Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

FW: agrowisata Plantera Fruit Paradise di Ngebruk, Desa Patean, Sukorejo Kendal

Expand Messages
  • Yusuf Iskandar
    Ada teman mengirimi saya ini. Barangkali ada warga KOL yang tahu lebih banyak dan siapa tahu ada sesuatu yang bisa digarap..... Salam, Yusuf ... From:
    Message 1 of 3 , May 18, 2009
    • 0 Attachment
      Ada teman mengirimi saya ini. Barangkali ada warga KOL yang tahu lebih banyak dan siapa tahu ada "sesuatu" yang bisa digarap.....

      Salam,
      Yusuf

      --- On Mon, 5/18/09, Iskandar, Yusuf <Yusuf_Iskandar@...> wrote:


      From: Subagyo, Hari
      Sent: Monday, May 18, 2009 5:09 PM
      To: Iskandar, Yusuf; Subiyantoro, Yuni
      Subject: agrowisata Plantera Fruit Paradise di Ngebruk, Desa Patean, Sukorejo Kendal

      Klik untuk melihat foto lainnya...

       

      Pemandangan di kebun lengkeng di Ngebruk, Kendal, Jawa Tengah, itu spektakuler. Berderet-deret itoh di blok-blok terpisah memamerkan bunga, buah pentil, dan buah menjelang matang. Pada 15 Desember 2008 Pien Sanjaya SP, asisten direktur produksi menuai 1,023 ton dari 33 pohon. Memasuki Januari 2009 sebanyak 33 pohon lain siap panen, Februari (573 pohon), Maret (471 pohon), dan April (1.061 pohon). Di kebun itu lengkeng memang dipanen tiap bulan!

      Di kebun lain, lengkeng dipanen musiman. Muhammad Taufi k, staf kebun CV Bhakti di Ngembal, Pasuruan, Jawa Timur, menuai Dimocarpus longan 2 kali setahun: Maret dan November. Itoh di Ngebruk bisa rutin dituai karena diberi perlakuan khusus. Setiap bulan ada 1 blok yang mendapat aplikasi pupuk berbahan utama potasium klorat (KClO3). 'Potasium klorat - dan natrium klorat - pemicu munculnya bunga lengkeng. Keduanya bisa digunakan untuk membungakan lengkeng di luar musim,' kata Sobir, PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika IPB. (baca: Itoh Lokal Tantang Thailand, halaman 26)

      Pada kasus itoh, pemacu bunga mutlak dipakai. Musababnya mata kucing itu sejatinya berasal dari daerah subtropis. 'Di Indonesia idealnya ditanam di ketinggian 600 - 900 m dpl. Di lokasi itu tanpa perlakuan itoh bisa berbuah,' ujar Eric Lim, konsultan pertanian asal Malaysia. Anjuran itu berpegang pada kasus 100 itoh yang berbunga tanpa perlakuan di Kotamadya Batu, Jawa Timur, berketinggian di atas 900 m dpl. Pun di Kintamani, Bali, berketinggian 1.100 m dpl.

      Aplikasi perangsang buah itulah yang diterapkan kebun di Ngebruk. Hasilnya pada Januari 2008 dituai 5,850 ton dari 130 pohon, Februari (5,590 ton, 130 pohon), Maret (5,720 ton, 130 pohon), April (4,290 ton, 130 pohon), Mei (1,980 ton, 66 pohon), Juni (1,914 ton, 66 pohon), Juli (2,112 ton, 66 pohon), Agustus (2,112 ton, 66 pohon), September (1,980 ton, 66 pohon), Oktober (2,244 ton, 66 pohon), November (990 kg, 33 pohon), dan Desember (1,023 ton, 33 pohon). Perlakuan serupa juga membuat lengkeng lokal di Ambarawa, Semarang, kembali dipenuhi buah. Setelah mogok selama 10 tahun.

      Kebun komersial

      Hasil panen dari Ngebruk dikirim 2 kali seminggu ke 4 toko dan pasar swalayan di Semarang. Dengan harga rata-rata Rp17.500 per kg omzet per bulan mencapai Rp94,5-juta. Pendapatan kebun yang kini bernama Plantera Fruit Paradise itu bakal menggelembung pada panen-panen tahun berikut lantaran produksi itoh terus melonjak.

