Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: topan !

Expand Messages
  • Rieza Fitramuliawan
    sebelum membaca ulang taufan ini, saya masih menganggap, di dalam pustaka komik indonesia, trilogi mat pelor teguh santosa adalah yang paling unggul, dari segi
    Message 1 of 9 , Oct 8, 2008
    View Source
    • 0 Attachment
      sebelum membaca ulang taufan ini, saya masih menganggap, di dalam
      pustaka komik indonesia, trilogi mat pelor teguh santosa adalah yang
      paling unggul, dari segi penceritaan. bagaimana sebuah cerita bisa
      ditarik maju mundur sampai berpuluh tahun dalam sebuah kisah panjang
      trilogi.
      teguh santosa, sejak dari shandora, saya pikir, memang sudah siap
      dengan sebuah trilogi.

      khusus untuk taufan.
      karya ini, dalam liga yang berbeda tentunya. punya kemiripan dengan
      bagaimana cara osamu tezuka -dewa manga jepang- menyajikan sebuah
      cerita. sub plot yang berkesinambungan.
      memang tidak otentik. beberapa "scenes" yang ganes th tampilkan dalam
      taufan, adalah colongan dari berbagai film dan buku. tetapi tetap
      ditdak membuat cerita taufan menjadi kacangan. colongan yang kutip
      ganes th, adalah sebuah kebutuhan cerita.

      ganes th memang bukan seorang pembaca sejarah yang serius. tidak
      seperti teguh santosa yang selalu siap dengan pengetahuan sejarah
      dunia dan ilmu bumi. ganes th tidaklah demikian. untuk menutup
      kekurangannya ini, cerita ganes th selalu dibalut dengan humor.
      dengan rasa humor itu pula ganes th memanfaatkan peristiwa
      rengasdengklok, dimana mobil yang dikendarai oleh salah satu karakter
      musuh besar suryadi, hampir bertabrakan dengan mobil yang dilihatnya
      ditumpangi oleh rombongan bung karno dan putra [guntur?], ibu
      fatmawati, dan bung hatta.
      rasa humor yang sangat menyegarkan.

      kealpaan akan sejarah ini jugalah yang membuat lubang besar untuk
      taufan ini. ganes th lupa, kejatuhan jepang di dunia pada tahun itu
      adalah karena adanya peristiwa bom aton hiroshima.
      tak sekalipun ganes th menyinggung hal ini. walau ia menampilkan para
      prajurit jepang yang "harakiri".

      memang tidak ada yang semourna.
      dan didalam ketidak sempurnaan. inilah yang paling terbaik dari komik-
      komik karya ganes th.

      -end,





      --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, "Rieza Fitramuliawan"
      <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:
      >
      > taufan
      >
      > sebutkan tiga judul komik karya ganes th terbaik !
      >
      > pasti akan terjadi diskusi dan mungkin perdebatan panjang mengenai
      > hal ini. menyebut 3 judul dari puluhan komik karya ganes th
      sepanjang
      > karirnya bukanlah pekerjaan mudah. harus disepakati dulu parameter
      > apa yang akan digunakan untuk memilih judul-judul itu. tapi,
      > permintaan saya hanya satu. mohon pastikan agar "taufan" ada dalam
      > daftar anda.
      >
      > ganes th adalah seorang linearis. itulah istilah yang saya gunakan
      > untuk mendefinisikan cara bagaimana ganes th menyuguhkan cerita.
      > maksudnya linear adalah , cerita berjalan lurus saja, dengan satu
      > tema tunggal yang konsisten digumul, dan jarang atau hamper tidak
      > pernah dibumbui oleh sub-plot.
      >
      > "taufan" adalah perkecualian.
      > di luar "taufan", ada "tuan tanah kedawung" , hanya saja "taufan"
      > jauh lebih menarik dibandingkan dengan "tuan tanah kedawung", baik
      > dari cara penyajian plot, pengembangan cerita [sub plot], dan cara
      > bagaimana ganes th menyelesaikan cerita dengan ending yang menawan.
      >
      > bagaimana cerita ini dimulai saja sudah sangat memikat. dari sebuah
      > ruang penjara yang dihuni oleh dua orang tawanan, mendadak ruang
      > tahanan tersebut ketambahan dengan satu orang penghuni lagi.
      rupanya
      > ketiga tahanan itu sudah saling mengenal. dari ruang penjara
      > tersebut, salah seorang tahanan, yang kemudian akan menjadi tokoh
      > utama cerita ini, bertutur melakukan flash back.
      >
      > [CUT]
      > ...............................................................
      >
      > untuk membaca artikel ini secara lengkap lengkap, silakan
      berkunjung
      > ke situs multiply di bawah ini, yang kami dedikasikan untuk ganes
      th :
      >
      > www.ganesth.multiply.com
      >
      > dan jangan lupa untuk memberikan komentar anda.
      >
      > :salam:
      > ps : thanks untuk andy wijaya.
      >
    • henry ismono
      Pak Rieza dan rekan, Saya sepakat, Taufan merupakan salah satu karya terbaik Ganes Th. Buat saya pribadi, komik ini bila dianalogikan dalam dunia teater,
      Message 2 of 9 , Oct 9, 2008
      View Source
      • 0 Attachment
        Pak Rieza dan rekan,

        Saya sepakat, Taufan merupakan salah satu karya terbaik Ganes Th. Buat saya pribadi, komik ini bila dianalogikan dalam dunia teater, serupa "Teater Teror"-nya Putu Wijaya di masa muda. Bila Putu meneror penonton lewat adegan panggungnya (seperti dalam lakon Aduh, Wah, Aib), Ganes meneror pembaca lewat narasi dan gambarnya yang sangat kuat.

