Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

11896Re: [Mayapada Prana] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Jan 1, 2008
      ----- Original Message -----
      From: "ahmadbadrudduja" <ahmadbadrudduja@...>
      To: <mayapadaprana@yahoogroups.com>
      Sent: Tuesday, January 01, 2008 03:07
      Subject: [Mayapada Prana] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman

      Al-salamu 'alaman ittaba'a al-huda wa ijtanaba sabil al-rada

      Pak Nur yang baik,
      Saya mengikuti sepak-terjang anda selama ini, meskipun tentu tidak
      terus-terusan. Tepatnya, saya mengikuti tulisan-tulisan anda yang tersebar
      di milis-milis. Sebagian yang lain saya baca di Harian Fajar. Beberapa kolom
      anda sangat baik, tetapi untuk sebagian besar harus saya katakan dangkal,
      apologetik, dan sama sekali menimbulkan distorsi ketimbang informasi.

      Melihat tulisan-tulisan anda, saya berkesimpulan bahwa anda sebtulnya bukan
      orang yang memiliki "training" dalam studi Islam yang baik. Latar belakang
      anda sebetulnya bukan studi Islam. Anda lebih fasih kalau bicara soal
      ilmu-ilmu kealaman, atau sains. Begitu anda bicara soal Islam, anda langsung
      "oleng" dan kelihatan sama sekali dangkal.

      Mungkin anda belajar Islam lewat ustaz ini atau itu, atau di surau pada saat
      remaja. Tetapi itu tak membuat anda langsung layak disebut sebagai sarjana
      Islam.
      ---------------------------------------------------------------
      HMNA:
      Sebenarnya saya tidak ingin menonjolkan diri. Apakah saya itu sarjana Islam
      atau bukan, predikat itu tidak perlu bagi saya. Siapa saya?, cukup saya
      berikan tulisan saya, terserah orang menilainya. Ini antara lain:
      -- Menyampaikan Pidato Ilmiyah: yang disajikan dalam rangka Peringatan Milad
      (Dies Natalis) UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA yang ke 41 [1954 - 1995],
      berjudul "Metode Pendekatan Satu Kutub dalam Mengkaji Ayat Qawliyah dan
      Kawniyah"
      -- Hari Sabtu, 11 November 2006, saya menghadiri upacara Milad (Dies
      Natalis) XLI Universitas Islam Negeri Alauddin dan Penerimaan Jabatan Guru
      Besar Tetap Prof.DR.H.Ahmad M Sewang, MA. Sebelumnya, 9 November dalam acara
      halalbihalal (menurut Prof.Ahmad Sewang penulisan yang baku kata itu harus
      dituliskan bersambung) di IMMIM meminta kepada saya untuk memberi umpan
      balik nanti dalam hubungannya dengan isi Pidato Pengukuhan beliau dua hari
      yang akan datang itu. Lengkapnya visit =>
      .http://waii-hmna.blogspot.com/2006/11/755-najasi-dari-habasyah-vs-rombongan.html
      -- Saya mempunyai warisan yang tak ternilai harganya, yaitu sebuah
      "Handbook", berisi ilmu bertuliskan aksara lontara dan huruf Arab,
      dituliskan oleh Kakek saya, Opu Tuan Imam Barat Batangmata, Selayar. Menurut
      hemat saya beliau mempunyai otoritas tentang ilmu yang direkam dalam
      "Handbook" itu, karena beliau sekitar 12 tahun menimba ilmu di AlMakkah
      lMukarramah. "Handbook" itu diberikan kepada ayah saya, diteruskan kepada
      saya, disertai dengan pesan: Ajaran dalam "Handbook" tidak boleh sembarang
      diajarkan secara terbuka, dikuatirkan yang menerimanya salah faham sehingga
      dapat menyesatkan. Namun pesan itu tidak saya tanggapi secara kaku,
      melainkan sekali-sekali beberapa materi saya ungkapkan keluar secara umum,
      baik dalam khutbah, maupun dalam bentuk tertulis. Lengkapnya, visit =>
      http://waii-hmna.blogspot.com/1994/11/151-manunggal-ing-kawula-gusti.html




      Sebagaimana agama-agama lain, Islam adalah agama yang cukup tua, dan karena
      itu memiliki tradisi kesarjanaan yang kaya dan mendalam. Sangat disayangkan
      bahwa ada sebagian generasi Islam sekarang yang sama sekali tak belajar
      sejarah kesarjanaan Islam yang kaya, tetapi berbicara Islam dengan keras
      sekali, menuduh pemikiran ini atau itu sebagai berlanwanan dengan Islam.
      Seorang sarjana yang baik akan bersikap "humble", tawadlu', dan tahu
      keterbatasannya.

