Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [Mayapada Prana] Reinkarnasi dalam Pemikiran Teosofi (1)

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Dicuplik dari Seri 793, lengkapnya visit URL: http://waii-hmna.blogspot.com/2007/08/793-past-life-regression-vs-jin-qarin.html Begitu bayi lahir ke dunia,
    Message 1 of 2 , Oct 2, 2007
    • 0 Attachment
      Dicuplik dari Seri 793, lengkapnya visit URL: http://waii-hmna.blogspot.com/2007/08/793-past-life-regression-vs-jin-qarin.html
      "Begitu bayi lahir ke dunia, keluar dari alam rahim, Allah menetapkan makhluk pendamping pada bayi itu, yaitu yang disebut dengan jin qarin
      Apabila seseorang meninggal dunia, maka jin qarin itu ditugaskan berpindah kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Umur rata-rata Jin qarin itu panjang, yaitu mencapai ribuan tahun. Ulah jin qarin inilah yang menceritakan masa lalu waktu ia mendampingi manusia yang telah meninggal itu. " Sekian cuplikan itu.
       
      Maka Shanti Dewi itu mendapatkan informasi dari jin qarin pendampingnya tentang isteri Kedar Nath Chaubey, tatkala sebelumnya jin qarin itu mendampingi isteri Kedar Nath Chaubey (sayang namanya sang isteri itu tidak disebutkan). Juga situasi rumah dari Kedar Nath Chaubey dan seorang kerabat yang berada diantara kerumunan banyak, diperoleh dari jin qarin pendamping Shanti Dewi yang sebelumnya menjadi pendamping isteri dari Kedar Nath Chaubey.
       
      Salam
      HMNA 
       
      ----- Original Message -----
      Sent: Tuesday, October 02, 2007 13:49
      Subject: [Mayapada Prana] Reinkarnasi dalam Pemikiran Teosofi (1)

      Reinkarnasi Dalam Pemikiran Teosofi (Bagian Pertama)
      oleh : A. Samsu Triadi (*) - Artikel lama yang diposting kembali
      ======================

      Apakah Reinkarnasi itu ada ?


      Dalam suatu pertemuan antar warga katolik di suatu lingkungan, yang lebih umum
      dikenal dengan pertemuan kring, muncul suatu pertanyaan dari salah satu warga:
      Apakah re-inkarnasi itu ada ?¨

      Untuk mengatahui pendapat dari para warga lain, pertanyaan ini dikembalikan
      kepada para hadirin: Menurut pendapat saudara apakah re-inkarnasi itu ada ?¨

      Sebagian berpendapat ada, sebagian lagi berpendapat tidak. Bagaimana menurut
      pendapat saudara pembaca ?

      Sepertinya pertanyaan semacam ini akan sulit dijawab bila kita tidak siap
      dengan bahan yang berhubungan dengan persoalan tersebut. Untuk memberi sekedar
      ilustrasi tentang persoalan yang dipertanyakan itu, marilah kita membaca apa
      yang dialami oleh seorang gadis India yang bernama Shanti Dewi.


      Shanti Dewi lahir di Delhi pada tahun 1926. Ketika ia berumur 3 tahun, dia
      mulai berkata-kata tentang kehidupannya yang lalu. Dia mengatakan bahwa dulu dia
      tinggal di Mathura, 80 mil (130 km) dari Delhi, dan dia lahir pada tahun 1902
      dari kasta Choban. Dia menikah dengan seorang pedagang kain yang bernama Kedar
      Nath Chaubey. Pada waktu melahirkan anaknya yang kedua, seorang anak laki-laki,
      ia meninggal 10 hari setelah kelahiran anak tersebut.

      Karena kata-katanya, pada waktu itu kebanyakan orang di sekitarnya menganggap
      gadis cilik itu kurang waras. Akan tetapi, walaupun hampir semua orang di
      lingkungannya menganggap Shanti Dewi seorang gadis cilik kurang waras, toh orang
      tuanya masih menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang orang yang mempunyai
      hubungan keluarga dengan Kedar Nath Chaubey di Mathura.

