Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah] Jawab :Re: Tanya ttg Akuntansi SKPD

Expand Messages
  • Hayun Kusumah
    Mohon maaf, agak sedikit bingung. Melihat contoh jurnal diatas, baik pada dana kas kecil berfluktuasi ataupun tetap, rekening RK PPKD dikredit terus sehingga
    Message 1 of 17 , Dec 19, 2010
    • 0 Attachment
      Mohon maaf, agak sedikit bingung. Melihat contoh jurnal diatas, baik
      pada dana kas kecil berfluktuasi ataupun tetap, rekening RK PPKD
      dikredit terus sehingga nilainya akan terakumulasi semakin besar.
      Kira-kira bagaimana cara mendebetnya atau terkait dengan transaksi apa
      untuk mendebet rekening RK PPKD tersebut. Terima kasih.

      On 12/9/10, Vee_Nha <vee_nha@...> wrote:
      >
      >
      > --- In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, "hafiz"
      > <hafiztanjung@...> wrote:
      >>
      >> Terimakasih saudara Benny..
      >>
      >> Maksud saya jurnal yang kedua yaitu ketika disahkan SPJ Fungsional dan
      >> sekaligus diterima SP2D-GU sebagai pengganti UP yang sudah dibelanjakan
      >> (sama besarnya), jurnalnya adalah :
      >>
      >> D. Belanja xxx
      >> K. RK PPKD xxx
      >>
      >> Jadi secara khusus jurnal nomor 3 pada sistem "dana kas kecil
      >> berpluktuasi" tidak perlu dibuat. karena dengan jurnal diatas sudah
      >> langsung mencatat SP2D GU yang diterima, sehingga total Kas di Bendahara
      >> Pengeluaran sudah sama dengan jumlah semula.
      >>
      >> Tahnks.
      >>
      >>
      >>
      >> In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, Benny Irawan
      >> <benny_xsys@> wrote:
      >> >
      >> > Penerimaan SP2D GU tidak perlu dibuat jurnal
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > (catatan dana kas kecil dengan sistem dana tetap).
      >> > --------------------------------------------------------------------------------------
      >> > alasannya kenapa pak.? berarti ada transaksi keuangan yang tidak
      >> > tercatat dong..?
      >> >
      >> > --- Pada Jum, 3/12/10, hafiz <hafiztanjung@> menulis:
      >> >
      >> > Dari: hafiz <hafiztanjung@>
      >> > Judul: [konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah] Jawab :Re: Tanya ttg
      >> > Akuntansi SKPD
      >> > Kepada: konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com
      >> > Tanggal: Jumat, 3 Desember, 2010, 5:17 PM
      >> >
      >> > Â
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > Jawaban yang dapat saya berikan untuk pertanyaan saudari sebagai
      >> > adalah berikut :
      >> >
      >> > 1. Menggunakan Uang muka dari BUD adalah istilah yang digunakan oleh
      >> > KSAP
      >> >
      >> > 2. Menggunakan RK PPKD adalah istilah yang digunakan dalam Permendagri
      >> > 13/2006
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > Kedua-duanya merupakan akun sementara (resiprokal) yang akan dieliminasi
      >> > ketika menyusun LK konsolidasai Pemda. Mana yang harus digunakan
      >> > tergantung pada yang berlaku di pemda tempat saudara bekerja. Namun
      >> > dalam buku-buku saya, saya menggunakan RK PPKD, karena lebih familiar
      >> > dengan akuntansi dan hampir sama maksudnya dengan RK Kantor Pusat pada
      >> > akuntansi komersial.
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > Belanja pada SAP: khusus untuk belanja dari bendahara pengeluaran
      >> > pengakuannya baru bisa diakui jika sudah dibuat SPJ fungsional yang
      >> > sudah disahkan oleh BUD.
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > Jurnal yang dibuat :
      >> >
      >> > 1. Saat terima SP2D UP
      >> >
      >> > D. Kas di Bendahara Pengeluaran xx
      >> >
      >> > K. RK PPKD
      >> >
      >> > xx
      >> >
      >> > 2. Dokumen sumber SPJ fungsional yang sudah disahkan
      >> >
      >> > D. Belanja XX
      >> >
      >> > K. Kas di bendahara pengeluaran XX
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > 3. Penerimaan SP2D GU
      >> >
      >> > D. Kas di bendahara pengeluaran XX
      >> >
      >> > K. RK PPKD XX
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > (catatan : dana kas kecil berfluktuasi)
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > 1. Saat terima SP2D UP
      >> >
      >> > D. Kas di bendahara pengeluaran xx
      >> >
      >> > K. RK PPKD
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > 2. SPJ fungsioanl yang sudah di sahkan (besarnya GU sama dengan UP yang
      >> > sudah dibelanjakan)
      >> >
      >> > D. Belanja XX
      >> >
      >> > K. RK PPKD XX
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > 3. Penerimaan SP2D GU tidak perlu dibuat jurnal
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > (catatan dana kas kecil dengan sistem dana tetap).
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > Demikian yang dapat saya jelaskan semoga dapat dipahami.
      >> >
      >> >
      >> >
      >> > Terimakasih
      >> >
      >>
      >
      >
      > pertanyaan saya tadi gmna pak??
      >
      > pertanyaan saya selnjut nya, SPJ fungsional dsini mksd nya apakah sama dgn
      > SPJ
      > pada saat belanja dtrsbt di GU??
      > klo iya, brarti jurnal blnja tidak dicatat harian, ttp dicatat secara
      > kolektif
      > ktika SPJ utk GU disahkan ...apakah sprti itu??
      >
      > trus mslh nya, jika belanja baru boleh dicatat jika SPJ GU sdh disahkan,
      > pencatatan pajak nya sprti apa?? bkn kah pajak dicatat ketika di pungut dan
      > langsung disetor?? sdgkan belanja nya blum diGU (blm dipertanggungjawabkan)
      > ?
      >
      >
      > maaf sblm nya merepotkan :D
      >
      >
      >
      >
    • hafiz
      Selamat berkenalan pa Hayun Kusumah... kalau boleh tau bapak bekerja dimana? Untuk kasus penerimaan kas dari kasda oleh SKPD baik untuk belanja UP/GU/TU maupun
      Message 2 of 17 , Dec 22, 2010
      • 0 Attachment
        Selamat berkenalan pa Hayun Kusumah... kalau boleh tau bapak bekerja dimana?

