Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

RE: [JPers] Menginspirasi dan terinspirasi (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

Expand Messages
  • Ahmad SYARIFUDIN
    Menyimak aja…kangen ma tulisannya mbah jarod… *kangen juga ma tulisannya koko hans… Salam, Arief From: jejakpetualang@yahoogroups.com
    Message 1 of 4 , Mar 1 12:59 AM
    • 0 Attachment

      Menyimak aja…kangen ma tulisannya mbah jarod…

       

      *kangen juga ma tulisannya koko hans…

       

      Salam,

      Arief

       

      From: jejakpetualang@yahoogroups.com [mailto:jejakpetualang@yahoogroups.com] On Behalf Of jarody hestu
      Sent: 01/Mar/13 3:40 PM
      To: satubumi; nature trekker; jejak petualang
      Subject: [JPers] Menginspirasi dan terinspirasi (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

       

       

      Menginspirasi dan terinspirasi

      (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

                                                                 oleh Jarody Hestu

       Image removed by sender. praktek jurnalistik

       Assalamu’alaikum Wr. Wb.

      “Apakah pemandu wisata itu?”

       

      “Pemandu wisata adalah petualangan gunung.” tulis Feritiyas Maryati polos di kertas.

       

      Sebuah jawaban yang polos dari gadis kecil kelas 5 SD, karena yang dia lihat selama sesi kelas saya adalah hal-hal khusus yang telah saya praktekkan dengan alat-alat peraga wisata minat khusus yang biasa saya pakai dalam profesi saya. Seperti pelampung, helmet, foto-foto gunung, sungai dan goa, tenda, kamera, stick pole untuk naik gunung dan lainnya. Untung saja saya tak membawa perahu, kalau saya membawa perahu karet mungkin anak itu akan menjawab,

       

      “Pemandu wisata adalah petualangan sungai.”

      “Glekkk.”

       

      Lalu Revika Novrita Putri lain lagi, gadis kecil yang duduk bersebelahan dengan kembarannya ini menjawab dengan lebih global.

       

      “Pemandu wisata adalah seorang yang memandu wisatawan.”

       

      Hmmm. Anak-anak memandang segala sesuatu dengan kacamata anak-anak. Orang-orang dewasa pada suatu ketika akan masuk ke dalam diskusi anak-anak, bagaimana orang dewasa bertindak?

      Pakailah kacamata anak-anak. Itu menyenangkan. Image removed by sender. :)

       

      Profesi ini saya geluti hingga saat ini bermula dari hobi dan kesenangan. Jalan-jalan di alam terbuka, bermula dari hobi dan menjadi pekerjaan. Saya ingin menyampaikan kepada anak-anak, kesenangan yang bersifat positif di luar kelas dapat menjadi penambah semangat dalam mengikuti mata pelajaran di dalam sekolah. Jadi, gelutilah. Mungkin suatu saat dapat menjadi profesi bagi anak-anak. Bukankah seorang pemain sepakbola pada saat kecil mempunyai hobi bermain bola?

       

      “Pengen ndak keliling Indonesia?”

      “Pengennnnn.”  teriak lantang anak-anak Image removed by sender. :)Image removed by sender. :)Image removed by sender. :)

       Image removed by sender. tenda

       Saya sedang memberikan sharing profesi pemandu wisata minat khusus kepada anak-anak

       

      ***

      Rara Wilis (Chief Marketing Officer AORA TV), salah satu volunteer Kelas Inspirasi – Indonesia Mengajar dalam testimonialnya berkata,

       

      “Saya merasa, bukan hanya saya yang menginspirasi mereka, but they inspired me as well.”



      Ibu Rara ini satu sekolah bersama saya dan 6 orang volunteer lain ditemani 4 orang dokumenter di SDN 1 Salakan, Potorono, Banguntapan, Bantul. Kami berada di sana dalam salah satu rangkaian Kelas Inspirasi. Sebuah program dari Indonesia Mengajar yang mengajak para profesional untuk mendedikasikan waktu sehari memberikan inspirasi kepada anak-anak Sekolah Dasar di beberapa kota besar Indonesia.

       Image removed by sender. rara wilis berdiskusi

      Ibu Rara Wilis berdiskusi dengan salah seorang murid

       

      Apa yang diinspirasikan kepada anak-anak? Semangat, atas pencapaian sebuah cita-cita. Kami mempunyai pekerjaan, mereka punya cita-cita. Kami menyampaikan, mereka mendengarkan. Hal-hal baru akan mereka terima selama sehari ini, berkaitan dengan keberagaman profesi kami.

       

      Apa-apa saja profesi kami? Mungkin tidak tercatat dalam kamus profesi anak-anak. Anak-anak lebih terdoktrin profesi-profesi umum yang sering diceritakan orang tua maupun guru mereka, dan itulah cita-cita mereka. Coba bayangkan, apakah seorang anak-anak paham dengan profesi Peneliti Nyamuk. Tidak. Anak-anak lebih familiar dengan profesi guru, pilot, dokter, insinyur dan lain-lainnya. Bukankah dulu semasa kita  masih anak-anak juga memiliki pemahaman seperti ini? Hehe.

       

      Mungkin sekarang bertambah satu lagi profesi hafalan seorang anak-anak, yaitu pemain bola dan bintang sinetron. Karena semakin maraknya tayangan bola dan sinetron di televisi. Jaman anak-anak saya dulu televisi = TVRI, jadi kamus profesi anak-anak di jaman saya tentu saja lebih sedikit dengan kamus profesi anak-anak di jaman sekarang. Ahahah, just kidding. ^^ v

       

      Warsito Tantowijoyo, seorang peneliti nyamuk. Beliau membawa beberapa box kaca berisi jentik nyamuk ke dalam kelas. Dan anak-anak akan bermain dengan box-box itu. Mereka akan berhitung, menjadi seorang pengambil kesimpulan dari permainan sederhana yang diberikan Bapak Warsito ini di dalam kelas. Sebuah profesi yang aneh bukan, jangankan anak-anak, seorang dewasa seperti saya pun akan memandang demikian.

       

      Image removed by sender. peneliti nyamuk

      Bapak Warsito sedang memperlihatkan jentik-jentik nyamuk kepada anak-anak

       

      Anak-anak lebih menerima gambaran yang tertuang lewat praktek daripada deskripsional. Dan dengan menghitung jumlah jentik nyamuk di dalam box-box tersebut, mereka akan mendapatkan pemahaman. Tentang apakah Peneliti Nyamuk itu, sebuah hal baru masuk ke dalam wawasan mereka. Wawasan seorang anak-anak yang mudah sekali dimasuki oleh pemikiran-pemikiran, pemikiran yang positif tentu saja harapannya. Jika ada pemikiran yang negatif bagaimana? Itu tugas seorang dewasa untuk menangkalnya dari kehidupan anak-anak.

