Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: Apa yg didapat dari hasil pengamatan GMC 2009 ini?

Expand Messages
  • Ma'rufin Sudibyo
    Terus terang, ini pertanyaan yang sulit dijawab... Kalo kami yang amatir2 di Rukyatul Hilal Indonesia, yang sejak 13 Desember 2008 secara resmi telah berubah
    Message 1 of 1 , Jan 31, 2009
    View Source
    • 0 Attachment
      Terus terang, ini pertanyaan yang sulit dijawab...

      Kalo kami yang amatir2 di Rukyatul Hilal Indonesia, yang sejak 13 Desember 2008 secara resmi telah berubah nama menjadi Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), ada beberapa hal yang ingin disasar dari ekspedisi Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009 lalu :
      1. Membandingkan waktu-waktu kontak gerhana yang teramati dengan waktu yang diprediksikan oleh berbagai sistem hisab.
      2. Mengukur perubahan suhu saat gerhana.
      3. Mengukur perubahan ketinggian permukaan air laut saat gerhana.
      4. Mengamati dan mendokumentasikan anomali aktivitas fauna saat gerhana.
      Dari keempat sasaran tersebut, memang yang jadi fokus kami adalah yang pertama. Sebagaimana diketahui, ada banyak sekali sistem hisab alias sistem perhitungan posisi Bulan dan Matahari yang digunakan oleh Umat Islam Indonesia, namun secara garis besar sistem-sistem hisab tersebut bisa diklasifikasikan menjadi tiga kelompok besar :
      • Sistem hisab taqribi (pendekatan/approksimasi)
      • Sistem hisab tahqiqi (perbaikan dari tahqiqi)
      • Sistem hisab kontemporer (modern)
      Kami di LP2IF RHI secara resmi menggunakan sistem hisab kontemporer berbasis Algoritma Jean Meeus dengan tambahan aplikasi ELP 2000/82 untuk teori gerak Bulan (dimana algoritma dan tambahannya ini telah divisualisasikan secara indah sekali dalam Starry Night ataupun software2 sejenis). Namun mayoritas Umat islam Indonesia (dalam kuantitas katakanlah 80 %) masih bergantung kepada praktisi falakiyyah yang mendasarkan perhitungannya pada sistem hisab taqribi, dimana yang populer misalnya yang berbasis kitab Sullam al Nayyirain. Nah, sistem-sistem hisab tersebut boleh dikata jarang sekali dikalibrasi dengan hasil pengamatan dalam event lain di luar rukyat hilaal, misalnya dalam peristiwa gerhana yang tergolong rare events, seperti Gerhana Matahari Cincin, Gerhana Matahari Sebagian, Gerhana Bulan Sebagian dan Gerhana Bulan Penumbral. Dengan pengamatan GMC 2009, salah satu harapannya bisa dilakukan semacam "seleksi" terhadap sistem2 hisab yang layak untuk digunakan (dalam kaidah ilmiyah), untuk kemudian bisa ditindaklanjuti.

      Untuk keperluan tersebut, dibangun titik pengamatan di dua lokasi : Pantai Anyer (Banten) dan Balai Rukyat Condrodipo Gresik (Jawa Timur). Saya sendiri seharusnya berada di Anyer, namun secara aksidental (karena gangguan radang tenggorok yang sambarannya masih terasa sampe saat ini), hanya bisa mengamati di Cirebon (Jawa Barat). Mungkin ini blessing in disguisse, karena tersedia 3 lokasi pengamatan yang hampir membentuk garis lurus, dengan bagian tengah (Cirebon) sebagai titik referensi bagi yang lain.

      Hasilnya masih kami olah. Namun sejauh ini bisa disimpulkan, sejumlah sistem hisab (misalnya saja seperti Ittifaq Dzatil Bain dan Almanak Menara Kudus) memberikan prediksi kontak awal gerhana yang meleset cukup jauh dari hasil pengamatan (menara Kudus = jam 12:52 WIB, Ittifaq = 14:39 WIB, sementara kontak gerhana sebagaimana teramati di Cirebon adalah 15:23 WIB).

      Catatan perubahan suhu masih dikompilasi oleh tim Anyer. Untuk pengamatan di Cirebon, pencatatan suhu menggunakan termometer dinding biasa dengan batas skala terkecil 1 derajat C, sehingga sulit untuk mengukur perubahan suhu dalam rentang di bawah 0,5 derajat C. Demikian pula catatan perubahan ketinggian permukaan air laut masih dikompilasi tim Anyer. Untuk perubahan perilaku fauna, baik di Cirebon maupun di Anyer tidak ada anomali yang mencolok, misalnya gerakan burung ataupun hewan-hewan lain yang gelisah.

      Demikian untuk sementara yang bisa disampaikan.

      Salam,


      Ma'rufin



      From: Rovicky Dwi Putrohari <rovicky@...>
      To: astronomi_indonesia@yahoogroups.com
      Sent: Saturday, January 31, 2009 11:29:06 AM
      Subject: Re: [astronomi_indonesia] Apa yg didapat dari hasil pengamatan GMC 2009 ini?

      Aku juga pingin tau nih.
      Adakah perubahan spektrum sinar matahari ketika normal dan saat
      tertutup serta normal lagi.
      Adakah hasil pengamatan sblmnya dimana aja ?

