Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

[artikel yg menyebut] wied senja

Expand Messages
  • tita 91
    ... dengan Zaldy dan Sim. ... Trims atas infonya. Langsung saya Google nama Wied Senja, tapi hanya ketemu satu hit (dalam artikel di Bali Post), yg saya kopi
    Message 1 of 6 , May 1, 2005
      --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "Andy Wijaya" <andy@k...> wrote:
      > Salah satu komikus wanita adalah WIED SENJA, beliau ini pembuat komik roman sejaman
      dengan Zaldy dan Sim.
      >
      > Regards,
      > aNWi

      Trims atas infonya. Langsung saya Google nama Wied Senja, tapi hanya ketemu satu hit
      (dalam artikel di Bali Post), yg saya kopi di bawah ini.

      Salam,
      Tita
      http://esduren.multiply.com

      =========================

      Komik Indonesia, Mati karena Kutukan
      http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2004/4/4/ars1.html

      Komik buatan komikus Indonesia pernah berjaya dan menjadi tuan rumah di negeri
      sendiri. Itu terjadi pada rentang tahun 1970-an. Pada masa itu, hampir setiap hari selalu
      saja ada komik baru yang terbit dan beredar. Taman bacaan yang menyediakan komik
      untuk disewakan tumbuh subur. Pengunjungnya kebanyakan anak sekolahan. Mereka
      seperti keranjingan membaca komik sehingga banyak yang melupakan buku pelajarannya.
      Bisa jadi, karena itulah kemudian banyak para orang tua yang sangat memusuhi dan
      menyatakan perang pada komik. Namun, bagaimana "sejarah" komik Indonesia kemudian?

      KETIKA masa jayanya komik Indonesia, Pusat komik pada waktu itu adalah Jakarta dan
      Bandung. Dari dua kota besar itulah komik lalu menyebar ke seluruh kota di Indonesia.
      Namun demikian, ada beberapa kota lainnya lagi yang juga ikut meramaikan perkomikan
      di Indonesia, di antaranya Surabaya, dan Semarang. Pada era 1960-an, pusat perkomikan
      Indonesia justru berada di Medan. Saat itu Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn menjadi
      komikus yang amat disukai.

      Lantas, yang merajai pasar perkomikan Indonesia pada era 1970-an adalah Yan Mintaraga,
      Teguh Santosa, Ganes TH, Hans Jaladara, Jeffry, SIM, Zaldy, RA Kosasih, Sopoiku, Usyah,
      Mansur Daman, Leo, Djair, Wid.NS, Ardisoma, Oerip, Hasmi, Tati, Hengky, dan sejumlah
      nama lainnya. Mereka hadir dengan cirinya masing-masing seperti silat, roman, wayang,
      dan humor.

      Puncak kejayaan komik Indonesia agaknya telah membuat "mabuk" para pelaku pasar
      perkomikan Indonesia. Kontrol terhadap kualitas komik yang dipasarkan menjadi sangat
      longgar, sehingga banyak kemudian bermunculan komik-komik dengan kualitas secara
      keseluruhan yang sangat jelek. Ini terutama ada pada komik-komik cerita HC Andersen
      yang dibuat oleh para komikus dadakan. Di samping gambarnya tidak bagus, tipografinya
      pun tidak memadai. Ini tidak berlaku untuk komik serupa buatan Gerdi WK.

      Perlahan tapi pasti, pencinta komik Indonesia mulai berpaling. Taman bacaan yang
      menyewakan komik mulai sepi pengunjung, dan malahan ada yang langsung menutup
      usahanya itu. Para penerbit menghentikan kegiatannya karena pasar komik terlihat sudah
      jenuh. Para komikus tentu saja menjadi orang yang sangat terpukul oleh situasi ini. Tetapi
      syukurlah pada masa itu koran dan majalah masih mau menyediakan halamannya untuk
      diisi komik. Yan Mintaraga, Teguh Santosa, Wid.NS, Hasmi, Mansur Daman, Ganes Th, dan
      sejumlah komikus berkualitas lainnya, karya-karyanya masih bisa dinikmati di koran Sinar
      Harapan (Suara Pembaruan), dan majalah remaja HAI. Sementara di Bali, khususnya di
      koran Bali Post edisi Minggu, sempat menyediakan halaman tertentu untuk pemuatan
      komik dari komikus lokal.

      Komik Indonesia semakin terpuruk saja ketika koran dan majalah mulai menggeser
      ruangan dari komik. Komik lantas "tidak punya rumah" dan "tidak mampu mengontrak
      rumah". Pelan namun pasti, komik Indonesia kemudian masuk ke liang kubur. Apalagi
      setelah masuknya banyak manga (komik) Jepang yang memenuhi rak-rak toko buku dan
      kamar anak-anak Indonesia. Malahan yang lebih memprihatinkan lagi, ada komik Jepang
      yang caranya membacanya masih tetap dari belakang, padahal bahasanya sudah
      diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Anehnya lagi, para orang tua sekarang, tidak
      ada yang memusuhi komik.