       

      ***

       

      Anak-anak begitu cerianya mengikuti permainan sederhana dari Aji Rachmat di awal kelas. Semacam permainan ice breaking untuk menyemangati anak-anak sebelum kegiatan. Lepas jam 7 pagi, setelah kata-kata kulonuwun dari kami dan sambutan dari Pak Rubiyanto selaku Kepala Sekolah SDN 1 Salakan. Bapak Aji Rachmat ini adalah seorang fasilitator outbound dan pawang ular yang pernah aktif di Jejak Petualang TV7 dahulu. Aktif juga dalam Pramuka. Begitu menyenangkannya bisa bersama-sama merangkul anak-anak dalam keceriaan di pagi hari. Bertepuk bersama, bergerak bersama, bersorak bersama.

       

      “Haiiii….” teriak kami.

      “Haloooo…” balas anak-anak bersorak.

      “Haloo…” teriak kami lagi.

      “Haiii….” tak kalah lantang suara 120-an anak menjawab.

      “Hai hai haloooo…”

      “Halo halo haiiii…..”

       

      Menyenangkan. Image removed by sender. :)

      Image removed by sender. bermain tepuk sorak

      Bermain tepuk dan sorak

       

      Kelas dimulai jam setengah 8, setiap volunteer telah mengisi kelas-kelas, kecuali kelas 6 yang sedang mengikuti bimbingan khusus pra UN. Saya ceritakan beberapa situasi di kelas-kelas tersebut yang berlangsung hingga pukul 11 siang dan dijeda oleh waktu istirahat di tengah-tengahnya. Para volunteer ini sendiri akan bertukar posisi kelas setiap 1 jam.

       

      Bapak Aji Rachmat dalam sesi kelasnya selalu berada di luar lapangan. Beberapa permainan mengasah kebersamaan, kepemimpinan, beliau praktekkan kepada anak-anak dengan metode sederhana. Seperti permainan mengisi air ke dalam ember berlubang dengan potongan-potongan pipa yang dibelah. DI sini anak-anak akan berpikir, bagaimana caranya agar ember itu penuh? Mereka lalu bekerja sama sedapat mungkin mengisi ember bocor tersebut. Di sesi lain beliau juga memberikan ilmu tentang ular kepada anak-anak, tak hanya anak-anak, para guru pun ikut berkumpul di sana. Bahkan di waktu istirahat sesi ular ini tetap berlangsung dan dihadiri oleh anak-anak berlainan kelas, begitu ramai. Di sini beliau membawa contoh 2 ekor ular tidak berbisa. Diterangkan kepada anak-anak, jenis-jenis ular, identifikasi ular secara sederhana, apa yang harus dilakukan ketika melihat ular, serta penanganan ketika tergigit ular. Anak-anak pun tak canggung untuk memegang ular-ular tersebut.

       Image removed by sender. bermain ular

      Aji Rachmat bermain ular dengan anak-anak

       

      Aji Wihardandi, beliau adalah seorang senior editor di bidang jurnalistik. Seorang fotografer dan pemerhati fauna juga. Di kelas beliau menjelaskan tentang, apa itu jurnalistik? Tentu saja dengan kacamata anak-anak. Lucu sekali, beliau membuat sebuah peragaan jurnalistik di kelas. Anak-anak akan praktek di depan kelas layaknya seorang pembaca berita di lapangan, seorang cameraman, dan seorang fotografer. Dengan alat peraga kamera video, kamera foto dan mix yang terbuat dari kardus. Di sini setidaknya anak-anak akan memahami dengan pemahaman mereka.

       

      “Ooo, begini to yang  biasanya dilihat di liputan-liputan berita televisi.”

       

       Image removed by sender. praktek jurnalistik

      Praktek jurnalistik dari Bapak Aji Wihardandi

       

      Nanang Kristanto, beliau adalah seorang bankir. Di depan kelas beliau menjelaskan tentang kegiatan ekonomi yang sederhana kepada anak-anak. Seperti menerangkan buku tabungan, uang dan lain sebagainya. Lalu sedikit memberikan semangat pencapaian cita-cita, apa-apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkannya.

      “Saya yakin pasti bisa.” teriak lantang anak-anak.

       

       Image removed by sender. bankir

      Bapak Nanang menerangkan profesi bankir kepada anak-anak

       

      Adis Yuniasih, beliau adalah seorang psikolog Puskesmas. Menjelaskan profesi seorang psikolog dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak. Psikolog bagi mereka mungkin sama dengan dokter yang mengurusi orang-orang gila. Jadi, Ibu Adis akan menerangkan kepada anak-anak bahwa profesi psikolog tidak hanya berurusan dengan orang gila saja, namun manusia pada umumnya. Tantangan berikutnya adalah menyampaikan bagian dimana anak-anak harus paham bahwa apapun cita-cita mereka nanti, prosesnya harus benar. Mulai dari attitude untuk tidak curang saat ujian, tidak takut salah dan mau belajar lagi bila salah. Belajar tanpa disuruh, menghormati dan menghargai siapa pun guru mereka, serta tidak lupa untuk beribadah memohon bantuan Tuhan.

       

      Menjelang sesi berakhir, Ibu Adis memberikan sesi relaksasi untuk melepaskan diri dari ketakutan. Beberapa praktek dengan tubuh dilakukan, seperti memejamkan mata, saling merekatkan kedua telapak tangan dan lainnya.

       

       Image removed by sender. psikolog

      Ibu Adis sedang berbagi profesi psikolog

       

      dr. Inu Wicaksana, beliau adalah seorang dokter ahli jiwa di Rumah Sakit Jiwa Magelang. Beliau hadir di sesi terakhir untuk menyemangati anak-anak kelas 6. Saya akan mengutip  tulisan beliau di http://edukasi.kompasiana.com.

       

      Tanggal 20 Feb kemarin saya jadi mengajar di Kelas Inspirasi SD Salakan Negri 1 di Piyungan Bantul. Saya jadi Guru SD Sehari dengan Powerpoint dan foto-foto tentang hidup saya sebagai dokter. Untung teman-teman saya satu grup mengajar, yang muda-muda, bisa mengadakan Laptop, LCD, dan layarnya. Sigap mereka menyiapkan peralatan itu di SD Salakan Negeri 1.

       

      Anak-anak SD Kelas 6 yang sudah nunggu sejak pagi terkejut melihat saya tampil di depan kelasnya. Mungkin melihat perawakan saya dan penampilan saya yang sangar dan agak menyeramkan. Tapi mereka mendengarkan dengan serius dan tenang karena ada 4 orang guru putri SD itu yang mohon ijin ikut mendengarkan. Walah walah.

