Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [FISIKA] Gempa Aceh

Expand Messages
  • Ma'rufin Sudibyo
    ... Tentang gempa Aceh, ada sebuah tulisan tapi tak pernah dipublish, lama ngendon di disket. Baru sekali saja diposting, utk seseorang, itu pun versi yang
    Message 1 of 1 , Jan 25, 2006
    View Source
    • 0 Attachment
      --- moonsterdownload <moonsterdownload@...>
      wrote:

      > assalamu alaikum wr. wb.
      >
      > saya mendapat sebuah file mengenai teori terjadinya
      > tsunami di aceh
      > tahun lalu, tolong dipikirkan apakah teori yang
      > dikemukakan itu bisa
      > jadi benar atau salah total
      > apakah mungkin kita bisa membuat tsunami dari sebuah
      > bom nuklir?
      >
      > masalahnya sebagaimana kita ketahui bersama terumbu
      > karang di perairan
      > hindia hancur total, bukankah terlalu aneh apabila
      > ini hanya akibat
      > gerakan tektonik atau gelombang laut.
      > juga banyaknya tubuh yang berwarna kehitaman karena
      > terbakar atau baju
      > korban yang terkelupas, bisakah ini menjadi bukti
      > untuk memperkuat
      > teori ini?
      >
      > nama filenya adalah Did New York Orchestrate The
      > Asian Tsunami.doc
      > berformat file word, saya taruh di bagian files
      >
      > terima kasih
      >

      Tentang gempa Aceh, ada sebuah tulisan tapi tak pernah
      dipublish, lama ngendon di disket. Baru sekali saja
      diposting, utk seseorang, itu pun versi yang benar2
      diekstrak. Ya maklum saja, saya bukan fisikawan, bukan
      pula geolog, bukan juga seismolog. Cuman sedang
      belajar, dan rada suka ngumpul2in dan baca2 tulisan2
      orang. Ketika semuanya coba dirangkum, jadinya malah
      panjaang bgt...mau ngedit malah jadi susah juga.

      ----------------------------------------------------------

      Tentang gempa 26 Desember 2004


      1. Teori Konspirasi Vialls

      Artikel " Did New York Orchestrate Asian Tsunami ?"
      itu ditulis oleh Joe Vialls pada Februari 2005 (lihat
      di http://www.vialls.com). Vialls menyebut dirinya
      seorang analis independen dan telah berpengalaman
      selama lebih dari tigapuluh tahun di dunia intelejen.
      Kini ia tinggal di Australia.

      Sedikit catatan, nama Joe Vialls pernah sangat populer
      di Indonesia pasca ledakan hebat di Bali (12 Oktober
      2002). Ketika itu ia menggemparkan banyak pihak dengan
      teori konspirasi-nya tentang penyebab ledakan itu,
      yang disebutnya sebagai aksi konspirasi AS-Israel
      lewat peledakan SADM (Small Atomic Demolition
      Munition) alias mikronuklir. Hingga kini masih banyak
      yang percaya apa yang terjadi di Bali saat itu
      merupakan ledakan mikronuklir, meski banyak lembaga -
      termasuk MUI yang menerjunkan penelitinya ke sana -
      memastikan tidak ada bekas-bekas ledakan nuklir di
      Bali.

      Singkatnya, Vialls menyebutkan bahwa gempa dahsyat 26
      Desember 2004 disusul tsunami besar yang
      meluluhlantakkan 11 negara di pesisir Samudera Hindia
      hingga menewaskan sedikitnya seperempat juta jiwa
      manusia bukanlah peristiwa alam biasa, namun ada peran
      campur tangan manusia. Vialls mendasarkan teorinya
      dokumen rahasia OSS (embrio CIA) tentang pengunaan
      bahan peledak untuk memicu gempa bumi di Kep. Jepang
      dalam Perang Dunia 2 dan fakta-fakta berikut :

      a. perbedaan magnitude gempa antara versi BMG
      (Indonesia) dan India dengan versi USGS (AS),dimana
      menurut BMG 'hanya' 6,8 skala Richter, sementara
      menurut USGS 9,3 skala Richter.

      b. perbedaan hiposentrum gempa, versi BMG berada di
      selatan Meulaboh (atau sebelah utara P. Simeulue),
      sementara versi USGS di sebelah barat P. Weh.

      c. pola gelombang gempa pada seismogram stasiun BMG
      Padang menunjukkan kemiripan dengan pola gelombang
      gempa produk ledakan nuklir bawah tanah di medan
      percobaan Gurun Nevada 4 dekade silam.

      d. tiadanya korban manusia di P. Diego Garcia,
      pangkalan militer AS-Inggris yang ada di tengah2
      Samudera Hindia, sebelah selatan Jazirah Arabia,
      padahal di sepanjang pesisir Afrika yang letaknya
      lebih jauh justru muncul korban manusia.

      e. adanya pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln
      (sebagai representasi militer AS) di perairan barat
      Sumatera dengan mengangkut sejumlah pasukan siap
      tempur yang tidak dilaporkan.

      f. adanya pergerakan militer Australia yang telah
      mengambil posisi di semenanjung Malaya hanya beberapa
      saat setelah gempa terjadi.

      g. sejumlah jenazah korban tsunami nampak menghitam
      seperti hangus, mengesankan seperti terkena radiasi
      panas.

      h. dalam gempa Nias 28 Maret 2005, meski magnitudenya
      hampir sama (8,7 SR) namun tidak muncul tsunami

      Vialls berteori bahwa gempa dahsyat itu adalah hasil
      perbuatan tangan2 kotor AS-Israel-Australia yang
      diwujudkan dalam peledakan bom termonuklir 9 megaton
      di dasar Samudera Hindia. Bom itu dikirimkan ke
      sasaran dengan pesawat tempur yang bertolak dari
      pangkalan rahasia di Kepulauan Andaman. Titik tempat
      peledakan bom dipilih sedemikian rupa sehingga tepat
      berada di triple junction (titik persinggungan 3
      lempeng tektonik) antara Lempeng India, lempeng
      Eurasia dan mikrolempeng Burma yang berada di antara
      P. Simeulue dan P. Nias. Secara geologis triple
      junction memang merupakan kawasan yang rapuh.

      Ledakan itu menghasilkan gempa bumi dan meruntuhkan
      dasar laut disekelilingnya, hingga muncullah gelombang
      pasang (tsunami) besar. Ledakan itu juga menjadi
      pemicu (trigger) ketidakstabilan kawasan triple
      junction hingga terjadilah patahan2 baru yang
      berujung pada munculnya gempa2 tektonik.

      Sekilas, teori konspirasi ini sangat menarik, apalagi
      jika dibuat filmnya, seperti kebiasaan para sineas
      Hollywood. Namun teori ini juga mengandung banyak
      kelemahan mendasar.

      2. Magnitude Gempa

      Vialls tidak membedakan definisi magnitude gempa, yang
      penting terdapat perbedaan mencolok antara magnitude
      versi BMG (6,8) dengan versi USGS (9,3).

      Pada saat ini ada beberapa macam magnitude yang sering
      digunakan untuk mendeskripsikan kekuatan gempa, yakni
      surface magnitude (Ms), local magnitude (ML),
      body-wave magnitude (Mb), moment magnitude (Mw),
      energy magnitude (Me) dan duration magnitude (Md).
      Namun hanya dua yang sering digunakan, yakni Mb dan
      Mw.

      Body-wave magnitude (Mb) adalah kekuatan gempa yang
      didasarkan pada profil gelombang P/primer (gelombang
      longitudinal, kecepatan = 5 km/detik) yang terekam
      dalam seismogram. Magnitude ini murni berdasar pada
      analisis pola gelombang pada frekuensi 1 Hertz dan
      bersatuan skala Richter (SR). Magnitude ini bisa
      digunakan pada tiap jenis gempa.

      Sementara moment magnitude (Mw), pertama kali
      diperkenalkan Tom Hanks (seismolog, bukan aktor :) )
      dan Hiroo Kanamori pada 1979 di Caltech, dengan tujuan
      untuk membandingkan energi yang terlepaskan dari
      gempa. Magnitude ini terkait dengan luas zona patahan
      (fault) atau zona retakan (rupture) yang menjadi
      sumber gempa dan besarnya pergeseran (slip) dalam zona
      tersebut. Magnitude ini tidak bersatuan, namun di
      Indonesia biasa dikenakan "satuan" skala magnitudo
      (SM) kepadanya. Karena berkait dengan terbentuknya
      patahan/rupture, magnitude ini hanya digunakan untuk
      mendeskripsikan gempa tektonik.

