Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Dari acara diskusi komik di Aksara Bookstore, 22 Des 2006

Expand Messages
  • Sandy Jatmiko
    Sebenarnya saya sudah mau pergi sejenak untuk liburan akhir tahun dgn keluarga, namun dimilis ada undangan acara diskusi komik di toko buku Aksara hari Jumat
    Message 1 of 1 , Jan 2, 2007
      Sebenarnya saya sudah mau pergi sejenak untuk liburan akhir tahun dgn keluarga, namun dimilis ada undangan acara diskusi komik di toko buku Aksara hari Jumat malam tgl 22 Des 2006. Karena topiknya cukup menarik dan kebetulan saya juga ada waktu, saya memutuskan untuk datang walaupun esoknya, Sabtu pagi saya sudah harus “terbang”.

      Sudah lama saya tidak datang kesana, terakhir saya kesana bulan Agustus yl. Saya tiba disana sekitar pukul lima sore lebih seperempat. Cukup lama juga saya menunggu acara dimulai. Beberapa saat kemudian kursi-kursi mulai disusun dan acara di buka oleh mas Beng Rahadian. Mas Hikmat sendiri, yg jadi host malam itu datang terlambat. Badannya basah kehujanan. Pembicaranya malam itu adalah Pak Radhar Panca Dahana, penulis cerita komik Mat Jagung di koran Tempo, dan mas Peri Umar Farouk dari Justice for the poor project. Saat itu peserta belum banyak yang datang, maklum hujan sudah turun, beberapa teman ada yg terhambat oleh hujan tapi perlahan-lahan teman-teman mulai datang dan meramaikan acara itu. Diskusi berjalan lancar, teman-teman duduk dengan manis di kursi-kursi yg tersusun rapi. Mirip anak sekolah! Tidak ada lagi teman-teman yg berdiri bergerombol di pinggir panggung yg bikin berisik spt beberapa waktu yl. Disitu saya juga berjumpa dengan mas Diyan Bijac, yg
      menggambar komik Mat Jagung.

      Diskusi pun dimulai dgn memperkenalkan program Justice for the poor Project oleh mas Peri Umar. Ini program yg disponsori oleh Bank Dunia sejak tahun 2002. Mereka membuat komik yang berjudul “Ketika Laba-laba Hendak Menjaring Elang” untuk menyampaikan pesan-pesannya yaitu perlawanan terhadap korupsi. Komik itu dibuat dengan gaya yg comical (lucu) dengan materi case study ttg korupsi di masyarakat. Menurutnya metode ini cukup berhasil, para target audience senang membaca komik itu daripada membaca text book yg tebal2 ttg pemberantasan korupsi. Komik itu dibagi2kan secara gratis kepada seluruh peserta diskusi beserta komik2 lainnya dari KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), sedangkan pak Radhar menyampaikan hal yg cukup kontroversial. Dia mengatakan bahwa korupsi yg merusak itu ternyata juga menyimpan potensi yg positif yg dapat dimanfaatkan, merubah korupsi yg destruktif (merusak) menjadi korupsi yg konstruktif (membangun). Hm….saya benar2 tdk setuju dgn pendapat ini. Bagi
      saya, korupsi hukumnya haram, apapun bentuknya, dan harus diberantas sampai habis!

      Diskusi mulai seru ketika floor diberi kesempatan untuk bertanya. Tiga orang penanya (satu orang komikus, satu orang dari Koran Tempo dan satunya lagi pengunjung biasa) kurang lebih intinya sama menyarankan komik2 spt itu masuk dalam jalur mainstream dan tidak dibagi2kan secara gratis spt itu. Komik2 itu hendaknya tidak dalam bentuk “harfiah” spt itu tapi kalau bisa dibuat cerita yg menarik ttg korupsi utk menjangkau pembaca komik. Saya memang belum membaca komik itu tapi saya tidak tertarik untuk membaca komik itu karena di komik itu jelas-jelas tertulis pesannya “perlawanan terhadap korupsi” dan seolah-olah “menggurui” pembacanya. Sepertinya ini bukan komik. Terasa sekali pesan-pesan yg ingin disampaikannya, begitu gamblang!. Padahal saya membaca komik bukan utk pesan-pesan berat tapi utk hiburan. Memang komik itu tampaknya tidak ditujukan kepada pembaca komik tapi kepada masyarakat di tingkat pemerintahan paling bawah spt kecamatan/desa karena pembaca komik sejati
      sepertinya tidak mau membaca komik spt itu. Persis spt kesannya mas Bayuindie ttg komik itu. Memang, pesan yg berat semacam ini, jika disajikan dalam bentuk cerita komik yang menarik barangkali dapat menjangkau para pembaca komik namun mas Peri Umar berpendapat bahwa pembaca komik di Indonesia lebih suka membaca komik luar negeri terutama komik Jepang dan tidak banyak orang yang membaca komik Indonesia (dia mencontohkan anaknya yg lebih suka baca komik Jepang!). Dia pun mengakui bahwa dia bukan praktisi komik tapi researcher dan komik itu sudah maksimal yang mereka bisa buat dengan segala kekurangannya. Mas Hikmat berkomentar mengapa tidak kita coba saja semuanya, mungkin akan membantu untuk menjangkau kalangan yg lebih luas.