       

      Judul pelajaran saya : “Mengapa Saya Menjadi Dokter”. Nah saya katakan tujuan saya menjadi dokter. Lalu metode belajar saya sejak SD, SMP, SMA. Lalu perjuangan saya sekolah di Kedokteran. Setelah lulus lalu menjadi dokter Kepala Puskesmas Ossu, Kab Viqueque, Timor Timur. Lalu petualangan saya menjadi dokter di daerah darurat perang di Timtim. Pertempuran ABRI dengan gerilyawan Retilin dipimpin Xanana. Dokter berkuda dengan kotak obat-obatan dan peralatan medis, diiringi perawat-perawat putra daerah yang berkuda juga, keluar-masuk hutan, naik ke gunung-gunung mengobati masyarakat terpencil. Mengobati yang luka-luka perang, baik lawan maupun kawan obat dan tindakan medisnya sama.

       

      Selesai tugas di TimTim lalu balik ke Jogja untuk sekolah lagi 5 tahun menjadi dokter spesialis jiwa. Kemudian gangguan jiwa itu apa dan bagaimana bentuk terapi dan pengobatannya. Kemudian sebagai psikiater menolong korban gempa Bantul yang dahsyat itu. Selama setahun datang ke Puskesmas-puskesmas Imogiri Bantul untuk menolong yang sakit fisik maupun sakit jiwa.

       

      Tentu ini sukarela dan tidak mendapat bayaran. Kemudian juga ketika Merapi meletuskan lahar panas dan dingin di akhir 2010 dan awal 2011. Bersama 40 psikiater dan dua ratus perawat mendatangi korban pengungsi di TPS-TPS di Magelang, Sleman Jogja, Klaten dan Boyolali. Memberikan juga sumbangan sembako dan 10.000 bibit pohon. Foto-foto dokter berkuda di TimTim, lalu foto-foto dokter jiwa dan pasien-pasien di RSJ Kramat sedang mendapat terapi. Disusul foto-foto pertolongan psikologik pertama pada korban gempa Bantul, disusul tindakan dokter dan perawat pada korban-korban bencana Merapi yang berjibun ribuan di TPS-TPS.

      Hampir dua jam usai sudah pelajaran saya di Kelas Inspirasi ini (Ini ide dan programnya Anis Baswedan, Univ Paramadina). Saya tambahi sedikit dengan para pecandu Napza yang harus diobati juga oleh psikiater seperti saya. Jenis-jenis Napza dengan contoh asli yang harus dihindari mereka dan betapa berbahayanya zat-zat adiktif itu. Anak-anak SD kelas VI itu mendengarkan sejak awal sampai akhir dengan agak tegang, mata terbeliak dan hampir-hampir sukar bernafas. Ya, kehidupan dokter seperti saya memang selalu dekat dengan penderitaan manusia, memang agak mengerikan. Menghadapi setiap hari orang yang sakit fisik ataupun mental yang sangat butuh pertolongan. Kehidupan dokter yang kadang membahayakan dirinya sendiri. Kehidupan dokter yang lebih mementingkan menolog sesama daripada bayaran.

       

      Sumpah dokter untuk menghormati setiap hidup insani sejak terjadinya pembuahan. Meringankan penderitaan manusia dan memperpanjang usianya. Sekolah dokter yang amat panjang dan berat. Jiwa menolong yang harus dipupuk sejak anak-anak dengan kegiatan Pramuka. Pramuka itu berwatak ksatria. Hemat, cermat dan bersahaja. Selalu siap menolong dan wajib berjasa. Dalam keadaan apapun harus senang. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Inilah yang kemudian mendasari watak, perilaku dan kehidupan seorang dokter yang baik. Tak ada anak-anak yang berani bertanya di dalam kelas. Tapi di luar kelas, sambil foto-fotoan bersama, mereka pada bertanya ini-itu. Yang bertanya di dalam kelas malah guru-guru putri mereka itu. Walah, hahaha. Tapi semua, baik saya, murid-murid SD itu, maupun guru-gurunya, cukup puas dengan pelajaran kehidupan kaum profesional di Kelas Inspirasi ini.

      Image removed by sender. dr inu

      dr. Inu Wicaksana sedang sharing profesi dokter jiwa

       

      ***

       

      “Nak, 20-30 tahun lagi, siapa yang akan membangun Indonesia?”

      “Nak, jika ada warisan yang maha kaya berupa semesta alam Indonesia, 20-30 tahun lagi siapa yang akan mengolahnya, mengaturnya dan memanfaatkannya demi manfaat untuk sesama?”

      “Nak, jika saat ini kami menanam bibit pohon, 20-30  tahun lagi siapa yang akan merawatnya saat bibit pohon itu telah menjadi hutan?”

      “Nak, jika saat ini kalian diajar oleh orang dewasa, 20-30 tahun lagi siapa yangakan menjadi pengajar?”

      “Nak, jika saat ini kami menginspirasi dan kalian terinspirasi, 20-30 tahun lagi siapa yang akan menginspirasi?”

       

      Kalian!!!

      Benar kata Ibu Rara Wilis,“They inspired me as well.”

      Anak-anak ini setidaknya telah menampar kami, mengingatkan kembali kami, memunculkan kembali nilai-nilai sosial pada diri kami orang dewasa. Bahwa apa yang sudah kita perbuat untuk sesama? Jika masih tersembunyi di dalam diri, keluarkanlah!! Ikhlas.

       

      “Khairunnasi anfauhum linnas.

      “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”

      Jazakumullahukhoiro, wassalamu’alaikum wr. wb.

       

      Image removed by sender. inspirator dan murid (2)

      Fotografer          : Tommy Gustavi, Ricco, Anin

      Videografer       : Ananto Prasetyo

       

      ~ be brave
      jogja, 1 Maret 2013
      hestu

      www.equator-indonesia.com

      Important Notice: This communication (including any attachments) is intended for the use of the intended recipient(s) only and may contain information that is confidential, privileged or legally protected. Any unauthorized use or dissemination of this communication is strictly prohibited. If you have received this communication in error, please immediately notify the sender by return e-mail message and delete all copies of the original communication. Thank you for your cooperation.
    • jiteng.batpacker
      Kereenn.. Lanjutkan mbah ... @ahmad : ga kangen sama om Dody.? :D Pada 1 Maret 2013 15.59, Ahmad SYARIFUDIN
      Message 2 of 4 , Mar 1 1:04 AM
      • 0 Attachment
        Kereenn.. Lanjutkan mbah ...

