Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

10340Seri 793. Past Life Regression vs Jin Qarin dan 794. Kelemahan KUHAP yang Membiarkan Korban di Luar Sistem

Expand Messages
  • H. M. Nur Abdurrahman
    Sep 1, 2007
    • 0 Attachment
      Maaf saya alpa memposting Seri 793. Untuk itu, saya posting bersama-sama dengan Seri 974 sebagai bonus, yaitu saya posting pada waktu dead line untuk Fajar,  sehari sebelum dipublikasikan.
      Wassalam
      HMNA
       
      ***************************************************************************************************************************
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      793. Past Life Regression vs Jin Qarin
       
      Melalui jalur pribadi (Japri) saya menerima e-mail, yang saya ringkaskan seperti berkut:
      Ustadz, saya telah membaca tulisan Ustadz Seri 792 tentang An-Na’im dalam salah satu milis. Namun dari teman saya, saya mendapatkan yang lebih hebat dari sosialisasi An-Na’im, yaitu Metode Hypnotic Past Life Regression, yang secara resmi dipergunakan dengan luas untuk penelitian reinkarnasi. Pada tanggal 31 Maret – 1 April 2007, diselenggarakan seminar/training spiritualisme tentang Past Life Regression di hotel Darmawangsa, Kemang Jakarta, Selatan, yang pesertanya seorang Hindu, seorang Buddhis, beberapa orang Kristian dan selebihnya Islam; dari pendidikan dan profesi para peserta, ada Prof Pertanian IPB, psikiater, dokter umum, dokter gigi (tiga orang), arsitek, psikolog, konsultan hukum, konsultan manajemen, dan pengusaha. Jumlah peserta hanya sekitar 40 orang, karena biayanya cukup mahal. Seorang asisten muda yang beragama Islam, pembantu penatar Dr Richard yang tidak beragama, sambil membuat gerakan setengah lingkaran dengan tangan kanan, memutari tangan kiri dari bawah ke atas, menjawab: “Saya mencari spritualitas. Saya tidak ingin membenturkan ini dengan agama saya." Seorang dokter umum peserta seminar itu meyakinkan dirinya tidak membentur dengan berasumsi: "Dalam Al Quran juga ada ayat yang menyebut soal reinkarnasi."
      Demikianlah Ustadz keterangan yang saya peroleh dari teman saya itu. Saya minta pencerahan, utamanya apakah benar ada itu reinkarnasi ?
      ***
      Saya layani dahulu itu dokter umum. Itu banyak saya temukan dari orang-orang yang berupaya menegakkan benang basah, dengan mengemukakan ayat (2:28). Ini sudah dibahas dalam Seri 649, yaitu ayat (2:28) tidak bisa dijadikan referns untuk faham reinkarnasi. Ayat (2:28) menjelaskan pengembaraan ruh manusia: "dari alam arwah, ke alam rahim, ke alam dunia, ke alam barzakh, berakhir di alam akhirat."
      Yang berminat, silakan visit link =>
      http://waii-hmna.blogspot.com/2004/10/649-tidak-ada-faham-reinkarnasi-dalam.html.
      ***
      Firman Allah:
      -- ALDzY KhLQ FSWY S. ALA'ALY, 87:2). dibaca:
      -- alladzi- khalaqa fasawa-, artinya:
      -- Yaitu Yang mencipta dan menyempurnakan.
      Allah mencipta Adam dan Hawa langsung secara revolusi menjadi sempurna yang terdiri dari tataran jasmani, nafsani (diri, psi) dan ruhani. Adapun penciptaan keturunan pasangan suami isteri ini, ialah melalui proses evolusi di dalam alam rahim untuk menjadi sempurna.
      -- KhLQ MN MAa DAFQ  .  YKhRJ MN BYN ALShLB WALTRAaB (S. ALThARQ, 86:6-7), dibaca:
      -- khuliqa min ma-in da-fiqin  .  yakhruju mim bainish shulbi wattaraaib, artinya:
      -- (Manusia) diciptakan dari air yang dipancarkan . Keluar antara shulb dan taraib (86:6,7).
      Antara shulb dengan taraib dalam konteks tubuh manusia ialah daerah sexual. Shulb dari akar kata yang dibentuk oleh Shad-Lam-Mim, artinya sesuatu yang keras. Taraib akarnya dari Ta-Ra-Ba sesatu yang lembut. Sperma laki-laki dipancarkan dari zakar yang keras karena ereksi dan ovum perempuan keluar dari indung telur yang lembut.
      -- ANA KhLQNA ALANSN MN NTHFt AMSyAJIN (S. ALANSN, 76:2), dibaca:
      -- inna- khalaqnal insa-na min nuthfatin amsa-jin, artinya:
      -- Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari nuthfah yang bercampur (76:2).
       
