Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Industri komik di Indonesia sebenarnya kayak apa sih?

Expand Messages
  • Narpati Pradana
    Artikel ini baru kutemukan dan kubaca. Ditulis pada bulan Oktober 2008 Sumbernya di http://starone1980.blogspot.com/2008/10/jangan-baca-komik-indonesia.html
    Message 1 of 2 , Apr 1, 2009
    • 0 Attachment
      Artikel ini baru kutemukan dan kubaca. Ditulis pada bulan Oktober 2008
      Sumbernya di
      http://starone1980.blogspot.com/2008/10/jangan-baca-komik-indonesia.html

      Jangan Baca Komik
      Indonesia!<http://starone1980.blogspot.com/2008/10/jangan-baca-komik-indonesia.html>
      <http://1.bp.blogspot.com/_cfs1BWBPU1E/SPIrT5bNwKI/AAAAAAAAAAc/C1DkX-_pGTo/s1600-h/tn_dua_warna_1.jpg>
      Wah, judulnya memang begitu, tapi percayalah, saya suka koq komik Indonesia.
      Sungguh. Kalau judulnya seseram itu diatas, tentu ada alasannya, dan bukan
      itu anjuran saya yang sebenarnya. Saya ingin menarik perhatian dengan judul
      itu. Ya maklumlah, seperti juga harian ibukota yang harus bersaing membuat
      sensasi dengan headline agar laku, saya juga ingin diperhatikan dengan judul
      yang mungkin (sedikit) provokatif.

      Kenapa sampai saya punya judul seperti itu tentu tetap berdasar. Beberapa
      kali saya mengikuti serial komik karya komikus Indonesia, dan akhirnya
      selalu kecewa karena seri yang tidak berkelanjutan. Contoh pertama, seperti
      yang sering dibahas di milis untuk kasus kemandegannya, misalnya "Dua
      Warna". Komik ini hanya terbit sampai jilid 4 dan tidak diketahui
      kelanjutannya. Ada juga "Alakazam" yang bernasib sama. Padahal kedua komik
      ini diterbitkan oleh penerbit besar (Gramedia).

      Penerbit Misurind juga termasuk yang tega menghentikan seri-seri wayangnya.
      Padahal buku-buku terbitan mereka cukup digemari dan sudah digarap dengan
      sungguh2, melibatkan komikus-komikus handal. Sebut saja Jan Mintaraga, Teguh
      Santosa, Hasmi dan Wid NS. Tapi seri wayang Misurind itu harus putus di
      tengah jembatan. Lagi-lagi pembaca harus gigit jari.

      Sekitar tahun lalu saya membeli komik Berandal karya Bayuindie. Karena
      penerbitnya Indira, yang sudah cukup punya nama, saya tidak takut komik
      lokal ini bakal mandeg di tengah jalan. Saya salah lagi, berandal hanya
      terbit hingga nomor 2. Lanjutannya? Silahkan gigit jari... sampai putus.

      Beberapa kasus di atas tentu hanya sedikit contoh dari begitu lemahnya
      konsistensi penerbit dalam mendukung industri komik dalam negeri. Usaha yang
      sudah dilakukan tentu patut dipuji, tapi jika usaha yang dilakukan hanya
      setengah hati dan justru membuat orang kapok membaca, apalagi membeli komik
      lokal, ini tentu efek yang tidak diinginkan dan (siapa tahu) berefek jangka
      panjang.

      Komik lokal sering diberi embel-embel "Baca Cergam!" (meski Cergam istilah
      yang kurang tepat untuk komik) dan "Bangga Komik Bangsa", waah dengan
      prestasi putus di jalan, mestinya para penerbit memasang embel-embel "Pasti
      tamat!" atau "Pasti terbit semua".

      Baru-baru ini, majalah Conceptz mengeluarkan komik Alia, sudah ada 2 judul
      terbit dari 6 yang direncanakan. Komiknya memang keren, dan dikerjakan oleh
      para idealis. Tapi saya ingat lagi, "Dua Warna" dan "Alakazam" juga cukup
      keren waktu itu, dan dikerjakan oleh idealis juga. Secara statistik, Alia
      tidak akan terbit hingga 6 judul. Secara statistik, serial ini akan mandeg
      ditengah jalan. Tapi (sungguh) saya berharap, statistik salah, dan serial
      Alia bisa terbit hingga tuntas.

      Saya sendiri sedikit kapok. Tapi apakah saya sedikit atau banyak kapok, efek
      jeranya sama, saya kini berpikir dua kali untuk membeli komik Indonesia.
      Mending tunggu dulu sampai sudah terbit semua, baru beli semuanya sekaligus.


      --
      help thy brother, just or unjust


      [Non-text portions of this message have been removed]
    • Agung Prabowo
      Karena itu saya lebih suka dengan strategi Tumbal karya Man atau Serikat Jagoan dari Jagoan Komik. Tebal dan langsung tamat. Jadi kita bacanya puas dan nggak
      Message 2 of 2 , Apr 1, 2009
      • 0 Attachment
        Karena itu saya lebih suka dengan strategi Tumbal karya Man atau
        Serikat Jagoan dari Jagoan Komik. Tebal dan langsung tamat. Jadi kita
        bacanya puas dan nggak kuatir sewaktu2 putus di jalan.

        Syukurlah serial Mahabharata Teguh S yang akan diterbitkan rencananya
        langsung dibuat 2 buku dan tamat hingga Pandawa Seda. Ga bisa saya
        bayangkan jika penerbitan ulang ini nasibnya seperti masa Misurind
        dulu.

        Memang sih, dengan strategi ini pembaca tidak bisa dibuat penasaran
        dengan serial tertentu. Akibatnya, lebih sedikit untung yang bisa
        diraup penerbit komik karena cerita langsung tamat dan tidak bisa
        diulur2. Tetapi paling tidak, itulah strategi paling realistis untuk
        membuat orang kembali membeli komik Indonesia.

        2009/4/2 Narpati Pradana <kunderemp@...>:
        > Artikel ini baru kutemukan dan kubaca. Ditulis pada bulan Oktober 2008
        > Sumbernya di
        > http://starone1980.blogspot.com/2008/10/jangan-baca-komik-indonesia.html
        >
        > Jangan Baca Komik
        > Indonesia!<http://starone1980.blogspot.com/2008/10/jangan-baca-komik-indonesia.html>
        > <http://1.bp.blogspot.com/_cfs1BWBPU1E/SPIrT5bNwKI/AAAAAAAAAAc/C1DkX-_pGTo/s1600-h/tn_dua_warna_1.jpg>
        > ...
        >
        > Kenapa sampai saya punya judul seperti itu tentu tetap berdasar. Beberapa
        > kali saya mengikuti serial komik karya komikus Indonesia, dan akhirnya
        > selalu kecewa karena seri yang tidak berkelanjutan.
        --

        Salam,

        Agung
        http://mikirngawur.wordpress.com/
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.