      Kemudian pertanyaan tentang seberapa jauh efektifitas komik utk memberantas korupsi? Pak Radhar dengan tegas mengakatakan “daya tonjok”-nya kurang dan tidak mungkin memberantas korupsi hanya dengan komik sedangkan mas Peri mengatakan bahwa target komik itu adalah pembelajaran ttg perlawanan terhadap korupsi kepada masyarakat luas dan mendorong mereka untuk melakukan tindakan pencegahan dan pemberantasan korupsi sejak dini. Jadi memang perlu ada follow up-nya dari komik2 itu.

      Sebenarnya topik malam itu cukup menarik. Banyak hal-hal yg bisa digali dari diskusi itu tapi malam itu diskusi lebih banyak membahas tentang programnya mas Peri Umar dari Justice for the poor project, sedangkan komik Mat Jagung (Jaksa Tanggung)-nya pak Radhar malahan tidak dibahas sama sekali padahal malam itu mas Diyan Bijac, yg menggambar komik itu, juga hadir disitu. Barangkali mungkin waktunya terlalu sempit! Waktu memang terasa berlari dengan cepat dan mas Hikmat pun segera mengakhiri acara diskusi itu (perasaan lebih lama nunggunya ya daripada diskusinya he..he..he).

      Acara ditutup dengan pembagian penghargaan oleh Komunitas Komik KAMBODJA Solo kepada pihak-pihak yg berjasa terhadap perkembangan komik di Jakarta. Komunitas ini di bentuk awal tahun 2005 dan dibubarkan pada akhir tahun 2006 (wah sayang ya!). Klabkomik Aksara mewakilinya untuk menyerahkan penghargaan itu. Mereka yg menerima penghargaan itu adalah mas Hikmat, mas Beng, mas Suryo Nugroho alias Injun, mas Diyan Bijac, majalah Sequen, majalah Wizard Indonesia dan Masyarakat Komik Indonesia (MKI).

      Kalau mas Hikmat dan mas Beng, pentolannya Akademi Samali, dapat penghargaan itu sih udah wajar tapi kenapa sih institusinya Akademi Samali malahan tidak dapat penghargaan? Apakah mereka selama ini berkiprah atas nama mereka sendiri dan tidak ada kaitannya dgn Akademi Samali? Tidak cukupkah Akademi Samali perannya terhadap komik Indonesia? Wah..gak tahu deh saya, ini sih terserah yg ngasih penghargaan.

      Kemudian ketika penghargaan diberikan kepada MKI, tidak ada satu pun teman-teman dari MKI yg nongol. Lho pada kemana sih mereka malam itu, tidak satu pun tampak batang hidungnya? Akhirnya mas Bayuindie sambil malu-malu (setelah didorong-dorong oleh teman-teman yg lain) maju ke depan utk menerima penghargaan itu mewakili MKI. Belakangan saya baru tahu kalau mas Oyas dan mas Ian dari MKI juga diundang datang kesana utk menerima penghargaan itu tapi mereka terjebak kemacetan di dalam perjalanan menuju kesana dan baru tiba di Aksara jam sepuluh malam lebih ketika acara sudah lama bubar!

      Ketika penghargaan di berikan kepada majalah Sequen, pak John de Rantau, sutradara film Denias, maju ke muka mewakili majalah itu. Soal penghargaan itu saya sih merasa wajar saja tapi soal komentar bahwa majalah itu “100% Indonesia” membuat saya jadi bertanya-tanya. Benarkah majalah itu 100% Indonesia? Jika teman-teman membaca majalah Sequen, tentu mengira bahwa majalah ini mengkhususkan diri dengan komik Indonesia (cergam) dan segala sesuatunya yg berkaitan dengan komik Indonesia tapi kalau teman-teman cukup jeli, di majalah Sequen ada rubrik Komik Alternatif. Selama 3 edisi majalah Sequen itu, rubrik itu diisi oleh mas Rieza. Isinya tentang komik-komik alternatif dari luar negeri dan tidak ada kaitannya dengan komik Indonesia. Terasa berbeda banget dengan artikel2 yg lain. Jadi betulkah majalah Sequen ini 100% Indonesia?. ….gak tau akh gelap!

      Sebetulnya saya masih ingin ngobrol2 dengan teman-teman terutama kepada mas Peri Umar. Banyak hal-hal yang masih ingin saya diskusikan ttg proyeknya Justice for the poor project. Mas Hikmat berbisik kepada saya kalau kita bisa ngobrol2 di belakang, tapi malam itu saya harus buru-buru pulang karena esok paginya saya harus pergi. Kapan-kapan saya khan bisa menghubungi mereka lagi. Tak lama kemudian saya pun pulang menyusuri jalan-jalan di Jakarta yg basah oleh hujan.

      Salam,
      Sandy

      __________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
      http://mail.yahoo.com

      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.