      Jadi Al-Quran tidak bicara ttg sperma saja tetapi campuran nuthfah laki-laki (sperma) dengan nuthfah perempuan (ovum). Penyatuan sperma dan ovum dalam ilmu kecambah disebut zygote, menurut Dr Moore seorang embriolog (the mixture of the sperm and the ovum).
       
      Tentang proses tahapan evolusi di dalam rahim: 
      -- TsM KhLQNA ALNThFT 'ALQt FKhLQNA AL'ALQt MDhGht FKhLQNA ALMDhGhTt 'AZhAMA FKSWNA AL'AZhAM LhMA TsM ANSyAaNH KhLQA AKhR FTBARK ALLH AhSN ALKhALQYN (S. ALMWaMNWN, 23:14), dibaca:
      -- tsumma khalaqnan nuthfata 'alaqatan fakhalaqnal 'alaqata mudhghatan fakhalqnal mudhghata 'izha-man fakasawnal 'izha-ma lahman tsumma ansya'na-hu khalqan a-khara fataba-rakaLla-hu ahsanul kha-liqi-n (s. almu'minu-n), artinya:
      -- Kemudian nuthfah itu Kami jadikan 'alaqah, lalu 'alaqah itu Kami jadikan mudhghah, lalu mudhghah itu Kami jadikan 'izham,  maka Kami bungkus 'izham itu dengan lahm, kemudian Kami kembangkan menjadi makhluq lain. Maka Berkat Allah sebaik-baik menciptakan (23:14).
      Menurut embriologi di atas 42 hari terbentuklah mekanisme perlengkapan pendengaran, penglihatan, kulit, otot-otot dan tulang-tulang, bentuknyapun menjadi sempurna, Yaitu seperti Hadits yang dirawikan oleh Muslim, yang artinya: Setelah 42 malam berlalu, maka Allah mengutus malaikat untuk menyempurnakan bentuk janin itu, memberikan pendengaran, penglihatan, kulit, otot-otot dan tulang-tulang, menghembuskan ruh ke dalamnya. Itulah tahapan sempurna, yaitu tahapan khalqun akhar (makhluq yang lain), yang sudah terdiri atas tataran jasmani, nafsani dan ruhani.
      ***
      Begitu bayi lahir ke dunia, keluar dari alam rahim, Allah menetapkan makhluk pendamping pada bayi itu, yaitu yang disebut dengan jin qarin(*).
      -- Dari Abdullah Bin Mas'ud mengatakan bahwa : Rasulullah saw bersabda; "Tidak ada seorangpun diantara kalian yang tidak ditunjuk untuknya Jin pendamping (Qarin)". Para sahabat bertanya; "Termasuk anda ya Rasulullah ?, "Ya" jawab Nabi, Hanya saja aku mendapat pertolongan Allah, sehingga Jin pendampingku masuk Islam, dan dia tidak pernah mengajakku kecuali yang baik-baik" (HR Muslim).
       
      Jin pendamping itu bisa baik bisa jahat, bisa polos(**). Pengaruh manusia terhadap jin qarin, lebih besar ketimbang sebaliknya. Jin qarin yang baik mencintai orang yang didampinginya, misalnya antara lain membantu untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Ketika anda lupa shalat dia membantu mengingatkan dan membangunkan anda.
       
