Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

11892Re: [Mayapada Prana] Nasehat untuk HM Nur Abdurrahman

Expand Messages
  • lagi mikir
    Jan 1, 2008
    • 0 Attachment
      Agama agama agama kenapa banyak sekali yang mengatasnamakan agama
      apakah agama memang mengajarkan kita untuk berbuat anarkis atau apakah manusianya yang memang anarkis masuk ke dalam wadah agama dan memasukan kepentingan kepentingannya untuk memuaskan egonya

      ahmadbadrudduja <ahmadbadrudduja@...> wrote:
      Al-salamu 'alaman ittaba'a al-huda wa ijtanaba sabil al-rada

      Pak Nur yang baik,
      Saya mengikuti sepak-terjang anda selama ini, meskipun tentu tidak
      terus-terusan. Tepatnya, saya mengikuti tulisan-tulisan anda yang
      tersebar di milis-milis. Sebagian yang lain saya baca di Harian Fajar.
      Beberapa kolom anda sangat baik, tetapi untuk sebagian besar harus
      saya katakan dangkal, apologetik, dan sama sekali menimbulkan distorsi
      ketimbang informasi.

      Melihat tulisan-tulisan anda, saya berkesimpulan bahwa anda sebetulnya
      bukan orang yang memiliki "training" dalam studi Islam yang baik.
      Latar belakang anda sebetulnya bukan studi Islam. Anda lebih fasih
      kalau bicara soal ilmu-ilmu kealaman, atau sains. Begitu anda bicara
      soal Islam, anda langsung "oleng" dan kelihatan sama sekali dangkal.

      Mungkin anda belajar Islam lewat ustaz ini atau itu, atau di surau
      pada saat remaja. Tetapi itu tak membuat anda langsung layak disebut
      sebagai sarjana Islam. Sebagaimana agama-agama lain, Islam adalah
      agama yang cukup tua, dan karena itu memiliki tradisi kesarjanaan yang
      kaya dan mendalam. Sangat disayangkan bahwa ada sebagian generasi
      Islam sekarang yang sama sekali tak belajar sejarah kesarjanaan Islam
      yang kaya, tetapi berbicara Islam dengan keras sekali, menuduh
      pemikiran ini atau itu sebagai berlawanan dengan Islam. Seorang
      sarjana yang baik akan bersikap "humble", tawadlu', dan tahu
      keterbatasannya.

      Ini yang tak saya lihat pada anda. Dalam kolom-kolom yang anda
      sebarkan ke beberapa milis, kelihatan sekali anda memaksakan diri
      untuk berbicara mengenai banyak hal, seringkali juga mengenai hal yang
      sama sekali bukan wilayah keahlian anda. Kalau anda ahli ilmu
      kealaman, baiklah, anda berhenti di sana saja. Bicaralah Islam dari
      sudut keahlian anda sendiri. Ketika Imam Malik, pendiri mazhab Maliki,
      ditanya puluhan pertanyaan, dia berkali-kali bilang, saya tak tahu,
      saya tak tahu. Hanya beberapa gelintir pertanyaan yang ia jawab. Ini
      menunjukkan sikap tawadlu' seorang sarjana yang sungguhan.

      Ambil contoh: anda menulis dengan menggebu-gebu, mengkritik pemikiran
      Nasr Hamid Abu Zayd. Membaca kolom anda tentang hal itu, saya tak bisa
      lain kecuali mengatakan bahwa kritikan anda sangat dangkal. Anda bukan
      sarjana yang studi Qur'an dengan baik. Dugaan saya, anda hampir
      dipastikan tak membaca buku Abu Zayd dalam versi Arab. Saya juga
      hampir pasti bahwa anda tak membaca buku-buku yang menjadi dasar studi
      Abu Zayd seperti al-Itqan karya al-Suyuti, al-Burhan karya
      al-Zarkashi, Asrar al-Balaghah dan I'jaz al-Qur'an,kedunya karya
      al-Jurjani. Abu Zayd menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk studi
      tentang Qur'an. Dia boleh salah atau keliru. Tetapi kita tak boleh
      mengabaikan usaha dan studi dia. Sementara itu saat ini kita lihat
      lusinan penulis di Indonesia seperti anda yang tak pernah studi Qur'an
      dengan baik, tapi dengan kenekatan yang luar biasa langsung mengecap
      sesat atau murtad Abu Zayd.

      Ini hanya contoh saja.

      Nasehat saya: hendaklah anda tahu diri. Anda bukan ahli mengenai studi
      Islam. Jadi kalau menulis haruslah dengan sikap hati-hati, jangan
      "self righteous", atau sok benar sendiri. Anda sudah tua, dan sikap
      tawadlu' biasanya menjadi ciri-ciri orang yang sudah beranjak tua.
      Kenapa saya tak melihat ini pada anda?

      Ini nasehat dari seorang Muslim kepada saudara seiman. Al-mu'minu
      mir'atu akhihi al-mu'min, kata sebuah hadis.

      Mohon maaf kalau ada yang tak bekenan.

      Ahmad Badrudduja



      Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.

    • Show all 5 messages in this topic