaya pada versi Tuhan mereka akan dipanggang di neraka abadi,
              >
              >
              > tidak ada tawar-menawar. Spiritual melihat nilai kebajikan dalam
              >
              >
              > setiap agama, tradisi, kebudayaan dan manusia.
              >
              >
              >
              >
              > Religius menjejalkan dogma keagamaan ke mulut anda. Spiritual
              > bertapakur, berdialog dan
              >
              >
              > berdiskusi. Religius acap kali bersorak-sorai di atas
              >
              >
              > pengrusakan "suci" dan "ilahi". Spiritual mengayomi, membangun dan
              >
              >
              > memberikan tempat bagi pertumbuhan dan pematangan diri. Religius
              >
              >
              > memaksakan kesamaan dan kesesuaian yang cuma di kulit saja,
              spiritual
              >
              >
              > mensyukuri perbedaan dan kebebasan berpendapat serta penjelajahan
              >
              >
              > intelektual sementara secara hakiki mereka adalah satu dan sama.
              >
              >
              > Religius sering kali bersifat fasis, spiritual bersifat humanis
              >
              >
              > intelektual. Religius gampang disulut bahkan oleh tindakan kecil
              >
              >
              > yang tidak memiliki maksud apa-apa karena, seperti yang disinggung
              di
              >
              >
              > atas, keberadaan mereka bergantung pada luka dan hinaan. Spiritual
              >
              >
              > bersifat kontemplatif dalam setiap pasang-surut kehidupan. Religius
              >
              >
              > merasa perlu mempertontonkan ketakwaan mereka, spiritual puas dengan
              >
              >
              > apa yang mereka ketahui tentang diri mereka sendiri. Religius
              >
              >
              > menyembah Tuhan yang kecil, yang pandang bulu, pendendam dan
              >
              >
              > yang "banyak tingkah," spiritual menemukan Tuhan di dalam diri
              mereka
              >
              >
              > yang paling dalam.
              >
              >
              >
              >
              > Religius telah membawa begitu banyak perang dan
              >
              >
              > pertumpahan darah di sepanjang sejarah kemanusiaan. Spiritual tidak
              >
              >
              > percaya pada keagungan semu perang. Religius memanipulasi agama
              >
              >
              > bagi kepentingannya sendiri. Spiritual terlalu beradab untuk
              >
              >
              > mengajari hal-hal yang tidak mereka yakini dan praktekkan sendiri.
              >
              >
              > Religius berwatak mitik (percaya mitos). Spiritual
              >
              >
              > berwatak mistik. Mistikisme itu evolusioner dan progresif, bukannya
              >
              >
              > devolusioner dan regresif.
              >
              >
              >
              >
              > Dalai Lama berkata, "Agama saya adalah cinta kasih." Gus
              >
              >
              > Dur tidak merasa berdosa karena menemukan ketentraman berada di pura
              >
              >
              > Hindu. Romo Mangun, pastur Katolik yang juga "saudara Gus Dur yang
              >
              >
              > paling tersayang," membaktikan sebagian besar hidupnya bagi
              >
              >
              > kesejahteraan dan kepentingan rakyat kecil beragama Islam. Amin
              >
              >
              > Rais berseru bahwa "kesabaran kita ada batasnya, kita harus membela
              >
              >
              > saudara kita seiman." K.H. Zainuddin MZ menyerukan kepada umat Islam
              >
              >
              > untuk tidak memberikan suara bagi yang tidak seiman oleh karena
              >
              >
              > mereka semata bukanlah manusia dengan derajad yang sama. Pat
              >
              >
              > Robertson "mengasihani" orang-orang Hindu yang "sesat dan
              >
              >
              > menyedihkan" karena mereka menyembah bermacam manifestasi yang
              >
              >
              > berbeda dari satu Tuhan yang sama dan tidak secara eksklusif
              menerima
              >
              >
              > darah Yesus yang kudus. Kita dapat dengan mudah memilah beras dari
              >
              >
              > gabahnya.
              >
              >
              >
              >
              > Apa yang benar-benar kita butuhkan saat ini bukanlah
              >
              >
              > agama, namun sebuah gerakan spiritual yang berlandaskan pada
              filosofi
              >
              >
              > perenis (perenis berarti universal yang melampaui seluruh aspek
              mitik
              >
              >
              > dan eksoteris agama-agama yang saling bertentangan satu sama lain).
              >
              >
              > Agama memecah-belah sementara spiritualitas mempersatukan. Agama
              >
              >
              > adalah dogma sementara spiritualitas adalah pengalaman. Dogma itu
              >
              >
              > mati, pengalaman itu hidup dan berkembang. Apakah ini sebuah
              >
              >
              > himbauan bagi sisntesis dari berbagai macam agama? Jawabannya tentu
              >
              >
              > tidaklah sesederhana ya atau tidak dan itu amat bergantung pada
              >
              >
              > perspektif masing-masing orang: orang yang berbeda memliki tingkat
              >
              >
              > kesiapan yang berbeda. Orang yang berbeda menemukan rasa aman pada
              >
              >
              > dogma dan seperangkat kepercayaan yang berbeda. Satu hal yang
              >
              >
              > selamanya benar adalah bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dalam
              >
              >
              > diri kita yang paling dalam. Kebenaran tidak ditemukan di jalan, di
              >
              >
              > dalam dakwah berapi-api para pendeta atau rahib atau ulama, tidak
              >
              >
              > datang dari kitab suci, tidak pula dari orang-orang yang memiliki
              >
              >
              > kekuasaan. Satu-satunya nasihat adalah jika anda bertemu Buddha di
              >
              >
              > jalan, bunuhlah ia.
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              >
              > ---------------------------------
              > Yahoo! Groups Links
              >
              > To visit your group on the web, go to:
              > http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
              >
              > To unsubscribe from this group, send an email to:
              > mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com
              >
              > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
              Service.
              >
              >
              >
              > ---------------------------------
              > Do you Yahoo!?
              > Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
              >
              > [Non-text portions of this message have been removed]





              ---------------------------------
              Yahoo! Groups Links

              To visit your group on the web, go to:
              http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

              To unsubscribe from this group, send an email to:
              mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com

              Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.



              __________________________________________________
              Do You Yahoo!?
              Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
              http://mail.yahoo.com

              [Non-text portions of this message have been removed]
            • utrie ginting
              Dear Mas Jaya, Jangan menrasa di- hakimi dengan tulisan ini lho? Saya rasa bahwa saya dan teman2 tidak juga menghakimi Khomeini, Zainnudin MZ dan Amien Rais
              Message 6 of 11 , Feb 14, 2005
                Dear Mas Jaya,

                Jangan menrasa di-"hakimi" dengan tulisan ini lho?
                Saya rasa bahwa saya dan teman2 tidak juga menghakimi
                Khomeini, Zainnudin MZ dan Amien Rais sebagai seorang
                yang religius.... Yang saya tangkap dalam tulisan
                tersebut adalah esensinya...

                Jangan kita hanya "buta" dan fanatik terhadap satu
                agama (yang kita anut), tanpa memperdulikan sekeliling
                kita yang notabene banyak penganut agama lainnya...
                Juga jangan sampe gara2 itu kita mencap agama ataupun
                kepercayaan orang lain itu salah....

                Itu saja, plain and simple...menurut saya... Semua
                jalan membawa kita ke surga kok Mas.... :-)

                Salam,

                Gerry

                --- jayagiri9 <jayagiri9@...> wrote:

                >
                > Ya pak dewa,.
                >
                > Buat Bapak, Bung Gerry , Dalai Lama, Gus Dur tulisan
                > ini pasti bagus he...he. Bahkan buat sebagian besar
                > orang yg mengaku dirinya 'spiritualis'.
                >
                > Tapi buat Khomeini, Zainudin MZ, Amien Rais, yg
                > dicap religius pasti tidak seperti itu....
                > Dan saya hanya mencoba ' to stand on their shoes '.
                > Seandainya saya Khomeini, Amin Rais, Zainudin MZ
                > dst...
                >
                > Religius itu kan (menurut tulisan ini) pemikirannya
                > dangkal, intoleran, suka menghakimi
                > etc..etc..sedangkan spiritualitas itu kan sebaliknya
                > ( masih menurut tulisan ini lho )...Jadi kalau saya
                > tanya penulis itu religius atau spiritualis, ya
                > wajar saja. Just curiosity...
                >
                > Itu dari satu sisi yakni sisi menghakimi orang
                > lain..
                > .
                > Dari sisi lain, walaupun saya bukan ahli bahasa, ada
                > kecenderungan untuk membelokkan arti (konotatif)
                > dari kata religius yg artinya selama ini, menurut
                > saya, positif ( yakni seorang yg saleh, menjalankan
                > syariat agama) menjadi sesuatu yg artinya cenderung
                > negatif, yg lebih dekat pada indoktrinasi,
                > dogmatisme dan fanatisme. Apa memang betul begitu ?
                >
                > Spiritual & religi(agama) jelas merupakan dua hal yg
                > berbeda yg tidak bisa dibandingkan. Sama dengan
                > kalau kita mau membandingkan Hakikat dan Syariat
                > walaupun sebenarnya masih kurang tepat karena religi
                > isinya bukan cuma syariat doang. Tapi paling tidak
                > bisa mendekati pengertian umum tentang religi
                > (agama)
                >
                > Yang lebih menakutkan bila memang pengertian istilah
                > religius yg negatif ini ditelan generasi muda, bisa2
                > mereka menjauhi agama.
                >
                > Jadi ya hati2lah kalau menggunakan istilah ( maaf
                > saya sendiri bukan ahli bahasa, pengertian religi
                > diatas saya ambil dari pengertian umum)
                >
                > Dan kalau memang penulis ini mencap tokoh2 religius
                > diatas sesuai dengan kriteria religius dari sang
                > penulis yg berkonotasi negatif, ada baiknya penulis
                > mengirimi mereka email ini sehingga mereka bisa
                > mempunyai hak jawab. Kalau tidak, ya sama saja dg
                > fitnah......
                >
                > Kalau saya sendiri, jelas ngga ada apa2nya
                > dibandingkan Khomeini, Zainudin MZ, Amin Rais.
                > Tapi ngga tau kalau penulis ya, mungkin beliau jauh
                > lebih baik. he..he
                > Semoga...




