Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Seri 031

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Syari at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan
    Message 1 of 1 , Apr 30, 2008
      Syari'at Islam yang bermuatan: aqidah (pokok keimanan), jalannya hukum dan akhlaq, meliputi cakrawala yang luas, yaitu petunjuk untuk mengatur baik kehidupan nafsi-nafsi (individu), maupun  kehidupan kolektif dengan substansi yang  bervariasi seperti  keimanan,  ibadah ritual (spiritualisme),  karakter  perorangan,  akhlaq individu dan kolektif, kebiasaan manusiawi, ibadah non-ritual seperti: hubungan keluarga, kehidupan sosial politik ekonomi, administrasi, teknologi serta pengelolaan lingkungan, hak dan kewajiban warga-negara, dan terakhir yang tak kurang pentingnya yaitu sistem hukum yang teridiri atas komponen-komponen: substansi aturan-aturan perdata-pidana, damai-perang, nasional-internasional, pranata subsistem peradilan dan apresiasi hukum  serta rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat yang berakhlaq.
       
      Semua substansi yang disebutkan itu bahasannya ada dalam Serial Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu. 
       
      one liner  1/5-2008
      insya-Allah akan diposting hingga no.800
      no.terakhir 825 
       
      ********************************************************************
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      031. Iptek Untuk Pembangunan Fisik dan Membangun Sains yang Islami
       
             Teknologi tidak dapat dipisahkan dari sains sehingga lazim diungkapkan dalam bentuk kata majemuk: Iptek, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Ungkapan ini memang kuat alasannya, karena Iptek ini sejak dahulu sampai sekarang merupakan fenomena sosial. Dalam setiap kelompok sosial, bahkan dalam masyarakat yang primitif sekalipun, Iptek memegang peranan penting bagi masyarakat itu agar dapat bertahan hidup/survive. Masyarakat pengembara yang masih primitif, mata pencahariannya adalah berburu. Pekerjaan berburu ini harus menguasai dan terampil mencari jejak binatang, menghindari posisi di atas angin, untuk menghindarkan pemburu itu tercium oleh binatang buruannya, harus tahu sedikit anatomi binatang buruan, yaitu bahagian mana yang paling rawan untuk sasaran senjata. Itu semuanya adalah ilmu pengetahuan, katakanlah sains dalam bentuk yang masih primitif, bagi masyarakat primitif itu. Mereka harus mampu membuat senjata, apakah itu tombak ataupun anak panah dengan busurnya. Mereka itu harus terampil mengasah atau membuat runcing ujung tombak ataupun anak panah. Dan itu adalah teknologi walaupun masih sangat bersahaja. Jadi masalah pemanfaatan sumberdaya alam dan peningkatan sumberdaya manusia dalam masyarakat primitif sudah dikenal. Bahan-bahan untuk membuat tombak dan panah, dan binatang-binatang buruan itu menyangkut sumberdaya alam. Melatih diri menjadi seorang pemburu
      yang berkwalitas, menguasai seni berburu, keterampilan membuat senjata, itu adalah peningkatan sumberdaya manusia. 

             Dari uraian di atas itu jelaslah bahwa Iptek itu merupakan fenomena sosial. Bagi masyarakat yang masih primitif Ipteknya juga masih sesuai dengan keadaan masyarakat itu, yaitu Iptek yang primitif. Baik masyarakat primitif maupun masyarakat modern sama-sama berurusan dengan sumberdaya alam dan peningkatan sumberdaya manusia. Bedanya hanya terletak dalam hal yang gradual, yaitu bagi masyarakat modern, tentu Ipteknya pun harus canggih juga. Makin berkembang struktur masyarakat, makin perlu pula Iptek itu diperkembang. Alhasil bagaimana pentingnya Iptek itu untuk pembangunan fisik, sebenarnya bukan barang baru, biasa-biasa saja. Ini untuk menghindarkan semacam kultus pada Iptek yang canggih.

