Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Angkringan Tetap Membumi

Expand Messages
  • jarody hestu
    Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sedikit cerita dari Festival Angkringan Yogyakarta, 11-12 Mei 2013. Monggo diwaos, nuwun Tak seperti biasanya, Bapak-bapak dan
    Message 1 of 1 , May 20, 2013
    • 0 Attachment
      Masyarakat menikmati sajian gratis

      Assalamu’alaikum Wr. Wb.
      Sedikit cerita dari Festival Angkringan Yogyakarta, 11-12 Mei 2013. Monggo diwaos, nuwun :)

      Tak seperti biasanya, Bapak-bapak dan ibu-ibu ini mengenakan pakaian batik saat melayani para pembelinya. Dari mulai menyalakan arang, memasak air dalam ceret, lalu menyajikannya. Begitu rapi, mungkin saja dengan aroma wangi parfum di tubuh mereka, hehehe, hanya menebak. Gerobag mereka pun lain dari biasanya. Hiasan berwarna-warni yang sedap dipandang. Ada hiasan wayang kecil-kecil, bendera Indonesia, lambang Ngayogyakarta Hadiningrat, lilin-lilin dan lampu senthir yang rapi dan diperhias serta aneka hiasan lainnya. Namun tak menghapus trademark gerobag dengan warna coklat, warna khas Jawa, warna tanah, membumi.

      Iya, gerobag angkringan yang membumi.

      Ada sekitar 40 gerobag angkringan berpartisipasi. Hari ini adalah hari festival untuk mereka. Mereka yang telah membangun eksistensi usaha kuliner angkringan di Jogja. Meneruskan usaha orang tua mereka dari dekade 50-90an saat gerobag-gerobag angkringan mulai berpindah dari daerah asalnya, Klaten ke Jogja. Atau mereka yang baru belajar wirausaha angkringan seiring semakin ramainya usaha kuliner ini. Tampak beberapa grup angkringan yang hadir seperti Maguwoharjo, PKL Mrican, Depok, Kranggan dan lainnya. Rata-rata mereka yang hadir bukan berasal dari angkringan-angkringan yang ikonnya telah dikenal para wisatawan, seperti angkringan Lik Man (Kopi Joss), Wijilan atau Pakualaman. Mereka yang hadir dalam festival sebagian besar adalah angkringan-angkringan pinggir jalan yang belum dikenal orang banyak.
      ***

      Paradigma angkringan telah berubah semenjak kuliner ini mulai hadir di Jogja. Angkringan Lik Man adalah generasi pertama di tahun 1950 an. Sebagian besar penjualnya memang berasal dari daerah asalnya, Klaten. Dan lama kelamaan terjadi eksodus untuk mencari peruntungan di kota yang lebih ramai, Jogja, dengan membawa gerobag beroda dua.

      Dulu, kuliner ini adalah gambaran kehidupan “wong cilik”.

      Bayangkan, seorang buruh pabrik yang bergaji tak lebih dari UMR pulang ke rumah menjelang Maghrib. Selepas Maghrib tak ada makanan yang disediakan istrinya, karena istrinya ternyata juga seorang buruh pabrik juga, hehehe. Lalu dia menuju warung angkringan yang harga 1 bungkus nasinya 1000 rupiah dengan jajanan tradisional sebagai lauk seharga 500 rupiah dengan teh hangat 1000 rupiah (harga ini adalah harga nasi angkringan di tahun 2000-an). Lalu bertemu teman-temannya sesama buruh, duduk bersama pada beberapa buah “dhingklik” (kursi kayu panjang tanpa sandaran) sambil ngopi, ngeteh ditemani rokok yang harga per lencernya 500 rupiah. Tak terasa waktu 1 jam mereka habiskan di warung angkringan beratap terpal biru tersebut.
      Jajan tradisional teman berdiskusi
      Jajan tradisional teman berdiskusi

      Apa yang mereka lakukan hingga betah selama 1 jam di warung angkringan? Bukankah untuk makan, menghabiskan waktu 15 menit itu sudah cukup lama?

      Diskusi, mengobrol, mengoceh ngalor ngidul, itulah yang mereka lakukan. Setiap hal mereka perbincangkan sambil ngemil gorengan, baceman, kacang godhog, jajan pasar dan lainnya. Dari obrolan tentang sepakbola, politik, agama, pekerjaan, hobi, rumah tangga, bahkan berita selebritis terbaru saat ini, hehehe. Maklumlah, diskusinya “wong cilik”  itu tanpa batas, karena kedaulatan di tangan rakyat bukan. Hehehe.

