Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: [Mayapada Prana] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman

Expand Messages
  • lagi mikir
    Agama agama agama kenapa banyak sekali yang mengatasnamakan agama apakah agama memang mengajarkan kita untuk berbuat anarkis atau apakah manusianya yang memang
    Message 1 of 5 , Jan 1, 2008
      Agama agama agama kenapa banyak sekali yang mengatasnamakan agama
      apakah agama memang mengajarkan kita untuk berbuat anarkis atau apakah manusianya yang memang anarkis masuk ke dalam wadah agama dan memasukan kepentingan kepentingannya untuk memuaskan egonya

      ahmadbadrudduja <ahmadbadrudduja@...> wrote:
      Al-salamu 'alaman ittaba'a al-huda wa ijtanaba sabil al-rada

      Pak Nur yang baik,
      Saya mengikuti sepak-terjang anda selama ini, meskipun tentu tidak
      terus-terusan. Tepatnya, saya mengikuti tulisan-tulisan anda yang
      tersebar di milis-milis. Sebagian yang lain saya baca di Harian Fajar.
      Beberapa kolom anda sangat baik, tetapi untuk sebagian besar harus
      saya katakan dangkal, apologetik, dan sama sekali menimbulkan distorsi
      ketimbang informasi.

      Melihat tulisan-tulisan anda, saya berkesimpulan bahwa anda sebetulnya
      bukan orang yang memiliki "training" dalam studi Islam yang baik.
      Latar belakang anda sebetulnya bukan studi Islam. Anda lebih fasih
      kalau bicara soal ilmu-ilmu kealaman, atau sains. Begitu anda bicara
      soal Islam, anda langsung "oleng" dan kelihatan sama sekali dangkal.

      Mungkin anda belajar Islam lewat ustaz ini atau itu, atau di surau
      pada saat remaja. Tetapi itu tak membuat anda langsung layak disebut
      sebagai sarjana Islam. Sebagaimana agama-agama lain, Islam adalah
      agama yang cukup tua, dan karena itu memiliki tradisi kesarjanaan yang
      kaya dan mendalam. Sangat disayangkan bahwa ada sebagian generasi
      Islam sekarang yang sama sekali tak belajar sejarah kesarjanaan Islam
      yang kaya, tetapi berbicara Islam dengan keras sekali, menuduh
      pemikiran ini atau itu sebagai berlawanan dengan Islam. Seorang
      sarjana yang baik akan bersikap "humble", tawadlu', dan tahu
      keterbatasannya.

      Ini yang tak saya lihat pada anda. Dalam kolom-kolom yang anda
      sebarkan ke beberapa milis, kelihatan sekali anda memaksakan diri
      untuk berbicara mengenai banyak hal, seringkali juga mengenai hal yang
      sama sekali bukan wilayah keahlian anda. Kalau anda ahli ilmu
      kealaman, baiklah, anda berhenti di sana saja. Bicaralah Islam dari
      sudut keahlian anda sendiri. Ketika Imam Malik, pendiri mazhab Maliki,
      ditanya puluhan pertanyaan, dia berkali-kali bilang, saya tak tahu,
      saya tak tahu. Hanya beberapa gelintir pertanyaan yang ia jawab. Ini
      menunjukkan sikap tawadlu' seorang sarjana yang sungguhan.

      Ambil contoh: anda menulis dengan menggebu-gebu, mengkritik pemikiran
      Nasr Hamid Abu Zayd. Membaca kolom anda tentang hal itu, saya tak bisa
      lain kecuali mengatakan bahwa kritikan anda sangat dangkal. Anda bukan
      sarjana yang studi Qur'an dengan baik. Dugaan saya, anda hampir
      dipastikan tak membaca buku Abu Zayd dalam versi Arab. Saya juga
      hampir pasti bahwa anda tak membaca buku-buku yang menjadi dasar studi
      Abu Zayd seperti al-Itqan karya al-Suyuti, al-Burhan karya
      al-Zarkashi, Asrar al-Balaghah dan I'jaz al-Qur'an,kedunya karya
      al-Jurjani. Abu Zayd menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk studi
      tentang Qur'an. Dia boleh salah atau keliru. Tetapi kita tak boleh
      mengabaikan usaha dan studi dia. Sementara itu saat ini kita lihat
      lusinan penulis di Indonesia seperti anda yang tak pernah studi Qur'an
      dengan baik, tapi dengan kenekatan yang luar biasa langsung mengecap
      sesat atau murtad Abu Zayd.

