Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Selingan

Expand Messages
  • Najib
    http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1940/berguru_ke_negeri_jiran_gus_part_i Berguru ke Negeri Jiran, Gus! (Part I) Turiman Wijaya Suatu sore, seorang
    Message 1 of 2 , Oct 9, 2010
    • 0 Attachment

      Suatu sore, seorang kawan mengajak ketemu di sebuah resto di kawasan Taman Ria Senayan Jakarta. Sambil nunggu, aku pun otak-atik dunia maya, lumayan mumpung free hot spot.

      Tiba-tiba, datanglah empat orang pria dan dua orang wanita duduk di sebelah mejaku. Mereka saling cas cis cus ria bercengkerama. Dari dialeknya, bisa kuduga kalau tiga pria diantara mereka adalah orang negeri sebelah Malaysia. “Makan apa?” seorang bertanya. “Tak. Awak hot tea,” jawab satunya.

      Kawanku akhirnya datang juga. “Sorry terlambat,” katanya. “Padahal gak ada macet ya?” kataku. “Hahaha...sialan, loe,” jawabnya. Kami pun ngobrol. Ternyata dia punya cerita soal dana semi hibah jutaan dollar dari luar negeri yang gak jelas peruntukannya di tanah air. “Wah, aku juga sempat dapat cerita & data soal dana hibah 60 juta dolar yang katanya buat penyokong pelaksanaan good governance, eh malah diembat buat biaya politik.”

      Singkat cerita, salah seorang pria malay di sebelah meja kami pun bersapa. “Pak, kami hendak beli souvenir khas Jakarta. Macam bingkisan, kami hendak pulang ke KL (Kuala Lumpur-red). Kami ndak pergi ke mana kami ndak tahu. Ah...boleh information kami, Pak?”

      Rupanya, para pak Cik itu besok sore mau pulang ke Kuala Lumpur dan bingung mencari souvenir khas Jakarta buat oleh-oleh. Celakanya, kami berdua pun sama bingungnya. “Emang ada pusat souvenir khas Jakarta di kota ini?” pertanyaan kami berdua sama. Lha, wong Jakarta hanya berisi Mall, Supermall, Hyper market, shopping center, food corner, cafe dan sejenisnya.... “Kalau mau cari shopping center dengan sajian barang paling mewah di dunia, di Jakarta banyak, pak Cik,” batinku. Ah, sialan. Memalukan kalau tak bisa jawab.

      Si Pak Cik Malay itu pun mencontohkan souvenir kaki lima kayak di China Town, di sudut kota Kuala Lumpur. “Harga tak mahal,” katanya.

      Aku pun teringat saat beberapa bulan lalu sempat ikut bertandang ke Kuala Lumpur. Saat mau pulang, aku mampir ke China Town yang diceritakan Pak Cik. Di situ, memang pusat souvenir khas Kuala Lumpur. Dari mulai gantungan kunci, korek, kaos, baju, travelling bag, back packer, arloji, patung, guci....Ah, sudahlah, pokoknya sembarang kalir souvenir bergambar simbol-simbol kota Kuala Lumpur ada di pusat kaki lima China Town itu.

      Saat aku beli dan menawar beberapa souvenir di China Town, para pedagang pun tak mau menurunkan harga. “Dari mana? Indon? Jakarta-kah?” tanya seorang pedagang korek api. “Ah, tak usah tawar-tawar, orang Jakarta kaya-kaya, banyak duit. Awak punya pembeli macam orang Jakarta, sekali beli awak kirim berkarung-karung. Orang Jakarta kaya-kaya, orang Jakarta rumah satu, kereta empat,” kata si penjual korek berlogo menara kembar Petronas.

      Sama komentarnya dengan Pak Cik di Taman Ria Senayan. “Jakarta hebat, kota modern, maju. Kereta di jalan baru-baru semua. Tak ada kereta lapuk sini. Lama sikit jual,” kata Pak Cik. “Ah, nggaklah, pasti lebih maju KL,” kata temenku. “Ndak, pak. Pertumbuhan KL sedang-sedang saja. Jakarta amat pesat. Coba macam orang KL punya bas (bus -red), orang Jakarta tak punya bas. Tapi, yang punye BUSWAY tuh Jakarta, kami tak punya,” Pak Cik dan kami semua tergelak tawa.