      Kelebihan moment magnitude dibanding magnitude jenis
      lainnya adalah tidak adanya saturasi untuk nilai2 yang
      besar, sehingga setiap gempa besar selalu menghasilkan
      moment magnitude yang berbeda.

      Secara matematis, hubungan antara moment magnitude
      dengan luas patahan (A) dan besarnya pergeseran (h)
      dinyatakan dalam :

      Mw = 0,67(log Mo - 16,1) (1)

      dengan Mo = uAh

      dimana u = rigiditas batuan (sebesar 300
      Gigadyne/cm^2) dengan satuan A dan h masing2 cm^2 dan
      cm.

      Mari kita lihat apa yang terjadi pada 26 Desember 2004
      silam. Awalnya Hendra Suwarta dari BMG Medan menyebut
      gempa itu berkekuatan 6,8 SR dengan hiposentrum 2,9deg
      LU 95,6deg BT pada kedalaman 20 km (lihat Kompas,
      27/12/2004 hal 1). Beberapa hari kemudian, lewat situs
      resminya (http://www.bmg.go.id) kepala BMG menyebutkan
      telah dilakukan reanalisis terhadap data2 seismogram
      dan didapatkan bahwa gempa itu memiliki Mb = 6,8 SR
      dan Mw = 8,7 SM. Sementara data dari USGS menyebutkan
      Mb = 6,4 SR dan Mw = 9,0 dengan hiposentrum pada
      3,3deg LU 95,8deg BT pada kedalaman 10 km. Jadi data
      kedua lembaga itu tidak jauh berbeda.

      3. Panjang Patahan/Rupture

      Adanya moment magnitude pada gempa 26 Desember 2004
      itu jelas menunjukkan bahwa gempa itu adalah gempa
      tektonik. Secara empirik, Ambrosey dan Zatopak (1968)
      telah memformulasikan hubungan antara magnitude gempa
      (M) dengan panjang patahan/rupture (L, dalam satuan
      km) :

      log L = 1,13M - 6,4 (2)

      Dengan M = 9,0 didapatkan L = 5.900 km ! Namun
      analisis seismogram dan pola distribusi hiposentrum
      gempa2 susulan - dari 3deg LU (sebelah barat P.
      Sumatra) hingga 14deg LU (Kepulauan Andaman) -
      menunjukkan panjang patahan/rupture yang terbentuk
      sekitar 1.200 km (lihat Carayannis; 2005; The Great
      Earthquake and Tsunami of 26 December 2004 in South
      East Asia and the Indian Ocean; Special Reports,
      http://www.drgeorgepc.com).

      Survey dasar laut dengan kapal riset Natsushima pada
      Februari - Maret 2005 di sepanjang lokasi yang diduga
      menjadi zona patahan/rupture menunjukkan tidak
      ditemukan adanya patahan. Namun dijumpai rupture
      sepanjang 1300 km dengan lebar 200 km. Di rupture ini
      telah terjadi pergeseran sebesar 15 m (rata2,
      pergeseran maksimal 20 m). Pergeseran ini telah
      menyebabkan terjadinya pengangkatan vertikal dasar
      laut setinggi 10 m (rata2, pengangkatan maksimal 13 m)
      dengan lebar daerah yang betul2 terangkat vertikal
      mencapai 70 km (lihat Kompas, 26/07/2005).

      Lewat persamaan (1), kita mendapatkan Mo = 1,17 .
      10^30 dyne cm dan Mw = 9,3 atau sedikit lebih besar
      dari versi BMG maupun USGS sebelumnya. Ini sesuai
      dengan hasil penyelidikan ilmuwan Northwestern
      University, AS (Carayannis, 2005; Ibid).

      4. Energi Gempa

      Magnitude sebuah gempa berhubungan dengan energi yang
      terlepaskan dari gempa tersebut. Secara umum hubungan
      antara magnitude gempa (M) dan energi gempa (Ee, dalam
      satuan erg), dinyatakan oleh :

      log Ee = 1,5M + 11,8 (3)

      Carayannis (1985) telah mendapatkan hubungan antara
      panjang patahan/rupture (L, dalam satuan km) dengan Ee
      secara empirik, yang dinyatakan sebagai :

      log Ee = log L + 22,53 (4)

      Namun, khusus untuk moment magnitude, besarnya energi
      gempa diekspresikan dalam :

      Ee = Mo/62500 (5)

      Dengan menggunakan data Mo dari riset Natsushima, kita
      mendapatkan Ee = 1,872 . 10^25 erg atau 450 megaton
      TNT. Sementara dengan data panjang rupture dari riset
      Natsushima, kita mendapatkan Ee = 4,405 . 10^25 erg
      atau 1050 megaton TNT. Sebagai pembanding, Hiroshima
      luluh lantak oleh bom berenergi 'hanya' 20 kiloton
      saja.

      Kita logikakan saja, sanggupkah bom termonuklir dengan
      energi 9 megaton menciptakan gempa besar dengan energi
      450 - 1050 megaton alias 50 - 117 kali lipat lebih
      besar dari energi bom itu sendiri? Itu tidak masuk
      akal ! Bahkan energi bom termonuklir terbesar yang
      pernah diledakkan dalam sejarah, Tsar Bomba (King of
      the Bomb) produk Uni Soviet di era 1960-an yang
      berkekuatan 50 megaton itu masih kalah jauh dibanding
      energi gempa 26 Desember 2004 !

      5. Ledakan Nuklir dan Gempa Bumi

      Titik berat teori Vialls terletak pada kemampuan
      ledakan nuklir untuk memicu (trigger) aktivitas
      guncangan tanah atau gempa bumi. Ledakan nuklir,
      khususnya dengan titik ledak di permukaan dan di bawah
      permukaan tanah, memang bisa memproduksi gempa bumi
      dengan pola gelombang yang khas, yakni dilational.
      Pada gempa bumi tektonik, gelombang yang terbentuk
      berpola deviatoris (menurut USGS FAQ) dan seringkali
      didahului dengan pola compresional .

      perbedaan pola compresional dan dilational

      /\
      / \ /
      _ _/_ _ \ _ _/_ _ _ _
      \ /
      \/

      ===> <===

      pola compresional dalam seismogram, gelombang awal
      bergerak ke atas, dengan arah gerakan tanah (panah
      bawah) saling menekan (kompresi)


      /\
      _ _ _ _ _ _ / _\_ _ _ _
      \ / \
      \ / \
      \/

      <=== ===>

      pola dilational dalam seismogram, gelombang awal
      bergerak ke bawah, dengan arah gerakan tanah (panah
      bawah) saling menjauh (meregang)


      Gempa bumi dalam ledakan nuklir sebenarnya merupakan
      wujud konversi energi ledakan menjadi energi gempa.
      Secara matematis energi gempa (Ee) berkait dengan
      energi ledakan (E) lewat :

      Ee = kE

      dengan k sebuah faktor konversi, yang dalam praktiknya
      k berharga 0,00001 s/d 0,001 (untuk ledakan di
      permukaan tanah) dan 0,001 s/d 0,1 (untuk ledakan di
      bawah permukaan tanah). Dengan memodifikasi persamaan
      log Ee = 1,5M + 11,8 didapatkan :

      1,5Mb = log W + 7,82 + log k (6)

      Dengan Mb = body-wave magnitude (satuan skala Richter)
      dan W = energi ledakan (satuan kiloton TNT).

      Atomic Energy Commission (AEC) - lanjutan dari
      Manhattan Project-nya Jend. Leslie R. Grooves dan
      fisikawan Johann Robert Oppenheimer - telah
      melaksanakan serangkaian eksperimen detonasi senjata
      nuklir dengan titik ledak pada permukaan dan di bawah
      permukaan tanah selama era 1950 - 1960-an. Eksperimen
      itu berlangsung di Gurun Nevada, berdekatan dengan
      pangkalan AU Nellis, Utah. Daerah ini secara geologis
      tergolong aktif, karena berdekatan dengan zona
      subduksi lempeng Juan de Fuca dengan lempeng Amerika
      Utara, yang salah satu efeknya membentuk panorama
      mengagumkan di Grand Canyon dan sekitarnya.

      Eksperimen AEC di Nevada yang paling terkenal adalah
      detonasi bom " Sedan " (6 Juli 1962) dengan energi 104
      kiloton TNT pada kedalaman 194 m. " Sedan " membentuk
      cekungan (kawah) besar berbentuk mangkuk berdiameter
      390 m dengan kedalaman 98 m yang menghamburkan 10,9
      juta ton aluvial berkadar air 12 %. Bersama ledakan
      ini terdeteksi pula perambatan gelombang gempa bumi
      khas dengan Mb = 4,75 SR (k = 0,002).