      Ini hanya contoh saja.

      Nasehat saya: hendaklah anda tahu diri. Anda bukan ahli mengenai studi
      Islam. Jadi kalau menulis haruslah dengan sikap hati-hati, jangan
      "self righteous", atau sok benar sendiri. Anda sudah tua, dan sikap
      tawadlu' biasanya menjadi ciri-ciri orang yang sudah beranjak tua.
      Kenapa saya tak melihat ini pada anda?

      Ini nasehat dari seorang Muslim kepada saudara seiman. Al-mu'minu
      mir'atu akhihi al-mu'min, kata sebuah hadis.

      Mohon maaf kalau ada yang tak bekenan.

      Ahmad Badrudduja



      Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

    • H. M. Nur Abdurrahman
      ... From: ahmadbadrudduja To: Sent: Tuesday, January 01, 2008 03:07 Subject: [Mayapada Prana]
      Message 2 of 5 , Jan 1, 2008
        ----- Original Message -----
        From: "ahmadbadrudduja" <ahmadbadrudduja@...>
        To: <mayapadaprana@yahoogroups.com>
        Sent: Tuesday, January 01, 2008 03:07
        Subject: [Mayapada Prana] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman

        Al-salamu 'alaman ittaba'a al-huda wa ijtanaba sabil al-rada

        Pak Nur yang baik,
        Saya mengikuti sepak-terjang anda selama ini, meskipun tentu tidak
        terus-terusan. Tepatnya, saya mengikuti tulisan-tulisan anda yang tersebar
        di milis-milis. Sebagian yang lain saya baca di Harian Fajar. Beberapa kolom
        anda sangat baik, tetapi untuk sebagian besar harus saya katakan dangkal,
        apologetik, dan sama sekali menimbulkan distorsi ketimbang informasi.
        -----------------------------------------
        HMNA:
        saya sudah jawab dalam postingan tersendiri, paralel dengan postingan ini
        saya cut sampai di sini
        --------------------CUT---------------------
        Selanjutnya saya forward dari orang ketiga spb:

        ----- Original Message -----
        From: "Fahmi R. Kubra" <fahmikubra@...>
        To: <surau@yahoogroups.com>
        Sent: Tuesday, January 01, 2008 07:28
        Subject: Re: [surau] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman

        Dear Mr. AB
        Saya tidak ingin mengikuti sepak-terjang anda. Kebetulan saja saya membaca
        debat ini. Bagi saya, akan lebih menarik kalau sampean kemukakan fakta atau
        data tandingan sebagai counter-attack atas pernyataan2 Bapak HMNA. Bukan
        malah menyerang pribadi beliau. Ketika beliau bilang faktanya A, sampean
        bisa kemukakan fakta B. Selebihnya, biarlah pembaca yang menilai. Siapa yang
        sakit, siapa yang paranoid. Perkara apakah seseorang sudah membaca "daftar
        buku" spt yang anda kemukakan, orang lain juga mungkin boleh bertanya, "Anda
        sendiri sudah baca atau belum?". Mengikut alur/gaya bertutur anda yang suka
        men-duga2, boleh dong saya menduga bahwa senarai referensi itu sampean kutip
        dari toko buku tanpa membaca. Who knows gitu lho... Apa tidak lebih elok
        kalau sampean kutip saja, apa pendapat yang ada dalam daftar rujukan tsb.
        Tidak harus semua isi buku itu toh? Ambillah satu atau dua kalimat yang ada
        relevansinya dengan materi diskusi. Syukur2 kalau dengan bahasa aslinya.
        Dengan demikian, milister juga bisa "terrangsang" untuk membuka referensi
        tsb untuk melihat apakah persepsi kita tentang topik itu sama dan searah.
        Atau jangan2 yang terjadi justru plintiran kutipan.

        Dalam diskusi, IMHO, kita bertemu tidak harus untuk bersatu. Bisa saja
        Berjumpa Untuk Berpisah Lagi spt kata Bimbo, bila memang itu yang terbaik.
        Toh, kata Ebiet G. Ade, "Bertemu dan berpisah sama2 nikmatnya" (dikutip dari
        Apakah Ada Bedanya). Ini contoh cara melakukan sitasi, tanpa ada maksud
        buat mengajari. Dalam diskusi, sepakat syukur. Nggak sepakat, minimal
        tambah informasi/ilmu. Siapa tahu kapan2 bisa silaturrahmi alias copy
        darat.

