Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [astronomi_indonesia] Re: Opsi Untuk Awal Bulan Suci

Expand Messages
  • Ma'rufin Sudibyo
    Memang benar, di tingkat Asia Tenggara sudah diformulasikan sebuah kriteria ad-hoc sebagai panduan menetapkan awal bulan suci, yang dikenal dengan Kriteria
    Message 1 of 3 , Aug 20, 2007
    View Source
    • 0 Attachment
      Memang benar, di tingkat Asia Tenggara sudah
      diformulasikan sebuah kriteria ad-hoc sebagai panduan
      menetapkan awal bulan suci, yang dikenal dengan
      Kriteria MABIMS. Dalam kriteria ini, hilaal MUNGKIN
      sudah dapat dilihat jika konfigurasi posisi Bulan dan
      Matahari memenuhi tiga syarat berikut :

      1). tinggi minimum Bulan = 2 derajat (dengan selisih
      altitude Bulan - Matahari = 3 derajat).

      2). selisih azimuth minimum Bulan - Matahari = 3
      derajat.

      3). Umur minimum Bulan = 8 jam setelah konjungsi.

      Kriteria ini mengandung sejumlah kelemahan mendasar.
      Saya sebutkan dua saja.

      Pertama, dengan selisih altitude dan selisih azimuth
      masing-masing 3 derajat, dapat dihitung bahwa elongasi
      minimum Bulan dalam kriteria MABIMS adalah 4,2 derajat
      (baik berdasarkan trigonometri segitiga bola maupun
      rumus Phytagoras). Ini lebih kecil daripada nilai
      Danjon Limit (6,4 derajat menurut Odeh 2006). Memang
      jika merujuk pada uraian Prof Ilyas dari Universiti
      Kebangsaan Malaysia (1994), Danjon Limit an-sich tidak
      bisa digunakan untuk menentukan kondisi minimum agar
      hilaal bisa terlihat, karena tidak mesti saat elongasi
      Bulan > Danjon Limit (katakanlah dengan elongasi 7 -
      10 derajat) hilaal pasti nampak. Butuh persyaratan
      lain. Namun Prof. Ilyas dan peneliti2 lain seperti
      Fotheringham, Schaefer, Yallop, Odeh, SAAO dll
      menyepakati bahwa jika elongasi Bulan < Danjon Limit,
      hilaal takkan dapat dilihat baik dengan mata telanjang
      maupun binokular/teleskop.

      Kedua, kriteria yang didasarkan pada altitude dan
      azimuth Bulan memiliki lebar zona ketidakpastian yang
      besar. Merujuk pada Schaefer (Schaefer, 1996)
      penggunaan altitude dan azimuth Bulan menghasilkan
      zona ketidakpastian selebar 70 derajat bujur. Artinya,
      kalaupun hitung2an menunjukkan kriteria MABIMS
      terpenuhi bagi titik pengamatan Pontianak, pada
      hakekatnya wilayah dari bujur Jayapura (35 derajat
      bujur di timur Pontianak) hingga lepas pantai Samudra
      Hindia sebelah barat Lhoknga (35 derajat bujur di
      barat Pontianak) tercakup ke dalam zona ketidakpastian
      kriteria MABIMS. Ini berbeda dengan algoritma modern
      terutama yang dikembangkan sejak masa Fotheringham
      (yang umumnya berbasis pada selisih altitude dan lebar
      sabit) dimana lebar zona ketidakpastiannya lebih
      kecil. Algoritma Schaefer, misalnya, memiliki zona
      ketidakpastian selebar 23 derajat bujur. Sehingga jika
      kriteria Schaefer terpenuhi untuk Pontianak, zona
      ketidakpastiannya "hanya" merentang dari bujur Kupang
      hingga Medan.

      Selain itu juga harus dilihat bahwa kriteria MABIMS
      dikembangkan berdasarkan laporan-laporan pengamatan
      hilaal yang sebagian besar berasal dari Indonesia.
      Untuk hal ini Prof. Ilyas (1994) menyebutkan, dari 29
      laporan pengamatan hilaal selama 7 tahun
      berturut-turut, 80 % diantaranya harus diabaikan
      karena mengandung beragam kesalahan. Belakangan Dr.
      Djamaluddin (2000) juga menunjukkan hal serupa. Dari
      38 laporan pengamatan hilaal dalam kurun waktu 1962 -
      1997, 71 % diantaranya harus diabaikan karena
      mengindikasikan pengamat tidak membedakan hilaal
      dengan gangguan cahaya latar depan (pantulan cahaya
      Matahari ke pesawat, awan atau cahaya dari menara dan
      mercusuar) ataupun cahaya latar belakang (yakni
      keberadaan Venus atau Merkurius). Ini yang membuat
      kriteria MABIMS, meskipun sifatnya ad-hoc, menjadi
      highly unreliable.

