Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

Re: TERBIT: Eendaagsche Exprestreinen (novel grafis)

Expand Messages
  • suryo_anglagard
    ... wrote: utk teman2 yg saat itu ketinggalan Koran Tempo Minggu, 22 Feb 2009, ini salinan artikel yg saya tulis ttg Eendaagsche
    Message 1 of 3 , Feb 27, 2009
      --- In komik_alternatif@yahoogroups.com, "suryo_anglagard"
      <surjorimba@...> wrote:

      utk teman2 yg saat itu ketinggalan Koran Tempo Minggu, 22 Feb 2009,
      ini salinan artikel yg saya tulis ttg Eendaagsche Exprestreinen. Siapa
      tahu tertarik baca.
      =====
      DETEKTIF CILIK DI KERETA HINDIA BELANDA
      Dipublikasikan di harian Koran Tempo Minggu, suplemen Ruang Baca, 22
      Februari 2009

      Banana Publishing, yang sebelumnya pernah menerbitkan novel grafis
      Ekspedisi Kapal Borobudur: Jalur Kayu Manis (2007), kembali dengan
      produk terbarunya. Eendaagsche Exprestreinen membawa misi serupa
      dengan pendahulunya, mengenalkan sedikit sejarah bangsa Indonesia
      dalam format gambar dan cerita fiksi. Fokus utamanya adalah
      perkeretaapian Indonesia awal abad 20, pada masa Hindia Belanda.

      Berukuran standar komik Eropa yang besar dan penuh warna, pembaca
      seakan diajak kembali ke masa kejayaan salah satu kiblat penting dunia
      komik abad ke-20. Pewarnaan yang lembut namun mudah dibedakan, jumlah
      halaman yang juga mengikuti lazimnya komik Eropa, hingga gaya
      ilustrasi yang sepintas sudah bisa ditebak sangat terinspirasi begawan
      komik asal Belgia, Herge. Pembaca mungkin masih ingat dengan novel
      grafis sejenis, Rampokan Jawa (Peter van Dongen, 2005), yang mengambil
      masa transisi kemerdekaan Indonesia. Bolehlah Eendaagsche
      Exprestreinen disandingkan dengan Rampokan Jawa dalam satu genre novel
      grafis.

      Penulis utama dibalik Eendaagsche Exprestreinen adalah Risdianto.
      Dengan skripsinya yang berjudul Kereta Api Surabaya – Pasuruan –
      Malang 1875-1900, Risdianto lulus di jurusan Sejarah, Universitas
      Indonesia. "Skripsi ini bercerita mengenai pembangunan jalur kereta
      api Surabaya – Pasuruan – Malang tahun 1875 – 1900," katanya. Dia
      menjelaskan jalur kereta api ini adalah yang kedua di pulau Jawa
      setelah jalur Semarang – Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta).
      Yang membangun jalur itu perusahaan pemerintah Hindia Belanda,
      Staatssporwegen. Dalam skripsi ini saya menggambarkan dampak sosial
      dan ekonomi pada jalur kereta Surabaya – Pasuruan – Malang," katanya.

      Tetapi tema perkeretaapian tidak digunakan sebagai sentral cerita
      dalam Eendaagsche Exprestreinen. Novel grafis ini menampilkan kisah
      fiksi detektif yang mengambil tempat di dalam kereta api jurusan
      Jakarta-Surabaya. Dalam penulisan naskah, Risdianto dibantu oleh Yusi
      Pareanom.

      Walau pada ilustrasi sampul depan tidak mudah ditebak bahwa novel
      grafis ini berkisah tentang kereta api, halaman pertama sudah
      memberikan petunjuk jelas. Jadwal perjalanan kereta api, stasiun Beos
      (kini stasiun Jakarta Kota), dan kedatangan sebuah keluarga di halaman
      depan stasiun sudah memancing aroma kereta api. Tak lama pembaca
      dibuat terkagum dengan ilustrasi arsitektur dan interior Stasiun Beos
      yang tersohor itu. Arsitektur stasiun yang mengagumkan ini dibuat oleh
      Ghijsels (1882-1947). Dibangun selama dua tahun hingga peresmiannya
      pada 8 Oktober 1929. Sedikit keindahan karya Ghijsels dapat kita
      saksikan disini. Sayang peran Stasiun Beos (kini bernama Stasiun
      Jakarta Kota) sebatas tempat pemberangkatan, hingga primadonna
      Ghijsels ini tidak sempat dieksplorasi lebih jauh. Semoga di lain
      kesempatan ada novel grafis dengan fokus lokasi peristiwa di Stasiun Beos.

