Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin

Expand Messages
  • Yusuf Iskandar
    ”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin ... Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai
    Message 1 of 4 , May 13, 2008
    View Source
    • 0 Attachment
      ”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin
      ------------------------------------------------------

      Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat
      Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai
      Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau
      kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya
      jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah
      Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau
      kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti
      tahu tempatnya.

      Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? Wow...,
      jangan kaget di sana ada sate raksasa...... Ini bukan
      menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi
      pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya
      manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan
      beberapa tusuk satenya Bu Entin.

      Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate
      hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di
      tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah
      ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate
      cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing
      berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit.
      Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor
      masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan
      ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah
      ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira
      selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah
      repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya
      cukup buesar....).

      Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya
      gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua
      macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada
      urap, lalap leuncak, mentimun dan tauge kecil mentah,
      dsb.

      Dari tampilannya saja (sumprit..., saya berkata
      sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa
      gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana
      untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring
      dari beboko (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang
      saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur
      dengan sambal cabe merah.

      Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya
      dulitkan (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat
      muda. Komentar saya spontan pendek saja... ”Hmm....,
      enak..., enak sekali....”. Pilihan hasil assessment
      saya memang hanya dua, enak dan hoenak sekale.....

      Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan
      beberapa potong hati sapi yang saya dudut (lolos) dari
      tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di
      piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya
      makan nasinya.

      Oedan tenan......., sungguh sebuah petualangan
      makan-makan yang ruarrr biasa..... Setiap gigitan dan
      kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi
      seafood bakarnya. Juga potongan hati sapinya mak
      kress.... di gigi ketika memotong tekstur bongkahan
      sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan
      well done (sebaiknya jangan setengah matang).

      Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang
      nian...... nafsu serakah seperti sulit dikendalikan,
      tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada
      batasnya.

      ***

      Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun
      sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak
      tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus
      deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide
      sate hati sapi raksasa dan sate seafood yang juga
      berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan
      sambalnya yang mirasa, membuat faktor pembeda itu
      semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga
      kini. Akhirnya terbentuklah brand image Bu Entin yang
      seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.

      Bu Entin memang luar biasa, masakannya
      maksudnya....... Meski yang menyajikan masakannya
      sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para
      pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk
      memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak
      pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk
      menikmati sate raksasa dan sate seafood Bu Entin, maka
      yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.

      Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian
      berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin
      membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan
      Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang
      paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya
      berkrang, malahan semakin dikenal.

      Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana,
      namun sajian cita rasa yang diawarkan sungguh tidak
      sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen
      banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung
      fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu
      Entin.

      Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara
      saking terkesannya dengan masakan sate seafood Bu
      Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah
      puisi berjudul ”Seafood of Love”, yang kini dipajang
      di dinding Rumah Makan Bu Entin.

      Begini bunyi penggalan bait akhirnya :

      My seafood of love, my dining pleasure
      Finger lickin’ food, so fresh and tasty
      Breezing through my mind
      You leave me breathless and wanting for more….

      Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan
      setelah berucap hatur nuhun kepada pelayannya,
      melainkan puji Tuhan wal-hamdulillah ...... Kalau ada
      umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.

      Yogyakarta, 12 Mei 2008
      Yusuf Iskandar

      http://madurejo.wordpress.com
      http://yiskandar.wordpress.com
    • witono hidayat
      barangkali, akan lebih menarik jika ada fotonya pak yusuf. jadi bsa sambil buat lawuh kita kita makan siang. meski cuma mbayangke, lumayan buat ganjel weteng
      Message 2 of 4 , May 13, 2008
      View Source
      • 0 Attachment
        barangkali, akan lebih menarik jika ada fotonya pak yusuf. jadi bsa sambil buat "lawuh" kita kita makan siang. meski cuma mbayangke, lumayan buat ganjel weteng hehhehehe

        Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@...> wrote:
        ”Seafood of Love” Untuk Satenya Bu Entin
        ------------ --------- --------- --------- --------- ------

        Labuan hanyalah kota kecamatan di kawasan pantai barat
        Banten. Tidak jauh ke sebelah selatan dari pantai
        Carita yang belakangan lebih terkenal itu. Namun kalau
        kebetulan pergi berlibur ke pantai Carita, sebaiknya
        jangan lewatkan untuk mampir ke Labuan, lalu carilah
        Rumah Makan Bu Entin di Jalan Raya Labuan Encle. Kalau
        kesulitan, tanya saja sama orang lewat di sana pasti
        tahu tempatnya.