      Ini yang tak saya lihat pada anda. Dalam kolom-kolom yang anda sebarkan ke
      beberapa milis, kelihatan sekali anda memaksakan diri untuk berbicara
      mengenai banyak hal, seringkali juga mengenai hal yang sama sekali bukan
      wilayah keahlian anda. Kalau anda ahli ilmu kealaman, baiklah, anda berhenti
      di sana saja. Bicaralah Islam dari sudut keahlian anda sendiri. Ketika Imam
      Malik, pendiri mazhab Maliki, ditanya puluhan pertanyaan, dia berkali-kali
      bilang, saya tak tahu, saya tak tahu. Hanya beberapa gelintir pertanyaan
      yang ia jawab. Ini menunjukkan sikap tawadlu' seorang sarjana yang
      sungguhan.

      Ambil contoh: anda menulis dengan menggebu-gebu, mengkritik pemikiran Nasr
      Hamid Abu Zayd.
      -------------------------------------------------------------------------------------
      HMNA:
      Apanya yang menggebu-gebu ?
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

      WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      756. Nasr Hamid Abu Zayd

      Firman Allah swt::
      -- MN ALDzYN FRQWA DYNHM (S. ALRWM, 30:32), dibaca:
      -- minal ldzi-na farrqu- di-nahum (tanda - dipanjangkan), artinya:
      -- (orang-orang musyrik) Yaitu yang memecah-belah agama mereka[1169]
      -------
      [1169] Maksudnya: meninggalkan agama tauhid dan menganut pelbagai
      kepercayaan menurut hawa nafsu mereka. Ini catatan kaki terjemahan dari
      Departemen Agama RI.
      Saya tambah penjelasannya:
      Memecah-belah agama, maksudnya ajaran Islam dipecah dicampur dengan berbagai
      kepercayaan dan ideologi menurut bikinan manusia, seperti, sekularisme,
      liberalisme, pluralisme, kejawen, ajaran anand kreshna, dll., serta ajaran
      nabi-nabi palsu, seperti Mirza Ghulam Ahmad, Mirza Ali Muhammad, Bahaullah,
      Lia Aminuddin.
      ***
      Dipetik dari surat Ulil Abshar-Abdalla, pengelola Jaringan Islam Liberal
      (JIL): Kami meneruskan dan sekaligus menyertai langkah-langkah yang ditempuh
      oleh orang-orang seperti Muhammad Abduh, Sir Ahmad Khan, Syed Ameer Ali,
      Fazlur Rahman, Qasim Amin, Mohammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad
      Sa'id Al-'Asymawi, Jamal al-Banna, Abdullahi Ahmed Anna'im, Fatima Mernissi,
      Riffat Hassan, Amina Wadud, Tareq Ramadan, Nurcholish Madjid, Abdurrahman
      Wahid, KH. Ibrahim Hosein M. Hasbie Asshiddiqie, Harun Nasution, Abdul Aziz
      Sachedina, Fareed Essack, Ebrahim Moosa, Khaled Abou El-Fadl, dan para
      sarjana lain yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
      Ulil menyisipkan nama-nama seperti Muhammad Abduh, Tariq Ramadhan KH.
      Ibrahim Hosein M. Hasbie Asshiddiqie sebagai tameng. Sebenarnya nama-nama
      para pemikir liberal dapat dilihat pada petikan dari Hidayatullah.com:
      Beberapa hari lalu, Menteri RI Maftuh Basuni memberikan sinyal akan mengubah
      kurikulum di perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN).
      Sebagaimana diketahui, sorotan masayarakat terhadap lembaga kampus Islam ini
      dalam dua tahun terakhir datang dari mana-mana. Rektor UIN Yogyakarta baru
      saja menerbitkan buku Islamic Studies. Isinya memuja dan menjadikan
      pemikiran para pemikir liberal, seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed
      Arkoun, Fazlur Rahman, Fatima Mernisi, Syahrur, sebagai rujukan, tanpa sikap
      kritis. Nasr Hamid yang di Mesir sudah divonis murtad dan banyak dikritik,
      di sini malah diagung-agungkan.