      Banyak ahli lengkeng memang menggadang-gadang itoh paling cocok dikebunkan skala luas. Varietas asal Chiang Mai, Thailand, itu produktif dan kualitas buahnya top. Daging tebal, kering, dan manis. Mayoritas pekebun di negeri Siam pun menanam e daw - nama di sana.

      Di tanahair, Lie Ay Yen juga menuai rutin itoh dari kebun di Limbangan, Kendal. Produksinya 200 - 400 kg per minggu dari 10 - 20 pohon sejak September 2008. Buah dipasarkan ke Bali dengan harga jual Rp15.000 per kg. Volumenya memang masih sedikit lantaran, 'Ini baru percobaan. Buah dipanen dari pohon umur 2 - 3 tahun,' tutur perintis usaha pasar swalayan di Semarang itu. Produksi optimal yang layak untuk pemasaran komersial bakal didapat setelah lengkeng berumur di atas 4 tahun. Total jenderal ada 1.250 pohon di kebun seluas 5 ha yang siap dibuahkan bergantian tiap bulan.

      Kalkulasi rupiah

      Sukses Budi dan Lie Ay Yen menuai lengkeng tiap bulan sebentar lagi dibuntuti pekebun lain. Sebut saja Ir Zainuri Noor yang menanam masing-masing 1.000 itoh di 3 kebun di Sukorejo, Blitar, dan Banyuwangi. Manajer Pengawasan Penelitian dan Pengembangan PT Perkebunan Cengkih itu mantap mengebunkan lantaran menghitung prospek itoh menjanjikan. Itu setelah ia melihat bukti 5 itoh umur 4 tahun di lahan percobaan berbuah lebat.

      Trubus melihat pada penghujung Desember 2008 pohon setinggi 2 m itu digelayuti 77 dompol. Satu dompol kira-kira berbobot 0,5 kg. 'Dengan asumsi produksi setiap pohon 30 kg saja maka setiap pohon menghasilkan Rp210.000 bila harga lengkeng dihitung dengan harga rendah, Rp7.000 per kg,' Zainuri mengkalkulasi. Bila populasi per ha 700 pohon berarti dituai Rp42-juta per tahun. Padahal biaya per ha per tahun cuma Rp15-juta. Belum lagi produksi meningkat tiap tahun yang terus bertahan hingga umur 25 tahun.

      Itu belum termasuk mereka yang mencoba skala kecil-kecilan. Misal Yos Sutikno dan Suko Budi Prayogo masing-masing menanam 50 pohon di Puncak, Cianjur, Jawa Barat dan Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah. Keberanian mengebunkan kian membulat setelah bukti itoh bisa dibuahkan di berbagai lokasi bermunculan. Semula itoh - meski kualitas buah unggul dan tanaman produktif - jarang dilirik lantaran sulit berbuah.

      E daw terbukti berbuah di Bogor, Jakarta, Cirebon, dan Pontianak. Di Kota Khatulistiwa 10 itoh umur 3 tahun berbuah lebat di kebun dr Buddy Sudjatmiko. Dari setiap pohon dokter yang hobi berkebun itu menuai 30 - 40 kg. Nun di Kota Udang lengkeng subtropis itu memberikan hasil 40 kg per pohon pada Rusdiyanto, si empunya kebun - di sana ada 100 itoh.

      Panen di Cirebon terbilang istimewa. Musababnya itoh berbuah tanpa perlakuan. Sobir menduga itoh berbuah tanpa perlakuan di kota tepi pantai itu karena pengaruh endapan natrium di tanah yang kerap terendam air laut.

      Kartu mati

      Toh sejatinya memilih itoh untuk dikebunkan bukan kartu mati. Buktinya CV Bhakti justru getol memperluas penanaman pingpong. Semua bermula pada Februari 2006. Ketika itu Kurniawan Yudha, staf pemasaran, nyaris bersitegang dengan manajer toko buah di Malang. Limapuluh kilo lengkeng pingpong yang dibawa ditolak. Musababnya toko itu belum sekalipun menjual pingpong. 'Buahnya belum familiar,' ujar si manajer. Namun, Kurniawan tetap nekat menitipkan buah anggota famili Sapindaceae itu. Akhirnya mereka sepakat: lengkeng boleh ditinggal tanpa target laku.