      Ketika Shanti Dewi berumur 9 tahun, tahun 1935, orang tuanya menulis surat ke
      orang tersebut, untuk menanyakan apakah ada orang yang bernama Kedar Nath
      Chaubey, yang mempunyai pekerjaan sebagai pedagang kain, dan isterinya meninggal
      10 hari setelah melahirkan seorang anak laki-laki, seperti yang sering
      diceriterakan oleh anaknya. Kenalan itu menjawab suratnya dengan membenarkan
      semua hal yang ditanyakannya. Kemudian keluarga dari suaminya mengirimkan
      seorang paman (dari kehidupan yang lalu) dari Shanti Dewi, dan Shanti Dewi
      segera mengenali dan memeluknya ketika dia datang. Kemudian, tanpa pemberitahuan
      terlebih dahulu, suami dan puteranya (dari kehidupan yang lalu) datang ke Delhi
      untuk menemui Shanti Dewi, Shanti Dewi segera mengenali mereka.

      Pada tahun berikutnya, tahun 1936, dibentuk suatu komite untuk mencatat apa
      yang akan terjadi bila Shanti Dewi dibawa ke rumah (yang sering dikatakan oleh
      gadis cilik ini sebagai rumah di kehidupannya yang lalu) di Mathura. Mereka ke
      Mathura dengan kereta api.

      Begitu kereta berhenti di stasiun Mathura, Shanti Dewi segera mengenali salah
      seorang kerabatnya, walaupun yang bersangkutan berada diantara kerumunan banyak
      orang. Dia menggunakan bahasa daerah di tempat tersebut, walaupun dia belum
      pernah ke sana. Kemudian dia dinaikkan ke sebuah kereta kuda (dokar), dan
      kusirnya diinstruksikan untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh Shanti Dewi. Dia
      kelihatan sangat hapal dengan jalan-jalan di kota itu, walaupun itu adalah
      pertama kali dia datang ke Mathura, dan dia memberi petunjuk kepada kusir untuk
      menuju rumah Kedar Nath Chaubey. Rumah itu telah dicat dengan cat yang baru,
      akan tetapi dia dengan mudah dapat mengenalinya. Didekat rumah itu ada seorang
      Brahmana tua, dan dia mengenalinya sebagai mertuanya.

      Waktu memasuki rumah, Shanti Dewi ditanya tentang susunan ruang, kloset, dan
      lain-lainnya. Dan semuanya dijawab dengan tepat. Kemudian dia pergi ke rumah
      sebelah, yang merupakan rumah dari orang tuanya (dari kehidupannya yang lalu),
      dan mengenali orang tuanya, walaupun waktu itu orang tuanya berada dikerumunan
      sekitar 50 orang. Setelah itu, dia mengatakan bahwa dia pernah menyimpan uang di
      salah satu sudut dari rumah kerabatnya di dekat rumah itu. Komite menggali di
      lokasi yang disebutkan oleh gadis cilik itu, akan tetapi mereka tidak menemukan
      apa-apa. Shanti Dewi tetap berkukuh, bahwa dia telah menyimpan sejumlah uang
      ditempat itu. Akhirnya Kedar Nath Chaubey mengaku, bahwa dia telah mengambil dan
      memindahkan uang tersebut.

      Emosinya yang dalam pada setiap pertemuan dengan orang yang disayanginya,
      merupakan suatu persembahan yang menyentuh terhadap kesetiaan jiwa yang tak
      kunjung padam kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, derita dari hidup di dua
      kehidupan pada saat yang sama adalah sangat sulit untuk dipikulnya. Oleh karena
      itu, kebanyakan dari kita oleh Aturan Besar yang Berbelas Kasihan¨, telah
      ditutup masa lalunya, dengan demikian kita hanya menjalani hidup untuk tiap
      episode kehidupan sekarang.