        @ahmad : ga kangen sama om Dody.? :D


        Pada 1 Maret 2013 15.59, Ahmad SYARIFUDIN <Ahmad.Syarifudin@...> menulis:
         

        Menyimak aja…kangen ma tulisannya mbah jarod…

         

        *kangen juga ma tulisannya koko hans…

         

        Salam,

        Arief

         

        From: jejakpetualang@yahoogroups.com [mailto:jejakpetualang@yahoogroups.com] On Behalf Of jarody hestu
        Sent: 01/Mar/13 3:40 PM
        To: satubumi; nature trekker; jejak petualang
        Subject: [JPers] Menginspirasi dan terinspirasi (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

         

         

        Menginspirasi dan terinspirasi

        (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

                                                                   oleh Jarody Hestu

         Image removed by sender. praktek jurnalistik

         Assalamu’alaikum Wr. Wb.

        “Apakah pemandu wisata itu?”

         

        “Pemandu wisata adalah petualangan gunung.” tulis Feritiyas Maryati polos di kertas.

         

        Sebuah jawaban yang polos dari gadis kecil kelas 5 SD, karena yang dia lihat selama sesi kelas saya adalah hal-hal khusus yang telah saya praktekkan dengan alat-alat peraga wisata minat khusus yang biasa saya pakai dalam profesi saya. Seperti pelampung, helmet, foto-foto gunung, sungai dan goa, tenda, kamera, stick pole untuk naik gunung dan lainnya. Untung saja saya tak membawa perahu, kalau saya membawa perahu karet mungkin anak itu akan menjawab,

         

        “Pemandu wisata adalah petualangan sungai.”

        “Glekkk.”

         

        Lalu Revika Novrita Putri lain lagi, gadis kecil yang duduk bersebelahan dengan kembarannya ini menjawab dengan lebih global.

         

        “Pemandu wisata adalah seorang yang memandu wisatawan.”

         

        Hmmm. Anak-anak memandang segala sesuatu dengan kacamata anak-anak. Orang-orang dewasa pada suatu ketika akan masuk ke dalam diskusi anak-anak, bagaimana orang dewasa bertindak?

        Pakailah kacamata anak-anak. Itu menyenangkan. Image removed by sender. :)

         

        Profesi ini saya geluti hingga saat ini bermula dari hobi dan kesenangan. Jalan-jalan di alam terbuka, bermula dari hobi dan menjadi pekerjaan. Saya ingin menyampaikan kepada anak-anak, kesenangan yang bersifat positif di luar kelas dapat menjadi penambah semangat dalam mengikuti mata pelajaran di dalam sekolah. Jadi, gelutilah. Mungkin suatu saat dapat menjadi profesi bagi anak-anak. Bukankah seorang pemain sepakbola pada saat kecil mempunyai hobi bermain bola?

         

        “Pengen ndak keliling Indonesia?”

        “Pengennnnn.”  teriak lantang anak-anak Image removed by sender. :)Image removed by sender. :)Image removed by sender. :)

         Image removed by sender. tenda

         Saya sedang memberikan sharing profesi pemandu wisata minat khusus kepada anak-anak

         

        ***

        Rara Wilis (Chief Marketing Officer AORA TV), salah satu volunteer Kelas Inspirasi – Indonesia Mengajar dalam testimonialnya berkata,

         

        “Saya merasa, bukan hanya saya yang menginspirasi mereka, but they inspired me as well.”



        Ibu Rara ini satu sekolah bersama saya dan 6 orang volunteer lain ditemani 4 orang dokumenter di SDN 1 Salakan, Potorono, Banguntapan, Bantul. Kami berada di sana dalam salah satu rangkaian Kelas Inspirasi. Sebuah program dari Indonesia Mengajar yang mengajak para profesional untuk mendedikasikan waktu sehari memberikan inspirasi kepada anak-anak Sekolah Dasar di beberapa kota besar Indonesia.

         Image removed by sender. rara wilis berdiskusi

        Ibu Rara Wilis berdiskusi dengan salah seorang murid

         

        Apa yang diinspirasikan kepada anak-anak? Semangat, atas pencapaian sebuah cita-cita. Kami mempunyai pekerjaan, mereka punya cita-cita. Kami menyampaikan, mereka mendengarkan. Hal-hal baru akan mereka terima selama sehari ini, berkaitan dengan keberagaman profesi kami.

         

        Apa-apa saja profesi kami? Mungkin tidak tercatat dalam kamus profesi anak-anak. Anak-anak lebih terdoktrin profesi-profesi umum yang sering diceritakan orang tua maupun guru mereka, dan itulah cita-cita mereka. Coba bayangkan, apakah seorang anak-anak paham dengan profesi Peneliti Nyamuk. Tidak. Anak-anak lebih familiar dengan profesi guru, pilot, dokter, insinyur dan lain-lainnya. Bukankah dulu semasa kita  masih anak-anak juga memiliki pemahaman seperti ini? Hehe.

         

        Mungkin sekarang bertambah satu lagi profesi hafalan seorang anak-anak, yaitu pemain bola dan bintang sinetron. Karena semakin maraknya tayangan bola dan sinetron di televisi. Jaman anak-anak saya dulu televisi = TVRI, jadi kamus profesi anak-anak di jaman saya tentu saja lebih sedikit dengan kamus profesi anak-anak di jaman sekarang. Ahahah, just kidding. ^^ v

         

        Warsito Tantowijoyo, seorang peneliti nyamuk. Beliau membawa beberapa box kaca berisi jentik nyamuk ke dalam kelas. Dan anak-anak akan bermain dengan box-box itu. Mereka akan berhitung, menjadi seorang pengambil kesimpulan dari permainan sederhana yang diberikan Bapak Warsito ini di dalam kelas. Sebuah profesi yang aneh bukan, jangankan anak-anak, seorang dewasa seperti saya pun akan memandang demikian.

         

        Image removed by sender. peneliti nyamuk

        Bapak Warsito sedang memperlihatkan jentik-jentik nyamuk kepada anak-anak

         

        Anak-anak lebih menerima gambaran yang tertuang lewat praktek daripada deskripsional. Dan dengan menghitung jumlah jentik nyamuk di dalam box-box tersebut, mereka akan mendapatkan pemahaman. Tentang apakah Peneliti Nyamuk itu, sebuah hal baru masuk ke dalam wawasan mereka. Wawasan seorang anak-anak yang mudah sekali dimasuki oleh pemikiran-pemikiran, pemikiran yang positif tentu saja harapannya. Jika ada pemikiran yang negatif bagaimana? Itu tugas seorang dewasa untuk menangkalnya dari kehidupan anak-anak.