        Apa yang menarik dengan rumah makan Bu Entin? Wow...,
        jangan kaget di sana ada sate raksasa..... . Ini bukan
        menu satenya Buto Ijo, melainkan ya disediakan bagi
        pemangsa daging sejenis manusia yang kelaparan. Hanya
        manusia yang kelaparan yang sanggup menghabiskan
        beberapa tusuk satenya Bu Entin.

        Coba simak deskripsi berikut ini : Satu tusuk sate
        hati sapi terdiri dari lima potong yang kalau di
        tempat lain barangkali satu potongnya ini sudah
        ekuivalen dengan setusuk sate. Satu tusuk sate
        cumi-cumi terdiri dari lima ekor masing-masing
        berukuran sebesar batu baterei D-size gemuk sedikit.
        Satu tusuk sate udang terdiri dari lima ekor
        masing-masing berukuran sekorek api besar sedikit dan
        ada juga yang lebih besar. Satu tusuk sate ikan (entah
        ikan apa) terdiri hanya seekor ikan laut kira-kira
        selebar peci hitam untuk sholat (tidak usah
        repot-repot sholat dulu untuk membayangkan, pokoknya
        cukup buesar....).

        Belum lagi otak-otak yang bungkus daun pisangnya
        gosong di sana-sini dan masih panas, dipadu dengan dua
        macam sambal berwarna merah dan coklat muda. Masih ada
        urap, lalap leuncak, mentimun dan tauge kecil mentah,
        dsb.

        Dari tampilannya saja (sumprit..., saya berkata
        sejujurnya) ludah saya sudah tertelan beberapa
        gelombang. Sampai bingung saya harus memulai dari mana
        untuk memakannya, padahal nasi sudah dituang ke piring
        dari beboko (ceting) yang disediakan. Akhirnya yang
        saya ambil duluan malah tauge mentah saya campur
        dengan sambal cabe merah.

        Sebungkus otak-otak saya buka kemudian dan saya
        dulitkan (cocolkan) ke sambal yang berwarna coklat
        muda. Komentar saya spontan pendek saja... ”Hmm....,
        enak..., enak sekali....”. Pilihan hasil assessment
        saya memang hanya dua, enak dan hoenak sekale.....

        Sejurus kemudian baru setusuk cumi, setusuk udang dan
        beberapa potong hati sapi yang saya dudut (lolos) dari
        tusuknya. Itupun sudah hampir menenggelamkan nasi di
        piring saya, yang kemudian malah belakangan baru saya
        makan nasinya.

        Oedan tenan....... , sungguh sebuah petualangan
        makan-makan yang ruarrr biasa..... Setiap gigitan dan
        kunyahan cumi-cumi dan udangnya terasa benar sensasi
        seafood bakarnya. Juga potongan hati sapinya mak
        kress.... di gigi ketika memotong tekstur bongkahan
        sate hati sapi yang dibakar hingga tingkat kematangan
        well done (sebaiknya jangan setengah matang).

        Hampir sejam kemudian, perut sudah terasa kenyang
        nian...... nafsu serakah seperti sulit dikendalikan,
        tapi apa daya kapasitas tembolok manusia memang ada
        batasnya.

        ***

        Entah dimana Bu Entin pernah belajar bisnis, namun
        sejak awal membuka usaha (yang kata pegawainya sejak
        tahun 1996), Bu Entin sudah menerapkan jurus
        deferensiasi. Bu Entin berani tampil beda dengan ide
        sate hati sapi raksasa dan sate seafood yang juga
        berukuran tidak biasa. Ditambah dengan adonan
        sambalnya yang mirasa, membuat faktor pembeda itu
        semakin mantap pada posisinya dan bertahan hingga
        kini. Akhirnya terbentuklah brand image Bu Entin yang
        seakan menjadi jaminan kepuasan pelanggannya.

        Bu Entin memang luar biasa, masakannya
        maksudnya... .... Meski yang menyajikan masakannya
        sebenarnya juga bukan Bu Entin sendiri melainkan para
        pegawainya. Tapi nama kondangnya sudah cukup untuk
        memanipulasi seperti apapun kualitas kemahiran memasak
        pegawainya. Siapapun pengunjung yang datang untuk
        menikmati sate raksasa dan sate seafood Bu Entin, maka
        yang terbayang adalah buah karya tangan Bu Entin.

