Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Bls: [kabiogama_pusat] “People power” New Zealand ikut selamatkan orangutan kita

Expand Messages
  • abdul wahid
    Masalah itu sering dihadapi di daerah kalimantan memang.... Dilematis dan gak punya daya. Itulah mungkin gambaran kondisi sekarang yang ada di Kalimantan
    Message 1 of 5 , Sep 1, 2009
    • 0 Attachment
      Masalah itu sering dihadapi di daerah kalimantan memang.... Dilematis dan gak punya daya. Itulah mungkin gambaran kondisi sekarang yang ada di Kalimantan khususnya di tempat saya berada sekarang, sawit, batubara dan karet. Dengan mudahnya dokumen amdal yang diajukan oleh pihak perusahaan besar disetujui tapi anehnya perusahaan yang kecil jarang yang lolos. di satu sisi dengan adanya pembukaan lahan, masyarakat  sering merasa diuntungkan sesaat tapi setelah itu sering muncul masalah sosial seperti ganti rugi lahan yang menjadi HGU perusahaan adalah tanah masyarakat. Kadang saya berpikir idealis dan sering menjumpai dokumen amdal masuk ke Kantor kita kmudian ditelaah dan hasilnya kita TIDAK MENYETUJUINYA, dan merekomendasikan untuk tidak disetujui  oleh pihak atas (tingkat pemegang kebijakan daerah) tapi nyatanya TETEP aja disetujui orang atas, dengan alasan masyarakat sekitar diuntungkan dari segi finansial dan menyerap tenaga kerja yang banyak yang otomatis mengurangi pengangguran.Memang lain cara pandangnya kita melihat dari segi lingkungan sedangkan sebagian orang dari kacamata EKONOMI, jarang sekali ketemu ....



      Dari: nilo suseno <nilosuseno@...>
      Kepada: kabiogama_pusat@yahoogroups.com
      Terkirim: Minggu, 30 Agustus, 2009 19:51:24
      Judul: [kabiogama_pusat] “People power” New Zealand ikut selamatkan orangutan kita

       

      Maaf jika cross-posting. Rekan-rekan, apa hubungannya sebatang coklat dengan nasib orangutan di pedalaman hutan Kalimantan sana ?

       

      Baru-baru ini (sekitar 2 minggu yang lalu, 17 Agustus 2009), perusahaan produk dairy dan coklat Cadbury di New Zealand membatalkan rencana penggunaan minyak sawit sebagai pengganti cocoa butter dalam produk mereka. Keputusan tersebut dikeluarkan sebagai respon atas derasnya desakan dari para konsumen di New Zealand terhadap perusahaan tersebut untuk tidak memakai minyak sawit. Warga dan environmentalists menyerukan boikot terhadap produk Cadbury. Mereka menyuarakan bahwa proses produksi minyak sawit  berkontribusi besar terhadap ancaman kepunahan orangutan 10 tahun ke depan dan juga kerusakan hutan tropis di Asia Tenggara khususnya kawasan Borneo .

       

      Atas kuatnya kampanye dan pressure dari konsumen tersebut, perusahaan raksasa tersebut pun mengalah. Berikut release resmi dari perusahaan tersebut: “Cadbury Dairy Milk returns to Cocoa Butter only recipe”

      http://www.cadbury. co.nz/About- Cadbury/News. aspx?newsID= 41

       

      Liputan beritanya bisa dilihat di link berikut:

      “Cadbury caves - no more palm oil in its chocolate”

      Cadbury is to get rid of palm oil from its chocolates after a public outcry.

      http://www.nzherald .co.nz/business/ news/article. cfm?c_id= 3&objectid=10591340

       

      “Cadbury sweet with Auckland Zoo”

      http://www.nzherald .co.nz/nz/ news/article. cfm?c_id= 1&objectid=10591511

       

      “Keepers patrol shops to save animals”

      People power has forced Cadbury to take palm oil out of its chocolate - but campaigners say that's just a start.

      http://www.nzherald .co.nz/nz/ news/article. cfm?c_id= 1&objectid=10592428

       

       

      Hal di atas turut menunjukkan kepedulian masyarakat internasional terhadap nasib orangutan dan hutan kita. So, bagaimana dengan kita??