        Untuk kasus penerimaan kas dari kasda oleh SKPD baik untuk belanja UP/GU/TU maupun belanja LS semuanya akan memperbesar nilai akun RK PPKD ( pada sisi Kredit) pada SKPD yang bersangkutan. Akun RK PPKD ini akan berkurang ( di debet) pada SKPD jika SKPD tersebut menyetor kas ke kasda dari pendapatan SKPD atau dari sisa uang persediaan akhir tahun.

        Pada SKPD yang tidak tidak memiliki pendapatan, maka RK PPKD ini hanya akan di debet pada akhir tahun saat adanya penyetoran sisa UP SKPD dan menutup defisit pada SKPD yang bersangkutan.

        Untuk lebih jelasnya, bapak bisa baca Buku saya "Penatausahaan dan akuntansi keuangan daerah untuk SKPD" terbitan salemba empat jakarta.

        Demikian yang dapat saya jelaskan. trims.
      • Hayun Kusumah
        Saya bekerja di salah satu kementerian dan cukup familiar dengan SAP di kementerian / lembaga khususnya tentang Sistem Akuntansi Instansi (SAI). Saya tertarik
        Message 3 of 17 , Dec 26, 2010
        • 0 Attachment
          Saya bekerja di salah satu kementerian dan cukup familiar dengan SAP
          di kementerian / lembaga khususnya tentang Sistem Akuntansi Instansi
          (SAI). Saya tertarik mengikuti perkembangan akuntansi keuangan daerah,
          walaupun kelihatan banyak kemiripan, tetapi kadang-kadang ada yang
          membingungkan.