      Sembilan jam pascakejadian, telepon berdering di kantor CV Bhakti. Di seberang telepon manajer toko buah meminta Iwan menambah pasokan pingpong. Limapuluh kilo buah yang disetor tadi pagi ludes. Padahal harga dibanderol lumayan tinggi Rp25.000 per kg.

      Rupanya penampilan pingpong berkulit kemerahan dan embel-embel sebutan lengkeng naga di papan display memikat pembeli. Kebetulan waktu itu masih suasana perayaan Imlek. Tangkai dan daun yang melekat meyakinkan pembeli kalau lengkeng itu buah segar dari kebun di dalam negeri. Iwan memenuhi permintaan seminggu kemudian. Begitu datang, tanpa sempat dipajang lengkeng introduksi dari Vietnam itu berpindah ke tangan pembeli.

      Toko buah pun meminta CV Bhakti memasok rutin tanpa batasan jumlah. Namun, yang bisa dipenuhi 20 - 80 kg per minggu setiap musim panen pada Maret dan November. Volume itu didapat dari hasil panen 76 pohon berumur 1,5 tahun. Sayang sejak Maret 2008 CV Bhakti berhenti memasok pingpong. Bukan karena tidak laku, 'Buah habis dibeli konsumen yang datang ke kebun,' kata Iwan. Makanya populasi pingpong terus ditambah. Total jenderal kini ada 1.000 pohon ditanam.

      Tanpa perlakuan

      Sukses CV Bhakti memasarkan pingpong bak oase di padang pasir. Selama ini pingpong dianggap tidak layak dikebunkan secara komersial. Musababnya produktivitas xhan xiang com vang itu lebih rendah dibanding jenis introduksi lain - misal diamond river yang populer bersamaan. Cabang pingpong sedikit dan nglancir. Padahal buah lengkeng lazimnya muncul di ujung cabang. Pengalaman Rusdiyanto, di kebunnya di Karangwareng, Cirebon, pada umur 3 tahun produksi diamond river 40 kg per pohon. Pingpong hanya 5 - 7 kg. Ukuran biji besar jadi hambatan lain.

      Varietas lain pun siap jadi pesaing itoh. Nun di Singkawang, Kalimantan Barat, Mulyono Suteja menanam kristal. Pada penghujung Desember 2008 wartawan Trubus, Imam Wiguna, menyaksikan sepohon umur 3 tahun berbuah lebat. Ada 7 cabang sarat buah pada pohon setinggi 2,5 m itu. Saat ditimbang setandan berbobot 1,8 kg.

      Buah seukuran uang logam Rp500 berdaging kering, renyah, dan manis. Daging tebal dan biji kecil. Kualitas seperti itu idaman konsumen. Di kebun Mulyono ada 6 tanaman berbuah, tapi 5 pohon dipanen lebih dulu pada November 2008. Total jenderal dari 6 pohon dituai lebih dari 100 kg. Tahun depan pekebun jeruk itu berharap 50 kristal di kebun berbuah semua. Mulyono yakin, kristal bakal jadi pesaing itoh. Apalagi penelusurannya di Thailand kristal sejatinya perbaikan dari itoh. Pantas beberapa karakternya sama.

      Di Kalimantan Barat lengkeng introduksi dari Thailand itu juga banjir buah di kebun Baharuddin. Pohon di kediaman penangkar senior itu malah nyaris seperti hanya diselimuti buah - ini dengan perlakuan khusus. Buahnya sempat dicicipi Walikota Pontianak dan Gubernur Kalimantan Barat saat panen perdana pada akhir Oktober 2008.

