Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Komik was Ketika Buku Bermetamorfosa

Expand Messages
  • Pandu Ganesa
    Ada 2 macam Komik yang pernah beredar pada waktu itu (tahun 80-an). Yang ada warna sephianya (Album Cerita Ternama), dan yang full colour. Keduanya diterbitkan
    Message 1 of 1 , Jan 31, 2009
    • 0 Attachment
      Ada 2 macam Komik yang pernah beredar pada waktu itu (tahun 80-an). Yang ada warna sephianya (Album Cerita Ternama), dan yang full colour. Keduanya diterbitkan oleh Gramedia. Yang populer memang yang sephia, ada lebih dari 30 judul. Tapi tidak satu pun yang ada hubungannya dengan cerita Karl May. Hanya numpang nama pengarangnya saja. Ironisnya, justru ini yang sangat populer di Indonesia.

      Yang kedua, hanya 4 judul, ada nama pelukisnya, Juan Arranz. Itu 95% memakai naskah Karl May. Klub Karl May Indonesia (PKMI) telah menerbitkan ulang 2 judul (kerjasama dengan Gaya Favorit Press=Femina Group) dibuat dalam 5 jilid supaya murah. Pelan-pelan, komik Juan Arranz yang jumlahnya hampir 10 judul itu akan diterbitkan juga, baik yang colour maupun yang hitam-putih.

      Selain itu, ada juga yang komik hasil lukisannya pelukis Indonesia, 100% memakai naskah Karl May. Nyata benar bedanya kalau pakai naskah KM, misi pengarangnya tentang persahabatan dan kemanusiaan lebih nyata, bukan hanya soal berantemnya saja. Contoh soal, di gurun Sahara, ada digambarkan serombongan orang anggota kafilah sedang shalat magrib berjamaah, dan disampingnya, ada seorang Kristen sedang berdoa.

      gono

      ----- Original Message -----
      From: Imam Nur Ramadhany
      To: pasarbuku@yahoogroups.com
      Cc: gono@...
      Sent: Saturday, January 31, 2009 10:14 PM
      Subject: Re: [PasarBuku] Ketika Buku Bermetamorfosa


      wah, saya jadi makin penasaran dengan buku2 Karl May gara2 Bang Pandu
      waktu kecil saya punya beberapa komik Winnetou dan Old Shatterhand, tapi saya tidak tahu pasti apakah ada hubungan antara komik2 ini dengan karya2 Karl May. Tapi sepertinya komik2 itu dibuat berdasarkan buku2 Karl May. Tapi yg jelas komik2 ini bisa dibilang salah satu favorit saya.




      ------------------------------------------------------------------------------
      From: Pandu Ganesa <gono@...>
      To: indokarlmay@yahoogroups.com; ruangbaca@yahoogroups.com; pasarbuku <pasarbuku@yahoogroups.com>; Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com
      Cc: Suciati Savitrie Siregar <suci_siregar@...>; Cynthia Setyawati <mausi1205@...>; primardiana <ewijayati@...>
      Sent: Saturday, January 31, 2009 6:05:30 PM
      Subject: [PasarBuku] Ketika Buku Bermetamorfosa


      Tulisan ini dimuat di Ruang Baca, Koran Tempo.

      Edisi 28 January 2009

      Kolom

      Ketika Buku Bermetamorfosa


      OLEH PANDU GANESA

      Suatu hari pada 2002, saya berbincang dalam suatu acara radio yang membahas perbukuan. Pembawa acaranya Fadjroel Rachman, salah seorang calon presiden kita itu. "Apa pamrih Anda untuk 'menghidupkan' kembali karya Karl May ini -apa hanya sekedar untuk bernostalgia mengenang masa lalu saja?" Waktu itu yang dibahas adalah Dan Damai di Bumi! karangan Karl May (1842-1912), terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, 2002.

      Pertanyaan ini telak dan penting. Apa guna dan manfaatnya, mengeluarkan sekian banyak waktu, tenaga, dan mungkin juga dana demi mengenang buku yang pernah populer pada masa silam?

