Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Kamotekaran Teh Eneng ti Ciwidey

Expand Messages
  • hangjuang bodas
    Nyutat ti kompas: Sentuhan Feminis Teh Eneng di Kebun Sayur Oleh Ida Nurcahyani Filsuf sekaligus tokoh feminisme modern Simone De Beauvoir pernah bilang,
    Message 1 of 2 , Mar 12, 2012
    • 0 Attachment
      Nyutat ti kompas:

      Sentuhan Feminis Teh Eneng di Kebun Sayur

      Oleh Ida Nurcahyani

      Filsuf sekaligus tokoh feminisme modern Simone De Beauvoir pernah bilang, seseorang tidak dilahirkan, melainkan menjadi seorang wanita.
      Idenya adalah mengenai formulasi beda jenis kelamin dari gender dan seksualitas secara biologis.
      Simone mencoba menjelaskan, kendati manusia diberi kenyataan biologis, maka itu tak berkaitan dengan bagaimana mereka memaknai keberadaannya di muka bumi.
      Simone melahirkan pemahaman gender bahwa gender itu bukan pembeda alat kelamin, melainkan pembeda sikap, yaitu kecenderungan yang dipilih.
      Pemikiran ahli filsafat awal abad 20-an itu diadopsi benar oleh seorang perempuan petani sederhana yang tidak berpendidikan tinggi di satu desa terpencil di Bandung Selatan.
      Riswati Wahyuni namanya, biasa dipanggil Teh Eneng.
      Teh Neneng mungkin tak mengenal fenomenologi ala Simone De Beauvoir mengenai kesetaraan gender, namun, perempuan 28 tahun ini begitu tahu bahwa kodratnya sebagai perempuan tak bisa menghentikannya untuk sukses secara ekonomi.
      "Perempuan jaman sekarang jangan kalah dari laki-laki, kita juga harus berusaha biar sukses," kata Teh Eneng selama memanen buah tomat di Desa Mekarsari, Ciwidey, Bandung, Sabtu pekan lalu.
      Dulunya, Teh Eneng hanyalah petani sayur biasa yang bercocok tanam di areal perkebunan seluas 2 hektare warisan orang tuanya.
      "Seperti kebanyakan pemuda di desa ini, begitu tidak sekolah, saya jadi tani, saya menanam wortel, buncis, tomat, labu, kol dan lain-lain untuk bertahan hidup," katanya diiringi senyum.
      Bertambah tahu
      Hasil tani dari kebun miliknya ini, dia pasarkan ke pasar-pasar lokal tradisional dan pasar induk di sekitar Ciwidey.
      "Dulu saya hanya dibantu empat orang pegawai untuk mengelola kebun, sehari hasilnya cuma Rp800 ribu hingga Rp2 juta," kata Teh Eneng.
      "Lalu saya berpikir saya tidak bisa terus begini, akhirnya saya mulai mencari tahu bagaimana caranya untuk berkembang," kata Teh Eneng.
      Pada 2007, Teh Eneng berkenalan dengan LSM Satoe Indonesia yang awalnya adalah organisasi mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.
      Satoe Indonesia memiliki satu program divisi bernama Pengembangan Usaha yang bertugas membuat dan mengembangkan secara berkelanjutan bisnis-bisnis potensial serta realistis untuk desa Ciwidey.
      "Dengan dukungan dari Satoe Indonesia, saya ikut pelatihan-pelatihan termasuk pelatihan teknik budidaya dan packing, selain itu, saya juga ikut pameran-pameran seperti Agro Expo di JCC," kata ibu satu anak ini.
      Pameran dan pelatihan yang diikutinya, memungkinkan Teh Eneng bertemu dengan orang-orang dari industri pemasok ritel modern.
      "Saya jadi mengenal yang namanya komoditas sayur eksklusif, bagaimana cara membudidayakan tanaman itu dengan baik, dan cara mengemas atau packaging yang benar sehingga bisa masuk ke ritel," katanya.
      Sebelum ini, pengetahuan bercocok tanam hanya dia dapat berdasarkan pengetahuan turun temurun dari orang tuanya.
      Mengubah paradigma
      "Sekarang, dibantu 26 karyawan yang bekerja di kebun, gudang, dan pengemasan, saya bisa ekspor ke luar negeri dan masuk ke 13 ritel modern di Jakarta," kata dia.
      Disebutnyalah beberapa tempat di Jakarta, seperti Lebak Bulus, MT Haryono, Season City, Ciledug, Cempaka Mas, TMII, dan Ambassador.
      Sayuran yang diproduksi Teh Eneng telah mendapat sertifikasi sayuran semiorganik, yaitu sayuran berpestisida minimum.
      Dari 60 hektare kebun sayurnya, Teh Eneng bisa menghasilkan tiga ton sayuran lokal dan tiga kwintal sayuran eksklusif setiap hari.
      Yang disebutnya sayuran eksklusif adalah sayuran ekspor seperti brokoli, adamame, kabocah atau labu Jepang, kyuri atau timun Jepan.
      Kini, Teh Eneng bisa memasok sayuran ke swalayan-swalayan besar tiga kali dalam seminggu dengan minimum order 300 kilo untuk 54 komoditas sayuran.
      "Permintaannya sih tiap hari dikirim, tapi kami belum bisa mengejar permintaan itu," kata Teh Eneng.
      Masalah modal adalah kendala utama baginya dalam mengembangkan bisnis.
      "Sekarang, omzet saya bisa mencapai Rp95 juta per bulan, tapi itu bisa lebih seandainya saya bisa menambah modal," katanya lagi.
      Dia mungkin sulit menambah modal, tapi dia sama sekali tidak sulit menurunkan ilmu kewirausahaannya kepada para petani Ciwidey.  270 petani di daerah ini dia bimbing dengan membaginya ke dalam 23 gapoktan (gabungan kelompok tani).
      "Harapan saya, para petani Ciwidey bisa menjadi sukses dan merajai ritel nasional dan internasional," kata Teh Eneng.
      Satu impian mulia. Namun lebih dari itu, Teh Eneng telah mempermak wajah pertanian Indonesia yang sebelum ini identik dengan dunia laki-laki.
      Tani sering dipahami sebagai profesi maskulin yang melulu mengandalkan kekuatan otot, tapi Teh Eneng telah membuktikan itu tidaklah terlalu benar, karena tani ternyata juga profesi feminis yang mesti juga mengeksplorasi kecerdasan akal.

