Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

2 Feb

Expand Messages
  • Romo maryo
    Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah: Ibr 2:14-18; Luk 2:22-40 Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan
    Message 1 of 3 , Jan 31, 2008
    • 0 Attachment

      Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah: Ibr 2:14-18; Luk 2:22-40

      "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu”

      Masinis kereta api dalam melaksanakan tugas untuk menjalankan kereta api tidak mungkin mengambil inisiatif menelusuri rel sesuai dengan kemauan sendiri, melainkan ia mau tidak mau harus menyerahkan diri kepada petugas setasiun maupun jalur rel yang telah terpasang. Dengan keyakinan ini kiranya para penumpang kereta api merasa aman dan dapat istirahat atau tidur nyenyak di dalam perjalanan. Demikian juga seorang pilot pesawat terbang, memang jika ia mau mengendalikan arah penerbangan menurur kemauan sendiri juga bisa namun hal itu tidak ia lakukan, melainkan harus mentaati aturan lalu lintas udara yang dikendalikan oleh para petugas menara jaga lapangan terbang yang berada di darat. Jika pilot setia mentaati arahan dari petugas di darat tersebut kiranya selamatlah penerbangan dan para penumpangpun selamat dan damai serta dapat istirahat atau tidur nyenyak selama dalam penerbangan. Begitulah buah dari orang yang dengan setia mentaati aturan atau tatanan hidup: mereka yang menikmati buah karya atau mengikuti dan melihatnya merasa damai sejahtera. “Ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka (Yosep dan Maria) membawa Dia(Kanak-kanak Yesus)  ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan” (Luk 2:22 ). Yosep dan Maria yang mempersembahkan Kanak-kanak Yesus, Penyelamat Dunia, sesuai dengan peraturan atau hukum agama yang berlaku, mendorong Simeon, orang benar dan saleh, yang menyaksikan berkata: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu” (Luk 2:29-32).

       

      “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu”

       

      Baik Yosep, Maria maupun Simeon adalah orang baik dan benar, maka mereka dengan sepenuh hati dan rela mempersembahkan diri/yang terkasih kepada Tuhan. Hidup atau mati adalah milik Tuhan; hidup serta segala sesuatu yang menyertai kita, atau kita miliki dan kuasai saat ini adalah anugerah Tuhan.  Kiranya kita semua dipanggil untuk menjadi orang baik dan benar dalam hidup sehari-hari, dalam berbagai pergaulan, tugas pekerjaan maupun kebersamaan dimanapun dan kapanpun juga.  Jika kita sungguh baik dan benar kiranya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan kita akan senyum gembira, rela mempersembahkan diri seutuhnya kepadaNya.

       

      Apa yang disebut ‘baik’ senantiasa berlaku universal atau mondial, dimana saja dan kapan saja alias juga bersifat obyektif bukan subyektif. Tindakan atau perbuatan baik senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan, lebih-lebih dan terutama adalah kebahagiaan atau keselamatan jiwa manusia. Apa yang baik untuk kesehatan dan kebugaran tubuh manusia antara lain mengkomsumsi atau makan sesua dengan pedoman ‘empat sehat lima sempurna’ (nasi/roti/jagung/ketela, sayuran, daging, buah dan susu) serta berolah-raga secara teratur. Dalam tubuh yang sehat dan bugar kiranya juga lebih mudah untuk berbuat baik bagi sesamanya, siap-sedia untuk menanggapi tawaran berbuat baik kapanpun dan dimanapun juga.

       

      Sedangkan apa yang disebut ‘benar’ antara lain berarti senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari, hidup dan bekerja bersama dengan Tuhan. Secara konkret bagi kita masing-masing hal itu berarti kita hidup dan bertindak sesuai dengan janji-janji yang pernah kita ikrarkan serta aturan dan tatanan hidup yang terkait sebagaimana telah dihayati oleh Yosep dan Maria, yang mempersembahkan Kanak-Kanak Yesus sesuai dengan hukum Taurat. Janji utama dan dasar sebagai orang katolik/yang telah dibaptis adalah ‘senantiasa hanya mengabdi Tuhan dan menolak semua godaan setan’. Godaan setan ada dimana-mana dan kapan saja, antara lain menggejala dalam tawaran harta benda/uang, jabatan/kedudukan dan kehormatan manusiawi dalam berbagai bentuk, yang mendorong orang untuk menjadi sombong dan serakah. Orang benar, yang antara lain senantiasa mengabdi Tuhan, dijiwai oleh kerendahan hati, keutamaan dasar yang dimiliki oleh orang benar. 

      Orang yang baik dan benar akan tumbuh berkembang semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya, sebagaimana terjadi dalam diri Yesus.

       

      Setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk 2:39 -40).

      Di rumah, di tempat kediaman keluarga kudus di Nazaret, Yesus ‘bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada padaNya’. Apa yang terjadi di rumah untuk semua orang kiranya kurang lebih sama, “maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai” (Ibr 2:17 -18). Belas kasih dan aneka pencobaan terjadi di rumah, dalam kehidupan keluarga.

