Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

Expand Messages
  • Maurina Andriana
    kok pertanyaannya malah kurang jelas ya menurut saya. sebenarnya pertanyaannya ttg perbandingan proyek konstruksi dengan cara tradisional dan proyek konstruksi
    Message 1 of 6 , Feb 28, 2009
    • 0 Attachment
      kok pertanyaannya malah kurang jelas ya menurut saya.
      sebenarnya pertanyaannya ttg perbandingan proyek konstruksi dengan cara tradisional dan proyek konstruksi dengan aplikasi EPC?
      ato tentang apa yang dimaksud dengan EPC dan peranannya dalam project?
       
      bisa lebih specific gak? saya gak tau penerapan proyek cara tradisional yang dimaksud di sini kayak gimana ya?

       

      Cheers,
      Maurina


       




      From: joefrizal joefrizal <joe_frizal@...>
      To: kuyaog@yahoogroups.com
      Sent: Saturday, February 28, 2009 6:46:47 PM
      Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

      Eric,
       
      Menurut yang saya tahu, EPC itu kepanjangan dari Engineering, Procurement and Construction dan semua project yang dilakukan selalu mempunyai komponen-komponen tersebut, baik dilakukan sendiri maupun dilakukan oleh kontraktor yang mempunyai spesialisasi melakukan pekerjaan itu.
       
      Kalau dilakukan sendiri, maka banyak resikonya, terutama karena spesialisanya tidak memadai, sehingga mengabatkan project cost nya menjadi overrun.Disamping itu mungkin kesempatan mendapatkan project financing kecil.
       
      Kalau di berikan kepada contractor, maka akan ada beberapa cara melakukannya:
      1 Engineering, Procurement dan Construction dilakukan oleh satu kontraktor saja. Bahwakan kontraktornya membianyainya sampai akhir project. Ini yang disebut Turn key contract.
      2. EPC dilakukan oleh satu kontractor dan ini yang disebut dengan EPC conract.
      3. Ada juga yang melakukan dengan memisahkan komponen Engineering awal, yaitu FEED (Front End Engineering Design) dilakukan ole konsultan terpisah, lalu si Owner melakukan tender untuk EPC contractnya. . Tujuannya adalah untuk mendapatkan biaya yang termurah dan kualitas yang terbaik (Akan tetapi sistem di Indonesia ini yang sangat menekankan pada harga termurah,perlu juga di perbaiki).
      4. Ada juga yang melakukannya dengan memberikan porsi project financing kepada kontraktor juga sehingga si Owner hanya menyewa dan diakhir masa pakai sekitar 20 tahun asset projectnya di transfer ke Si owner. Sistemnya adalah BOOT (Built Own, Operate and Transfer).
      5. Adajuga yang BOO saja tanpa ada asset transfer.
       
      Pada intinya setiap sistem ini dipilih berdasarkan kebutuhan masing-masing owner yang tentunya berbeda-beda. Ada owner yang punya banyak uang cash, tapi ada juga yang tidak punya banyak duit akan tetapi ada kontrak penyewaan gedung  selama 20 tahun, misalnya. Sehingga bagi owner ini lebih baik mendapatkankan project BOOT dari pada membuat gedung atas biaya sendiri. Dlsb.
       
      Mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan item-item lain yang belum tercover. Atau mungkin perntanyaannya tidak terjawab
       
      Wassallam,
       
       
      Joefrizal
       


      --- On Sat, 2/28/09, eric eric <er_507@yahoo. com> wrote:
      From: eric eric <er_507@yahoo. com>
      Subject: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek
      To: kuyaog@yahoogroups. com
      Date: Saturday, February 28, 2009, 5:14 AM

      dear bos-bis,

      mohon bantuannya,

      Saya eric mahasiswi yang lagi berjuang untuk lulus di bulan april ini. Subjur yang saya ambil adalah CM. Ada beberapa hal sedang mengganjal saat ini, yang ingin saya tanyakan yaitu tentang perbedaan antara proyek EPC dengan proyek tradisional. Misalnya ada proyek konstruksi tradisonal, bangunan gedung 100 lantai dan proyek epc mempunyai nilai kontrak yang sama sebesar 1 Triliun.Apakah proyek konstruksi tradisonal tsbt bisa menggunakan sistem epc dan sebaliknya?? Saya sudah berusaha menyawab sesuai dengan kajian pustaka tetapi ternyata jawabannya belum memuaskan.