         

        ***

         

        Anak-anak begitu cerianya mengikuti permainan sederhana dari Aji Rachmat di awal kelas. Semacam permainan ice breaking untuk menyemangati anak-anak sebelum kegiatan. Lepas jam 7 pagi, setelah kata-kata kulonuwun dari kami dan sambutan dari Pak Rubiyanto selaku Kepala Sekolah SDN 1 Salakan. Bapak Aji Rachmat ini adalah seorang fasilitator outbound dan pawang ular yang pernah aktif di Jejak Petualang TV7 dahulu. Aktif juga dalam Pramuka. Begitu menyenangkannya bisa bersama-sama merangkul anak-anak dalam keceriaan di pagi hari. Bertepuk bersama, bergerak bersama, bersorak bersama.

         

        “Haiiii….” teriak kami.

        “Haloooo…” balas anak-anak bersorak.

        “Haloo…” teriak kami lagi.

        “Haiii….” tak kalah lantang suara 120-an anak menjawab.

        “Hai hai haloooo…”

        “Halo halo haiiii…..”

         

        Menyenangkan. Image removed by sender. :)

        Image removed by sender. bermain tepuk sorak

        Bermain tepuk dan sorak

         

        Kelas dimulai jam setengah 8, setiap volunteer telah mengisi kelas-kelas, kecuali kelas 6 yang sedang mengikuti bimbingan khusus pra UN. Saya ceritakan beberapa situasi di kelas-kelas tersebut yang berlangsung hingga pukul 11 siang dan dijeda oleh waktu istirahat di tengah-tengahnya. Para volunteer ini sendiri akan bertukar posisi kelas setiap 1 jam.

         

        Bapak Aji Rachmat dalam sesi kelasnya selalu berada di luar lapangan. Beberapa permainan mengasah kebersamaan, kepemimpinan, beliau praktekkan kepada anak-anak dengan metode sederhana. Seperti permainan mengisi air ke dalam ember berlubang dengan potongan-potongan pipa yang dibelah. DI sini anak-anak akan berpikir, bagaimana caranya agar ember itu penuh? Mereka lalu bekerja sama sedapat mungkin mengisi ember bocor tersebut. Di sesi lain beliau juga memberikan ilmu tentang ular kepada anak-anak, tak hanya anak-anak, para guru pun ikut berkumpul di sana. Bahkan di waktu istirahat sesi ular ini tetap berlangsung dan dihadiri oleh anak-anak berlainan kelas, begitu ramai. Di sini beliau membawa contoh 2 ekor ular tidak berbisa. Diterangkan kepada anak-anak, jenis-jenis ular, identifikasi ular secara sederhana, apa yang harus dilakukan ketika melihat ular, serta penanganan ketika tergigit ular. Anak-anak pun tak canggung untuk memegang ular-ular tersebut.

         Image removed by sender. bermain ular

        Aji Rachmat bermain ular dengan anak-anak

         

        Aji Wihardandi, beliau adalah seorang senior editor di bidang jurnalistik. Seorang fotografer dan pemerhati fauna juga. Di kelas beliau menjelaskan tentang, apa itu jurnalistik? Tentu saja dengan kacamata anak-anak. Lucu sekali, beliau membuat sebuah peragaan jurnalistik di kelas. Anak-anak akan praktek di depan kelas layaknya seorang pembaca berita di lapangan, seorang cameraman, dan seorang fotografer. Dengan alat peraga kamera video, kamera foto dan mix yang terbuat dari kardus. Di sini setidaknya anak-anak akan memahami dengan pemahaman mereka.

         

        “Ooo, begini to yang  biasanya dilihat di liputan-liputan berita televisi.”

         

         Image removed by sender. praktek jurnalistik

        Praktek jurnalistik dari Bapak Aji Wihardandi

         

        Nanang Kristanto, beliau adalah seorang bankir. Di depan kelas beliau menjelaskan tentang kegiatan ekonomi yang sederhana kepada anak-anak. Seperti menerangkan buku tabungan, uang dan lain sebagainya. Lalu sedikit memberikan semangat pencapaian cita-cita, apa-apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkannya.

        “Saya yakin pasti bisa.” teriak lantang anak-anak.

         

         Image removed by sender. bankir

        Bapak Nanang menerangkan profesi bankir kepada anak-anak

         

        Adis Yuniasih, beliau adalah seorang psikolog Puskesmas. Menjelaskan profesi seorang psikolog dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak. Psikolog bagi mereka mungkin sama dengan dokter yang mengurusi orang-orang gila. Jadi, Ibu Adis akan menerangkan kepada anak-anak bahwa profesi psikolog tidak hanya berurusan dengan orang gila saja, namun manusia pada umumnya. Tantangan berikutnya adalah menyampaikan bagian dimana anak-anak harus paham bahwa apapun cita-cita mereka nanti, prosesnya harus benar. Mulai dari attitude untuk tidak curang saat ujian, tidak takut salah dan mau belajar lagi bila salah. Belajar tanpa disuruh, menghormati dan menghargai siapa pun guru mereka, serta tidak lupa untuk beribadah memohon bantuan Tuhan.

         

        Menjelang sesi berakhir, Ibu Adis memberikan sesi relaksasi untuk melepaskan diri dari ketakutan. Beberapa praktek dengan tubuh dilakukan, seperti memejamkan mata, saling merekatkan kedua telapak tangan dan lainnya.

         

         Image removed by sender. psikolog

        Ibu Adis sedang berbagi profesi psikolog

         

        dr. Inu Wicaksana, beliau adalah seorang dokter ahli jiwa di Rumah Sakit Jiwa Magelang. Beliau hadir di sesi terakhir untuk menyemangati anak-anak kelas 6. Saya akan mengutip  tulisan beliau di http://edukasi.kompasiana.com.

         

        Tanggal 20 Feb kemarin saya jadi mengajar di Kelas Inspirasi SD Salakan Negri 1 di Piyungan Bantul. Saya jadi Guru SD Sehari dengan Powerpoint dan foto-foto tentang hidup saya sebagai dokter. Untung teman-teman saya satu grup mengajar, yang muda-muda, bisa mengadakan Laptop, LCD, dan layarnya. Sigap mereka menyiapkan peralatan itu di SD Salakan Negeri 1.

         

        Anak-anak SD Kelas 6 yang sudah nunggu sejak pagi terkejut melihat saya tampil di depan kelasnya. Mungkin melihat perawakan saya dan penampilan saya yang sangar dan agak menyeramkan. Tapi mereka mendengarkan dengan serius dan tenang karena ada 4 orang guru putri SD itu yang mohon ijin ikut mendengarkan. Walah walah.

