Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[klipping] Komik, Dunia "Underground" yang Padat Karya

Expand Messages
  • tita 91
    Membaca artikel KOMPAS ini, saya jadi teringat animasi Pandawa Lima yg kabarnya ditayangkan di Indonesia setiap Sabtu pagi. Apa kabar ya seri itu.. mudah2an
    Message 1 of 1 , Sep 30, 2006
    • 0 Attachment
      Membaca artikel KOMPAS ini, saya jadi teringat animasi Pandawa Lima yg
      kabarnya ditayangkan di Indonesia setiap Sabtu pagi. Apa kabar ya seri
      itu.. mudah2an masih berlanjut terus.

      Tita
      http://esduren.multiply.com


      KOMPAS Minggu, 1 Oktober 2006
      http://kompas.com/kompas-cetak/0610/01/kehidupan/2998792.htm

      Komik, Dunia "Underground" yang Padat Karya
      Edna C Pattisina dan Susi Ivvaty


      Inilah dunia komik dan animasi, dunia yang sering dianggap dunia
      "underground", "main-main". Hanya saja, dunia komik/animasi kini telah
      berkembang sedemikian rupa. Lewat jaringan hubungan dunia maya, dunia
      imajinasi ini juga menghasilkan uang cukup besar.

      Kalau berbicara soal jumlah uang, angka yang dihasilkan "dunia yang
      main-main" ini bisa jauh lebih tinggi dari yang mungkin diduga orang.
      Di layar lebar, ada film Shrek 2 yang menurut boxofficeguru.com
      mendulang pemasukan 915 juta dollar AS dari pemutaran di seluruh
      dunia. Sementara di dunia komik, diperkirakan penjualan 300 komik
      terlaku di AS menghasilkan uang rata-rata 221,73 juta dollar AS per
      bulan. Ini versi Diamond North America.

      Dunia komik dan animasi memang tanpa terasa semakin melingkupi dunia
      kita. Film-film animasi dua dimensi (2D) seperti Doraemon sudah
      sepuluh tahun ini masih merajai layar televisi. Sementara pada saat
      yang sama, animasi tiga dimensi (3D) berlomba-lomba tampil dengan
      teknik dan cerita terbaru. "Pasar pembaca komik bertambah terus
      dibandingkan 10 tahun yang lalu sehingga walau sekarang juga banyak
      manga (ini sebutan untuk komik JepangĀ—Red), produsen AS dan Eropa
      tidak takut karena sudah punya tradisi komik yang mapan," kata
      Christiawan Lie, komikus yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2
      komiknya di AS.

      Komik tak lagi bisa dipandang sebagai gambar dengan balon dialog yang
      sederhana. Cabang pengisi waktu senggang ini telah menjadi cabang seni
      dan ekonomi tersendiri. Alvanov Pazzlavainne selaku Ketua Pusat Studi
      Kajian Komik Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Bandung
      bercerita, di AS yang berkembang adalah graphic novel seperti
      karya-karya Neil Gaiman, sementara di Eropa belum beranjak dari apa
      yang disebut "eksplorasi visual" seperti tercermin dalam komik Sin City.

      Merambah Indonesia

      Hebohnya dunia komik ini merambah sampai ke Indonesia. Di sini
      diam-diam, kita tidak sekadar menjadi konsumen saja, tetapi ada
      beberapa produk komik atau animasi yang sebagian dikerjakan di sini.
      Biasanya, para produsen besar yang akan mencari, komikus yang gayanya
      ia sukai atau cocok dengan konsep komiknya. Di situs internet seperti
      www.devianart.com, www.digitalwebbing.com, atau penciljack.com, para
      komikus memajang portofolio mereka. "Bisa juga gaul di forum-forum
      komik, masukin link ke website, moga-moga ada orang penting yang
      mampir," cerita Christiawan Lie tentang kiat masuk ke industri sebagai
      freelance.

      Di dunia internet yang egaliter itu, honor para komikus di belahan
      mana pun di dunia relatif sama untuk spesifikasi yang sama. Chris
      memberikan rentang 35 dollar AS untuk penciller pemula dan 50-80
      dollar AS untuk yang menengah. Tarif mereka dibayar per halaman.
      Biasanya kontrak diberikan per buku atau per mini seri, yaitu sekitar
      empat-lima buku. "Batas atas honornya sih tidak ada, he-he-he," tambah
      Chris.