        Layaknya sebuah kesuksesan, maka kemudian
        berduyun-duyun para pengikut meniru jejak Bu Entin
        membuka usaha rumah makan sejenis di seputaran kawasan
        Labuan. Namun tetap saja Rumah Makan Bu Entin yang
        paling banyak diminati sehingga bukannya pengunjungnya
        berkrang, malahan semakin dikenal.

        Kendati tampilan warungnya terkesan sangat sederhana,
        namun sajian cita rasa yang diawarkan sungguh tidak
        sesederhana tampilannya, melainkan membuat kangen
        banyak pelanggan setianya terlebih bagi pengunjung
        fanatik yang sudah telanjur cocok dengan masakan Bu
        Entin.

        Seorang pengunjungnya yang datang dari mancanegara
        saking terkesannya dengan masakan sate seafood Bu
        Entin, sampai menyempatkan untuk menuliskan sebuah
        puisi berjudul ”Seafood of Love”, yang kini dipajang
        di dinding Rumah Makan Bu Entin.

        Begini bunyi penggalan bait akhirnya :

        My seafood of love, my dining pleasure
        Finger lickin’ food, so fresh and tasty
        Breezing through my mind
        You leave me breathless and wanting for more….

        Tiada kata-kata yang lebih indah dapat saya ucapkan
        setelah berucap hatur nuhun kepada pelayannya,
        melainkan puji Tuhan wal-hamdulillah ...... Kalau ada
        umur panjang, bolehlah saya kepingin mampir lagi.

        Yogyakarta, 12 Mei 2008
        Yusuf Iskandar

        http://madurejo. wordpress. com
        http://yiskandar. wordpress. com


      • Yusuf Iskandar
        Lawuh -nya saya upload di blog saya, mas. Mau saya sertakan dalam milis khawatir nanti membebani emailnya sebagian teman (kecuali kalau disetujui pak
        Message 3 of 4 , May 13, 2008
        View Source
        • 0 Attachment
          "Lawuh"-nya saya upload di blog saya, mas. Mau saya
          sertakan dalam milis khawatir nanti membebani emailnya
          sebagian teman (kecuali kalau disetujui pak
          moderator).

          Nuwun & salam,
          Yusuf


          --- witono hidayat <witonohidayat@...> wrote:

          > barangkali, akan lebih menarik jika ada fotonya pak
          > yusuf. jadi bsa sambil buat "lawuh" kita kita makan
          > siang. meski cuma mbayangke, lumayan buat ganjel
          > weteng hehhehehe
          >
          > Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@...> wrote:
          > ”Seafood of Love” Untuk
          > Satenya Bu Entin
          >
          >
          ------------------------------------------------------
          >



          ____________________________________________________________________________________
          Be a better friend, newshound, and
          know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
        • witono hidayat
          wedew...konangan le ora tau mbuka bloge pak yusuf ki aku hehehhehe.... siap pak..nanti makan siang nan lezat bersama lawuh lawuh dari pak yusuf..pokoke mak
          Message 4 of 4 , May 13, 2008
          View Source
          • 0 Attachment
            wedew...konangan le ora tau mbuka bloge pak yusuf ki aku hehehhehe....
            siap pak..nanti makan siang nan lezat bersama lawuh lawuh dari pak yusuf..pokoke mak nyusss.....

            Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@...> wrote:
            "Lawuh"-nya saya upload di blog saya, mas. Mau saya
            sertakan dalam milis khawatir nanti membebani emailnya
            sebagian teman (kecuali kalau disetujui pak
            moderator).

            Nuwun & salam,
            Yusuf

            --- witono hidayat <witonohidayat@ yahoo.com> wrote:

            > barangkali, akan lebih menarik jika ada fotonya pak
            > yusuf. jadi bsa sambil buat "lawuh" kita kita makan
            > siang. meski cuma mbayangke, lumayan buat ganjel
            > weteng hehhehehe
            >
            > Yusuf Iskandar <yiskandar_2000@ yahoo.com> wrote:
            > ”Seafood of Love” Untuk
            > Satenya Bu Entin
            >
            >
            ------------ --------- --------- --------- --------- ------
            >

            ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
            Be a better friend, newshound, and
            know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile. yahoo.com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ

          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.