                __________________________________
                Do you Yahoo!?
                The all-new My Yahoo! - Get yours free!
                http://my.yahoo.com
              • jayagiri9
                ... Saya rasa bahwa saya dan teman2 tidak juga menghakimi Khomeini, Zainnudin MZ dan Amien Rais sebagai seorang yang religius.... Yang saya tangkap dalam
                Message 7 of 11 , Feb 14, 2005
                  >Jangan menrasa di-"hakimi" dengan tulisan ini lho?
                  Saya rasa bahwa saya dan teman2 tidak juga menghakimi
                  Khomeini, Zainnudin MZ dan Amien Rais sebagai seorang
                  yang religius.... Yang saya tangkap dalam tulisan tersebut adalah esensinya...

                  Dari awal saya tdk pernah merasa dihakimi oleh tulisan ini Bung Gerry. Kalau saya bilang saya mencoba berdiri diposisi Khomeini, Zainudin MZ & Amin Rais, bukan berarti saya pro mereka atau pro agama mereka. Gus Dur yg termasuk spiritualis dlm tulisan itu juga islam kok. Saya hanya mencoba membayangkan bila orang2 tsb membaca tulisan yg dibilang bagus itu, kira2 bagaimana perasaan mereka? Saya juga tdk mengatakan Bung dan teman2 menghakimi mereka sebagai orang2 religius. Yang saya tanyakan adalah penulisnya. Dalam tulisan itu jelas dituliskan kriteria religius itu apa dan siapa2 saja tokoh religius itu.
                  Kalau buat Bung gerry esensi tulisan itu menarik dan bagus, itu hak setiap orang utk berpendapat. Tapi pernahkah terpikir oleh Bung Gerry seandainya nama Khomeini, Amin Rais, ZAinudin MZ diganti dengan nama Bung Gerry atau teman2 yg lain?

                  >Jangan kita hanya "buta" dan fanatik terhadap satu
                  agama (yang kita anut), tanpa memperdulikan sekeliling
                  kita yang notabene banyak penganut agama lainnya...
                  Juga jangan sampe gara2 itu kita mencap agama ataupun
                  kepercayaan orang lain itu salah....

                  >Terima kasih, anda bijaksana sekali. Tapi kalau kata2 itu anda tujukan kepada saya, perkataan saya yg mana yg berlawanan dg statement anda diatas ? Apakah anda tahu agama saya apa? Apakah anda tahu saya seorang religius atau spiritualis ? Dari awal saya menyayangkan orang yg suka mengkotak2 kan golongan dengan menciptakan istilah2 yg konfrontatif. Apalagi bila istilah itu dipinjam dari istilah yg sudah ada tapi dibelokan artinya. Dalam milis ini, saya yakin banyak orang religius ( baca:beragama) sekaligus spiritualis (baca:mengenal hakikat keTuhanan). Jadi kenapa mesti dibeda2kan secara konfrontatif?.

                  >Itu saja, plain and simple...menurut saya...
                  Bisa jadi begitu, bcoz you just stand on your own shoes, tapi apa anda yakin kalau misalnya spt yg saya katakan diatas, nama anda yg ditulis menggantikan nama Khomeini, Amin Rais dan anda dicap sebagai seorang yg pemikirannya dangkal, intoleran,dogmatis dlsb ?

                  >Semua jalan membawa kita ke surga kok Mas.... :-)

                  Terima kasih untuk infonya Bung Gerry, kelihatannya anda tahu banyak tentang jalan kesurga. Saya mah boro2 mikir surga, hidup didunia saja saya masih sering kejeblos :-)
                  Anyway, terima kasih atas saran2 anda....

                  Om Santi Santi Santi Om




                  ---------------------------------
                  Do you Yahoo!?
                  Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

                  [Non-text portions of this message have been removed]
                • didi purwanto
                  apa sih artinya spritual itu menurut saya spiritualis adalah orang yang bisa memberi spirit pada diri sendiri dan orang lain kalo ada arti yang lain tolong
                  Message 8 of 11 , Feb 16, 2005
                    apa sih artinya spritual itu menurut saya spiritualis
                    adalah orang yang bisa memberi spirit pada diri
                    sendiri dan orang lain kalo ada arti yang lain tolong
                    diberitau
                    thaks


                    --- utrie ginting <u3gg@...> wrote:

                    > Salam spiritual,
                    >
                    > :-) Pendapat saya agak berbeda nih... Tulisan ini
                    > cukup baik buat direnungkan... :-) Menurut saya,
                    > cocok
                    > buat orang2 yang disebut religius oleh penulis....
                    > :-)
                    > Saya tidak akan "menghakimi" dengan menyebutkan
                    > penulis sebagai spiritual atau religius, namun lebih
                    > baik kita melihat esensi tulisannya... Bukankah baik
                    > adanya bila kita tidak membeda-bedakan sesama
                    > ciptaanNya?
                    >
                    > Tulisan yang bagus... Bravo!
                    >
                    > Terima kasih,
                    >
                    > Gerry
                    >
                    > --- jayagiri9 <jayagiri9@...> wrote:
                    >
                    > >
                    > > Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini.
                    > > Apakah dia seorang spiritualis ataukah seorang
                    > > religius ?
                    > > Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin.
                    > > Menurut artikel ini seorang spiritualis adalah
                    > > seorang yg berwawasan luas, tidak dogmatis dan
                    > > bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi .
                    > Tapi
                    > > dilain sisi artikel ini sendiri jelas
                    > > mendiskreditkan kaum religius ( sekaligus
                    > > meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin
                    > kan
                    > > kalau penulis seorang spiritualis.
                    > > Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini
                    > > juga sama tidak mungkinnya. Mana mungkin dia
                    > mencaci
                    > > maki dirinya sendiri ?
                    > > Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang
                    > > meng'kotak2'an sesuatu dan suka mengkonfrontir hal
                    > > satu dg lainnya sehingga orang merasa dihakimi
                    > oleh
                    > > yg tidak berhak ?
                    > > Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan
                    > > spiritualis, bisa jadi penulis artikel ini seorang
                    > > opportunis yg sedang mencari celah utk di obok2.
                    > > he...he..
                    > >
                    > > Wassalam
                    > >
                    >
                    >
                    >
                    >
                    > __________________________________
                    > Do you Yahoo!?
                    > Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
                    >
                    > http://promotions.yahoo.com/new_mail
                    >




                    __________________________________
                    Do you Yahoo!?
                    Meet the all-new My Yahoo! - Try it today!
                    http://my.yahoo.com
                  • Eko Kun
                    Spiritual artinya orang yang mengenal dirinya sendiri........mengenal dari dalam maupun dari luar diri kita ( siapa diri kita, siapa nama kita dan tugas kita
                    Message 9 of 11 , Feb 16, 2005
                      Spiritual artinya orang yang mengenal dirinya sendiri........mengenal dari
                      dalam maupun dari luar diri kita ( siapa diri kita, siapa nama kita dan
                      tugas kita apa di dunia ini )
                      ----- Original Message -----
                      From: "didi purwanto" <didi_pur@...>
                      To: <mayapadaprana@yahoogroups.com>
                      Sent: Wednesday, February 16, 2005 3:56 EKO
                      Subject: Re: [Mayapada Prana] FWD : OOT: Spiritualitas dan Religiusitas Dua
                      Hal Yang Berbeda