      Ada banyak kasus yang sama dengan kejadian ini, dan beberapa dari padanya
      telah diteliti oleh para ahli. Semua kejadian itu dicatat dalam buku yang
      diterbitkan oleh ahli-ahli tersebut. Salah satu hasil kerja yang ditulis oleh
      Dr. Stevenson, seorang professor psychology dari Universitas Virginia, Amerika
      Serikat, mencakup laporan-laporan tentang peristiwa-peristiwa seperti yang
      dialami oleh Shanti Dewi. Dia menyelidiki 1600 kasus semacam itu di Inggris,
      Eropa, Amerika, dan Timur Jauh (Asia Timur). Dalam semua kasus ini, anak-anak
      mengatakan bahwa mereka masih mengingat kejadian-kejadian khusus dari
      kehidupannya di masa lalu. Dengan pertolongan suatu jaringan informan dibanyak
      Negara, dia mendapatkan kesimpulan bahwa 90 % dari kasus-kasus semacam ini
      adalah betul dan sesuai dengan kenyataan ceritanya (historical fact). Dia
      menemukan bahwa anak-anak semacam ini, yang berumur antara 2 sampai dengan 4
      tahun, mulai berceritera kepada orang tuanya bahwa mereka pernah hidup
      sebelum kehidupannya yang sekarang.

      Dr. Stevenson mengatakan:
      Seorang anak yang mengatakan bahwa mereka pernah hidup pada kehidupan
      sebelumnya, biasanya meminta untuk diantarkan ke tempat dimana dia pernah hidup
      pada masa (lalu) itu. Untuk alasan ini dan untuk memenuhi keinginan tahu mereka,
      orang tuanya biasanya hampir selalu mencoba untuk mencari kerabat (dari
      kehidupan dimasa lalu). dari anak-anak tersebut¡¨

      Apabila anak-anak itu di beritahu tentang semua data-data yang
      dikehendakinya, terutama tentang identitas nama-nama dari kerabatnya,
      pencaharian hampir selalu membuahkan hasil, -- apa yang dinyatakan oleh
      anak-anak itu biasanya 90 % tepat.¨
      Dalam kasus umum semacam ini, apa yang diungkapkan oleh anak-anak tentang
      kehidupannya yang lalu, mencapai jumlah dan kejelasan yang tertinggi pada usia
      antara 3 sampai dengan 5 tahun. Setelah itu, dalam banyak kasus, ingatannya
      terhadap kehidupan sebelumnya, secara bertahap menjadi pudar.¨


      Dengan data-data dan hasil-hasil penelitian semacam ini, tentunya para pembaca
      dipersilakan untuk merenung dan mengkaji sendiri, berdasarkan pengalaman dan
      pemahaman masing-masing tentang apa yang dapat dimengerti dalam hidupnya. Sebab
      re-inkarnasi ini sepertinya sangat erat hubungannya dengan apa yang ditanyakan
      oleh murid-murid Yesus (Yohanes pasal 9 ayat 1-2): 1 Waktu Yesus sedang lewat,
      Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. 2Murid-murid Nya bertanya
      kepadanya: ¨Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang
      tuanya, sehingga ia dilahirkan buta ?¨

      Pertanyaan ini menunjukkan bahwa pada masa itu pengertian tentang adanya
      kehidupan yang lalu sebelum kehidupan sekarang masih dimengerti orang.
      Sebab, bila ia buta sejak lahir, maka kapan ia telah berbuat dosa bila bukan
      pada kehidupan sebelumnya ?


      Sebelum mengakhiri pembahasan ini marilah kita mencoba merenung mengenai
      persoalan hidup ini:
      Mengapa si A lebih kaya dari si B ?¨
      Kenapa si C sangat kuat sedangkan si D sangat lemah ?¨
      Kenapa si E sering sakit-sakitan, sedangkan si F sangat sehat?¨ dan
      seterusnya!


      Apakah Tuhan demikian tidak adil, sehingga menciptakan beberapa macam menusia
      dengan kondisi yang berbeda-beda ?


      Atau mungkin pada awal mulanya semua sama, tingkat dan derajatnya, sama
      kemam-puan dan keadaannya, sama taraf dan kondisinya, dan perbedaan baru timbul
      karena hasil perbuatan dari kita masing-masing ? Dari hasil perbuatan-perbuatan
      kita dari rentetan kehidupan-kehidupan sebelumnya ?


      St. Paulus pernah berkata:  Apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai !¨


      -bersambung-


      (*) A. Samsu Trihadi Ir. adalah wiraswastawan yang aktif di berbagai organisasi spiritual seperti The Theosophical Society (Sophia Lodge - Bandung) , SuMa Ching Hai Centre dan Bhajan Sai Baba di Bandung. Beliau juga aktif sebagai Yoga Trainer dan Spiritual
      Healer.

    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.