Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Seri bertanggal 2 April

Expand Messages
  • Tana Doang
    Rupanya postingan beta yang mengimbangi postingan telaten Romo maryo dicekal oleh moderator sejak 1 April 2008. Oleh sebab itu beta tempuh metode lain, yaitu
    Message 1 of 1 , Apr 1, 2008
    • 0 Attachment
      Rupanya postingan beta yang mengimbangi postingan telaten Romo maryo dicekal oleh moderator sejak 1 April 2008. Oleh sebab itu beta tempuh metode lain, yaitu memposting Serial WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU sesuai tanggal juga. Pada permulaan ini beta posting seri yang bertanggal 2 Aptil
       
      Salam
      La Tando
       
      ***********************************************************************************************************************
       
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian ajar]
      417. Marxisme Ibarat Bulan
       
      Sebermula, perlu diperjelas bahwa dalam tulisan ini dipakai istilah marxis kalau penekanannya pada buah-pikiran,  sedangkan komunis,  kalau  penekanannya sebagai kekuatan  sosial.  Tatkala memberikan  sambutan pada pembukaan Kongres PDIP di Semarang Gus Dur mengatakan antara lain bahwa Pemerintah jangan  diperalat untuk melarang komunisme.  Sesungguhnya  Gus  Dur  tidak  boleh berkata demikian, karena Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966 serta UU No.27 thn  1999  menegaskan PKI sebagai partai terlarang,  melarang penyebaran  ajaran  komunisme,  leninisme dan marxisme, serta pelanggaran terhadap larangan itu adalah tindak  pidana. Maka Pemerintah berkewajiban melarang penyebaran komunisme, leninisme dan marxisme.
       
      Dewasa ini dalam masyarakat telah muncul  secara  terbuka orang-orang  yang  bersimpati kepada Karl  Marx  dan  ajaraannya. Katakanlah misalnya dalam wujud tulisan seperti tulisan Mardiadi Amin pada halaman Opini, Harian FAJAR, edisi Kamis, 19 Agustus 1999 yang mengatakan bahawa bukan marxismenya  yang   rusak melainkan  leninisme dan stalinisme. Ini telah saya bantah  dalam Seri  387,  Ahad 29 Agustus 1998. Demikian pula  Suapri  Giffari dalam  tulisannya yang berjudul: Pesan Karl Marx untuk  Gus  Dur, dalam  Harian  FAJAR,  edisi  Jum'at,  24  Maret  2000.   Giffari kebablasan menyanjung  Karl Marx sehingga menulis  bahwa  teori-teori Karl Marx turut memicu Revolusi Perancis. Itupun telah saya koreksi dalam Seri 416, bahwa tidak benar teori-teori Karl Marx turut memicu Revolusi Perancis, sebab Revolusi  Perancis  lebih dahulu meletus (1789 M.) ketimbang kelahiran Marx (1818 M.).
       
      Sepintas lalu  marxisme memang menarik  utamanya  bagi  kaum muda.  Siapa yang tidak tertarik, Karl Marx adalah pahlawan  kaum proletar. Menurut sejarah kelas proletar dalam zaman Romawi  Kuno adalah golongan yang tak berpunya. Istilah proletar ini  diadopsi oleh  Marx  sebagai  kelas pekerja yang  menjual  dirinya  (baca: tenaganya) kepada kaum kapitalis. Secara "ilmiyah" Marx dalam Das Kapital menghantam sistem kapitalisme dengan teori nilai-surplus (surplus value). Marx  menunjukkan bagaimana jahatnya kaum kapitalis mengisap tenaga kelas pekerja  dengan senjata nilai surplus itu. Upah yang diterima buruh sesungguhnya hanya  untuk membeli  harga tenaga selama misalnya 4 jam saja  bekerja,  namun kaum pemodal mepekerjakan buruhnya selama 10 jam. Kelebihan  yang 6  jam  yang dicuri dengan licik dari tenaga buruh itulah yang disebut dengan nilai-surplus. Demikianlah sepintas lalu  indahnya teori Karl Marx dalam membela kaum yang lemah.
       