      Suasana jalur kereta api Jakarta-Surabaya dapat disaksikan disini,
      yang merujuk pada dokumentasi tempo doeloe. Desain lokomotif dan
      rangkaian kereta dibuat dengan cermat oleh tim ilustrator yang terdiri
      dari Bondan Winarno, Dhian Prasetya, dan Gede Juliantara.

      Selain itu dapat ditemukan juga stasiun kecil, kondisi kecelakaan
      kereta api, beberapa bangunan gaya art deco, interior lokomotif,
      hingga kehidupan sosial masyarakat sekitar perlintasan kereta
      api-tanah pertanian, pasar, pedagang asongan, hingga pemangkas rambut
      bawah pohon. Semua ada, lengkap dengan dagelan yang seakan menjadi
      ciri khas novel grafis terbitan Banana Publishing sejak Ekspedisi
      Kapal Borobudur.

      Ingin sedikit mengenal cara kerja kereta api? Ada juga, dan kita
      dipandu oleh tiga remaja cilik penumpang kereta. Ketiga remaja cilik
      inilah aktor utama dalam membongkar pencurian permata di atas kereta
      api. Sinyo (bocah keturunan Belanda), Seta (pribumi), dan A Xiu (putri
      keturunan Cina). Bertiga mereka menjadi kawan seperjalanan dan
      bersama-sama mencari dalang pencuri kotak permata milik kakek A Xiu.

      Ikutilah petualangan dan cerita detektif bergaya Tintin, walau mungkin
      tidak sekompleks karakter ciptaan Herge 80 tahun lalu itu. Bertiga
      mereka selayaknya Lima Sekawan atau Sapta Siaga-nya Enid Blyton
      menikmati perjalanan kereta api, sambil melacak pencuri permata.
      Seting pencurian mengambil tempat dan waktu di dalam rangkaian kereta
      api, walau sesekali bersinggungan dengan lingkungan luar.

      Menyatunya sejarah perkeretaapian Indonesia dan kisah detektif
      berlangsung mulus, walau ada beberapa kekurangan. Elemen suspense dan
      investigasi kurang mengigit, walau sebenarnya mampu dilakukan ketiga
      tokoh utama ini. Seandainya saja drama mencekam ala Murder On The
      Orient Express (karya Agatha Christie yang diadaptasi menjadi novel
      grafis oleh Francois Riviere, 2007) didapatkan dalam Eendaagsche
      Exprestreinen. Peran ketiga tokoh cilik ini dapat menjadi lebih
      menarik dan mengundang decak kagum. Namun apa yang dilakukan ketiga
      bocah cilik ini sudah cukup baik dan mereka berbagi peran secara
      berimbang.

      Beberapa bumbu cerita juga ada disini, selain suasana kehidupan sosial
      sekitar lintasan kereta api. Obrolan pro-kemerdekaan tentang
      perjuangan Soekarno, cinta monyet (atau tepatnya cinta lokal) antara
      Seta dan A Xiu, buronan polisi yang bersembunyi di kereta api,
      termasuk gangguan jadwal perjalanan (yang masih terjadi hingga hari ini).

      "Kami ingin orang-orang tahu sejarah Indonesia bukan saja dari sejarah
      tentang peristiwa-peristiwa besar saja. Tetapi yang kecil-kecil itu
      juga bagian dari sejarah Indonesia. Juga untuk meramaikan perkomikkan
      Indonesia," Risdianto menambahkan.

      Kehadiran novel grafis dengan sejarah kereta api ini memang menambah
      warna-warni wajah komik nasional, yang banyak dinilai miskin ide dan
      variasi. Bukannya tidak mungkin kelak kita akan menemukan lebih banyak
      lagi komik dan novel grafis semacam ini.

      --- End forwarded message ---
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.