      Buku-buku Karl May telah dikenal di Indonesia sejak 1950. Penerbitnya Noordhoff-Kolff, Jakarta. Buku-bukunya bersampul karton tebal, berkertas mengkilap. Isinya tentang petualangan di negeri jauh, yang digemari oleh siapa saja yang remaja atau berjiwa remaja; mereka terbuai, akrab, dan menyatu dengan tokoh di buku-buku tersebut.

      Tokoh utamanya adalah Winnetou, seorang Indian Apache; Old Shatterhand alias Kara Ben Nemsi, seorang sarjana petualang Jerman; Hajji Halef, seorangArab Sahara, dan lain-lain. Karena dari bermacam suku bangsa, latar belakang, kepercayaan, maka disimpulkan buku-buku Karl May adalah bacaan remaja berisi cerita petualangan dan menonjolkan sisi persahabatan orang-orang antar ras, golongan, kepercayaan. Di atas segala-segalanya, buku ini adalah buku yang berisikan pelajaran budi-pekerti dan dibalut dengan kisah petualangan. Tema seperti itu tak salah kalau menjadi bacaan remaja pada zamannya.

      Pada masanya, buku-buku bahkan tidak harus dibeli, tapi bisa dipinjam baik di perpustakaan sekolah atau di perpustakaan umum yang terdapat di kota-kota besar, katakan setingkat kotamadya di Indonesia. Itu berjalan hingga1980-an.

      ***

      Waktu berlalu, setengah abad pun lewat. Hiburan dan gaya hidup remaja berubah. Selama dua puluh tahun (1980-2000), nama Karl May redup di belantara perbukuan Tanah Air. Zaman berganti, Internet mengambil alih peran, dan haruskan nama si jawara cerita petualangan itu akan lumat tertelan zaman?

      Yang terjadi justru anomali. Saat dunia bertambah sempit, informasi tentang perbukuan semakin mudah didapat, nama Karl May muncul atau dimunculkan kembali, dengan bantuan teknologi informasi. Buku yang sama, kini tampil berbeda.

      Contohnya bisa kita lihat di Winnetou I: Kepala Suku Apache, buku wajib bagi yang ingin kenal Karl May. Dalam versi lama, kalimat-kalimat pembukanya menyampaikan pengalaman seorang imigran Eropa yang merantau ke Amerika karena ingin melihat dunia luas. Setelah untuk sementara waktu bekerja sebagai guru privat guna mengumpulkan uang, akhirnya ia berhasil berkelana ke Barat dengan bantuan rekan-rekannya. Sungguh manis dan indah petualangannya, sesuai dengan selera remaja. Di tengah cerita disampaikan bahwa si tokoh berkenalan dan akhirnya bersahabat dengan seorang pendudukasli yang bijaksana. Tema apa lagi yang cocok untuk kaum remaja kalau bukan tentang si aku, yang berkelana dan bersahabat dengan warga setempat?

      Cerita yang kini muncul dari versi "Internet" alias versi yang ditulis sendiri oleh Karl May tiba-tiba menjadi "lain". Kalimat pembukanya saja sudah menjadikan kita merenung sekaligus menggugat. May bercerita tentang etnic cleansing, alias pemusnahan suatu bangsa! Disebutkan, ketika Turki disebut sebagai orang sakit dari Asia, bangsa Indian adalah raksasa yang sedang sekarat."Begitulah, mereka sudah menjadi orang sekarat yang siap dijemput maut. Dan kita berdiri terharu di samping tempat tidurnya, tetapi menutup mata terhadap nasibnya." Adalagi gugatan tentang ekologi: "Apa yang terjadi dengan kawanan mustang yang dulu biasa mereka tangkap dengan gesit dari atas kuda tunggangan, ke mana perginya kawanan itu sekarang? Di mana mereka kini bisa mendapat lagi bison yang menjadi santapannya seperti ketika ribuan kawanan itu masih berkeliaran di hutan-hutan prairie? Sekarang apa sumber nafkah mereka?"