        Last but not least, anda mencela sejumlah nama yang kebetulan saya kenal
        baik sehubungan dengan aktivitas mereka. Kalau boleh tanya, "Apa kontribusi
        anda terhadap umat Islam selama ini?" Mohon maaf, karena saya tidak kenal
        saudara, selain apa yang anda tulis di milis ini.

        Salam,

        Fahmi R. Kubra
      • H. M. Nur Abdurrahman
        ... From: ahmadbadrudduja To: Sent: Tuesday, January 01, 2008 03:07 Subject: [Mayapada Prana]
        Message 3 of 5 , Jan 1, 2008
          ----- Original Message -----
          From: "ahmadbadrudduja" <ahmadbadrudduja@...>
          To: <mayapadaprana@yahoogroups.com>
          Sent: Tuesday, January 01, 2008 03:07
          Subject: [Mayapada Prana] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman

          Al-salamu 'alaman ittaba'a al-huda wa ijtanaba sabil al-rada

          Pak Nur yang baik,
          Saya mengikuti sepak-terjang anda selama ini, meskipun tentu tidak
          terus-terusan. Tepatnya, saya mengikuti tulisan-tulisan anda yang tersebar
          di milis-milis. Sebagian yang lain saya baca di Harian Fajar. Beberapa kolom
          anda sangat baik, tetapi untuk sebagian besar harus saya katakan dangkal,
          apologetik, dan sama sekali menimbulkan distorsi ketimbang informasi.

          Melihat tulisan-tulisan anda, saya berkesimpulan bahwa anda sebtulnya bukan
          orang yang memiliki "training" dalam studi Islam yang baik. Latar belakang
          anda sebetulnya bukan studi Islam. Anda lebih fasih kalau bicara soal
          ilmu-ilmu kealaman, atau sains. Begitu anda bicara soal Islam, anda langsung
          "oleng" dan kelihatan sama sekali dangkal.

          Mungkin anda belajar Islam lewat ustaz ini atau itu, atau di surau pada saat
          remaja. Tetapi itu tak membuat anda langsung layak disebut sebagai sarjana
          Islam.
          ---------------------------------------------------------------
          HMNA:
          Sebenarnya saya tidak ingin menonjolkan diri. Apakah saya itu sarjana Islam
          atau bukan, predikat itu tidak perlu bagi saya. Siapa saya?, cukup saya
          berikan tulisan saya, terserah orang menilainya. Ini antara lain:
          -- Menyampaikan Pidato Ilmiyah: yang disajikan dalam rangka Peringatan Milad
          (Dies Natalis) UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA yang ke 41 [1954 - 1995],
          berjudul "Metode Pendekatan Satu Kutub dalam Mengkaji Ayat Qawliyah dan
          Kawniyah"
          -- Hari Sabtu, 11 November 2006, saya menghadiri upacara Milad (Dies
          Natalis) XLI Universitas Islam Negeri Alauddin dan Penerimaan Jabatan Guru
          Besar Tetap Prof.DR.H.Ahmad M Sewang, MA. Sebelumnya, 9 November dalam acara
          halalbihalal (menurut Prof.Ahmad Sewang penulisan yang baku kata itu harus
          dituliskan bersambung) di IMMIM meminta kepada saya untuk memberi umpan
          balik nanti dalam hubungannya dengan isi Pidato Pengukuhan beliau dua hari
          yang akan datang itu. Lengkapnya visit =>
          .http://waii-hmna.blogspot.com/2006/11/755-najasi-dari-habasyah-vs-rombongan.html
          -- Saya mempunyai warisan yang tak ternilai harganya, yaitu sebuah
          "Handbook", berisi ilmu bertuliskan aksara lontara dan huruf Arab,
          dituliskan oleh Kakek saya, Opu Tuan Imam Barat Batangmata, Selayar. Menurut
          hemat saya beliau mempunyai otoritas tentang ilmu yang direkam dalam
          "Handbook" itu, karena beliau sekitar 12 tahun menimba ilmu di AlMakkah
          lMukarramah. "Handbook" itu diberikan kepada ayah saya, diteruskan kepada
          saya, disertai dengan pesan: Ajaran dalam "Handbook" tidak boleh sembarang
          diajarkan secara terbuka, dikuatirkan yang menerimanya salah faham sehingga
          dapat menyesatkan. Namun pesan itu tidak saya tanggapi secara kaku,
          melainkan sekali-sekali beberapa materi saya ungkapkan keluar secara umum,
          baik dalam khutbah, maupun dalam bentuk tertulis. Lengkapnya, visit =>
          http://waii-hmna.blogspot.com/1994/11/151-manunggal-ing-kawula-gusti.html