      Kembali ke cita-cita para Pak Cik beli souvenir khas Jakarta. “Pak Cik, coba ke Pasar Festival di Jalan Rasuna Said Kuningan. Di sana banyak juga handycraft khas Indonesia. Siapa tahu di sana juga ada yang jual kaos bertuliskan Jakarta, gambar Monas,” jelasku.

      Cerita punya cerita, si Pak Cik nih rupanya baru keliling di beberapa daerah di Indonesia. Dia lagi diutus oleh seorang company untuk menjajaki potensi kebun pohon jarak di beberapa daerah Indonesia. Mereka mendengar kebijakan bio fuel di Indonesia sempat dicanangkan tapi kemudian tindak lanjutnya belum maksimal. Banyak petani yang kadung menanam lahannya dengan Jarak, katanya bingung menjual minyak jaraknya ke mana.

      “Kami ada amanah toke di KL mencari potensi kebun jarak di Indonesia. Kami hendak beli minyak dari mereka petani kebun-kebun jarak tuh. Pada masanya nanti kami ndak buka lahan kebun jarak di Malaysia,” si Pak Cik nerocos. Untuk kedua kalinya: sialan!

      “Indonesia negara besar yang hebat dan kaya, Pak. Bila kemajuan beberapa kota merata di Indonesia macam Jakarta, Indonesia lebih hebat lagi,” lanjut Pak Cik.

      Suara Pak Cik di Taman Ria Senayan itu benar-benar mengingatkanku ke seorang pengusaha sawit di perkebunan Lahad Dato, Sabah, Malaysia tahun 2002 silam.

      Saat itu, si pengusaha perkebunan Malaysia ngobrol soal heboh TKI Ilegal dipulangkan lewat Nunukan. Aku sempat nerobos masuk Malaysia bersama ribuan TKI lewat Nunukan menuju Tawau.

      Si pengusaha itu bilang, mereka sangat ketakutan kalau ancaman pemerintah RI akan menarik semua TKI-nya di Malaysia benar-benar menjadi kenyataan. Sekadar mengingatkan, saat itu, Malaysia tengah gencar melancarkan operasi TKI ileggal dan berencana mendeportasi ratusan ribu TKI itu ke Indonesia. Dan, pemerintah RI saat itu bereaksi dengan mengancam semua TKI di Malaysia ditarik.

      Kenapa perkebunan sawit Malaysia takut akan ancaman itu? Kata si Pengusaha Sabah itu, hampir 100% tenaga kerja perkebunan sawit di seluruh wilayah Sabah-Serawak Malaysia adalah orang Indonesia. Mereka bekerja dari mulai membabat hutan belantara hingga akhirnya panen dan menjadikan Malaysia penghasil CPO terbesar di dunia, menggeser posisi Indonesia. Jadi, “Kami tak bisa bayangkan kalau semua TKI ditarik, kami di sini bangkrut semua,” aku si pengusaha itu. “Tak usah dua tiga bulan, dua pekan saja mereka balik Indonesia perekonomian Malaysia bisa guncang,” ujarnya.

      Ketakutan kedua para pemilik perkebunan sawit Malaysia adalah terkait kemungkinan langkah pemerintah RI pasca heboh operasi TKI ilegal saat itu. “Kami takut, benar-benar takut kalau pemerintah awak (Indonesia) buat macam program membuka lahan sawit. Apapun, kami berguru kepada Indonesia soal budidaya kebun sawit. Tak perlu banyak-banyak. Indonesia tanam sawit di ujung utara Kalimantan saja, habis kami semua,” kata si pengusaha itu lagi. “Kenapa?” tanyaku. “Pasti orang-orang pekerja asal Indonesia lebih pilih bekerja di negerinya sendiri, tak mau lagi mereka ke Malaysia,” jawabnya. “Tapi, kami beruntung, nampak Indonesia lebih suka bakar-bakar hutan daripada tanam sawit,” tambahnya sambil tertawa. Jangkrik. Ketiga kalinya: sialan..!! (Bersambung…)


