Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

HARI-HARI TERAKHIR di EL HAMBRA

Expand Messages
  • suhara okta
      HARI-HARI TERAKHIR di EL HAMBRA       Pekan-pekan ini serasa menjadi pekan yang paling melankolik dalam hidupku. Betapa tidak? Aku harus berpisah dengan
    Message 1 of 1 , Sep 1, 2008

       

      HARI-HARI TERAKHIR di EL HAMBRA

       

       

       

      Pekan-pekan ini serasa menjadi pekan yang paling melankolik dalam hidupku. Betapa tidak? Aku harus berpisah dengan tempat tetirah yang hampir tiga tahun lebih aku tinggali. Ada banyak kenangan pahit-manis yang terbangun bersama kontrakan ini. Setelah sekian lama mengendap bersama kamar yang kuhuni sekarang (Ruang A-3 Deputy Rektor El Hambra) bersama tumpukan buku, kertas-kertas yang berjubel dan menyemak di salah satu sudut kamar, hari ini aku harus bercerai dengan kamar ini.

       

       

       

      Periode I: Romantisme dan Aktivisme

       

       

      Mungkin sebelumnya ada baiknya aku flash-back sebentar tentang El Hambra. Jika tidak keliru, aku pertama kali mendiami kontrakan aktivis ini sejak akhir tahun 2003 yang lampau.  Kontrakan ini dikelola oleh Anang-sutrisno yang kemudian menjadi Rektor El Hambra. El Hambra sendiri berasal dari kata ”Al-Hambrah”, sebuah Istana di Spanyol, sebuah peradaban di kota Cordova -kota paling modern di Eropa saat itu- di dataran Granada-Andalusia yang sayangnya kini hilang dari peta dunia Islam. Nama El Hambra dihasilkan oleh sebuah mekanisme Pemilu Internal, yang mana akhirnya para aktivis kontrakan yang  beralamat  di Jln Seturan E.III-10 tersebut menyepakati nama ” El Hambra Univ” (kata ”El” biar agak bernuansa Mesir).

       

      Lalu mulailah rutinitas dan hari-hari para penghuninya adalah para aktivis yang tersebar di berbagai kampus di Yogyakarta tersebut dengan aktivisme dan juga konsolidasi. Dikarenakan kesibukan yang luar biasa waktu itu (maksudnya, kami-kami yang menjadi penghuni awal El Hambra ini masih menjabat di struktur kampus maupun organ mahasiswa ekstra kampus) maka El Hambra seperti kelihatan kosong saja. Berkumpul baru bakda Maghrib atau Isya dan itupun sudah dengan keletihan yang mendera.

       

      Aku masih ingat, bahwa  aku berbagi kamar dengan Yen Sholeh-Rauf, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian dan menjadi ketua sebuah organisasi di Faperta sana. Bersama dalam keterbatasan (dimana infrastruktur yang kadang kurang memadai) menjadikan diskusi-diskusi dan dialog kami yang panjang di tengah kontrakan yang waktu itu masih sunyi (karena terletak di areal persawahan yang dingin dan berangin, meski di belakang kampus UPN yang kosmopolit), menjadi penghangat  dimalam yang sepi.

       

      Bersama Rofi’ie (Mahasiswa Pertambangan, kini PNS Dept ESDM-Kalimantan), Febri Prasetyanto (Geologi, kini Pertamina) & Wahyul Falah (Geologi, kini Harita Mining Corp), Heru Raharjo (Teknik Mesin, kini S2 UNY), Anang Sutrisno (Elektro UII, kini Pebisnis dan Caleg dari Gunung Kidul), dan belakangan muncul David (Geologi) serta Widyo (Diploma Mesin UNY, kini transfer dan tengah merampungkan KKN dengan mengajar di sebuah STM), juga Debby (Elektro UII, kini skripsi dan merintis jadi pengusaha Laundry) kami menghabiskan kebersamaan di El Hambra.