                      >
                      > apa sih artinya spritual itu menurut saya spiritualis
                      > adalah orang yang bisa memberi spirit pada diri
                      > sendiri dan orang lain kalo ada arti yang lain tolong
                      > diberitau
                      > thaks
                      >
                      >
                      > --- utrie ginting <u3gg@...> wrote:
                      >
                      >> Salam spiritual,
                      >>
                      >> :-) Pendapat saya agak berbeda nih... Tulisan ini
                      >> cukup baik buat direnungkan... :-) Menurut saya,
                      >> cocok
                      >> buat orang2 yang disebut religius oleh penulis....
                      >> :-)
                      >> Saya tidak akan "menghakimi" dengan menyebutkan
                      >> penulis sebagai spiritual atau religius, namun lebih
                      >> baik kita melihat esensi tulisannya... Bukankah baik
                      >> adanya bila kita tidak membeda-bedakan sesama
                      >> ciptaanNya?
                      >>
                      >> Tulisan yang bagus... Bravo!
                      >>
                      >> Terima kasih,
                      >>
                      >> Gerry
                      >>
                      >> --- jayagiri9 <jayagiri9@...> wrote:
                      >>
                      >> >
                      >> > Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini.
                      >> > Apakah dia seorang spiritualis ataukah seorang
                      >> > religius ?
                      >> > Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin.
                      >> > Menurut artikel ini seorang spiritualis adalah
                      >> > seorang yg berwawasan luas, tidak dogmatis dan
                      >> > bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi .
                      >> Tapi
                      >> > dilain sisi artikel ini sendiri jelas
                      >> > mendiskreditkan kaum religius ( sekaligus
                      >> > meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin
                      >> kan
                      >> > kalau penulis seorang spiritualis.
                      >> > Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini
                      >> > juga sama tidak mungkinnya. Mana mungkin dia
                      >> mencaci
                      >> > maki dirinya sendiri ?
                      >> > Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang
                      >> > meng'kotak2'an sesuatu dan suka mengkonfrontir hal
                      >> > satu dg lainnya sehingga orang merasa dihakimi
                      >> oleh
                      >> > yg tidak berhak ?
                      >> > Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan
                      >> > spiritualis, bisa jadi penulis artikel ini seorang
                      >> > opportunis yg sedang mencari celah utk di obok2.
                      >> > he...he..
                      >> >
                      >> > Wassalam
                      >> >
                      >>
                      >>
                      >>
                      >>
                      >> __________________________________
                      >> Do you Yahoo!?
                      >> Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
                      >>
                      >> http://promotions.yahoo.com/new_mail
                      >>
                      >
                      >
                      >
                      >
                      > __________________________________
                      > Do you Yahoo!?
                      > Meet the all-new My Yahoo! - Try it today!
                      > http://my.yahoo.com
                      >
                      >
                      >
                      >
                      > Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
                      > Peace & enlightenment be yours!
                      >
                      > - from guys at Mayapada Prana
                      > Yahoo! Groups Links
                      >
                      >
                      >
                      >
                      >
                      >
                    • dewa brata
                      ya monggo monggo saja lah. yang jelas memang dunia ini kebanyakan adalah mereka yang religius tapi justru dia banyak membutakan matanya sendiri dengan
                      Message 10 of 11 , Feb 22, 2005
                        ya monggo monggo saja lah. yang jelas memang dunia ini kebanyakan
                        adalah mereka yang religius tapi justru dia banyak membutakan matanya
                        sendiri dengan membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain.
                        tentu anda kemudian bertanya,apa penulis ini tidak melakukan hal yang
                        sama? ya tentu saja. tapi itu kan buat memperlihatkan,mana yang
                        seharusnya bisa kita ciptakan,kerukunan yang lebih mendalam,daripada
                        sekedar gontok gontokan dalam nama agama. anak muda justru harus baca
                        tulisan ini agar mereka memahami bahwa agama bukan tuhan yang harus
                        dibela dengan darah. karena toh tuhan gak perlu dibela sapa sapa

                        jadi yah
                        terserah.....