         

        Judul pelajaran saya : “Mengapa Saya Menjadi Dokter”. Nah saya katakan tujuan saya menjadi dokter. Lalu metode belajar saya sejak SD, SMP, SMA. Lalu perjuangan saya sekolah di Kedokteran. Setelah lulus lalu menjadi dokter Kepala Puskesmas Ossu, Kab Viqueque, Timor Timur. Lalu petualangan saya menjadi dokter di daerah darurat perang di Timtim. Pertempuran ABRI dengan gerilyawan Retilin dipimpin Xanana. Dokter berkuda dengan kotak obat-obatan dan peralatan medis, diiringi perawat-perawat putra daerah yang berkuda juga, keluar-masuk hutan, naik ke gunung-gunung mengobati masyarakat terpencil. Mengobati yang luka-luka perang, baik lawan maupun kawan obat dan tindakan medisnya sama.

         

        Selesai tugas di TimTim lalu balik ke Jogja untuk sekolah lagi 5 tahun menjadi dokter spesialis jiwa. Kemudian gangguan jiwa itu apa dan bagaimana bentuk terapi dan pengobatannya. Kemudian sebagai psikiater menolong korban gempa Bantul yang dahsyat itu. Selama setahun datang ke Puskesmas-puskesmas Imogiri Bantul untuk menolong yang sakit fisik maupun sakit jiwa.

         

        Tentu ini sukarela dan tidak mendapat bayaran. Kemudian juga ketika Merapi meletuskan lahar panas dan dingin di akhir 2010 dan awal 2011. Bersama 40 psikiater dan dua ratus perawat mendatangi korban pengungsi di TPS-TPS di Magelang, Sleman Jogja, Klaten dan Boyolali. Memberikan juga sumbangan sembako dan 10.000 bibit pohon. Foto-foto dokter berkuda di TimTim, lalu foto-foto dokter jiwa dan pasien-pasien di RSJ Kramat sedang mendapat terapi. Disusul foto-foto pertolongan psikologik pertama pada korban gempa Bantul, disusul tindakan dokter dan perawat pada korban-korban bencana Merapi yang berjibun ribuan di TPS-TPS.

        Hampir dua jam usai sudah pelajaran saya di Kelas Inspirasi ini (Ini ide dan programnya Anis Baswedan, Univ Paramadina). Saya tambahi sedikit dengan para pecandu Napza yang harus diobati juga oleh psikiater seperti saya. Jenis-jenis Napza dengan contoh asli yang harus dihindari mereka dan betapa berbahayanya zat-zat adiktif itu. Anak-anak SD kelas VI itu mendengarkan sejak awal sampai akhir dengan agak tegang, mata terbeliak dan hampir-hampir sukar bernafas. Ya, kehidupan dokter seperti saya memang selalu dekat dengan penderitaan manusia, memang agak mengerikan. Menghadapi setiap hari orang yang sakit fisik ataupun mental yang sangat butuh pertolongan. Kehidupan dokter yang kadang membahayakan dirinya sendiri. Kehidupan dokter yang lebih mementingkan menolog sesama daripada bayaran.

         

        Sumpah dokter untuk menghormati setiap hidup insani sejak terjadinya pembuahan. Meringankan penderitaan manusia dan memperpanjang usianya. Sekolah dokter yang amat panjang dan berat. Jiwa menolong yang harus dipupuk sejak anak-anak dengan kegiatan Pramuka. Pramuka itu berwatak ksatria. Hemat, cermat dan bersahaja. Selalu siap menolong dan wajib berjasa. Dalam keadaan apapun harus senang. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Inilah yang kemudian mendasari watak, perilaku dan kehidupan seorang dokter yang baik. Tak ada anak-anak yang berani bertanya di dalam kelas. Tapi di luar kelas, sambil foto-fotoan bersama, mereka pada bertanya ini-itu. Yang bertanya di dalam kelas malah guru-guru putri mereka itu. Walah, hahaha. Tapi semua, baik saya, murid-murid SD itu, maupun guru-gurunya, cukup puas dengan pelajaran kehidupan kaum profesional di Kelas Inspirasi ini.

        Image removed by sender. dr inu

        dr. Inu Wicaksana sedang sharing profesi dokter jiwa

         

        ***

         

        “Nak, 20-30 tahun lagi, siapa yang akan membangun Indonesia?”

        “Nak, jika ada warisan yang maha kaya berupa semesta alam Indonesia, 20-30 tahun lagi siapa yang akan mengolahnya, mengaturnya dan memanfaatkannya demi manfaat untuk sesama?”

        “Nak, jika saat ini kami menanam bibit pohon, 20-30  tahun lagi siapa yang akan merawatnya saat bibit pohon itu telah menjadi hutan?”

        “Nak, jika saat ini kalian diajar oleh orang dewasa, 20-30 tahun lagi siapa yangakan menjadi pengajar?”

        “Nak, jika saat ini kami menginspirasi dan kalian terinspirasi, 20-30 tahun lagi siapa yang akan menginspirasi?”

         

        Kalian!!!

        Benar kata Ibu Rara Wilis,“They inspired me as well.”

        Anak-anak ini setidaknya telah menampar kami, mengingatkan kembali kami, memunculkan kembali nilai-nilai sosial pada diri kami orang dewasa. Bahwa apa yang sudah kita perbuat untuk sesama? Jika masih tersembunyi di dalam diri, keluarkanlah!! Ikhlas.

         

        “Khairunnasi anfauhum linnas.

        “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”

        Jazakumullahukhoiro, wassalamu’alaikum wr. wb.

         

        Image removed by sender. inspirator dan murid (2)

        Fotografer          : Tommy Gustavi, Ricco, Anin

        Videografer       : Ananto Prasetyo

         

        ~ be brave
        jogja, 1 Maret 2013
        hestu

        Important Notice: This communication (including any attachments) is intended for the use of the intended recipient(s) only and may contain information that is confidential, privileged or legally protected. Any unauthorized use or dissemination of this communication is strictly prohibited. If you have received this communication in error, please immediately notify the sender by return e-mail message and delete all copies of the original communication. Thank you for your cooperation.




        --
        Facebook : Jiteng Bat'packer
        Twitter      : BiJitss
        Flickr       : jiteng28
      • Ahmad SYARIFUDIN
        Wkwkwkw kangen ma om doddy maah ntar klo mau nanya2 jalanan lgi....yg kmrn aja masih blm ada yg jawab serius...JJJ Salam, Arief From:
        Message 3 of 4 , Mar 1 1:10 AM
        • 0 Attachment

          Wkwkwkw kangen ma om doddy maah ntar klo mau nanya2 jalanan lgi….yg kmrn aja masih blm ada yg jawab serius…JJJ

           

          Salam,

          Arief

           

          From: jejakpetualang@yahoogroups.com [mailto:jejakpetualang@yahoogroups.com] On Behalf Of jiteng.batpacker
          Sent: 01/Mar/13 4:04 PM
          To: jejakpetualang@yahoogroups.com
          Subject: Re: [JPers] Menginspirasi dan terinspirasi (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

           

           

          Kereenn.. Lanjutkan mbah ...