      Pada Hari Pengadilan (yawm al-Diyn) jin qarin itu melempar tanggung-jawab kejahatan kepada orang yang didampinginya:
      -- QAL QRYNH RBNA MA AThGhYTH WLKN KAN FY DhLL B’AYD (S. Q, 50:27), dibaca:
      -- qa-la qari-nuhu- rabbana- ma- athghaituhu- wala-kin ka-na fi- dhala-lim ba’i-din, artinya:
      -- Berkata yang menyertainya (qari-nuhu-): "Ya Tuhan Kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh".
       
      Apabila seseorang meninggal dunia, maka jin qarin itu ditugaskan berpindah kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Umur rata-rata Jin qarin itu panjang, yaitu mencapai ribuan tahun. Ulah jin qarin inilah yang menceritakan masa lalu waktu ia mendampingi manusia yang telah meninggal itu, biasanya berupa mimpi kepada orang yang baru didampinginya, sehingga bagi orang yang baru didampingi itu merasa seakan-akan itu adalah pengalaman kehidupan sebelumnya dari orang yang baru yang didampingi jin qarin itu. Itulah pula yang diceritakan orang itu tatkala ia dihipnotis, maka yang menjawab itu adalah jin qarin, karena orang yang dihipnotis itu tidak menyadari dirinya lagi. Jadi spiritualisme dalam konteks Hypnotic Past Life Regression, sesungguhnya bukan spiritualisme melainkan hanya sekadar "wawancara" dengan jin qarin. "Wawancara" atau "Metode Hypnotic Past Life Regression" itu sama sekali tidak akan berhasil mengorek apa-apa dari jin qarin yang baik, kecuali mengenai pengalaman masa lalu yang tidak bersifat rahasia dari orang yang sementara didampinginya itu saja.
       
      Alhasil, tidak ada itu reinkarnasi, atau past life, karena sesungguhnya yang berpindah-pindah itu bukanlah ruh orang yang telah mati, sebab setelah ruh itu berpisah dari jasad langung pindah ke alam barzakh, melainkan yang berpindah-pindah itu dari orang mati ke bayi yang baru lahir, ialah jin qarin itu. WaLlahu a'lamu bisshawab.
       
      *** Makassar, 26 Agustus 2007
           [H.Muh.Nur Abdurrahman]
      http://waii-hmna.blogspot.com/2007/08/793-past-life-regression-vs-jin-qarin.html
      ------------------------------------
      (*)
      Jin
      akar katanya dibentuk oleh huruf-huruf jim, nun, nun [J-N-N], mempunyai pengertian terlindung, terhalang, terisolasi dan terasing. [J-N-N] menurunkan kata-kata: Jinn adalah makhluk yang tidak kelihatan, terlindung dari pandangan mata manusia, dan dapat pula berarti suku terasing. Jannah, taman, adalah tempat yang terlindung dari matahari oleh bayangan pohon, mujannah, perisai, penghalang dari tebasan musuh, janin, bayi yang masih terlindung dalam rahim ibu, majnun, orang gila, orang yang pikirannya kabur seakan-akan terhalang oleh kabut, tidak dapat membedakan antara bayangan dengan kenyataan. Qarin akar katanya qaf, ra, nun [Q-R-N] artinya pendamping, yang menyertai. Qarnun artinya teman.
      (**)
      Jin polos atau yang netral ini hanya sekadar menyertai pengalaman orang yang didampinginya itu. Dia tidak mempengaruhi orang yang didampinginya untuk berbuat baik ataupun berbuat jahat, namun karena polosnya itu jin qarin yang netral itu akan membocorkan apa yang kita pikirkan, sebab apa yang kita pikirkan diketahui pula oleh jin qarin kita itu. Dukun klenik atau paranormal ada yang bisa berkomunikasi dengan jin qarin pendampingnya, sehingga orang itu "mampu" membaca pikiran orang lain. Sebenarnya apa yang terjadi, pada waktu dukun itu bertatap muka dengan orang lain, dukun yang bisa berkomunikasi dengan jin pendampingnya itu menyuruh jin pendampingnya menanyakan kepada jin qarin pendamping orang lain itu apa yang sedang dipikirkan oleh orang yang didampinginya itu. Jin qarin pendamping dukun itu tidak bisa mengorek informasi dari jin qarin yang baik.
       