      Kristalin - sebutan lain kristal - pun memamerkan buah di Demak, Jawa Tengah. Dompolan buah berkulit cokelat terang bak bergerombol di setiap ujung cabang. Tanaman setinggi 3 m berumur 4 tahun itu mesti disangga kayu supaya dahannya tak patah karena keberatan buah. Setiap dompol bobotnya mencapai di atas 1 kg. Ditaksir total produksi 40 kg.

      Jenis lain, si chompu, satu jari, dan verny. Yang disebut pertama buahnya mirip itoh: daging kering dan manis. Kelebihannya biji lebih kecil - sebesar bulir jagung. Produktivitas pohon umur 3 tahun mencapai 50 kg. Satu jari rajin berbuah seperti diamond river, sementara verny berkulit tebal sehingga tidak mudah rusak untuk pengiriman jarak jauh. (baca: Banyak Pilihan Mata Naga, halaman 20)

      Air asin

      Namun, mengebunkan lengkeng bukan jalan tanpa hambatan. Tanah bekas areal penanaman tebu dan padi yang dibeli Rusdiyanto ternyata keras karena timbunan NPK. Tanah tak layak tanam. Untuk mengatasi wiraswastawan itu menggandeng Ir Junaedi, ahli tanah, mengembangkan pupuk organik. Pupuk dari bahan alami itu memperbaiki kesuburan tanah sekaligus sumber nutrisi buat tanaman.

      Lokasi kebun di dekat pantai membuat air tanah berkadar salinitas tinggi. Akibatnya ketika dipakai menyiram lengkeng, 200 bibit mati. Daun gosong seperti terbakar. Akhirnya lulusan sekolah menengah teknik sipil itu mamasukkan air dari luar kebun untuk keperluan penyiraman.

      Ratusan bibit yang diimpor Lie Ay Yen saat pertama kali mengebunkan di halaman rumah seluas 1,2 ha juga mati. Musababnya pascakedatangan dari negara asal bibit langsung ditanam. Mestinya diaklimatisasi dulu - diadaptasikan dengan lingkungan baru yang iklimnya berbeda. Demi mempertahankan kelangsungan hidup bibit-bibit yang datang selanjutnya lapangan tenis pribadi disulap menjadi greenhouse sederhana. Bibit yang kebanyakan datang dari Malaysia diaklimatisasi selama 1 bulan.

      Batu sandungan lain, 'salah' memilih jenis. Sebanyak 500 diamond river di kebun Budi Dharmawan akhirnya disingkirkan. Musababnya, 'Walaupun mudah berbuah tapi buah becek,' tutur purnawirawan marinir itu. Lagipula batang lengkeng berlian itu gampang patah. Salah bibit juga dialami Rusdiyanto waktu pertama kali membeli bibit. Ketika itu ia memesan lengkeng dataran rendah yang datang justru lengkeng lokal. Kini sampai umur 4 tahun tinggi tanaman paling kurang dari 1 m.

      Varian terbanyak

      'Jenis baru layak diburu kalau kualitasnya di atas diamond river, pingpong, dan itoh,' kata Prakoso Heryono, penangkar di Demak. Berdasarkan pengamatannya di Indonesia varian lengkeng sangat banyak - bahkan jika dibandingkan Th ailand sekalipun. Selain varietas baru, keragaman muncul dari mutasi jenis lama. Sebut saja pingpong berbiji kecil di kebun CV Bhakti dan diamond river koleksi seorang perwira di Jakarta. Menurut Baiq Dina Mariana, peneliti di Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Tlekung, Batu, 'Penyerbukan terbuka di alam memunculkan varian-varian lengkeng baru.'

      Pantas selain itoh, Rusdiyanto juga menanam 100 pingpong dan 150 diamond river. Pada Januari 2006, ketika berumur 8 bulan pascatanam lengkeng-lengkeng itu mulai belajar berbuah. Namun, buah pertama itu dirompes supaya pertumbuhan vegetatif optimal. Baru pada tahun ke-2 lengkeng dibuahkan. Itu dilanjutkan pada musim buah 2008. Begitu buah bergelayutan, pengepul lokal serta-merta meminta pasokan.