      Namun peristiwa paling menghebohkan terjadi pada 19
      Januari 1968, ketika AEC meledakkan bom termonuklir "
      Faultless " dengan energi 1 megaton dalam sebuah
      eksperimen bawah tanah. Secara bersamaan dalam
      beberapa kilometer dari titik ledakan terbentuk
      rupture sepanjang 1200 m yang nampak jelas di
      permukaan tanah. Seismograf di lokasi ujicoba pun
      merekam adanya getaran gelombang gempa berpola
      deviatoris bersamaan dengan gelombang gempa berpola
      dilational (produk ledakan). Namun gempa tektonik itu
      dipastikan lebih lemah dibanding gempa produk ledakan.
      Analisis awal menunjukkan adanya 70 - 80 % gelombang
      berpola dilational dan sisanya berpola deviatoris,
      menunjukkan dominannya pengaruh ledakan terhadap
      guncangan tanah.

      Meski semula diduga ledakan " Faultless "-lah penyebab
      gempa tektonik itu, namun analisis AEC menunjukkan
      bahwa kedua peristiwa itu berdiri sendiri2 dan tidak
      saling terkait, hanya saja terjadi pada saat yang
      bersamaan. Analisis komprehensif sepanjang 1965 - 1968
      mengenai pengaruh eksperimen2 detonasi bawah permukaan
      dan gempa2 tektonik di Amerika barat (terutama dengan
      magnitude > 3,5 SR) memperkuat kesimpulan AEC, bahwa
      ledakan nuklir bawah permukaan tidaklah sanggup
      menciptakan sebuah gempa tektonik.

      Kesimpulan AEC diperkuat lagi dengan hasil eksperimen
      termonuklir bawah permukaan " Cannikin " (6 November
      1971) di P. Amchitka, sebuah pula dalam gugus Kep.
      Aleut (Alaska). Secara geologis lokasi ini tergolong
      takstabil dan terhimpit di antara dua tempat yang
      pernah menjadi lokasi gempa dahsyat, yakni semenanjung
      Kamchatka di sebelah barat (gempa 1737 dengan Mw = 9,3
      dan gempa 1952 dengan Mw = 9,0) serta semenanjung
      Alaska di sebelah timur (gempa Good Friday 1964 dengan
      Mw = 9,2). Hingga kini pun para seismolog meyakini
      gugusan Kep. Aleut secara geologi berada dalam kondisi
      " locked " (terkunci) dan akan menjadi lokasi
      berlangsungnya gempa besar periode berikutnya (setelah
      gempa 26 Desember 2004). " Cannikin " melepaskan
      energi 5 megaton dan menimbulkan guncangan gempa bumi
      dengan Mb = 6,9 SR (k = 0,068). Namun guncangan kuat
      ini ternyata tidak diikuti oleh munculnya gempa
      tektonik maupun gempa2 susulannya, apalagi gempa
      dahsyat.

      Bisa saja kita mengatakan, semua data di atas dibuat
      oleh AEC/Pentagon dan sangat berbau " Amerika " dan
      tentu sudah " dibersihkan " agar hasilnya nampak baik2
      saja, sementara data2 yang mengkhawatirkan sudah masuk
      ke file " classified ". Namun data soal eksperimen
      bawah permukaan tanah ternyata tidak hanya dipunyai
      Amerika saja. India dan Pakistan pun memilikinya.

      India melaksanakan eksperimen detonasi bawah permukaan
      pertamanya pada 18 Mei 1974 di bawah pemerintahan
      Indira Gandhi, dengan meledakkan bom plutonium "
      Smiling Budha " (kini disebut Pokhran-1) pada
      kedalaman 107 m dengan energi 6 kiloton di Gurun Thar,
      Rajasthan. Ledakan menghasilkan gempa bumi dengan Mb =
      4,9 SR (k = 0,056). Eksperimen kedua dilakukan pada 11
      Mei 1998 dengan meledakkan bom termonuklir " Pokhran-2
      " berenergi 43 kiloton, menghasilkan gempa bumi dengan
      Mb = 5,2 SR (k = 0,022). Sementara Pakistan menyusul
      pada 28 Mei 1998 dengan meledakkan bom " Chagai-1 "
      (10 kiloton) di Pegunungan Baluchistan yang
      mengguncangkan tanah dengan Mb = 4,9 SR (k = 0,034).
      Gurun Thar dan Peg. Baluchistan berada saling
      berdekatan (terpisah 1000-an km) dan berada di daerah
      yang secara geologis takstabil karena berdekatan
      dengan triple junction lempeng Arabia, lempeng India
      dan lempeng Eurasia (di muara Sungai Indus). Namun tak
      ada gempa tektonik yang terjadi akibat eksperimen2
      tersebut, seperti yang dilaporkan USGS dan PIDC
      (embrio badan PBB yang mengurusi masalah larangan
      eksperimen senjata nuklir/CTBT) (lihat Wallace; 1998;
      The May 1998 India and Pakistan Nuclear Tests; Seismic
      Research Letters vol 69 page 386 - 393).

      Eksperimen kedua Pakistan, " Chagai-2 " (6 kiloton)
      dilakukan pada 30 Mei 1998 yang menghasilkan guncangan
      dengan Mb = 4,7 SR (k = 0,028). Eksperimen ini sempat
      membingungkan para ilmuwan karena setengah jam
      sebelumnya meletup gempa kuat di Afghanistan dengan Ms
      = 6,9 SR sehingga akurasi pantauannya tidaklah
      setinggi " Chagai-1 ". Namun eksperimen ini makin
      meyakinkan kesimpulan sebelumnya bahwa sebuah ledakan
      nuklir (bawah permukaan sekalipun) takkan sanggup
      menciptakan gempa tektonik.

      Dari uraian di atas, kita mendapatkan gambaran bahwa
      apa yang diteorikan Vialls berlawanan dengan data2
      hasil eksperimen ledakan nuklir bawah permukaan yang
      pernah ada. Data seismogram yang ditampilkan Vialls
      dalam situsnya (http://www.vialls.com), yang
      disebutnya direkam oleh stasiun seismograf Padang,
      juga tidak menunjukkan pola dilational. Berkait dengan
      dokumen rahasia OSS (kini CIA), harus diingat bahwa
      dokumen itu dibuat pada dekade 1940-an, sementara
      teori tektonik lempeng, yang bisa menjelaskan asal
      usul dan dinamika gempa tektonik, baru muncul pada
      tahun 1960-an.

      6. Tectonic Setting

      Vialls memang benar, di antara P. Nias dan P. Simeulue
      terdapat triple junction lempeng India, lempeng
      Eurasia (Sunda) dan mikrolempeng Burma. Mengenai
      tectonic setting untuk P. Sumatra dan sekitarnya, ada
      artikel sangat menarik dari geolog Awang Satyana (di
      mailing list-nya Unpad, diposting pada 25/04/2004 dan
      05/01/2005), Carayannis (2005) serta geoseismolog
      Danny Hilman (2005).

      Awalnya, Sumatra dan Jawa merupakan satu pulau besar
      yang menjadi margin lempeng Eurasia. Oleh desakan
      lempeng Australia (di Jawa dan sebagian Sumatra) serta
      lempeng India (di ujung Sumatra), pulau besar ini
      "robek" bagian tengahnya dan terbukalah Selat Sunda
      yang bentuknya mirip segitiga dan makin melebar ke
      arah selatan. Selanjutnya Jawa dan Sumatra terotasi
      dengan arah berbeda. Jawa mengalami rotasi berlawanan
      arah dengan jarum jam (sehingga posisi Jawa Timur
      dulunya lebih ke selatan dari sekarang) akibat
      subduksi tegak lurus (frontal) lempeng Australia yang
      bergerak dengan kecepatan 20 mm/tahun ke utara.
      Sedangkan Sumatra terotasikan searah dengan jarum jam
      oleh subduksi miring lempeng Australia (kecepatan 52 -
      60 mm/tahun, lebih tinggi dibanding di Jawa) dan India
      (kecepatan 61 mm/tahun) ke timur laut. Dan berbeda
      dengan di Jawa yang stabil, di Sumatra lempeng Eurasia
      bergerak ke barat daya (dengan kecepatan 10 - 27
      mm/tahun) untuk mengimbangi desakan kedua lempeng "
      lawannya ".