      **************************************************************************************************************************
       
      BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
       
      WAHYU DAN AKAL – IMAN DAN ILMU
      [Kolom Tetap Harian Fajar]
      794. Kelemahan KUHAP yang Membiarkan Korban di Luar Sistem
       
      Massa histeris di Pengadilan Tinggi terkait Kasus Kematian Siswa SMU di Gowa. Berita ini dapat kita baca dalam Harian FAJAR, edisi Selasa 28 Agusuts 2007. Massa yang tergabung dalam Koalisi Lembaga dan Masyarakat Pemerhati Anak Sulsel sempat histeris di dalam ruangan Pengadilan Tinggi. Mereka mendatangi Pengadilan Tinggi terkait dengan kasus kematian Nur Ikbal Caraka siswa SMU Sungguminasa Gowa akibat lemparan terpidana Drs Sukardi Bin Sappe, guru olah raga korban, beberapa bulan lalu. Terpidana divonis selama lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Sungguminasa. Dalam tingkat banding Pengadilan Tinggi menjusutkan vonnis lima tahun itu menjadi hanya dua tahun. Ibu korban Anita Tanggo Amu 49, yang ditemui FAJAR disela-sela berlangsungnya aksi bertekad untuk tetap mencari keadilan atas kematian anaknya tersebut. "Saya tidak punya uang, tapi keadilan terus saya cari sampai kapanpun." Namun Jaksa Penuntut Umum enggan melakukan kasasi berhubung vonnis dua tahun oleh Pengadilan Tinggi sudah sesuai dengan tuntutannya yang dua tahun dalam Pengadilan Negeri. Berarti kandaslah upaya hukum Anita Tanggo untuk mencari keadilan, kandas oleh Sistem Hukum Nasional Negara Republik Indonesia.
       
      ***
      Dalam kasus di Sungguminasa di atas itu, posisi ahli waris korban berada di luar sistem. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) kita mencuekkan hak asasi korban atau ahli waris korban yang terbunuh. KUHAP kita hanya memperhatikan hak asasi terdakwa. Maka demi keadilan apakah tidak patut apabila dalam KUHAP termuat pula aturan yang menyangkut hak asasi korban, ataupun hak asasi ahli waris korban yang terbunuh? Apakah tidak perlu diperluas cakrawala pemahaman keluar menembus bingkai pidana murni? Apakah sudah cukup dasar filosofi KUHAP yaitu jaksa hanya sekadar mewakili negara menuntut terdakwa karena bersalah terhadap negara yaitu melanggar undang-undang? Maka sangat patut jika korban atau ahli korban yang terbunuh dimasukkan dalam sistem, yaitu hak naik banding dan kasasi diberikan oleh undang-undang kepada korban atau ahli waris korban yang terbunuh.
       
      Dalam Hukum Islam ahli waris korban yang terbunuh sangat diperhatikan. Hukum Qishash (pembalasan) seperti tercantum dalam Al Quran hanya dapat diubah, diringankan ataupun dibatalkan oleh ahli waris korban terbunuh, bukan oleh institusi kenegaraan. Firman Allah:
      -- FMN TShDQ BH FHW KFARt LH (S. ALMAaDt, 5:45), dibaca:
      -- faman tashaddaqa bihi- fahuwa kaffa-ratul lahu-, atinya:
      -- barang siapa melepaskan (hak qishashnya), maka itu (menjadi) penebus dosa baginya.
       
      Dalam kasus Zulfiqar Ali Bhutto yang terpidana mati karena pembunuhan, Presiden Ziaul Haq tidak dapat membatalkan hukuman matinya, karena ahli waris korban tidak bersedia mengampuni Ali Bhutto, walaupun dari seluruh dunia berdatangan permintaan kepada Presiden Pakistan itu agar kepada Ali Bhutto diberikan grasi.
       