      Dewasa ini komik Indonesia boleh dikatakan sudah mati, seiring dengan berpulangnya
      para komikus kondang seperti Yan Mintaraga, Ganes TH, SIM, Teguh Santosa, Wid.NS, dan
      Taguan Hardjo. Boleh jadi, mereka itu adalah para "pahlawan" komik Indonesia yang
      pernah begitu perkasa di bumi Nusantara. Sepertinya tak ada yang merasa kehilangan,
      apalagi merasa berduka.

      Relief Candi
      Apakah komik itu? Komik adalah sebuah buku yang berisi gambar dan tulisan (cerita).
      Oleh karenanya, buku yang satu ini juga dikenal dengan sebutan cerita bergambar
      (cergam) -- sebuah cerita dirangkai pada panil-panil yang berisi gambar, tokoh-tokohnya
      berpikir dan berbicara melalui gelembung-gelembung yang berisi kata-kata. Namun, pada
      awal kehadirannya, tepatnya ketika Medan menjadi pusat perkomikan di Indonesia,
      tampilan komik tak seperti sekarang. Pada masa itu, para komikus tidak memakai
      gelembung kata, tetapi langsung menulis kata-kata yang diucapkan oleh para tokoh,
      menyatu dengan kalimat lainnya.

      Dilihat dari bentuknya, agaknya beberapa peninggalan sejarah masa lalu bisa dianggap
      sebagai cikal bakal dari komik Indonesia. Tengoklah relief yang ada pada dinding-dinding
      candi yang ada di Jawa. Di sana terlihat gambar-gambar ukiran dalam panil-panil yang
      menceritrakan sesuatu. Demikian pula halnya dengan relief dan gambar yang ada di
      banyak pura di Bali, juga terlihat adanya kesamaan dengan komik yang dikenal dewasa ini.
      Cuma dalam relief dan gambar tersebut tidak ada tulisan yang menyertai sebagai
      keterangan gambar.

      Lukisan wayang Kamasan pun agaknya bisa dikatakan sebagai cikal bakal perkembangan
      komik di Indonesia. Pada lukisan wayang kamasan, di samping gambar, juga ada tulisan
      yang berfungsi untuk menjelaskan gambar. Bidang kanvas pun sering dibagi menjadi 4-5
      bidang kecil, masing-masing bidang diisi gambar dan tulisan. Gambar pada masing-
      masing bidang berhubungan dan menjalin sebuah cerita. Gambar pada langit-langit
      bangunan Kerta Gosa di Klungkung bisa jadi merupakan komik berwarna terbesar yang
      pernah dibuat di Bali. Pun dengan lontar-lontar yang ada di Bali, kalau dilihat dari
      tampilannya, bisa juga dianggap sebagai periode komik sebelum dikenal adanya kertas di
      Bali, dan sebelum komik dibuat menyerupai buku yang dijilid.

      Tonggak Awal
      Periode Medan bisa dijadikan sebagai tonggak awal kesuksesan komik Indonesia di
      negerinya sendiri. Taguan Hardjo dan Zam Nuldyn adalah dua komikus yang pantas
      disebut pembaru. Karya keduanya yang bertemakan cerita daerah Sumatera, terlihat
      sangat ilustratif dan inovatif. Komik karya mereka menawarkan nilai estetis yang
      sebelumnya terabaikan. Pada masa itu, terutama Taguan Hardjo, gaya komiknya sangat
      khas, terlihat dalam banyak komiknya ia sudah menggambar dengan memperhitungkan
      angel yang bervariasi. Bukan itu saja, bakat besar yang dimilikinya kemudian
      menghasilkan gambar-gambar yang sangat indah dan atraktif. Namun sayang, mereka
      tidak memiliki penerus, sehingga pada tahun 1971, penerbitan komik di Medan pun
      kolaps.

      Kesuksesan komikus Medan lalu berlanjut ke kota-kota besar di Jawa seperti Bandung dan
      Jakarta, Solo, dan Surabaya. Pada masa inilah muncul nama-nama komikus Yan Mintaraga,
      Ganes TH, Teguh Santosa, Hans Jaladara, Djair Warni Ponakanda, Raf.ZS, Hasmi, Wid.NS,
      Rim, Sim, Zaldy, Jeffry, Usyah, Henky, Mansur Daman, Yudah Noor, dll. Ketika itu, dua
      komikus wanita yang cukup produktif adalah Tati dan Wied Senja. Mereka umumnya
      menggarap tema roman dan silat untuk cerita komiknya. Sementara untuk tema
      pewayangan yang kemunculannya lebih awal guna meredam dominasi komik Barat,
      banyak digarap oleh komikus Ardisoma dan RA Kosasih. Tema kocak atau dagelan banyak
      dikomikkan oleh Oerip, Inris, dan Sopoiku.