        Ending Taufan, merupakan teror terkuat buat sebuah hati nurani. Sebuah ungkapan  yang  memang sangat mungkin terjadi  di masa  kekacauan. Siapa pahlawan, siapa pecundang,  siapa pengkhianat menjadi sangat nisbi. Inilah kritik Ganes yang sangat tajam terhadap persoalan kekinian, yang nota bene menunjukkan kecerdasan Ganes sekaligus pemihakannya pada persoalan kebangsaan.

        Membaca Taufan  yang cukup panjang ini,  sangat tidak membosankan.  Adegan yang meneror itu  menjadi  kenikmatan tersendiri.  Ada sensasi, ada geram, ada kepedihan, ada tangis.

        Dan uniknya, justru karya-karya lepas Ganes yang ceritanya kuat. Tuan Tanah Kedawung tak kalah hebat dalam teknik bercerita yang disampakan dengan pola kilas balik. Juga Petualang (salah satu favorit saya), tentang sisa laskar Diponegoro yang kaya konflik.

        Namun, ketika membuat serial Si Buta, Ganes agak kedodoran. Saya terkesima hanya sampai di episode Sorga yang Hilang. Selanjutnya, Ganes lebih banyak ke pengulangan. Wilayah antara batas maya dan fakta, berulang-ulang dikedepankan Ganes. Tapi, rasanya tetap wajar. Sepanjang saya paham, hampir semua komikus masa lalu, memang punya penyakit terjebak ke pengulangan.

        Sekian dan salam
        Henry

        Sedikit tambahan: Ganes adalah sedikit komikus yang punya karakter. Karya-karya meneguhkan hipotesis Seno Gumira yang menyebutkan komikus  adalah  pelukis sekaligus sastrawan. Sebab, narasi Ganes memang sangat sastra.

        --- On Wed, 10/8/08, Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:
        From: Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...>
        Subject: [komik_indonesia] topan !
        To: komik_indonesia@yahoogroups.com
        Date: Wednesday, October 8, 2008, 12:41 PM











        taufan



        sebutkan tiga judul komik karya ganes th terbaik !



        pasti akan terjadi diskusi dan mungkin perdebatan panjang mengenai

        hal ini. menyebut 3 judul dari puluhan komik karya ganes th sepanjang

        karirnya bukanlah pekerjaan mudah. harus disepakati dulu parameter

        apa yang akan digunakan untuk memilih judul-judul itu. tapi,

        permintaan saya hanya satu. mohon pastikan agar "taufan" ada dalam

        daftar anda.


         




















        [Non-text portions of this message have been removed]
      • Rieza Fitramuliawan
        wah, kebetulan sekali pak henry, karena saya sekarang justru sedang membaca ulang serial komik si buta dari gua hantu paska surga yang hilang . periode ini
        Message 3 of 9 , Oct 9, 2008
        View Source
        • 0 Attachment
          wah, kebetulan sekali pak henry, karena saya sekarang justru sedang membaca ulang serial komik si buta dari gua hantu paska ''surga yang hilang''.

          periode ini saya juluki ''periode sulawesi'' , dengan rentang mulai dari ''surga yang hilang, prahara donggala'', pengantin kelana'', dst.

          seperti yang juga pak henry rasakan, saya juga agak heran kenapa ganes th seakan terjebak dengan pengulangan pada periode sulawesi ini, seakan beliau sedang terobsesi dengan tema mistik dan supranatural, khususnya dimensi waktu paralel.

          saya lakukan riset kecil saja, google kesana kemari, untuk mengetahui apakah suku bugis di sulawesi mengenal mitos atau cerita mistik rakyat berkenaan dengan lorong waktu atau dimensi waktu paralel. sampai sekarang, saya belum menemukan adanya mitos tersebut. kesimpulan sementara, ganes th memang tidak menggalinya dari cerita rakyat bugis.

          berbeda dengan teguh santosa, yang kabarnya - bahkan ketika teguh santosa merambah tema mistik dan supranatural, beliau masih tetap menyandarkannya kepada mitos atau cerita rakyat betulan yang kabarnya memang beliau pahami.

          ganes th ini sangat pandai bercerita, hanya saja beliau tidak tertarik untuk memperkaya nuansa cerita yang ia sajikan dengan hal-hal yang menurut saya justru akan membuat cerita komik ganes ini semakin bernuansa sastrawi.

          misal ketika beliau bercerita tantang ''kali djodo'',''kedawung'', ''kota intan'', ''tjisadane'', ''krakatau'' , dan lain lain. tempat-tempat itu bukanlah fiktif, tapi sayang sekali ganes th tidak tertarik untuk mengaitkannya secara dalam dengan fakta-fakta sejarah lain yang berkaitan dengannya. kecuali hanya menggunakannya untuk latar belakang tempat belaka.

          padahal kalau saja ganes th meleburkan ceritanya dengan fakta sejarah, membuat adonan fakta dan fiktif. seperti misal karya-karya pramudya di prosa atau dalam pustaka komik indonesia adalah , misal : shandora. niscaya bobot sastrawi karya ganes th akan semakin terasa.

          sayang sekali sebetulnya, ganes th tidak tertarik memperdalam dan memperkuat kenonfiksian taufan, padahal beliau sudah bermain-main dengan fakta kejadian rengasdengklok dan sejarah pendudukan jepang di indonesia.