      Menurut Alva, umumnya komikus Indonesia berada pada posisi penciller
      yang menggambar sketsa, inker yang memberikan tinta, dan colourist
      sebagai pewarna. Bagian ini adalah bagian pembuatan, setelah konsep
      dan ceritanya dibuat di negara asalnya. "Di AS profesi yang dianggap
      paling tinggi adalah penciller dan writer-nya," cerita Alva.

      Oyasujiwo selaku Ketua Masyarakat Komik Indonesia (MKI) membenarkan
      hal ini. Namun, ia menambahkan ada juga komikus Indonesia yang
      mendapat proyek penuh, seperti saat pembuatan komik Sube The Series
      yang naskah dan storyboard-nya dikerjakan Didi Sumardi dari Indonesia.

      Para komikus Indonesia umumnya memang masih sebatas mengerjakan
      hal-hal yang bersifat teknisĀ—sebuah kegiatan "padat karya".

      "Bisa jadi karena kita memang dianggap belum mampu, dan juga karena
      belum ada wadah untuk melihat kapasitas atau kompetensi menulis," kata
      Alva mengenai masalah itu. Sementara Chris melihat adanya cara
      bertutur yang berbeda antara komik Jepang, Eropa, dan AS. Selain itu,
      prosesnya memang tidak semudah itu. "Kita harus punya agen yang jago
      untuk menjual karya kita keluar," kata Chris.

      Padat modal

      Menggeliatnya para komikus tidak serta-merta lalu menulari dunia
      animasi. Berbeda dengan dunia komik yang masih cukup bergantung pada
      tenaga manusia, dunia animasi lebih padat modal. Oyasujiwo
      berpendapat, hal ini disebabkan komik yang menjadi pemicu lahirnya
      industri animasi tertahan oleh perkembangan teknologi yang tidak bisa
      mengejar perkembangan teknologi animasi di luar negeri. "Animasi itu
      industri yang butuh teknologi, kita masih kalah bersaing dengan
      negara-negara Asia lain, terutama China, padahal banyak yang
      berbakat," kata Denny A Djoenaid, Ketua Asosiasi Industri Animasi &
      Konten Indonesia (Ainaki).

      Denny bercerita sebenarnya tren melimpahkan pekerjaan-pekerjaan teknis
      ke negara-negara luar produsen demi efisiensi biaya sudah lama
      terjadi. AS misalnya sudah memberikan proyek outsourcing serial Bart
      Simpson ke Korea sejak bertahun-tahun yang lalu. Saat ini China
      memegang banyak proyek dari AS.

      "Dulu, beberapa tahun lalu, kebanyakan yang datang ke sini itu
      broker," cerita Denny yang sudah hampir 30 tahun menekuni animasi 2D.
      Broker ini, menurut Denny, biasanya datang dengan membawa key drawing,
      yaitu gambar-gambar yang menjadi patokan. Misalnya satu karakter
      menggerakkan tangannya, maka yang disebut key drawing adalah posisi
      awal dan akhir dari gerakan itu. Gambar-gambar di antaranya yang
      menunjukkan gerakan disebut gambar-gambar in between. "Kalau film
      animasi AS itu, satu detik kira-kira 24 gambar," ceritanya.

      Salah satu perusahaan Indonesia yang berhasil eksis di dunia animasi
      3D adalah Castle Production. Perusahaan ini menjadi outsource sejumlah
      film animasi dari Sri Lanka, India, Malaysia, Thailand, Inggris,
      hingga AS.

      General Manager Castle Maria Thini mengatakan, sejak berdiri tahun
      1996, perusahaannya berhasil menggaet kepercayaan dari pihak asing.
      Mulai menggarap animasi tahun 1996, pihaknya pernah menggarap 13
      episode film animasi 3D Carlos Caterpillar produksi Sunny Side-Up AS.
      "Untuk film ini kami mengerjakan hampir semuanya, kecuali karakter dan
      skrip. Untuk karakter, mereka memberi gambar kasar yang kami
      tambah-tambahi agar kelihatan lebih baik," cerita Maria yang
      menyebutkan angka puluhan ribu dollar AS untuk satu episode.

      Ainaki kini memiliki 54 anggota yang terdiri dari personal dan
      individu. Menurut Denny, pihaknya melihat industri animasi ini baru
      dalam tahap potensi. Berbagai pelatihan pernah diadakan, bahkan
      terhadap siswa-siswa sekolah menengah yang sama sekali buta animasi.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.