                        salam
                        dewa
                        jakarta

                        --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, jayagiri9 <jayagiri9@y...>
                        wrote:
                        > Ya pak dewa,.
                        >
                        > Buat Bapak, Bung Gerry , Dalai Lama, Gus Dur tulisan ini pasti
                        bagus he...he. Bahkan buat sebagian besar orang yg mengaku
                        dirinya 'spiritualis'.
                        >
                        > Tapi buat Khomeini, Zainudin MZ, Amien Rais, yg dicap religius
                        pasti tidak seperti itu....
                        > Dan saya hanya mencoba ' to stand on their shoes '. Seandainya saya
                        Khomeini, Amin Rais, Zainudin MZ dst...
                        >
                        > Religius itu kan (menurut tulisan ini) pemikirannya dangkal,
                        intoleran, suka menghakimi etc..etc..sedangkan spiritualitas itu kan
                        sebaliknya ( masih menurut tulisan ini lho )...Jadi kalau saya tanya
                        penulis itu religius atau spiritualis, ya wajar saja. Just
                        curiosity...
                        >
                        > Itu dari satu sisi yakni sisi menghakimi orang lain..
                        > .
                        > Dari sisi lain, walaupun saya bukan ahli bahasa, ada kecenderungan
                        untuk membelokkan arti (konotatif) dari kata religius yg artinya
                        selama ini, menurut saya, positif ( yakni seorang yg saleh,
                        menjalankan syariat agama) menjadi sesuatu yg artinya cenderung
                        negatif, yg lebih dekat pada indoktrinasi, dogmatisme dan fanatisme.
                        Apa memang betul begitu ?
                        >
                        > Spiritual & religi(agama) jelas merupakan dua hal yg berbeda yg
                        tidak bisa dibandingkan. Sama dengan kalau kita mau membandingkan
                        Hakikat dan Syariat walaupun sebenarnya masih kurang tepat karena
                        religi isinya bukan cuma syariat doang. Tapi paling tidak bisa
                        mendekati pengertian umum tentang religi (agama)
                        >
                        > Yang lebih menakutkan bila memang pengertian istilah religius yg
                        negatif ini ditelan generasi muda, bisa2 mereka menjauhi agama.
                        >
                        > Jadi ya hati2lah kalau menggunakan istilah ( maaf saya sendiri
                        bukan ahli bahasa, pengertian religi diatas saya ambil dari
                        pengertian umum)
                        >
                        > Dan kalau memang penulis ini mencap tokoh2 religius diatas sesuai
                        dengan kriteria religius dari sang penulis yg berkonotasi negatif,
                        ada baiknya penulis mengirimi mereka email ini sehingga mereka bisa
                        mempunyai hak jawab. Kalau tidak, ya sama saja dg fitnah......
                        >
                        > Kalau saya sendiri, jelas ngga ada apa2nya dibandingkan Khomeini,
                        Zainudin MZ, Amin Rais.
                        > Tapi ngga tau kalau penulis ya, mungkin beliau jauh lebih baik.
                        he..he
                        > Semoga...
                        >
                        >
                        > dewa brata <bugullor@y...> wrote:
                        > menurut saya tulisan itu bagus sekali.....
                        >
                        > karena menunjukan peta dan kebenaran akan masa sekarang.penulis ini
                        > mengetahui dengan pasti dan menuliskan apa yang dilihatnya.tentu
                        saja
                        > selama ada di dunia tetap akan ada yin dan yang,hitam dan putih.
                        > memang kita bisa saja tidak peduli akan semua itu.dan kemudian
                        duduk
                        > untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri.tetapi tokh yang
                        kita
                        > hadapi di dunia seperti itu.sebuah kebajikan tanpa adanya tindakan
                        > adalah omong kosong.pencerahan budha tanpa adanya pengajaran adalah
                        > kosong dan tak berguna.
                        > dan untuk menyebarkan tentu harus ditunjukan mana yang salah,mana
                        > yang benar,mana yang samsara,mana yang pencerahan.karena tujuanya
                        > mengajak orang lain untuk sadar dan sadar menuju tingkat yang lebih
                        > tinggi.
                        > waktu dan saat telah tiba bagi kita semua,bahwa spiritualitas
                        memang
                        > harus diajarkan dan disebarkan.walaupun itu menghadapi kepala keras
                        > kaum religius.pertanyaanya?siapkah anda?siapkah anda menggugah
                        > kesadaran masyarakat dari dogma dogma keliru yang berdasarkan atas
                        > ayat ayat suci?yang sebenarnya telah dijalankan keliru oleh
                        > penganutnya?menjadi alasan bagi penghancuran dan pertumpahan darah?
                        > mau tidak mau pemikiran dan kesadaran ini harus dikembangkan dan
                        > diluaskan.kita tidak sekedar mencari kemampuan menyembuhkan atau
                        > sekedar main main energi disini kan?tujuan pencarian kita masuk ke
                        > arah spiritualitas adalah mencari pencerahan,melihat apa apa yang
                        > tidak benar dan menimbulkan samsara,lalu melihat dan mencoba
                        > menggapai pencerahan.oleh karena itu luruskan dahulu niat kita
                        > kita.banyak praktisi diluar milis ini yang tujuan awalnya hanya
                        > mencari kesaktian.kemampuan untuk mengolah energi,menyembuhkan.tapi
                        > ketika perluasan kesadaran mendekati dan menyentuh lembut
                        mereka.hati
                        > mereka tetap keras membatu dan ahirnya mereka meninggalkan semua
                        dan
                        > kembali lagi pada keadaan awal mereka.sadarilah sebelum semuanya
                        > terlambat.perbaiki niyatan kita dari awal......
                        >
                        > salam
                        > dewa
                        > jakarta
                        >
                        > --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, jayagiri9 <jayagiri9@y...>
                        > wrote:
                        > > Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini. Apakah dia
                        > seorang spiritualis ataukah seorang religius ?
                        > > Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin. Menurut artikel
                        > ini seorang spiritualis adalah seorang yg berwawasan luas, tidak
                        > dogmatis dan bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi . Tapi
                        > dilain sisi artikel ini sendiri jelas mendiskreditkan kaum religius
                        (
                        > sekaligus meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin kan kalau
                        > penulis seorang spiritualis.
                        > > Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini juga sama tidak
                        > mungkinnya. Mana mungkin dia mencaci maki dirinya sendiri ?
                        > > Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang meng'kotak2'an
                        > sesuatu dan suka mengkonfrontir hal satu dg lainnya sehingga orang
                        > merasa dihakimi oleh yg tidak berhak ?
                        > > Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan spiritualis, bisa
                        > jadi penulis artikel ini seorang opportunis yg sedang mencari celah
                        > utk di obok2. he...he..
                        > >
                        > > Wassalam
                        > >
                        > > si Brewok <red_conjurer@y...> wrote:
                        > >
                        > > Artikel ini diposting oleh dewa brata di milis reiki-sufi
                        > >
                        > >
                        > > http://health.groups.yahoo.com/group/reiki-sufi/
                        > >
                        > >
                        > > http://www.reikisufi.uni.cc/
                        > >
                        > >
                        > > =======================================
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > ini benar benar artikel yang suangaaaaaaaaaat menarik sekali.bener
                        > >
                        > >
                        > > bener artikel yang indah dan menakjubkan.silakan dibaca dan
                        > >
                        > >
                        > > dimengerti.semoga membuka kebuntuan jalan pikir kita.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > salam
                        > >
                        > >
                        > > dewa
                        > >
                        > >
                        > > jakarta
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > http://home.earthlink.net/~satorifoundation/shorts/indo%
                        > >
                        > >
                        > > 20articles/spiritualitas-religiositas.htm
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak tertembus alam pikiran kita
                        > >
                        > >
                        > > memang benar-benar ada, memanifestasikan dirinya sebagai
                        > >
                        > >
                        > > kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling kemilau yang
                        hanya
                        > >
                        > >
                        > > dapat dipahami akal pikiran kita yang tumpul dalam bentuknya yang
                        > >
                        > >
                        > > paling primitif –pengetahuan ini, perasaan ini, berada di pusat
                        > >
                        > >
                        > > keriligiusan sejati. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam
                        > >
                        > >
                        > > pengertian ini saja, saya termasuk ke dalam golongan orang-orang
                        > yang
                        > >
                        > >
                        > > religius dan bertakwa.
                        > >
                        > >
                        > > ~ Albert Einstein
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Agama hanyalah sebuah sistem kepercayaan yang terorganisir,
                        > >
                        > >
                        > > dilandaskan pada ketakutan dan hasrat akan rasa aman. Di mana
                        > >
                        > >
                        > > terdapat kepentingan pribadi, keinginan akan rasa aman, pasti akan
                        > >
                        > >
                        > > ada ketakutan; dan melalui agama anda mencari apa yang dinamakan
                        > >
                        > >
                        > > keabadian, kepastian di alam baka, dan mereka yang menjamin dan
                        > >
                        > >
                        > > menjanjikan keabadian tersebut menjadi panduan anda, guru anda dan
                        > >
                        > >
                        > > otoritas anda. Maka dari hasrat anda akan kesinambungan yang
                        > >
                        > >
                        > > bersifat egois, anda menciptakan pemeras-pemeras.
                        > >
                        > >
                        > > ~ Krishnamurti
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Jalurnya banyak, namun tujuannya hanya satu. Tidakkah engkau
                        melihat
                        > >
                        > >
                        > > berapa banyak jalan menuju Ka'abah? Buat sebagian orang jalannya
                        > >
                        > >
                        > > mulai dari Roma, buat yang lain dari Suriah, dari Persia, atau
                        Cina;
                        > >
                        > >
                        > > sebagian datang melalui laut dari India dan Yaman. Jika engkau
                        > >
                        > >
                        > > sedang mempertimbangkan jalan-jalan yang berbeda, macamnya tak
                        > >
                        > >
                        > > terkira dan perbedaannya tidak berujung; namun jika engkau
                        > >
                        > >
                        > > mempertimbangkan tujuannya semuanya dalam harmoni dan satu. Hati
                        > >
                        > >
                        > > setiap dan masing-masing dari mereka terpatri ke Ka'abah. Setiap
                        > >
                        > >
                        > > hati memiliki keterikatan yang tak terperi –cinta yang menggebu
                        bagi
                        > >
                        > >
                        > > Ka'abah—dan di dalamnya tidak ada tempat bagi pertentangan.
                        > >
                        > >
                        > > Keterikatan kepada Ka'abah tidk dapat dikatakan sebagai "ketidak
                        > >
                        > >
                        > > tawakalan" atau "keimanan": ia tidak bercampur dengan berbagai
                        jalan
                        > >
                        > >
                        > > yang telah kita singgung. Begitu kalifah tiba di Ka'abah, seluruh
                        > >
                        > >
                        > > pertengkaran dan perkelahian keji mengenai jalur yang berbeda-
                        beda –
                        > >
                        > >
                        > > orang yang ini berkata pada yang itu "Engkau salah! Engkau
                        murtad!"
                        > >
                        > >
                        > > dan yang lainnya berteriak balik dengan cara yang sama– berakhir;
                        > >
                        > >
                        > > mereka menyadari bahwa apa yang mereka pertengkarkan hanyalah
                        > >
                        > >
                        > > jalannya semata, dan tujuan mereka adalah satu.
                        > >
                        > >
                        > > ~ Jalaluddin Rumi
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Demontrasi berbau keagamaan yang acap kali berakhir dengan
                        kekerasan
                        > >
                        > >
                        > > nampaknya tengah mendapat momentum di negara kita. Dari yang
                        > >
                        > >
                        > > menuntut penutupan tempat-tempat hiburan malam yang dianggap
                        sebagai
                        > >
                        > >
                        > > pusat kemaksiatan dan pelacuran sampai yang menuntut pemecatan
                        > >
                        > >
                        > > pejabat tertentu yang dipandang sebagai tidak bermoral sampai yang
                        > >
                        > >
                        > > menuntut jihad dan pembantaian penganut agama lain. Dan orang-
                        orang
                        > >
                        > >
                        > > ini mengklaim sebagai religius. Mungkin memang demikian adanya,
                        > >
                        > >
                        > > karena menjadi religius itu tidak sesulit menjadi spiritual. Untuk
                        > >
                        > >
                        > > menjadi religius, mungkin orang perlu memeliharan jenggot (atau
                        > >
                        > >
                        > > menggunduli kepala), berpakaian dengan model tertentu, berbicara
                        > >
                        > >
                        > > dengan cara tertentu, melakukan ritus-ritus keagamaan tertentu
                        dalam
                        > >
                        > >
                        > > frekuensi yang sudah ditentukan, dan melekat tanpa syarat pada
                        > >
                        > >
                        > > doktrin dan dogma tertentu.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Di dalam ucapan Ken Wilber, penganjur teori psikologi
                        > >
                        > >
                        > > transpersonal yang paling terkemuka dan juga seorang filsuf:
                        > >
                        > >
                        > > Spiritual has to do with actual experience, not mere beliefs; with
                        > >
                        > >
                        > > God as the Ground of Being, not a cosmic Daddy figure; with
                        > awakening
                        > >
                        > >
                        > > to one's true Self; not praying for one's little self; with the
                        > >
                        > >
                        > > disciplining of awareness, not preachy and churchy moralisms about
                        > >
                        > >
                        > > drinking and smoking and sexing; with Spirit found in everyone's
                        > >
                        > >
                        > > Heart, not anything done in this or that church. (Spiritual itu
                        > >
                        > >
                        > > berhubungan dengan pengalaman aktual, bukan sekedar kepercayaan;
                        > >
                        > >
                        > > dengan Tuhan sebagai Landasan Keberadaan, bukan sebagai figur
                        Bapak
                        > >
                        > >
                        > > dunia; dengan keterjagaan terhadap Diri yang sejati, bukan doa
                        bagi
                        > >
                        > >