      mohon bantuan dari bos-bis yang sudah perpengalaman. terima kasih
       
      salam hangat + jabat tangan erat

      ---eric baroroh---





    • eric eric
      jadi begini bos-bis, tema TA saya sebenarnya tentang sistem manajemen mutu pada proyek EPC, tujuan TA yaitu mengetahui karakteristik sistem manajemen mutu pada
      Message 2 of 6 , Mar 1 1:03 AM
      • 0 Attachment

        jadi begini bos-bis,

        tema TA saya sebenarnya tentang sistem manajemen mutu pada proyek EPC, tujuan TA yaitu mengetahui karakteristik sistem manajemen mutu pada proyek EPC serta perbedaan sistem manajemen mutu antara proyek EPC dan proyek tradisional.
        Saya sudah melakukan kajian pustaka dan melakukan analisis data. data yang diperoleh yaitu proyek EPCnya proyek PLTU dan proyek tradisionalnya Proyek mall.

        Dari analisis trsbt sudah di bikin kesimpulan, namun kesimpulan tersebut belum memuaskan dosen pembimbing.
        saya + partner juga bingung, saya sudah menuliskan bahwa proyek EPC itu rumit dan kompleks karena disiplin ilmu yang terlibat serta material yang dibutuhkan mempunyai spesifikasi yang khusus.

        Tetapi jawaban tersebut belum memuaskan. Kemudian pembimbing memberikan pertanyaan: Bisa gak proyek konstruksi tradisonal misalnya gedung 100 lantai diterapkan dengan sistem EPC dimana pihak yang terlibat hanya satu yaitu kontraktor EPC??? atau proyek EPC diterapkan seperti konstruksi tradisional dimana yang terlibat banyak pihak??? (anggap kedua proyek tersebut membutuhkan biaya yang sama)

        Saya+partner sudah berusaha menjawab, tapi tetap belum memuaskan dosen pembimbing. Oleh sebab itu saya mohon bantuan dari bos-bis yang sudah berpengalaman.
        terima kasih

        salam hangat + jabat tangan erat

        ---eric baroroh---




        From: Maurina Andriana <pondasius@...>
        To: kuyaog@yahoogroups.com
        Sent: Sunday, March 1, 2009 12:52:38 AM
        Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

        kok pertanyaannya malah kurang jelas ya menurut saya.
        sebenarnya pertanyaannya ttg perbandingan proyek konstruksi dengan cara tradisional dan proyek konstruksi dengan aplikasi EPC?
        ato tentang apa yang dimaksud dengan EPC dan peranannya dalam project?
         
        bisa lebih specific gak? saya gak tau penerapan proyek cara tradisional yang dimaksud di sini kayak gimana ya?

         

        Cheers,
        Maurina


         




        From: joefrizal joefrizal <joe_frizal@yahoo. com>
        To: kuyaog@yahoogroups. com
        Sent: Saturday, February 28, 2009 6:46:47 PM
        Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

        Eric,
         
        Menurut yang saya tahu, EPC itu kepanjangan dari Engineering, Procurement and Construction dan semua project yang dilakukan selalu mempunyai komponen-komponen tersebut, baik dilakukan sendiri maupun dilakukan oleh kontraktor yang mempunyai spesialisasi melakukan pekerjaan itu.
         
        Kalau dilakukan sendiri, maka banyak resikonya, terutama karena spesialisanya tidak memadai, sehingga mengabatkan project cost nya menjadi overrun.Disamping itu mungkin kesempatan mendapatkan project financing kecil.
         