      Berguru ke Negeri Jiran, Gus! (Part II)
      Turiman Wijaya

      Ah, aku jadi ingat Pak Ramli. Seorang senior journalist radio dari RTM Serawak. Bukankah itu pula nada pertanyaan Pak Ramli padaku saat break makan siang di sebuah pelatihan di KL beberapa bulan lalu?” batinku.

      Sambil minum kopi, Pak Ramli mendekat ke arahku. Setelah basa-basi ngalor ngidul, Pak Ramli pun bercerita pengalamannya mengunjungi kota-kota besar di Indonesia. “Pak, saya takjub dengan Kota Jakarta yang pesat. “Coba pikir, Pak. Di sini (Malaysia), macam mobil Toyota Unser (sebutan merk toyota kijang kapsul di Malaysia) sudah termasuk mobil mahal. Mewah. Sikit orang Malaysia bisa beli Unser, cuma yang benar-benar kaya. Saya terkejut pertama kali datang dan keluar dari bandara Jakarta. Mobil orang Jakarta, Unser (kijang) semua!!” kata Pak Ramli.

      Kalau soal itu, Pak Ramli sih ada benarnya. Ibaratnya, mobil Toyota Alphard aja udah sama banyaknya ame Bajaj Bajuri di Jakarta. Coba bandingkan dengan mobil yang beredar di jalanan KL yang lebih banyak diisi oleh mobil-mobil kecil ala Daihatsu Ceria, Proton dan sejenisnya. Umurnya pun banyak yang sudah agak tua. Mobil toyota twincam, grand civic banyak beredar di KL. Mobil mewah semacam Audi, Mercy, Jaguar yang mbelatak di Jakarta, sangat jarang terlihat di jalanan KL.

      “Saya sudah ke kota-kota lain di Indonesia. Medan, Banda Aceh, Palembang, Jogja, Surabaya, Balikpapan, Samarinda, Makassar. Tapi, Pak, maaf bukan maksud mau mengejek atau apa, kenapa pembangunan Indonesia hanya terpusat di Kota Jakarta? Kota-kota yang lain semacam terabaikan. Kenapa bisa begitu, Pak?” tanya Pak Ramli saat itu.

      “Sebab, perbedaannya kan jauh sekali, Pak. Macam kami di sini, banyak kota di Malaysia relatif sama kondisi pembangunannya,” lanjutnya. “Bila dalam lima tahun sekali Indonesia bangun ekonomi satu daerah saja, sudah berapa daerah maju bertumbuh sekarang?” ujarnya lagi. Artinya, menurut Pak Ramli, kemajuan kota dengan segala infra strukturnya bisa menjadi salah satu indikasi melajunya pertumbuhan ekonomi di wilayah itu.

      Pak Ramli aku piker bener banget. Ketakjubanku pertama kali menginjakan kaki di kota Tawau, 2002 lalu, tak pernah bakal sirna dari ingatan. Aku takjub bukan lantaran banyak Toyota Unser seperti Pak Ramli. Perbedaan kota Tawau dan Nunukan –yang notabene keduanya menjadi pintu gerbang atau semacam etalase memasuki wilayah negara masing-masing- nyatanya terbukti bak surga dan neraka.

      Saat itu, kami bertandang ke Tawau dari pelabuhan Nunukan, Kalimantan Timur. Terpaksa kami naik kapal kayu berbendera Indonesia lantaran kapal speedboat (yang di jalur penyeberangan Nunukan-Tawau hampir 90% adalah milik Malaysia) baru ada di sore hari.

      Sesampainya di Tawau, kami pun terkesima. Masuk wilayah pelabuhan yang sangat rapi, modern, bersih, serta komputerisasi maksimal di pemeriksaan para penumpang. Mewah!