          Sebagai perbandingan di SAI, anggap saja RK PPKD ini sama dengan akun
          "Uang Muka dari KPPN" di SAI. Akun ini akan bertambah atau dikredit
          jika mengajukan UP/TU dan akan berkurang atau didebet jika UP/TUP
          tersebut dipertanggungkan berupa GU Nihil / SSBP. Sedangkan untuk
          setoran pendapatan jika ada pendapatan di Bendahara Penerimaan,
          perlakuannya tersendiri, tidak jadi satu dengan perlakuan UP/TU/GU.

          Terima kasih atas penjelasannya, untuk saya pelajari lebih lanjut.

          On 12/22/10, hafiz <hafiztanjung@...> wrote:
          > Selamat berkenalan pa Hayun Kusumah... kalau boleh tau bapak bekerja dimana?
          >
          > Untuk kasus penerimaan kas dari kasda oleh SKPD baik untuk belanja UP/GU/TU
          > maupun belanja LS semuanya akan memperbesar nilai akun RK PPKD ( pada sisi
          > Kredit) pada SKPD yang bersangkutan. Akun RK PPKD ini akan berkurang ( di
          > debet) pada SKPD jika SKPD tersebut menyetor kas ke kasda dari pendapatan
          > SKPD atau dari sisa uang persediaan akhir tahun.
          >
          > Pada SKPD yang tidak tidak memiliki pendapatan, maka RK PPKD ini hanya akan
          > di debet pada akhir tahun saat adanya penyetoran sisa UP SKPD dan menutup
          > defisit pada SKPD yang bersangkutan.
          >
          > Untuk lebih jelasnya, bapak bisa baca Buku saya "Penatausahaan dan
          > akuntansi keuangan daerah untuk SKPD" terbitan salemba empat jakarta.
          >
          > Demikian yang dapat saya jelaskan. trims.
          >
          >
          >
          >
          >
          >
        • The Terminator
          Kalo pendapatan dokumen sumbernya juga berdasarkan SPJ fungsional ya pak? Berarti angka2 yg disajikan di LRA itu semua berdasarkan SPJ fungsional?
          Message 4 of 17 , Mar 31, 2011
          • 0 Attachment
            Kalo pendapatan dokumen sumbernya juga berdasarkan SPJ fungsional ya pak? Berarti angka2 yg disajikan di LRA itu semua berdasarkan SPJ fungsional?


            --- In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, "hafiz" <hafiztanjung@...> wrote:
            >
            > Sama2 atas ucapan terimakasihnya.
            >
            > Belanja melalui Kas di bendahara pengeluaran dokumen sumber untuk mencatatnya adalah SPJ fungsional tersebut, maka penjurnalannya pun dilakukan setelah SPJ tersebut disahkan, atau bisa dikatakan sekali sebulan. Namun pada bendahara pengeluaran (penatausahaan), belanja tersebut dicatat setiap hari sesuai tanggal dibelanjakan pada buku Pembantu Rincian Objek Belanja.
            >
            > Sedangkan pemotongan pajak dan penyetoran pajak, dokumen sumber untuk mencatatnya bukan SPJ Fungsional, tetapi bukti potong/pungut dan juga bukti setor. Jadi pencatatan jurnalnya bisa dilakukan pada saat ada bukti potong/pungut dan bukti setor tersebut.
            >
            > Demikian terimakasih.
            >
          • hafiz
            Kalo untuk pendapatan dokumen sumbernya pencatatannya adalah STS (surat tanda setoran) pendapatan baru bisa diakui setelah disetorkan ke kasda. thanks.
            Message 5 of 17 , Apr 12, 2011
            • 0 Attachment
              Kalo untuk pendapatan dokumen sumbernya pencatatannya adalah STS (surat tanda setoran) pendapatan baru bisa diakui setelah disetorkan ke kasda. thanks.