      Akibatnya bisa dibayangkan, desak mendesak antar
      lempeng ini, ditambah subduksi miring, membuat daratan
      Sumatra terbelah. Muncul retakan besar yang membelah
      pulau itu secara asimetrik, mulai dari Selat Sunda
      hingga ke P. Sabang. Itulah patahan besar Sumatra
      (sesar Semangko), yang menjadi dasar berdirinya
      gunung2 berapi Sumatra. Patahan sejenis, yang paralel
      dengan panjang hampir sama, muncul pula di dasar laut
      antara Sumatra dengan pulau2 kecil di sebelah
      baratnya. Itulah patahan Mentawai, yang menjadi
      populer saat meletup gempa kuat Bengkulu (2000).
      Bersama palung Sunda (zona subduksi) di sebelah barat,
      patahan Mentawai menjadi pembatas yang memisahkan 7
      segmen pulau2 kecil itu (mulai Enggano di selatan
      hingga Nias di utara) terhadap daratan Sumatra.

      Situasi yang lebih kompleks muncul di ujung utara
      Sumatra hingga Kep. Andaman. Disini terdapat dua
      segmen : Simeulue dan Andaman. Di antara Simeulue dan
      Nias memang terdapat sebuah triple junction (seperti
      yang dimaksud Vialls), dimana melintang patahan
      Pre-Batee dari zona subduksi menuju dataran tinggi
      Gayo-Alas untuk bertemu dengan patahan besar Sumatra.
      Patahan Pre-Batee bersifat divergen dan kelak diyakini
      akan semakin melebar hingga terbentuk lembah memanjang
      yang besar seperti Laut Merah, dengan punggungan
      pemekaran samudera (mid oceanic ridge) di tengah2nya.
      Patahan Pre-Batee inilah yang membuat provinsi NAD
      terbelah menjadi dua, sebelah barat (bersama Kep.
      Andaman dan Nicobar) merupakan bagian mikrolempeng
      Burma, sementara sebelah timur tetap menjadi bagian
      lempeng Sunda. Adanya mikrolempeng Burma juga membuat
      posisi zona subduksi lebih menjorok ke lautan terhadap
      daratan Sumatra (berpola konvex ke arah samudera),
      dibandingkan zona subduksi yang ada di segmen Nias -
      Enggano. Inilah prisma akresi Sumatra.

      Berbeda dengan segmen Nias - Enggano, tumbukan lempeng
      India dan mikrolempeng Burma di segmen Simeulue tidak
      berbentuk zona subduksi (palung laut), melainkan
      saling berhadapan/bergesekan (orthogonal, hampir
      frontal) membentuk patahan. Kondisi hampir mirip
      muncul di segmen Andaman, dimana interaksi kedua
      lempeng membentuk patahan kompresif (thrust). Secara
      sederhana bisa dikatakan, di kedua segmen ini, kedua
      lempeng berada dalam posisi " terkunci " (locked),
      berbeda bila ada zona subduksi " normal ", dimana
      sebuah lempeng yang menyusup di bawah lempeng lainnya
      bisa terus bergerak leluasa tanpa banyak hambatan.
      Pada segmen Simeulue pula patahan Mentawai berakhir.

      Menurut Danny Hilman N (2004), segmen yang " terkunci
      " bukanlah monopoli Simeulue dan Andaman semata, namun
      juga menghinggapi semua segmen di barat Sumatra. Kep.
      Mentawai misalnya, karena segmennya " terkunci ", ia
      bergerak mendekati daratan Sumatra dengan kecepatan 30
      - 50 mm/tahun ke arah utara-timur. Desakan lempeng
      Australia membuat lempeng Sunda tempat berdirinya Kep.
      Mentawai mengalami pemendekan (shortening) dan
      sekaligus penggelembungan, sehingga pantai barat
      Sumatra terangkat sementara Kep. Mentawai mengalami
      penurunan ketinggian 1 - 6 mm/tahun (lihat Kompas,
      10/01/2005). Begitu batas daya tahan lempeng Eurasia
      tercapai, yang memunculkan letupan energi ke permukaan
      Bumi sebagai gempa Bengkulu (2000), terjadi proses
      pemanjangan kembali (extension) lempeng Sunda disertai
      kenaikan (uplift) P. Nias dan penurunan (subsidence)
      pantai barat Sumatra. Pemanjangan ini membuat Kep.
      Mentawai kembali menjauhi daratan Sumatra dengan
      tambahan jarak 15 cm. Analisis mikroatol di sekitar
      pulau2 kecil itu menunjukkan terjadinya gempa2 kuat
      dan besar dengan mekanisme yang sama telah terjadi
      pada tahun 1797 (Kep. Mentawai, Mw = 8,4), 1833 (Kep.
      Mentawai, Mw = 8,7), 1843 (P. Nias, Mw tidak
      diketahui), 1861 (P. Nias, Mw = 8,5), 1881 (Kep.
      Andaman, Mw = 7,9), 1941 (Kep. Andaman, Mw = 7,7) dan
      2002 (P. Simeulue, Mw > 7). Ilustrasi menarik soal
      pemendekan dan pemanjangan lempeng yang tertekan di
      zona subduksi ini bisa dilihat di situs Univ of
      Washington (Ocean 410 : Marine Geology and Geophysics,
      Unit 12 : Geological Hazards in the Pacific Northwest,
      http://gore.ocean.washington.edu/classpages/ocean410/notes/unit12.htm).
      Sayangnya Danny Hilman tidak bisa menyelidiki segmen
      Simeulue akibat konflik berkepanjangan di NAD,
      sehingga bagaimana situasi segmen Simeulue tidak bisa
      diketahui dengan pasti.

      Gempa besar 26 Desember 2004 silam terjadi akibat
      segmen Simeulue yang " terkunci " mengalami kompresi
      (thrust) oleh desakan lempeng India. Pada segmen yang
      " terkunci " seperti ini, tidak ada upaya apapun yang
      bisa dilakukan oleh manusia untuk
      memperlambat/mempercepat terjadinya kompresi, meski
      diupayakan dengan ledakan nuklir bawah permukaan
      sekalipun (seperti diilustrasikan Hollywood dalam film
      " 10.5 " nya).

      Yang luar biasa, sewaktu kompresi terjadi, pada saat
      bersamaan lempeng India juga mulai melakukan subduksi,
      menelusup di bawah mikrolempeng Burma, setelah
      sebelumnya selama berjuta-juta tahun hanya berhadapan
      frontal. Yang luar biasa lagi, subduksi pada segmen
      Simeulue juga menyeret segmen Andaman untuk melakukan
      hal yang sama. Akibatnya, selain terjadi guncangan
      tanah yang luar biasa (dengan Mw = 9,3), durasi gempa
      juga berlangsung cukup lama (> 5 menit, ada pula yang
      menyebut hingga 15 menit). Seismologi menyebut
      kejadian ini sebagai gempa megathrust dan terakhir
      kali dialami dunia 4 dekade silam, dalam gempa Good
      Friday 1964 di Alaska.

      Gempa besar ini menimbulkan perubahan besar di segmen
      Simeulue. Telah terdeteksi terjadinya extension dan
      subsidence secara bersamaan pada mikrolempeng Burma.
      Pantai utara dan barat P. Simeulue - daerah terdekat
      dengan hiposentrum gempa - mengalami uplift setinggi
      1 - 1,5 m dengan lebar daratan bertambah panjang
      hingga 1 km ke arah laut (International Tsunami Survey
      Team, dalam Kompas, 01/02/2005). Extension membuat
      pulau ini (dan juga P. Nias) menjauhi daratan Sumatra
      dengan pertambahan jarak 10 m (LIPI, dalam Kompas,
      01/01/2005). Data kapal riset Natsushima menunjukkan,
      uplift ini terjadi di seluruh sisi barat segmen
      Simeulue dan Andaman (yang berdekatan dengan zona
      subduksi), dengan kenaikan rata2 10 - 13 m. Daerah
      yang mengalami uplift berbentuk persegi panjang,
      dengan panjang 1300 km dan lebar 70 km. Akibat
      extension ini, terjadi pergeseran berskala besar. Di
      Langsa dan Tapaktuan, pergeseran yang terjadi mencapai
      0,6 - 4 m, sementara di pantai timur Thailand mencapai
      0,3 m. Secara keseluruhan ujung utara Sumatra itu,
      beserta sebagian kecil semenanjung Malaya, mengalami
      pergeseran rata2 sebesar 1 - 3 m ke arah barat daya.
      Bukan hanya itu. Posisi kutub utara geografis pun
      dipastikan bergeser 2,5 cm ke arah garis 135deg BT,
      sementara posisi tiap titik di seluruh dunia, tanpa
      terkecuali, telah bergeser 1 cm dari semula.

