Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Eskatologi dalam Injil Sinopsis [3]

Expand Messages
  • Yohannes
    ESKATOLOGI DALAM INJIL SINOPSIS [3] Kebanyakan dari eskatologi Yesus seperti yang dilaporkan oleh Injil Sinoptik berkenaan dengan kejadian-kejadian yang
    Message 1 of 1 , Sep 29, 2000
    View Source
    • 0 Attachment
      ESKATOLOGI DALAM INJIL SINOPSIS [3]

      Kebanyakan dari eskatologi Yesus seperti yang dilaporkan oleh Injil
      Sinoptik berkenaan dengan kejadian-kejadian yang menyertai kedatangan
      kerajaan eskatologis Allah. Ide-ide dan petunjuk-petunjuk eskatologi
      tersebut di seluruh ajaran-Nya. Injil melaporkan dua tulisan eskatologis:
      sebuah perikop dalam Lukas, yaitu jawaban terhadap pertanyaan orang Farisi
      mengenai kedatangan kerajaan itu, dan percakapan di bukit Zaitun. Matius
      menambahkan banyak materi eskatologis, beberapa dari antaranya paralel
      dengan Lukas dan tiga perumpamaan eskatologis yang hanya terdapat dalam
      Injil Matius.

      Dari dua fakta ini jelas bahwa dalam percakapan di Bukit Zaitun pun tidak
      melaporkan khotbah Yesus yang utuh. Ini bukan berarti bahwa dalam
      percakapan di Bukit Zaitun itu Yesus tidak membahas masalah eskatologis;
      Ia pasti membahasnya. Namun, jelaslah bahwa ketiga laporan dari khotbah
      ini dalam bentuknya yang sekarang, adalah hasil suntingan para penginjil
      dengan mempergunakan tradisi-tradisi yang ada. Ini terbukti dengan fakta
      bahwa Markus 13:9b-12 tidak terdapat dalam Matius, tetapi justru dalam
      Matius 10:17-21, yaitu dalam pembicaraan tentang pengutusan Injil kepada
      kedua belas murid. Sekali lagi perikop pendek dalam Matius 24:26-28
      ternyata juga terdapat dalam Q dan juga dalam Lukas 17:23-24.

      Fakta kedua bahkan menjadikan persoalan itu lebih rumit. Sesuai dengan
      Markus 13:4 murid-murid mengajukan pertanyaan berganda kepada Yesus: Kapan
      Bait Allah itu akan dihancurkan, dan apakah yang akan menjadi tanda "kalau
      semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya?" Ada sedikit keragu-raguan
      tetapi murid-murid itu berpendapat bahwa penghancuran Bait Allah itu
      adalah salah satu kejadian yang menyertai akhir zaman dan kedatangan
      kerajaan eskatologis Allah. Matius menafsirkan pertanyaan murid-murid itu
      meliputi dua kejadian ini:

      • Matius 24:3, "Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah
      murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata
      mereka: 'Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah
      tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?'" - Textus Receptus,
      "kathêmenou [duduk] de [ketika] autou [dia] epi [di atas] tou orous
      [bukit] tôn elaiôn [Zaitun] prosêlthon [datanglah] autô [-Nya] hoi
      mathêtai [murid-murid] kat [untuk] idian [dengan Dia sendiri] legontes
      [bercakap-cakap] eipe [berkata] hêmin [kepada mereka] pote [kapan] tauta
      [itu] estai [terjadi] kai [dan] ti [apa] to sêmeion [tanda] tês sês [-Mu]
      parousias [kedatangan] kai [dan] tês sunteleias [kesudahan] tou aiônos
      [dunia]"

      Pertanyaan adalah: Apakah Yesus, seperti halnya murid-murid, mengharapkan
      kebinasaan Bait Allah dan akhir zaman akan segera terjadi?