          Sebagaimana agama-agama lain, Islam adalah agama yang cukup tua, dan karena
          itu memiliki tradisi kesarjanaan yang kaya dan mendalam. Sangat disayangkan
          bahwa ada sebagian generasi Islam sekarang yang sama sekali tak belajar
          sejarah kesarjanaan Islam yang kaya, tetapi berbicara Islam dengan keras
          sekali, menuduh pemikiran ini atau itu sebagai berlanwanan dengan Islam.
          Seorang sarjana yang baik akan bersikap "humble", tawadlu', dan tahu
          keterbatasannya.

          Ini yang tak saya lihat pada anda. Dalam kolom-kolom yang anda sebarkan ke
          beberapa milis, kelihatan sekali anda memaksakan diri untuk berbicara
          mengenai banyak hal, seringkali juga mengenai hal yang sama sekali bukan
          wilayah keahlian anda. Kalau anda ahli ilmu kealaman, baiklah, anda berhenti
          di sana saja. Bicaralah Islam dari sudut keahlian anda sendiri. Ketika Imam
          Malik, pendiri mazhab Maliki, ditanya puluhan pertanyaan, dia berkali-kali
          bilang, saya tak tahu, saya tak tahu. Hanya beberapa gelintir pertanyaan
          yang ia jawab. Ini menunjukkan sikap tawadlu' seorang sarjana yang
          sungguhan.

          Ambil contoh: anda menulis dengan menggebu-gebu, mengkritik pemikiran Nasr
          Hamid Abu Zayd.
          -------------------------------------------------------------------------------------
          HMNA:
          Apanya yang menggebu-gebu ?
          BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

          WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
          [Kolom Tetap Harian Fajar]
          756. Nasr Hamid Abu Zayd

          Firman Allah swt::
          -- MN ALDzYN FRQWA DYNHM (S. ALRWM, 30:32), dibaca:
          -- minal ldzi-na farrqu- di-nahum (tanda - dipanjangkan), artinya:
          -- (orang-orang musyrik) Yaitu yang memecah-belah agama mereka[1169]
          -------
          [1169] Maksudnya: meninggalkan agama tauhid dan menganut pelbagai
          kepercayaan menurut hawa nafsu mereka. Ini catatan kaki terjemahan dari
          Departemen Agama RI.
          Saya tambah penjelasannya:
          Memecah-belah agama, maksudnya ajaran Islam dipecah dicampur dengan berbagai
          kepercayaan dan ideologi menurut bikinan manusia, seperti, sekularisme,
          liberalisme, pluralisme, kejawen, ajaran anand kreshna, dll., serta ajaran
          nabi-nabi palsu, seperti Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ali Muhammad, Bahaullah,
          Lia Aminuddin.
          ***
          Dipetik dari surat Ulil Abshar-Abdalla, pengelola Jaringan Islam Liberal
          (JIL): Kami meneruskan dan sekaligus menyertai langkah-langkah yang ditempuh
          oleh orang-orang seperti Muhammad Abduh, Sir Ahmad Khan, Syed Ameer Ali,
          Fazlur Rahman, Qasim Amin, Mohammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad
          Sa'id Al-'Asymawi, Jamal al-Banna, Abdullahi Ahmed Anna'im, Fatima Mernissi,
          Riffat Hassan, Amina Wadud, Tareq Ramadan, Nurcholish Madjid, Abdurrahman
          Wahid, KH. Ibrahim Hosein M. Hasbie Asshiddiqie, Harun Nasution, Abdul Aziz
          Sachedina, Fareed Essack, Ebrahim Moosa, Khaled Abou El-Fadl, dan para
          sarjana lain yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
          Ulil menyisipkan nama-nama seperti Muhammad Abduh, Tariq Ramadhan KH.
          Ibrahim Hosein M. Hasbie Asshiddiqie sebagai tameng. Sebenarnya nama-nama
          para pemikir liberal dapat dilihat pada petikan dari Hidayatullah.com:
          Beberapa hari lalu, Menteri RI Maftuh Basuni memberikan sinyal akan mengubah
          kurikulum di perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN).
          Sebagaimana diketahui, sorotan masayarakat terhadap lembaga kampus Islam ini
          dalam dua tahun terakhir datang dari mana-mana. Rektor UIN Yogyakarta baru
          saja menerbitkan buku Islamic Studies. Isinya memuja dan menjadikan
          pemikiran para pemikir liberal, seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed
          Arkoun, Fazlur Rahman, Fatima Mernisi, Syahrur, sebagai rujukan, tanpa sikap
          kritis. Nasr Hamid yang di Mesir sudah divonis murtad dan banyak dikritik,
          di sini malah diagung-agungkan.