      Kami makin terperangah saat keluar dari pintu pelabuhan. Benar-benar terasa memasuki etalase sebuah negara. Jalan aspal hotmix tanpa lobang menganga lebar dan lurus memanjang ke arah pusat kota Tawau. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat pusat jajanan rakyat dan cafe resto yang tak kalah sumringahnya dengan kawasan jajan FX di Senayan itu. Kanan kiri berjejer infrastruktur kota nan rapi dan megah. Pemerintah Malaysia benar-benar menjadikan Tawau sebagai etalase pintu gerbang memasuki wilayah negeri mereka. Dengan segala fasilitas dan kemajuannya, Tawau benar-benar menyambut para tamu: Selamat Datang di Malaysia.

      Lantas, bagaimana suasana saat kami pulang menuju Nunukan? Masuk pelabuhan Nunukan nampak sudah potret kesuraman sebuah kantor pelayanan publik yang terabaikan. Tanah becek beralaskan papan menjadi fasilitas para penumpang yang baru keluar kapal menuju pelabuhan.

      Lorong pemeriksaan penumpang hanya dihiasi besi-besi tua berkarat tak jelas modelnya. Bangunan pelabuhan pun sudah tak layak berdiri. Begitu keluar dari pintu pelabuhan Nunukan, kita akan disuguhi suasana gersang berdebu dengan aura penuh kemiskinan, keterbelakangan dan kesemrawutan.

      “Pak, terimakasih, sudah banyak cakap kami ni... ndak pergi ke Pasar Festival,” pak Cik di Taman Ria itu pun pamit. “Ah, apa cakap orang ni... Oalaaaah, Agus..Agus... belajar ke negeri jiran, Gus...!!”

       

      .
      : Najib :.



    • roni hidayat
      tulisan bagus, semoga bisa menyadarkan lebih banyak orang tentang ketidakadilan, kesenjangan, dan masa depan negara ini. roni 2010/10/9 Najib
      Message 2 of 2 , Oct 12, 2010
      • 0 Attachment
        tulisan bagus, semoga bisa menyadarkan lebih banyak orang tentang ketidakadilan, kesenjangan, dan masa depan negara ini.

        roni

        2010/10/9 Najib <kannaz_bibie@...>
         

        http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/3/1940/berguru_ke_negeri_jiran_gus_part_i

        Berguru ke Negeri Jiran, Gus! (Part I)

        Turiman Wijaya

        Suatu sore, seorang kawan mengajak ketemu di sebuah resto di kawasan Taman Ria Senayan Jakarta. Sambil nunggu, aku pun otak-atik dunia maya, lumayan mumpung free hot spot.

        Tiba-tiba, datanglah empat orang pria dan dua orang wanita duduk di sebelah mejaku. Mereka saling cas cis cus ria bercengkerama. Dari dialeknya, bisa kuduga kalau tiga pria diantara mereka adalah orang negeri sebelah Malaysia. “Makan apa?” seorang bertanya. “Tak. Awak hot tea,” jawab satunya.

        Kawanku akhirnya datang juga. “Sorry terlambat,” katanya. “Padahal gak ada macet ya?” kataku. “Hahaha...sialan, loe,” jawabnya. Kami pun ngobrol. Ternyata dia punya cerita soal dana semi hibah jutaan dollar dari luar negeri yang gak jelas peruntukannya di tanah air. “Wah, aku juga sempat dapat cerita & data soal dana hibah 60 juta dolar yang katanya buat penyokong pelaksanaan good governance, eh malah diembat buat biaya politik.”

        Singkat cerita, salah seorang pria malay di sebelah meja kami pun bersapa. “Pak, kami hendak beli souvenir khas Jakarta. Macam bingkisan, kami hendak pulang ke KL (Kuala Lumpur-red). Kami ndak pergi ke mana kami ndak tahu. Ah...boleh information kami, Pak?”