                        > > diri yang kecil; dengan pendisiplinan kesadaran, bukan moralisme
                        > >
                        > >
                        > > gereja dan menggurui, bukan hal-hal yang dilakukan di gereja ini
                        > atau
                        > >
                        > >
                        > > gereja itu.) Dalam kerangka acuan ini, Mahatma Gandhi adalah
                        > >
                        > >
                        > > spiritual; Khomeini adalah religius. Dalai Lama, Abdurrahman
                        Wahid,
                        > >
                        > >
                        > > Nurcholis Madjid, Romo Mangun, Albert Einstein, Martin Luther
                        King,
                        > >
                        > >
                        > > Emerson, Victor Frankl --spiritual. K.H. Zainuddin MZ, Amin Rais,
                        > >
                        > >
                        > > Billy Graham, Pat Robertson, and banyak lagi misionaris Kristen
                        yang
                        > >
                        > >
                        > > bicaranya berapi-api sambil mengepalkan tangannya di atas Injil
                        yang
                        > >
                        > >
                        > > biasa kita saksikan di TV -- religius.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Yang religius dan yang spiritual bisa ditemukan dalam
                        > >
                        > >
                        > > setiap tradisi keagamaan atau bahkan yang tidak ada unsur
                        > >
                        > >
                        > > keagamaannya sekalipun (seorang ilmuwan yang begitu fanatik dengan
                        > >
                        > >
                        > > keilmuwanannya adalah juga religius dalam caranya sendiri), dan
                        jati
                        > >
                        > >
                        > > diri mereka dengan segera terungkap dengan tiap kata yang mereka
                        > >
                        > >
                        > > ucapkan atau tiap tanda kebanggan palsu dan insekuritas yang
                        mereka
                        > >
                        > >
                        > > pancarkan.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Yang religius itu biasanya dangkal, tapi yang spiritual
                        > >
                        > >
                        > > sungguh dalam seperti sumur yang tidak pernah kering. Religius itu
                        > >
                        > >
                        > > sering kali tidak rasional, spiritual transrasional (melampaui
                        batas
                        > >
                        > >
                        > > rasionalitas). Religius tidak percaya pada kebesaran Tuhan mereka
                        > >
                        > >
                        > > walaupun mereka kelihatannya dan mengklaim begitu, oleh karenanya
                        > >
                        > >
                        > > mereka merasa perlu berduyun-duyun turun ke jalan untuk
                        membelaNya.
                        > >
                        > >
                        > > Spiritual tidak melihat apapun atau siapapun yang perlu dibela
                        oleh
                        > >
                        > >
                        > > karena "ini" dan "itu" adalah suatu pembedaan yang semu.
                        Sebagaimana
                        > >
                        > >
                        > > dikatakan Upanishad, "Bilamanan ada yang lain, ada pula
                        ketakutan."
                        > >
                        > >
                        > > Dari rasa takut ini tumbuhlah kebencian, lalu kekerasan.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Ken Wilber mengatakan, "If we are going to insist on identifying
                        > with
                        > >
                        > >
                        > > just the little self in here, than others are going to bruise it,
                        > >
                        > >
                        > > insult it, injure it. The ego, then, is kept in existence by a
                        > >
                        > >
                        > > collection of emotional insults, it carries its personal bruises
                        as
                        > >
                        > >
                        > > the fabric of its very existence. It actively collects hurts and
                        > >
                        > >
                        > > insults, even while resenting them, because without its bruises,
                        it
                        > >
                        > >
                        > > would be, literally, nothing." ("Jika kita berkeras untuk
                        > >
                        > >
                        > > mengidentifikasikan diri dengan hanya sang diri yang kecil, maka
                        > >
                        > >
                        > > orang lain akan membuatnya biru lebam, menginanya, melukainya. Ego
                        > >
                        > >
                        > > itu, oleh karenanya, dipertahankan keberadaaannya oleh sekumpulan
                        > >
                        > >
                        > > luka emosioanl, yang demikian adanya meski kita tidak menyukainya,
                        > >
                        > >
                        > > karena tanpa biru lebam itu, ia, secara harfiah, bukanlah apa-
                        apa.")
                        > >
                        > >
                        > > Seseorang tidak perlu memiliki agama untuk menjadi
                        > >
                        > >
                        > > spiritual (seperti Eisntein misalnya) namun seseorang jelas perlu
                        > >
                        > >
                        > > melekat pada penafsiran agama yang dangkal dan letterlijk
                        (harfiah)
                        > >
                        > >
                        > > untuk menjadi religius. Orang religius tidak percaya pada
                        kesetaraan
                        > >
                        > >
                        > > seluruh umat manusia, orang spiritual merasakan hubungan yang erat
                        > >
                        > >
                        > > dengan dan terpana pada seluruh semesta alam. Religius melihat
                        > >
                        > >
                        > > orang lain yang tidak seiman atau sependapat dengan apa yang
                        mereka
                        > >
                        > >
                        > > yakini sebagai musuh potensial, spiritual tidak melihat relevansi
                        > >
                        > >
                        > > dalam kategori dan label. Religius berkeras bahwa mereka yang
                        tidak
                        > >
                        > >
                        > > percaya pada versi Tuhan mereka akan dipanggang di neraka abadi,
                        > >
                        > >
                        > > tidak ada tawar-menawar. Spiritual melihat nilai kebajikan dalam
                        > >
                        > >
                        > > setiap agama, tradisi, kebudayaan dan manusia.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Religius menjejalkan dogma keagamaan ke mulut anda. Spiritual
                        > > bertapakur, berdialog dan
                        > >
                        > >
                        > > berdiskusi. Religius acap kali bersorak-sorai di atas
                        > >
                        > >
                        > > pengrusakan "suci" dan "ilahi". Spiritual mengayomi, membangun dan
                        > >
                        > >
                        > > memberikan tempat bagi pertumbuhan dan pematangan diri. Religius
                        > >
                        > >
                        > > memaksakan kesamaan dan kesesuaian yang cuma di kulit saja,
                        > spiritual
                        > >
                        > >
                        > > mensyukuri perbedaan dan kebebasan berpendapat serta penjelajahan
                        > >
                        > >
                        > > intelektual sementara secara hakiki mereka adalah satu dan sama.
                        > >
                        > >
                        > > Religius sering kali bersifat fasis, spiritual bersifat humanis
                        > >
                        > >
                        > > intelektual. Religius gampang disulut bahkan oleh tindakan kecil
                        > >
                        > >
                        > > yang tidak memiliki maksud apa-apa karena, seperti yang
                        disinggung
                        > di
                        > >
                        > >
                        > > atas, keberadaan mereka bergantung pada luka dan hinaan. Spiritual
                        > >
                        > >
                        > > bersifat kontemplatif dalam setiap pasang-surut kehidupan.
                        Religius
                        > >
                        > >
                        > > merasa perlu mempertontonkan ketakwaan mereka, spiritual puas
                        dengan
                        > >
                        > >
                        > > apa yang mereka ketahui tentang diri mereka sendiri. Religius
                        > >
                        > >
                        > > menyembah Tuhan yang kecil, yang pandang bulu, pendendam dan
                        > >
                        > >
                        > > yang "banyak tingkah," spiritual menemukan Tuhan di dalam diri
                        > mereka
                        > >
                        > >
                        > > yang paling dalam.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Religius telah membawa begitu banyak perang dan
                        > >
                        > >
                        > > pertumpahan darah di sepanjang sejarah kemanusiaan. Spiritual
                        tidak
                        > >
                        > >
                        > > percaya pada keagungan semu perang. Religius memanipulasi agama
                        > >
                        > >
                        > > bagi kepentingannya sendiri. Spiritual terlalu beradab untuk
                        > >
                        > >
                        > > mengajari hal-hal yang tidak mereka yakini dan praktekkan sendiri.
                        > >
                        > >
                        > > Religius berwatak mitik (percaya mitos). Spiritual
                        > >
                        > >
                        > > berwatak mistik. Mistikisme itu evolusioner dan progresif,
                        bukannya
                        > >
                        > >
                        > > devolusioner dan regresif.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Dalai Lama berkata, "Agama saya adalah cinta kasih." Gus
                        > >
                        > >
                        > > Dur tidak merasa berdosa karena menemukan ketentraman berada di
                        pura
                        > >
                        > >
                        > > Hindu. Romo Mangun, pastur Katolik yang juga "saudara Gus Dur yang
                        > >
                        > >
                        > > paling tersayang," membaktikan sebagian besar hidupnya bagi
                        > >
                        > >
                        > > kesejahteraan dan kepentingan rakyat kecil beragama Islam. Amin
                        > >
                        > >
                        > > Rais berseru bahwa "kesabaran kita ada batasnya, kita harus
                        membela
                        > >
                        > >
                        > > saudara kita seiman." K.H. Zainuddin MZ menyerukan kepada umat
                        Islam
                        > >
                        > >
                        > > untuk tidak memberikan suara bagi yang tidak seiman oleh karena
                        > >
                        > >
                        > > mereka semata bukanlah manusia dengan derajad yang sama. Pat
                        > >
                        > >
                        > > Robertson "mengasihani" orang-orang Hindu yang "sesat dan
                        > >
                        > >
                        > > menyedihkan" karena mereka menyembah bermacam manifestasi yang
                        > >
                        > >
                        > > berbeda dari satu Tuhan yang sama dan tidak secara eksklusif
                        > menerima
                        > >
                        > >
                        > > darah Yesus yang kudus. Kita dapat dengan mudah memilah beras dari
                        > >
                        > >
                        > > gabahnya.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > Apa yang benar-benar kita butuhkan saat ini bukanlah
                        > >
                        > >
                        > > agama, namun sebuah gerakan spiritual yang berlandaskan pada
                        > filosofi
                        > >
                        > >
                        > > perenis (perenis berarti universal yang melampaui seluruh aspek
                        > mitik
                        > >
                        > >
                        > > dan eksoteris agama-agama yang saling bertentangan satu sama
                        lain).
                        > >
                        > >
                        > > Agama memecah-belah sementara spiritualitas mempersatukan. Agama
                        > >
                        > >
                        > > adalah dogma sementara spiritualitas adalah pengalaman. Dogma itu
                        > >
                        > >
                        > > mati, pengalaman itu hidup dan berkembang. Apakah ini sebuah
                        > >
                        > >
                        > > himbauan bagi sisntesis dari berbagai macam agama? Jawabannya
                        tentu
                        > >
                        > >
                        > > tidaklah sesederhana ya atau tidak dan itu amat bergantung pada
                        > >
                        > >
                        > > perspektif masing-masing orang: orang yang berbeda memliki tingkat
                        > >
                        > >
                        > > kesiapan yang berbeda. Orang yang berbeda menemukan rasa aman pada
                        > >
                        > >
                        > > dogma dan seperangkat kepercayaan yang berbeda. Satu hal yang
                        > >
                        > >
                        > > selamanya benar adalah bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dalam
                        > >
                        > >
                        > > diri kita yang paling dalam. Kebenaran tidak ditemukan di jalan,
                        di
                        > >
                        > >
                        > > dalam dakwah berapi-api para pendeta atau rahib atau ulama, tidak
                        > >
                        > >
                        > > datang dari kitab suci, tidak pula dari orang-orang yang memiliki
                        > >
                        > >
                        > > kekuasaan. Satu-satunya nasihat adalah jika anda bertemu Buddha di
                        > >
                        > >
                        > > jalan, bunuhlah ia.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > ---------------------------------
                        > > Yahoo! Groups Links
                        > >
                        > > To visit your group on the web, go to:
                        > > http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
                        > >
                        > > To unsubscribe from this group, send an email to:
                        > > mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com
                        > >
                        > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
                        > Service.
                        > >
                        > >
                        > >
                        > > ---------------------------------
                        > > Do you Yahoo!?
                        > > Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
                        > >
                        > > [Non-text portions of this message have been removed]
                        >
                        >
                        >
                        >
                        >
                        > ---------------------------------
                        > Yahoo! Groups Links
                        >
                        > To visit your group on the web, go to:
                        > http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
                        >
                        > To unsubscribe from this group, send an email to:
                        > mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com
                        >
                        > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
                        Service.
                        >
                        >
                        >
                        > __________________________________________________
                        > Do You Yahoo!?
                        > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
                        > http://mail.yahoo.com
                        >
                        > [Non-text portions of this message have been removed]
                      • jayagiri9
                        Terimakasih atas pencerahan nya Bli Dewa. Saya belajar banyak nih... Salam juga dewa brata wrote: ya monggo monggo saja lah. yang jelas
                        Message 11 of 11 , Feb 24, 2005
                          Terimakasih atas 'pencerahan' nya Bli Dewa.
                          Saya belajar banyak nih...