      Di sisi lain, meski di tingkat Asia Tenggara sudah
      disepakati kriteria MABIMS, namun Pemerintah (dalam
      hal ini Depag) belakangan terkesan 'setengah hati'
      dalam menjalankannya. Kesepakatan tersebut tidak
      diiringi dengan sosialisasi yang intensif, sehingga di
      lapisan masyarakat hanya dikenal tinggi Bulan minimal
      2 derajat sebagai batas imkanur rukyat. Ada kesan
      Depag pun ragu-ragu dengan kriteria MABIMS, dan
      keputusannya tergantung kepada siapa Menteri yang
      menjabat. Ada juga kesan bahwa kriteria penentuan awal
      bulan Hijriyyah bukanlah hal yang diprioritaskan dan
      tiap laporan yang masuk 'harus' diterima tanpa dilihat
      valid atau tidak secara ilmiah. Sehingga dalam
      sidang-sidang itsbat penentuan awal bulan suci,
      merujuk ungkapan Dr. Djamaluddin, sering muncul
      kata-kata "bukan waktunya berdiskusi ilmiah" ketika
      misalnya mendebat klaim laporan teramatinya hilaal
      meski elongasinya di bawah Danjon Limit. Berkait
      hal-hal seperti ini, bisa dipahami mengapa Majelis
      Tarjih PP Muhammadiyah (dalam kata-kata pak Oman
      Fathurrahman, salah satu penggiatnya) memilih untuk
      konsisten menggunakan kriteria wujudul hilaal sejak
      1960-an karena lebih memberikan kepastian. Meski
      disadari sepenuhnya bahwa kriteria wujudul hilaal pun
      - yang sampai kini tetap saja berbentuk hipotesis
      karena belum pernah bisa dibuktikan - sama saja dengan
      MABIMS, sama-sama 'tidak ngilmiah'.

      Dengan perunutan seperti tersebut, bisa dilihat bahwa
      salah satu pokok persoalan belum adanya satu kriteria
      tunggal untuk Indonesia adalah kurangnya data-data
      pengamatan hilaal, disamping masalah sosialisasi
      hasil2 penelitian termutakhir yang telah dilakukan
      peneliti2 berintegritas tinggi. Ini juga yang
      mendasari rekan-rekan seperti di Rukyatul Hilal
      Indonesia (RHI) dan Jogja Astro Club (JAC) di satu
      pihak dan Himastron di lain pihak untuk mulai
      mengumpulkan data-data tersebut, yang tidak hanya
      dilakukan pada awal bulan suci saja, namun juga pada
      bulan-bulan yang lain. Dan tidak hanya hilaal saja
      yang diamati, namun juga sabit tua, yang secara fisis
      mempunyai sifat yang sama dengan hilaal. Lingkup
      kegiatannya memang masih terbatas di sekitar Jabar
      Jateng dan DIY saja. Maka sangat baik jika regionnya
      bisa diperluas, dengan melibatkan komunitas-komunitas
      pengamat langit lainnya dan klub-klub astronomi
      sekolah yang begitu menjamur.

      Tentu saja, muaranya juga musti ada forum rutin yang
      mengumpulkan seluruh stakeholder yang berkepentingan.
      Saya rasa inilah peluang bagi komunitas2 pecinta
      langit untuk 'masuk'. Benar, saat ini sudah ada forum
      seperti itu di Depag, namun sejatinya forum tersebut
      bersifat kompilatif, sekedar mengumpulkan data-data
      hasil perhitungan astronomis (hisab) dari beragam
      sumber mulai dari yang merujuk kitab2 falak klasik
      (seperti Sullamun Nayyirain dll) sampai algoritma
      modern (seperti Jean Meeus dan Chapront). Kompilasi
      tersebut "sayangnya" juga tidak dilakukan pada
      event-event khusus seperti kejadian gerhana Matahari
      dan gerhana Bulan, misalnya, padahal dari event-event
      tersebut kita bisa menguji apakah prediksi yang
      disajikan kitab2 falak klasik itu reliable atau tidak,
      dan jika memang tidak reliable ya mau-tak-mau musti
      'dikeluarkan' dari daftar kompilasi untuk bulan suci
      tadi. Sebagai gambaran, jika menggunakan Sullamun
      Nayyirain, untuk tahun 2005 diramalkan tidak terjadi
      Gerhana Matahari/Bulan di dunia, sementara pada
      kenyataannya telah terjadi 4 gerhana (2 gerhana
      Matahari dan 2 gerhana Bulan).


      salam


      Ma'rufin
      -----------
      Rujukan :

      Schaefer. 1996. Lunar Crescent Visibility.
      Q.J.R.astr.Soc (1996) 37, pp. 759 - 768.

      Ilyas. 1994. Lunar Crescent Visibility Criterion and
      Islamic Calendar. Q.J.R.astr.Soc (1994) 35, pp. 425 -
      461.

      Djamaluddin. 2000. Re-evaluation of Hilaal Visibility
      in Indonesia.