      Sebaliknya, subsidence terjadi di daratan Sumatra.
      Subsidence di garis pantai kota Banda Aceh membuat
      batas air laut masuk ke daratan hingga 57 m dari
      semula. Sementara garis pantai pesisir barat propvinsi
      NAD mengalami subsidence rata2 sebesar 2 m
      (International Tsunami Survey Team, dalam Kompas,
      23/02/2005). Subsidence dipastikan juga terjadi pada
      dasar lautan di utara Simeulue, atau sering pula
      disebut cekungan Aceh. Di dasar lautan ini juga
      terjadi kerusakan yang luar biasa. Kapal riset Baruna
      Jaya IV (BPPT) selama pelayarannya (16/01/2005 -
      04/02/2005) menemukan rusaknya struktur sedimen di
      perairan dangkal dekat Meulaboh. Sementara di utara,
      di perairan lepas pantai Calang, ditemukan adanya
      rupture lebar berarah timur laut - barat daya, yang
      terisi sedimen baru dari daratan. Survey kapal HMS
      Scott (Inggris) di sebelah barat Simeulue menunjukkan
      adanya runtuhan dasar laut selebar 5 - 15 km, persis
      di dekat zona subduksi (lihat Kompas, 23/02/2005).
      Sementara di utara, di Kep. Andaman dan Nicobar,
      subsidence telah memecah P. Trinket menjadi 2 bagian
      dan sekaligus membuat mud volcano Baratang bererupsi.

      Yang menarik, selama dua bulan seelah gempa utama 26
      Desember 2004, terdeteksi 18.000 gempa susulan
      (aftershock) dengan distribusi hiposentrum menunjukkan
      kecenderungan lebih banyak di segmen Andaman. Hal ini
      terjadi karena lempeng India bergerak ke timur laut,
      sementara lempeng Eurasia bergerak ke barat daya,
      sehingga mikrolempeng Burma yang terjepit di
      tengah2nya menyetabilkan diri dengan mengarahkan sisa
      energi gempa utama 26 Desember 2004 ke arah resultan
      gerakan dua lempeng besar tersebut, yakni ke barat
      laut, dimana terdapat segmen Andaman.

      Dengan semua data ini, teori Vialls tidak bisa
      diterima mengingat tidak adanya perubahan dasar laut
      di antara Simeulue - Nias. Bila ledakan nuklir yang
      dimaksud Vialls bisa memicu ketidakstabilan di triple
      junction - meski dari pengalaman eksperimen detonasi
      senjata nuklir bawah permukaan kita tahu bahwa hal itu
      tidak terjadi, maka logikanya, yang berperanan dalam
      menciptakan gempa seharusnya segmen Simeulue dan Nias.
      Maka seharusnya kita bisa mendapatkan data adanya
      subsidence atau uplift di sekitar triple junction itu,
      yakni di Simeulue selatan, Nias utara dan pulau2 kecil
      diantaranya. Namun ternyata subsidence/uplift itu
      tidak terjadi dari Simeulue selatan hingga ke Nias.
      Selain itu, dengan adanya desakan lempeng India dan
      Eurasia, seharusnya distribusi hiposentrum gempa2
      susulannya mengarah ke barat laut dari titik triple
      junction, alias di segmen Simeulue. Hal ini
      bertentangan dengan fakta yang ada.

      7. Ketinggian dan Energi Tsunami

      Ledakan nuklir - di dasar laut - memang dikenal
      sebagai salah satu penyebab terjadinya tsunami, selain
      gempa tektonik, letusan gunung berapi, tanah longsor
      dan tumbukan asteroid di laut. Tsunami produk ledakan
      nuklir juga merupakan tsunami hasil kreasi manusia,
      selain tanah longsor (buatan). Ledakan nuklir di dasar
      laut menyebabkan terbentuknya cekungan (kawah besar),,
      yang memerosotkan kolom air laut di atasnya. Akibatnya
      pada kolom air laut tersebut terjadi olakan yang
      diikuti dengan arus balik ke atas dan disusul
      penjalaran gelombang mendatar sebagai upaya dari kolom
      tersebut untuk memperoleh kembali kesetimbangan
      permukaannya. Mengenai tsunami akibat tanah longsor
      (buatan), kasus menarik terjadi di Perancis selatan,
      pada 1983, saat terjadi pembangunan bandara dengan
      landasan yang menjorok ke arah laut (persis seperti
      landasan bandara Ngurah Rai di Bali). Rupanya getaran
      alat berat membuat sedimen lunak di lepas pantai
      rontok, dan akibatnya timbul tsunami lokal yang
      merusak dermaga Thebes.

      Dilihat dari bentuk TGA (tsunami generating area)-nya,
      ledakan nuklir memiliki TGA berbentuk lingkaran, sama
      halnya dengan tanah longsor, letusan gunung berapi dan
      tumbukan asteroid. Sementara gempa bumi menghasilkan
      TGA berbentuk elliptik/persegi panjang, sesuai dengan
      bentuk patahan/rupture-nya.

      Eksperimen detonasi senjata nuklir di Kep. atol
      Bikini, Samudra Pasifik, yang dilakukan AEC sejak
      pasca Perang Dunia 2 hingga pertengahan dekade 1960-an
      menyajikan banyak informasi mengenai sifat-sifat
      tsunami dengan TGA berbentuk lingkaran, khususnya
      tsunami produk ledakan nuklir. Tinggi tsunami (H,
      dalam meter) merupakan fungsi dari energi ledakan (W,
      dalam kiloton), kedalaman laut di titik ledakan (d,
      dalam meter) dan jarak horizontal dari titik ledakan
      (r, dalam meter), yang dinyatakan dalam bentuk :

      H = 45 (d/r) W^(0,25) (7)

      Hubungan ini didapatkan ketika AEC meledakkan bom "
      Baker " pada 24 Juli 1946, yang melepaskan energi 21
      kiloton (setara bom Nagasaki). Peledakan2 berikutnya
      mengonfirmasikan hubungan tersebut.

      Tsunami merupakan gelombang panjang yang menjalar
      dengan kecepatan tinggi, dimana tinggi gelombangnya
      sangat kecil bila dibandingkan dengan panjang
      gelombangnya. Pengamatan satelit TOPEX/Posseidon
      (NASA) dalam kejadian 26 Desember 2004 menunjukkan,
      tinggi tsunami saat itu 'hanya' 30 cm (di laut lepas),
      namun panjang gelombangnya melebihi 500 km.

      Kedahsyatan sebuah tsunami dipengaruhi oleh besarnya
      energi yang diangkutnya serta bentuk garis pantai yang
      dihantamnya. Kita mengetahui bahwa pada pantai2 yang
      berteluk/bermuara sungai, tsunami menjadi lebih
      dahsyat karena bentuk2 pantai seperti itu membuat
      energi dan massa air laut terakumulasikan demikian
      rupa bila dibandingkan garis pantai yang datar.
      Menurut Yabushita (1998), tsunami dahsyat umumnya
      memiliki energi sekitar 2 megaton. Sementara daya
      jangkau tsunami bergantung pada bentuk gelombangnya,
      yang berarti dipengaruhi juga oleh TGA-nya. Menurut
      Crawford dan Mader (1998), sebuah tsunami yang berdaya
      jangkau sangat jauh haruslah berbentuk gelombang
      koheren, sehingga tidak terjadi proses dissipasi
      (kehilangan) energi yang substansial saat tsunami
      menempuh jarak yang sangat jauh. Untuk menghasilkan
      gelombang koheren, diameter " cekungan temporer " pada
      permukaan air laut di atas TGA-nya harus 3 - 5 kali
      lebih besar dari kedalaman laut setempat (Paine; 1999;
      Tsunami from Asteroid/Comet Impacts; Australian
      Spaceguard Survey;
      http://www1.tpgi.com.au/users/tps-seti/spacegd7.html).
      Dari rangkaian eksperimen AEC, Glasstone dan Dolan
      (1972) secara empirik mendapatkan hubungan antara
      diameter cekungan (D, dalam meter) dengan energi
      ledakan (W, dalam kiloton) sebagai berikut :

      D = 2CW^(0,33) (dl)^(-0,25) (8)

      dengan d densitas media di titik ledak (dalam g/cc), l
      kedalaman titik ledak (dalam meter) dan C konstanta
      yang bergantung pada jenis media di titik ledak. Untuk
      dasar laut, dimana medianya berupa tanah alluvial
      (endapan), C = 64,33 - 76,45 dan d = 2,0 g/cc.

      Mari kita uji teori Vialls. Dengan kedalaman titik
      ledak sekitar 5 km dan W = 9 megaton, maka menurut
      persamaan 8 kita mendapatkan diameter " cekungan
      temporer " di permukaan air laut antara 270 - 320
      meter. Ini sangat kecil bila dibandingkan batas
      minimal menurut Crawford dan Mader, yang harus sebesar
      15 km, agar berbentuk gelombang koheren. Maka bisa
      dikatakan bahwa tsunami teori Vialls bukanlah jenis
      tsunami yang mampu merambat sangat jauh.