      Pilihan mengkombinasikan beragam varietas pula yang ditempuh Cahyadi di Lampung. Di kebunnya ditanam 1.500 itoh dan 800 pingpong. Sementara di Desa Mlatiharjo, Kecamatan Gajah, Demak, ada 960 pohon pingpong serta 240 diamond river dan itoh. Populasi sebanyak itu berkat kerja keras Ir Herry Sugiartono, sang kepala desa, yang sejak 2003 getol mengajak warga menanam lengkeng.

      Pada 2006 pingpong sudah mulai berbuah. 'Belum dijual ke pasar karena habis dipetik penduduk,' tutur Herry. Itoh belajar berbuah setahun silam. Melihat hasil itu ia kian terpacu mengembangkan lengkeng. 'Target saya 2015 Desa Mlatiharjo jadi sentra lengkeng,' kata alumnus Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Jenderal Soedirman itu.

      Bisnis primadona

      Tren mengebunkan lengkeng - varietas apa pun - turut membawa berkah buat para penangkar. Permintaan bibit melonjak. Pada periode 2000 - 2005 rata-rata penjualan di kebun Prakoso 5.000 bibit per tahun. Memasuki 2007 - 2008 menjadi 10.000 bibit. Permintaan sesungguhnya malah 2 kali lipat. Lonjakan permintaan juga dirasakan Ricky Hadimulya di Bogor, dr Hendrarko (Malang), serta Edi Wiyono dan Tryman Sutandya (Blitar). Pengiriman pun meluas ke berbagai daerah - Prakoso menyebutnya dari Sabang sampai Marauke.

      Sentra bibit di Gunungkuning, Majalengka, Jawa Barat, pun bergairah. Contohnya Ojo Sudarja dan Nurholis ST - keduanya pembibit besar di sana. Dari kebun Ojo yang juga pengusaha kontruksi setiap bulan 5.000 bibit beragam jenis lengkeng - didominasi pingpong (60%) - lancar terjual. Sementara penjualan Nurholis mencapai 3.000 pingpong dan 2.500 diamond river per bulan. Ojo menyebut pemasaran bibit lengkeng primadona. 'Sekarang ini bila ada 10.00 bibit lengkeng per bulan, pasar sanggup menyerap,' tutur Suko Budi Prayogo, pembibit di Semarang.

      Apalagi beberapa daerah mulai mencanangkan lengkeng sebagai tanaman penghijauan. Contoh pemda Demak, Pati, Kudus, Semarang, dan Blitar. Dari perniagaan bibit lengkeng selama 3 bulan terakhir 2008 Isto Suwarno sanggup membeli 3 mobil mewah. Maklum omzetnya per bulan Rp450-juta hasil penjualan 15.000 bibit - khusus jenis pingpong. '(Pendapatan) 10 tahun kerja formal di kantor, sama dengan 3 bulan di kebun,' kata Kepala Bidang Rumahtangga di Taman Wisata Borobudur Prambanan itu.

      Para pembibit sepakat volume permintaan diamond river dan pingpong masih terbesar. Itoh mengekor. Baharuddin menduga itu lantaran diamond river dan pingpong mudah dibuahkan meski tanpa perlakuan. 'Apalagi kalau di Kalimantan Barat konsumen masih lebih banyak untuk koleksi di halaman rumah atau tabulampot,' ujar penangkar senior itu.

      20 tahun aman

      Ketika kendala teratasi peluang terbentang. Terbukti meski jumlahnya masih terbatas dan harga mahal - Rp25.000 per kg - kristal dari kebun Mulyono diminati kerabat dan kolega mantan pengusaha kayu itu. Sampai sekarang toko buah di Malang masih menanti kalau-kalau CV Bhakti bisa kembali memasok.

      Para kebun pun bermimpi bisa mengekor jejak Budi dan Lie Ay Yen panen lengkeng tiap bulan. Tidak takut pasar bakal banjir lengkeng? Simaklah hitung-hitungan Lie Ay Yen. Setiap tahun 200.000 ton lengkeng diimpor dari berbagai negara - terutama Thailand. 'Silakan konversikan jumlah itu ke luasan penanaman,' tutur eksportir produk-produk perkebunan itu.