       

      Kita mungkin sering menggunakan produk sawit dalam keperluan sehari-hari, seperti minyak goreng, produk sabun, kosmetik, margarine, dan produk2 lainnya, dan mungkin sebentar lagi dalam kendaraan2 bermotor kita (sebagai biodiesel). Pernahkah kita berfikir bagaimana mereka dibuat? Ekspansi masif kebun-kebun sawit kita dipandang oleh UNEP (The United Nations Environment Programme) sebagai penyebab utama deforestation di Sumatra dan Kalimantan .

       

      Mungkin ada rekan-rekan yang concern di masalah hutan dan konservasinya yang bisa memberi comment dan ulasan lebih mendalam?

       

      Salam,

      Nilo

      Bio’97



      start: 2009-06-05 end: 0000-00-00
      Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
    • Namastra Probosunu
      Dear all, Dalam kasus-kasus pemanfaatan sumberdaya alam, sebetulnya banyak yang dapat dilakukan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan
      Message 2 of 5 , Sep 1, 2009
      • 0 Attachment
        Dear all,


        Dalam kasus-kasus pemanfaatan sumberdaya alam, sebetulnya banyak yang dapat dilakukan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan ...; masalahnya tinggal mau atau tidak?
        Jika kita disuruh memilih antara membangun atau kelestarian lingkungan, maka tentunya kita harus memilih membangun dengan tetap memperhatikan kelestarian (fungsi) lingkungan. Memilih membangun saja tanpa melestarikan lingkungan atau melestarikan lingkungan saja tanpa membangun, keduanya sama-sama akan menyebabkan kita "mati".

        Saya pernah melihat beberapa perusahaan yang mengekspoitasi SDA yang cukup bagus konsep dan perencanaan dalam pengelolaan lingkungan. Tinggal bagaimana pelaksanaan dan pengawasannya nanti? Masing-masing pihak harus punya komitmen yang tinggi terhadap prinsip keberlanjutan ...

        Biaya pengelolaan lingkungan harus dinternalisasikan dalam perencanaan keuangan perusahaan ...; jangan sampai perusaan untung besar, masyarakat banyak (dan pemerintah) yang harus menanggung kerusakan lingkungan. Sungguh tidak adil.
        Ada perusahaan yang menganggarkan > 1 M hanya untuk biaya reklamasi lahan, tetapi juga tidak sedikit yang "habis manis sepah dibuang" begitu saja.
         
        Ada sementara pihak yang mengatakan kerusakan lingkungan di Indonesia antara lain disebabkan banyak dokumen AMDAL yang jelek kualitasnya, sehingga sekarang ada kebijakan sertifikasi kompetensi bagi ketua tim dan bagi penyusun AMDAL,
        Anehnya sertifikasi kompetensi yang diberlakukan di seluruh Indonesia tersebut tidak dilakukan oleh otoritas pemerintah (misalnya KLH atau Bapedal) atau asosiasi profesi ..., tetapi justru oleh satu perusahaan konsultan swasta). Aneh, ya? Apa yang tidak aneh di negeri ini?

        Menurut pendapat saya, memang banyak dokumen AMDAL yang kurang bermutu tetapi juga tidak sedikit yang berkualitas sangat baik.
        Seandainya ada yang jelek atau kurang bermutu, mengapa dapat lolos dan disetujui, siapa yang salah? Penyusun ..., komisi penilai ... atau pemegang kebijakan yang berhak memutuskan?
        Jika AMDALnya berkualitas tinggi, tetapi lingkungan tetap juga rusak, siapa yang salah? Pemrakarsa (yang tidakmelaksanakan degan baik isi dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan) ..., pemerintah yang punya kewenangan memantau dan mengawasi ..., atau keduanya karena adanya "saling pengertian"?

        Wah, kok jadi ngelantur panjang-lebar ..., maaf sekedar berbagi saja ...