      Yang alergi tentang Syari'at Islam yang diterapkan dalam ranah publik, tentu tidak pernah membaca dalam sejarah suatu kejadian yang sebenarnya terjadi di zaman Khalifah Umar ibn Khattab. Yang bagi mereka yang alergi itu itu tentu sudah melupakan yang telah ditayangkan oleh TVRI puluhan tahun yang lalu, atau bahkan tidak pernah menyaksikan tayangan tersebut. Seorang pendatang dari kota lain berstirahat di pinggir kota yang dikunjunginya. Ia lalai tidak menambatkan dengan baik kudanya, sehingga kuda itu lepas dan sementara itu pemiliknya tertidur. Kuda itu sempat masuk ke kebun orang memakan tanaman di dalamnya. Yang empunya kebun memergoki kuda itu lalu dibunuhnya kuda itu. Sementara itu yang empunya kuda sudah terbangun dan mencari kudanya memergoki kudanya yang sudah terbunuh. Maka pemilik kuda tersebut membunuh pemilik kebun itu. 
       
      Dalam sidang perkara itu, amar keputusan Umar ibn Khattab sebagai hakim: Menghukum mati terdakwa pembunuh sesuai Hukum Qishash. Memerintahkan ahli waris korban terbunuh untuk mengganti kuda yang dibunuh oleh korban terbunuh, sesuai dengan Hukum Qishash. Ganti rugi itu harus diberikan kepada ahli waris terhukum. Sementara itu ahli waris terhukum diwajibkan membayar kepada ahli waris pemilik kebun kerugian tanaman yang dimakan oleh kuda itu. Ternyata ahli waris korban terbunuh membatalkan hukuman mati itu. Dalam hal ini saksi korban termasuk dalam man tashaddaqa bihi-, yang melepaskan hak balasnya menurut S. Al Maidah, 5:45. Dari kejadian tersebut ada  hal yang penting yang dapat kita simak. Yaitu amar keputusan hakim menyangkut pidana dan perdata. Hukuman mati bagi terdakwa, itulah keputusan pidananya. Dan memerintahkan mengganti kerugian untuk kuda yang mati dan tanaman yang rusak, itulah perdatanya. Baik aspek pidana maupun perdatanya, keduanya berlandaskan Hukum Qishash.
       
      Disinilah lagi terletak perbedaannya dalam arti kelebihannya Hukum Islam atas Hukum Nasional. Dan sudah semestinya demikian, karena Hukum Islam berasal dari Wahyu, sedangkan Hukum Nasional yang berdasar atas kesepakatan komunitas (baca: Bangsa Indonesia) hanyalah berkualitas kebenaran relatif. Di mana itu letak kelebihan trsebut? Hukum Islam di samping memperhatikan korban atau ahli waris korban yang terbunuh sesuai dengan ayat (5:45) yang dikemukakan di atas, Hukum Qishash mengharuskan penggabungan perkara pidana dengan perdata dalam hal ganti rugi. Sedangkan dalam KUHAP penggabungan perkara pidana dengan perdata, tidaklah dengan sendirinya. Harus ada gugatan ganti kerugian dahulu. Dan kerugian dalam hal perkara perdata itu  harus dalam skala yang besar. Lalu bagaimana dengan kerugian kecil-kecil tetapi besar artinya bagi orang kecil yang saksi korban? Inilah yang memberikan motivasi yang mendorong sementara orang menjadi hakim sendiri, bahkan menjadi hakim beramai-ramai dengan mengerahkan sanak keluarga korban. Di sinilah pula Islam sebagai Rahmatan lil'alamin diterapkan dalam ranah publik yang dalam hal ini merevisi dasar filosofi KUHAP bahwa jaksa hanya sekadar mewakili negara menuntut terdakwa karena bersalah terhadap negara yaitu melanggar undang-undang, tanpa memperhatikan keadilan bagi saksi korban ataupun ahli waris korban yang sama sekali ditutup hak asasinya untuk menempuh upaya hukum. WaLlahu a'lamu bisshawab.
       
      *** Makassar, 2 September 2007
           [H.Muh.Nur Abdurrahman]