      Dengan asumsi produksi pohon umur 5 tahun 100 kg per pohon berarti angka itu setara 2-juta pohon. Atau sekitar 10.000 ha luasan lahan. Ir AF Margianasari, kepala Produksi Buah Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, menghitung saat ini populasi lengkeng produktif di Indonesia paling banter sekitar 20.000 pohon.

      Dengan asumsi 1 tanaman menghasilkan 100 kg dan 3 kali panen per tahun didapat angka 6.000 ton lengkeng per tahun. 'Itu hanya 3% dibanding nilai impor,' tutur Margianasari. Pantas Lie Ay Yen yakin, 'Mengebunkan lengkeng (bisnis) aman sampai 20 tahun ke depan.' Peluang mengekspor kerabat leci itu pun bukan angan-angan yang tak bisa diwujudkan. (Evy Syariefa/Peliput: Destika Cahyana, Faiz Yajri, Rosy Nur Apriyanti, & Tri Susanti)

       

       

       


    • Eko Mulyo Hadi
      menarik. tapi pasti ada akibatnya dikemudian hari soal pemakaian pupuk kimia terutama pada tanah, dan lebih jauh kesehatan yang makan buah yaitu manusia adakah
      Message 2 of 3 , May 18, 2009
      • 0 Attachment
        menarik. tapi pasti ada akibatnya dikemudian hari soal pemakaian pupuk kimia
        terutama pada tanah, dan lebih jauh kesehatan yang makan buah yaitu manusia
        adakah informasi soal ini?

        beberapa minggu kemarin sempat liat di metro tv soal apel malang
        dulu jaman jaya-jayanya penggunaan pupuk kimia yang makin lama makin tinggi kadarnya
        berakibat pada kesuburan tanah yang menjadi terganggu, juga buahnya
        karena makin lama tanah menjadi keras, dan buah apelnya pun jadi jelek

        mas kun yang ahli tanah mungkin bisa menjawab soal ini?
        terima kasih



        2009/5/19 Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@...>

            Ada teman mengirimi saya ini. Barangkali ada warga KOL yang tahu lebih banyak dan siapa tahu ada "sesuatu" yang bisa digarap.....

            Salam,
            Yusuf

        Di kebun lain, lengkeng dipanen musiman. Muhammad Taufi k, staf kebun CV Bhakti di Ngembal, Pasuruan, Jawa Timur, menuai Dimocarpus longan 2 kali setahun: Maret dan November. Itoh di Ngebruk bisa rutin dituai karena diberi perlakuan khusus. Setiap bulan ada 1 blok yang mendapat aplikasi pupuk berbahan utama potasium klorat (KClO3). 'Potasium klorat - dan natrium klorat - pemicu munculnya bunga lengkeng. Keduanya bisa digunakan untuk membungakan lengkeng di luar musim,' kata Sobir, PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika IPB. (baca: Itoh Lokal Tantang Thailand, halaman 26)

                Aplikasi perangsang buah itulah yang diterapkan kebun di Ngebruk. Hasilnya pada Januari 2008 dituai 5,850 ton dari 130 pohon, Februari (5,590 ton, 130 pohon), Maret (5,720 ton, 130 pohon), April (4,290 ton, 130 pohon), Mei (1,980 ton, 66 pohon), Juni (1,914 ton, 66 pohon), Juli (2,112 ton, 66 pohon), Agustus (2,112 ton, 66 pohon), September (1,980 ton, 66 pohon), Oktober (2,244 ton, 66 pohon), November (990 kg, 33 pohon), dan Desember (1,023 ton, 33 pohon). Perlakuan serupa juga membuat lengkeng lokal di Ambarawa, Semarang, kembali dipenuhi buah. Setelah mogok selama 10 tahun.
      • Valyasky Alen
        Ngebruk ini mungkin konsepnya mirip dengan mekarsari yang ada di bogor... turut berbangga sebagai warga Kab.Kendal...
        Message 3 of 3 , May 18, 2009
        • 0 Attachment
          Ngebruk ini mungkin konsepnya mirip dengan mekarsari yang ada di bogor...

          turut berbangga sebagai warga Kab.Kendal...

        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.