          alih-alih memperdalam unsur sejarahnya, ganes th lebih memilih cara aman dengan menciptakan lokasi pulau neraka yang sangat fiktis ini. mungkin lokasi fiktif pulau neraka ini adalah cara ganes th paling aman untuk menghindar dari tuntutan riset.

          sepertinya ganes th bukanlah seorang pembaca, beliau lebih kepada seorang pengamat. riset yang beliau lakukan adalah lebih kepada pengamatan, bukan kepada kajian. ini nampak betul kalau kita baca karya-karya komiknya.

          misal , khususnya komik ''taufan'' ini. sama seperti pak henry, saya sangat mengagumi ''taufan''. ''pacing'' komik ini mengalir lambat di awal sekan sedang mendaki ke arah puncak konflik. sub plot ditebar bercabang, dan bersatu kembali di penghujung cerita. walau tipikal cerita khas indonesia yang sering mengandalkan berbagai kejadian kebetulan untuk merangkai cerita masih terasa (khususnya di penghujung cerita), tapi untungnya, masih terasa manis.

          mungkin setelah diteror oleh berbagai kejadian kekerasan dan kesadisan di tengah cerita, cara ganes th mengakhiri ''taufan'' ini, adalah yang paling pas.

          ini juga komik ganes th, yang akhirnya secara gamblang menampilkan juga sebuah visualisasi kritik sosial kini.

          saya betul sangat terkejut sekali ketika ganes th mentwist karakter kian seng di dalam komik ini.

          kian seng, seorang peranakan tionghoa pejuang pembela tanah air. semasa perang kemerdekaan sudah sering dilecehkan karena ketionghoaannya ini, padahal dia ikut melawan jepang berjuang tanpa sayang nyawa. membela kawan seperjuangan.

          sungguh hebat ketika kemudian ganes th memutuskan untuk bermain dengan karakter kian seng di akhir cerita, yang sangat relevan dan manusiawi sekali. sebuah kritik sosial di jaman pembangunan yang masih uptodate.

          dan bagaimana dengan karakter darnoto? ... inilah karakter antagonis tipikal ganes th. orang semacam dia ini, selalu saja muncul hampir di setiap komik ganes. tokoh abu-abu yang sangat tengik, dengan kepribadian unik.

          mungkin sampai bertahun-tahun ke depan, karya-karya komik ganes th akan selalu dibicarakan orang. mudah-mudahan saja.

          -rf


          --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, henry ismono <hnrnova@...> wrote:
          >
          > Pak Rieza dan rekan,
          >
          > Saya sepakat, Taufan merupakan salah satu karya terbaik Ganes Th. Buat saya pribadi, komik ini bila dianalogikan dalam dunia teater, serupa "Teater Teror"-nya Putu Wijaya di masa muda. Bila Putu meneror penonton lewat adegan panggungnya (seperti dalam lakon Aduh, Wah, Aib), Ganes meneror pembaca lewat narasi dan gambarnya yang sangat kuat.
          >
          > Ending Taufan, merupakan teror terkuat buat sebuah hati nurani. Sebuah ungkapan  yang  memang sangat mungkin terjadi  di masa  kekacauan. Siapa pahlawan, siapa pecundang,  siapa pengkhianat menjadi sangat nisbi. Inilah kritik Ganes yang sangat tajam terhadap persoalan kekinian, yang nota bene menunjukkan kecerdasan Ganes sekaligus pemihakannya pada persoalan kebangsaan.
          >
          > Membaca Taufan  yang cukup panjang ini,  sangat tidak membosankan.  Adegan yang meneror itu  menjadi  kenikmatan tersendiri.  Ada sensasi, ada geram, ada kepedihan, ada tangis.
          >
          > Dan uniknya, justru karya-karya lepas Ganes yang ceritanya kuat. Tuan Tanah Kedawung tak kalah hebat dalam teknik bercerita yang disampakan dengan pola kilas balik. Juga Petualang (salah satu favorit saya), tentang sisa laskar Diponegoro yang kaya konflik.
          >
          > Namun, ketika membuat serial Si Buta, Ganes agak kedodoran. Saya terkesima hanya sampai di episode Sorga yang Hilang. Selanjutnya, Ganes lebih banyak ke pengulangan. Wilayah antara batas maya dan fakta, berulang-ulang dikedepankan Ganes. Tapi, rasanya tetap wajar. Sepanjang saya paham, hampir semua komikus masa lalu, memang punya penyakit terjebak ke pengulangan.
          >
          > Sekian dan salam
          > Henry
          >
          > Sedikit tambahan: Ganes adalah sedikit komikus yang punya karakter. Karya-karya meneguhkan hipotesis Seno Gumira yang menyebutkan komikus  adalah  pelukis sekaligus sastrawan. Sebab, narasi Ganes memang sangat sastra.
          >
          > --- On Wed, 10/8/08, Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:
          > From: Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...>
          > Subject: [komik_indonesia] topan !
          > To: komik_indonesia@yahoogroups.com
          > Date: Wednesday, October 8, 2008, 12:41 PM
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > taufan
          >
          >
          >
          > sebutkan tiga judul komik karya ganes th terbaik !
          >
          >
          >
          > pasti akan terjadi diskusi dan mungkin perdebatan panjang mengenai
          >
          > hal ini. menyebut 3 judul dari puluhan komik karya ganes th sepanjang
          >
          > karirnya bukanlah pekerjaan mudah. harus disepakati dulu parameter
          >
          > apa yang akan digunakan untuk memilih judul-judul itu. tapi,
          >
          > permintaan saya hanya satu. mohon pastikan agar "taufan" ada dalam
          >
          > daftar anda.
          >
          >
          >  
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          >
          > [Non-text portions of this message have been removed]
          >
        • toni masdiono
          mmm, masalah ini sebetulnya memang ujung-ujung nya masalah kejar terbit. berapa sih cergamis kita dulu dibayar? pak teguh almarhum memang pernah cerita ke
          Message 4 of 9 , Oct 11, 2008
          View Source
          • 0 Attachment
            mmm,
            masalah ini sebetulnya memang ujung-ujung nya
            masalah kejar terbit.
            berapa sih cergamis kita dulu dibayar?
            pak teguh almarhum memang pernah cerita ke saya,
            beliau berusaha menggali sedalam mungkin cerita2nya
            tapi ya, penerbit kan ga mau tahu, jadi ga ada biaya untuk itu.
            resiko cergamis lah, buang biaya sendiri,
            jadi ya se efisien mungkin saat bikin cergam.
            pak teguh mengatasi kelemahan tersebut dengan sering
            ngobrol dengan teman2nya yang ahli tentang klenik, mojopahit,
            dan sebagainya, pokoknya yang iritlah.
            pak ganesh sih saya pikir banyak ngandelin 'gosip'
            tentang hal-hal yang ingin dia tahu.
            kalo penerbit di luar, sebagai bandingan,
            biasanya mereka mendukung dana untuk survey
            guna pendalaman suatu masalah ^_^
             