      Berdasarkan persamaan 7, ketinggian tsunami dalam
      berbagai jarak ditabulasikan sebagai berikut :

      Tabel 1

      --------------------------
      r (km) H (meter)
      --------------------------
      10 220
      50 44
      100 22
      150 15
      200 11
      300 7
      500 4
      1000 2
      2000 1
      5000 0,5
      ---------------------------

      Tsunami dengan TGA lingkaran dikenal memiliki
      ketinggian awal yang cukup mencengangkan, namun dalam
      jarak yang lebih jauh, ketinggiannya mengalami
      penyusutan yang luar biasa. Carayannis (1985)
      melaporkan fenomena ini teramati dalam kejadian
      tsunami akibat letusan Gunung Krakatau (Agustus 1883)
      dan tsunami Teluk Lituya, sebuah teluk sepanjang 11 km
      dengan lebar 3 km yang terletak di Taman Nasional
      Glacier, Alaska (AS). Pada 8 Juli 1958, gempa tektonik
      (Mw = 7,9 - 8,3) mengguncang kawasan Teluk Lituya
      dengan durasi guncangan 1 menit. Akibatnya tebing
      curam Peg. Fairweather di tepi teluk rontok,
      menimbulkan longsoran gigantis dengan volume 30 juta
      km kubik (massa sekitar 45.000 trilyun ton). Sebagian
      besar longsoran ini diyakini berbentuk bongkahan
      raksasa, yang jatuh ke teluk Lituya layaknya tumbukan
      asteroid. Akibatnya di Gilbert Inlet - muara salah
      satu gletser ke teluk dan titik terdekat dengan sumber
      longsoran - tinggi tsunami mencapai 520 m ! Di pantai2
      teluk, tinggi tsunami bervariasi antara 30 - 200 m.
      Namun begitu memmasuki Samudra Pasifik, tinggi tsunami
      < 1 m dan dengan cepat menghilang. Fenomena tsunami
      Teluk Lituya memunculkan istilah megatsunami, yang
      diperuntukkan bagi tsunami2 dengan ketinggian > 100
      meter.

      Di antara Nias dan Simeulue terdapat Kep. Banyak, yang
      posisinya sangat berdekatan dengan triple junction.
      Maka bila berdasar pada teori Vialls, seharusnya di
      kepulauan ini terjadi megatsunami, yang menenggelamkan
      seluruh pulau untuk beberapa lama. Sementara Simeulue
      selatan dan Nias utara, yang jarak kasarnya sekitar
      100 km dari triple junction, seharusnya menderita
      tsunami dengan ketinggian 22 meter. Sibolga,
      Tapaktuan, dan Singkel, masing2 di pantai barat
      Sumatra yang jaraknya sekitar 200 km dari triple
      junction, seharusnya mengalami tsunami dengan
      ketinggian 11 meter. Pada jarak yang lebih jauh, yakni
      di Srilanka (> 2.000 km) dan pesisir timur Afrika (
      5.000 km), seharusnya ketinggian tsunami < 1 meter,
      sehingga tidak memakan korban. Ke arah utara,
      penjalaran tsunami dibatasi oleh daratan Sumara yang
      berarah tenggara - barat laut, sehingga logikanya
      penjalaran tsunami pun hanya mengarah ke barat laut,
      yakni ke pesisir Myanmar dan Bangladesh saja, tidak ke
      Thailand, sebagian semenanjung Malaysia dan pantai
      timur Sumatra.

      Dalam realitanya, kita tahu bahwa tsunami 26 Desember
      2004 itu menjalar ke mana2. Di pantai barat Sumatra
      dan pulau2 sekitarnya, terjangan tsunami mencapai
      ketinggian rata2 13 meter dengan variasi cukup besar,
      sebagai berikut :

      Tabel 2

      ---------------------------------
      daerah H (meter)
      ---------------------------------
      Lhoknga 34,5
      Banda Aceh 20,8
      Ulee Lheu 15,6
      Simeulue utara 15
      Simeulue selatan 3 - 4
      Sibolga 3
      Sirombu (Nias) 3
      ----------------------------------
      (International Tsunami Survey Team dalam Kompas,
      01/02/2005).

      Sementara di tempat2 lain di sepanjang pesisir Samudra
      Hindia, ketinggian tsunami juga cukup bervariasi :

      Tabel 3

      ---------------------------------
      daerah/negara H (meter)
      ---------------------------------
      Idi (Aceh timur) 3
      Khao-Lak (Thailand) 11,6
      Phi-phi (Thailand) 11
      Malaysia n/a
      Nicobar (India) 15
      Kerala (India) n/a
      Andra Pradesh (India) n/a
      Tamil Nadu (India) n/a
      Bangladesh n/a
      Sri Lanka 14
      Myanmar n/a
      Maladewa 4
      Somalia 1,3
      Kenya n/a
      Tanzania n/a
      Madagaskar 1,6 - 10
      Afrika selatan 2 - 3
      Australia 1,6
      ----------------------------------
      n/a : tidak ada data tentang ketinggian tsunami, namun
      terjadi korban jiwa/kerusakan yang cukup signifikan.

      (Carayannis; 2005; The Great Earthquake and Tsunami of
      26 December 2004 in South East Asia and the Indian
      Ocean; Special Reports, http://www.drgeorgepc.com dan
      National Geographic Indonesia, April 2005).

      Dari tabulasi ini kita tahu bahwa tsunami 26 Desember
      2004 itu menjalar hingga ke jarak yang sangat jauh.
      Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa teori Vialls tidak
      bisa dipertahankan, mengingat tsunami produk ledakan
      nuklir, dengan TGA berbentuk lingkaran, hanyalah
      menghasilkan kerusakan yang bersifat lokal seperti
      yang dimodelkan dalam tabel 1. Perbandingan antara
      pemodelan (tabel 1) dan fakta di lapangan (tabel 2)
      juga menunjukkan ketidaksinkronan, yang turut
      memperlemah teori Vialls, karena tsunami tertinggi
      justru terjadi di Lhoknga dan Banda Aceh, bukan di
      Simeulue selatan, Sibolga dan Sirombu (Nias).
      Sementara data tabel 3 menunjukkan adanya tempat2 di
      timur Sumatra yang terkena hantaman tsunami, satu hal
      yang tidak mungkin bila kita mengacu pada teori
      Vialls.

      Carayannis (1985) telah mendeduksi persamaan untuk
      menghitung energi sebuah tsunami (E, dalam erg)
      sebagai fungsi dari luas patahan/rupture dasar laut
      yang terbentuk (A, dalam cm^2) dan besarnya pergeseran
      vertikal (h, dalam cm) dalam bentuk :

      E = (dgAH^2)/6 (9)

      dengan d = densitas air laut (1,03 g/cc) dan g =
      percepatan gravitasi Bumi (981 cms^-2).

      Kita tahu dalam gempa tektonik, tsunami-nya memiliki
      TGA berbentuk ellips/persegi panjang. Carayannis
      (2005) - dari analisis distribusi hiposentrum gempa2
      susulan - menduga TGA itu berbentuk elliptik memanjang
      (seperti sosis) dengan luas 280.000 - 300.000 km^2.
      Namun dari data riset Natsushima, kita tahu bahwa luas
      TGA = 1300 x 70 = 91.000 km^2. Dengan pergeseran
      vertikal sebesar 10 - 13 m, kita mendapatkan besarnya
      energi tsunami 1,532 - 2,589 . 10^23 erg (3,66 - 6,19
      megaton). Dengan energi > 2 megaton ini, kita tahu
      bahwa tsunami 26 Desember 2004 itu memang jenis
      tsunami dahsyat. Dengan daya jangkau sedemikian jauh,
      tsunami dahsyat ini dipastikan juga merupakan
      gelombang koheren. Dahsyatnya tsunami ini juga dipicu
      oleh terjadinya perombakan besar (berbentuk longsoran
      dasar laut yang gigantis) dalam lapisan sedimen di
      segmen Andaman. Penyelidikan kapal Natsushima
      menunjukkan, lapisan sedimen yang berasal dari erosi
      Peg. Himalaya ini mengalami uplift dan kemudian
      terlongsorkan hingga kedalaman 1 km (Kompas,
      26/07/2005).