       

      Waktu itu, kami-kami yang masih belia dan aktif di struktural organisasi kampus merasa, adalah sebuah ”kemewahan” jika malam minggu -atau esok hari libur- malamnya kami dapat  bermalas-malasan sambil minum secangkir teh hangat sambil selonjoran. Hal itu adalah impian yang paling muluk kami waktu itu. Yang acapkali terjadi, jika kebetulan esok libur atau malam minggu, sudah dapat dipastikan kami tidak berada di kontrakan ini dan El Hambra pasti kosong-melompong.

       

      Karena sudah dapat dipastikan kami akan berada di Kampus atau vila-vila tempat pelatihan, workshop, training, dauroh, atau apapun namanya yang tersebar baik di kampus hingga di penginapan milik Juru Kunci Merapi, Mbah Marijan di ketinggian, di Kaliurang sana.  Baik menjadi peserta, panitia, atau bahkan menjadi pemateri di training-training itu sendiri, telah menjadi rutinitas kami di akhir pekan. Sungguh! Saat itu adalah masa-masa yang paling melelahkan namun membahagiakan dalam simpang-sejarah hidupku.

       

      Aku masih teringat saat-saat romantik bersama kawan-kawan seperjuangan, menghabiskan malam-malam yang panjang dengan berdiskusi dan adu-argumentasi. Atau ketika kami tengah membakar ikan malam-malam di pantai depok dalam suasana persaudaraan yang kental. Atau ketika tengah bertugas jaga-malam di tempat-tempat training dan dauroh sambil menikmati secangkir coffeemix yang ngangeni...

       

      Kepadatan aktivitas tidak membuat kami putus asa dan patang-arang. Menjadi aktivis tidak menghalangi memperoleh pencapaian hasil akademik yang baik. Waktu itu, meski aktif di struktur kampus maupun ekstra-kampus, kami-kami dapat berprestasi dengan optimal. Diantara kamipun beberapa ada juga yang sempat menjadi asisten dosen maupun asisten praktikum di laboratorium. Hal terebut menunjukkan bahwa aktivitas tidak mengalangi prestasi.

       

       

       

      Periode II: Gazebo-Utan Bambu

       

       

      Di depan El Hambra, ada sebuah gazebo tempat tetirah. Tempat mangkal anak-anak post-tar (post-tarbiyah) yang memilih berada diluar sistem dan bergerak secara kultural. Post-Tarbiyah (Postar) adalah ijtihad kami, para anak-anak Tarbiyah yang berkiprah di jalur Kultural dan memilih di luar  Sistem. Waktu itu, meskipun banyak cemoohan dan celaan, kami percaya bahwa ini adalah jalan terbaik untuk tetap “menjaga” Tarbiyah sebagai sebuah Tandzim Dakwah agar tetap konsisten pada jalurnya semula: sebagai pelayan umat. Basis pemikiran dari “Mahzab” Postar ini adalah Islam yang Progresif dan Humanis. Gazebo Utan-Bambu ini juga sempat berfungsi ganda sebagai tempat menambatkan kambing yang membludak (karena pernah juga sang Rektor, Anang-Sutrisno bisnis Kambing jelang Iedul Adha). Disana, kami kami betah berdiskusi lama-lama -secara informal- mengenai nasib gerakan mahasiswa dan kiprah para mantan aktivis yang sudah tidak terlibat lagi dalam pergerakan ekstra-universiter serta di internal kampus.

       

      Di temani oleh secangkir Kopi Tubruk yang panas hasil racikan tangan sendiri dari kampung, terkadang oleh Teh Poci yang sering di tambah airnya hingga warnanya pudar; kami berdiskusi di Gazebo yang nyaman ini sambil selonjoran. Bebas, nyaman, santai, dan tetap dalam koridor intelektual adalah suasana yang khas Utan-Bambu. Terkadang ditambah nasi bungkus buat penganjal perut yang lapar atau crackers renyah buat menemani minum teh, kami menikmati berdiskusi hingga berjam-jam lamanya hanya untuk membongkar-bongkar cara pikir lama, yang konservatif dalam melihat dinamika pergerakan mahasiswa. Sayang, di Akhir tahun 2006 Gazebo tersebut rubuh karena punting beliung, juga disebabkan bangunannya memang sudah keropos (biasa, karena gazebo ini adalah proyek KKN-non reguler Mas Erik, Mhs abadi dari kampus UII).

