Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

SIAGA Slamet

Expand Messages
  • Ma'rufin Sudibyo
    Gunung Slamet pada hakikatnya sedang meletus. Sejak 23 April 2009, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status gunung ini dari
    Message 1 of 1 , May 6, 2009
    View Source
    • 0 Attachment

      Gunung Slamet pada hakikatnya sedang meletus. Sejak 23 April 2009, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status gunung ini dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (level III), menyusul terjadinya peningkatan jumlah letusan menjadi 360 kali/hari (rata–rata) dengan trend cenderung naik secara linier dari hari ke hari, sebagaimana direkam dalam grafik gempa letusan yang diproduksi Pos Pengamatan Gunung Api Gambuhan, Pulosari, Pemalang. Letusan didominasi semburan debu tipis setinggi 600 m dari puncak (rata–rata), disertai lontaran piroklastika pijar setinggi 25–100 m yang kemudian jatuh lagi ke kawah. Juga terjadi peningkatan lepasan gas SO2 dari 30–70 ton/hari di saat normal menjadi 60–140 ton/hari. Migrasi magma ke tubuh Gunung Slamet pun telah memanaskan mata air Pandansari dan Pasepuhan sehingga masing–masing mengalami kenaikan suhu 14° C dan 3° C dari normalnya. Secara umum letusan Gunung Slamet memiliki skala VEI (Volcanic Explosivity Index) 1, dimana semburan debunya takkan melebihi 1 km dari puncak, dengan volume materi letusan berkisar 10 ribu meter kubik.

       

      Persoalannya sekarang, bagaimana “prospek” letusan Gunung Slamet ini dan apa yang harus kita perbuat untuk menghindari bahaya letusannya ?

       

      Gunung Slamet merupakan gunung api muda tipe strato yang cukup unik di kawasan Jawa bagian Tengah, karena tidak memiliki sejarah letusan dahsyat seperti halnya gunung–gunung api muda yang berdekatan seperti Gunung Papandayan, Galunggung maupun Dieng. Ini bisa dilihat dari rupabumi Gunung Slamet yang relatif masih berbentuk kerucut utuh dan ketinggiannya yang besar (> 3.000 m), tanpa ada tanda – tanda sisa letusan dahsyat seperti halnya kaldera, kaldera tapal kuda ataupun runtuhnya (longsornya) salah satu sayap gunung api tersebut. Sebagai pembanding, letusan dahsyat telah dialami Gunung Papandayan pada 1772 silam (yang membentuk kaldera tapal kuda dan meruntuhkan salah satu sayap gunung), Galunggung 5.000 tahun silam (yang materi runtuhan sayapnya terserak demikian jauh hingga membentuk Perbukitan Sepuluh Ribu), Dieng 16.000 tahun silam (yang membentuk kaldera) dan juga Merapi 1.000 tahun silam (yang mengubur peradaban Mataram Hindu dan memaksa evakuasinya ke Jawa Timur).

       

      Letusan Gunung Slamet, yang telah tercatat dengan baik sejak tahun 1772, senantiasa terjadi di kawah barat yang punya diameter 450 m dan kedalaman 150 m itu. Letusan umumnya berbentuk semburan debu tipis disertai lontaran piroklastika pijar dan kadang–kadang muncul aliran lava pijar, dengan durasi letusan rata–rata hanya beberapa hari meski dalam keadaan yang luar biasa bisa berlangsung berminggu–minggu. Periode istirahat antara dua buah letusan bervariasi, mulai dari 1 tahun hingga maksimum 53 tahun. Catatan letusan terbesar dari Gunung Slamet hanya memiliki skala VEI 2, dengan semburan asap maksimum < 5 km, volume material letusan ~1 juta m3 dan dampak letusan cuma dirasakan ke kaki gunung. Gunung Slamet belum pernah mengalami letusan sedahsyat Gunung Galunggung 1982 (skala VEI 4) maupun Gunung Agung 1963 (skala VEI 5), apalagi Krakatau 1883 (skala VEI 6) sehingga sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan.

       

      Sejauh ini tak ada tanda – tanda bahwa Gunung Slamet akan meletus lebih dahsyat lagi. Lava Gunung Slamet memiliki kadar SiO2 52 %, jauh di bawah kondisi lava sangat asam yang SiO2 – nya bisa mencapai 64 % dan selalu muncul dalam setiap letusan – letusan dahsyat. Tubuh gunung ini juga tidak mengalami alterasi hidrotermal, yakni interaksi kompleks antara magma, air tanah dan batuan sedimen tubuh gunung yang membuat daya ikat batuan sedimen melemah dan terbentuklah retakan/patahan di sekujur tubuh gunung. Gunung Slamet juga tidak suka menimbun magma di puncaknya, baik sebagai kubah lava maupun cryptodome yang berat dan takstabil. Sehingga potensi keruntuhan sayap Gunung Slamet sangat kecil.