      Lalu tiba-tiba generasi mulai beranjak modern, jika dulu terbiasa mendengarkan obrolan dengan bahasa Jawa di warung angkringan, sekarang para pembeli mulai mengobrol dengan bahasa Indonesia. Mereka inilah para pendatang di kota Jogja, kotanya para pelajar dari seluruh Indonesia. Mereka para mahasiswa yang menyukai budaya hemat.

      “Jika ada  yang 1000 rupiah kenapa mencari yang 3000 rupiah?” saya pernah menjadi mahasiswa yang “ngere” jauh dari orang tua. Jadi sedikit tahu tentang tips dan trik mengirit pengeluaran untuk makan, hehehe. Angkringan pernah menjadi salah satu solusinya.

      Sering disebut pula dengan istilah “sego kucing” karena porsi nasi yang sedikit dengan lauk teri yang sepertinya lebih cocok untuk makanan kucing. Angkringan bukan bisnis kuliner franchaise yang menjual nama. Sudah bukan lagi milik “wong cilik”, tapi sudah menjadi milik mahasiswa, bapak-bapak, remaja kampung, profesional muda, wisatawan baik domestik maupun asing, bahkan sekarang sudah mulai dimasukkan menjadi kuliner di hotel-hotel berbintang lima. Salah satu elemen masyarakat yang paling jarang nongkrong di angkringan tentu saja ibu-ibu, karena ibu-ibu lebih identik dengan pasar atau mall, hehehe. Biasanya ibu-ibu kalau mau beli nasi angkring paling ya minta dibungkusin terus dimakan di rumah, betul kan mbokdhe? Hehehe.

      Dari istilah Jawa “nangkring” yang artinya duduk santai dengan posisi salah satu kaki lebih tinggi dari kaki lainnya. Budaya Jawa sering menganggapnya tidak etis. Tapi di keseharian kita sering makan dengan gaya yang seperti ini karena kesannya santai. Beberapa orang menganggap itu sunnah Rasul. Dan begitulah, angkringan bukan lagi sekedar warung murah untuk “wong cilik”. Tak sekedar pemenuh kebutuhan perut. Kita tidak akan pernah menyangka bahwa suatu saat akan tercipta ide-ide hebat dari obrolan warung angkringan. Ide-ide pembaharu dari tempat yang sepertinya biasa saja namun bobot sosialnya luar biasa.
      Gerobag coklat yang membumi
      Gerobag coklat yang membumi
      ***

      “Saking pundi Bu?” (Dari mana Bu?) sapa saya terhadap salah satu ibu penjual angkringan.
      “Maguwo.”
      “Jajanannya gratis niki Bu?” (Jajanannya gratis ini Bu?)tanya saya lagi sambil berharap, hehe (dasar mental mahasiswa)
      “Dereng, sakniki dereng gratis. Mangkih jam 8.” (Belum, sekarang belum gratis. Nanti jam 8)
      Batin saya,
      “Kalau digratiskan sore ini, nanti sebelum Bapak Bupati Sleman membuka festival jam 7 malam, semua jajanan angkringan sudah habis dong, njuk opo sing dipamerne ntar (terus apa yang dipamerkan nanti)?” Hehehe.

      Lalu saya melanjutkan pemotretan festival malam ini. Festival diadakan di Taman Kuliner Yogyakarta, dipersembahkan untuk masyarakat umum. Sebagai penghormatan untuk para pelaku bisnis merakyat ini, angkringan. Yang eksistensinya tak tergerus jaman.  Momen bertepatan dengan peringatan HUT Kabupaten Sleman ke-97. Beberapa acara budaya lain akan mengisi festival ini, seperti Grebeg Gajahwong, gelar budaya dari beberapa elemen pemuda Indonesia seperti Jogja, Papua, Gorontalo, Timorleste (luar negeri ya?). Lalu pemberian hibah-hibah dan penghargaan kepada para pelaku bisnis angkringan dan budaya oleh Bupati Sleman. Pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lampahan “Sadewa Racut” akan menutup festival ini. Ki Bambang Harjati Susetya dan Ki Wisnu Gito Saputra akan mendalanginya.

