Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: Bls: OOT : Gempa Tektonik 7,3 SR (7,0 Mw) di lepaspantai Tasikmalaya, 2 September 2009 14:55 WIB

Expand Messages
  • Ma'rufin Sudibyo
    Yang lebih berkompeten njawab pertanyaan anda sebenarnya para geolog, ada pakdhe Rovicky di milis ini. Sambil menunggu pemaparan beliau, mungkin saja ada
    Message 1 of 2 , Sep 3, 2009
    View Source
    • 0 Attachment
      Yang lebih berkompeten njawab pertanyaan anda sebenarnya para geolog, ada pakdhe Rovicky di milis ini.

      Sambil menunggu pemaparan beliau, mungkin saja ada hubungannya antara kedua gempa tersebut, hal ini cukup terbuka. Sependek pengetahuan saya, kawasan Samudera Hindia di lepas pantai selatan Jawa Barat memang unik karena menjadi titik temu (triple junction) antara perpanjangan sesar besar Ujungkulon (yang sejatinya merupakan terusan dari sesar besar Sumatra yang tersohor itu, sang generator gempa-gempa kuat di sekujur tubuh Pulau Sumatra) dengan zona subduksi Samudera Hindia. Ada bentukan-bentukan khas sesar, termasuk tebing curam (fault scarp) setinggi 1 - 1,5 km di dekat palung laut di lokasi sumber gempa 2006, sebagaimana disaksikan tim BPPT dalam ekspedisi Java Trench 2002 bersama tim Jepang. Tebing ini diduga kuat telah runtuh pada gempa 2006 dan itulah sebabnya kenapa gempa 2006 menghasilkan tunami yang sangat destruktif dimana magnitude tsunaminya (Mt) mencapai 8,9 atau nyaris mendekati Mt tsunami produk gempa megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 yang sebesar 9,1 padahal gempa 2006 sendiri "hanya" memiliki magnitude 7,7 Mw. Disparitas besar antara Mt dan Mw itulah yang menunjukkan adanya proses runtuhan tebing, hanya seberapa besar volumenya, tentu perlu diselidiki secara langsung.

      Kawasan triple junction sejatinya merupakan titik lemah di kerak Bumi. Triple junction Jabar Selatan itu, selama seabad terakhir, sedikitnya telah membangkitkan 4 gempa kuat (magnitude 7+ Mw) pada lokasi yang saling berdekatan, yakni gempa 1904 (lepas pantai Cilacap, diikuti tsunami), gempa 1957 (lepas pantai Tasikmalaya, diikuti tsunami), gempa 2006 (lepas pantai Pangandaran, diikuti tsunami pula) dan gempa 2009 ini (juga diikuti tsunami, meskipun kecil). Ini memunculkan dugaan bahwa kerak Bumi di area tersebut adalah segmented (tersegmentasi) tapi saling bersinggungan. Dalam posisi seperti ini, bila sebuah segmen terusik (dan kemudian bergeser sehingga muncul gempa bumi), ia akan memberikan tekanan tektonis tambahan kepada segmen sebelah-menyebelahnya. Proses inilah yang membuat gempa-gempa kuat di kawasan itu memiliki siklus dengan pola perulangan rata-rata tiap setengah abad.

      Permasalahannya sekarang mengapa gempa 2009 ini muncul hanya dalam tempo 3 tahun setelah gempa 2006? Ini musti diteliti lebih lanjut, karena anomali ini bisa jadi merupakan pertanda bahwa interaksi lempeng Australia dengan lempeng Eurasia di kawasan tersebut sudah berubah, sehingga friksinya menjadi berbeda dibanding sebelumnya. Pak Danny Hilman (2000) dalam penelitiannya menyebutkan proses interaksi mungkin saja berubah akibat pengaruh influks air, metamorfisma batuan dan sebagainya sehingga zona persentuhan antar lempeng menjadi lebih rigid (kaku) ketimbang sebelumnya. Dan akibatnya gempa-gempa yang terjadi kemudian tidak lagi berpola siklus (dimana pola ini secara kasar bisa diprediksi lewat elastic dislocation modelling), namun menjadi berpola kluster alias "menggerombol" pada satu rentang waktu tertentu. Pola kluster ini pernah terjadi koq, di tentangga sebelah timur triple junction ini, tepatnya di lepas pantai selatan Jawa Tengah dan DIY. Dalam histori seismiknya, kawasan ini secara berturut-turut pernah dilanda gempa kuat (7 - 8 Mw) pada 1840 (di lepas pantai Purworejo), 1852 (di lepas pantai Kebumen) dan puncaknya pada 1867 (di lepas pantai Bantul).