      Ketika pada abad ke-19 kolonialisme sedang berada di titik zenithnya, perhatikan intisari tulisan Karl May ini, yang notabene berkulit putih: Orang kulitputih datang dengan memasang senyum manis di wajah, tetapi menyelipkan pisau tajam di pinggang berikut senjata api yang siap ditembakkan di tangan. Mereka menjanjikan cintakasih dan perdamaian dalam omongan, namun menebar kebencian dan pertumpahan darah dalam kenyataan."

      Aduhai, lantas ke mana perginya cerita petualangan yang indah itu tadi?

      ***

      Dar der dor konsumsi remaja yang mengharu-biru kini tiba-tiba senyap. Dalam Dan Damai di Bumi!, misalnya, yang muncul tak ada hubungannya dengan remaja -walau warna petualangannya masih kental -tapi renungan pertemuan budaya Barat dengan Timur, pembicaraan tentang agama, bahkan korban dan kekejaman peperangan di Aceh! (1899). Pendek kata: kemanusiaan pada umumnya. Contohnya bisa dilihat dari simbolisme Barat dan Timur ini: Akhirnya kami pun duduk bersama sampai lewat tengah malam, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jerman; atau Asia, Amerika dan Eropa, rukun dan damai di tanah Afrika. Kami berbicara mengenai hal-hal yang baik, mulia, indah dan agung, tetapi bukan mengenai perbedaan antaragama, perbedaan kepentingan antarbangsa, dan keutamaan bangsa-bangsa tertentu.

      Lantas, apa Karl May ini sudah berubah, sudah berganti genre kepenulisan? Jawabnya ya dan tidak. Ya, karena masalah usia. Tidak, karena ia tetap berbicara tentang kemanusiaan yang dibalut cerita petualangan. Cerita-cerita petualangan di Amerika dan Timur Tengah ditulis ketika ia berusia 40-50 tahun. Winnetou I ditulis ketika ia berusia 50 tahun. Sedang Dan Damai di Bumi! tentang pasifisme, antipeperangan, dan kolonialisme, ditulis ketika usianya menjelang 60 tahun. Faktor usia tentu saja berpengaruh. Tapi kenapa dan apa benar kok temanya jadi berbelok, bukan lagi tentang petualangan remaja semata, tapi kemanusiaan?

      Jawabnya: bisnis. Buku-buku Karl May terbitan Indonesia yang berlalu lalang sebagai bacaan remaja itu rupanya diterjemahkan dari naskah bahasa Belanda, yang sudah dipangkas sana-sini, dipoles seperlunya, dan voila, muncullah sebagai bacaan sehat untuk konsumsi remaja. Apakah ini salah? Dari segi pendidikan budi-pekerti, tentu saja tidak, karena esensi kepenulisan KarlMay di sini tetap terjaga, karena dengan berbalutkan cerita petualangan ia tetap menyampaikan misi kepenulisannya tentang persahabatan dan perdamaian.Tapi dari segi hak-hak dia sebagai seorang pengarang, jelas si pengarang dirugikan. Tapi, dunia perbukuan pada awal abad ke-20 mana memperhatikan ketidakacuhan hak cipta seperti begini ini?

      Demikianlah, membaca Karl May versi asli rupanya harus disikapi dengan beda. Bicara tentang pertentangan antarkaum, selisih karena penafsiran agama, yang ujung-ujungnya berakhir dengan simbah darah; lingkungan yang hancur karena keserakahan manusia; penyerobotan lahan oleh si kuat terhadap yang lemah, dan lain-lain, bagi pembaca pada awal abad ke-20 barangkali bisa dan boleh disampaikan serta dibungkus sebagai bacaan remaja. Tapi, kini, kiranya karya-karya tersebut perlu disikapi dengan semestinya, walau seolah-olah kini terlihat berbeda. Ketika esensi ceritanya menjadi isu masa kini bagi pembaca Indonesia, bukankah bacaan yang semacam ini tidak terlalu salah untuk dipopulerkan lagi? Baik dengan atau tanpa tanya dari bang Fadjroel tercinta?

      Bagaimana pendapat Anda, saudara?

      Penulis adalah penggagas Paguyuban Karl May Indonesia http://indokarlmay. com


      .




      [Non-text portions of this message have been removed]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.