        Kalau di berikan kepada contractor, maka akan ada beberapa cara melakukannya:
        1 Engineering, Procurement dan Construction dilakukan oleh satu kontraktor saja. Bahwakan kontraktornya membianyainya sampai akhir project. Ini yang disebut Turn key contract.
        2. EPC dilakukan oleh satu kontractor dan ini yang disebut dengan EPC conract.
        3. Ada juga yang melakukan dengan memisahkan komponen Engineering awal, yaitu FEED (Front End Engineering Design) dilakukan ole konsultan terpisah, lalu si Owner melakukan tender untuk EPC contractnya. . Tujuannya adalah untuk mendapatkan biaya yang termurah dan kualitas yang terbaik (Akan tetapi sistem di Indonesia ini yang sangat menekankan pada harga termurah,perlu juga di perbaiki).
        4. Ada juga yang melakukannya dengan memberikan porsi project financing kepada kontraktor juga sehingga si Owner hanya menyewa dan diakhir masa pakai sekitar 20 tahun asset projectnya di transfer ke Si owner. Sistemnya adalah BOOT (Built Own, Operate and Transfer).
        5. Adajuga yang BOO saja tanpa ada asset transfer.
         
        Pada intinya setiap sistem ini dipilih berdasarkan kebutuhan masing-masing owner yang tentunya berbeda-beda. Ada owner yang punya banyak uang cash, tapi ada juga yang tidak punya banyak duit akan tetapi ada kontrak penyewaan gedung  selama 20 tahun, misalnya. Sehingga bagi owner ini lebih baik mendapatkankan project BOOT dari pada membuat gedung atas biaya sendiri. Dlsb.
         
        Mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan item-item lain yang belum tercover. Atau mungkin perntanyaannya tidak terjawab
         
        Wassallam,
         
         
        Joefrizal
         


        --- On Sat, 2/28/09, eric eric <er_507@yahoo. com> wrote:
        From: eric eric <er_507@yahoo. com>
        Subject: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek
        To: kuyaog@yahoogroups. com
        Date: Saturday, February 28, 2009, 5:14 AM

        dear bos-bis,

        mohon bantuannya,

        Saya eric mahasiswi yang lagi berjuang untuk lulus di bulan april ini. Subjur yang saya ambil adalah CM. Ada beberapa hal sedang mengganjal saat ini, yang ingin saya tanyakan yaitu tentang perbedaan antara proyek EPC dengan proyek tradisional. Misalnya ada proyek konstruksi tradisonal, bangunan gedung 100 lantai dan proyek epc mempunyai nilai kontrak yang sama sebesar 1 Triliun.Apakah proyek konstruksi tradisonal tsbt bisa menggunakan sistem epc dan sebaliknya?? Saya sudah berusaha menyawab sesuai dengan kajian pustaka tetapi ternyata jawabannya belum memuaskan.

        mohon bantuan dari bos-bis yang sudah perpengalaman. terima kasih
         
        salam hangat + jabat tangan erat

        ---eric baroroh---






      • Soeharsono, Tonny (EP Oilfield)
        Eric.. Saya coba membantu menjawabnya.. Setahu saya EPC contract bisa dilakukan untuk proyek apa saja selain OIL & GAS. Memang pada prakteknya jarang ( sejauh
        Message 3 of 6 , Mar 1 6:10 PM
        • 0 Attachment
          Eric..
           
          Saya coba membantu menjawabnya..
           
          Setahu saya EPC contract bisa dilakukan untuk proyek apa saja selain OIL & GAS. Memang pada prakteknya jarang ( sejauh pengetahuan saya ) proyek bangunan bertingkat yang mengunakan EPC contract.
           
          EPC contract itu ibaratnya, client tidak mau report atau "dealing" dengan lebih dari satu perusahaan.. misalnya Engineering/design dgn perusahanan A dan Procurement dgn supplier B1, B2 ... B10 serta Construction dengan perusahaan X. Client hanya punya 1 company yaitu EPC contractor saja dan mereka yang mengurusin dari design, beli barang dan meg-install-nya.. Jadi lebih simple.
          Kalau tradisional maka client akan punya lebih dari satu contractor dan akibatnya dia akan meg - hire  lagi konsultan perencana atau konsultan pengawas.
           
          Pada EPC contract, biasanya client akan membentuk satuan tugas yang diberi nama Task Force. ( Ini mungkin tidak sama antara client yg satu dgn yg lain)
          Bila mengunakan Task Force, maka TF ini yang akan mereview, meng-approve design / spec atau menerima hasil pekerjaan EPC contractor.
           
          Untuk area yang membutuhkan indepency maka biasanya akan dihire " third party" yang disetujui bersama utk bertindak sebagai pihak netral utk memutuskan sesuatu seperti misalnya : hasil XRay dari welding.
           