      8. Sedimen Tsunami

      Titik lemah lain dari teori Vialls terletak pada
      kandungan unsur2 dalam sedimen yang diendapkan oleh
      tsunami (tsunamit, berdasar istilah para geolog). Kita
      tahu bahwa senjata nuklir berbahan dasar unsur2 berat
      yang bersifat radioaktif, seperti Uranium-235
      diperkaya dan Plutonium-239. Dalam perancangan senjata
      nuklir, menurut Carey Sublette (2001, lihat dalam
      Nuclear Weapons FAQ), dikenal istilah efisiensi fissi,
      yakni perbandingan antara jumlah inti2 yang mengalami
      reaksi fissi dengan jumlah inti keseluruhan. Efisiensi
      fissi tidak pernah mencapai 100 %. Dua bom nuklir
      pertama dalam sejarah, yakni " Little Boy " dan " Fat
      Man ", masing2 memiliki efisiensi 1,4 % dan 17 % saja.
      Untuk meningkatkan efisiensi fissi ini, biasanya para
      perancang senjata nuklir menyertakan campuran
      Tririum-Deuterium dalam berbagai bentuk (yang terkenal
      adalah Sloika/Alarm Clock karya Andrei Sakharov yang
      digunakan Uni Soviet dan Teller - Ulam sausage/Staged
      Radiation Implosion karya Edward Teller - Stanislav
      Ulam yang digunakan AS) untuk menjalankan reaksi fusi
      nuklir (yang dipicu reaksi fissi awal) guna
      menciptakan banjir neutron yang akan memicu reaksi
      fissi utama. Namun, nilai efisiensi tertinggi, yang
      berhasil didapatkan Afrika Selatan selama menjalankan
      program nuklirnya (dan kini sudah diakhiri), hanyalah
      50 %. Artinya, masih ada sisa dari inti2 yang tidak
      mengalami reaksi dan kemudian ikut tercampur dalam
      produk reaksi fissi (sampah nuklir).

      Produk reaksi fissi itu sendiri bermacam-macam, namun
      senantiasa mengandung empat isotop penting :
      Strontium-90 (half life = 28 tahun), Cesium-137 (half
      life = 30 tahun), Iodium-131 (half life = 8 hari) dan
      Carbon-14 (half life > 5.000 tahun). Sebuah ledakan
      nuklir biasanya menghasilkan isotop unsur2 berat
      sejumlah 5 kg, diantaranya sisa
      Uranium-235/Plutonium-239 dan unsur2 transuranik
      pemancar sinar alfa dan gamma (Plutonium-240 dan
      Amerisium-241). Isotop2 inilah yang (harusnya)
      terkandung dalam tsunamit versi teori Vialls.
      Logikanya, ketika bom itu diledakkan di atas triple
      junction, sampah nuklirnya akan terbawa ke permukaan
      bersamaan dengan ovreshoot, dan selanjutnya bergerak
      ke daratan lewat tsunami. Dengan demikian (seharusnya)
      tsunamit yang mengandung sampah nuklir berkonsentrasi
      tinggi bisa ditemukan di Simeulue selatan, Nias utara
      dan pantai barat Sumatra (dari Sibolga hingga
      Tapaktuan).

      Dalam menganalisis Bom Bali I, Vialls pernah berteori,
      dengan teknik tertentu isotop2 pemancar sinar gamma
      (Cesium-137, Iodium-131 dan unsur2 berat) bisa
      dihilangkan sehingga tinggal menyisakan isotop
      pemancar alfa-nya saja. Hal ini jelas bertentangan
      dengan konsep fisika modern, dimana sifat radioaktif
      dari isotop tertentu hanya bisa diubah bila
      berlangsung transmutasi nuklir, baik dalam bentuk
      peluruhan radioaktif (yang bersifat alami) maupun
      lewat reaksi nuklir (yang bersifat buatan). Maka untuk
      menghilangkan beberapa isotop itu, harus dilakukan
      reaksi nuklir tambahan (dengan proyektil proton
      berenergi tinggi) yang beroperasi bersamaan dengan
      reaksi fissi itu sendiri. Hal itu jelas tidak mungkin,
      mengingat untuk memproduksi proton berenergi tinggi
      membutuhkan perangkat akselerator khusus berukuran
      besar (siklotron maupun cosmotron). Sementara ledakan
      nuklir jelas akan menghancurkan akselerator tersebut.

      Stronsium-90 secara kimiawi mampu menyubstitusi
      Kalsium sehingga akan didepositkan dalam tulang dan
      menyebabkan kanker tulang. Sifat kimiawi Cesium-137
      sangat mirip dengan Kalium, sehingga bisa masuk ke
      dalam darah dan menyebabkan leukemia. Adapun
      Iodium-131, secara kimiawi terendapkan di dalam
      kelenjar tiroid dan sangat merusak, karena waktu
      paruhnya yang sangat pendek (sehingga aktivitas
      radiasinya luar biasa besarnya dibanding produk2 fissi
      lainnya), memicu kanker tiroid. Sedangkan Carbon-14,
      bisa tertransfer ke dalam inti sel dan menjadi bagian
      dari material genetik (DNA maupun RNA) yang bisa
      memicu mutasi (genetik maupun somatis), meski
      pengalaman di Hiroshima dan Nagasaki menunjukkan hanya
      mutasi somatis saja yang terjadi. Sementara unsur2
      berat umumnya terdepositkan dalam paru2 dan mampu
      menyebabkan kanker paru2.

      Realitanya, tsunamit di pantai barat Sumatra tidak
      mengandung isotop2 khas sampah nuklir, namun justru
      mengandung unsur Belerang yang berlebih (Syamsul
      Rizal, dalam Kompas 17/03/2005). Terbentuknya rupture
      hingga ke segmen Andaman membuat segmen ini turut
      mengalami extension dan subsidence/uplift. Proses ini
      diyakini menghasilkan retakan2/patahan2 kecil di dasar
      laut sekitar Kep. Andaman/Nicobar, yang merobek
      deposit2 Belerang di dalamnya hingga bersentuhan
      dengan lingkungan perairan. Keberadaan deposit2
      Belerang ini sangat memungkinkan, karena Kep
      Andaman/Nicobar merupakan kepulauan vulkanis, dengan
      sejumlah kerucut gunung berapi, baik yang masih aktif
      (Gunung Barren, Gunung Baratang) maupun yang sudah
      padam. Beberapa diantara gunung berapi itu ada di
      bawah permukaan laut. Busur vulkanis ini berakhir di
      ujung utara Sumatra, tepatnya di P. Weh (Carayannis;
      2005; The Great Earthquake and Tsunami of 28 March
      2005 in Sumatra, Indonesia; A Special Report;
      http://www/drgeorgepc.com).

      Melimpahnya unsur Belerang juga menjadi jawaban
      mengapa sejumlah jenazah korban tsunami tampak
      menghitam, seperti hangus. Proses pembentukan rupture
      (demikian juga retakan2 dan patahan2 kecil yang
      menyertainya) selalu diikuti dengan terjadinya
      pelelehan batuan setempat akibat suhu tinggi menyusul
      besarnya gesekan. Batuan yang meleleh ini - baik
      batuan beku maupun sedimen - kemudian membeku kembali
      dan berubah wujud menjadi batuan malihan (metamorf)
      lewat proses milonitisasi. Suhu tinggi itu juga
      membuat sebagian Belerang dalam depositnya terpanaskan
      dan akibatnya terjadi reaksi kimiawi dengan atom2
      Oksigen, sehingga terbentuklah Sulfur Dioksida (SO2)
      dan Sulfur Trioksida (SO3). Ketika bersentuhan dengan
      air laut, Sulfur Dioksida dan Sulfur Trioksida
      langsung bereaksi menghasilkan Asam Sulfit (asam
      lemah) dan Asam Sulfat (asam kuat). Persentuhan Asam
      Sulfat dengan jaringan kulit manusia membuat kulit
      rusak dan nampak hangus.

      Kondisi seperti ini, dalam skala yang lebih kecil dan
      konteks bencana yang berbeda, pernah terjadi pada
      Februari 1979 saat Kawah Sinila (Dieng, Banjarnegara)
      meletus dan merobek deposit solfatara (sumber gas
      Belerang) di dalamnya. Akibatnya gas Belerang
      terpanaskan dan segera bercampur dengan uap air panas
      di sekitarnya, menghasilkan " Awan Asam Sulfat " yang
      bergerak ke desa Sinila, Simbar dan Kepucukan
      didekatnya, hingga menewaskan 140 orang dengan tubuh
      hangus.

      Jadi, jenazah2 yang tampak hitam itu bukan disebabkan
      oleh radiasi panas produk ledakan bom, seperti halnya
      korban2 di Nagasaki dan Hiroshima 6 dekade silam.
      Lagipula, dari serangkaian eksperimen AEC di Kep. atol
      Bikini, diketahui bahwa dalam ledakan nuklir di bawah
      permukaan laut, radiasi panas yang terbentuk - dibawa
      oleh foton2 sinar inframerah - tidak mampu menembus
      kolom air laut di sekitarnya. Karena foton inframerah
      memang memiliki karakteristik untuk diserap oleh
      molekul2 air.