        Rupanya, para pak Cik itu besok sore mau pulang ke Kuala Lumpur dan bingung mencari souvenir khas Jakarta buat oleh-oleh. Celakanya, kami berdua pun sama bingungnya. “Emang ada pusat souvenir khas Jakarta di kota ini?” pertanyaan kami berdua sama. Lha, wong Jakarta hanya berisi Mall, Supermall, Hyper market, shopping center, food corner, cafe dan sejenisnya.... “Kalau mau cari shopping center dengan sajian barang paling mewah di dunia, di Jakarta banyak, pak Cik,” batinku. Ah, sialan. Memalukan kalau tak bisa jawab.

        Si Pak Cik Malay itu pun mencontohkan souvenir kaki lima kayak di China Town, di sudut kota Kuala Lumpur. “Harga tak mahal,” katanya.

        Aku pun teringat saat beberapa bulan lalu sempat ikut bertandang ke Kuala Lumpur. Saat mau pulang, aku mampir ke China Town yang diceritakan Pak Cik. Di situ, memang pusat souvenir khas Kuala Lumpur. Dari mulai gantungan kunci, korek, kaos, baju, travelling bag, back packer, arloji, patung, guci....Ah, sudahlah, pokoknya sembarang kalir souvenir bergambar simbol-simbol kota Kuala Lumpur ada di pusat kaki lima China Town itu.

        Saat aku beli dan menawar beberapa souvenir di China Town, para pedagang pun tak mau menurunkan harga. “Dari mana? Indon? Jakarta-kah?” tanya seorang pedagang korek api. “Ah, tak usah tawar-tawar, orang Jakarta kaya-kaya, banyak duit. Awak punya pembeli macam orang Jakarta, sekali beli awak kirim berkarung-karung. Orang Jakarta kaya-kaya, orang Jakarta rumah satu, kereta empat,” kata si penjual korek berlogo menara kembar Petronas.

        Sama komentarnya dengan Pak Cik di Taman Ria Senayan. “Jakarta hebat, kota modern, maju. Kereta di jalan baru-baru semua. Tak ada kereta lapuk sini. Lama sikit jual,” kata Pak Cik. “Ah, nggaklah, pasti lebih maju KL,” kata temenku. “Ndak, pak. Pertumbuhan KL sedang-sedang saja. Jakarta amat pesat. Coba macam orang KL punya bas (bus -red), orang Jakarta tak punya bas. Tapi, yang punye BUSWAY tuh Jakarta, kami tak punya,” Pak Cik dan kami semua tergelak tawa.

        Kembali ke cita-cita para Pak Cik beli souvenir khas Jakarta. “Pak Cik, coba ke Pasar Festival di Jalan Rasuna Said Kuningan. Di sana banyak juga handycraft khas Indonesia. Siapa tahu di sana juga ada yang jual kaos bertuliskan Jakarta, gambar Monas,” jelasku.

        Cerita punya cerita, si Pak Cik nih rupanya baru keliling di beberapa daerah di Indonesia. Dia lagi diutus oleh seorang company untuk menjajaki potensi kebun pohon jarak di beberapa daerah Indonesia. Mereka mendengar kebijakan bio fuel di Indonesia sempat dicanangkan tapi kemudian tindak lanjutnya belum maksimal. Banyak petani yang kadung menanam lahannya dengan Jarak, katanya bingung menjual minyak jaraknya ke mana.

        “Kami ada amanah toke di KL mencari potensi kebun jarak di Indonesia. Kami hendak beli minyak dari mereka petani kebun-kebun jarak tuh. Pada masanya nanti kami ndak buka lahan kebun jarak di Malaysia,” si Pak Cik nerocos. Untuk kedua kalinya: sialan!

        “Indonesia negara besar yang hebat dan kaya, Pak. Bila kemajuan beberapa kota merata di Indonesia macam Jakarta, Indonesia lebih hebat lagi,” lanjut Pak Cik.

        Suara Pak Cik di Taman Ria Senayan itu benar-benar mengingatkanku ke seorang pengusaha sawit di perkebunan Lahad Dato, Sabah, Malaysia tahun 2002 silam.