      Persoalan itu makin dipersulit dengan kenyataan bahwa kedua kejadian ini
      kelihatannya saling kait-mengait dalam ketiga laporan itu, meskipun yang
      paling menonjol jelas dalam Matius adalah eskatologi dan dalam Lukas
      adalah historis. Ketiga Injil menghubungkan kedatangan Anak Manusia dalam
      awan-awan dengan kuasa dan kemuliaan besar untuk mengumpulkan umat-Nya
      dalam kerajaan eskatologis. Dapat dipastikan bahwa "kesengsaraan besar"
      menunjuk kepada "masa celaka mesianis" yang berakar dalam Perjanjian Lama.

      • Markus 13:19, "Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan seperti yang
      belum pernah terjadi sejak awal dunia, yang diciptakan Allah, sampai
      sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi." - Textus Receptus, "esontai
      [akan terjadi] gar [sebab] hai hêmerai [pada masa] ekeinai [itu] thlipsis
      [siksaan] hoia [seperti] ou [tidak] gegonen [terjadi] toiautê [seperti
      ini] ap [sejak] archês [awal] ktiseôs [penciptaan] hês [yang] ektisen
      [diciptakan] ho theos [Allah] heôs [hingga] tou nun [sekarang] kai [dan]
      ou mê [tidak akan] genêtai [terjadi]"

      • Yeremia 30:7, "Hai, alangkah hebatnya hari itu, tidak ada taranya;
      itulah waktu kesusahan bagi Yakub, tetapi ia akan diselamatkan dari
      padanya." - "hoi ki gadol [alangkah hebatnya] heyom [hari itu] hehua
      me'ayin [sehingga] kemehu we'eth [waktu] tsarah [kesusahan] hayah
      leya'aqov [bagi Yakub] wememeneh yasya' [diselamatkan]

      • Daniel 12:1, "Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar
      itu, yang akan mendampingi anak-anak bangsamu; dan akan ada suatu waktu
      kesesakan yang besar, seperti yang belum pernah terjadi sejak ada
      bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Tetapi pada waktu itu bangsamu akan
      terluput, yakni barangsiapa yang didapati namanya tertulis dalam Kitab
      itu." - "webe'eth [pada waktu itu] hehi' y'amad [muncul] miyka'el
      [Mikhael] hesar [pemimpin] hegadol [besar] he'amad [mendampingi] 'al-beni
      [anak-anak] 'amek [bangsamu] wehayah 'eth [waktu] tsarah [kesesakan]
      'asyer le'-nehayah mehiot gowi [bangsa-bangsa] he'eth [pada waktu itu]
      hehi' webe'eth [tetapi pada waktu itu] hehi' yimalat [terluput] 'amek
      [bangsamu] kol-henmatsa' [didapati] kathab [tertulis] becepher [dalam
      Kitab itu]"

      Identitas "Pembinasa keji" dalam Markus 13:14 lebih sulit. Kata yang
      diterjemahkan "keji" (Yunani 'bdelugma') dalam Perjanjian Lama dipakai
      untuk segala sesuatu yang berkaitan dengan berhala. Frase ini dipakai
      dalam Daniel 11:31, yaitu pencemaran mezbah oleh Antiochus Epiphanes pada
      tahun 167 sebelum Masehi. Frase ini juga dipakai dalam Daniel 12:11, di
      mana lebih memungkinkan bahwa hal itu menunjuk kepada antikristus
      eskatologis. Frase dalam Percakapan di Bukit Zaitun itu biasanya dipahami
      sebagai satu referensi pada antikristus.

      Barangkali kasus yang kuat untuk pengertian frase ini menunjuk kepada
      pencemaran pelataran suci oleh prajurit Romawi dengan membawa lambang
      kekafiran mereka. Bagaimanapun juga, beberapa peringatan Tuhan Yesus lebih
      sesuai dengan situasi historis daripada situasi eskatologis. Misalnya,
      peringatan untuk melarikan ke pegunungan, cepat-cepat, dan agar berharap
      bahwa siksaan itu tidak terjadi dalam musim dingin ketika wadi-wadi
      banjir, dapat dikaitkan kepada situasi historis, tetapi sulit diterapkan
      pada siksaan yang universal yang didatangkan oleh antikristus eskatologis.

      [bersambung]
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.