                          Salam juga

                          dewa brata <bugullor@...> wrote:

                          ya monggo monggo saja lah. yang jelas memang dunia ini kebanyakan
                          adalah mereka yang religius tapi justru dia banyak membutakan matanya
                          sendiri dengan membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain.
                          tentu anda kemudian bertanya,apa penulis ini tidak melakukan hal yang
                          sama? ya tentu saja. tapi itu kan buat memperlihatkan,mana yang
                          seharusnya bisa kita ciptakan,kerukunan yang lebih mendalam,daripada
                          sekedar gontok gontokan dalam nama agama. anak muda justru harus baca
                          tulisan ini agar mereka memahami bahwa agama bukan tuhan yang harus
                          dibela dengan darah. karena toh tuhan gak perlu dibela sapa sapa

                          jadi yah
                          terserah.....

                          salam
                          dewa
                          jakarta

                          --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, jayagiri9 <jayagiri9@y...>
                          wrote:
                          > Ya pak dewa,.
                          >
                          > Buat Bapak, Bung Gerry , Dalai Lama, Gus Dur tulisan ini pasti
                          bagus he...he. Bahkan buat sebagian besar orang yg mengaku
                          dirinya 'spiritualis'.
                          >
                          > Tapi buat Khomeini, Zainudin MZ, Amien Rais, yg dicap religius
                          pasti tidak seperti itu....
                          > Dan saya hanya mencoba ' to stand on their shoes '. Seandainya saya
                          Khomeini, Amin Rais, Zainudin MZ dst...
                          >
                          > Religius itu kan (menurut tulisan ini) pemikirannya dangkal,
                          intoleran, suka menghakimi etc..etc..sedangkan spiritualitas itu kan
                          sebaliknya ( masih menurut tulisan ini lho )...Jadi kalau saya tanya
                          penulis itu religius atau spiritualis, ya wajar saja. Just
                          curiosity...
                          >
                          > Itu dari satu sisi yakni sisi menghakimi orang lain..
                          > .
                          > Dari sisi lain, walaupun saya bukan ahli bahasa, ada kecenderungan
                          untuk membelokkan arti (konotatif) dari kata religius yg artinya
                          selama ini, menurut saya, positif ( yakni seorang yg saleh,
                          menjalankan syariat agama) menjadi sesuatu yg artinya cenderung
                          negatif, yg lebih dekat pada indoktrinasi, dogmatisme dan fanatisme.
                          Apa memang betul begitu ?
                          >
                          > Spiritual & religi(agama) jelas merupakan dua hal yg berbeda yg
                          tidak bisa dibandingkan. Sama dengan kalau kita mau membandingkan
                          Hakikat dan Syariat walaupun sebenarnya masih kurang tepat karena
                          religi isinya bukan cuma syariat doang. Tapi paling tidak bisa
                          mendekati pengertian umum tentang religi (agama)
                          >
                          > Yang lebih menakutkan bila memang pengertian istilah religius yg
                          negatif ini ditelan generasi muda, bisa2 mereka menjauhi agama.
                          >
                          > Jadi ya hati2lah kalau menggunakan istilah ( maaf saya sendiri
                          bukan ahli bahasa, pengertian religi diatas saya ambil dari
                          pengertian umum)
                          >
                          > Dan kalau memang penulis ini mencap tokoh2 religius diatas sesuai
                          dengan kriteria religius dari sang penulis yg berkonotasi negatif,
                          ada baiknya penulis mengirimi mereka email ini sehingga mereka bisa
                          mempunyai hak jawab. Kalau tidak, ya sama saja dg fitnah......
                          >
                          > Kalau saya sendiri, jelas ngga ada apa2nya dibandingkan Khomeini,
                          Zainudin MZ, Amin Rais.
                          > Tapi ngga tau kalau penulis ya, mungkin beliau jauh lebih baik.
                          he..he
                          > Semoga...
                          >
                          >
                          > dewa brata <bugullor@y...> wrote:
                          > menurut saya tulisan itu bagus sekali.....
                          >
                          > karena menunjukan peta dan kebenaran akan masa sekarang.penulis ini
                          > mengetahui dengan pasti dan menuliskan apa yang dilihatnya.tentu
                          saja
                          > selama ada di dunia tetap akan ada yin dan yang,hitam dan putih.
                          > memang kita bisa saja tidak peduli akan semua itu.dan kemudian
                          duduk
                          > untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri.tetapi tokh yang
                          kita
                          > hadapi di dunia seperti itu.sebuah kebajikan tanpa adanya tindakan
                          > adalah omong kosong.pencerahan budha tanpa adanya pengajaran adalah
                          > kosong dan tak berguna.
                          > dan untuk menyebarkan tentu harus ditunjukan mana yang salah,mana
                          > yang benar,mana yang samsara,mana yang pencerahan.karena tujuanya
                          > mengajak orang lain untuk sadar dan sadar menuju tingkat yang lebih
                          > tinggi.
                          > waktu dan saat telah tiba bagi kita semua,bahwa spiritualitas
                          memang
                          > harus diajarkan dan disebarkan.walaupun itu menghadapi kepala keras
                          > kaum religius.pertanyaanya?siapkah anda?siapkah anda menggugah
                          > kesadaran masyarakat dari dogma dogma keliru yang berdasarkan atas
                          > ayat ayat suci?yang sebenarnya telah dijalankan keliru oleh
                          > penganutnya?menjadi alasan bagi penghancuran dan pertumpahan darah?
                          > mau tidak mau pemikiran dan kesadaran ini harus dikembangkan dan
                          > diluaskan.kita tidak sekedar mencari kemampuan menyembuhkan atau
                          > sekedar main main energi disini kan?tujuan pencarian kita masuk ke
                          > arah spiritualitas adalah mencari pencerahan,melihat apa apa yang
                          > tidak benar dan menimbulkan samsara,lalu melihat dan mencoba
                          > menggapai pencerahan.oleh karena itu luruskan dahulu niat kita
                          > kita.banyak praktisi diluar milis ini yang tujuan awalnya hanya
                          > mencari kesaktian.kemampuan untuk mengolah energi,menyembuhkan.tapi
                          > ketika perluasan kesadaran mendekati dan menyentuh lembut
                          mereka.hati
                          > mereka tetap keras membatu dan ahirnya mereka meninggalkan semua
                          dan
                          > kembali lagi pada keadaan awal mereka.sadarilah sebelum semuanya
                          > terlambat.perbaiki niyatan kita dari awal......
                          >
                          > salam
                          > dewa
                          > jakarta
                          >
                          > --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, jayagiri9 <jayagiri9@y...>
                          > wrote:
                          > > Terus terang saya bingung dg penulis artikel ini. Apakah dia
                          > seorang spiritualis ataukah seorang religius ?
                          > > Kalau mau dibilang spiritualis kok ya ga mungkin. Menurut artikel
                          > ini seorang spiritualis adalah seorang yg berwawasan luas, tidak
                          > dogmatis dan bertoleransi tinggi dan tidak suka menghakimi . Tapi
                          > dilain sisi artikel ini sendiri jelas mendiskreditkan kaum religius
                          (
                          > sekaligus meng'angkat' kaum spiritualis). Jadi ga mungkin kan kalau
                          > penulis seorang spiritualis.
                          > > Kalau mau dibilang religius, penulis artikel ini juga sama tidak
                          > mungkinnya. Mana mungkin dia mencaci maki dirinya sendiri ?
                          > > Ah, mungkin penulis artikel ini memang tukang meng'kotak2'an
                          > sesuatu dan suka mengkonfrontir hal satu dg lainnya sehingga orang
                          > merasa dihakimi oleh yg tidak berhak ?
                          > > Kalau dia bukan seorang religius dan juga bukan spiritualis, bisa
                          > jadi penulis artikel ini seorang opportunis yg sedang mencari celah
                          > utk di obok2. he...he..
                          > >
                          > > Wassalam
                          > >
                          > > si Brewok <red_conjurer@y...> wrote:
                          > >
                          > > Artikel ini diposting oleh dewa brata di milis reiki-sufi
                          > >
                          > >
                          > > http://health.groups.yahoo.com/group/reiki-sufi/
                          > >
                          > >
                          > > http://www.reikisufi.uni.cc/
                          > >
                          > >
                          > > =======================================
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > ini benar benar artikel yang suangaaaaaaaaaat menarik sekali.bener
                          > >
                          > >
                          > > bener artikel yang indah dan menakjubkan.silakan dibaca dan
                          > >
                          > >
                          > > dimengerti.semoga membuka kebuntuan jalan pikir kita.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > salam
                          > >
                          > >
                          > > dewa
                          > >
                          > >
                          > > jakarta
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > http://home.earthlink.net/~satorifoundation/shorts/indo%
                          > >
                          > >
                          > > 20articles/spiritualitas-religiositas.htm
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Untuk mengetahui bahwa apa yang tidak tertembus alam pikiran kita
                          > >
                          > >
                          > > memang benar-benar ada, memanifestasikan dirinya sebagai
                          > >
                          > >
                          > > kebijaksanaan tertinggi dan keindahan yang paling kemilau yang
                          hanya
                          > >
                          > >
                          > > dapat dipahami akal pikiran kita yang tumpul dalam bentuknya yang
                          > >
                          > >
                          > > paling primitif �pengetahuan ini, perasaan ini, berada di pusat
                          > >
                          > >
                          > > keriligiusan sejati. Dalam pengertian ini, dan hanya dalam
                          > >
                          > >
                          > > pengertian ini saja, saya termasuk ke dalam golongan orang-orang
                          > yang
                          > >
                          > >
                          > > religius dan bertakwa.
                          > >
                          > >
                          > > ~ Albert Einstein
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Agama hanyalah sebuah sistem kepercayaan yang terorganisir,
                          > >
                          > >
                          > > dilandaskan pada ketakutan dan hasrat akan rasa aman. Di mana
                          > >
                          > >
                          > > terdapat kepentingan pribadi, keinginan akan rasa aman, pasti akan
                          > >
                          > >
                          > > ada ketakutan; dan melalui agama anda mencari apa yang dinamakan
                          > >
                          > >
                          > > keabadian, kepastian di alam baka, dan mereka yang menjamin dan
                          > >
                          > >
                          > > menjanjikan keabadian tersebut menjadi panduan anda, guru anda dan
                          > >
                          > >
                          > > otoritas anda. Maka dari hasrat anda akan kesinambungan yang
                          > >
                          > >
                          > > bersifat egois, anda menciptakan pemeras-pemeras.
                          > >
                          > >