      Rdp

      On 1/31/09, USMAN SETIYANTO <usanto168@yahoo. co.id> wrote:
      > p.Ma'rufin, p. Anton dkk semua......
      >
      > sungguh..... luar biasa bapak2 telah membagi ilmu kepada kami2 yg awam di
      > milis ini...
      > ini merupakan pencerahan yg sangat bermanfaat dalam mensosialisasikan betapa
      > dgn ilmu astronomi kita semua bisa mengungkap satu per satu rahasia alam
      > semesta ini.
      >
      > seandainya ada yg bisa sharing:
      > apa yg didapat dari hasil pengamatan GMC 2009 ini?
      > rahasia alam semesta apa yg bisa diungkap?
      > Tentu bukanlah sekedar hasil photo2 cantik fenomena alam GMC
      > doank....... ......... .kan?
      >
      > kami tunggu pencerahan dari bapak2/ibu2 semua.....
      >
      > terima kasih & salam untuk semuanya!!
      >
      > ===USman===
      > Teluk Bintuni-Papua
      >
      >
      > --- Pada Jum, 30/1/09, Anton William <astro_william@ yahoo.com> menulis:
      >
      > Dari: Anton William <astro_william@ yahoo.com>
      > Topik: Re: [astronomi_indonesi a] Pengamatan Eddington, ada yang nyoba gak?
      > Kepada: astronomi_indonesia @yahoogroups. com
      > Tanggal: Jumat, 30 Januari, 2009, 10:54 AM
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Pak Ma'rufin,
      >
      > Saya pernah liat tayangan tv, waktu itu justru dikatakan Einstein datang
      > langsung ke Bengkulu, penasaran mau menguji sendiri cenah :P. Ini beritanya
      > bener apa engga, ya?
      >
      > Einstein khan memprediksi pembelokan cahaya di dekat Matahari akan
      > menyebabkan objek bergeser 1.75 detik busur.
      >
      > Ekspedisi Eddington ke kepulauan Principe di Afrika pada 1919 bertujuan
      > memanfaatkan fenomena langka, gerhana Matahari total, untuk menguji prediksi
      > Einstein. Gerhana terjadi berdekatan dengan gugus terang Hyades sehingga
      > ekspektasi orang pada saat itu sangat tinggi. Eddington berhasil melakukan
      > pemotretan.
      >
      > Beberapa bulan kemudian sebagian tim ekspedisi mengambil foto pada arah
      > langit yang sama dengan kejadian gerhana. Pelat Eddington kemudian
      > dibandingkan dengan pelat yang diambil kemudian lalu dipelajari apakah ada
      > pergeseran. Dua analisis yang dilakukan secara paralel masing-masing
      > menghasilkan angka pergeseran 1".98 +/- 0."30 dan 1".61 +/- 0."30. Prediksi
      > Einstein, yaitu 1".75, masih berada dalam rentang kesalahan. Einstein pasti
      > sengan sekali dengan hasil eksperimen.
      >
      > Ada yang menarik dengan pengumuman hasil eksperimen ini. Pengumuman
      > dilakukan pada 6 November 1919 pada pertemuan British Royal Society, di
      > antara tatapan Isaac Newton, mantan presiden British Royal Society sekaligus
      > pencetus teori gravitasi, diwakili oleh potret besarnya yang tergantung di
      > ruang pertemuan.
      >
      > Untuk melakukan percobaan Eddington, pengamatan harus dilakukan saat puncak
      > gerhana Matahari total. Saat itu cahaya fotosfer Matahari terhalang sampai
      > ke Bumi sehingga langit menjadi gelap.
      >
      > Pergeseran posisi bintang sebesar 1.75 detik busur tidak saja membutuhkan
      > teleskop dan detektor yang baik namun juga lokasi pengamatan dengan
      > turbulensi atmosfer yang rendah. Observatorium Bosscha memiliki angka seeing
      > 2 detik busur sehingga pergeseran 1.75 detik busur tertelan oleh turbulensi
      > atmosfer. Dengan kata lain, eksperimen Eddington tidak bisa dilakukan di
      > Obs. Bosscha(?).
      >
      > Anton W.
      >
      > --- On Thu, 1/29/09, Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com> wrote:
      > From: Ma'rufin Sudibyo <marufins@yahoo. com>
      > Subject: Re: [astronomi_indonesi a] Pengamatan Eddington, ada yang nyoba
      > gak?
      >
      > Yup. Hanya gerhana matahari total (GMT) yang bisa membuktikan teori
      > relativitas umum Einstein, berupa pembelokan cahaya bintang2 jauh yang
      > kebetulan posisinya ada di dekat Matahari (jika dilihat dari Bumi tentunya).
      > Pembelokan/defleksi cahaya ini bisa terjadi akibat melengkungnya ruang waktu
      > di sekitar Matahari yang massanya massif itu.
      >
      > Btw, sebagai tambahan, meski Eddington dan timnya adalah yang pertama kali
      > melaksanakan pengamatan ini, pada Gerhana Matahari Total 1919 namun hasilnya
      > kemudian rada diragukan (karena akurasinya rendah, terdapat kesalahan
      > sistematis dan bias, walopun re-analisis masa kini menunjukkan analisa
      > Eddington sudah tepat). Konfirmasi kesahihan defleksi cahaya di dekat
      > Matahari datang dari Erwin Freudlich dkk, yang melaksanakan pengamatan
      > Gerhana Matahari Total
      > 1929 di Sumatra (!).
      >
      > So, sedikit nasionalis yuk..berbahagialah kita, Sumatra lagi menjadi tempat
      > yang penting. Pada 1929 menjadi arena pengujian teori Einstein. Dan pada
      > 2009 ini, menjadi pusat perhatian dunia akan Gerhana Cincin.
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      >
      > Nikmati chatting lebih sering di blog dan situs web. Gunakan Wizard
      > Pembuat Pingbox Online. http://id.messenger .yahoo.com/ pingbox/

      --
      Sent from my mobile device

      Dongeng anget :
      http://rovicky. wordpress. com/2009/ 01/27/melihat- evolusi-jalur- gaza-dari- peta/


    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.