Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Anugerah Komik Indonesia (AKI) dan lomba bikin komik

Expand Messages
  • Komunitas Penerbit Komik
    Ketika kami mempublikasikan acara Anugerah Komik Indonesia 2011 (AKI) kepada masyarakat, khususnya komunitas komik Indonesia, banyak orang menyebut AKI
    Message 1 of 1 , Jul 27, 2011
    • 0 Attachment
      Ketika kami mempublikasikan acara Anugerah Komik Indonesia 2011 (AKI) kepada
      masyarakat, khususnya komunitas komik Indonesia, banyak orang menyebut AKI
      sebagai acara lomba bikin komik. Barangkali karena acara pemebrian penghargaan
      untuk komik Indonesia seperti AKI ini masih sangat jarang dan lebih sering
      diadakan lomba bikin komik jadinya masyarakat komik Indonesia masih kurang
      familiar (akrab) dengan acara-acara seperti AKI ini. Atau memang ada pihak-pihak
      tertentu yang sengaja menghembuskan anggapan bahwa AKI ini tidak lebih dari
      sekedar acara lomba bikin komik biasa, seperti yang sering dilakukan oleh orang
      lain. Mereka beragumen bahwa karena AKI memakai sistem pendaftaran dan kompetisi
      untuk menentukan pemenangnya, maka AKI itu sama saja dengan lomba bikin komik!
      Benarkah demikian? Apakah dengan adanya sistem pendaftaran peserta dan kompetisi
      berarti secara otomatis AKI adalah sama dengan acara lomba bikin komik?


      Kami ingin menegaskan disini bahwa AKI bukanlah acara lomba bikin komik dan kami
      merasa terganggu jika ada orang yang menyebut AKI tidak lebih daripada sekedar
      acara lomba bikin komik biasa. Lalu apa dong bedanya antara lomba bikin komik
      dengan acara2 pemberian penghargaan seperti AKI ini? Melalui tulisan ini kami
      ingin menanamkan pemahaman perbedaan antara lomba bikin komik dan Anugerah Komik
      Indonesia.


      Teman-teman tentu penah mendengar acara pemberian penghargaan film Indonesia
      yaitu Festival Film Indonesia (FFI) yang setiap tahun secara rutin digelar itu.
      Meskipun FFI memakai sistem pendaftaran film dan didalamnya juga ada kompetisi
      untuk menentukan pemenangnya (persis seperti AKI) namun sampai saat ini tidak
      ada seorang pun yang pernah menyebut FFI sebagai acara lomba bikin film. Semua
      orang tahu bahwa FFI itu adalah acara pemberian penghargaan untuk film Indonesia
      dan bukan acara lomba bikin film. Demikian pula AKI! Anugerah Komik Indonesia
      juga bukan acara lomba bikin komik tapi AKI adalah acara pemeberian penghargaan
      untuk komik Indonesia. Antara AKI dan lomba bikin komik pada umumnya tentu ada
      perbedaan, baik perbedaan secara teknis maupun perbedaan secara prinsip.

      Pada acara lomba bikin komik dan lomba2 lainnya, umumnya karya yang
      dikompetisikan adalah karya2 yang baru dan belum pernah beredar atau
      dipublikasikan. Si pengarang atau si komikus membuat karya khusus untuk acara
      lomba itu. Kami bahkan pernah menemukan ketentuan suatu lomba yang mensyaratkan
      secara ketat bahwa karya yang dilombakan adalah karya yg orisinil dan belum
      pernah dipublikasiakan dan diterbitkan oleh pihak manapun. Ada juga ketentuan
      lomba yang mensyaratkan bahwa karya itu tidak boleh diikutsertakan secara
      bersamaan di ajang lomba yg sejenis atau belum pernah diikutsertakan pada ajang
      lomba yg sejenis sebelumnya. Intinya panitia lomba pada umumnya menginginkan
      karya itu adalah karya yang benar-benar baru dan belum pernah dipublikasikan,
      diterbitkan atau diedarkan kepada masyarakat luas dan belum pernah
      diikutsertakan dalam ajang lomba yang sejenis.