              --- In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, "The Terminator" <heru_77@...> wrote:
              >
              > Kalo pendapatan dokumen sumbernya juga berdasarkan SPJ fungsional ya pak? Berarti angka2 yg disajikan di LRA itu semua berdasarkan SPJ fungsional?
              >
              >
              > --- In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, "hafiz" <hafiztanjung@> wrote:
              > >
              > > Sama2 atas ucapan terimakasihnya.
              > >
              > > Belanja melalui Kas di bendahara pengeluaran dokumen sumber untuk mencatatnya adalah SPJ fungsional tersebut, maka penjurnalannya pun dilakukan setelah SPJ tersebut disahkan, atau bisa dikatakan sekali sebulan. Namun pada bendahara pengeluaran (penatausahaan), belanja tersebut dicatat setiap hari sesuai tanggal dibelanjakan pada buku Pembantu Rincian Objek Belanja.
              > >
              > > Sedangkan pemotongan pajak dan penyetoran pajak, dokumen sumber untuk mencatatnya bukan SPJ Fungsional, tetapi bukti potong/pungut dan juga bukti setor. Jadi pencatatan jurnalnya bisa dilakukan pada saat ada bukti potong/pungut dan bukti setor tersebut.
              > >
              > > Demikian terimakasih.
              > >
              >
            • Adriadi
              saya masih bingung antara R/K PPKD dengan UANG MUKA KERJA DARI BUD.... soalnya kalau Uang Muka Kerja sama dengan R/K PPKD ..kok dalam format Neraca SKPD yang
              Message 6 of 17 , Jun 14, 2011
              • 0 Attachment
                saya masih bingung antara R/K PPKD dengan UANG MUKA KERJA DARI BUD.... soalnya kalau Uang Muka Kerja sama dengan R/K PPKD ..kok dalam format Neraca SKPD yang terdapat dalam mpiran Permendagri 13 tahun 2006 Uang Muka kerja terdapat dalam bagian Ekuitas Dana Lancar dan kewajiban?
              • Vee_Nha
                ... ini jg mslh yg sama yg saya ingin tanyakan...slama ini saya juga bingung bagaimana akuntansi yang benar untuk UANG MUKA KERJA DARI BUD. Bagaimana
                Message 7 of 17 , Jul 20 8:35 PM
                • 0 Attachment
                  --- In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, "Adriadi" <adriadi.mevada@...> wrote:
                  >
                  > saya masih bingung antara R/K PPKD dengan UANG MUKA KERJA DARI BUD.... soalnya kalau Uang Muka Kerja sama dengan R/K PPKD ..kok dalam format Neraca SKPD yang terdapat dalam mpiran Permendagri 13 tahun 2006 Uang Muka kerja terdapat dalam bagian Ekuitas Dana Lancar dan kewajiban?
                  >

                  ini jg mslh yg sama yg saya ingin tanyakan...slama ini saya juga bingung bagaimana akuntansi yang benar untuk UANG MUKA KERJA DARI BUD.

                  Bagaimana seharusnya SKPD mencatat sisa UP (uang persediaan) atau uang muka kerja dari BUD ini di NERACA?? apakah masuk klasifikasi KEWAJIBAN LANCAR atau masuk klasifikasi EKUITAS DANA LANCAR? klo menurut pemahaman saya, karena sebagai SKPD, uang muka tersebut seharusnya masuk di kewajiban lancar, krn di akhir tahun uang muka tersebut dikembalikan ke BUD...

                  Tp slama ini saya melihat neraca audited slalu memposisikan nya di EKUITAS DANA LANCAR...apakah sperti itu krn NEraca Audited mrpakn Neraca PPKD?? atau memang SKPD jg harus mencatat sisa UP/Uang muka tersebut di EKUITAS DANA LANCAR???

