Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

''Berebut' Palestina untuk 2009

Expand Messages
  • Irwan Amrizal
    Agresi militer Israel ke Palestina kali ini bukanlah yang pertama dan bisa jadi bukan pula yang terakhir. Diawali dengan serangan roket oleh Hamas ke wilayah
    Message 1 of 2 , Jan 2, 2009
    • 0 Attachment
              Agresi militer Israel ke Palestina kali ini bukanlah yang pertama dan bisa jadi bukan pula yang terakhir.. Diawali dengan serangan roket oleh Hamas ke wilayah Israel yang menewaskan empat jiwa, militer Israel melakukan tindakan balasan dengan hasil sekitar 399 jiwa masyarakat sipil Palestina melayang sia-sia dan luka-luka sekitar 1900 orang. Duniapun mengutuk serangan yang berlebihan oleh Israel. PBB yang mendapat tekanan luas dari berbagai negara mengupayakan mediasi antara kedua belah pihak yang saling berseteru tersebut. Dan seperti diduga banyak pihak, hasil mediasi itu berakhir tanpa bahasa genjatan senjata apalagi perjanjian damai. SBY di Istana Negara menyatakan bahwa agresi kali ini sebagai ironi di tahun baru Islam.
              Seakan tidak mau ketinggalan dengan yang apa terjadi di Palestina, PKS, begitu juga pemerintah, habis-habisan menggalang dana dan dukungan moral dari kadernya sendiri, simpatisan, dan masyarakat Indonesia yang total populasi muslimnya sekitar 80 persen bagi rakyat Palestina sebagai bentuk solidaritas sesama muslim.. Tanggal 2 kemarin mereka melakukan aksi masa besar-besaran untuk mengutuk balasan Israel yang berlebihan tersebut meski itu bukan yang pertama kalinya dilakukan oleh PKS. PKS, sebenarnya tidak sendiri, juga dengan suksesnya 'membajak' tragedi yang terjadi di Palestina sebagai tragedinya umat Islam belaka dan bukan warga Palestina secara keseluruhan yang beragam agama.
             
      Beberapa pengamat dan sebagian politisi melihat dukungan PKS untuk Palestina merupakan manuver tercantik PKS untuk mengambil simpati rakyat muslim Indonesia menuju 2009. Bukankah dukungan terhadap Palestina adalah isu yang sangat seksi bagi masyarakat muslim di Indonesia yang sangat besar itu.
              Dari dulu
      oleh beberapa kalangan manuver PKS, juga pemerintah, seperti itu dipandang aneh. Abai dengan segala problematika dalam negeri yang sangat dekat jaraknya dan sama tragisnya tetapi melek dengan urusan orang luar. Memang meneriakan nilai kemanusiaan dan mengecam usaha yang melukainya tidak dibatasi ruang bernama negara dan waktu. Tapi bukankah Islam dalam beberapa hal selalu menganjurkan para penganutnya untuk selalu mengutamakan kolega dekat ketika ingin melakukan kebaikan.
             
      Sebagai contoh, ketika Amerika Serikat melakukan invasi ke Irak, PKS dengan ribuan masa partainya melakukan aksi demostrasi besar-besar untuk mengecam tindakan Amerika Serikat tersebut di bundaran HI. Di waktu yang bersamaan, isu yang sedang hangat di dalam negeri adalah tragedi kemanusiaan yang terjadi di bumi Aceh. Militer kita masih melakukan baku tembak dengan para milisi GAM. Banyak dari kalangan sipil Aceh yang menjadi korban peluru tajam kedua belah pihak.
               Kalau PKS mau konsisten dengan isu kemanusiaan yang terjadi di luar negeri mestinya meraka juga melihat kasus tragedi kemanusiaan lainnya. Sebagai contoh, tragedi kemanusiaan yang dialami oleh umat Islam atau jika ingin diperluas, rakyat di Darfur, Sudan. PBB menyebut bahwa konflik Darfur sebagai tragedi kemanusiaan terparah di dunia. Bayangkan lebih dari 180.000—300.000 orang tewas dan sekitar 2,5 juta penduduk terpaksa meninggalkan rumahnya sejak terjadi pemberontakan kelompok bersenjata, Februari 2003. Atau tragedi yang terjadi di akhir november lalu: tragedi Mumbai. Sekelompok teroris secara membabi-buta menembaki, membom, dan menyadera warga sipil yang bersalah. Sekitar 125 jiwa melayang percuma dan 300 lainnya luka-luka.
              Dari dua tragedi kemanusiaan di atas saya hampir tidak pernah mendengar pernyataan apa yang dibuat oleh PKS dan dipublikasikan di media masa apalagi mendengar mereka melakukan demonstrasi besar-besaran di bundaran HI. Bila demikian, benar adanya dugaan yang menyatakan bahwa dukungan untuk Palestina hanyalah untuk komoditi politik praktis belaka.














    • ridwan rachmadi
      waah bagus juga tulisannya, tapi sayang kurang lengkap datanya mas... misal anda tidak sebutkan apa yang PKS lakukan di Aceh pada saat terjadi bencana gempa
      Message 2 of 2 , Jan 5, 2009
      • 0 Attachment
        waah bagus juga tulisannya, tapi sayang kurang lengkap datanya mas... misal anda tidak sebutkan apa yang PKS lakukan di Aceh pada saat terjadi bencana gempa dan tsunami, itu mereka lakukan setelah pemilu 2004, dan masih banyak lagi tragedi kemanusiaan yang PKS hadir disitu, saya pernah berjumpa dengan Imam B Prasodjo (sosiolog UI) beliau mengatakan ketika ada musibah yang terjadi di negeri ini saya hadir disana dan yg pertama kali saya temui  adalah relawan dari PKS sebelum yg lain datang termasuk dari pemerintah dan itu bukan saat jelang pemilu apalagi saat kampenye.

        Sebelum PK/PKS berdiri aktivisnya dah sering melakukan pembelaan-pembelaan atas hak-hak muslim yg tertindas sebut misalnya Bosnia, checnya, Irak, Afghanistan, Sudan, dll.

        Kalo dalam negeri mas... coba anda perhatikan kinerja Menteri Pertanian asal PKS baru setelah beliau Indonesia tak lagi impor beras alias surplus.

        Menpora Adhyaksa Daulth, baru setelah zaman mnetri ini mantan atlit diperhatikan sebut misalnya Elias Pical, dll...

        mungkin ini  dulu mas tambahan data dari saya.

        Kesimpulannya ada atau tidak ada pemilu PKS bekerja, dari lingkup terkecil di negeri ini, dari RT hingga Negara, kalaupun ada kekurangannya itu wajar karena PKS kumpulan manusia bukan kumpulan malaikat.

        Saya yakin mas amrizal sudah banyak membantu saudara kita di Indonesia dan belahan dunia lainnya, untuk itu kita saling mendo'akan agar bumi ini semakin damai... wa Allahu 'alam


        Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru Akhirnya datang juga!
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.