Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

15538ERLANGEN COMIC SALON: PART 1

Expand Messages
  • Surjorimba Suroto
    Jul 5 5:10 PM
    • 0 Attachment
      Siang itu suasana di kota Frankfurt
      tidak terlalu menyenangkan. Hujan nyaris deras. Saya bersama Devi Veriana baru
      tiba di salah satu kota besar di negeri Jerman setelah menempuh perjalanan
      selama lebih dari 20 jam (termasuk transit di Dubai, UAE selama 4 jam). Hari
      itu hari Minggu, 3 Juni 2012. Cukup pegal dan penat tubuh ini, karena
      senyaman-nyamannya kursi pesawat terbang Emirates (dan hidangan yang lezat),
      tetap saja pegal-pegal. Cukup tidur di pesawat membuat saya dan Devi tidak
      diorientasi waktu, alias jetlag.
       
      Kami berdua datang ke Jerman sebagai
      bagian dari rombongan Comiconnexions, sebuah program apresiasi budaya dalam
      bentuk komik antara Jerman dan Indonesia. Program ini sendiri diprakarsai oleh
      Goethe Institut Jakarta, tempat Devi bekerja. Saya sendiri bertugas sebagai
      kurator Comiconnexions yang sudah bertugas sejak April 2011. Dengan demikian
      saya sudah bertugas selama lebih dari satu tahun.
       
      Comiconnexions mempertemukan budaya
      komik kedua negara, untuk bisa saling mengenal dan bertukar pengalaman. Bersama
      tim kurator yang beranggotakan Henry Ismono (sudah mengundurkan diri) dan
      Imansyah Lubis, kami memilih lima orang komikus Jerman dan lima orang komikus
      Indonesia untuk karyaya disandingkan. Ke-10 komikus ini menjadi duta bangsa
      kedua negara.
       
      Ke-10 komikus ini dipilih karena
      memiliki kesamaan semangat dalam berkarya, memiliki keunikan visual,
      perkembangan karya selama berkarir, serta mengusung keunikan budaya sesuai
      negaranya. Ke-5 komikus Jerman adalah: Martin Tom Dieck, Sascha Hommer, Ulf K,
      Mawil, dan Henning Wagenbreth. Sedangkan dari Indonesia diwakili oleh Azisa
      Noor, Ariela Kristantina, Is Yuniarto, Galang Tirtakusuma, dan Veby Surya
      Wibawa (Vbi Djenggotten).
       
      Selama tahun 2011 Comiconnexions
      sudah melahirkan sebuah portal yang menyajikan profil karya ke-10 komikus dalam
      tiga bahasa (Indonesia, Jerman, dan Inggris). Melalui portal ini masyarakat di
      dunia dapat mengenal lebih dekat karya-karya mereka.
       
      Pada tahun 2011 juga Comiconnexions
      mengundang Sascha Hommer untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan para
      pelaku dan pemerhati komik Indonesia. Selama kunjungan yang singkatnya itu,
      Sascha berbagi pengalaman dengan sesama komikus di kota Jakarta dan Bandung.
      Sascha juga mempresentasikan perkembangan komik di negerinya, dan dari situ
      saya dapat menyimpulkan bahwa perkembangan komik Jerman nyaris sama dengan di
      Indonesia: sama-sama berusaha untuk eksis di antara dominasi komik Eropa,
      Jepang, dan Amerika, serta bertumbuhnya penerbitan skala kecil. Sungguh tepat
      kita menjalin pertukaran budaya komik dengan Jerman, karena kondisi yang
      relatif sama.
       
      Kedatangan kami ke Jerman merupakan
      bagian dari program Comiconnexions, yaitu ikut berpartisipasi pada Erlangen
      Comic Salon, sebuah festival komik internasional di kota Erlangen, Jerman.
      Festival yang berlangsung setiap dua tahun ini sudah memasuki penyelenggaraan
      ke-15 sejak tahun 1984. Merupakan bagian program seni dan budaya Pemerintah
      Kota Erlangen, sehingga kelangsungan festival ini terjamin dan terus
      berkembang. Menurut rencana Comiconnexions akan pameran komik karya ke-5 wakil
      Indonesia, serta menjalin komunikasi dengan masyarakat pecinta komik, serta
      tentunya pengunjung Erlangen Comic Salon (ECS).
       
      Siang itu kami mendarat di Frankfurt
      hanyalah numpang lewat, karena tujuan utamanya adalah kota Erlangen. Di sana
      sudah menanti rekan-rekan kami, Imansyah Lubis, Azisa Noor, Is Yuniarto, dan
      Galang Tirtakusuma, yang sebelumnya sudah dua minggu menggali ilmu komik dan
      bahasa Jerman di kota Hamburg dan Berlin. Selama di dua kota itu mereka juga
      menjalin komunikasi dengan sesama komikus Jerman, mengunjungi penerbit-penerbit
      komik, sharing session, hingga ikut serta dalam perkuliahan di Universitas
      Hamburg.
       
