Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Fw: [Sabili] Menkes Fadilah Membongkar Konsprasi WHO-AS soal Flu Burung

Expand Messages
  • Tana Doang
    Diteruskan oleh La Tando ... From: To: ; ;
    Message 1 of 1 , Feb 28, 2008
      Diteruskan oleh
      La Tando
       
      ----- Original Message -----
      Sent: Wednesday, February 27, 2008 6:17 PM
      Subject: [Sabili] Menkes Fadilah Membongkar Konsprasi WHO-AS soal Flu Burung


      Data Classification: 2
      Key Note: (0-Public; 1-Internal; 2-Confidential; 3-Strictly Confidential)

      Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu Burung,
      Buku Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO

      Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah
      World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika
      Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan
      badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata
      biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

      Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan
      dari negara maju memproduksi
      vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang,
      termasuk Indonesia.

      Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya
      Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
      Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan
      buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul
      It's Time for the World to Change. Konspirasi tersebut,
      kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara
      mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran
      virus flu burung.

      "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran
      flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada
      Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

      Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan
      mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata
      biologi dari penyebaran virus avian
      H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.
      Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai
      protes dari petinggi WHO.

      "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah,
      monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita
      bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan
      kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO,
      lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah
      kaya," ujarnya.

      Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak
      masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa
      Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000
      buku.

      "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat
      saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar.
      Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk
      rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan
      penerbitan besar," katanya.

      Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo,
      6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid
      kedua.

      "Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan
      saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya.
      Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya
      dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk
      kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia
      diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar menteri
      kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

      Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang
      Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.

      "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia,
      sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis,
      sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris
      dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi
      menarik buku dari peredaran. Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan
      peralatan militer berupa senjata
      berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku
      setebal 182 halaman itu.

      Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah
      membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap
      perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO
      sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang
      sudah dipakai selama 50 tahun. Perlawanan Fadilah dimulai
      sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia
      pada 2005.

      Majalah The Economist London menempatkan Fadilah
      sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia
      dari dampak flu burung.

      "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata
      yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia
      saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung,
      yaitu transparansi," tulis The Economist.

      The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika,
      edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat
      Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.
      Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat
      tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak
      terkena kasus flu burung.

      Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan
      diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating
      Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel
      spesimen.

      Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta
      laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya
      ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel
      dikirim ke Hongkong?

      Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban
      flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu
      diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan
      risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.
      Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta,
      pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan
      besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena
      flu burung.

      Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban,
      kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi. Fadilah
      marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri,
      hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah
      dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance
      Network (GISN) WHO.

      Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik
      selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari
      110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN
      tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka,
      dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

      Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan
      fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data
      sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu,
      uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New
      Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat
      orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.

      Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi
      AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu
      untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia? Fadilah
      tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu.
      Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya
      dikuasai kelompok tertentu.

      Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data
      itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal
      mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

      Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai
      revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah
      terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang
      konon telah ditempatkan di Bio Health
      Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

      Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
      virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga
      terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim
      spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu
      mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

      Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam
      WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada
      akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di
      Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM)
      WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu
      sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

      source :  tribun-timur.com/view.php?id=65146
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.