Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [kabiogama_pusat] Terusan: gladiool connection Kami Bukan Indon!

Expand Messages
  • Bob Yuris
    Saya prihatin dengan isi cerita ini, namun harap juga dicermati isi dari terusan e-mail Pak Nyoto ini, ada testimoni yang kurang pas kelihatannya. Nyoto
    Message 1 of 4 , Dec 13, 2007
    View Source
    • 0 Attachment
      Saya prihatin dengan isi cerita ini, namun harap juga dicermati isi dari terusan e-mail Pak Nyoto ini, ada testimoni yang kurang pas kelihatannya.

      Nyoto Pujoharsoyo <nyotop@...> wrote:
      Mas Abdurrias,
      Bagaimana menurut anda apakah demikian parahnya mereka tidak menyukai kita bangsa Indonesia?.. .
      Terima kasih atas komentarnya.
      Salam,


      Perhatian: pesan yang diteruskan sudah dilampirkan.

      Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers
      From: Haryono <hary-n@...>
      Date: Thu, 13 Dec 2007 13:54:11 +0700 (WIT)
      Subject: gladiool connection Kami Bukan Indon!


      ---------------------------- Original Message ----------------------------
      Subject: [hardrockfm] [oot] Fwd: Kami Bukan Indon!
      From: "the.more.you.ignore.me.the.closer.i.get"

      Date: Thu, December 13, 2007 1:07 pm
      --------------------------------------------------------------------------

      dr milis sebelah....


      Dear all, sekedar membagi keluh kesah saya yang bekerja di Malaysia.
      Teman saya bekerja di Malaysia bukan sebagai buruh/pekerja kasar, tapi
      sebagai staf lokal di KBRI Kuala Lumpur.
      Meski demikian, tetap saja teman saya ini mendapatkan perlakuan yang tidak
      enak dari warga Malaysia, bahkan dari seorang supir taksi yang notabene
      adalah golongan menengah ke bawah.

      Mohon bantuan teman-teman media untuk dapat memuat cerita ini di rubrik
      surat pembaca media anda.
      Mari kita perjuangkan untuk menghilangkan stereotype Indonesia sebagai
      bangsa kelas dua.
      Semoga cerita ini mendapatkan perhatian dari rekan-rekan.

      Terima Kasih

      Cheers!
      Dimas Anindityo

      PS: to moderator, thanks untuk tempatnya.

      __________________________________________________________

      Kami Bukan 'Indon'

      Bekerja dan hidup di Malaysia merupakan pengalaman terpahit dalam hidup saya.
      Tidak pernah saya merasa begitu terhina menjadi manusia apalagi sebagai
      seorang warganegara Indonesia.
      Ya, Saya adalah warganegara Indonesia, dan saya bangga dan cinta dengan
      hal tersebut.

      Saya ingin membagi pengalaman terpahit saya dari semua pengalaman pahit
      yang pernah saya alami.
      Kejadian ini terjadi pukul tujuh malam, hari Rabu tepatnya tanggal 12
      Desember 2007.
      Hari itu saya merasa sudah cukup letih dengan pekerjaan dan memutuskan
      untuk pulang meskipun sedang hujan.

      Keluar dari gerbang Kedutaan Besar RI Kuala Lumpur, saya dan teman
      memutuskan untuk naik taksi.
      Kami sadar pilihan ini akan membuat kami harus menunggu cukup lama.
      Sekedar informasi, kalau cuaca bagus dan masih relatif sore mencari taksi
      susahnya bukan main, apalagi dengan keadaan hujan dan larut malam.

      Setelah menunggu hingga beberapa puluh menit, akhirnya ada taksi yang
      berhenti.
      Saya pun merasa sangat bersyukur.
      Karena harus melipat payung terlebih dahulu dan hal ini sedikit memakan
      waktu, maka ketika masuk taksi saya pun mengucapkan 'maaf yah' pada supir
      taksi, standar orang Indonesia dalam bersopan santun.

      Beberapa detik setelah siap dan menuju tempat tujuan, sopir itu bertanya
      'you Indon ke?'
      Saya jawab: 'Indonesia.'
      Kemudian dengan nada tinggi dia kembali mengatakan 'Indon' saya jawab
      'Indonesia' dan berulang beberapa kali seperti itu.
      Kemudian dia pun mengatakan 'No Indonesia in Malaysia there is only
      Indon,' dengan nada marah-marah.