        Salam lestari


        Namastra Probosunu


         
        --- On Tue, 9/1/09, abdul wahid <aaiid_abdul@...> wrote:
        Masalah itu sering dihadapi di daerah kalimantan memang.... Dilematis dan gak punya daya. Itulah mungkin gambaran kondisi sekarang yang ada di Kalimantan khususnya di tempat saya berada sekarang, sawit, batubara dan karet. Dengan mudahnya dokumen amdal yang diajukan oleh pihak perusahaan besar disetujui tapi anehnya perusahaan yang kecil jarang yang lolos. di satu sisi dengan adanya pembukaan lahan, masyarakat  sering merasa diuntungkan sesaat tapi setelah itu sering muncul masalah sosial seperti ganti rugi lahan yang menjadi HGU perusahaan adalah tanah masyarakat. Kadang saya berpikir idealis dan sering menjumpai dokumen amdal masuk ke Kantor kita kmudian ditelaah dan hasilnya kita TIDAK MENYETUJUINYA, dan merekomendasikan untuk tidak disetujui  oleh pihak atas (tingkat pemegang kebijakan daerah) tapi nyatanya TETEP aja disetujui orang atas, dengan alasan masyarakat sekitar diuntungkan dari segi finansial dan menyerap tenaga kerja yang banyak yang otomatis mengurangi pengangguran. Memang lain cara pandangnya kita melihat dari segi lingkungan sedangkan sebagian orang dari kacamata EKONOMI, jarang sekali ketemu ....



         

      • destina kawanti
        ________________________________ From: nilo suseno To: kabiogama_pusat@yahoogroups.com Sent: Sunday, August 30, 2009 7:51:24 PM Subject:
        Message 3 of 5 , Sep 7, 2009
        • 0 Attachment



          From: nilo suseno <nilosuseno@...>
          To: kabiogama_pusat@yahoogroups.com
          Sent: Sunday, August 30, 2009 7:51:24 PM
          Subject: [kabiogama_pusat] “People power” New Zealand ikut selamatkan orangutan kita

           

          Maaf jika cross-posting. Rekan-rekan, apa hubungannya sebatang coklat dengan nasib orangutan di pedalaman hutan Kalimantan sana ?

           

          Baru-baru ini (sekitar 2 minggu yang lalu, 17 Agustus 2009), perusahaan produk dairy dan coklat Cadbury di New Zealand membatalkan rencana penggunaan minyak sawit sebagai pengganti cocoa butter dalam produk mereka. Keputusan tersebut dikeluarkan sebagai respon atas derasnya desakan dari para konsumen di New Zealand terhadap perusahaan tersebut untuk tidak memakai minyak sawit. Warga dan environmentalists menyerukan boikot terhadap produk Cadbury. Mereka menyuarakan bahwa proses produksi minyak sawit  berkontribusi besar terhadap ancaman kepunahan orangutan 10 tahun ke depan dan juga kerusakan hutan tropis di Asia Tenggara khususnya kawasan Borneo .

           

          Atas kuatnya kampanye dan pressure dari konsumen tersebut, perusahaan raksasa tersebut pun mengalah. Berikut release resmi dari perusahaan tersebut: “Cadbury Dairy Milk returns to Cocoa Butter only recipe”

          http://www.cadbury. co.nz/About- Cadbury/News. aspx?newsID= 41

           

          Liputan beritanya bisa dilihat di link berikut:

          “Cadbury caves - no more palm oil in its chocolate”

          Cadbury is to get rid of palm oil from its chocolates after a public outcry.

          http://www.nzherald .co.nz/business/ news/article. cfm?c_id= 3&objectid=10591340

           

          “Cadbury sweet with Auckland Zoo”

          http://www.nzherald .co.nz/nz/ news/article. cfm?c_id= 1&objectid=10591511

           

          “Keepers patrol shops to save animals”

          People power has forced Cadbury to take palm oil out of its chocolate - but campaigners say that's just a start.

          http://www.nzherald .co.nz/nz/ news/article. cfm?c_id= 1&objectid=10592428

           

           

          Hal di atas turut menunjukkan kepedulian masyarakat internasional terhadap nasib orangutan dan hutan kita. So, bagaimana dengan kita??

           

          Kita mungkin sering menggunakan produk sawit dalam keperluan sehari-hari, seperti minyak goreng, produk sabun, kosmetik, margarine, dan produk2 lainnya, dan mungkin sebentar lagi dalam kendaraan2 bermotor kita (sebagai biodiesel). Pernahkah kita berfikir bagaimana mereka dibuat? Ekspansi masif kebun-kebun sawit kita dipandang oleh UNEP (The United Nations Environment Programme) sebagai penyebab utama deforestation di Sumatra dan Kalimantan .

           

          Mungkin ada rekan-rekan yang concern di masalah hutan dan konservasinya yang bisa memberi comment dan ulasan lebih mendalam?

           

          Salam,

          Nilo

          Bio’97



        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.