            memang beda ya?
             
            toni masdiono

            --- On Thu, 10/9/08, Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:

            From: Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...>
            Subject: [komik_indonesia] Re: topan !
            To: komik_indonesia@yahoogroups.com
            Date: Thursday, October 9, 2008, 10:05 PM






            wah, kebetulan sekali pak henry, karena saya sekarang justru sedang membaca ulang serial komik si buta dari gua hantu paska ''surga yang hilang''.

            periode ini saya juluki ''periode sulawesi'' , dengan rentang mulai dari ''surga yang hilang, prahara donggala'', pengantin kelana'', dst.

            seperti yang juga pak henry rasakan, saya juga agak heran kenapa ganes th seakan terjebak dengan pengulangan pada periode sulawesi ini, seakan beliau sedang terobsesi dengan tema mistik dan supranatural, khususnya dimensi waktu paralel.

            saya lakukan riset kecil saja, google kesana kemari, untuk mengetahui apakah suku bugis di sulawesi mengenal mitos atau cerita mistik rakyat berkenaan dengan lorong waktu atau dimensi waktu paralel. sampai sekarang, saya belum menemukan adanya mitos tersebut. kesimpulan sementara, ganes th memang tidak menggalinya dari cerita rakyat bugis.

            berbeda dengan teguh santosa, yang kabarnya - bahkan ketika teguh santosa merambah tema mistik dan supranatural, beliau masih tetap menyandarkannya kepada mitos atau cerita rakyat betulan yang kabarnya memang beliau pahami.

            ganes th ini sangat pandai bercerita, hanya saja beliau tidak tertarik untuk memperkaya nuansa cerita yang ia sajikan dengan hal-hal yang menurut saya justru akan membuat cerita komik ganes ini semakin bernuansa sastrawi.

            misal ketika beliau bercerita tantang ''kali djodo'',''kedawung' ', ''kota intan'', ''tjisadane' ', ''krakatau'' , dan lain lain. tempat-tempat itu bukanlah fiktif, tapi sayang sekali ganes th tidak tertarik untuk mengaitkannya secara dalam dengan fakta-fakta sejarah lain yang berkaitan dengannya. kecuali hanya menggunakannya untuk latar belakang tempat belaka.

            padahal kalau saja ganes th meleburkan ceritanya dengan fakta sejarah, membuat adonan fakta dan fiktif. seperti misal karya-karya pramudya di prosa atau dalam pustaka komik indonesia adalah , misal : shandora. niscaya bobot sastrawi karya ganes th akan semakin terasa.

            sayang sekali sebetulnya, ganes th tidak tertarik memperdalam dan memperkuat kenonfiksian taufan, padahal beliau sudah bermain-main dengan fakta kejadian rengasdengklok dan sejarah pendudukan jepang di indonesia.

            alih-alih memperdalam unsur sejarahnya, ganes th lebih memilih cara aman dengan menciptakan lokasi pulau neraka yang sangat fiktis ini. mungkin lokasi fiktif pulau neraka ini adalah cara ganes th paling aman untuk menghindar dari tuntutan riset.

            sepertinya ganes th bukanlah seorang pembaca, beliau lebih kepada seorang pengamat. riset yang beliau lakukan adalah lebih kepada pengamatan, bukan kepada kajian. ini nampak betul kalau kita baca karya-karya komiknya.

            misal , khususnya komik ''taufan'' ini. sama seperti pak henry, saya sangat mengagumi ''taufan''. ''pacing'' komik ini mengalir lambat di awal sekan sedang mendaki ke arah puncak konflik. sub plot ditebar bercabang, dan bersatu kembali di penghujung cerita. walau tipikal cerita khas indonesia yang sering mengandalkan berbagai kejadian kebetulan untuk merangkai cerita masih terasa (khususnya di penghujung cerita), tapi untungnya, masih terasa manis.

