Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Ibu Mertua vs Mantu

Expand Messages
  • mangucup88
    Pada saat sebelum nikah dunia ini hanya milik kita berdua. Cintaku dan cintamu yang tulus bak semangkok bakso dengan bihun dengan kuah bening, tanpa bawang
    Message 1 of 1 , Apr 2, 2008
    • 0 Attachment
      Pada saat sebelum nikah dunia ini hanya milik kita berdua. Cintaku
      dan cintamu yang tulus bak semangkok bakso dengan bihun dengan kuah
      bening, tanpa bawang goreng, tanpa sambel, tanpa tauge, tanpa cuka
      dsb-nya, tetapi setelah nikah menjadi satu periuk, ternyata tidak
      berlaku lagi satu piring seindah impian. Disitulah muncul "The Other
      Woman" yang hingga saat ini selalu berada dibelakang layar dan
      jarang tampil.

      Tadinya si Dia itu hanya merupakan bayangan yang samar-samar saja,
      tetapi akhirnya timbul menjadi kenyataan seperti juga dalam film
      J.Lo "Monster in Law". Maka dari itu tidaklah heran apabila di dalam
      sinetron Jepang, Korea, ibu mertua yang judes membully menantu masih
      menjadi tema abadi.

      Problem utama dari pertikaian antara mertua dan mantu itu selalu
      sama; dimana mereka mengasihi pria yang sama dan keduanya mengklaim
      bahwa pria tersebut sebagai miliknya.

      Sang Mertua mengklaim bahwa ia adalah anaku yang telah kubesarkan
      selama puluhan tahun, apakah akan kuserahkan/percayakan secara
      begitu saja dalam sehari kepada perempuan yang tidak kukenal. Sang
      Istri mengklaim bahwa ia adalah suamiku dan sejak hari perkawinan ia
      adalah sah miliku 100%, dimana saya tidak bersedia untuk
      membagikannya lagi dengan siapapun juga.

      Maka tidaklah heran kalau kita sering mendengar curhat dimana
      seorang istri mengutarakan, bahwa suaminya itu OK berat, tapi mana
      tahan dengan ibunya. Begitupun kebalikannya, bahwa anaknya itu OK
      berat hanya sayang ia telah memilih istri yang salah. Saya mengalah
      bahkan merestui perkawinan putera saya dengan cewek itu, hanya demi
      kebahagiaan putera saya, selain dari itu No-Way !

      Keluhan dari sang Mertua pada umumnya, ia merasakan bahwa atensi
      maupun kasih sayang dari puteranya jauh berkurang sejak ia menikah.
      Bahkan agar anaknya mau datang kerbujung pun harus ngemis dahulu.
      Kebalikannya sang istri merasa bahwa suaminya jauh lebih banyak
      memberikan atensi maupun kasih sayang kepada ibunya daripada kepada
      dia. Masa sih setiap hari Minggu/Libur harus melakukan kunjungan
      wajib kerumah mertua, kapan suamiku ada waktu hanya untuk saya dan
      anak-anak saja ? Hal inilah yang menjadi tema pokok kebanyakan
      perceraian pada awal pernikahan mereka.

      Disisi lain Sang Suami, merasa terjepit disatu pihak ia ingin selalu
      membahagiakan istrinya, dilain pihak ia tidak ingin menyakiti ibu
      kandungnya. Kepada kedua perempuan itu ia memiliki tanggung jawab
      dan juga mengasihinya, tetapi keputusan apa yang harus diambil pada
      saat ia harus memilih, sang ibu ataukah sang istri?

      Harus diakui pada saat sebelum kawin, sang gadis memperhatikan
      kebutuhan sang Mertua dan juga tidak pernah lupa memberi kado.
      Bahkan pada saat pertemuan pertama pun hatinya tegang dan deg-
      degan; "Apakah dandanan saya tidak terlalu menor, apakah saya
      berlaku cukup sopan?" Hanya dengan satu tujuan saja ialah mencari
      hati dari sang Ibu Mertua, tetapi setelah berhasil menggaet
      puteranya, boro-boro ngasih kado, berkujung setahun sekali saja
      kalau tidak terpaksa ogah !

      Mrs Deborah Merrill - Guru Besar dari Clark University; pengarang
      buku "Mother-In-Law and Daughters-In-Law. Understanding the
      relationship and what makes them Friends for Foe" menyatakan
      bahwa "Pertemuan Pertama" antara Mertua dan Mantu adalah saat yang
      terpenting untuk menentukan hubungan berikutnya bagi mereka berdua.
      Kesimpulan ini ia dapatkan setelah mengadakan penelitian dari jajak
      pendapat terhadap ratusan pasangan yang telah menikah bertahun-
      tahun. Bahkan salah seorang responden menyatakan bahwa ia sering
      bermimpi ketika membunuh Ibu Mertuanya.

      Setelah puteranya menikah, banyak ibu mertua merasakan seakan-akan
      ia dikucilkan dari puteranya, ia tidak merasa terlibat lagi di dalam
      keluarga puteranya. Ia hanya sekedar penonton dari luar, tetapi
      kebalikannya pada saat sang putera butuh baby sitter, bantuan
      materi, baru ia tahu no telpon ibunya.

      Apakah hubungan antara mantu dan mertua itu harus selalu buruk ?
      Tidak sebab kenyataannya lebih dari 50% responden menyatakan bahwa
      mereka memiliki hubungan yang baik antar mertua dan mantu.

      Hubungan antara mertua dan mantu akan bisa menjadi baik, apabila
      sang mertua dapat menerima kenyataan bahwa puteranya itu sekarang
      bukan anak kecil lagi yang harus selalu diperhatikan dan diutamakan
      terus-menerus. Berilah kesempatan dan kepercayaan kepada istrinya,
      bahwa istrinya pun dapat mengurus dan memberikan kasih sayang yang
      sama besarnya seperti yang diberikan oleh dia. Berikanlah kebebasan
      kepada putera Anda untuk menentukan sendiri, kapan ia mau menelpon
      ataupun datang berkujung.

      Kesalahan dari kebanyakan mertua, ialah terlalu kritis, terhadap
      mantunya, misalnya karena tidak pandai masak, atau tidak bisa
      mengurus anak, ataupun tidak bisa mengurus kebersihan rumah.
      Walaupun rumah mantu anda tidak sebersih rumah anda, tetapi itu
      adalah rumahnya. Kesalahan yang paling fatal dari seorang Ibu Mertu
      apabila masih menyimpan kenang-kenganan ataupun foto dari gadis
      mantan kekasih puteranya yang dahulu.

      Aneh tapi nyata hubungan antara mantu laki dengan ibu mertua pada
      umumnya jauh lebih baik daripada hubungan antara mantu perempuan dan
      ibu mertua, maka dari itu tidaklah heran apabila kebanyakan mertua
      perempuan merasa iri, karena puteranya lebih sering berkujung
      kerumah mertuanya daripada kerumah ibu kandungnya sendiri.

      Maka dari itu berbahagialah mereka yang mendapatkan mantu lelaki,
      sebab secara tidak langsung; selain anda memiliki seorang putri;
      anda juga telah mendapatkan tambahan seorang putera, tetapi
      kebalikannya bagi mereka memiliki mantu perempuan, mereka akan
      merasa kehilangan seorang putera. Ia merasa seakan-akan puteranya
      itu telah direbut oleh perempuan lain.

      Mungkin hanya Adam dan Hawa saja yang tidak pernah mengalami masalah
      dengan Mertua.

      Mang Ucup
      Email: mang.ucup@...
      Homepage: www.mangucup.org
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.