Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Festival Komik Indonesia dan Anugerah Komik Indonesia

Expand Messages
  • Komunitas Penerbit Komik
    Suatu ketika ada orang bertanya mengapa di ajang Anugerah Komik Indonesia 2011 ini dipakai sistem pendaftaran (plus dengan uang pendaftarannya) dan memberikan
    Message 1 of 1 , Jun 28, 2011
    • 0 Attachment
      Suatu ketika ada orang bertanya mengapa di ajang Anugerah Komik Indonesia 2011
      ini dipakai sistem pendaftaran (plus dengan uang pendaftarannya) dan memberikan
      penghargaan melalui kompetisi bukannya panitia yang memilih komik itu sendiri
      dan memberikan penghargaan kepada komik-komik yang dipilih panitia itu?
      Sekarang ini kami memang sedang menggelar acara Anugerah Komik Indonesia 2011
      dan tahun lalu kami pun menggelar acara Festival Komik Indonesia 2010. Sebelum
      melangkah lebih jauh untuk menjawab pertanyaan itu mungkin ada baiknya kita
      membuka-buka dulu kamus bahasa Indonesia untuk mencari tahu apa sih sesungguhnya
      arti dari kata Anugerah dan Festival itu sendiri.

      Jika kita membuka-buka kamus bahasa Indonesia, kita akan menemukan arti dari
      kata festival adalah pesta rakyat atau perayaan dan sama sekali tidak dikaitkan
      dgn kompetisi. Namun bagi sebagian orang di Indonesia, arti Festival itu menjadi
      bergeser menjadi ajang kompetisi. Ini tidak aneh karena orang2 itu sudah
      bertahun-tahun mendengar istilah Festival Film Indonesia yg digerlar setiap
      tahun yang didalamnya ada ajang kompetisi film Indonesia. Bagi mereka kata
      “Festival” sudah menjadi identik dgn kompetisi. Ketika kami menggelar ajang
      Festival Komik Indonesia tahun lalu, kami ingin mengembalikan lagi makna
      Festival seperti yang disebut dalam kamus itu dan memang tujuan dari ajang
      Festival Komik Indonesia adalah tempat berpesta-nya teman-teman di komunitas
      komik Indonesia (pembaca komik, pembeli komik, komikus, pedagang komik, penerbit
      komik, pemerhati komik, dll). Festival Komik Indonesia (FKI) adalah ajang multi
      aktifitas yang didalamnya ada bermacam-macam kegiatan seperti bursa komik
      (jualan komik), pameran komik, talk show, workshop dan lain-lain dan tidak harus
      selalu ada ajang kompetisi. Event itu sebetulnya bisa menjadi ajang kumpul2nya
      teman2 di komunitas komik. Baru-baru ini di gelar acara FKI (Festival Komputer
      Indonesia) yang diadakan dibeberapa kota besar di Indonesia. Di event itu sama
      sekali tidak ada ajang kompetisinya tapi kebanyakan ajang utk berjualan dan
      promosi produk2 terbaru komputer. Jadi istilah Festival itu sama sekali tidak
      ada kaitannya apa-apa dengan kompetisi. Sayangnya tidak banyak teman2 dari
      komunitas komik yg memanfaatkan acara FKI (Festival Komik Indonesia) itu untuk
      ajang kumpul2. Sebagian pedagang komik malah mereduksi tujuan dari FKI itu hanya
      sekedar utk berjualan komik saja… wow!

      Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, anugerah itu berarti pemberian
      dari sesuatu atau seseorang yg lebih tinggi posisinya misalnya anugerah dari
      Tuhan Yg Maha Esa. Dalam Anugerah Komik Indonesia makna anugerah disini adalah
      pemberian penghargaan kepada komik Indonesia. Pemberian penghargaan itu pantas
      disebut “anugerah” karena komikus atau komik Indonesia mendapatkan pemberian
      penghargaan itu dengan susah payah melalui ajang kompetisi dgn mengalahkan
      banyak sekali komikus2 atau komik-komik yg lain dan bukan sedekar diberikan
      begitu saja oleh panitia AKI2011. Semakin banyak peserta kompetisi dan semakin
      ketat kompetisi itu akan membuat semakin bangga si komikus yang menang dalam
      kompetisi itu dan menerima penghargaan itu. Rasanya memang kurang seru ya jika
      penghargaan diberikan begitu saja tanpa melalui kompetisi secara terbuka.
      Kesannya malahan sangat subyektif karena panitia memberikan penghargaan itu
      tanpa ketahuan sebab musababnya, tanpa hujan tanpa angin si komikus atau komik
      itu tahu-tahu mendapatkan penghargaan.