            mungkin setelah diteror oleh berbagai kejadian kekerasan dan kesadisan di tengah cerita, cara ganes th mengakhiri ''taufan'' ini, adalah yang paling pas.

            ini juga komik ganes th, yang akhirnya secara gamblang menampilkan juga sebuah visualisasi kritik sosial kini.

            saya betul sangat terkejut sekali ketika ganes th mentwist karakter kian seng di dalam komik ini.

            kian seng, seorang peranakan tionghoa pejuang pembela tanah air. semasa perang kemerdekaan sudah sering dilecehkan karena ketionghoaannya ini, padahal dia ikut melawan jepang berjuang tanpa sayang nyawa. membela kawan seperjuangan.

            sungguh hebat ketika kemudian ganes th memutuskan untuk bermain dengan karakter kian seng di akhir cerita, yang sangat relevan dan manusiawi sekali. sebuah kritik sosial di jaman pembangunan yang masih uptodate.

            dan bagaimana dengan karakter darnoto? ... inilah karakter antagonis tipikal ganes th. orang semacam dia ini, selalu saja muncul hampir di setiap komik ganes. tokoh abu-abu yang sangat tengik, dengan kepribadian unik.

            mungkin sampai bertahun-tahun ke depan, karya-karya komik ganes th akan selalu dibicarakan orang. mudah-mudahan saja.

            -rf

            --- In komik_indonesia@ yahoogroups. com, henry ismono <hnrnova@... > wrote:
            >
            > Pak Rieza dan rekan,
            >
            > Saya sepakat, Taufan merupakan salah satu karya terbaik Ganes Th. Buat saya pribadi, komik ini bila dianalogikan dalam dunia teater, serupa "Teater Teror"-nya Putu Wijaya di masa muda. Bila Putu meneror penonton lewat adegan panggungnya (seperti dalam lakon Aduh, Wah, Aib), Ganes meneror pembaca lewat narasi dan gambarnya yang sangat kuat.
            >
            > Ending Taufan, merupakan teror terkuat buat sebuah hati nurani. Sebuah ungkapan  yang  memang sangat mungkin terjadi  di masa  kekacauan. Siapa pahlawan, siapa pecundang,  siapa pengkhianat menjadi sangat nisbi. Inilah kritik Ganes yang sangat tajam terhadap persoalan kekinian, yang nota bene menunjukkan kecerdasan Ganes sekaligus pemihakannya pada persoalan kebangsaan.
            >
            > Membaca Taufan  yang cukup panjang ini,  sangat tidak membosankan.  Adegan yang meneror itu  menjadi  kenikmatan tersendiri.  Ada sensasi, ada geram, ada kepedihan, ada tangis.
            >
            > Dan uniknya, justru karya-karya lepas Ganes yang ceritanya kuat. Tuan Tanah Kedawung tak kalah hebat dalam teknik bercerita yang disampakan dengan pola kilas balik. Juga Petualang (salah satu favorit saya), tentang sisa laskar Diponegoro yang kaya konflik.
            >
            > Namun, ketika membuat serial Si Buta, Ganes agak kedodoran. Saya terkesima hanya sampai di episode Sorga yang Hilang. Selanjutnya, Ganes lebih banyak ke pengulangan. Wilayah antara batas maya dan fakta, berulang-ulang dikedepankan Ganes. Tapi, rasanya tetap wajar. Sepanjang saya paham, hampir semua komikus masa lalu, memang punya penyakit terjebak ke pengulangan.
            >
            > Sekian dan salam
            > Henry
            >
            > Sedikit tambahan: Ganes adalah sedikit komikus yang punya karakter. Karya-karya meneguhkan hipotesis Seno Gumira yang menyebutkan komikus  adalah  pelukis sekaligus sastrawan. Sebab, narasi Ganes memang sangat sastra.
            >
            > --- On Wed, 10/8/08, Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_ hoen@...> wrote:
            > From: Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_ hoen@...>
            > Subject: [komik_indonesia] topan !
            > To: komik_indonesia@ yahoogroups. com
            > Date: Wednesday, October 8, 2008, 12:41 PM
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            > taufan
            >
            >
            >
            > sebutkan tiga judul komik karya ganes th terbaik !
            >
            >
            >
            > pasti akan terjadi diskusi dan mungkin perdebatan panjang mengenai
            >
            > hal ini. menyebut 3 judul dari puluhan komik karya ganes th sepanjang
            >
            > karirnya bukanlah pekerjaan mudah. harus disepakati dulu parameter
            >
            > apa yang akan digunakan untuk memilih judul-judul itu. tapi,
            >
            > permintaan saya hanya satu. mohon pastikan agar "taufan" ada dalam
            >
            > daftar anda.
            >
            >
            >  
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            >
            > [Non-text portions of this message have been removed]
            >


















            [Non-text portions of this message have been removed]
          • karna
            Riset belum menjadi budaya di negeri kita. Inovasi, dan invensi dan kreatifitas yg diperoleh melalui kajian dan penelitian masih dianggap bukan hal utama dan
            Message 5 of 9 , Oct 12, 2008
            View Source
            • 0 Attachment
              Riset belum menjadi budaya di negeri kita. Inovasi, dan invensi dan
              kreatifitas yg diperoleh melalui kajian dan penelitian masih dianggap
              bukan hal utama dan terlalu penting. Padahal dari kajian dan
              penelitian inilah sumbangan bagi berbagai masalah masyarakat di atasi,
              baik dari segi eksakta teknologi hingga sastra sosial.
              Orang dewasa membaca komik aja masih dianggap aneh kurang kerjaan,
              apalagi meneliti dan membuat kajian ttg komik, jangankan orang awam,
              bahkan di kalangan komunitas komik aja masih dianggap kurang kerjaan
              dan gak bermanfaat (marjinal diantara marjinal)