      Kemudian dia menyusul makiannya dengan berkata, 'I am a muslim, I am
      scared of nothing, you indon did wrong, you scared people afraid to know
      you are indon,' dengan nada emosi dan bingung teman saya mulai melawan,
      'no, we aren't scared of nothing, we are Indonesia not Indon.'
      Kemudian saya menyondongkan badan ke depan ke arah supir dan menyorongkan
      muka ke arahnya dan bertanya: 'do you have problem?'
      Kemudian dia menjawab 'no, good enough.'
      Saya jawab 'Ok' dan dia membalas 'Ok, no talk.'

      Setelah saya balik duduk di posisi menyender, kembali dia berucap 'you
      indon all crazy, criminals, get out of here, it's free for you indon, get
      off' dan mengucapkan itu berulang kali.
      Kami pun langsung turun, meskipun hujan dan macet, dan posisi taksi yang
      kami tumpangi berada di tengah-tengah jalan.


      Makian gila itu tidak berhenti sampai kami turun.
      Setelah kami ke pinggir sambil merasa shock, supir itu keluar dari taksi,
      berteriak-teriak ditengah jalan, 'you indon bastard, you wont pay, you all
      criminals,' sampai-sampai semua orang dalam mobil yang sedang sesak dan
      macet itu pun melihat ke arah kami.

      Sekedar informasi, argo di taksi itu baru RM2 lebih beberapa sen, karena
      kami baru berjalan sekitar 200 meter.
      Membuka pintu taksi di Malaysia akan dikenakan tarif buka pintu sebesar
      RM2, atau Rp. 5000.
      Lagipula dia mengusir kami dengan mengatakan 'it's free.'
      Buat apa kami bayar setelah dicaci-maki dan diusir apalagi baru jalan
      sekitar 200 meter.
      Ketika mobil mulai berjalan pun dia membuka kaca dan tetap memaki.
      Saya tidak mengerti, saya sangat merasa sakit hati dan tidak percaya ini
      terjadi.

      Saya tidak mengerti, mengapa sulit sekali bagi mereka (saya tidak menyebut
      seluruhnya, namun mayoritas orang Malaysia) untuk memanggil orang Indonesia
      dengan Indonesia dan bukan 'Indon' .
      Sudah pekak telinga saya disebut-sebut sebagai 'Indon' .
      Sebagai staf lokal KBRI di Malaysia, keinginan untuk meluruskan atau
      menghilangkan istilah ini mungkin jauh lebih besar daripada bagi
      warganegara Indonesia yang bekerja diluar KBRI Kuala Lumpur.

      Bekerja di instansi ini membuat saya melihat lebih jelas segala
      ketidakadilan yang dialami oleh WNI.
      Walaupun demikian, saya berusaha membuat perbedaan dengan apa yang saya
      lihat dari nasib orang-orang Indonesia yang berada di penampungan dan yang
      mendapat kesuksesan mencari nafkah di Malaysia.

      Nyatanya, begitu saya menginjakkan kaki keluar dari KBRI Kuala Lumpur,
      hinaan dan tawaan yang bernada merendahkan justru seringkali saya alami
      sebagai seorang warga negara Indonesia.

      Kami bukan 'Indon' .
      Kami Indonesia.
      Saya rasa hal ini cukup simple dan mudah dimengerti oleh bangsa yang
      sangat maju seperti Malaysia.
      Saya lelah dihina dan ditertawakan.
      Ingin sekali saya berteriak sampai menggema ke seluruh penjuru Malaysia
      bahwa dengan bangga dan rasa cinta saya mengungkapkan, 'Saya adalah
      warganegara Indonesia' .

      Penulis:

      Galuh Pangestu Indraswari,
      Staf Lokal Bagian Pendidikan
      KBRI Malaysia
      Mobile phone: +60169613071
      Office: +60-03-21164121
      Fax: +60-03-21445528
      ----------


      --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
      You received this message because you are subscribed to the Google Groups "FORUM.ALUMNI" group.
      To post to this group, send email to forumalumni@...
      To unsubscribe from this group, send email to forumalumni-unsubscribe@...
      For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/forumalumni?hl=en
      -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---



      Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

    • Nurcholis, Akhmad
      Ada pepatah serik tanda tak mampu, mereka khan memang nggak semampu kita ... From: kabiogama_pusat@yahoogroups.com [mailto:kabiogama_pusat@yahoogroups.com] On
      Message 2 of 4 , Dec 13, 2007
      View Source
      • 0 Attachment
      • Arif Harsoyo
        gak semuanya bener lo bapak2 ibu2, banyak juga yang merasa saudara dengan kita (apalagi yang turunan jawa, hehe:)) dan kalau kenal baik bener2 di manja kan
        Message 3 of 4 , Dec 14, 2007
        View Source
        • 0 Attachment
          gak semuanya bener lo bapak2 ibu2, banyak juga yang merasa saudara
          dengan kita (apalagi yang turunan jawa, hehe:)) dan kalau kenal baik
          bener2 di 'manja'kan dalam pergaulan. bahkan seringa dibelain sama
          mereka.

          yang jadi akar permasalahan adalah sikap pemerintah malaysia sendiri,
          yang seolah sedang mencari jati diri bangsa melayu dengan merendahkan
          tetangganya supaya tampak hebat. kalau anda di malay, pemberitaan
          sangat di atur pemerintah, media tidak fair. dan tampaknya ada usaha
          memburukkan citra kita di mata rakyat malaysia. kalau sekarang anda
          melihat berita ada masalah ras di malay, ya itu akibat sikap seperti
          ini. namun perlu di ketahui juga, orang2 malaysia yang banyak
          bepergian ke luar negeri rata2 punya pandangan beda, apalagi yang
          pernah ke indonesia. orang yang berpandangan sempit sperti cerita itu
          mungkin golongan bonek kalo di tempat kita, menengah ke bawah dan
          kurang terpelajar. jadi kalo ngadepein mereka ya pake cara bonek.

          saya ga usah bahas deh bahwa sikap anti pati itu makin di perkeruh
          oleh WNI 2 yang ada di malaysia, ya yang juga masuk gol bonek,
          hehehhe. setali tiga uang lah. kaya pemprov dki vs banjir dan macet,
          yang satu gak tegas cari solusi yang lain ngeyel dateng terus,
          hahahahaha

          oh ya, dari cerita email diatas soal sopir taksi, kayanya itu sopir
          india pa cina deh (as u know ada 3 etnis sopir taksi di sana) melihat
          dia pake bahasa inggris. sopir melayu jarang mau pake bahasa inggris
          kalo tampang kita melokai, hehehe. emang dari pengalaman saya, sopir
          india itu curang, kasar dan gak ngenakin. sopir cina rata2 pendiem,
          pokoknya cepet sampai n lu bayar kontan. sopir melayu suka ngajak
          ngobrol, apalagi kalo dia keturunan indo, weleh bisa jontor kita
          diajak ngobrol. so buat pelajaran saja, mana2 sopir taksi yang haris
          dihindari di malaysia, KL khususnya.

          ps: kok ga pernah kenal staf lokal atfdikbud itu ya?