          Dalam proyek EPC Oil & Gas, juga dikenal "Start Up", danbiasanya ada team lain dari client dan contractor utk me-review hasil pekerjaan sampai akhirnya mereka setuju utk men - start up..
           
          Bila disedehanakan, maka proyek yang di jalankan secara tradisional, maka akan banyak perusahaan yg terlihat seperti kita beli/belanja secara "ketengan" sedang EPC itu kita belanja pada satu company tapi dengan spek/ standard yang sesuai dengan kemauan client. Harga EPC pasti lebih mahal dari tradisional
           
          Jadi bila ditanya apakah bangunan 100 tingkat bisa dikerjakan dengan EPC, jawaban PASTI BISA.
           
           
          Demikian semoga bisa membantu memberikan gambaran.
           
          Salam
           
          Tonny Soeharsono
           
           

          From: kuyaog@yahoogroups.com [mailto:kuyaog@yahoogroups.com] On Behalf Of eric eric
          Sent: Sunday, March 01, 2009 4:03 PM
          To: kuyaog@yahoogroups.com
          Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek


          jadi begini bos-bis,

          tema TA saya sebenarnya tentang sistem manajemen mutu pada proyek EPC, tujuan TA yaitu mengetahui karakteristik sistem manajemen mutu pada proyek EPC serta perbedaan sistem manajemen mutu antara proyek EPC dan proyek tradisional.
          Saya sudah melakukan kajian pustaka dan melakukan analisis data. data yang diperoleh yaitu proyek EPCnya proyek PLTU dan proyek tradisionalnya Proyek mall.

          Dari analisis trsbt sudah di bikin kesimpulan, namun kesimpulan tersebut belum memuaskan dosen pembimbing.
          saya + partner juga bingung, saya sudah menuliskan bahwa proyek EPC itu rumit dan kompleks karena disiplin ilmu yang terlibat serta material yang dibutuhkan mempunyai spesifikasi yang khusus.

          Tetapi jawaban tersebut belum memuaskan. Kemudian pembimbing memberikan pertanyaan: Bisa gak proyek konstruksi tradisonal misalnya gedung 100 lantai diterapkan dengan sistem EPC dimana pihak yang terlibat hanya satu yaitu kontraktor EPC??? atau proyek EPC diterapkan seperti konstruksi tradisional dimana yang terlibat banyak pihak??? (anggap kedua proyek tersebut membutuhkan biaya yang sama)

          Saya+partner sudah berusaha menjawab, tapi tetap belum memuaskan dosen pembimbing. Oleh sebab itu saya mohon bantuan dari bos-bis yang sudah berpengalaman.
          terima kasih

          salam hangat + jabat tangan erat

          ---eric baroroh---




          From: Maurina Andriana <pondasius@yahoo. com>
          To: kuyaog@yahoogroups. com
          Sent: Sunday, March 1, 2009 12:52:38 AM
          Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

          kok pertanyaannya malah kurang jelas ya menurut saya.
          sebenarnya pertanyaannya ttg perbandingan proyek konstruksi dengan cara tradisional dan proyek konstruksi dengan aplikasi EPC?
          ato tentang apa yang dimaksud dengan EPC dan peranannya dalam project?
           
          bisa lebih specific gak? saya gak tau penerapan proyek cara tradisional yang dimaksud di sini kayak gimana ya?

           

          Cheers,
          Maurina


           




          From: joefrizal joefrizal <joe_frizal@yahoo. com>
          To: kuyaog@yahoogroups. com
          Sent: Saturday, February 28, 2009 6:46:47 PM
          Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

          Eric,
           
          Menurut yang saya tahu, EPC itu kepanjangan dari Engineering, Procurement and Construction dan semua project yang dilakukan selalu mempunyai komponen-komponen tersebut, baik dilakukan sendiri maupun dilakukan oleh kontraktor yang mempunyai spesialisasi melakukan pekerjaan itu.
           
          Kalau dilakukan sendiri, maka banyak resikonya, terutama karena spesialisanya tidak memadai, sehingga mengabatkan project cost nya menjadi overrun.Disamping itu mungkin kesempatan mendapatkan project financing kecil.
           