      Boom komik menyebabkan banyak kemudian bermunculan komikus-komikus baru. Ada
      yang berkualitas, namun lebih banyak yang tidak, terutama dari segi gambarnya. Pasar
      kemudian dijejali komik-komik dari ceritra HC Andersen dan Grim. Ceritanya memang
      bagus, namun gambarnya keteteran. Pada waktu itu setiap hari selalu saja ada komik baru
      yang beredar di pasaran. Mungkin karena peluang pasar yang sangat menjanjikan, para
      penerbit dan komikus lupa untuk mempertahankan mutu komik yang akan diterbitkan.
      Pada akhirnya pembaca komik menjadi bosan dengan cerita yang dikarang seadanya,
      ditambah lagi dengan gambar yang jauh dari nilai artistik.

      Kini, di saat buku komik terjemahan semacam Doraemon, Lets And Go, Detektif Conan,
      hingga Monika banyak beredar di pasaran, komik Indonesia justru menghilang. Kalau pun
      ada, komik tersebut, umumnya dipajang di tempat yang luput dari perhatian orang.
      Seandainya pun ditempatkan di tempat yang bagus, jarang sekali ada orang yang mau
      memperhatikan. Agaknya komik Indonesia sudah termakan kutukan masa lalu yaitu
      kutukan dari para orang tua yang antikomik. Tetapi anehnya, kematian komik Indonesia
      justru mengawali kebangkitan komik asing di negeri ini. Walaupun komik asing belum
      tentu lebih bagus dan lebih bermoral dari komik buatan komikus lokal, dewasa ini jarang
      sekali ada orang tua yang mengutuk dan mengharamkan komik untuk dibaca oleh anak-
      anaknya. Ah, komik Indonesia, nasibmu kini...

      * gungman
    • OkkiE
      kalo Ema Wardhana ? saya sempet liat beberapa komiknya ? ada yang tau sejarahnya ? kayaknya pernah gambar Megaloman deh ? ... From: Andy Wijaya
      Message 2 of 6 , May 1, 2005
        kalo Ema Wardhana ? saya sempet liat beberapa komiknya ? ada yang tau
        sejarahnya ? kayaknya pernah gambar 'Megaloman' deh ?

        ----- Original Message -----
        From: Andy Wijaya <andy@...>
        To: <komik_indonesia@yahoogroups.com>
        Sent: Sunday, May 01, 2005 9:29 AM
        Subject: Re: [komik_indonesia] Komik bacaan lelaki !


        > Salah satu komikus wanita adalah WIED SENJA, beliau ini pembuat komik
        roman sejaman dengan Zaldy dan Sim.
        >
        > Regards,
        > aNWi
        > ----- Original Message -----
        > From: Rieza FMuliawan
        > To: komik_indonesia@yahoogroups.com
        > Sent: Saturday, April 30, 2005 5:36 PM
        > Subject: [komik_indonesia] Komik bacaan lelaki !
        >
        >
        > [Non-text portions of this message have been removed]
        >
        >
        >
        > --------------------------------------------------------------------------
        ----
        > Yahoo! Groups Links
        >
        > a.. To visit your group on the web, go to:
        > http://groups.yahoo.com/group/komik_indonesia/
        >
        > b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
        > komik_indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
        >
        > c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
        Service.
        >
        >
        >
        > [Non-text portions of this message have been removed]
        >
        >
        >
        >
        >
        > Yahoo! Groups Links
        >
        >
        >
        >
        >
        >
        >
      • toni masdiono
        dulu saya juga punya beberapa komik wied senja, kebanyakan silat, gayanya ya agak mirip-mirip ke gaya teguh yang di jamannya. figurnya jangkung-jangkung
        Message 3 of 6 , May 1, 2005
          dulu saya juga punya beberapa komik wied senja, kebanyakan silat, gayanya ya agak mirip-mirip ke gaya teguh yang di jamannya. figurnya jangkung-jangkung seperti komik jepang yang kita temui sekarang. namanya pun sebetulnya samaran. nama aslinya saya nggak tau.

          toni masdiono

          tita 91 <dlarasati@...> wrote:
          --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "Andy Wijaya" <andy@k...> wrote:
          > Salah satu komikus wanita adalah WIED SENJA, beliau ini pembuat komik roman sejaman
          dengan Zaldy dan Sim.
          >
          > Regards,
          > aNWi

          Trims atas infonya. Langsung saya Google nama Wied Senja, tapi hanya ketemu satu hit
          (dalam artikel di Bali Post), yg saya kopi di bawah ini.

          Salam,
          Tita
          http://esduren.multiply.com

          =========================


          __________________________________________________
          Do You Yahoo!?
          Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
          http://mail.yahoo.com

          [Non-text portions of this message have been removed]
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.