        Saat itu, si pengusaha perkebunan Malaysia ngobrol soal heboh TKI Ilegal dipulangkan lewat Nunukan. Aku sempat nerobos masuk Malaysia bersama ribuan TKI lewat Nunukan menuju Tawau.

        Si pengusaha itu bilang, mereka sangat ketakutan kalau ancaman pemerintah RI akan menarik semua TKI-nya di Malaysia benar-benar menjadi kenyataan. Sekadar mengingatkan, saat itu, Malaysia tengah gencar melancarkan operasi TKI ileggal dan berencana mendeportasi ratusan ribu TKI itu ke Indonesia. Dan, pemerintah RI saat itu bereaksi dengan mengancam semua TKI di Malaysia ditarik.

        Kenapa perkebunan sawit Malaysia takut akan ancaman itu? Kata si Pengusaha Sabah itu, hampir 100% tenaga kerja perkebunan sawit di seluruh wilayah Sabah-Serawak Malaysia adalah orang Indonesia. Mereka bekerja dari mulai membabat hutan belantara hingga akhirnya panen dan menjadikan Malaysia penghasil CPO terbesar di dunia, menggeser posisi Indonesia. Jadi, “Kami tak bisa bayangkan kalau semua TKI ditarik, kami di sini bangkrut semua,” aku si pengusaha itu. “Tak usah dua tiga bulan, dua pekan saja mereka balik Indonesia perekonomian Malaysia bisa guncang,” ujarnya.

        Ketakutan kedua para pemilik perkebunan sawit Malaysia adalah terkait kemungkinan langkah pemerintah RI pasca heboh operasi TKI ilegal saat itu. “Kami takut, benar-benar takut kalau pemerintah awak (Indonesia) buat macam program membuka lahan sawit. Apapun, kami berguru kepada Indonesia soal budidaya kebun sawit. Tak perlu banyak-banyak. Indonesia tanam sawit di ujung utara Kalimantan saja, habis kami semua,” kata si pengusaha itu lagi. “Kenapa?” tanyaku. “Pasti orang-orang pekerja asal Indonesia lebih pilih bekerja di negerinya sendiri, tak mau lagi mereka ke Malaysia,” jawabnya. “Tapi, kami beruntung, nampak Indonesia lebih suka bakar-bakar hutan daripada tanam sawit,” tambahnya sambil tertawa. Jangkrik. Ketiga kalinya: sialan..!! (Bersambung…)


        Berguru ke Negeri Jiran, Gus! (Part II)
        Turiman Wijaya

        Ah, aku jadi ingat Pak Ramli. Seorang senior journalist radio dari RTM Serawak. Bukankah itu pula nada pertanyaan Pak Ramli padaku saat break makan siang di sebuah pelatihan di KL beberapa bulan lalu?” batinku.

        Sambil minum kopi, Pak Ramli mendekat ke arahku. Setelah basa-basi ngalor ngidul, Pak Ramli pun bercerita pengalamannya mengunjungi kota-kota besar di Indonesia. “Pak, saya takjub dengan Kota Jakarta yang pesat. “Coba pikir, Pak. Di sini (Malaysia), macam mobil Toyota Unser (sebutan merk toyota kijang kapsul di Malaysia) sudah termasuk mobil mahal. Mewah. Sikit orang Malaysia bisa beli Unser, cuma yang benar-benar kaya. Saya terkejut pertama kali datang dan keluar dari bandara Jakarta. Mobil orang Jakarta, Unser (kijang) semua!!” kata Pak Ramli.

        Kalau soal itu, Pak Ramli sih ada benarnya. Ibaratnya, mobil Toyota Alphard aja udah sama banyaknya ame Bajaj Bajuri di Jakarta. Coba bandingkan dengan mobil yang beredar di jalanan KL yang lebih banyak diisi oleh mobil-mobil kecil ala Daihatsu Ceria, Proton dan sejenisnya. Umurnya pun banyak yang sudah agak tua. Mobil toyota twincam, grand civic banyak beredar di KL. Mobil mewah semacam Audi, Mercy, Jaguar yang mbelatak di Jakarta, sangat jarang terlihat di jalanan KL.