      9. Perbandingan dengan Gempa Besar 28 Maret 2005

      Hanya berselang 3 bulan setelah gempa besar 26
      Desember 2004, terjadi gempa besar yang mengguncang P.
      Nias dan sekitarnya, pada 28 Maret 2005 pukul 23:10
      WIB. BMG menyebut gempa ini memiliki Mw = 8,7
      sementara menurut USGS dan Pacific Tsunami Warning
      Center Mw = 8,2. Hiposentrum gempa terletak di dasar
      Kep. Banyak, berdekatan dengan titik triple junction,
      dan hanya berjarak 160 km dari hiposentrum gempa besar
      26 Desember 2004.

      Dari analisis distribusi hiposentrum gempa2
      susulannya, Danny Hilman (2005) menyimpulkan gempa ini
      dipicu oleh terbentuknya patahan/rupture sepanjang 400
      km dengan lebar 200 km dan pergeseran (slip) maksimal
      sebesar 6 meter. Dengan menggunakan persamaan 4 dan 5,
      untuk Mw = 8,7 kita mendapatkan besarnya energi gempa
      54 - 324 megaton. Dengan energi sebesar ini, cukup
      mengherankan bahwa gempa besar tersebut tidak
      menimbulkan tsunami sedahsyat tsunami 26 Desember
      2004. Padahal secara teoritis, untuk kedalaman
      hiposentrum 32 km, gempa dengan Mw > 6,8 sudah cukup
      untuk menghasilkan tsunami yang merusak. Keanehan ini
      juga yang menjadi salah satu argumen teori Vialls.

      Tsunami yang diproduksi gempa 28 Maret 2005 ini kecil.
      Stasiun pasang surut di P. Cocos, sebelah barat
      Australia, mencatat ketinggian tsunami 28 Maret 2005
      di laut lepas sebesar 25 cm. Berbeda dengan tsunami 26
      Desember 2004 yang mencapai 33 cm.

      Carayannis (2005) menjawab persoalan timbulnya gempa
      besar 28 Maret 2005 ini dan ketiadaan tsunami merusak
      dengan menggunakan pendekatan yang sama seperti saat
      membahas gempa dan tsunami 26 Desember 2005, yang
      berbasis pada hasil penyelidikan Danny Hilam dan Kerry
      Sieh. Munculnya subduksi lempeng India terhadap
      mikrolempeng Burma dalam segmen Simeulue, dimana
      lempeng India bergerak ke timur laut dan segmen
      Simeulue sendiri mengalami pergeseran besar (20 m) ke
      arah barat laut menimbulkan tekanan tektonis yang
      sangat besar terhadap segmen Nias. Segmen Nias
      sendiri, yang bertumbukan dengan lempeng Australia,
      terakhir kali mengalami gempa besar hampir 1,5 abad
      silam (pada 1861 dengan Mw = 8,5), sehingga sangat
      berpotensi untuk meletupkan gempa besar lagi mengingat
      pada seluruh segmen di barat Sumatra, periode
      pengulangan gempa2 besar (rata2) sekitar 200 tahun.
      Tambahan tekanan akibat pergeseran segmen Simeulue
      disebelah utara nampaknya membuat periode pengulangan
      gempa besar di segmen Nias menjadi lebih pendek.

      Namun mekanisme tektonis yang bekerja di segmen Nias
      sangat berbeda dibandingkan yang terjadi di segmen
      Simeulue. Pada segmen Simeulue, mekanismenya sangat
      didominasi kompresi ultrabesar (megathrust) dengan
      komponen minor berupa pergeseran horizontal
      (strike-slip) ke arah barat laut, maka pada segmen
      Nias mekanisme dominannya berupa pergeseran
      horizontal, juga ke arah barat laut. Dalam segmen Nias
      juga terjadi kompresi (thrust) dengan segala
      gejalanya, seperti extension dan uplift/subsidence.
      Subsidence terjadi di pantai barat dan barat laut P.
      Nias, sementara uplift mengangkat pantai timur dan
      tenggara P. Nias hingga ketinggian 2 meter dari
      semula. Memang menakjubkan bahwa uplift terjadi di
      sisi timur zona patahan/rupture segmen Nias, sehingga
      otomatis tsunami yang terbentuk akan didisipasikan
      menuju barat daya, ke tengah Samudra Hindia, seperti
      yang disimulasikan Pacific Tsunami Warnig Genter,
      Hawaii (Carayannis; 2005; The Great Earthquake and
      Tsunami of 28 March 2005 in Sumatra, Indonesia; A
      Special Report; http://www/drgeorgepc.com). Hal ini
      juga menunjukkan situasi yang sangat berbeda
      dibandingkan dengan gempa 1883, yang menghasilkan
      tsunami sedahsyat tsunami 26 Desember 2004 silam.

      Kecilnya tsunami dalam gempa besar 28 Maret 2005 juga
      ditopang oleh tipisnya lapisan sedimen dasar laut di
      segmen Nias. Dengan mekanisme tektonis dominan berupa
      pergeseran horizontal, sedimen yang tipis ini relatif
      tidak mengalami kerusakan berat dalam bentuk longsoran
      gigantis. Situasi yang sangat berbeda terjadi di
      segmen Simeulue dan Andaman, dimana gempa yang
      didominasi kompresi ultrakuat (megathrust) mengenai
      lapisan sedimen tebal dan diikuti longsoran dasar laut
      gigantis sehingga terbitlah tsunami dahsyat itu.

      Survey kapal riset Natsushima mendukung kesimpulan
      Carayannis. Tidak ditemukan patahan dasar laut yang
      baru, sama seperti kondisi di segmen Simeulue (lihat
      Kompas, 26/07/2005). Topografi dasar laut juga relatif
      utuh, dengan beberapa longsoran kecil di sana-sini.
      Sisi barat rupture ini berada di zona subduksi,
      sementara sisi timur dibatasi oleh patahan Mentawai.
      Rupture ini sama persis dengan rupture yang terbentuk
      pada gempa besar 1861, hanya saja lebih pendek. Hal
      ini memunculkan dugaan bahwa kompresi dan pergeseran
      horizontal yang terjadi di rupture baru ini belum
      mencapai kondisi maksimumnya, yang mengindikasikan
      kemungkinan belum terlepasnya semua tekanan tektonis
      dalam segmen Nias. Artinya, ada kemungkinan segmen ini
      akan kembali meletup untuk melepaskan semua sisa
      tekanan tektonis yang dikandungnya dalam gempa besar
      berikutnya.

      10. Epilog

      Dengan semua uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
      gempa besar dan tsunami dahsyat 26 Desember 2004
      bukanlah berasal atau dipicu oleh ledakan nuklir dasar
      laut, namun memang dihasilkan oleh aktivitas tektonik
      yang luar biasa. Dengan demikian, teori konspirasi
      Vialls tidak bisa dibuktikan.

      Harus diakui, teori Vialls sungguh menggelitik. Saya
      pribadi membayangkannya seperti apa yang ada dalam "
      Under Siege 2 ", yang dibintangi aktor bertampang
      dingin Steven Seagal. Dimana diceritakans ekelompok
      teroris berteknologi tinggi berhasil membajak satelit
      " Grazer 1 " milik Pentagon, satelit yang berkemampuan
      meletupkan gempa di suatu kawasan yang dikehendaki
      dengan metode subterranean. Namun jika kita keluar
      sejenak dari dunia fiksi ini, nampak bahwa metode
      pembangkitan gempa lewat satelit sama sekali tidak
      bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Demikian pula
      dengan pembangkitan gempa besar 26 Desember 2004 lewat
      ledakan nuklir dasar laut sebagai pemicu.

      Yang justru harus kita pikirkan, gempa besar 26
      Desember 2004 menyadarkan kita bahwa kepulauan
      Nusantara tempat Indonesia berdiri ini secara geologis
      memang tergolong sangat rapuh, mengingat tiga lempeng
      tektonik utama di Bumi bertemu di sini. Danny Hilman
      dan mentornya Kerry Sieh telah memberikan sumbangan
      signifikan dalam memahami siklus gempa2 besar di
      Indonesia, namun mereka baru menyelidiki zona subduksi
      Sumatra saja. Masih ada zona subduksi Jawa dan zona2
      subduksi yang lebih kompleks seperti Nusa Tenggara,
      Sulawesi Utara, Kep. Maluku dan Irian utara yang sama
      sekali belum diselidiki, padahal potensi bahaya gempa
      besar yang dikandungnya sama saja dengan potensi zona
      subduksi Sumatra.

      __________________________________________________
      Do You Yahoo!?
      Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
      http://mail.yahoo.com
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.