       

       

      ***

       

      Periode III: Melankolis dalam Sunyi

       

       

      Tahun berlalu, kurun pun lewat. Di pertengahan perjalanan hidupku, disaat-saat teman-teman mulai mengerjakan tugas akhir dan skripsi, tanpa diduga aku tertimpa sebuah ujian. Aku terkena loss-memmory sebuah penyakit yang menimpaku dipertengahan ketika aku tengah asyik mengerjakan proyek skripsi. Mungkin dikarenakan aku terlalu banyak membaca buku-buku berat yang sebetulnya belum perlu aku telaah mendalam sampai se-level itu (seorang kawanku yang sedang S2 mengatakan bahwa kini ia harus banyak membaca buku-buku yang menjadi koleksiku karena menjadi salah satu sumber inspirasi dan literatur-kunci justru di studi pasca-sarjananya), akhirnya hampir satu tahun aku agak mengurangi intensitas membaca buku-buku pemikiran, epistemologi dan filsafat ilmu sehingga pencapaian atau input dari progress-skripsiku berjalan amat lambat.

       

      Untuk mengisi hari-hariku yang sunyi di El Hambra, aku banyak beralih membaca buku-buku yang lebih pragmatis dan sifatnya sosiologis-empirik. Penyakitku itu selain dipicu oleh gaya-hidupku yang kadang teterlaluan dan slebor (seperti membaca hingga subuh tiba, kurang relaksasi serta beberapa alasan yang sifatnya amat pribadi dan personal) akhirnya, aku jadi banyak membaca beberapa novel. Akibatnya mudah ditebak: aku menjadi semakin melankolis saja akhir-akhir ini. Karena Novel tidak sedang bercerita tentang realitas, namun ia menawarkan sebuah cara pandang baru yang lebih segar dan melembutkan jiwa. Novel justru sedang membentuk realitas atas diri kita sendiri!

       

      Sifat melankolik ini juga yang membutku kadang terlalu romantik dalam memandang masa-lalu. Kenangan-kenangan akan romantisme gerakan dan aktivisme di masa lalu, tanpa sadar membuatku semakin terjerat dalam pesona relisme-utopis. Buku-buku dan kertas-kertas serta undangan yang semakin menyemak di sudut kamarku, terasa semakin membelenggu kedua-kakiku dengan mata-rantai sejarah, indah namun menjerat. Akibatnya aku kini menjadi seorang paria di tengah kesunyian. Ketika rekan-rekan aktivis dan kolega di El hambra satu per-satu telah mulai menuntaskan studi mereka, aku yang makin kesepian dikarenakan para penghuni telah mulai bersayap dan terbang ke penjuru bumi yang lain, membuatku semakin pesimis didalam memandang masa depan. Tanpa sadar aku telah melihat ”akhir sejarah”, dan melihat masa kini sudah final serta tidakada lagi masa depan. Hidupku menjadi kurang puitis. Hidup tanpa romantisme dan kearifan. Hidup yang berputar-putar pada ke-kinian dan ke-disinian.

       

      ***

       

       

      Periode IV: Selamat tinggal El Hambra !!!

       

       

      “Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa.... pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui... Apakah kau masih berbicara selembut dahulu... memintaku minum susu dan tidur yang lelap? sambil membenarkan letak leher kemejaku...” bait-bait puisi Soe-Hok Gie di lembah kasih, lembah Mandalawangi, kini jadi sering aku lamunkan, baik ketika tengah menatap sepi di Ruang A-3 Deputy Rektor El Hambra pada pukul dua dini hari, ataupun ketika kebetulan aku tengah naik Kaliurang sendirian, pagi-pagi selepas subuh tanpa ada yang menemani, sebagai salah satu terapi untuk loss-memmory”-ku. Dalam keheningan abadi, dikabut pagi itu, seolah aku menemukan energi baru. Energi yang aku serap dari alam.

