Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Gunung yang Dipenuhi Celoteh Anak

Expand Messages
  • el diablo
    Gunung yang Dipenuhi Celoteh Anak Sinar Harapan, 30 Juni 2004 http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0630/hob2.html CIANJUR – Tidak pernah ada kata
    Message 1 of 1 , Jul 1, 2004
    • 0 Attachment
      Gunung yang Dipenuhi Celoteh Anak
      Sinar Harapan, 30 Juni 2004
      http://www.sinarharapan.co.id/feature/hobi/2004/0630/hob2.html

      CIANJUR – Tidak pernah ada kata terlalu muda untuk belajar. Kalau
      bagi yang tua, mereka yang selalu diingatkan agar tetap belajar. Dan
      kerap, perkara belajar, ditingkatkan untuk berilmu sejauh mungkin.
      Begitulah untuk hobi mendaki gunung. Tidak ada terlalu muda, terlalu
      tua atau terlalu jauh.
      Pekan lalu sejak Rabu (23/6) hingga Minggu petang 28 anak kecil
      mendaki ke Gunung Gede. Perjalanan yang bisa ditempuh dalam waktu
      delapan hingga sembilan jam itu ditempuh dalam lima hari.
      Mereka dibawa oleh rombongan gabungan pencinta alam dari Jakarta dan
      sekitarnya hingga Bandung. Berjalan dengan bergandeng tangan antar
      adik-adik berusia delapan hingga 13 tahun, dengan kakak-kakak
      pencinta alam yang sudah 20 tahun ke atas.
      Bukan gandengan dan bermanja-manja yang membuat lamanya perjalanan.
      Rombongan yang menamakan dirinya Kelana atau Konservasi Lingkungan
      untuk Anak ini sekaligus belajar mengenai pelestarian alam. Di hari
      pertama mereka mengamati lingkungan Telaga Biru dan air terjun
      Cibereum. Sehari kemudian mereka melalui air panas dan bermalam di
      Kandang Badak pada ketinggian 2.300 meter. Di sana pun mereka melihat
      sumber air kecil.
      Dan pada hari besar, hari ketiga, Sabtu lalu, mereka mendaki ke
      puncak Gunung Gede 2.915 meter untuk kemudian turun ke lembah
      Suryakencana. Di sana pun mereka menyaksikan mata air.
      Perkara air ini jadi tema sentral Kelana. Dua hari sebelum pendakian,
      anak-anak diajak berperahu karet di Ciliwung. Mereka diminta
      menyaksikan betapa banyaknya sampah di sungai yang mata airnya
      terdapat di kompleks Gunung Gede-Pangrango. Kemudian mereka diajak
      menyaksikan pengolahan air bersih dengan instalasi Palija yang luas
      dan canggih.
      Kegiatan ini diharapkan menimbulkan pengertian anak-anak betapa
      penting peran air bersih yang bersumber dari gunung. Dan ketika
      mencapai puncak Gede, mereka pun diminta berikrar agar melestarikan
      lingkungan. Ikrar yang diucapkan bersama-sama ketika semua anak dan
      pendamping sudah tiba di ketinggian.
      Celoteh anak pun semakin seru ketika malam tiba di Suryakencana. Di
      bawah kabut mereka diminta dalam kelompoknya menyumbangkan acara.
      Kelompok satu memainkan sandiwara mengenai seekor monyet yang
      mengeluh akan ulah para pendaki yang membuang sampah sembarang.
      Melihat ini, dingin lembah Suryakencana pada ketinggian 2.600 meter
      dan suhu malam mencapai 5 derajat Celcius, tidak terasa melelahkan.
      Dan ketika acara malam ditutup seorang pendamping mereka, Bori,
      pencinta alam dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta) memperdengarkan
      lagu karya yang mengutarakan terima kasihnya pada anak-anak itu.
      Bukan sebaliknya, anak-anak diistimewakan dengan diajak oleh
      pendamping yang dua kali jumlahnya, para pendamping yang merasa
      mendapat banyak dari kegiatan ini. (ads)
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.