      Ketentuan teknis karya yang dilombakan pun bisa bermacam-macam misalnya lomba
      bikin komik dengan tema tertentu (misalnya tema go green utk memperingati hari
      bumi), bikin komik delapan halaman, bikin komik satu halaman, lomba bikin komik
      strip, lomba mewarnai komik, lomba bikin karakter komik dll. Tidak ada batasan
      apa-apa terserah panitia lombanya. Kadang-kadang panitia lomba juga
      memilah-milah dengan kategori anak-anak, remaja, dewasa atau dipilah-pilah dgn
      kategori pelajar (SMP dan SMA), mahasiswa dan umum. Pemilahan ini berdasarkan
      usia si komikusnya (dan bukan hasil karyanya). Misalnya jika si komikus itu
      seorang mahasiswa tentu dia akan masuk lomba bikin komik kategori mahasiswa,
      jika si komikus seorang pelajar SMP atau SMA tentu dia akan masuk kategori
      pelajar dst.

      Kompetisi di dalam lomba juga bisa sangat rumit. Dalam sebuah ajang lomba yang
      besar setingkat nasional atau setingkat internasional, maka biasanya ada
      kompetisi berjenjang misalnya lomba bikin komik Indonesia populer tingkat
      kabupaten, tingkat propinsi, tingkat nasional dan bahkan bisa saja sampai
      tingkat dunia atau internasaioanal. Kompetisinya juga bisa memakai sistem
      pembabakan misalnya babak penyisihan, babak perdelapan final, babak semi final
      dan babak final sebelum ditentukan pemenangnya. Pemenang kompetisinya setiap
      kategori pun tidak hanya satu tapi ada beberapa misalnya juara pertama (peraih
      gelar), juara kedua (runner-up satu), juara ketiga (runner up dua), juara
      harapan satu, juara harapan dua, juara harapan tiga, dst.

      Sistem dalam AKI sangat berbeda dengan sistem dalam lomba. Pada perinsipnya AKI
      bertujuan untuk mencari komik Indonesia terbaik yang saat ini tengah beredar dan
      sedang dibaca oleh masyarakat. Oleh karena itu ketentuan prinsip untuk komik
      yang akan diikutsertakan dalam AKI adalah komik2 yg sudah beredar dan dibaca
      oleh masyarakat meskipun AKI juga tidak menolak komik-komik baru yang akan
      beredar. Jadi bukan komik2 baru yang khsus dibuat untuk AKI dan bukan juga komik
      antik jadul yang cuma beredar di kalangan kolektor komik.

      Ketentuan teknis komik yang diikutsertakan dalam AKI adalah sama dengan komik2
      yang tengah beredar di masyarakat saat ini yaitu komik2 yang utuh, layak jual,
      layak beredar di masyarakat (bebas SARA, pornografi,dll) atau komik komersial
      dan bukan komik delapan halaman, komik empat halaman, mewarnai gambar komik,
      dll. AKI juga tidak membatasi komik dengan tema-tema tertentu. Komik dengan
      tema apa saja bisa didaftarkan dalam AKI (silat, superhero, horor, drama aksi,
      komik ilmu pengetahuan, dll) kecuali tema2 khusus misalnya komik iklan, komik
      propoganda. AKI juga tidak membatasi komik2 itu tidak boleh mengikuti ajang
      lomba atau penghargaan lainnya. Oleh karena itu sangat mungkin jika ada sebuah
      komik yang menang di AKI namun juga komik itu pernah mendapatkan penghargaan
      atau memenangkan lomba di tempat yang lain. AKI hanya membatasi jika komik itu
      sudah pernah ikut AKI sebelumnya (baik menang atau tidak) maka komik itu tidak
      boleh didaftarkan lagi di AKI sesudahnya.


      Di dalam AKI juga ada kategorisasi misalnya Komik2 Dewasa Terbaik, Komik2 Anak
      dan Remaja Terbaik namun berbeda dengan acara lomba, penggolongan ini bukan
      didasarkan atas usia komikusnya namun berdasarkan rating komik2nya. Misalnya
      komik2 yg dirating utk orang dewasa maka komik itu akan masuk kategori komik
      dewasa sedangkan komik yang dirating untuk anak-anak dan remaja akan masuk
      kategori komik anak-anak. Sangat mungkin komikus senior seperti Gerdi WK atau
      Kus Bramiana membuat komik untuk anak-anak maka komik itu akan masuk kategori
      komik Anak-anak dan Remaja meskipun usia komikusnya sudah sangat senior. Tidak
      ada pembatasan usia komikus dalam AKI karena itu rentang usia komikus bisa
      sangat lebar mulai dari usia kanak-kanak (12 tahun, FIA) sampai usia yang sangat
      sepuh (90-an tahun, RA Kosasih).