        “Saya sudah ke kota-kota lain di Indonesia. Medan, Banda Aceh, Palembang, Jogja, Surabaya, Balikpapan, Samarinda, Makassar. Tapi, Pak, maaf bukan maksud mau mengejek atau apa, kenapa pembangunan Indonesia hanya terpusat di Kota Jakarta? Kota-kota yang lain semacam terabaikan. Kenapa bisa begitu, Pak?” tanya Pak Ramli saat itu.

        “Sebab, perbedaannya kan jauh sekali, Pak. Macam kami di sini, banyak kota di Malaysia relatif sama kondisi pembangunannya,” lanjutnya. “Bila dalam lima tahun sekali Indonesia bangun ekonomi satu daerah saja, sudah berapa daerah maju bertumbuh sekarang?” ujarnya lagi. Artinya, menurut Pak Ramli, kemajuan kota dengan segala infra strukturnya bisa menjadi salah satu indikasi melajunya pertumbuhan ekonomi di wilayah itu.

        Pak Ramli aku piker bener banget. Ketakjubanku pertama kali menginjakan kaki di kota Tawau, 2002 lalu, tak pernah bakal sirna dari ingatan. Aku takjub bukan lantaran banyak Toyota Unser seperti Pak Ramli. Perbedaan kota Tawau dan Nunukan –yang notabene keduanya menjadi pintu gerbang atau semacam etalase memasuki wilayah negara masing-masing- nyatanya terbukti bak surga dan neraka.

        Saat itu, kami bertandang ke Tawau dari pelabuhan Nunukan, Kalimantan Timur. Terpaksa kami naik kapal kayu berbendera Indonesia lantaran kapal speedboat (yang di jalur penyeberangan Nunukan-Tawau hampir 90% adalah milik Malaysia) baru ada di sore hari.

        Sesampainya di Tawau, kami pun terkesima. Masuk wilayah pelabuhan yang sangat rapi, modern, bersih, serta komputerisasi maksimal di pemeriksaan para penumpang. Mewah!

        Kami makin terperangah saat keluar dari pintu pelabuhan. Benar-benar terasa memasuki etalase sebuah negara. Jalan aspal hotmix tanpa lobang menganga lebar dan lurus memanjang ke arah pusat kota Tawau. Tak jauh dari pelabuhan, terdapat pusat jajanan rakyat dan cafe resto yang tak kalah sumringahnya dengan kawasan jajan FX di Senayan itu. Kanan kiri berjejer infrastruktur kota nan rapi dan megah. Pemerintah Malaysia benar-benar menjadikan Tawau sebagai etalase pintu gerbang memasuki wilayah negeri mereka. Dengan segala fasilitas dan kemajuannya, Tawau benar-benar menyambut para tamu: Selamat Datang di Malaysia.

        Lantas, bagaimana suasana saat kami pulang menuju Nunukan? Masuk pelabuhan Nunukan nampak sudah potret kesuraman sebuah kantor pelayanan publik yang terabaikan. Tanah becek beralaskan papan menjadi fasilitas para penumpang yang baru keluar kapal menuju pelabuhan.

        Lorong pemeriksaan penumpang hanya dihiasi besi-besi tua berkarat tak jelas modelnya. Bangunan pelabuhan pun sudah tak layak berdiri. Begitu keluar dari pintu pelabuhan Nunukan, kita akan disuguhi suasana gersang berdebu dengan aura penuh kemiskinan, keterbelakangan dan kesemrawutan.

        “Pak, terimakasih, sudah banyak cakap kami ni... ndak pergi ke Pasar Festival,” pak Cik di Taman Ria itu pun pamit. “Ah, apa cakap orang ni... Oalaaaah, Agus..Agus... belajar ke negeri jiran, Gus...!!”

         

        .
        : Najib :.




      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.