      http://oase.kompas.com/read/2012/03/13/05111067/Sentuhan.Feminis.Teh.Eneng.di.Kebun.Sayur
    • Irpan Rispandi
      Wilujeng, Salut, Bravo, Hebat lah si eteh.
      Message 2 of 2 , Mar 12, 2012
      • 0 Attachment
        Wilujeng,
        Salut,
        Bravo,

        Hebat lah si eteh.

        On 03/13/2012 07:24 AM, hangjuang bodas wrote:  
        Nyutat ti kompas:

        Sentuhan Feminis Teh Eneng di Kebun Sayur

        Oleh Ida Nurcahyani

        Filsuf sekaligus tokoh feminisme modern Simone De Beauvoir pernah bilang, seseorang tidak dilahirkan, melainkan menjadi seorang wanita.
        Idenya adalah mengenai formulasi beda jenis kelamin dari gender dan seksualitas secara biologis.
        Simone mencoba menjelaskan, kendati manusia diberi kenyataan biologis, maka itu tak berkaitan dengan bagaimana mereka memaknai keberadaannya di muka bumi.
        Simone melahirkan pemahaman gender bahwa gender itu bukan pembeda alat kelamin, melainkan pembeda sikap, yaitu kecenderungan yang dipilih.
        Pemikiran ahli filsafat awal abad 20-an itu diadopsi benar oleh seorang perempuan petani sederhana yang tidak berpendidikan tinggi di satu desa terpencil di Bandung Selatan.
        Riswati Wahyuni namanya, biasa dipanggil Teh Eneng.
        Teh Neneng mungkin tak mengenal fenomenologi ala Simone De Beauvoir mengenai kesetaraan gender, namun, perempuan 28 tahun ini begitu tahu bahwa kodratnya sebagai perempuan tak bisa menghentikannya untuk sukses secara ekonomi.
        "Perempuan jaman sekarang jangan kalah dari laki-laki, kita juga harus berusaha biar sukses," kata Teh Eneng selama memanen buah tomat di Desa Mekarsari, Ciwidey, Bandung, Sabtu pekan lalu.
        Dulunya, Teh Eneng hanyalah petani sayur biasa yang bercocok tanam di areal perkebunan seluas 2 hektare warisan orang tuanya.
        "Seperti kebanyakan pemuda di desa ini, begitu tidak sekolah, saya jadi tani, saya menanam wortel, buncis, tomat, labu, kol dan lain-lain untuk bertahan hidup," katanya diiringi senyum.
        Bertambah tahu
        Hasil tani dari kebun miliknya ini, dia pasarkan ke pasar-pasar lokal tradisional dan pasar induk di sekitar Ciwidey.
        "Dulu saya hanya dibantu empat orang pegawai untuk mengelola kebun, sehari hasilnya cuma Rp800 ribu hingga Rp2 juta," kata Teh Eneng.
        "Lalu saya berpikir saya tidak bisa terus begini, akhirnya saya mulai mencari tahu bagaimana caranya untuk berkembang," kata Teh Eneng.
        Pada 2007, Teh Eneng berkenalan dengan LSM Satoe Indonesia yang awalnya adalah organisasi mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.
        Satoe Indonesia memiliki satu program divisi bernama Pengembangan Usaha yang bertugas membuat dan mengembangkan secara berkelanjutan bisnis-bisnis potensial serta realistis untuk desa Ciwidey.