          joe 98

          On 12/14/07, Nurcholis, Akhmad <anurcholis@...> wrote:
          > Ada pepatah serik tanda tak mampu, mereka khan memang nggak semampu kita
          >
          > -----Original Message-----
          > From: kabiogama_pusat@yahoogroups.com
          > [mailto:kabiogama_pusat@yahoogroups.com] On Behalf Of Bob Yuris
          > Sent: Friday, December 14, 2007 1:49 PM
          > To: kabiogama_pusat@yahoogroups.com
          > Subject: Re: [kabiogama_pusat] Terusan: gladiool connection Kami Bukan
          > Indon!
          >
          > Saya prihatin dengan isi cerita ini, namun harap juga dicermati isi dari
          > terusan e-mail Pak Nyoto ini, ada testimoni yang kurang pas
          > kelihatannya.
          >
          > Nyoto Pujoharsoyo <nyotop@...> wrote:
          > Mas Abdurrias,
          > Bagaimana menurut anda apakah demikian parahnya mereka tidak menyukai
          > kita bangsa Indonesia?...
          > Terima kasih atas komentarnya.
          > Salam,
          >
          >
          > Perhatian: pesan yang diteruskan sudah dilampirkan.
          >
          > _____
          >
          > Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di
          > Yahoo!
          > <http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http:/id.answers.yahoo.com/>
          > Answers
          > From: Haryono <hary-n@...>
          > Date: Thu, 13 Dec 2007 13:54:11 +0700 (WIT)
          > Subject: gladiool connection Kami Bukan Indon!
          >
          >
          > ---------------------------- Original Message
          > ----------------------------
          > Subject: [hardrockfm] [oot] Fwd: Kami Bukan Indon!
          > From: "the.more.you.ignore.me.the.closer.i.get"
          >
          > Date: Thu, December 13, 2007 1:07 pm
          > ------------------------------------------------------------------------
          > --
          >
          > dr milis sebelah....
          >
          >
          > Dear all, sekedar membagi keluh kesah saya yang bekerja di Malaysia.
          > Teman saya bekerja di Malaysia bukan sebagai buruh/pekerja kasar, tapi
          > sebagai staf lokal di KBRI Kuala Lumpur.
          > Meski demikian, tetap saja teman saya ini mendapatkan perlakuan yang
          > tidak
          > enak dari warga Malaysia, bahkan dari seorang supir taksi yang notabene
          > adalah golongan menengah ke bawah.
          >
          > Mohon bantuan teman-teman media untuk dapat memuat cerita ini di rubrik
          > surat pembaca media anda.
          > Mari kita perjuangkan untuk menghilangkan stereotype Indonesia sebagai
          > bangsa kelas dua.
          > Semoga cerita ini mendapatkan perhatian dari rekan-rekan.
          >
          > Terima Kasih
          >
          > Cheers!
          > Dimas Anindityo
          >
          > PS: to moderator, thanks untuk tempatnya.
          >
          > __________________________________________________________
          >
          > Kami Bukan 'Indon'
          >
          > Bekerja dan hidup di Malaysia merupakan pengalaman terpahit dalam hidup
          > saya.
          > Tidak pernah saya merasa begitu terhina menjadi manusia apalagi sebagai
          > seorang warganegara Indonesia.
          > Ya, Saya adalah warganegara Indonesia, dan saya bangga dan cinta dengan
          > hal tersebut.
          >
          > Saya ingin membagi pengalaman terpahit saya dari semua pengalaman pahit
          > yang pernah saya alami.
          > Kejadian ini terjadi pukul tujuh malam, hari Rabu tepatnya tanggal 12
          > Desember 2007.
          > Hari itu saya merasa sudah cukup letih dengan pekerjaan dan memutuskan
          > untuk pulang meskipun sedang hujan.
          >
          > Keluar dari gerbang Kedutaan Besar RI Kuala Lumpur, saya dan teman
          > memutuskan untuk naik taksi.
          > Kami sadar pilihan ini akan membuat kami harus menunggu cukup lama.
          > Sekedar informasi, kalau cuaca bagus dan masih relatif sore mencari
          > taksi
          > susahnya bukan main, apalagi dengan keadaan hujan dan larut malam.
          >
          > Setelah menunggu hingga beberapa puluh menit, akhirnya ada taksi yang
          > berhenti.
          > Saya pun merasa sangat bersyukur.
          > Karena harus melipat payung terlebih dahulu dan hal ini sedikit memakan
          > waktu, maka ketika masuk taksi saya pun mengucapkan 'maaf yah' pada
          > supir
          > taksi, standar orang Indonesia dalam bersopan santun.
          >
          > Beberapa detik setelah siap dan menuju tempat tujuan, sopir itu bertanya
          > 'you Indon ke?'
          > Saya jawab: 'Indonesia.'
          > Kemudian dengan nada tinggi dia kembali mengatakan 'Indon' saya jawab
          > 'Indonesia' dan berulang beberapa kali seperti itu.
          > Kemudian dia pun mengatakan 'No Indonesia in Malaysia there is only
          > Indon,' dengan nada marah-marah.
          >
          > Kemudian dia menyusul makiannya dengan berkata, 'I am a muslim, I am