      Kami berdua dijemput oleh Axel,
      suami Devi yang tinggal dan bekerja di Jerman. Dengan menumpangi mobil Renault
      merahnya, kami menyusuri jalan bebas hambatan ke arah negara bagian Bavaria,
      tempat kota Erlangen berada. Kota Erlangen sendiri berdekatan dengan kota
      Nuremburg dan Munich, di sisi selatan negara Jerman. Udara dingin serta hujan
      yang tidak terlalu deras, membuat pemandangan sisi jalan sedikit terganggu.
      Kami menyempatkan beristirahat di sebuah pemberhentian, yang memiliki SPBU,
      restoran mungil, serta buku-buku pariwisata. Hujan sudah reda, dan kami pun
      dapat menikmati udara Jerman yang sejuk.
       
      Perjalanan mobil kira-kira 1,5 jam
      dan tibalah kami di kota Erlangen, sebuah kota kecil yang merupakan pusat
      kegiatan perusahaan Siemens. Jika ada perusahaan besar di kota ini, maka sudah
      pasti Siemens. Sisanya adalah universitas, restoran, museum, pertokoan, galeri
      seni dan segala macam yang berbau seni. Ya memang, Erlangen kini sudah menjelma
      menjadi salah satu kota pusat kesenian penting di Jerman. Tidak hanya komik,
      namun ia juga menyelenggarakan banyak kegiatan seni seperti puisi, lukisan, dan
      seni patung.
       
      Sore itu kami langsung menuju hotel
      Rangau, sebuah hotel dengan arsitektur klasik di pinggiran kota. Kira-kira 5 km
      dari pusat kota. Hotel ini juga menyediakan guest house, dengan pelayanan
      restoran yang sangat homy. Sama sekali berbeda dengan suasana hotel berbintang.
      Hanya bertingkat tiga dengan total kamar sekitar 40 buah. Saat kami check-in,
      rombangan  Iman belum tiba. Mereka masih
      dalam perjalanan dari Hamburg, dan diperkirakan tiba di kota pukul 20:00.
      Meskipun larut tapi matahari masih terang. Maklum bulan Juni adalah awal musim
      panas. Waktu magrib di Erlangen adalah pukul 21:30. Namun segala sesuatunya
      telah dibicarakan dengan pihak hotel, termasuk permintaan khusus tentang
      makanan halal. Akses wi-fi pun sudah diaktifkan, jadi tidak ada masalah
      bersocial-network ria selama di dalam hotel.
       
      Berhubung hari masih terang (sudah
      pukul 19:00 padahal), Axel, Devi dan saya pergi makan malam ke tengah kota
      Erlangen. Setelah berkeliling-keliling, akhirnya diputuskan makan di Trattoria
      Bruno, sebuah restoran masakan Italia. Suasanya juga homy, tidak glamour
      seperti kebanyakan restoran di Jakarta. Rada bingung memilih menu apa, karena
      khawatir mengandung B2. Berkat bantuan Axel, saya memilih sepiring macaroni
      keju lumer panas yang dihiasi beberapa helai daun kemangi dan potongan wortel.
      Mmmmm....yummy! Usai makan, saya dan Axel menikmati sejuknya udara sore hari,
      dengan hujan rintik-rintik, dan kebulan asap. Di Trattoria Bruno ini saya
      menemukan tabloid Erlangen Comic Salon gratis, dengan sampul berhiaskan Batman
      dkk dari Justice League. Spontan saja saya ambil sekitar 8 buah.
       
      Selama perjalanan menuju restoran
      dan sepulangnya ke hotel, saya mulai mengamati suasana kota Erlangen yang akan
      menjadi tempat saya tinggal selama 8 hari ke depan. Umumnya lingkungan tertata
      rapi dan bersih, dengan dedaunan gugur di sepanjang trotoir. Arsitektur
      rumahnya seperti kebanyakan rumah Jerman yang saya lihat di foto atau majalah.
      Maksimal bertingkat tiga dengan desain klasik dan neo. Pekarangan umumnya luas,
      dan hanya berpagar secukupnya. Ada cukup banyak mobil di kota yang terhitung
      kecil ini. FYI, luas kota Erlangen sekitar 77 km2 dengan penduduk kurang dari
      150.000 orang. Selain kantor-kantor Siemens AG, pusat kegiatan adalah
      Universitas Erlangen-Nuremberg. Jadi tidaklah aneh jika suasana kota Erlangen
      dirancang untuk pasar kaum muda.
       
      Tidak jauh dari hotel, kami singgah
      di sebuah SPBU dengan mini market. Disini kami membeli beberapa botol air
      mineral, cemilan, dan khusus bagi saya, sebuah peta kota Erlangen. Merupakan
      kebiasaan, dan juga bagi sebagian orang, saya mengumpulkan peta kota-kota yang
      pernah saya singgahi.
       
      Setibanya di hotel Rangau, rombongan
      Iman, Azisa, Is dan Galang sudah tiba. Rindu rasanya tak jumpa para kamerad ini
      selama 2 minggu. Maklum, selama 6 bulan sebelumnya kami intens berkomunikasi
      menyiapkan pameran ECS. Dan sebelumnya 7 bulan merancang program
      Comiconnexions. Kami bertukar cerita dan pengalaman, meski sebenarnya lebih
      banyak mereka yang bercerita pengalaman selama di Hamburg dan Berlin. Singkat
      kisah, kami semua bergembira malam itu.

      [Non-text portions of this message have been removed]