                          > > ~ Krishnamurti
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Jalurnya banyak, namun tujuannya hanya satu. Tidakkah engkau
                          melihat
                          > >
                          > >
                          > > berapa banyak jalan menuju Ka'abah? Buat sebagian orang jalannya
                          > >
                          > >
                          > > mulai dari Roma, buat yang lain dari Suriah, dari Persia, atau
                          Cina;
                          > >
                          > >
                          > > sebagian datang melalui laut dari India dan Yaman. Jika engkau
                          > >
                          > >
                          > > sedang mempertimbangkan jalan-jalan yang berbeda, macamnya tak
                          > >
                          > >
                          > > terkira dan perbedaannya tidak berujung; namun jika engkau
                          > >
                          > >
                          > > mempertimbangkan tujuannya semuanya dalam harmoni dan satu. Hati
                          > >
                          > >
                          > > setiap dan masing-masing dari mereka terpatri ke Ka'abah. Setiap
                          > >
                          > >
                          > > hati memiliki keterikatan yang tak terperi �cinta yang menggebu
                          bagi
                          > >
                          > >
                          > > Ka'abah�dan di dalamnya tidak ada tempat bagi pertentangan.
                          > >
                          > >
                          > > Keterikatan kepada Ka'abah tidk dapat dikatakan sebagai "ketidak
                          > >
                          > >
                          > > tawakalan" atau "keimanan": ia tidak bercampur dengan berbagai
                          jalan
                          > >
                          > >
                          > > yang telah kita singgung. Begitu kalifah tiba di Ka'abah, seluruh
                          > >
                          > >
                          > > pertengkaran dan perkelahian keji mengenai jalur yang berbeda-
                          beda �
                          > >
                          > >
                          > > orang yang ini berkata pada yang itu "Engkau salah! Engkau
                          murtad!"
                          > >
                          > >
                          > > dan yang lainnya berteriak balik dengan cara yang sama� berakhir;
                          > >
                          > >
                          > > mereka menyadari bahwa apa yang mereka pertengkarkan hanyalah
                          > >
                          > >
                          > > jalannya semata, dan tujuan mereka adalah satu.
                          > >
                          > >
                          > > ~ Jalaluddin Rumi
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Demontrasi berbau keagamaan yang acap kali berakhir dengan
                          kekerasan
                          > >
                          > >
                          > > nampaknya tengah mendapat momentum di negara kita. Dari yang
                          > >
                          > >
                          > > menuntut penutupan tempat-tempat hiburan malam yang dianggap
                          sebagai
                          > >
                          > >
                          > > pusat kemaksiatan dan pelacuran sampai yang menuntut pemecatan
                          > >
                          > >
                          > > pejabat tertentu yang dipandang sebagai tidak bermoral sampai yang
                          > >
                          > >
                          > > menuntut jihad dan pembantaian penganut agama lain. Dan orang-
                          orang
                          > >
                          > >
                          > > ini mengklaim sebagai religius. Mungkin memang demikian adanya,
                          > >
                          > >
                          > > karena menjadi religius itu tidak sesulit menjadi spiritual. Untuk
                          > >
                          > >
                          > > menjadi religius, mungkin orang perlu memeliharan jenggot (atau
                          > >
                          > >
                          > > menggunduli kepala), berpakaian dengan model tertentu, berbicara
                          > >
                          > >
                          > > dengan cara tertentu, melakukan ritus-ritus keagamaan tertentu
                          dalam
                          > >
                          > >
                          > > frekuensi yang sudah ditentukan, dan melekat tanpa syarat pada
                          > >
                          > >
                          > > doktrin dan dogma tertentu.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Di dalam ucapan Ken Wilber, penganjur teori psikologi
                          > >
                          > >
                          > > transpersonal yang paling terkemuka dan juga seorang filsuf:
                          > >
                          > >
                          > > Spiritual has to do with actual experience, not mere beliefs; with
                          > >
                          > >
                          > > God as the Ground of Being, not a cosmic Daddy figure; with
                          > awakening
                          > >
                          > >
                          > > to one's true Self; not praying for one's little self; with the
                          > >
                          > >
                          > > disciplining of awareness, not preachy and churchy moralisms about
                          > >
                          > >
                          > > drinking and smoking and sexing; with Spirit found in everyone's
                          > >
                          > >
                          > > Heart, not anything done in this or that church. (Spiritual itu
                          > >
                          > >
                          > > berhubungan dengan pengalaman aktual, bukan sekedar kepercayaan;
                          > >
                          > >
                          > > dengan Tuhan sebagai Landasan Keberadaan, bukan sebagai figur
                          Bapak
                          > >
                          > >
                          > > dunia; dengan keterjagaan terhadap Diri yang sejati, bukan doa
                          bagi
                          > >
                          > >
                          > > diri yang kecil; dengan pendisiplinan kesadaran, bukan moralisme
                          > >
                          > >
                          > > gereja dan menggurui, bukan hal-hal yang dilakukan di gereja ini
                          > atau
                          > >
                          > >
                          > > gereja itu.) Dalam kerangka acuan ini, Mahatma Gandhi adalah
                          > >
                          > >
                          > > spiritual; Khomeini adalah religius. Dalai Lama, Abdurrahman
                          Wahid,
                          > >
                          > >
                          > > Nurcholis Madjid, Romo Mangun, Albert Einstein, Martin Luther
                          King,
                          > >
                          > >
                          > > Emerson, Victor Frankl --spiritual. K.H. Zainuddin MZ, Amin Rais,
                          > >
                          > >
                          > > Billy Graham, Pat Robertson, and banyak lagi misionaris Kristen
                          yang
                          > >
                          > >
                          > > bicaranya berapi-api sambil mengepalkan tangannya di atas Injil
                          yang
                          > >
                          > >
                          > > biasa kita saksikan di TV -- religius.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Yang religius dan yang spiritual bisa ditemukan dalam
                          > >
                          > >
                          > > setiap tradisi keagamaan atau bahkan yang tidak ada unsur
                          > >
                          > >
                          > > keagamaannya sekalipun (seorang ilmuwan yang begitu fanatik dengan
                          > >
                          > >
                          > > keilmuwanannya adalah juga religius dalam caranya sendiri), dan
                          jati
                          > >
                          > >
                          > > diri mereka dengan segera terungkap dengan tiap kata yang mereka
                          > >
                          > >
                          > > ucapkan atau tiap tanda kebanggan palsu dan insekuritas yang
                          mereka
                          > >
                          > >
                          > > pancarkan.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Yang religius itu biasanya dangkal, tapi yang spiritual
                          > >
                          > >
                          > > sungguh dalam seperti sumur yang tidak pernah kering. Religius itu
                          > >
                          > >
                          > > sering kali tidak rasional, spiritual transrasional (melampaui
                          batas
                          > >
                          > >
                          > > rasionalitas). Religius tidak percaya pada kebesaran Tuhan mereka
                          > >
                          > >
                          > > walaupun mereka kelihatannya dan mengklaim begitu, oleh karenanya
                          > >
                          > >
                          > > mereka merasa perlu berduyun-duyun turun ke jalan untuk
                          membelaNya.
                          > >
                          > >
                          > > Spiritual tidak melihat apapun atau siapapun yang perlu dibela
                          oleh
                          > >
                          > >
                          > > karena "ini" dan "itu" adalah suatu pembedaan yang semu.
                          Sebagaimana
                          > >
                          > >
                          > > dikatakan Upanishad, "Bilamanan ada yang lain, ada pula
                          ketakutan."
                          > >
                          > >
                          > > Dari rasa takut ini tumbuhlah kebencian, lalu kekerasan.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Ken Wilber mengatakan, "If we are going to insist on identifying
                          > with
                          > >
                          > >
                          > > just the little self in here, than others are going to bruise it,
                          > >
                          > >
                          > > insult it, injure it. The ego, then, is kept in existence by a
                          > >
                          > >
                          > > collection of emotional insults, it carries its personal bruises
                          as
                          > >
                          > >
                          > > the fabric of its very existence. It actively collects hurts and
                          > >
                          > >
                          > > insults, even while resenting them, because without its bruises,
                          it
                          > >
                          > >
                          > > would be, literally, nothing." ("Jika kita berkeras untuk
                          > >
                          > >
                          > > mengidentifikasikan diri dengan hanya sang diri yang kecil, maka
                          > >
                          > >
                          > > orang lain akan membuatnya biru lebam, menginanya, melukainya. Ego
                          > >
                          > >
                          > > itu, oleh karenanya, dipertahankan keberadaaannya oleh sekumpulan
                          > >
                          > >
                          > > luka emosioanl, yang demikian adanya meski kita tidak menyukainya,
                          > >
                          > >
                          > > karena tanpa biru lebam itu, ia, secara harfiah, bukanlah apa-
                          apa.")
                          > >
                          > >
                          > > Seseorang tidak perlu memiliki agama untuk menjadi
                          > >
                          > >
                          > > spiritual (seperti Eisntein misalnya) namun seseorang jelas perlu
                          > >
                          > >
                          > > melekat pada penafsiran agama yang dangkal dan letterlijk
                          (harfiah)
                          > >
                          > >
                          > > untuk menjadi religius. Orang religius tidak percaya pada