           

          @ahmad : ga kangen sama om Dody.? :D

           

          Pada 1 Maret 2013 15.59, Ahmad SYARIFUDIN <Ahmad.Syarifudin@...> menulis:

           

          Menyimak aja…kangen ma tulisannya mbah jarod…

           

          *kangen juga ma tulisannya koko hans…

           

          Salam,

          Arief

           

          From: jejakpetualang@yahoogroups.com [mailto:jejakpetualang@yahoogroups.com] On Behalf Of jarody hestu
          Sent: 01/Mar/13 3:40 PM
          To: satubumi; nature trekker; jejak petualang
          Subject: [JPers] Menginspirasi dan terinspirasi (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

           

           

          Menginspirasi dan terinspirasi

          (sebuah catatan kecil Kelas Inspirasi 20 Februari 2013)

                                                                     oleh Jarody Hestu

           Image removed by sender. praktek jurnalistik

           Assalamu’alaikum Wr. Wb.

          “Apakah pemandu wisata itu?”

           

          “Pemandu wisata adalah petualangan gunung.” tulis Feritiyas Maryati polos di kertas.

           

          Sebuah jawaban yang polos dari gadis kecil kelas 5 SD, karena yang dia lihat selama sesi kelas saya adalah hal-hal khusus yang telah saya praktekkan dengan alat-alat peraga wisata minat khusus yang biasa saya pakai dalam profesi saya. Seperti pelampung, helmet, foto-foto gunung, sungai dan goa, tenda, kamera, stick pole untuk naik gunung dan lainnya. Untung saja saya tak membawa perahu, kalau saya membawa perahu karet mungkin anak itu akan menjawab,

           

          “Pemandu wisata adalah petualangan sungai.”

          “Glekkk.”

           

          Lalu Revika Novrita Putri lain lagi, gadis kecil yang duduk bersebelahan dengan kembarannya ini menjawab dengan lebih global.

           

          “Pemandu wisata adalah seorang yang memandu wisatawan.”

           

          Hmmm. Anak-anak memandang segala sesuatu dengan kacamata anak-anak. Orang-orang dewasa pada suatu ketika akan masuk ke dalam diskusi anak-anak, bagaimana orang dewasa bertindak?

          Pakailah kacamata anak-anak. Itu menyenangkan. Image removed by sender. :)

           

          Profesi ini saya geluti hingga saat ini bermula dari hobi dan kesenangan. Jalan-jalan di alam terbuka, bermula dari hobi dan menjadi pekerjaan. Saya ingin menyampaikan kepada anak-anak, kesenangan yang bersifat positif di luar kelas dapat menjadi penambah semangat dalam mengikuti mata pelajaran di dalam sekolah. Jadi, gelutilah. Mungkin suatu saat dapat menjadi profesi bagi anak-anak. Bukankah seorang pemain sepakbola pada saat kecil mempunyai hobi bermain bola?

           

          “Pengen ndak keliling Indonesia?”

          “Pengennnnn.”  teriak lantang anak-anak Image removed by sender. :)Image removed by sender. :)Image removed by sender. :)

           Image removed by sender. tenda

           Saya sedang memberikan sharing profesi pemandu wisata minat khusus kepada anak-anak

           

          ***

          Rara Wilis (Chief Marketing Officer AORA TV), salah satu volunteer Kelas Inspirasi – Indonesia Mengajar dalam testimonialnya berkata,

           

          “Saya merasa, bukan hanya saya yang menginspirasi mereka, but they inspired me as well.”

           

          Ibu Rara ini satu sekolah bersama saya dan 6 orang volunteer lain ditemani 4 orang dokumenter di SDN 1 Salakan, Potorono, Banguntapan, Bantul. Kami berada di sana dalam salah satu rangkaian Kelas Inspirasi. Sebuah program dari Indonesia Mengajar yang mengajak para profesional untuk mendedikasikan waktu sehari memberikan inspirasi kepada anak-anak Sekolah Dasar di beberapa kota besar Indonesia.

           Image removed by sender. rara wilis berdiskusi

          Ibu Rara Wilis berdiskusi dengan salah seorang murid

           

          Apa yang diinspirasikan kepada anak-anak? Semangat, atas pencapaian sebuah cita-cita. Kami mempunyai pekerjaan, mereka punya cita-cita. Kami menyampaikan, mereka mendengarkan. Hal-hal baru akan mereka terima selama sehari ini, berkaitan dengan keberagaman profesi kami.

           

          Apa-apa saja profesi kami? Mungkin tidak tercatat dalam kamus profesi anak-anak. Anak-anak lebih terdoktrin profesi-profesi umum yang sering diceritakan orang tua maupun guru mereka, dan itulah cita-cita mereka. Coba bayangkan, apakah seorang anak-anak paham dengan profesi Peneliti Nyamuk. Tidak. Anak-anak lebih familiar dengan profesi guru, pilot, dokter, insinyur dan lain-lainnya. Bukankah dulu semasa kita  masih anak-anak juga memiliki pemahaman seperti ini? Hehe.

           

          Mungkin sekarang bertambah satu lagi profesi hafalan seorang anak-anak, yaitu pemain bola dan bintang sinetron. Karena semakin maraknya tayangan bola dan sinetron di televisi. Jaman anak-anak saya dulu televisi = TVRI, jadi kamus profesi anak-anak di jaman saya tentu saja lebih sedikit dengan kamus profesi anak-anak di jaman sekarang. Ahahah, just kidding. ^^ v

           

          Warsito Tantowijoyo, seorang peneliti nyamuk. Beliau membawa beberapa box kaca berisi jentik nyamuk ke dalam kelas. Dan anak-anak akan bermain dengan box-box itu. Mereka akan berhitung, menjadi seorang pengambil kesimpulan dari permainan sederhana yang diberikan Bapak Warsito ini di dalam kelas. Sebuah profesi yang aneh bukan, jangankan anak-anak, seorang dewasa seperti saya pun akan memandang demikian.

           

          Image removed by sender. peneliti nyamuk

          Bapak Warsito sedang memperlihatkan jentik-jentik nyamuk kepada anak-anak

           

          Anak-anak lebih menerima gambaran yang tertuang lewat praktek daripada deskripsional. Dan dengan menghitung jumlah jentik nyamuk di dalam box-box tersebut, mereka akan mendapatkan pemahaman. Tentang apakah Peneliti Nyamuk itu, sebuah hal baru masuk ke dalam wawasan mereka. Wawasan seorang anak-anak yang mudah sekali dimasuki oleh pemikiran-pemikiran, pemikiran yang positif tentu saja harapannya. Jika ada pemikiran yang negatif bagaimana? Itu tugas seorang dewasa untuk menangkalnya dari kehidupan anak-anak.