      Lepas Isya, masyarakat sudah ramai membanjiri pendopo Taman Kulier. Perwakilan tuan rumah dari kecamatan Depok akan membuka dengan pentas Marawis-an. Gabungan ibu-ibu dan pemudi tampaknya lengkap dengan tetabuhannya melagukan bait-bait Islami. Lalu selepas itu dimulailah gelar budaya dari berbagai elemen pemuda di Jogja. Pemuda-pemudi Papua mendapat giliran pertama, dan sepertinya tarian merekalah yang mendapat sambutan paling ramai dari masyarakat. Sekitar 15 orang penari pria dan wanita diiringi oleh 4 pemusik mempersembahkan “Balada Cendrawasih”. Sebuah tarian yang mengisahkan tentang perburuan burung cendrawasih di Papua yang mengakibatkan semakin langkanya populasi burung endemik Papua ini. Di akhir tarian, semua penari berdoa untuk keselamatan cendrawasih.
      Tarian “Balada Cendrawasih” oleh muda-mudi Papua
      Tarian “Balada Cendrawasih” oleh muda-mudi Papua

      Dan lalu gerimis membasahi bumi.

      Berhentikah? Tidak, muda-mudi daerah tetap menari selepas itu. Para penonton menyerbu tenda untuk berteduh, sebagian ada yang tetap di sekeliling pendopo dengan menutupi kepalanya dengan jaket berbasah-basahan. Para fotografer yang sayang kamera pun ikutan “nylempit-nylempit” di antara riuh penonton di tenda utama. Tenda yang sebenarnya dikhususkan untuk Bapak Bupati, orang-orang Pemda, perwakilan kecamatan dan para sponsor. Pertunjukan berikutnya adalah Barongsay dari Toko Mas Kranggan. Sekitar 10 orang menari di bawah gerimis, tetap semangat meskipun dengan kehati-hatian tinggi akibat basahnya lantai di luar pendopo. Tetap lincah dan energik. Lalu berturut-turut muda-mudi daerah mulai menari lagi. Seorang penari Topeng beraksi, perempuan dengan balutan kostum yang dominan merah. Gerakannya sangat lincah, mungkin lebih tepat dibawakan oleh seorang lelaki, hehehe. Lalu muda-mudi Timorleste beraksi dengan busana khas daerah timur. Yang perempuan membawa tetabuhan, lalu yang lelaki meliuk-liuk dengan cambuk dan beberapa alat perang. Berikutnya adalah muda-mudi Gorontalo dengan pakaian adat yang mengiringi tariannya.
      Aksi penari Topeng
      Aksi penari Topeng

      Gerimis sudah mulai reda ketika gelar budaya memasuki sesi perkusi. 5 orang pemain perkusi yang diundang salah satu sponsor acara memainkan lagu-lagu daerah. Melodi dihasilkan oleh angklung sementara ritme dihasilkan oleh tetabuhan perkusi. Terdengar sangat harmonis mengiringi “Prau Layar”, salah satu lagu yang mereka bawakan. Setelah itu hadir 3 penari Gambyong perwakilan dari kelurahan Nologaten, Jogja. Lemah gemulai bergerak beriring menarikan tarian khas Jawa ini. Salah satu komentar di facebook saya atas foto penari Gambyong yang saya unggah :

      “sang sri retna nedheng ambeksa pacake, gandhes luwes ing saksolahe nyata lamun nengsemake.” (sang putri sedang menari, gemulai geraknya, tegas tetapi menarik hati)
      Kalimat lengkapnya : “keplok alok mulat mujiwati, sang sri retna nedheng ambeksa pacake, gandhes luwes ing sak solahe, nyata lamun nengsemake, miwir sampur tanjak nggodha, tumapak ing pada nut wirama pancen dhasar wasis angadi busana, amimbuhi luhuring budaya” - courtesy : Rendra Agusta
      Para penari perempuan dari Gorontalo
      Para penari perempuan dari Gorontalo
      Para penari Gambyongyang luwes dan gemulai
      Para penari Gambyongyang luwes dan gemulai

      Seluruh muda-mudi daerah telah menampilkan tarian mereka. Sekarang giliran para chef profesional mendemonstrasikan keahlian mereka di depan penonton. Beberapa menu unggulan mereka ciptakan dalam tempo yang begitu cepat. Lengkap dengan atraksi-atraksi yang membuat penonton menahan nafas. Pemimpin chef bermain akrobatik dengan pisau besar pencacah daging, seperti melempar-lempar bola bekel saja tanpa takut mencacah kulit. Lalu bartender tak kalah mengeluarkan aksi akrobatiknya. Dari memainkan botol, mencampurnya ke gelas, lalu membagi-bagikan secara gratis kepada penonton. Sontak penonton semakin mendekat ke arah para chef. Maklumlah, makan minum semuanya gratis malam ini, hehehe.
      Menanti gratisan dari para chef
      Menanti gratisan dari para chef