                          kesetaraan
                          > >
                          > >
                          > > seluruh umat manusia, orang spiritual merasakan hubungan yang erat
                          > >
                          > >
                          > > dengan dan terpana pada seluruh semesta alam. Religius melihat
                          > >
                          > >
                          > > orang lain yang tidak seiman atau sependapat dengan apa yang
                          mereka
                          > >
                          > >
                          > > yakini sebagai musuh potensial, spiritual tidak melihat relevansi
                          > >
                          > >
                          > > dalam kategori dan label. Religius berkeras bahwa mereka yang
                          tidak
                          > >
                          > >
                          > > percaya pada versi Tuhan mereka akan dipanggang di neraka abadi,
                          > >
                          > >
                          > > tidak ada tawar-menawar. Spiritual melihat nilai kebajikan dalam
                          > >
                          > >
                          > > setiap agama, tradisi, kebudayaan dan manusia.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Religius menjejalkan dogma keagamaan ke mulut anda. Spiritual
                          > > bertapakur, berdialog dan
                          > >
                          > >
                          > > berdiskusi. Religius acap kali bersorak-sorai di atas
                          > >
                          > >
                          > > pengrusakan "suci" dan "ilahi". Spiritual mengayomi, membangun dan
                          > >
                          > >
                          > > memberikan tempat bagi pertumbuhan dan pematangan diri. Religius
                          > >
                          > >
                          > > memaksakan kesamaan dan kesesuaian yang cuma di kulit saja,
                          > spiritual
                          > >
                          > >
                          > > mensyukuri perbedaan dan kebebasan berpendapat serta penjelajahan
                          > >
                          > >
                          > > intelektual sementara secara hakiki mereka adalah satu dan sama.
                          > >
                          > >
                          > > Religius sering kali bersifat fasis, spiritual bersifat humanis
                          > >
                          > >
                          > > intelektual. Religius gampang disulut bahkan oleh tindakan kecil
                          > >
                          > >
                          > > yang tidak memiliki maksud apa-apa karena, seperti yang
                          disinggung
                          > di
                          > >
                          > >
                          > > atas, keberadaan mereka bergantung pada luka dan hinaan. Spiritual
                          > >
                          > >
                          > > bersifat kontemplatif dalam setiap pasang-surut kehidupan.
                          Religius
                          > >
                          > >
                          > > merasa perlu mempertontonkan ketakwaan mereka, spiritual puas
                          dengan
                          > >
                          > >
                          > > apa yang mereka ketahui tentang diri mereka sendiri. Religius
                          > >
                          > >
                          > > menyembah Tuhan yang kecil, yang pandang bulu, pendendam dan
                          > >
                          > >
                          > > yang "banyak tingkah," spiritual menemukan Tuhan di dalam diri
                          > mereka
                          > >
                          > >
                          > > yang paling dalam.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Religius telah membawa begitu banyak perang dan
                          > >
                          > >
                          > > pertumpahan darah di sepanjang sejarah kemanusiaan. Spiritual
                          tidak
                          > >
                          > >
                          > > percaya pada keagungan semu perang. Religius memanipulasi agama
                          > >
                          > >
                          > > bagi kepentingannya sendiri. Spiritual terlalu beradab untuk
                          > >
                          > >
                          > > mengajari hal-hal yang tidak mereka yakini dan praktekkan sendiri.
                          > >
                          > >
                          > > Religius berwatak mitik (percaya mitos). Spiritual
                          > >
                          > >
                          > > berwatak mistik. Mistikisme itu evolusioner dan progresif,
                          bukannya
                          > >
                          > >
                          > > devolusioner dan regresif.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Dalai Lama berkata, "Agama saya adalah cinta kasih." Gus
                          > >
                          > >
                          > > Dur tidak merasa berdosa karena menemukan ketentraman berada di
                          pura
                          > >
                          > >
                          > > Hindu. Romo Mangun, pastur Katolik yang juga "saudara Gus Dur yang
                          > >
                          > >
                          > > paling tersayang," membaktikan sebagian besar hidupnya bagi
                          > >
                          > >
                          > > kesejahteraan dan kepentingan rakyat kecil beragama Islam. Amin
                          > >
                          > >
                          > > Rais berseru bahwa "kesabaran kita ada batasnya, kita harus
                          membela
                          > >
                          > >
                          > > saudara kita seiman." K.H. Zainuddin MZ menyerukan kepada umat
                          Islam
                          > >
                          > >
                          > > untuk tidak memberikan suara bagi yang tidak seiman oleh karena
                          > >
                          > >
                          > > mereka semata bukanlah manusia dengan derajad yang sama. Pat
                          > >
                          > >
                          > > Robertson "mengasihani" orang-orang Hindu yang "sesat dan
                          > >
                          > >
                          > > menyedihkan" karena mereka menyembah bermacam manifestasi yang
                          > >
                          > >
                          > > berbeda dari satu Tuhan yang sama dan tidak secara eksklusif
                          > menerima
                          > >
                          > >
                          > > darah Yesus yang kudus. Kita dapat dengan mudah memilah beras dari
                          > >
                          > >
                          > > gabahnya.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > Apa yang benar-benar kita butuhkan saat ini bukanlah
                          > >
                          > >
                          > > agama, namun sebuah gerakan spiritual yang berlandaskan pada
                          > filosofi
                          > >
                          > >
                          > > perenis (perenis berarti universal yang melampaui seluruh aspek
                          > mitik
                          > >
                          > >
                          > > dan eksoteris agama-agama yang saling bertentangan satu sama
                          lain).
                          > >
                          > >
                          > > Agama memecah-belah sementara spiritualitas mempersatukan. Agama
                          > >
                          > >
                          > > adalah dogma sementara spiritualitas adalah pengalaman. Dogma itu
                          > >
                          > >
                          > > mati, pengalaman itu hidup dan berkembang. Apakah ini sebuah
                          > >
                          > >
                          > > himbauan bagi sisntesis dari berbagai macam agama? Jawabannya
                          tentu
                          > >
                          > >
                          > > tidaklah sesederhana ya atau tidak dan itu amat bergantung pada
                          > >
                          > >
                          > > perspektif masing-masing orang: orang yang berbeda memliki tingkat
                          > >
                          > >
                          > > kesiapan yang berbeda. Orang yang berbeda menemukan rasa aman pada
                          > >
                          > >
                          > > dogma dan seperangkat kepercayaan yang berbeda. Satu hal yang
                          > >
                          > >
                          > > selamanya benar adalah bahwa kebenaran hanya dapat ditemukan dalam
                          > >
                          > >
                          > > diri kita yang paling dalam. Kebenaran tidak ditemukan di jalan,
                          di
                          > >
                          > >
                          > > dalam dakwah berapi-api para pendeta atau rahib atau ulama, tidak
                          > >
                          > >
                          > > datang dari kitab suci, tidak pula dari orang-orang yang memiliki
                          > >
                          > >
                          > > kekuasaan. Satu-satunya nasihat adalah jika anda bertemu Buddha di
                          > >
                          > >
                          > > jalan, bunuhlah ia.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > ---------------------------------
                          > > Yahoo! Groups Links
                          > >
                          > > To visit your group on the web, go to:
                          > > http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
                          > >
                          > > To unsubscribe from this group, send an email to:
                          > > mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com
                          > >
                          > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
                          > Service.
                          > >
                          > >
                          > >
                          > > ---------------------------------
                          > > Do you Yahoo!?
                          > > Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less.
                          > >
                          > > [Non-text portions of this message have been removed]
                          >
                          >
                          >
                          >
                          >
                          > ---------------------------------
                          > Yahoo! Groups Links
                          >
                          > To visit your group on the web, go to:
                          > http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/
                          >
                          > To unsubscribe from this group, send an email to:
                          > mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com
                          >
                          > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
                          Service.
                          >
                          >
                          >
                          > __________________________________________________
                          > Do You Yahoo!?
                          > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
                          > http://mail.yahoo.com
                          >
                          > [Non-text portions of this message have been removed]





                          Have constructive thoughts, consoling words, compassionate acts.
                          Peace & enlightenment be yours!

                          - from guys at Mayapada Prana



                          ---------------------------------
                          Yahoo! Groups Links

                          To visit your group on the web, go to:
                          http://asia.groups.yahoo.com/group/mayapadaprana/

                          To unsubscribe from this group, send an email to:
                          mayapadaprana-unsubscribe@yahoogroups.com

                          Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.



                          ---------------------------------
                          Do you Yahoo!?
                          Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.

                          [Non-text portions of this message have been removed]
                        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.