          ***
          Siapa sebenarnya Nasr Hamid Abu Zayd? Ia orang Mesir asli, lahir di Tantra,
          7 Oktober 1943. Pendidikan tinggi, dari S1 sampai S3, jurusan sastra Arab,
          diselesaikannya di universitas Cairo, tempatnya mengabdi sebagai dosen sejak
          1972. Namun ia pernah tinggal di Amerika selama dua tahun (1978-1980), saat
          memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle
          Eastern Studies, University of Pennsylvania. Abu Zayd mengakui pengalamannya
          belajar di Amerika sungguh-sungguh membawa hasil, dan ia menyatakan sangat
          berhutang budi atas kesempatan yang diberikan kepadanya itu. Di sanalah ia
          terbelalak matanya bertemu ilmu yang belum pernah terlintas dalam benaknya
          selama ini, yaitu hermeneutika. Baginya, hermeneutika adalah ilmu baru yang
          bermanfaat dalam berolah otak. "My academic experience in the United States
          turned out to be quite fruitful. I did a lot of reading on my own,
          especially in the fields of philosophy and hermeneutics. Hermeneutics, the
          science of interpreting texts, opened up a brand-new world for me. I owe
          much of my understanding of hermeneutics to opportunities offered me during
          my brief sojourn in the United States"
          Keputusan Mahkamah al-Isti'naf Qahirah (Cairo) menyatakan Abu Zayd telah
          keluar dari Islam alias murtad. Abu Zayd mengajukan banding. Sementara itu,
          Front Ulama al-Azhar yang beranggotakan 2000 alim ulama, meminta Pemerintah
          turun tangan: Abu Zayd mesti disuruh bertaubat atau-kalau yang bersangkutan
          tidak mau-maka ia harus dikenakan hukuman mati. Tidak lama kemudian, 23 Juli
          1995, bersama istrinya, Abu Zayd terbang melarikan diri ke Madrid, Spanyol,
          sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda, sejak 2 Oktober 1995 sampai
          sekarang. Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan
          yang sama: Abu Zayd dinyatakan murtad.
          Menurut Dr.M. Emarah, dari sudut latarbelakang pemikiran, Nasr merupakan
          seorang kader "Sosialis"-"Marxis" Arab muda, sehingga kunci untuk memahami
          pemikiran Nasr ada pada methodologi dialektika Marxisme-Materialisme yang ia
          gunakan dalam menelaah al-Qur'an, kenabian dan wahju, aqidah, syari'ah,
          serta "historiografi" nash-nash dan hukum. Dari sudut latarbelakang
          pemikiran, Nasr merupakan seorang kader "Sosialis"-"Marxis" Arab muda.
          Nasr menjelaskan bahwa al-Quran adalah hasil budi daya atau produk
          budaya, yaitu Al Quran terbentuk dalam realita dan budaya selama dua puluh
          tahun. Jadi menurut Nasr budaya menjadi fa'il (subyek), sedangkan Al Quran
          hanya merupakan maf'ul (obyek). Nasr beranggapan bahwa kenabian tidaklah
          melampaui batas undang-undang materi dan tabi'at serta realita, sesungguhnya
          ia hanya merupakan tingkatan yang kuat dari ingkatan-tingkatan khayal yang
          timbul dari efektifitas daya khayal manusia. Para Nabi adalah sejenis dengan
          sufi, pujangga dan paranormal yang daya khayal mereka hanya berbeda secara
          gradual. Efektivitas daya khayal manusia, yang dimiliki oleh para Nabi,
          sufi, pujangga dan paranormal masih dalam konteks pilihan dan fitrah.
          Perbedaan antara para Nabi, sufi, pujangga dan paranormal dengan manusia
          biasa hanyalah dalam hal para Nabi, sufi dan pujangga mempunyai kemampuan
          pengkhayalan yang lebih tinggi dibanding manusia biasa. Kekuatan khayal
          orang-orang biasa tidak dapat mencapai puncaknya kecuali saat mereka tidur
          karena dalam kondisi seperti ini semua indera sedang tidak aktif untuk sibuk
          memindahkan pengalaman-pengalaman dari alam luar ke dalam. Sedangkan Nabi,
          sufi, pujangga dan paranormal mampu menggunakan kemampuan efektifitas
          khayalan dibanding orang-orang lainnya, baik dalam kondisi tidur ataupun
          sedang bangun.
          Ini semua menguatkan bahwa pemikiran Nasr bertumpu pada paradigma filsafat
          positivisme, menganggap fenomena wahyu bukanlah merupakan fenomena yang
          berbeda dengan realitas dalam arti yang dapat dideteksi oleh panca-indera,
          bukan sesuatu yang terjadi diluar undang-undang materialisme. Konsekwensinya
          bagi Nasr aqidah dibangun diatas landasan persepsi-persepsi "mitos", dalam
          kebudayaan komunitas manusia, sehingga aqidah sifatnya tidaklah konstan.
          Aqidah sangat terkait dengan dinamika komunitas. Demikianlah Nasr menentang
          "absolotisme".
          Ada hal yang kontradiktif dalam sistem berpikir Nasr, yaitu ia menentang
          "absolutisme" akan tetapi pada sisi lain ia menganggap benar secara absolut
          metode dialektika dalam menganalisis historische materialisme. Adapun
          strategi untuk menyungkurkan pola-pikir Nasr adalah dengan menebas teori
          dialektika historische materailisme dengan senjata latar belakang sejarah
          juga. Hal ini telah dikemukakan dalam Seri 418, berjudul: Pandangan Marxisme
          Tentang Sejarah dan Negara. WaLlahu a'lamu bisshawab.
          ***
          Makassar, 3 Desember 2006
          [H.Muh.Nur Abdurrahman]
          http://waii-hmna.blogspot.com/2006/12/756-nasr-hamid-abu-zayd.html