        "Dengan dukungan dari Satoe Indonesia, saya ikut pelatihan-pelatihan termasuk pelatihan teknik budidaya dan packing, selain itu, saya juga ikut pameran-pameran seperti Agro Expo di JCC," kata ibu satu anak ini.
        Pameran dan pelatihan yang diikutinya, memungkinkan Teh Eneng bertemu dengan orang-orang dari industri pemasok ritel modern.
        "Saya jadi mengenal yang namanya komoditas sayur eksklusif, bagaimana cara membudidayakan tanaman itu dengan baik, dan cara mengemas atau packaging yang benar sehingga bisa masuk ke ritel," katanya.
        Sebelum ini, pengetahuan bercocok tanam hanya dia dapat berdasarkan pengetahuan turun temurun dari orang tuanya.
        Mengubah paradigma
        "Sekarang, dibantu 26 karyawan yang bekerja di kebun, gudang, dan pengemasan, saya bisa ekspor ke luar negeri dan masuk ke 13 ritel modern di Jakarta," kata dia.
        Disebutnyalah beberapa tempat di Jakarta, seperti Lebak Bulus, MT Haryono, Season City, Ciledug, Cempaka Mas, TMII, dan Ambassador.
        Sayuran yang diproduksi Teh Eneng telah mendapat sertifikasi sayuran semiorganik, yaitu sayuran berpestisida minimum.
        Dari 60 hektare kebun sayurnya, Teh Eneng bisa menghasilkan tiga ton sayuran lokal dan tiga kwintal sayuran eksklusif setiap hari.
        Yang disebutnya sayuran eksklusif adalah sayuran ekspor seperti brokoli, adamame, kabocah atau labu Jepang, kyuri atau timun Jepan.
        Kini, Teh Eneng bisa memasok sayuran ke swalayan-swalayan besar tiga kali dalam seminggu dengan minimum order 300 kilo untuk 54 komoditas sayuran.
        "Permintaannya sih tiap hari dikirim, tapi kami belum bisa mengejar permintaan itu," kata Teh Eneng.
        Masalah modal adalah kendala utama baginya dalam mengembangkan bisnis.
        "Sekarang, omzet saya bisa mencapai Rp95 juta per bulan, tapi itu bisa lebih seandainya saya bisa menambah modal," katanya lagi.
        Dia mungkin sulit menambah modal, tapi dia sama sekali tidak sulit menurunkan ilmu kewirausahaannya kepada para petani Ciwidey.  270 petani di daerah ini dia bimbing dengan membaginya ke dalam 23 gapoktan (gabungan kelompok tani).
        "Harapan saya, para petani Ciwidey bisa menjadi sukses dan merajai ritel nasional dan internasional," kata Teh Eneng.
        Satu impian mulia. Namun lebih dari itu, Teh Eneng telah mempermak wajah pertanian Indonesia yang sebelum ini identik dengan dunia laki-laki.
        Tani sering dipahami sebagai profesi maskulin yang melulu mengandalkan kekuatan otot, tapi Teh Eneng telah membuktikan itu tidaklah terlalu benar, karena tani ternyata juga profesi feminis yang mesti juga mengeksplorasi kecerdasan akal.


      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.