      Kompetisi dalam AKI lebih sederhana, tidak ada kompetisi berjenjang (tingkat
      kecamatan, kabupaten, propinsi) dan tidak ada pembabakan kompetisi (babak
      penyisihan, babak semi final, babak final). Komik-komik yang lolos seleksi
      administratif akan dinilai oleh dewan juri untuk masuk dalam nominasi sebelum
      ditentukan peraih penghargaannya. Peraih penghargaan hanya satu dan tidak ada
      peraih penghargaan kedua, peraih penghargaan ketiga, peraih penghargaan harapan
      satu, dst).


      Dalam AKI peraran penerbit komik menjadi sangat penting karena penerbitlah yang
      akan menjamin bahwa komik2 itu layak jual dan layak beredear di masyarakat dalam
      arti secara teknis dan non teknis komik itu memang layak dibaca dan dibeli oleh
      masyarakat. Kelayakan sebuah komik untuk dijual dan diedarkan di masyarakat
      bukan hanya dilihat dari segi teknis saja (gambar yg bagus, komik dicetak dgn
      sangat bagus, komik dibuat diatas kertas yg bagus) namun juga dilihat dari segi
      non teknis (bebas pornografi, SARA, tidak menjiplak karya orang lain. dll). Kami
      sangat yakin penerbit yang menyandang nama besar seperti KOLONI, Gradien
      Mediatama atau Dhar! Mizan tentu saja tidak mau mengambil resiko dengan
      menerbitkan dan mengedarkan komik2 yg tidak layak jual. Kami sangat senang jika
      menerima komik2 dari penerbit besar spt ini karena itu berarti meringankan tugas
      panitia dalam seleksi administratifnya.

      Lantas bagaimana dengan komik2 yang diterbitkan secara perorangan atau
      independen? Apakah ini termasuk dalam kategori komik yang layak jual dan layak
      edar? Di komunitas komik memang ada penerbit perorangan seperti Jagoan Comic,
      Metha Studio, Anjaya Books, M production, Funco, dll. Komik-komik yang
      diterbitkan oleh penerbit perorangan seperti ini memang dapat diikutsertakan
      dalam AKI namun tentu saja jika lolos seleksi administratif dari panitia.
      Komik-komik independen sebetulnya juga bisa ikut AKI jika komik2 itu digarap
      dengan baik dan sudah layak jual dan layak beredar di masyarakat.


      Bagaimana dengan komik digital yang dipasarkan lewat internet atau handphone
      (mobile comic) apakah sudah bisa dikategorikan sebagai komik2 yg layak edar dan
      layak jual sehingga bisa diikutsertakan dalam AKI? Salah satu tujuan dari AKI
      adalah untuk mendorong penerbit dan komikus untuk memproduksi komik-komik dalam
      bentuk buku (buku komik). Oleh karena itu sampai saat ini AKI hanya membuka
      pendaftaran untuk buku komik. Komik-komik yang sudah dibuat dalam bentuk digital
      sebetulnya tinggal selangkah lagi untuk menjadi buku komik dan jika komik2 itu
      sudah dicetak dan diterbitkan dalam bentuk buku komik, tentu saja dengan senang
      hati panitia akan menerima komik-komik itu untuk diikutsertakan dalam ajang AKI.

      Demikianlah perbedaan antara acara lomba bikin komik dengan acara AKI dan
      peranan penerbit komik dalam AKI. Harapan kami tentu saja kini masyarakat komik
      menjadi lebih paham dengan AKI dan tidak ada kerancuan pemahaman AKI dengan
      acara lomba bikin komik.

      Salam,

      Muh. Tauhid
      Ketua KPKI
      Komunitas Penerbit Komik Indonesia (KPKI)
      Pertokoan Cipulir Baru, Lt Dasar No.3-4
      Jl. Raya Cileduk No.2, Cipulir
      Jakarta Selatan 12250
      Telp. 021 9161 6183, 021 9924 5756
      www.kpki.org


      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.