Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [komik_indonesia] Caroq beraksi di Digital Studio - Oleh-oleh dari Comic power edisi 1

Expand Messages
  • bud zul
    wah mantap akhirnya Caroq turun gunung juga... sip mudah2an gak lama lagi petarungan dengan si jari setan?? segera terulang... :) ... [Non-text portions of
    Message 1 of 7 , Apr 10 6:06 PM
    • 0 Attachment
      wah mantap akhirnya Caroq turun gunung juga...
      sip mudah2an gak lama lagi petarungan dengan
      si jari setan?? segera terulang... :)

      On 4/10/07, masyarakat komik <masyarakatkomik@...> wrote:
      >
      > CAROQ beraksi di Digital Studio
      >
      > Oleh-oleh dari Comic Power edisi 1
      > How to Make Comic The Thoriq Way
      > Digital Studio Blok M, Sabtu 7 April 2007
      >
      > Sebagai tindak lanjut dari acara Comic Weekend di Mal Ciputra tengah Maret
      > lalu, mki bekerjasama dengan Digital Studio dan Starfly Comic Lounge
      > mengadakan kegiatan workshop komik sehari dengan tajuk Comic Power.
      >
      > Comic Power edisi 1 kali ini menampilkan Ahmad Thoriq, komikus Caroq- (QN)
      > yang pada acara Comic Weekend lalu 'ditagih' fans-nya untuk berbagi ilmu
      > Caroqnya. Kini Thoriq turun gunung, membawakan kiat-kiat membuat karakter
      > yang 'keren' dan adegan aksi yang 'dahsyat' dalam komik.
      >
      > Setelah acara dibuka oleh Mas Beni dari Digital Studio, Thoriq langsung
      > mengejutkan peserta saat mengeluarkan laptopnya yang seperti habis
      > ditembaki, penuh dengan efek lubang pelurunya.
      >
      > Thoriq bikin komik Batman
      > Thoriq kemudian menyajikan presentasi karya komik terkininya, yaitu komik
      > Batman yang 'full-pencil, full-arsir, dan full-realistic'. Pada pandangan
      > pertama, ini seperti adaptasi film Batman Begins. Begitu dilihat detail per
      > panelnya, Batman ini jadi 'Indonesia banget' .Ternyata Batman bisa berpose
      > 'nongkrong' atau 'meper' tangannya yang basah ke jubahnya hingga buang tisu
      > sembarangan dan dikejar-kejar wartawan infotainment. Menyenangkan.
      >
      > Dari cipratan tinta jadi komik
      > Setelah presentasi, dimulailah demo proses berkarya ala Thoriq.
      > Rupanya Thoriq memulai proses berkarya dengan mencari inspirasi melalui
      > cipratan-cipratan tinta. Di sini kita bisa melihat proses 'sequential art',
      > Jaka Tarub yang diawali dengan cipratan dan tekstur tinta secara spontan di
      > atas kertas. Cipratan dan tekstur yang tercipta tanpa sengaja itu lalu
      > dirangkai menjadi sebuah komposisi gambar dengan pencahayaan ekstrem
      > hitam-putih (seperti Sin City) yang tak terduga. Ini seperti proses tes
      > psikologi Roscharch, menginterpretasi gambar dari jejak tinta di lipatan
      > kertas.
      > Seperti juga menebak bentuk awan atau membayangkan konstelasi bintang
      > menjadi bentuk-bentuk rasi bintang. Proses yang sangat imajinatif.
      >
      > The Origin of Caroq
      > Belum lengkap Thoriq kalau tidak bicara Caroq. Seperti judul workshop ini,
      > Thoriq membagi pengalaman proses kreasi Caroq. Caroq ternyata melewati
      > evolusi yang cukup panjang. Caroq pertama kali tampil dengan rambut pendek,
      > kostum asli Madura dan clurit bulan sabit. Jauh dari tampilan Caroq terakhir
      > dengan rambut berkibar, kostum spandex dan clurit panjangnya. Pada awalnya
      > rancangan kostum terakhir ini sempat dibilang mirip dengan kostum hero
      > Amrik, US Agent. Tapi dengan kedalaman karakter Maduranya, akhirnya Caroq
      > berkibar di pentas komik lokal.
      >
      > Tidak hanya secara visual, karakter Caroq diperkuat dengan daftar
      > 'attitude'-yang lengkap untuk berbagai situasi. Biasa dikenal dengan 'do's &
      > don't's'.
      > Inilah yang membuat karakter Caroq konsisten. Tidak hanya itu, Caroq juga
      > punya semacam 'paket nilai' atau 'panduan moral' (apapun istilahnya) yang
      > berpusat pada nilai 'mempertahankan harga diri'.
      >
      > Caroq bermasalah
      > Salah satu kunci untuk membuat sebuah karakter menjadi kuat adalah
      > masalah. Karakter menjadi kuat, bukan karena ia bisa mengatasi segala
      > masalah dengan mudah. Sebaliknya, karakter menjadi kuat justru ketika ia
      > menghadapi situasi jalan buntu di mana semua kekuatannya tidak bisa
      > digunakan dan ia ada pada kondisi dengan segala kelemahannya.
      > Di sinilah, karakter asli dan jati diri si tokoh akan muncul.
      > Formula ini pula yang belakangan marak ditemui dalam komik-komik 'event'
      > terutama di negeri Paman Sam sana. Sebut saja Identity Crisisnya DC dan
      > Civil War-nya Marvel. Hal yang sama pulalah yang membuat Superman
      > abadiļæ½justru karena kematiannya.
      >
      > Dari Masalah ke Aksi
      > Bahasa komik adalah bahasa aksi, dan kekuatan karakter harus dibuktikan
      > dengan aksinya dalam komik. Aksi di sini tidak selamanya dalam bentuk aksi
      > laga. Aksi dimaksud adalah bagaimana reaksi si tokoh terhadap situasi. Dalam
      > workshop ini, Thoriq bersama Oyas dan Wahyu membimbing peserta untuk
      > menangkap, merangkai dan merumuskan gagasan dari sekumpulan cetusan-setusan
      > tak berarti hingga menerjemahkannya ke dalam bahasa aksi komik. Waktu 6 jam
      > terasa tak cukup. Tapi tentu saja aksi belum selesai. Masih ada Comic Power
      > edisi 2 di akhir bulan April ini, bersamaan dengan pelaksanaan Comic Weekend
      > 2 : Comicinema.
      >
      > mki
      >
      >
      > ---------------------------------
      > We won't tell. Get more on shows you hate to love
      > (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
      >
      > [Non-text portions of this message have been removed]
      >
      >
      >