          Kalau di berikan kepada contractor, maka akan ada beberapa cara melakukannya:
          1 Engineering, Procurement dan Construction dilakukan oleh satu kontraktor saja. Bahwakan kontraktornya membianyainya sampai akhir project. Ini yang disebut Turn key contract.
          2. EPC dilakukan oleh satu kontractor dan ini yang disebut dengan EPC conract.
          3. Ada juga yang melakukan dengan memisahkan komponen Engineering awal, yaitu FEED (Front End Engineering Design) dilakukan ole konsultan terpisah, lalu si Owner melakukan tender untuk EPC contractnya. . Tujuannya adalah untuk mendapatkan biaya yang termurah dan kualitas yang terbaik (Akan tetapi sistem di Indonesia ini yang sangat menekankan pada harga termurah,perlu juga di perbaiki).
          4. Ada juga yang melakukannya dengan memberikan porsi project financing kepada kontraktor juga sehingga si Owner hanya menyewa dan diakhir masa pakai sekitar 20 tahun asset projectnya di transfer ke Si owner. Sistemnya adalah BOOT (Built Own, Operate and Transfer).
          5. Adajuga yang BOO saja tanpa ada asset transfer.
           
          Pada intinya setiap sistem ini dipilih berdasarkan kebutuhan masing-masing owner yang tentunya berbeda-beda. Ada owner yang punya banyak uang cash, tapi ada juga yang tidak punya banyak duit akan tetapi ada kontrak penyewaan gedung  selama 20 tahun, misalnya. Sehingga bagi owner ini lebih baik mendapatkankan project BOOT dari pada membuat gedung atas biaya sendiri. Dlsb.
           
          Mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan item-item lain yang belum tercover. Atau mungkin perntanyaannya tidak terjawab
           
          Wassallam,
           
           
          Joefrizal
           


          --- On Sat, 2/28/09, eric eric <er_507@yahoo. com> wrote:
          From: eric eric <er_507@yahoo. com>
          Subject: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek
          To: kuyaog@yahoogroups. com
          Date: Saturday, February 28, 2009, 5:14 AM

          dear bos-bis,

          mohon bantuannya,

          Saya eric mahasiswi yang lagi berjuang untuk lulus di bulan april ini. Subjur yang saya ambil adalah CM. Ada beberapa hal sedang mengganjal saat ini, yang ingin saya tanyakan yaitu tentang perbedaan antara proyek EPC dengan proyek tradisional. Misalnya ada proyek konstruksi tradisonal, bangunan gedung 100 lantai dan proyek epc mempunyai nilai kontrak yang sama sebesar 1 Triliun.Apakah proyek konstruksi tradisonal tsbt bisa menggunakan sistem epc dan sebaliknya?? Saya sudah berusaha menyawab sesuai dengan kajian pustaka tetapi ternyata jawabannya belum memuaskan.

          mohon bantuan dari bos-bis yang sudah perpengalaman. terima kasih
           
          salam hangat + jabat tangan erat

          ---eric baroroh---






        • Budiartha, Wayan Mega
          Ikut nimbrung... Maaf kalau saya belum pernah dengar ada istilah proyek traditional . EPC or EPCI contract itu hanya istilah saja dalam contract strategy
          Message 4 of 6 , Mar 1 6:49 PM
          • 0 Attachment

            Ikut nimbrung…

            Maaf kalau saya belum pernah dengar ada istilah “proyek traditional”. EPC or EPCI contract itu hanya istilah saja dalam contract strategy (pembagian kerja beserta risiko nya) dalam pelaksanaan suatu pekerjaan project (apapun bentuk project nya). Jadi inget waktu kuliah CM diajarkan ada RISK MATRIX yang menggambarkan besaran risiko dari masing-masing pihak yang terlibat untuk masing-masing type contract. EPCI or LS, Cost plus Fee, etc.