       

      Belas kasih pertama-tama dan terutama dihayati oleh suami-isteri yang diikat oleh cintakasih baik dalam untung maupun malang , dan kemudian dari suami-isteri/orangtua kepada anak-anaknya. Rasanya jika kita terbuka dan jujur mawas diri pengalaman hidup di rumah, didalam keluarga, maka kita akan menyadari dan menghayati atau telah menerima belas kasih dengan melimpah ruah, sehingga kita masih tetap hidup seperti saat ini. Belas kasih memang merupakan salah satu perwujudan iman kita kepada Allah yang penuh belas kasih kepada kita dan jalan pendamaian atas aneka permusuhan atau ketidak-cocokkan yang mengarah ke permusuhan. Bukankah di dalam hidup di rumah, di dalam keluarga sarat dengan pencobaan-pencobaan yang mendorong orang untuk saling bermusuhan atau membenci? Godaan entah bagi suami atau isteri untuk menyeleweng senantiasa terbuka, lebih-lebih mereka yang sibuk bekerja dan kurang tinggal bersama; demikian godaan pada anak-anak untuk tidak taat kepada orangtua senantiasa terbuka, lebih-lebih sekali lagi ketika orangtua/suami-isteri begitu sibuk bekerja dan kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya (anak-anak dititipkan pada pembantu, mertua atau tempat penitipan anak-anak dst..). Godaan untuk semuanya antara lain ingin menang sendiri, berkarir tinggi dan dikagumi banyak orang.

       

      Pengalaman menghadapi dan mengatasi aneka godaan dan pencobaan dengan belas kasih di dalam keluarga, yang membuat kita terampil untuk berbelas kasih serta tetap tabah dalam pecobaan dan penderitaan, kiranya merupakan bekal atau kasih karunia Allah bagi kita untuk semakin mempersembahkan diri pada Tuhan, mengusahakan perdamaian dan kebahagiaan sejati. Kita semua dipanggil untuk menjadi orang “yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”     

       

      “Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!" Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" (Mzm 24:7-10)

       

      Jakarta , 2 Februari 2008

       

       



      Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
    • Sudrajat IDSRG Ass MGR OPS
      ... From: mayapadaprana@yahoogroups.com [mailto:mayapadaprana@yahoogroups.com] On Behalf Of Romo maryo Sent: Friday, February 01, 2008 3:00 PM To:
      Message 2 of 3 , Feb 1, 2008
      • 0 Attachment
      • Romo maryo
        “Biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera” (Ibr 2:14-18; Luk 2:22-32) “Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka
        Message 3 of 3 , Jan 31, 2009
        • 0 Attachment

          “Biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera”

          (Ibr 2:14-18; Luk 2:22-32)

          “Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.” (Luk 2:22-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

           

          Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan ‘Yesus dipersembahkan di Keniisah’ hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

          ·   Ketaatan dan kesetiaan pada tatanan atau aturan yang terkait dengan hidup dan tugas pengutusan merupakan penghayatan keutamaan yang mempesona dan memikat. Keluarga Kudus Nazaret taat dan setia pada hukum Taurat  dimana anak laki-laki ‘ketika genap waktu pentahiran’  harus dipersembahkan kepada Allah; Yosep dan Maria mempersembahkan Yesus kepada Allah di kenisah. Kiranya para orangtua atau keluarga Kristen/Katolik dipanggil untuk meneladan Keluarga Kudus Nasaret dengan mempersembahkan anak-anak atau putera-puterinya kepada Allah baik secara liturgis maupun praksis. Yang penting dan utama kiranya secara praksis yaitu mendidik dan membina anak-anak sesuai dengan kehendak Allah sehingga anak-anak berbudi pekerti luhur dan tumbuh berkembang menjadi ‘man or woman with/for others’. Jika orangtua berhasil mendidik dan membina anak-anak secara demikian itu kiranya pada waktunya, ketika orangtua menjadi tua dan kurang berdaya, orangtua dapat berkata seperti Simeon “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa” (Luk 2:29-31) alias dengan rela dan jiwa besar berani mengundurkan diri, memberi kesempatan kepada anak-anak, generasi muda untuk menjadi penerus apa yang telah dirintis dan dilakukannya. Orangtua, bapak-ibu hendaknya mempersembahkan diri besama-sama bagi pendidikan dan pendewasaan anak-anak, berani memboroskan  waktu dan tenaga bagi anak-anak yang terkasih  Boros waktu dan tenaga merupakan bentuk kasih yang utama, tidak berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang terkasih berarti tidak mengasihi. Kami juga berharap di antara anak-anak anda kemudian ada yang siap sedia mempersembahkan diri hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster, dan orangtua juga rela dan berjiwa besar ‘melepaskan’ anaknya untuk memeluk panggilan tersebut.

          ·   Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut “ (Ibr 2:14-15). Dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan diharapkan dapat “membebasakan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut”. Banyak orang takut mati dan kemudian dengan berbagai cara melindungi diri dengan cara hidup dan cara bertindak yang tidak sehat, yang sebenarnya justru mempercepat kematian mereka. Kita semua dipanggil meneladan Dia dengan menjadi sama dengan mereka yang harus kita tolong dan selamatkan; dengan menjadi sama dengan mereka yang kita tolong kemudian kita bersama-sama membebaskan diri dari berbagai ketakutan yang tidak perlu. Orang takut sakit ada kemungkinan mudah jatuh sakit, orang takut mati ada kemungkinan lebih cepat mati, dst.., karena dari ketakutan tersebut pada umumnya orang lalu hidup ngawur, tidak mentaati aneka tatanan atau aturan untuk hidup sehat, segar bugar dan cerdas beriman alias suci. Penakut memang dengan mudah menjadi ‘hamba-hamba kenikmatan duniawi’ yang mematikan, maka hendaknya jangan takut menghadapi aneka macam tantangan dan hambatan kehidupan. Dari penakut memang ada dua kemungkinan, yaitu menutup/mengurung diri atau membuka diri atas berbagai bantuan dan pertolongan, dan tentu saja kami berharap jika kita takut hendaknya terbuka terhadap yang lain.

           

          “Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!"Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!"Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" (Mzm 24:7-10)

           Jakarta, 2 Februari 2009



          Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru
          Lengkap dengan segala yang Anda sukai tentang Messenger!
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.