      --- edskywalker <edskywalker@...> wrote:

      > Benar sekali pak Ma'rufin, soal kriteria hilal itu
      > perlu sekali untuk
      > disatukan. Setidaknya untuk Indonesia dulu lah...
      >
      > Beberapa tahun yang lalu kan ada usaha untuk itu di
      > tingkat ASEAN, dan
      > setahu saya sudah disepakati seluk beluk hilal
      > (altitude minimal, elongasi
      > dsb). Kadang kepikiran oleh saya, kalau sudah
      > disepakati lalu kenapa masih
      > ada perbedaan-perbedaan macam itu? Dan, ternyata
      > memang persoalannya nggak
      > sesederhana yang saya bayangkan.
      > ---
      > Oh ya, saya perlu menginformasikan bahwa tim riset
      > hilal Himastron ITB
      > meraih peringkat 3 dalam lomba riset antar himpunan
      > mahasiswa di ITB. Ini
      > suatu langkah awal yang saya nilai positif, dan
      > alangkah baiknya kalau
      > Himastron selanjutnya benar-benar membuat sebuah
      > program riset yang
      > terfokus. Teman2 di tim riset bisa melanjutkan
      > kerjaannya menghisab dan
      > merukyat, sekalian mengadakan kegiatan2 yang dapat
      > menjelaskan seluk beluk
      > hilal kepada masyarakat awam. Sebagai organisasi
      > mahasiswa, Himastron memang
      > semestinya fokus pada kegiatan astronomis semacam
      > itu, bukan sekedar
      > mengadakan acara yang sifatnya "hiburan".
      >



      ____________________________________________________________________________________
      Got a little couch potato?
      Check out fun summer activities for kids.
      http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
    • Ma'rufin Sudibyo
      Memang benar. Akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) pada tanggal 28 Agustus 2007 ini. Di Asia, GBT hanya bisa disaksikan di Asia Timur dan Tenggara, yakni
      Message 2 of 3 , Aug 26, 2007
      View Source
      • 0 Attachment
        Memang benar. Akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT)
        pada tanggal 28 Agustus 2007 ini. Di Asia, GBT hanya
        bisa disaksikan di Asia Timur dan Tenggara, yakni pada
        daerah-daerah yang berbataskan Samudera Pasifik.
        Itupun tidak semua tahap gerhana bisa diamati dengan
        baik, karena disini gerhana sudah terjadi beberapa jam
        sebelum Matahari terbenam.

        GBT dimulai sejak pukul 07:52 GMT ketika piringan
        Bulan mulai menyentuh penumbra Bumi. Puncak GBT
        terjadi pada pukul 10:37 GMT, saat Bulan sepenuhnya
        berada dalam lingkaran umbra Bumi. Dan GBT baru
        berakhir pada pukul 13:22 GMT saat Bulan sepenuhnya
        meninggalkan lingkaran penumbra dan 'berubah' menjadi
        Bulan purnama kembali. Disini kita akan menyaksikan
        pemandangan spektakuler dimana kecemerlangan Bulan
        berubah dari -12,7 (saat purnama) menjadi -12,0 (saat
        mulai memasuki lingkaran penumbra), menjadi -3,4 alias
        sama redupnya dengan Venus (saat mulai memasuki
        lingkaran umbra) dan akhirnya mencapai kecemerlangan
        +1,4 (lebih redup dibanding bintang-bintang) kala
        puncak GBT tercapai.

        Mengingat konfigurasi orbit Bulan yang khas, setelah
        GBT ini kita akan menyaksikan lagi jenis gerhana yang
        lain berselang setengah bulan ke depan, yakni gerhana
        matahari. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) akan terjadi
        pada 11 September 2007 mendatang, dengan puncak pada
        pukul 12:33 GMT. Namun berbeda dengan GBT yang bisa
        disaksikan di separo belahan Bumi, GMS ini hanya bisa
        diamati di Amerika Selatan bagian timur, di pesisir
        Atlantik. Ini GMS yang istimewa, sebab terjadi
        bersamaan dengan konjungsi Bulan-Matahari yang
        menandai masuknya umat muslim sedunia ke bulan suci
        Ramadhan.

        Kita di Indonesia hanya bisa menyaksikan separo
        tahapan gerhana saja, yakni mulai dari puncak GBT
        hingga GBT usai, karena Bulan sedang mulai terbit di
        sini saat GBT berlangsung. Secara umum untuk zona
        waktu WIB, gerhana bisa diamati sejak pukul 18.00
        hingga pukul 20.22 WIB. So buat anda yang muslim,
        tersedia waktu cukup panjang untuk menyelenggarakan
        shalat gerhana bulan.

        Salam


        Ma'rufin



        ____________________________________________________________________________________
        Choose the right car based on your needs. Check out Yahoo! Autos new Car Finder tool.
        http://autos.yahoo.com/carfinder/
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.