             

            Secara umum, sebelum memutuskan jenis contract yang akan diterapkan, biasanya owner akan melakukan contract strategy analysis terlebih dahulu, dengan beberapa pertimbangan i.e.:

            • Scope of Project, seberapa complicated project tersebut. e.g. PLTU akan memiliki complexity yang berbeda dengan gedung atau platform; onshore vs offshore akan berbeda juga.
            • Assessment terhadap capacity, capability, experiences, dari masing consultant, contractor, sub-contract, vendor, etc dalam pekerjaan ini. e.g. PLTU dan platform akan membutuhkan vendor yang sangat specific, khusus, dan terbatas untuk compressor, turbin, pump. Jadi requirements nya pun mungkin akan lebih tinggi.
            • Apakah owner (PMT) bersedia/mau untuk me-manage semua interface antar semua party yang terlibat dari project ini dengan semua risiko nya (cost, design, engineering, materials availability, etc).
            • Risk analysis harus dilakukan tentang scope dari masing2 party (cost impact nya, schedule impact, materials available, specific vendor/supplier required, etc).
            • In general, PROJECT itu memiliki karakteristik sama kan, (BMW) kalau istilah pas kuliah dulu… J Jadi proyek gedung, platform, PLTU akan memiliki kebutuhan akan specific engineering yang mirip seperti, structure, geotechnical, architectural, mechanical, electrical, instrumentation, piping, QA/QC, safety, planner, cost engineering, contract, materials specialist, etc. Kecuali mungkin untuk project bendungan, jalan, pipeline. Yang berbeda adalah exposure nya nanti di lapangan.
            • Harus dilihat juga reference design engineering/code/standard guide yang digunakan, e.g. untuk gedung SNI, sementara offshore platform ada API, AWS, ASTM, SOLAS, etc.

             

            Ini semua akan menjawab pertanyaan: “Bisa gak proyek konstruksi tradisonal misalnya gedung 100 lantai diterapkan dengan sistem EPC dimana pihak yang terlibat hanya satu yaitu kontraktor EPC??? atau proyek EPC diterapkan seperti konstruksi tradisional dimana yang terlibat banyak pihak???”

             

            Sebenarnya bisa lebih menarik kalau dikaji lebih dalam, EPCI contract vs Divided Contract menjadi E, P dan C terpisah in term of Cost, Schedule, and Quality… J

             

            Salam,
            WMB

             


            From: kuyaog@yahoogroups.com [mailto:kuyaog@yahoogroups.com] On Behalf Of eric eric
            Sent: Sunday, March 01, 2009 4:03 PM
            To: kuyaog@yahoogroups.com
            Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

             


            jadi begini bos-bis,

            tema TA saya sebenarnya tentang sistem manajemen mutu pada proyek EPC, tujuan TA yaitu mengetahui karakteristik sistem manajemen mutu pada proyek EPC serta perbedaan sistem manajemen mutu antara proyek EPC dan proyek tradisional.
            Saya sudah melakukan kajian pustaka dan melakukan analisis data. data yang diperoleh yaitu proyek EPCnya proyek PLTU dan proyek tradisionalnya Proyek mall.

            Dari analisis trsbt sudah di bikin kesimpulan, namun kesimpulan tersebut belum memuaskan dosen pembimbing.
            saya + partner juga bingung, saya sudah menuliskan bahwa proyek EPC itu rumit dan kompleks karena disiplin ilmu yang terlibat serta material yang dibutuhkan mempunyai spesifikasi yang khusus.

            Tetapi jawaban tersebut belum memuaskan. Kemudian pembimbing memberikan pertanyaan: Bisa gak proyek konstruksi tradisonal misalnya gedung 100 lantai diterapkan dengan sistem EPC dimana pihak yang terlibat hanya satu yaitu kontraktor EPC??? atau proyek EPC diterapkan seperti konstruksi tradisional dimana yang terlibat banyak pihak??? (anggap kedua proyek tersebut membutuhkan biaya yang sama)

            Saya+partner sudah berusaha menjawab, tapi tetap belum memuaskan dosen pembimbing. Oleh sebab itu saya mohon bantuan dari bos-bis yang sudah berpengalaman.
            terima kasih

            salam hangat + jabat tangan erat

            ---eric baroroh---

             

             

             


            Fr! om: Maurina Andriana <pondasius@yahoo. com>
            To: kuyaog@yahoogroups. com
            Sent: Sunday, March 1, 2009 12:52:38 AM
            Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

            kok pertanyaannya malah kurang jelas ya menurut saya.

            sebenarnya pertanyaannya ttg perbandingan proyek konstruksi dengan cara tradisional dan proyek konstruksi dengan aplikasi EPC?

            ato tentang apa yang dimaksud dengan EPC dan peranannya dalam project?