      Kami memakai nama Anugerah Komik Indonesia 2011 (AKI) karena memang terinspirasi
      dgn nama Anugerah Musik Indonesia (AMI) dan kata Anugerah itu kami anggap cukup
      bagus dan sangat sesuai dgn makna acara AKI2011. Kami tidak tahu bagaimana
      sistem penilaian yang dipakai di ajang AMI tsb. Kami hanya tahu AMI adalah ajang
      pemberian penghargaan untuk musik Indonesia. Jika kami memakai nama Anugerah hal
      ini adalah sesuatu hal sangat wajar. Kita tengok saja kata festival, begitu
      banyak orang memakai kata festival untuk memberi nama event-nya, Ada Festival
      Film Indonesia (FFI), ada Festival Bunga di kota Pasadena, AS, ada Festival
      Komik Indonesia (FKI) dan baru-baru ini ada FKI (Festival Komputer Indonesia).
      Kalau kami mau pakai nama Anugerah untuk komik Indonesia tentu sah-sah saja
      khan? Dan juga belum ada pihak-pihak lain yang memakai nama itu.

      Kata Indonesia dalam AKI bukan untuk menunjukkan acara ini berskala nasional
      karena kata Indonesia dalam Komik Indonesia adalah kata majemuk. Jika kita
      pernah belajar bahasa Indonesia waktu di SMP dulu tentu kita akan ingat kata
      majemuk adalah kata yg diberasal dari dua kata yg membentuk arti baru sepadan
      dgn kata “rumah sakit”, “rumah makan”, “rumah bersalin”, “musik Indonesia”,
      “film indonesia” dll. Jika kami ingin menunjukkan skala acara ini tentu akan
      kami sebut Anugerah Komik Indonesia tingkat Nasional. Jika ada tingkat nasional
      tentunya juga ada tingkat propinsi, tingkat kabupaten, tingkat kecamatan dll.
      Waaah jika panitia mengadakan seleksi bertingkat-tingkat seperti ini akan sangat
      menghabiskan waktu, biaya, tenaga dan pikiran. Terus terang saja dgn sumber daya
      yg ada kami tidak sanggup mengadakan seleksi yg bertingkat2 spt itu. Jadi kami
      sebut saja AKI 2011 (harapannya sih nanti akan ada AKI2012, AKI2013, dst).

      Meskipun sama-sama memakai istilah Anugerah untuk memberikan penghagaan tidak
      berarti kami harus mengikuti sistem yang dipakai oleh AMI. Kami pun punya sistem
      sendiri yang tentu saja kami sesuaikan dengan situasi dan kondisi komik
      Indonesia. Tidak ada keharusan atau kewajiban bagi kami untuk mengacu atau
      mengambil rujukan sistem manapun atau siapapun. Jika kita bedah sistem penilaian
      AKI, sistem ini terbagi atas beberapa bagian. Yang pertama adalah sistem
      pengumpulan komik, yang kedua adalah sistem seleksi administratif dan yang
      terakhir adalah sistem penilaian oleh dewan juri (bukan kurator) untuk
      menentukan nominasi dan pemenangnya.

      Ada dua cara pengumpulan komik, yang pertama adalah dengan cara pendaftaran dan
      cara yang kedua adalah cara jemput bola, dimana panitia yang mencari dan
      mengumpulkan komik itu sendiri. Bagi kami perbedaan kedua cara itu tidaklah
      terlalu prinsip dan sama sekali tidak berkaitan dengan subyektifitas. Ini hanya
      masalah teknis saja karena pada akhirnya ketika komik sudah terkumpul (baik dgn
      cara pendaftaran atau jemput bola) maka komik-komik itu akan diseleksi oleh
      panitia. Tidak semua komik2 yg terkumpul diloloskan oleh panitia. Kami memilih
      sistem pendaftaran karena bagi kami sistem itu lebih memungkinkan dilaksanakan
      daripada sistem jemput bola (karena keterbatasan dana dan personel panitia).
      Singkatnya jika komikus ingin karyanya diikutsertakan di ajang AKI 2011 maka
      daftarkanlah komiknya ke panitia AKI2011. Yang mendaftarkan boleh siapa saja, si
      komikus, penerbit, pembaca komik, dll asalkan tidak ada protes dari si pemegang
      hak cipta komik itu.