      Namun keindahan teori Marx itu ibarat indahnya bulan  purnama yang  dilihat  dengan mata telanjang. Apabila bulan  itu  dilihat dengan teropong bintang, maka keindahan bulan itu menjadi lenyap, ibarat  wajah  gadis yang penuh dengan borok  dan bopeng-bopeng, sangat tidak semulus jika dilihat dengan mata telanjang.  Marilah kita lihat wajah teori Marx itu dengan teropong. Teori "ilmyah" nilai  surplus ini tidak memperhitungkan teknologi.  Pupuk  hasil jerih  payah  insinyur  kimia dan metode  pengolahan  lahan  dari insinyur pertanian, sebenarnya itulah yang dapat melipat-gandakan hasil  perkebunan dan pertanian, ketimbang nilai  surplus  tenaga buruh perkebunan dan buruh tani. Maka untuk meningkatkan produksi tidak  perlu  lagi mencuri sekian jam dari tenaga  pekerja.  Lagi pula  seperti  kita lihat dewasa ini di negara-negara kapitalis tidak sebagaimana persepsi Karl Marx yang menuduh negara  adalah alat  untuk melindungi pemodal dalam memeras buruh dengan  peluru nilai surplus. (Ini akan diulas tersendiri insya Allah dalam sebuah nomor seri). Terlebih pula  antagonisme  antara  pemodal dengan  buruh  di beberapa tempat tidak terjadi  lagi,  berhubung para  buruh  mempunyai  pula  saham  dalam  perusahan   tempatnya bekerja. Bahkan beberapa pekerja Turki yang memburuh  di  Eropah Barat kembali ke negerinya dan secara patungan membangun pabrik. Ini namanya  kemanunggalan majikan dengan buruh.  Alhasil  teori nilai surplus sudah ketinggalan zaman.
       
      Namun di mana-mana utamanya di negeri-negeri miskin, termasuk di  Indonesia,  kejahatan  kaum  kapitalis  dengan  peluru  nilai-surplusnya  menurut  visi Marx itu, masih dipakai  orang  komunis dalam agitasi dan propaganda untuk menarik kaum muda yang jiwanya masih  berapi-api untuk berevolusi. Bahkan waktu pertama  kalinya marxisme  diperkenalkan  di Indonesia tahun dua  puluhan,  tokoh-tokoh Islam seperti almarhum Haji Oemar Said Tjokroaminoto  dapat pula terkecoh oleh propaganda kaum marxis ini, sehingga  Syarikat Islam dapat disusupi kaum komunis.
       
      Demikianlah  ibarat  melihat  bulan  dengan  mata  telanjang, marxisme  indah dipandang mata. Sehingga ada beberapa di  antara generasi  muda  Islam yang terbius oleh agitasi dan  propaganda penyebar  marxisme.  Mereka  itu terbius  karena  hanya  mengenal marxisme dari kulitnya saja. Mereka itu terkecoh ibarat  terkecoh melihat  bulan  purnama  dengan  mata  telanjang  sehingga  bulan terkesan  halus dan mulus. Mereka itu mudah dibius, oleh karena misi marxisme membela kaum proletar, seperti cahaya bulan purnama yang indah (baca: yang mereka pelajari dari  "kulit"  marxisme), seirama  dengan Risalah yang dibawakan Nabi  Muhammad  RasuluLlah SAW:
      -- AR^YT ALDZY YKDZB BALDYN. FDZLK ALDZY YD'A ALYTYM. WLA  YHDH 'ALY TH'AAM ALMSKYN. FWYL LLMSHLYN. ALDZYN HM 'AN SHLATHM  SAHWN. ALDZYN  HM YRA^WN. WYMN'AWN ALMA'AWN (S. ALMA'AWN, 1-7),  dibaca:
      -- Araaytal ladzi- yukadzdzibu biddi-n. Fadza-likal ladzi-  yadu''ul yati-m.   Wala-  yahudhdhu  'ala-  tha'a-mil  miski-n.   Fawaylul lilmushalli-n. Alladzi-na hum 'an shala-tihim sa-hu-n. Alladzi-na hum  yura-u-n. Wayamna'u-nal ma-'u-n (106:1-7),  artinya: 
      -- Apakah engkau  tahu  orang-orang yang mendustakan agama?  Itulah  mereka yang mengusir anak yatim. Dan tiada menyuruh berupaya memberi makan orang-orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu mereka  yang  lalai  dengan shalatnya.  Yaitu  mereka  yang  suka berpenampilan.  Dan enggan memberikan benda-benda perkakas (s. benda-benda perkakas).

      Insya Allah dalam seri-seri berikutnya pengasuh kolom ini akan menguliti marxisme, ibarat Neil Armstrong yang menjejakkan kakinya di bulan, yaitu pandangan  marxisme  terhadap  sejarah, negara,  moral  dan agama. Tulisan berseri  tersebut dimaksudkan untuk memperlihatkan betapa pentingnya Tap MPRS  No.XXV/MPRS/1966 itu dipertahankan. WaLlahu A'lamu bi Al Shawa-b
       
      *** Makassar, 2 April 2000
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
       
       
       

       
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.