              --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, toni masdiono
              <toni_masdiono@...> wrote:

              > kalo penerbit di luar, sebagai bandingan,
              > biasanya mereka mendukung dana untuk survey
              > guna pendalaman suatu masalah ^_^
              >  
              > memang beda ya?
              >
            • toni masdiono
              he he he kang karna, saya juga masih sering diketawain ngomongin komik, aneh!   toni ... From: karna Subject: [komik_indonesia] Re:
              Message 6 of 9 , Oct 12, 2008
              View Source
              • 0 Attachment
                he he he
                kang karna, saya juga masih sering diketawain ngomongin komik,
                aneh!
                 
                toni

                --- On Sun, 10/12/08, karna <karnamustaqim@...> wrote:

                From: karna <karnamustaqim@...>
                Subject: [komik_indonesia] Re: re:topan !
                To: komik_indonesia@yahoogroups.com
                Date: Sunday, October 12, 2008, 8:38 AM






                Riset belum menjadi budaya di negeri kita. Inovasi, dan invensi dan
                kreatifitas yg diperoleh melalui kajian dan penelitian masih dianggap
                bukan hal utama dan terlalu penting. Padahal dari kajian dan
                penelitian inilah sumbangan bagi berbagai masalah masyarakat di atasi,
                baik dari segi eksakta teknologi hingga sastra sosial.
                Orang dewasa membaca komik aja masih dianggap aneh kurang kerjaan,
                apalagi meneliti dan membuat kajian ttg komik, jangankan orang awam,
                bahkan di kalangan komunitas komik aja masih dianggap kurang kerjaan
                dan gak bermanfaat (marjinal diantara marjinal)

                --- In komik_indonesia@ yahoogroups. com, toni masdiono
                <toni_masdiono@ ...> wrote:

                > kalo penerbit di luar, sebagai bandingan,
                > biasanya mereka mendukung dana untuk survey
                > guna pendalaman suatu masalah ^_^
                >  
                > memang beda ya?
                >


















                [Non-text portions of this message have been removed]
              • Rieza Fitramuliawan
                apakah beneran ada penerbit komik [luar] yang memberikan dukungan dana kepada para artis dan para penulis komiknya dalam melakukan survey atau riset ? yang
                Message 7 of 9 , Oct 14, 2008
                View Source
                • 0 Attachment
                  apakah beneran ada penerbit komik [luar] yang memberikan dukungan
                  dana kepada para artis dan para penulis komiknya dalam melakukan
                  survey atau riset ?

                  yang saya tahu. mereka [para penerbit atau pihak lain] membayar di
                  depan [cash in advance] sejumlah uang kepada si artis atau penulis.

                  uang tersebut adalah hasil negosiasi antara penerbit dan sang artis
                  [bisa penulis atau artis] , dimana jumlahnya dirasa cukup untuk artis
                  komik [atau penulis] tidak usah melakukan pekerjaan apa apa lagi
                  selama waktu yang ditentukan [misal dateline = 2 bulan, utk satu
                  cerita].

                  uang itu, mau dihabiskan untuk urusan dapur, atau oleh sang artis
                  dipakai sebagian untuk riset [misal harus pergi ke luar negeri, beli
                  buku, atau beli apa saja yang dirasa perlu untuk mendukung cerita
                  yang ia garap]. terserah.

                  mereka yang profesional, mereka akan mengalokasikan beberapa persen
                  uang itu utk melakukan beberapa hal ; misal riset dll.
                  dimanapun riset dilakukan. atau bisa dipakai untuk menyepi ke mana
                  saja demi dapat ilham dan lebih tenang menulis dll.

                  nanti hasil pekerjaannya dinilai oleh editor dari penerbit yang
                  bersangkutan. kalau dirasa ngawur atau dibawah mutu dari standar
                  penerbit : terpaksa si penulis komik atau si artis, harus bolak balik
                  merevisi cerita atau gambar. dll.

                  kalau kebangetan jelek mutunya. si artis atau penulis ya tidak akan
                  diberi order lagi. biar mereka cari-cari penerbit lagi dengan
                  kurikulum vitae, jelek. dan karyanya tidak akan diterbitkan.

                  kembali ke konteks ganes th.
                  saya sih tidak melihat ganes sebagai seniman komik yang kekurangan
                  uang, yang membuat karya tergantung dari berapa ia dibayar.
                  hanya saja, ganes th memang tidak bergaya sebagai seniman yang tidak
                  terlalu mengutamakan keakuratan dan kedalaman cerita. istilahnya :
                  ngepop.

                  khusus untuk komik taufan ini.
                  memangnya. apakah harus keluar biaya banyak atau terlalu memakan
                  banyak waktu untuk menentukan atau mendukung geografis pulau neraka
                  di komik taufan agar lebih relevan dengan latar waktu masa pendudukan
                  jepang yang beliau pergunakan. memangnya harus riset dalam artian
                  beneran riset sampai harus keluar biaya gede?

                  ganes th kan mengalami masa masa itu [ia lahir tahun 1935], sudah
                  berumur 10 tahun di masa pendudukan jepang. dan mengarang komik
                  taufan diumurnya yang 27 tahun. jadi beliau tahu seperti apa
                  situasinya.