      Sistem yang kedua adalah seleksi administratif. Disini panitia akan menyeleksi
      komik-komik yang didaftarkan. Kriteria yang digunakan adalah kriteria yang
      sangat umum misalnya kelengkapan administrasi (pembayaran pendaftaran, isian
      formulir, kelengkapan komik dll) serta seleksi komik terhadap nilai normatif yg
      berlaku di masyarakat misalnya komik2 porno, komik2 yg mengandung unsur SARA,
      komik2 yg mengusung nilai terlarang (komunisme, sosialisme, dll), komik2 yg
      mengusung faham politik teertentu, komik iklan. dll (waaah baca aja deh di
      ketentuan pendaftaran di www.kpki.org, banyak banget soalnya he he he he) sudah
      pasti akan ditolak oleh panitia. Istilah “kebebasan berekspresi” yang berarti
      bereskpresi sebebas-bebasnya dalam membikin komik tanpa batasan tidak berlaku
      disini karena komik2 yg berpotensi meresahkan masyarakat tentu saja tidak layak
      dinilai di AKI 2011. Panitia tidak akan berlaku diskriminatif terhadap
      komik-komik karya komikus siapapun asalkan komik2 itu memenuhi syarat2
      pendaftaran komik. Panitia tidak mungkin berani menahan komik2 yg didaftarkan
      dan telah lolos seleksi administratif dan tidak menyampaikan kpd dewan juri
      karena ketika judul2 komik itu diumumkan, si pendaftar pasti akan mencermati
      pengumuman itu dan pasti akan protes jika komik2 yg didaftarkan itu tidak muncul
      di pengumuman itu. Jangankan untuk menahan komik, salah menulis keterangan komik
      pun bisa-bisa diprotes orang.

      Panitia membatasi komik2 yang dinilai di ajang AKI yaitu hanya menerima komik2
      yg berbentuk buku (buku komik) dan bukan komik2 bentuk2 lainnya (komik digital,
      mobile komik, komik online, komik strip di majalah, dll) karena kami ingin
      mendorong para komikus dan penerbit untuk memproduksi buku komik. Jika tidak
      dibatasi… waaaaah bisa melebar kemana-mana. Memang wacana utk menilai komik non
      buku juga sempat muncul namun saat ini kami belum siap utk komik-komik spt itu.

      Sistem yg ketiga adalah penilaian komik oleh dewan juri. Ada orang yg
      berpendapat bahwa penilaian oleh dewan juri ini hasilnya (sangat) subyektif
      tergantung selera si dewan juri. Saya berpendapat bahwa unsur-unsur subyektif
      itu memang selalu ada dan sangat sulit dibuat nol. Rasanya hampir tidak ada yang
      obyektif 100% dan subyektif 0% karena ini bukan ilmu pasti Dalam ilmu
      matematika atau berhitung jika ada orang yang bilang 1 + 1 = 2 semua orang di
      manapun di seluruh dunia akan mengakuinya dan tidak ada yg membantahnya (kecuali
      orang yg tidak bisa berhitung), namun penilaian dewan juri ini bukanlah
      matematika atau ilmu berhitung, tentu saja unsur2 subyektif akan selalu ada.
      Jika dewan juri mengatakan A, maka selalu saja akan ada orang yg tidak setuju
      dan mengatakan B. Kita tengok ajang penghargaan dunia seperti Academy Awards (yg
      terkenal dgn piala oscarnya), Golden Globe atau Festival Film Cannes, Nobel
      Prize, Pulitzer, dll juga tidak lepas dari unsur-unsur subyektif. Film yang
      memenangkan Golden Globe dan digadang-gadang oleh wartawan jadi pemenang pun
      seringkali tidak menjadi pemenang piala Oscar. Piala Oscar pun sering dituding
      diskriminatif tehadap film-film non hollywood. Ajang penghargaan Nobel pun
      sering dituding subyektif karena banyak peraih penghargaan itu yang dinilai
      tidak layak untuk mendapatkan hadiah itu. Belum lagi jika kita tengok ajang
      pemilihan Miss Indonesia, Miss Universe, Miss World, semuanya subyektif
      tergantung selera juri. Meskipun demikian toh masyarakat menerima juga ….