      ***
             Namun ada hal yang masih menjadi ganjalan bagi penulis yang telah menyediakan dirinya untuk menjadi penjaga gawang aqiedah. Dalam Seri 005 telah dibicarakan tentang sains yang tidak otonom, karena sains itu dalam kenyataannya telah memihak kepada golongan yang tidak mau tentang Tuhan, sehingga pada hakekatnya sains itu tidaklah bebas nilai. Dalam Seri 006 sains itu didefinisikan bertumpu di atas paradigma Tawhid. Dalam Seri 030 ybl., wujud saudara kembar teknologi itu telah digambarkan potretnya. Sains semacam yang telah digambarkan potretnya itu adalah eksklusif sifatnya. Hanya berurusan dengan pengkajian alam yang tanpa arah / purposeless, tanpa arti / senseless.  Alam ini tidak lain dari sekadar gerakan saja. Gerakan-gerakan materi yang tidak diatur oleh Yang Maha Pengatur untuk maksud tertentu, melainkan alam ini dikendalikan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam yang buta / tidak terarah (blind forces and blind natural laws). Dalam skema tanpa arah dan tanpa arti ini, maka kehidupan manusiapun dipahami pula tanpa arah dan tanpa arti. Lalu manusia menciptakan sendiri tujuannya yang materialistik, lalu kehidupan itu menjadi gersang. Dan inilah penyebab keresahan, kerisauan, kesunyian dalam diri manusia "modern", yang mencoba mengatasinya, menghibur dirinya dalam kehidupan malam.

             Maka perlu wajah baru bagi sains. Yaitu membangun sains yang Islami itu dengan jalan menjabarkan Rabbul'alamin dalam sains. Bahwa alam ini bukanlah purposeless, senseless, meaningless. Penciptaan alam ini oleh Maha Pencipta ada tujuannya yang sudah didisain oleh Maha Pengatur, Maha Manajer, Ar Rabb. Allah adalah Rabbul'alamin.

             Metodologi sains yang sekarang tidak akan diusik-usik, melainkan disempurnakan: observasi, rasionalisasi / penafsiran dan pengujian eksperimental. Ini disempurnakan dengan mencukupkan sumber informasi observasi menjadi ayat kawniyah (alam semesta) dan ayat qawliyah (Al Quran). Dengan mencukupkan pengujian eksperimental terhadap ayat kawniyah dan ditest teori hasil rasionalisasi itu dengan merujukkannya pada ayat qawliyah. Dalam pembangunan sains itu kajian dilanjutkan. Sesudah tahap pengujian eksperimental dikajilah tujuan fenomena alam yang telah diungkapkan itu. Misalnya hasil kajian tentang sifat-sifat istimwa air yang menyimpang itu. (Silakan baca ulang Seri 13: Air Zat yang Tidak Biasa). Sifat-sifat istimewa air itu menunjukkan tujuan penciptaan air, yaitu supaya manusia dapat hidup di permukaan bumi ini. Juga tujuan penciptaan sifat-sifat menyimpang dari air itu supaya binatang-binatang air dapat hidup di bawah es pada musim dingin, bahwa pohon yang tinggipun dapat hidup. Demikian pula lintasan bulan terhadap bumi, suatu elips yang mendekati lingkaran. Dikombinasi dengan jarak bumi matahari dan jarak bumi bulan. Dengan kombinasi itu, maka pada gerhana matahari penuh, bulan dapat menutup matahari tepat-tepat penuhnya. Ini mempunyai tujuan, yaitu Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk dapat mengobservasi dan kemudian mempelajari bahagian luar dari atmosfer matahari. Tanpa bulan tepat-tepat menutup matahari pada waktu gerhana matahari penuh, manusia tidak mungkin dapat mengobservasi bahagian luar matahari dengan baik.

             Demikian pula entropi dalam hubungannya dengan Hukum Termodinamika Kedua, dan masih banyak hasil kajian sains yang lain yang dapat dikaji untuk tujuan penciptaan alam semesta oleh Allah SWT. Bahkan kajian tentang tujuan penciptaan alam ini dapat berupa majoring dalam sains yang telah dibangun ini, yang dapat pula melanjut pada spesialisasi.  

             Kesimpulannya, pengkajian sains yang Islami ditujukan pula terhadap tujuan penciptaan setiap makhluq di alam semesta ini oleh Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Bahwa pengkajian tentang tujuan penciptaan itu bukanlah  monopoli golongan filosof dan "ulama".  Pengkajian dalam sains yang telah disempurnakan ini akan membawa para pakar di bidang sains ini menghayati kalimah:
      -- Alhamdu liLlahi Rabbil'alamin (S. Al-Fatihah, 1:2), artinya:
      -- Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengatur alam raya ini.
       
      Penghayatan terhadap kalimah tersebut akan menghasilkan sikap Ulu lAlbab. Maka para pakar di bidang sainspun akan menemukan Allah di dalam bidang kajiannya, dan menjadilah mereka itu ulama dalam pengertian yang sesungguhnya, tanpa keluar meninggalkan disiplin ilmu yang digelutinya yaitu sains. WaLlahu a'lamu bishshawab.
            
      *** Makassar, 31 Mei 1992 
         [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/031-iptek-untuk-pembangunan-fisik-dan.html
            
       
       
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.