                  ganes th tinggal membuka peta jawa barat.
                  menentukan dimana kira-kira lokasi yang ingin ia pakai sebagai pulau
                  neraka. kemudian beliau bisa mengira-ngira. berapa jarak dari pulau
                  tersebut ke antara bekasi dan karawang [rengasdengklok]. apakah masuk
                  akal atau apakah logis.

                  kalau pulau neraka itu berdekatan dengan rengasdengklok. dimana kira-
                  kira? ...
                  melihat geografis pulau neraka. maka mungkin ada di nusa kambangan.
                  hanya saja aneh saja ada orang bicara betawi didaerah itu.
                  atau mungkin disekitar pulau seribu? mungkin juga karena dekat ibu
                  kota jakarta. nah, kan tinggal disebutkan saja. dan tambah informasi
                  tambahan bahwa rombongan suryadi bertolak ke pulau tersebut dari
                  priok atau mana gitu.
                  kan ada di buku pelajaran sekolah.
                  jadi riset apa maksudnya sehingga harus mengeluarkan biaya?
                  tapi memang ini gaya ganeh th. sebagai pengarang cerita. bahkan tanpa
                  didukung hal2 seperti itu saja, ceritanya sudah menarik.
                  hanya saja untuk mendaki ke arah pengakuan sastrawi. hal-hal yang
                  mendukung kelogisan cerita, sangatlah diperlukan.

                  nah,
                  untuk jaman sekarang. biaya riset itu memangnya harus disediakan
                  penerbit ya ? hingga komikus harus complain karena tidak diberi dana
                  untuk riset?
                  kadang, kan tinggal buka peta saja, atau internet, atau pergi ke
                  perpustakaan.

                  yang ideal adalah.
                  apabila penerbit menemukan bakat. ia harus mendukung bakat tersebut
                  dengan menyediakan keperluan yang bersangkutan.
                  dan untuk hal tersebut. beberapa penerbit sudah akan melakukannya.

                  salam,








                  --- In komik_indonesia@yahoogroups.com, toni masdiono
                  <toni_masdiono@...> wrote:
                  >
                  > mmm,
                  > masalah ini sebetulnya memang ujung-ujung nya
                  > masalah kejar terbit.
                  > berapa sih cergamis kita dulu dibayar?
                  > pak teguh almarhum memang pernah cerita ke saya,
                  > beliau berusaha menggali sedalam mungkin cerita2nya
                  > tapi ya, penerbit kan ga mau tahu, jadi ga ada biaya untuk itu.
                  > resiko cergamis lah, buang biaya sendiri,
                  > jadi ya se efisien mungkin saat bikin cergam.
                  > pak teguh mengatasi kelemahan tersebut dengan sering
                  > ngobrol dengan teman2nya yang ahli tentang klenik, mojopahit,
                  > dan sebagainya, pokoknya yang iritlah.
                  > pak ganesh sih saya pikir banyak ngandelin 'gosip'
                  > tentang hal-hal yang ingin dia tahu.
                  > kalo penerbit di luar, sebagai bandingan,
                  > biasanya mereka mendukung dana untuk survey
                  > guna pendalaman suatu masalah ^_^
                  >  
                  > memang beda ya?
                  >  
                  > toni masdiono
                  >
                  > --- On Thu, 10/9/08, Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...>
                  wrote:
                • toni masdiono
                  ya, saya mbaca di tetzujin, bahwa sang manga ka sempat pergi ke lokasi cerita, di china, yang akan dibuat dengan penerbitnya. juga dalam hal screen tone
                  Message 8 of 9 , Oct 14, 2008
                  View Source
                  • 0 Attachment
                    ya,
                    saya mbaca di tetzujin,
                    bahwa sang manga ka sempat pergi ke lokasi cerita, di china, yang akan dibuat dengan penerbitnya. juga dalam hal screen tone memang penerbit juga keluar dana untuk beli dulu. mungkin juga sih saking besarnya nilai kontrak cukup u biaya ini itu^_^
                    tapi jaman sekarang kan kita bisa browsing aja untuk cari data.
                    pendalaman itu masalah lain, paling ideal ya ngalamin langsung.
                     
                    diskusi ini misalnya, sebuah pendalaman dari kang rieza, sangat bermanfaat!
                     
                    toni

                    --- On Tue, 10/14/08, Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...> wrote:

                    From: Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_hoen@...>
                    Subject: [komik_indonesia] Re: re:topan !
                    To: komik_indonesia@yahoogroups.com
                    Date: Tuesday, October 14, 2008, 8:38 AM








                    apakah beneran ada penerbit komik [luar] yang memberikan dukungan
                    dana kepada para artis dan para penulis komiknya dalam melakukan
                    survey atau riset ?

                    yang saya tahu. mereka [para penerbit atau pihak lain] membayar di
                    depan [cash in advance] sejumlah uang kepada si artis atau penulis.

                    uang tersebut adalah hasil negosiasi antara penerbit dan sang artis
                    [bisa penulis atau artis] , dimana jumlahnya dirasa cukup untuk artis
                    komik [atau penulis] tidak usah melakukan pekerjaan apa apa lagi
                    selama waktu yang ditentukan [misal dateline = 2 bulan, utk satu
                    cerita].

                    uang itu, mau dihabiskan untuk urusan dapur, atau oleh sang artis
                    dipakai sebagian untuk riset [misal harus pergi ke luar negeri, beli
                    buku, atau beli apa saja yang dirasa perlu untuk mendukung cerita
                    yang ia garap]. terserah.