          Terakhir, ente telah mengangkat diri sendiri menjadi "sensei amatir
          gadungan", lalu kemudian dengan lancang "menggurui" saya. Huh, saya tidak
          butuh rubbish dari seorang paranoid yang tak tahu diri mengangkat diri
          sendiri menjadi "sensei amatir gadungan", aquwlu qawliy hadza, kukanang
          minne kanaya, go to hell with your rubbish, ik kan dati niet helemaal
          waarderen, zeg , howgh , nohetto
          --------------------------------------------------------------------------------------
          -----------------------------CUT-----------------------------
        • lhandra
          Salam, Mungkin sudah waktunya sekali lagi kita berkaca kepada cermin hidup dan melihat kepada diri sendiri tidak hanya untuk HMNA dan Achmad tapi juga
          Message 4 of 5 , Jan 1, 2008
            Salam,

            Mungkin sudah waktunya sekali lagi kita berkaca kepada cermin hidup
            dan melihat kepada diri sendiri tidak hanya untuk HMNA dan Achmad
            tapi juga semuanya. Apakah kita punya salah dan apakah kita sudah
            benar dan apakah jika menurut kita benar juga benar menurut Allah dan
            lain sebagainya.

            Well tidak ada yang berusaha menggurui tapi kritik adalah bagus untuk
            di analisa. Happy new year 2008 :)

            Best Regards,
            Handra

            --- In mayapadaprana@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurrahman"
            <mnur.abdurrahman@...> wrote:
            >
            >
            > ----- Original Message -----
            > From: "ahmadbadrudduja" <ahmadbadrudduja@...>
            > To: <mayapadaprana@yahoogroups.com>
            > Sent: Tuesday, January 01, 2008 03:07
            > Subject: [Mayapada Prana] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman
            >
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.