      [Non-text portions of this message have been removed]
    • Rieza FMuliawan
      wah keren juga acaranya. kenapa tidak ada klinik membuat cerita komik ala thoriq ? saya sedang membaca buku alan moore, dan pada beberapa bagian saya
      Message 2 of 7 , Apr 12 10:07 AM
      • 0 Attachment
        wah keren juga acaranya.

        kenapa tidak ada klinik membuat cerita komik ala thoriq ?

        saya sedang membaca buku alan moore, dan pada beberapa bagian saya
        sependapat. merujuk pada pendapatnya soal bermunculan buku-buku dengan
        tema ala "how to draw ...?" .., "how to make ..." , dll.

        menurut pendapatnya, kita tidak bisa memaksakan/mengajarkan gaya
        gambar kita (atau siapa saja) kepada orang (calon artis) yang berbeda
        generasi. dalam hal ini adalah artis komik.

        apa kita akan memilih untuk punya 50 orang artis komik baru yang
        menggambar sama baiknya dengan teguh santosa, ataukah kita memilih
        untuk punya satu saja artis baru yang mengarang cerita komik sebaik
        teguh santosa ?

        salam.
      • karna
        ... memang tidak bisa memaksakan, tetapi bisa mempengaruhi. bagaimana mengatasi masalah peniruan gaya manga dalam teknik ilustrasi banyak anak2 sekarang?
        Message 3 of 7 , Apr 12 4:33 PM
        • 0 Attachment
          --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "Rieza FMuliawan"
          <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:
          >
          >
          > wah keren juga acaranya.
          >
          > kenapa tidak ada klinik membuat cerita komik ala thoriq ?
          >
          > saya sedang membaca buku alan moore, dan pada beberapa bagian saya
          > sependapat. merujuk pada pendapatnya soal bermunculan buku-buku dengan
          > tema ala "how to draw ...?" .., "how to make ..." , dll.
          >
          > menurut pendapatnya, kita tidak bisa memaksakan/mengajarkan gaya
          > gambar kita (atau siapa saja) kepada orang (calon artis) yang berbeda
          > generasi. dalam hal ini adalah artis komik.
          ------------------

          memang tidak bisa memaksakan, tetapi bisa mempengaruhi. bagaimana
          mengatasi masalah peniruan gaya manga dalam teknik ilustrasi banyak
          anak2 sekarang? Mereka tidak dipaksa, dan tidak bisa dipaksa utk
          merubah gaya yg mereka sukai. Apalagi untuk memaksanya menciptakan
          gaya sendiri.
        • Rieza FMuliawan
          saya harus periksa lagi bukunya, mungkin penggunaan kata memaksa adalah terjemahan yang kurang tepat. tapi konteksnya adalah, bukan pada pemaksaan pada gaya
          Message 4 of 7 , Apr 12 10:27 PM
          • 0 Attachment
            saya harus periksa lagi bukunya, mungkin penggunaan kata "memaksa"
            adalah terjemahan yang kurang tepat.

            tapi konteksnya adalah, bukan pada pemaksaan pada gaya menggambar,
            tapi penekanan pada pembuatan cerita komik yang menurut alan moore
            harus di berikan perhatian, dibandingkan hanya kemudian bisa
            menggambar ( bisa menggambar ala marvel, bisa menggambar ala thoriq,
            bisa menggambar ala teguh santosa, dll .)

            sekali lagi, menurut saya seharusnya kita tidak mempermasalahkan
            apakah anak anak sekarang mau menggambar illustrasi gaya manga, gaya
            marvel, gaya hasmi, dll ... , ya terserah mereka saja.