                  Mohon penjelasannya pak...
                • hafiz
                  Salam untuk Sdr/i Saya ga tau juga bagaimana di pemda sdr/i mencatat akuntansinya. Namun saya coba berikan penjelasan secara sederhana melalui forum ini, Untuk
                  Message 8 of 17 , Jan 24, 2012
                  • 0 Attachment
                    Salam untuk Sdr/i
                    Saya ga tau juga bagaimana di pemda sdr/i mencatat akuntansinya.
                    Namun saya coba berikan penjelasan secara sederhana melalui forum ini, Untuk lebih paham silahkan baca buku Penatausahaan dan Akuntansi Keuangan Daerah buku 1 dan 2, yaitu :

                    1. RK PPKD merupakan akun resiprokal (timbal balik) yang ada pada setiap SKPD yang berpasangan dengan RK SKPD yang ada pada PPKD

                    2. RK PPKD ini akan dicatat jika ada transfer dana dari BUD kepada SKPD misal Rp. 1000.000. untuk UP, jurnal yang dibuat :

                    D. Kas di bendahara pengeluaran 1.000.000.
                    K. RK PPKD 1.000.000.

                    Transfer Belanja Gagi (LS) Rp. 5.000.000 dari BUD

                    D. Belanja Gaji 5.000.000.
                    K. RK PPKD 5.000.000.

                    pada PPKD akan dibuat jurnal sbb:

                    D. RK SKPD A 1.000.000.
                    K. Kas di Kasda 1.000.000.

                    Untuk LS
                    D. RK SKPD A 5.000.000.
                    K. Kas di Kasda 5.000.000.

                    3. Jika pada akhir tahun ada sisa kas pada bendahara pengeluaran yang belum sempat disetorkan kepada kas daerah, maka akun RK PPKD ini tidak akan nol, akun ini akan bersaldo sama dengan kas di bendahara pengeluaran.

                    4. Dalam Neraca SKPD akun RK PPKD ini dilaporkan sebagai Ekuitas Dana, pada saat dilakukan konsolidasi laporan keuangan pada PPKD untuk membuat neraca pemda, akun resiprokal baik RK PPKD maupun RK SKPD dieliminasi, sehingga pada neraca pemda tidak akan kelihatan kedua akun ini.

                    5. Pada buku lain RK PPKD ini ada yang menyebutnya sebagai Uang Muka Kerja dari BUD, bagaimana teknik penjurnalannya saya kurang mengerti.

                    Demikian, semoga tidak bingung, dan semoda sdr/i mau mempelajarai buku yang saya sebutkan diatas secara cermat dan menyeluruh.



                    --- In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, "Vee_Nha" <vee_nha@...> wrote:
                    >
                    >
                    >
                    > --- In konsultasi_akuntansi_keuangan_daerah@yahoogroups.com, "Adriadi" <adriadi.mevada@> wrote:
                    > >
                    > > saya masih bingung antara R/K PPKD dengan UANG MUKA KERJA DARI BUD.... soalnya kalau Uang Muka Kerja sama dengan R/K PPKD ..kok dalam format Neraca SKPD yang terdapat dalam mpiran Permendagri 13 tahun 2006 Uang Muka kerja terdapat dalam bagian Ekuitas Dana Lancar dan kewajiban?
                    > >
                    >
                    > ini jg mslh yg sama yg saya ingin tanyakan...slama ini saya juga bingung bagaimana akuntansi yang benar untuk UANG MUKA KERJA DARI BUD.
                    >
                    > Bagaimana seharusnya SKPD mencatat sisa UP (uang persediaan) atau uang muka kerja dari BUD ini di NERACA?? apakah masuk klasifikasi KEWAJIBAN LANCAR atau masuk klasifikasi EKUITAS DANA LANCAR? klo menurut pemahaman saya, karena sebagai SKPD, uang muka tersebut seharusnya masuk di kewajiban lancar, krn di akhir tahun uang muka tersebut dikembalikan ke BUD...
                    >
                    > Tp slama ini saya melihat neraca audited slalu memposisikan nya di EKUITAS DANA LANCAR...apakah sperti itu krn NEraca Audited mrpakn Neraca PPKD?? atau memang SKPD jg harus mencatat sisa UP/Uang muka tersebut di EKUITAS DANA LANCAR???
                    >
                    > Mohon penjelasannya pak...
                    >
                  Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.