                    mereka yang profesional, mereka akan mengalokasikan beberapa persen
                    uang itu utk melakukan beberapa hal ; misal riset dll.
                    dimanapun riset dilakukan. atau bisa dipakai untuk menyepi ke mana
                    saja demi dapat ilham dan lebih tenang menulis dll.

                    nanti hasil pekerjaannya dinilai oleh editor dari penerbit yang
                    bersangkutan. kalau dirasa ngawur atau dibawah mutu dari standar
                    penerbit : terpaksa si penulis komik atau si artis, harus bolak balik
                    merevisi cerita atau gambar. dll.

                    kalau kebangetan jelek mutunya. si artis atau penulis ya tidak akan
                    diberi order lagi. biar mereka cari-cari penerbit lagi dengan
                    kurikulum vitae, jelek. dan karyanya tidak akan diterbitkan.

                    kembali ke konteks ganes th.
                    saya sih tidak melihat ganes sebagai seniman komik yang kekurangan
                    uang, yang membuat karya tergantung dari berapa ia dibayar.
                    hanya saja, ganes th memang tidak bergaya sebagai seniman yang tidak
                    terlalu mengutamakan keakuratan dan kedalaman cerita. istilahnya :
                    ngepop.

                    khusus untuk komik taufan ini.
                    memangnya. apakah harus keluar biaya banyak atau terlalu memakan
                    banyak waktu untuk menentukan atau mendukung geografis pulau neraka
                    di komik taufan agar lebih relevan dengan latar waktu masa pendudukan
                    jepang yang beliau pergunakan. memangnya harus riset dalam artian
                    beneran riset sampai harus keluar biaya gede?

                    ganes th kan mengalami masa masa itu [ia lahir tahun 1935], sudah
                    berumur 10 tahun di masa pendudukan jepang. dan mengarang komik
                    taufan diumurnya yang 27 tahun. jadi beliau tahu seperti apa
                    situasinya.

                    ganes th tinggal membuka peta jawa barat.
                    menentukan dimana kira-kira lokasi yang ingin ia pakai sebagai pulau
                    neraka. kemudian beliau bisa mengira-ngira. berapa jarak dari pulau
                    tersebut ke antara bekasi dan karawang [rengasdengklok] . apakah masuk
                    akal atau apakah logis.

                    kalau pulau neraka itu berdekatan dengan rengasdengklok. dimana kira-
                    kira? ...
                    melihat geografis pulau neraka. maka mungkin ada di nusa kambangan.
                    hanya saja aneh saja ada orang bicara betawi didaerah itu.
                    atau mungkin disekitar pulau seribu? mungkin juga karena dekat ibu
                    kota jakarta. nah, kan tinggal disebutkan saja. dan tambah informasi
                    tambahan bahwa rombongan suryadi bertolak ke pulau tersebut dari
                    priok atau mana gitu.
                    kan ada di buku pelajaran sekolah.
                    jadi riset apa maksudnya sehingga harus mengeluarkan biaya?
                    tapi memang ini gaya ganeh th. sebagai pengarang cerita. bahkan tanpa
                    didukung hal2 seperti itu saja, ceritanya sudah menarik.
                    hanya saja untuk mendaki ke arah pengakuan sastrawi. hal-hal yang
                    mendukung kelogisan cerita, sangatlah diperlukan.

                    nah,
                    untuk jaman sekarang. biaya riset itu memangnya harus disediakan
                    penerbit ya ? hingga komikus harus complain karena tidak diberi dana
                    untuk riset?
                    kadang, kan tinggal buka peta saja, atau internet, atau pergi ke
                    perpustakaan.

                    yang ideal adalah.
                    apabila penerbit menemukan bakat. ia harus mendukung bakat tersebut
                    dengan menyediakan keperluan yang bersangkutan.
                    dan untuk hal tersebut. beberapa penerbit sudah akan melakukannya.

                    salam,

                    --- In komik_indonesia@ yahoogroups. com, toni masdiono
                    <toni_masdiono@ ...> wrote:
                    >
                    > mmm,
                    > masalah ini sebetulnya memang ujung-ujung nya
                    > masalah kejar terbit.
                    > berapa sih cergamis kita dulu dibayar?
                    > pak teguh almarhum memang pernah cerita ke saya,
                    > beliau berusaha menggali sedalam mungkin cerita2nya
                    > tapi ya, penerbit kan ga mau tahu, jadi ga ada biaya untuk itu.
                    > resiko cergamis lah, buang biaya sendiri,
                    > jadi ya se efisien mungkin saat bikin cergam.
                    > pak teguh mengatasi kelemahan tersebut dengan sering
                    > ngobrol dengan teman2nya yang ahli tentang klenik, mojopahit,
                    > dan sebagainya, pokoknya yang iritlah.
                    > pak ganesh sih saya pikir banyak ngandelin 'gosip'
                    > tentang hal-hal yang ingin dia tahu.
                    > kalo penerbit di luar, sebagai bandingan,
                    > biasanya mereka mendukung dana untuk survey
                    > guna pendalaman suatu masalah ^_^
                    >  
                    > memang beda ya?
                    >  
                    > toni masdiono
                    >
                    > --- On Thu, 10/9/08, Rieza Fitramuliawan <xiao_bin_yoe_ hoen@...>
                    wrote:


















                    [Non-text portions of this message have been removed]
                  Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.