      Sejak awal panitia sangat menyadari unsur-unsur subyektif ini karena memang
      sangat manusiawi. Oleh karena itu panitia pun berupaya sekeras mungkin untuk
      mengurangi kadar subyektifitas itu. Caranya adalah dengan memilih para dewan
      juri tepat dan menyusun panduan penilaian untuk dewan juri. .Pemilihan anggota
      dewan juri ini adalah sesuatu hal yang sangat penting dan krusial. Jika keliru
      memilih juri akibatnya bisa sangat fatal dan hasil penilaiannya bisa dianggap
      tidak valid. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan sebagus-bagusnya sistem itu
      dibuat jika orang-orang yg menjalankan sistem itu adalah orang yg bermasalah
      maka hasilnya akan bermasalah juga. Lihat saja kejahatan di perbankan. Bank-bank
      itu bukannya tidak membuat sistem pengamanan yg canggih namun jika melibatkan
      orang dalam (yg punya kewenangan) maka sistem yg bagus itu tidak ada artinya dan
      bank-bank itu akhirnya kebobolan juga. Panitia pun memberlakukan peraturan yg
      ketat kepada dewan juri. Jika terbukti juri bermain curang maka akan dikenakan
      sanksi oleh organisasi. Sanksi dari organisasi mungkin tidak berat. Yang sangat
      berat adalah sanksi moral dari masyarakat komik Indonesia. Jika mereka sudah
      tidak percaya kepada oknum juri itu mungkin oknum itu tidak akan bisa menjadi
      juri atau kurator selama-lamanya karena apapun hasil penilaian oknum itu sudah
      tidak dipercayai orang lagi.

      Karena alasan itulah, maka nama-nama dewan juri sementara waktu ini belum
      diumumkan dulu untuk menghindari pihak-pihak yang mencoba merayu juri, mengajak
      kongkalikong, menyuap juri untuk merekayassa hasil penilaian. Dewan juri pun
      ingin bekerja dengan tenang dan tidak mau diganggu oleh oknum-oknum seperti itu.
      Panitia memutuskan akan mengumumkan nama-nama dewan juri ketika juri sudah
      selesai menilai komik2 itu dan hasilnya sudah diterima oleh panitia. Saat ini
      panitia hanya mengumumkan nama ketua dewan jurinya saja.

      Selain itu panitia pun telah menyusun panduan penilaian komik yg menjadi
      pegangan dan arahan bagi dewan juri dalam menilai komik2 itu sehingga antara
      satu juri dgn juri yg lainnya memiliki sudut pandang yg sama dalam menilai
      komik.


      Panitia mengakui bahwa dalam penilaian penghargaan di ajang AKI2011 rasanya
      sangat sulit menghapus unsur subyektifitas sampai menjadi nol namun panitia
      sudah berupaya sekeras mungkin untuk menurunkan kadar subyektifitas itu. Jika
      ada pihak-pihak yang tidak menerima hasil penilaian dewan juri (karena dianggap
      subyektif) yaaah silahkan saja. Panitia pun akan menyerahkan penerimaan itu
      kepada masyarakat khususnya masyarakat komik Indonesia. Setiap orang berhak
      punya penilaian sendiri-sendiri. Meskipun demikian kami tidak berkecil hati
      karena ajang penghargaan internasional pun sudah sangat sering dituding tidak
      obyektif oleh pihak-pihak yang tidak menyukainya atau bersebarangan tapi toh
      mereka jalan terus, apalagi ini hanya ajang AKI2011 yang tidak sempurna dan
      penuh kekurangan namun saya yakin masyarakat komik Indonesia bukanlah orang2
      bodoh yg gampang dibohongi. Mereka adalah orang2 yg cerdas dan sangat kritis.
      Jangan memandang remeh kepada mereka. Kami pun menggelar acara AKI2011 tidak
      main-main atau sekedar iseng-iseng saja tapi dengan penuh kehati-hatian dan
      kesungguhan hati.


      Kami menggelar ajang AKI2011 karena setahu kami, ajang penghargaan untuk komik
      Indonesia ini sangat jarang. Jika kita tengok di dunia film, musik atau bahkan
      program televisi, sangat banyak ajang perhargaan itu. Kami berharap ajang
      AKI2011 dapat memberikan manfaat yang sebesar2nya bagi masyarakat komik
      Indonesia dan kami pun berharap agar ajang AKI2011 dapat berjalan dengan lancar
      tanpa gangguan apa pun. Amiiiin.

      Salam,

      Muhammad Tauhid
      Ketua KPKI
      Komunitas Penerbit Komik Indonesia (KPKI)
      Pertokoan Cipulir Baru, Lt Dasar No.3-4
      Jl. Raya Cileduk No.2, Cipulir
      Jakarta Selatan 12250
      Telp. 021 9161 6183, 021 9924 5756
      www.kpki.org


      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.