      Salam,


      Ma'rufin


      From: cecep cecep <cecepvulkan@...>
      To: fisika_indonesia@yahoogroups.com
      Sent: Thursday, September 3, 2009 9:12:09 AM
      Subject: Bls: [FISIKA] OOT : Gempa Tektonik 7,3 SR (7,0 Mw) di lepaspantai Tasikmalaya, 2 September 2009 14:55 WIB

       


      Pa Ma'rufin,

      Apakah ada hubungannya dengan gempa Juli 2006, karena episentrumnya dekat. Energi sudah dilepaskan pada gempa Juli 2006, sekarang dilepaskan lagi dengan energy yang hampir sama, koq begitu cepat pengumpulan energinya ya?

      Salam,

      Cecep



    • Ma'rufin Sudibyo
      Tentang potensi gempa di Jakarta, silahkan dilihat di link ini. (http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/125695) Tidak ada sumber gempa yang
      Message 2 of 2 , Sep 6, 2009
      View Source
      • 0 Attachment
        Tentang potensi gempa di Jakarta, silahkan dilihat di link ini. (http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/125695)

        Tidak ada sumber gempa yang secara langsung berada di wilayah Jakarta. Namun wilayah Jakarta dikitari oleh sumber-sumber gempa potensila di sebelah barat daya, selatan dan tenggaranya. Di barat daya dan selatan ada zona subduksi Samudera Hindia, tempat bertemunya lempeng Australia dengan Eurasia (Sunda). Zona subduksi ini sejatinya memanjang mulai dari lepas pantai NAD hingga lepas pantai Nusa Tenggara. Namun khusus untuk segmen zona subduksi di Jawa Barat bagian selatan, para ahli menjulukinya sebagai seismic gap karena sudah lama sekali tidak terjadi gempa di sini. Gempa besar terakhir di zona ini terjadi sebelum meletusnya Gunung Krakatau pada dua abad silam (dan ada dugaan bahwa gempa tersebutlah yang memicu meletusnya Krakatau). Dan siklus gempa di zona subduksi, berdasarkan histori seismik dan dinamika mikroatoll di Sumatra, terjadi setiap 200 - 250 tahun sekali. Sehingga seismic gap ini mengkhawatirkan dan barangkali itu yang dirisaukan pak Yusuf Surahman dari BPPT itu. Gempa di zona subduksi biasanya cukup besar (istilah teknisnya gempa megathrust), dengan perkiraan magnitude 7 atau 8 atau bahkan lebih.

        Sementara di sisi tenggara, ada membentang sistem patahan besar Jawa barat yang terbagi ke dalam tiga segmen : patahan Cimandiri (membentang dari Pelabuhan Ratu ke timur laut), patahan Lembang (di utara Bandung) dan patahan Baribis (di sebelah barat daya Gunung Ciremai). Masing-masing segmen punya kemampuan membangkitkan gempa dengan magnitude 6. Namun jika segmen patahan Cimandiri dan Lembang berkoalisi, magnitude yang dihasilkan bisa mencapai 7.

        Saya pikir, dengan mengetahui potensi kegempaan di Jakarta dan sekitarnya, kita tidak perlu takut apalagi paranoid. Tetap tenang saja, namun tanpa meninggalkan kewaspadaan. Gempa Tasikmalaya 2 September lalu, bagi Jakarta, anggap saja sebagai "latihan" dalam menghadapi gempa yang lebih besar.

        Salam,


        Ma'rufin


        From: cicilia.rake <cicilia.rake@...>
        To: banyumas@yahoogroups.com
        Sent: Friday, September 4, 2009 12:07:31 PM
        Subject: [banyumasan] Re: Bls: OOT : Gempa Tektonik 7,3 SR (7,0 Mw) di lepaspantai Tasikmalaya, 2 September 2009 14:55 WIB

         

        Pak Ma'ruf...

        Terimakasih banyak atas informasinya ttg gempa, berhubung rumah orang tua di pesisir pantai cilacap jd informasi ini sangat bermanfaat sekali...

        Oh ya pak Ma'ruf...
        Hari ini saya menerima banyak sekali informasi yg menyatakan Jakarta akan di goncang gempa sampai 8 SR,itu informasi yang akurat atao hanya gosip ya pak?

        Mohon informasinya, terimakasih. ..

        Salam Hormat
        Cicilia


      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.