Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Ngalor ngidul ttg Sai Baba

Expand Messages
  • Gudakesha
    Ini ada email bagus dari pak hudoyo, milis-spiritual@yahoogroups.com ============================================================ HUDOYO: Mas Agus yg baik,
    Message 1 of 1 , Dec 8, 2004
      Ini ada email bagus dari pak hudoyo, milis-spiritual@yahoogroups.com
      ============================================================

      HUDOYO:

      Mas Agus yg baik,

      Ajaran Sai Baba berangkat dan berada dalam konteks Hinduisme (seperti
      juga
      ajaran Anand Krishna); oleh karena itu bersifat sangat akomodatif dan
      sinkretistik. Ia tidak membeda-bedakan agama yang satu dengan yang
      lain,
      dan menganggap semua guru suci sama tinggi. Ini adalah satu ciri yang
      amat
      positif di zaman modern yang pluralistik ini.

      Sesuai dengan ajaran Hinduisme, di kalangan para pengikut Sai Baba
      dipercaya bahwa Sai Baba adalah seorang avatara lengkap (purna-
      avatar),
      seperti Krishna di zaman legenda. [avatar = inkarnasi Wisnu / Tuhan ke
      dunia untuk memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran di dunia
      yang
      sudah rusak; ini paralel dengan inkarnasi Tuhan ke dunia dalam diri
      Yesus
      menurut ajaran Kristen.] Ini diperkuat bahwa Sai Baba sering kali
      melakukan
      perbuatan-perbuatan yang dapat ditafsirkan sebagai mukjizat (seperti
      "menciptakan" abu suci [vibhuti] dari tangan kosong, yang dapat
      dipakai
      sebagai obat), sebagai tanda dari seorang avatara; sekalipun beberapa
      kalangan dengan sengit menyanggahnya dan menyebutnya sebagai
      sulapan / tipuan.

      Di setiap mandir (tempat ibadah pengikut Sai Baba), banyak orang
      datang
      dari berbagai agama (Buddhis, Kristen, Hindu, Islam dsb), dan
      membentuk
      suatu persaudaraan yang pluralistik, semuanya diikat oleh satu
      kepercayaan
      terhadap Sai Baba sebagai avatara ('penjelmaan Tuhan' atau setidak-
      tidaknya
      'insan kamil') di zaman ini. Banyak orang tampil bersaksi tentang
      "kejadian-kejadian adikodrati" yang telah mereka alami, di mana mereka
      ditolong atau diselamatkan oleh Sai Baba dengan satu dan lain cara.

      Pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, saya pun pernah masuk dan
      mendalami ajaran Sai Baba. Saya tertarik terutama karena
      pluralismenya.
      Namun, kemudian saya melihat pemujaan kepada pribadi Sai Baba yang--
      menurut
      saya--berlebihan sampai mengalahkan kemandirian, dilakukan oleh para
      pengikut Sai Baba. Tampaknya kelompok Sai Baba ini cocok untuk orang
      yang
      bersifat 'bhakta' (cenderung kepada pemujaan seseorang secara
      spiritual,
      bhakti). Pada kelompok itu terdapat semua kriteria dari suatu agama
      baru,
      agama yang bersifat inklusivistik (memasukkan semua ajaran lain ke
      dalam
      ajaran sendiri), tapi bukan pluralistik.

      Karena saya melihat diri saya lebih merupakan seorang 'jnani' (pejalan
      spiritual melalui pencerahan dan kearifan) daripada seorang 'bhakta',
      maka
      akhirnya saya pun keluar dari kelompok itu, dan kembali menjalani
      kehidupan
      ini seorang diri, tanpa tuntunan siapa-siapa. Sekalipun demikian, di
      kamar
      meditasi saya masih terpasang sebuah foto Sai Baba satu badan penuh
      setinggi 1,5 meter; foto itu tidak saya turunkan, karena mengingatkan
      akan
      perjalanan spiritual saya.

      Ajaran Sai Baba lebih menitikberatkan pada kesadaran akan Tuhan (dalam
      segala wujud-Nya), dan kurang menekankan meditasi. Dalam kebaktiannya,
      dilakukan 'bhajan' (mengidungkan lagu-lagu pujaan terhadap berbagai
      wujud
      Tuhan) selama 1,5 jam; dan meditasinya cuma beberapa menit. Meditasi
      yang
      diajarkan adalah konsentrasi (pengulangan) mantra "so ham" ("Dia itu
      aku"),
      untuk mencapai keheningan. Sai Baba tidak mengajarkan orang untuk
      memuja
      fotonya, tetapi juga tidak melarang orang yang memujanya.

      Memang fenomena Sai Baba baru muncul secara global mulai tahun 1960-
      an,
      bersamaan dengan tumbuhnya pemikiran "New Age". -- Sebetulnya, "New
      Age"
      ini bukan suatu 'movement' yang homogen, melainkan sangat heterogen,
      dan
      tidak semuanya positif. Yang "menyatukan" orang-orang dalam 'gerakan'
      ini
      adalah sikap yang kritis terhadap agama-agama yang mapan, yang membuat
      orang mencari pegangan spiritual baru, atau menafsirkan agama mapan
      secara
      baru sehingga bertentangan dengan ajaran para pemuka agama itu
      sendiri.

      Salam,
      Hudoyo
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.