Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

2 Mei

Expand Messages
  • rm_maryo
    Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan (Kis 18:9-18; Yoh 16:20-23a) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi
    Message 1 of 2 , Apr 30 10:49 PM
    • 0 Attachment
      "Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan"
      (Kis 18:9-18; Yoh 16:20-23a)

      "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap,
      tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi
      dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan
      berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan
      anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan
      bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu
      sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan
      hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas
      kegembiraanmu itu dari padamu.Dan pada hari itu kamu tidak akan
      menanyakan apa-apa kepada-Ku" (Yoh 16:20-23a), demikian kutipan
      Warta Gembira hari ini.

      Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta
      St.Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan
      catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
      • Melahirkan yang disertai derita merupakan buah atau
      konsekwensi dari cinta antar suami-isteri, sepasang manusia yang
      saling mencintai dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tenaga.
      Dari sukacita dan kenikmatan cinta melalui derita lahirlah `buah
      cinta', seorang anak yang membahagiakan serta semakin memperdalam
      cinta suami-isteri yang bersangkutan. "Kamu sekarang diiputi
      dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan
      bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas
      kegembiraanmu itu dari padamu", demikian sabda Yesus. Bercermin dari
      pengalaman seorang perempuan melahirkan anaknya serta sabda Yesus
      ini saya mengingatkan kita semua, bahwa dari atau melalui derita
      atau dukacita yang lahir karena kesetiaan pada panggilan atau tugas
      perutusan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati. Derita
      atau dukacita tersebut melahirkan keutamaan-keutamaan yang
      menghidupkan dan menyelamatkan, misalnya: ketabahan, kerja keras,
      sabar, penyerahan diri pada penyelenggaraan Ilahi alias iman,
      harapan, hidup baru dst… Maka ketika karena setia dan taat pada
      panggilan dan tugas perutusan kita harus menghadapi aneka tantangan,
      hambatan atau tekanan, hendaknya dihadapi dengan keutamaan-
      keutamaan tersebut, dan dengan demikian keutamaan-keutamaan tersebut
      juga semakin mendalam dan kuat di dalam diri kita. Tak mungkin ada
      orang yang akan merampas atau menghancurkan keutamaan-keutamaan yang
      telah kita miliki dan hayati tersebut, sebagaimana terjadi dalam
      pengalaman seorang ibu dalam mengasihi anak-anaknya. Marilah dalam
      kesempatan ini kita juga mawas diri: sejauh mana kita berterima
      kasih kepada ibu yang juga menjadi nyata dalam mengasihi ibu sebagai
      tanggapan atau jawaban kita karena kita telah dikandung, dilahirkan
      dan dibesarkan dalam dukacita dan kasihnya.
      • "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan
      diam! Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan
      menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota
      ini."(Kis 18:9-10), demikian firman Tuhan kepada Paulus, kepada kita
      semua orang beriman. Hari ini kita kenangkan St.Atanasius, uskup,
      yang dikenal gigih dan tenang melawan gerakan bidaah, Arianisme,
      yang mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan. Salah satu tugas uskup
      adalah `memberitakan firman'. "Sejauh menyangkut Gereja universal,
      tugas untuk memaklumkan Injil dipercayakan terutama kepada Paus dan
      kepada Kolegium Para Usku. Sejauh menyangkut Gereja particular yang
      dipercayakan kepadanya, tugas itu dilaksanakan oleh masing-masing
      Uskup, sebab di sana mereka adalah pemimpin seluruh pelayanan sabda"
      (KHK kan 786). Pemberitaan firman atau pelayanan Sabda Tuhan yang
      menjadi tugas utama Uskup di wilayahnya kiranya membutuhkan bantuan
      dan partisipasi kita semua. Maka baiklah sabda Tuhan kepada Paulus
      di atas kita jadikan permenungan dan kekuatan kita. "Jangan takut
      dan jangan diam melihat aneka macam tindakan korupsi yang semakin
      marak di negeri ini", itulah kiranya yang menjadi tugas perutasan
      dan panggilan kita yang sungguh mendesak dan up to date. Cukup
      memprihatinkan jika mencermati situasi hidup bersama masa kini:
      orang dihina atau diejak marah-marah, kurang dihormati atau dihargai
      lalu membenci, sementara itu ketika melihat orang korupsi diam-diam
      saja, tidak marah maupun benci terhadap korupsi. Sebenarnya cukup
      banyak orang baik di negeri ini, yang menentang korupsi, maka
      marilah kita saling berkomunikasi dan memperkembangkan maupun
      mempererat jaringan dalam memberantas korupsi. Kita imani sabda
      Tuhan: "Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan
      menjamah dan menganiaya engkau, sebagai banyak umatKu di kota ini".
      Bidaah maupun korupsi sama-sama menghancurkan dan memporak-
      porandakan hidup beriman, maka marilah kita lawan dan berantas dalam
      kebersamaan sebagai orang-orang beriman.