      ***
      Siapa sebenarnya Nasr Hamid Abu Zayd? Ia orang Mesir asli, lahir di Tantra,
      7 Oktober 1943. Pendidikan tinggi, dari S1 sampai S3, jurusan sastra Arab,
      diselesaikannya di universitas Cairo, tempatnya mengabdi sebagai dosen sejak
      1972. Namun ia pernah tinggal di Amerika selama dua tahun (1978-1980), saat
      memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle
      Eastern Studies, University of Pennsylvania. Abu Zayd mengakui pengalamannya
      belajar di Amerika sungguh-sungguh membawa hasil, dan ia menyatakan sangat
      berhutang budi atas kesempatan yang diberikan kepadanya itu. Di sanalah ia
      terbelalak matanya bertemu ilmu yang belum pernah terlintas dalam benaknya
      selama ini, yaitu hermeneutika. Baginya, hermeneutika adalah ilmu baru yang
      bermanfaat dalam berolah otak. "My academic experience in the United States
      turned out to be quite fruitful. I did a lot of reading on my own,
      especially in the fields of philosophy and hermeneutics. Hermeneutics, the
      science of interpreting texts, opened up a brand-new world for me. I owe
      much of my understanding of hermeneutics to opportunities offered me during
      my brief sojourn in the United States"
      Keputusan Mahkamah al-Isti'naf Qahirah (Cairo) menyatakan Abu Zayd telah
      keluar dari Islam alias murtad. Abu Zayd mengajukan banding. Sementara itu,
      Front Ulama al-Azhar yang beranggotakan 2000 alim ulama, meminta Pemerintah
      turun tangan: Abu Zayd mesti disuruh bertaubat atau-kalau yang bersangkutan
      tidak mau-maka ia harus dikenakan hukuman mati. Tidak lama kemudian, 23 Juli
      1995, bersama istrinya, Abu Zayd terbang melarikan diri ke Madrid, Spanyol,
      sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda, sejak 2 Oktober 1995 sampai
      sekarang. Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan
      yang sama: Abu Zayd dinyatakan murtad.
      Menurut Dr.M. Emarah, dari sudut latarbelakang pemikiran, Nasr merupakan
      seorang kader "Sosialis"-"Marxis" Arab muda, sehingga kunci untuk memahami
      pemikiran Nasr ada pada methodologi dialektika Marxisme-Materialisme yang ia
      gunakan dalam menelaah al-Qur'an, kenabian dan wahju, aqidah, syari'ah,
      serta "historiografi" nash-nash dan hukum. Dari sudut latarbelakang
      pemikiran, Nasr merupakan seorang kader "Sosialis"-"Marxis" Arab muda.
      Nasr menjelaskan bahwa al-Quran adalah hasil budi daya atau produk
      budaya, yaitu Al Quran terbentuk dalam realita dan budaya selama dua puluh
      tahun. Jadi menurut Nasr budaya menjadi fa'il (subyek), sedangkan Al Quran
      hanya merupakan maf'ul (obyek). Nasr beranggapan bahwa kenabian tidaklah
      melampaui batas undang-undang materi dan tabi'at serta realita, sesungguhnya
      ia hanya merupakan tingkatan yang kuat dari ingkatan-tingkatan khayal yang
      timbul dari efektifitas daya khayal manusia. Para Nabi adalah sejenis dengan
      sufi, pujangga dan paranormal yang daya khayal mereka hanya berbeda secara
      gradual. Efektivitas daya khayal manusia, yang dimiliki oleh para Nabi,
      sufi, pujangga dan paranormal masih dalam konteks pilihan dan fitrah.
      Perbedaan antara para Nabi, sufi, pujangga dan paranormal dengan manusia
      biasa hanyalah dalam hal para Nabi, sufi dan pujangga mempunyai kemampuan
      pengkhayalan yang lebih tinggi dibanding manusia biasa. Kekuatan khayal
      orang-orang biasa tidak dapat mencapai puncaknya kecuali saat mereka tidur
      karena dalam kondisi seperti ini semua indera sedang tidak aktif untuk sibuk
      memindahkan pengalaman-pengalaman dari alam luar ke dalam. Sedangkan Nabi,
      sufi, pujangga dan paranormal mampu menggunakan kemampuan efektifitas
      khayalan dibanding orang-orang lainnya, baik dalam kondisi tidur ataupun
      sedang bangun.
      Ini semua menguatkan bahwa pemikiran Nasr bertumpu pada paradigma filsafat
      positivisme, menganggap fenomena wahyu bukanlah merupakan fenomena yang
      berbeda dengan realitas dalam arti yang dapat dideteksi oleh panca-indera,
      bukan sesuatu yang terjadi diluar undang-undang materialisme. Konsekwensinya
      bagi Nasr aqidah dibangun diatas landasan persepsi-persepsi "mitos", dalam
      kebudayaan komunitas manusia, sehingga aqidah sifatnya tidaklah konstan.
      Aqidah sangat terkait dengan dinamika komunitas. Demikianlah Nasr menentang
      "absolotisme".
      Ada hal yang kontradiktif dalam sistem berpikir Nasr, yaitu ia menentang
      "absolutisme" akan tetapi pada sisi lain ia menganggap benar secara absolut
      metode dialektika dalam menganalisis historische materialisme. Adapun
      strategi untuk menyungkurkan pola-pikir Nasr adalah dengan menebas teori
      dialektika historische materailisme dengan senjata latar belakang sejarah
      juga. Hal ini telah dikemukakan dalam Seri 418, berjudul: Pandangan Marxisme
      Tentang Sejarah dan Negara. WaLlahu a'lamu bisshawab.
      ***
      Makassar, 3 Desember 2006
      [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      http://waii-hmna.blogspot.com/2006/12/756-nasr-hamid-abu-zayd.html

      Terakhir, ente telah mengangkat diri sendiri menjadi "sensei amatir
      gadungan", lalu kemudian dengan lancang "menggurui" saya. Huh, saya tidak
      butuh rubbish dari seorang paranoid yang tak tahu diri mengangkat diri
      sendiri menjadi "sensei amatir gadungan", aquwlu qawliy hadza, kukanang
      minne kanaya, go to hell with your rubbish, ik kan dati niet helemaal
      waarderen, zeg , howgh , nohetto
      --------------------------------------------------------------------------------------
      -----------------------------CUT-----------------------------
    • Show all 5 messages in this topic