          > scared of nothing, you indon did wrong, you scared people afraid to know
          > you are indon,' dengan nada emosi dan bingung teman saya mulai melawan,
          > 'no, we aren't scared of nothing, we are Indonesia not Indon.'
          > Kemudian saya menyondongkan badan ke depan ke arah supir dan
          > menyorongkan
          > muka ke arahnya dan bertanya: 'do you have problem?'
          > Kemudian dia menjawab 'no, good enough.'
          > Saya jawab 'Ok' dan dia membalas 'Ok, no talk.'
          >
          > Setelah saya balik duduk di posisi menyender, kembali dia berucap 'you
          > indon all crazy, criminals, get out of here, it's free for you indon,
          > get
          > off' dan mengucapkan itu berulang kali.
          > Kami pun langsung turun, meskipun hujan dan macet, dan posisi taksi yang
          > kami tumpangi berada di tengah-tengah jalan.
          >
          >
          > Makian gila itu tidak berhenti sampai kami turun.
          > Setelah kami ke pinggir sambil merasa shock, supir itu keluar dari
          > taksi,
          > berteriak-teriak ditengah jalan, 'you indon bastard, you wont pay, you
          > all
          > criminals,' sampai-sampai semua orang dalam mobil yang sedang sesak dan
          > macet itu pun melihat ke arah kami.
          >
          > Sekedar informasi, argo di taksi itu baru RM2 lebih beberapa sen, karena
          > kami baru berjalan sekitar 200 meter.
          > Membuka pintu taksi di Malaysia akan dikenakan tarif buka pintu sebesar
          > RM2, atau Rp. 5000.
          > Lagipula dia mengusir kami dengan mengatakan 'it's free.'
          > Buat apa kami bayar setelah dicaci-maki dan diusir apalagi baru jalan
          > sekitar 200 meter.
          > Ketika mobil mulai berjalan pun dia membuka kaca dan tetap memaki.
          > Saya tidak mengerti, saya sangat merasa sakit hati dan tidak percaya ini
          > terjadi.
          >
          > Saya tidak mengerti, mengapa sulit sekali bagi mereka (saya tidak
          > menyebut
          > seluruhnya, namun mayoritas orang Malaysia) untuk memanggil orang
          > Indonesia
          > dengan Indonesia dan bukan 'Indon' .
          > Sudah pekak telinga saya disebut-sebut sebagai 'Indon' .
          > Sebagai staf lokal KBRI di Malaysia, keinginan untuk meluruskan atau
          > menghilangkan istilah ini mungkin jauh lebih besar daripada bagi
          > warganegara Indonesia yang bekerja diluar KBRI Kuala Lumpur.
          >
          > Bekerja di instansi ini membuat saya melihat lebih jelas segala
          > ketidakadilan yang dialami oleh WNI.
          > Walaupun demikian, saya berusaha membuat perbedaan dengan apa yang saya
          > lihat dari nasib orang-orang Indonesia yang berada di penampungan dan
          > yang
          > mendapat kesuksesan mencari nafkah di Malaysia.
          >
          > Nyatanya, begitu saya menginjakkan kaki keluar dari KBRI Kuala Lumpur,
          > hinaan dan tawaan yang bernada merendahkan justru seringkali saya alami
          > sebagai seorang warga negara Indonesia.
          >
          > Kami bukan 'Indon' .
          > Kami Indonesia.
          > Saya rasa hal ini cukup simple dan mudah dimengerti oleh bangsa yang
          > sangat maju seperti Malaysia.
          > Saya lelah dihina dan ditertawakan.
          > Ingin sekali saya berteriak sampai menggema ke seluruh penjuru Malaysia
          > bahwa dengan bangga dan rasa cinta saya mengungkapkan, 'Saya adalah
          > warganegara Indonesia' .
          >
          > Penulis:
          >
          > Galuh Pangestu Indraswari,
          > Staf Lokal Bagian Pendidikan
          > KBRI Malaysia
          > Mobile phone: +60169613071
          > Office: +60-03-21164121
          > Fax: +60-03-21445528
          > ----------
          >
          >
          > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
          > You received this message because you are subscribed to the Google
          > Groups "FORUM.ALUMNI" group.
          > To post to this group, send email to forumalumni@...
          > To unsubscribe from this group, send email to
          > forumalumni-unsubscribe@...
          > For more options, visit this group at
          > http://groups.google.com/group/forumalumni?hl=en
          > -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
          >
          >
          > _____
          >
          > Looking for last minute shopping deals? Find
          > <http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http:/tools.search.yahoo.com/newsearc
          > h/category.php?category=shopping> them fast with Yahoo! Search.
          >
          >


          --
          "Tuk semua sahabat kala senang, susah dan semplah . . .
          U'll never be alone dab!!"

          "Our sorrows will never be sad enough. Our joys never happy enough.
          Our dreams never big enough. Our lives never important enough. To
          matter." (Chacko)
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.