       

      Gunung Slamet memang sudah waktunya untuk meletus. Dan dengan periode ulang letusannya yang kecil, ini patut disyukuri mengingat dengan demikian gunung ini tak sempat menimbun energi berlebihan yang suatu saat akan dilepaskannya secara mendadak sebagai letusan dahsyat. Sehingga tepat apa yang diungkapkan Mbah Samsuri itu. Ini sebuah kearifan lokal yang patut untuk dijaga, sekaligus mengubah cara pandang kita bahwa Slamet itu “hidup”, dia punya siklus yang harus ditaatinya agar tidak berulah lebih parah dan merusak. Karena itulah selama 200 tahun terakhir ini, letusan Gunung Slamet selalu kecil – kecil. Bandingkan misalnya dengan Gunung Pinatubo (Philipina), yang disangka sudah mati setelah letusan terakhir pada 600 tahun silam. Namun siapa sangka, setelah tidur panjang, dan dengan energi demikian besar, akhirnya dimuntahkanlah semua kandungan energinya secara serentak pada puncaknya di 16 Juni 1991, dalam letusan berskala VEI 6 yang setara kedahsyatannya dengan Krakatau 1883.

       

      Cerita lokal di kalangan masyarakat Banyumasan memang menyebutkan, jikalau Gunung Slamet meletus dahsyat, maka Pulau Jawa akan terbelah. Saya ndak tahu apakah cerita ini merupakan kearifan lokal yang lain, yang menyiratkan bahwa kita juga harus memperhatikan potensi bencana gempa bumi tektonik seiring meningkatnya aktivitas Slamet. Di arah tenggara dari gunung ini terdapat patahan Kroya/Bumiayu, yang ditengarai masih aktif dan terakhir kalinya menimbulkan gempa tektonik merusak pada 1923. Patut untuk dikaji lebih lanjut, bagaimana coupling antara aktivitas Slamet dengan kemungkinan reaktivasi patahan Kroya ini, mengingat cerita yang mirip pernah terjadi tepat 3 tahun silam ketika aktivitas Merapi meningkat dan tak lama kemudian disusul dengan reaktivasi patahan Opak yang meletupkan Gempa Yogya (6,3 Mw) pada 27 Mei 2006.

       

      Namun pada prinsipnya, dengan letusan berskala VEI 1 dan kemungkinan hanya akan berkembang ke skala VEI 2 maka lontaran piroklastika dan (jika ada) aliran lava serta awan panas dari Gunung Slamet hanya akan berpengaruh dalam wilayah berjarak 5 km dari puncak. Hujan debunya sendiri diperkirakan akan menjangkau wilayah sejauh 8 km dari puncak, meski hal ini sangat tergantung kepada tiupan angin. Dengan dampak semacam ini maka aktivitas di di luar zona kaki gunung dapat tetap berlangsung seperti biasa. Hanya, kewaspadaan memang perlu ditingkatkan sebagai bagian dari early warning systems, mengingat perilaku alam belum sepenuhnya kita pahami.

       

       Salam,



      Ma'rufin



      From: AnDri <garitama@...>
      To: banyumas@yahoogroups.com
      Sent: Monday, April 27, 2009 9:43:18 AM
      Subject: Re: [banyumasan] WASPADA .....waspadalah....

      Menurut Mbah Samsuri (85) sing dikenal Mbah Marinaje
      Gunung Slamet waktu ditakoni neng wong sing pada teka
      jawabane : "Lha wong gunung urip ya kaya kuwe. Nek ora
      metu geni karo kukuse jenenge gunung mati. Kowe arep pada
      munggah ya ora papa"
      Gunung Slamet urung arep mbledug jere mbah Samsuri "Urung
      arep mbledug, ora bakal gugur. Ora usah rewel, mergane nek
      ora metu genine malah sida mbledug."
      "Ibarat manusia, badan Mbah Slamet lagi mriyang dadi butuh
      kerokan, terus ngentut. Itu wajar saja"
      Meskipun demikian mbah Samsuri mengingatkan situasi bisa
      berubah sewaktu-waktu, namun dia percaya jika
      sahabat-sahabat spiritualnya di Gunung Slamet pasti akan
      memberi tahu terlebih dahulu. "Saya bukan dukun, bukan
      ahli ramal. Saya hanya menyampaikan apa yang disampaikan
      para penjaga spiritual Gunung Slamet. Sekarang ini belum
      akan meletus" katanya.


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.