            --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "karna" <karnamustaqim@...>
            wrote:
            >
            > --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "Rieza FMuliawan"
            > <xiao_bin_yoe_hoen@> wrote:
            > >

            > ------------------
            >
            > memang tidak bisa memaksakan, tetapi bisa mempengaruhi. bagaimana
            > mengatasi masalah peniruan gaya manga dalam teknik ilustrasi banyak
            > anak2 sekarang? Mereka tidak dipaksa, dan tidak bisa dipaksa utk
            > merubah gaya yg mereka sukai. Apalagi untuk memaksanya menciptakan
            > gaya sendiri.
            >
          • oyasujiwo
            ... make di sini tidak cuma draw, tapi juga aspek invisible dlm komik berhubung thoriq tidak secara khusus menulis cerita, maka penekanan workshop ini pada
            Message 5 of 7 , Apr 13 9:08 AM
            • 0 Attachment
              --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "Rieza
              FMuliawan" <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:
              >
              >
              > wah keren juga acaranya.
              >
              > kenapa tidak ada klinik membuat cerita komik ala thoriq ?

              >>>
              make di sini tidak cuma draw,
              tapi juga aspek 'invisible' dlm komik

              berhubung thoriq tidak secara khusus menulis cerita,
              maka penekanan workshop ini pada penciptaan karakter
              dan membuat adegan aksi...ni die ni 'power' nya thoriq

              kalau untuk cerita,
              mungkin 'how to make/write comic story the djair way'
              bisa POL abis tuch!

              next,
              comic power edisi 2
              '10 cara Pe-De-Ka-Te dengan Komik'
              workshop 2 hari aplikasi komik dalam pergaulan
              27-28 April mendatang

              thx

              >
              > saya sedang membaca buku alan moore, dan pada beberapa bagian saya
              > sependapat. merujuk pada pendapatnya soal bermunculan buku-buku
              dengan
              > tema ala "how to draw ...?" .., "how to make ..." , dll.
              > menurut pendapatnya, kita tidak bisa memaksakan/mengajarkan gaya
              > gambar kita (atau siapa saja) kepada orang (calon artis) yang
              berbeda
              > generasi. dalam hal ini adalah artis komik.
              >
              > apa kita akan memilih untuk punya 50 orang artis komik baru yang
              > menggambar sama baiknya dengan teguh santosa, ataukah kita memilih
              > untuk punya satu saja artis baru yang mengarang cerita komik sebaik
              > teguh santosa ?
              >
              > salam.
              >
            • karna
              kesulitannya disini bila dibandingkan dgn keadaan dan kondisi tempat alan moore, barangkali adalah disana mereka mengasingkan (dlm arti positip) antara penulis
              Message 6 of 7 , Apr 14 2:34 AM
              • 0 Attachment
                kesulitannya disini bila dibandingkan dgn keadaan dan kondisi tempat
                alan moore, barangkali adalah disana mereka mengasingkan (dlm arti
                positip) antara penulis cerita komik (yg tentu berbeda dgn menulis
                cerita utk novel teks semata) dan pelukis komiknya (termasuk
                didalamnya deretan inker, penciller, colorist, dkk).
                Mereka memisahkan berdasarkan pekerjaan yg akhirnya membentuk
                pekerjaan atau profesi masing2.
                Disini, kita masih mencari2 format kerja yg tepat dan sesuai dengan
                mentalitas dan kemampuan produksi pekerja komik tempatan. Sejauh yg
                bisa kita dapati, hanya mereka yg sudah terjebak (dlm arti positip)
                dalam dunia kerja nyata, barulah memisahkan antara yg bikin komik dan
                bikin cerita komik.
                Sementara itu ketika belajar menggambar komik, biasanya meski dgn
                kemampuan terbatas, antara cerita dan gambar dilakukan bersama-sama,
                hampir tidak terpisahkan. Yg biasa dgn gambar ala superhero spt Thoriq
                biasanya karena imbas bacaan komik2 superhero dan turunan2nya. Yg
                biasa gambar drama cinta ala manga spt shinzu arisa (komikus indonesia
                yg ber-nick name jepang) dkk adalah karena imbas bacaan komik2 jepang
                dan turunan2nya.
                sementara komik2 eropa yg mempunyai jelajah visual yg luas mempunyai
                imbas kepada pembacanya utk lebih peduli dgn cerita, tetapi itupun
                bukan karena 'cerita' semata, tetapi karena penjelajahan visualnya
                mempengaruhi cara pikir komikus dalam membuat cerita.

                Lalu, tertinggal satu pertanyaan untuk Caroq, apakah ia adalah sebuah
                simbolik 'mengindonesia-kan' karakter superhero atau
                meng-superhero-kan karakter indonesia?

                --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "Rieza FMuliawan"
                <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:

                > tapi konteksnya adalah, bukan pada pemaksaan pada gaya menggambar,
                > tapi penekanan pada pembuatan cerita komik yang menurut alan moore
                > harus di berikan perhatian, dibandingkan hanya kemudian bisa
                > menggambar ( bisa menggambar ala marvel, bisa menggambar ala thoriq,
                > bisa menggambar ala teguh santosa, dll .)
              Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.