      Selanjutnya adalah acara formal dari Pemda Sleman. Bupati Sleman, Bp. Sri Purnomo memberikan sambutannya di panggung. Disusul penyerahan hibah dan penghargaan. Sponsor menyerahkan hibah beberapa gerobag angkringan kepada masyarakat. Ditandai secara simbolis dengan penyerahan ceret alumunium kepada salah satu pelaku kuliner angkringan. Setelah itu adalah penyerahan penghargaan kepada 10 angkringan teladan Jogja oleh Bapak Bupati. Lalu penyerahan hibah dari sponsor berupa 6 perangkat gamelan kepada 6 kecamatan terpilih di Sleman. Ditandai secara simbolis dengan penyerahan rebab (alat musik gesek pada seperangkat gamelan) kepada 6 camat terpilih.
      Penyerahan ceret sebagai simbolisasi hibah gerobag angkring
      Penyerahan ceret sebagai simbolisasi hibah gerobag angkring

      Lalu gelar budaya tadi ditutup oleh letusan kecil beberapa kembang api.
      Kembang api menutup gelar budaya
      Kembang api menutup gelar budaya

      Dan akhirnya acara yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat yang sedari tadi menunggu. Angkringan gratissssss!!! Hahaha.  Gerobag-gerobag diserbu, tak ada transaksi jual beli. Tinggal ambil saja, teh hangat tinggal pesan. Tampaknya enjualnya yang kerepotan mengaduk gelas demi gelas untuk para pembeli. Mungkin akan berhenti setelah arangnya habis, hehehe. Benar-benar masyarakat dimanjakan, fotografer juga dimanjakan, hihihi. Saya sendiri makan 2 kali. Pertama, makan nasi 1 bungkus dengan jajanan angkringan beraneka ragam. Lalu menuju ke stand bakmi Jawa mbah nDumuk. Kali ini makan yang agak serius, bakmi godhog.
      Masyarakat kecil dimanjakan oleh jajan gratisan
      Masyarakat kecil dimanjakan oleh jajan gratisan

      Bakmi godhog mbok nDumuk, gratisan kedua saya setelah nasi angkringan
      Bakmi godhog mbok nDumuk, gratisan kedua saya setelah nasi angkringan

      Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan seluruh jajanan di gerobag-gerobag angkringan itu. Ada yang “SMP” (selesai makan pulang), hihihi, ada juga yang masih setia dengan pertunjukan berikutnya, wayang kulit semalam suntuk dengan lampahan Sadewa Racut oleh dalang Ki Bambang Harjati Susetya dan Ki Wisnu Gito Saputra. Sebagian kecil penonton masih setia hingga Subuh menjelang. Ada yang menyaksikan dari tenda utama, ada juga yang menyaksikan dari belakang (bayangannya).
      Gathotkaca
      Gathotkaca
      Ki dalang beraksi
      Ki dalang beraksi

      Malam minggu yang anti main stream mungkin ya, hehehe. Di saat sebagian besar pemuda hedon menikmati dengan hura-hura di berbagai sudut kota, di Taman Kuliner sini masyarakat berpesta budaya. :)
      ***

      Angkringan, sego kucing, ataupun kafe ceret telu (karena sebelum dasaran, penjual biasanya memanaskan air di tiga ceret), masih menjaga eksistensinya di Jogja. Di antara serbuan berbagai macam wisata kuliner di sudut-sudut jalan kota wisata dan pelajar ini. Warung remang-remang yang tak akan tenggelam karena dari situlah tercipta ide-ide, tercipta hati yang nyaman (Jogja banget ya, berhati nyaman, hehe), tercipta rasa kenyang (hehe), dan tentu saja inilah kearifan lokal Jogja.

      Negara Indonesia yang baik adalah yang menjaga kearifan lokal dalam sistem kehidupan di dalamnya. Dan angkringan adalah salah satu kearifan lokal tersebut.
      Angkringan tetap membumi.

      Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
      Salam lestari,

      ~ be brave
      jogja, 21 Mei 2013
      jarody hestu
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.