       

      Selepas aku pergi terakhir kali dari Kaliurang, aku menuruni perbukitan yang curam dan terjal itu untuk sebuah tujuan: kembali ke El Hambra dan membakar masa laluku. Meskipun itu bukan tanpa resiko. Siang ini, ketika aku mulai membongkar kamar di ruang A-3, aku serasa menusuk jantungku sendiri. Ketika aku mulai menurunkan koleksi buku-buku serta mencopot rak dari dinding kamar, serasa aku sedang mencopot hatiku. Ada rasa perih, sedih, dan miris.

       

      Apa boleh buat, terlalu lama berada dalam kamar ini, membuatku semakin tidak dapat melihat realitas dengan jelas. Sudah terlalu banyak hal-hal yang sifatnya melankolis di kamar ini. Tanpa sadar, aku telah menciptakan hantu yang bernama ”masa lalu” sehingga membuatku malas dalam melihat masa depan. Aku telah terjebak dalam zona nyaman jika terus-terusan beralamat di El hambra.

       

      Oleh karenanya untuk melawan perasaan sedih dan kalut yang mendera, aku segera bergegas untuk memasukkan buku-buku kedalam kardus yang telah kusiapkan dengan tergesa. Seperti kesetanan, buku-buku tersebut kubanting tanpa ampun. Kertas-kertas kerja yang dari masa lalu aku seleksi dengan kilat, dan kusortir dengan sekilas saja. Karena jika melihat –dan membacanya- maka aku tidak akan pernah tega buat membuangnya.

       

      Seharian itu aku sukses mengobrak-abrik ruang A-3 dan menyapihnya. Total buku-buku yang aku bawa minggat dari kamar itu berjumlah sekitar delapan kardus ukuran Aqua besar (belum termasuk kertas-kertas yang berserak sehingga membutuhkan tambahan beberapa kardus lagi).

       

       

      Sore itu selepas ashar, adalah momen paling mistis dalam hidupku. Aku akan membakar masalaluku yang dimanifestasikan oleh kertas-kertas dari masa yang telah lampau itu. Segera setelah tumpukan kertas itu aku susun –mungkin lebih dari satu bak besar- api segera menyambar dan memangsanya tanpa ampun. Ditengah ritual yang sangat sakral tersebut, seperti kesurupan aku mengaduk-aduk tumpukan kertas dan  buku-buku tersebut agar nyala api merata dan tak selembar kertaspun lolos dari eksekusi.

       

      Seorang tetanggaku seperti ketakutan melihatku yang sedang kalap, mencoba menyadarkanku; ”mas koq dibakar buku-bukunya? Waduh ada ijazah yang ikut kebakar tuh... gila, ini mah lebih dari sepuluh kilo kalau ditimbang!”  padahal yang kubakar hanyalah copy-an buku ”tidak jelas” serta copy-an ijazah. Namun aku sempat tersentak juga ketika aku melihat sebuah jurnal ISLAMIA koleksiku ikut terbakar, dengan segara aku melemparnya keluar dari areal pembakaran untuk memadamkannya. Untung masih bisa diselamatkan, Cuma sampulnya aja yang agak gosong. Entah mengapa aku jadi teledor begini. Setelah itu aku melihat, wah ada foto-fotoku yang hampir ikut terbakar –ini pasti ikut terbuang secara tidak sengaja tadi- akhirnya hanya dua benda itu saja yang menginterupsi dari upayaku mengeksekusi masa lalu..

       

      Angin sore berhembus dengan kencang, kobaran api semakin membesar. Aku semakin kesurupan dan mengaduk-aduk kertas-kertas yang berserakan.  Angin yang meniup kumpulan abu menjadi serpihan yang tak-tersisa. Kumpulan abu yang tertiup angin semakin meninggi di batas awan. Di langit senja yang semakin memerah, ditengah suasana yang semakin mistis. Aku berdiri membakar masa laluku....

       

       

       

      diakhir Tahun, di bulan Agustus, Jelang Ramadhan

      Suatu sore di El Hambra

      17.23

       

       

       


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.