      "Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan
      sorak-sorai! Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang
      besar atas seluruh bumi. Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa
      kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita" (Mzm 47:2-4)
      Jakarta, 2 Mei 2008
    • Romo maryo
      “PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal” (Kis 9:31-42; Yoh 6:60-69)   “Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata:
      Message 2 of 2 , May 1, 2009
      • 0 Attachment

        “PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal”

        (Kis 9:31-42; Yoh 6:60-69)

         

        “Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."(Yoh 6:60-69), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

        Berrefleksi atas bacaan-bacaan dan mengenangkan pesta St.Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja,  hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

        ·   Apa yang didengarkan sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan pribadi yang mendengarkan. Anak atau bayi yang masih berada di dalam rahim atau kandungan ibu sudah dapat mendengarkan, dan apa yang didengarkan melalui aneka macam suara yang bergema di lingkungan hidupnya sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan pribadinya. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya  kita fungsikan untuk ‘mendengar atau mendengarkan’ dan apa yang kita dengar atau dengarkan mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Maka marilah kita mawas diri perihal keutamaan ‘mendengarkan’ ini: apa yang kita dengarkan dan perdengarkan atau suarakan? Agar kita dapat mendengarkan mau memperdengarkan dengan baik kiranya butuh kerendahan hati, keterbukaan hati, jiwa, akal budi dan tubuh.Tuhan adalah maha segalanya dan sabda-sabdaNya mahakuasa, maka jika kita sungguh dapat mendengarkan sabda Tuhan dengan baik kita pasti akan dipengaruhi olehNya sehingga kita memiliki cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan kehendak atau sabda Tuhan, hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Maka baiklah sabda Tuhan kita dengarkan dan bacakan setiap hari di dalam keluarga kita, atau komunitas kita, entah komunitas hidup, belajar atau bekerja, dapat dibacakan untuk diri sendiri atau orang lain. Apa yang dibacakan kiranya dapat mengikuti Kalendarium Gerejani, sebagaimana saya kutipkan setiap hari. Jika membacakan untuk disi sendiri hendaknya jangan berbisik-bisik atau secara batin melainkan secara vokal sehingga telinga tubuh kita dapat mendnngarkan dengan baik. Jika dibacakan untuk orang lain, misalnya di dalam keluarga: salah seorang membacakan dengan baik dan yang lain mendengarkan. Kami percaya jika kita dapat mendengarkan dengan baik sabda Tuhan, maka kita pasti akan dipengaruhi, sehingga kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, berjalan, hidup dan bertindak dalam jalan Tuhan menuju ke hidup kekal, hidup mulia kembali mulia di sorga.

        ·    "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu”(Kis 9:34),  demikkan kata Petrus kepada Eneas, “yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh”.dan Eneas pun bangkit berdiri. Mungkin ada di antara saudara-saudari kita atau bahkan diri kita sendiri sedang ‘lumpuh’, entah hati, jiwa, akal budi atau tubuhnya alias sakit. Jika dalam keadaan demikian maka persembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan mohon penyembuhan. Tentu saja jika kita mohon kepada Tuhan harus siap sedia ketika permohonan kita dikabulkan. Permohonan kita akan terkabul jika kita siap sedia untuk mendengarkan dan melaksanakan sabda-sabda yang akan disampaikan kepada kita, dengan kata lain kembali hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan serta meninggalkan keinginan dan kehendak sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kelumpuhan yang terjadi pada umumnya orang hanya mengikuti kehendak dan keinginan diri sendiri alias hidup dan bertindak menuru selera pribadi. Jika anda menghendaki dapat hidup dan berjalan dengan baik alias tidak lumpuh, silahkan taati dan laksanakan janji-janji yang pernah anda ikrarkan sepenuhnya, tanpa cacat dan kekurangan apapun. Sakit dan sehat erat kaitannya dengan iman kita kepada Tuhan, mereka yang kurang atau tidak beriman pasti akan mudah jatuh sakit, sedangkan jika kita beriman kuat dan sehat maka dapat hidup dan berjalan dengan baik, segar bugar dan sehat wal’afiat secara jasmani maupun rohani.

         

        “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku! Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN” (Mzm 116:12-17).

         

        Jakarta, 2 Mei 2009



        Berselancar lebih cepat.
        Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka browser.Dapatkan IE8 di sini! (Gratis)
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.