             

            bisa lebih specific gak? saya gak tau penerapan proyek cara tradisional yang dimaksud di sini kayak gimana ya?


             

            Cheers,
            Maurina


             

             

             


            From: joefrizal joefrizal <joe_frizal@yahoo. com>
            To: kuyaog@yahoogroups. com
            Sent: Saturday, February 28, 2009 6:46:47 PM
            Subject: Re: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek

            Eric,

             

            Menurut yang saya tahu, EPC itu kepanjangan dari Engineering, Procurement and Construction dan semua project yang dilakukan selalu mempunyai komponen-komponen tersebut, baik dilakukan sendiri maupun dilakukan oleh kontraktor yang mempunyai spesialisasi melakukan pekerjaan itu.

             

            Kalau dilakukan sendiri, maka banyak resikonya, terutama karena spesialisanya tidak memadai, sehingga mengabatkan project cost nya menjadi overrun.Disamping itu mungkin kesempatan mendapatkan project financing kecil.

             

            Kalau di berikan kepada contractor, maka akan ada beberapa cara melakukannya:

            1 Engineering, Procurement dan Construction dilakukan oleh satu kontraktor saja. Bahwakan kontraktornya membianyainya sampai akhir project. Ini yang disebut Turn key contract.

            2. EPC dilakukan oleh satu kontractor dan ini yang disebut dengan EPC conract.

            3. Ada juga yang melakukan dengan memisahkan komponen Engineering awal, yaitu FEED (Front End Engineering Design) dilakukan ole konsultan terpisah, lalu si Owner melakukan tender untuk EPC contractnya. . Tujuannya adalah untuk mendapatkan biaya yang termurah dan kualitas yang terbaik (Akan tetapi sistem di Indonesia ini yang sangat menekankan pada harga termurah,perlu juga di perbaiki).

            4. Ada juga yang melakukannya dengan memberikan porsi project financing kepada kontraktor juga sehingga si Owner hanya menyewa dan diakhir masa pakai sekitar 20 tahun asset projectnya di transfer ke Si owner. Sistemnya adalah BOOT (Built Own, Operate and Transfer).

            5. Adajuga yang BOO saja tanpa ada asset transfer.

             

            Pada intinya setiap sistem ini dipilih berdasarkan kebutuhan masing-masing owner yang tentunya berbeda-beda. Ada owner yang punya banyak uang cash, tapi ada juga yang tidak punya banyak duit akan tetapi ada kontrak penyewaan gedung  selama 20 tahun, misalnya. Sehingga bagi owner ini lebih baik mendapatkankan project BOOT dari pada membuat gedung atas biaya sendiri. Dlsb.

             

            Mungkin teman-teman ada yang mau menambahkan item-item lain yang belum tercover. Atau mungkin perntanyaannya tidak terjawab

             

            Wassallam,

             

             

            Joefrizal

             



            --- On Sat, 2/28/09, eric eric <er_507@yahoo. com> wrote:

            From: eric eric <er_507@yahoo. com>
            Subject: [kuyaog] [ASK] Perbedaan EPC dan Sistem Konvensional dalam Pelaksanaan Proyek
            To: kuyaog@yahoogroups. com
            Date: Saturday, February 28, 2009, 5:14 AM

            dear bos-bis,

            mohon bantuannya,

            Saya eric mahasiswi yang lagi berjuang untuk lulus di bulan april ini. Subjur yang saya ambil adalah CM. Ada beberapa hal sedang mengganjal saat ini, yang ingin saya tanyakan yaitu tentang perbedaan antara proyek EPC dengan proyek tradisional. Misalnya ada proyek konstruksi tradisonal, bangunan gedung 100 lantai dan proyek epc mempunyai nilai kontrak yang sama sebesar 1 Triliun.Apakah proyek konstruksi tradisonal tsbt bisa menggunakan sistem epc dan sebaliknya?? Saya sudah berusaha menyawab sesuai dengan kajian pustaka tetapi ternyata jawabannya belum memuaskan.

            mohon bantuan dari bos-bis yang sudah perpengalaman. terima kasih

             

            salam hangat + jabat tangan erat

            ---eric baroroh---

             

             

             

             

             

             

          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.