           

          ***

           

          Anak-anak begitu cerianya mengikuti permainan sederhana dari Aji Rachmat di awal kelas. Semacam permainan ice breaking untuk menyemangati anak-anak sebelum kegiatan. Lepas jam 7 pagi, setelah kata-kata kulonuwun dari kami dan sambutan dari Pak Rubiyanto selaku Kepala Sekolah SDN 1 Salakan. Bapak Aji Rachmat ini adalah seorang fasilitator outbound dan pawang ular yang pernah aktif di Jejak Petualang TV7 dahulu. Aktif juga dalam Pramuka. Begitu menyenangkannya bisa bersama-sama merangkul anak-anak dalam keceriaan di pagi hari. Bertepuk bersama, bergerak bersama, bersorak bersama.

           

          “Haiiii….” teriak kami.

          “Haloooo…” balas anak-anak bersorak.

          “Haloo…” teriak kami lagi.

          “Haiii….” tak kalah lantang suara 120-an anak menjawab.

          “Hai hai haloooo…”

          “Halo halo haiiii…..”

           

          Menyenangkan. Image removed by sender. :)

          Image removed by sender. bermain tepuk sorak

          Bermain tepuk dan sorak

           

          Kelas dimulai jam setengah 8, setiap volunteer telah mengisi kelas-kelas, kecuali kelas 6 yang sedang mengikuti bimbingan khusus pra UN. Saya ceritakan beberapa situasi di kelas-kelas tersebut yang berlangsung hingga pukul 11 siang dan dijeda oleh waktu istirahat di tengah-tengahnya. Para volunteer ini sendiri akan bertukar posisi kelas setiap 1 jam.

           

          Bapak Aji Rachmat dalam sesi kelasnya selalu berada di luar lapangan. Beberapa permainan mengasah kebersamaan, kepemimpinan, beliau praktekkan kepada anak-anak dengan metode sederhana. Seperti permainan mengisi air ke dalam ember berlubang dengan potongan-potongan pipa yang dibelah. DI sini anak-anak akan berpikir, bagaimana caranya agar ember itu penuh? Mereka lalu bekerja sama sedapat mungkin mengisi ember bocor tersebut. Di sesi lain beliau juga memberikan ilmu tentang ular kepada anak-anak, tak hanya anak-anak, para guru pun ikut berkumpul di sana. Bahkan di waktu istirahat sesi ular ini tetap berlangsung dan dihadiri oleh anak-anak berlainan kelas, begitu ramai. Di sini beliau membawa contoh 2 ekor ular tidak berbisa. Diterangkan kepada anak-anak, jenis-jenis ular, identifikasi ular secara sederhana, apa yang harus dilakukan ketika melihat ular, serta penanganan ketika tergigit ular. Anak-anak pun tak canggung untuk memegang ular-ular tersebut.

           Image removed by sender. bermain ular

          Aji Rachmat bermain ular dengan anak-anak

           

          Aji Wihardandi, beliau adalah seorang senior editor di bidang jurnalistik. Seorang fotografer dan pemerhati fauna juga. Di kelas beliau menjelaskan tentang, apa itu jurnalistik? Tentu saja dengan kacamata anak-anak. Lucu sekali, beliau membuat sebuah peragaan jurnalistik di kelas. Anak-anak akan praktek di depan kelas layaknya seorang pembaca berita di lapangan, seorang cameraman, dan seorang fotografer. Dengan alat peraga kamera video, kamera foto dan mix yang terbuat dari kardus. Di sini setidaknya anak-anak akan memahami dengan pemahaman mereka.

           

          “Ooo, begini to yang  biasanya dilihat di liputan-liputan berita televisi.”

           

           Image removed by sender. praktek jurnalistik

          Praktek jurnalistik dari Bapak Aji Wihardandi

           

          Nanang Kristanto, beliau adalah seorang bankir. Di depan kelas beliau menjelaskan tentang kegiatan ekonomi yang sederhana kepada anak-anak. Seperti menerangkan buku tabungan, uang dan lain sebagainya. Lalu sedikit memberikan semangat pencapaian cita-cita, apa-apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkannya.

          “Saya yakin pasti bisa.” teriak lantang anak-anak.

           

           Image removed by sender. bankir

          Bapak Nanang menerangkan profesi bankir kepada anak-anak

           

          Adis Yuniasih, beliau adalah seorang psikolog Puskesmas. Menjelaskan profesi seorang psikolog dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak-anak. Psikolog bagi mereka mungkin sama dengan dokter yang mengurusi orang-orang gila. Jadi, Ibu Adis akan menerangkan kepada anak-anak bahwa profesi psikolog tidak hanya berurusan dengan orang gila saja, namun manusia pada umumnya. Tantangan berikutnya adalah menyampaikan bagian dimana anak-anak harus paham bahwa apapun cita-cita mereka nanti, prosesnya harus benar. Mulai dari attitude untuk tidak curang saat ujian, tidak takut salah dan mau belajar lagi bila salah. Belajar tanpa disuruh, menghormati dan menghargai siapa pun guru mereka, serta tidak lupa untuk beribadah memohon bantuan Tuhan.

           

          Menjelang sesi berakhir, Ibu Adis memberikan sesi relaksasi untuk melepaskan diri dari ketakutan. Beberapa praktek dengan tubuh dilakukan, seperti memejamkan mata, saling merekatkan kedua telapak tangan dan lainnya.

           

           Image removed by sender. psikolog

          Ibu Adis sedang berbagi profesi psikolog

           

          dr. Inu Wicaksana, beliau adalah seorang dokter ahli jiwa di Rumah Sakit Jiwa Magelang. Beliau hadir di sesi terakhir untuk menyemangati anak-anak kelas 6. Saya akan mengutip  tulisan beliau di http://edukasi.kompasiana.com.

           

          Tanggal 20 Feb kemarin saya jadi mengajar di Kelas Inspirasi SD Salakan Negri 1 di Piyungan Bantul. Saya jadi Guru SD Sehari dengan Powerpoint dan foto-foto tentang hidup saya sebagai dokter. Untung teman-teman saya satu grup mengajar, yang muda-muda, bisa mengadakan Laptop, LCD, dan layarnya. Sigap mereka menyiapkan peralatan itu di SD Salakan Negeri 1.

           

          Anak-anak SD Kelas 6 yang sudah nunggu sejak pagi terkejut melihat saya tampil di depan kelasnya. Mungkin melihat perawakan saya dan penampilan saya yang sangar dan agak menyeramkan. Tapi mereka mendengarkan dengan serius dan tenang karena ada 4 orang guru putri SD itu yang mohon ijin ikut mendengarkan. Walah walah.

           

          Judul pelajaran saya : “Mengapa Saya Menjadi Dokter”. Nah saya katakan tujuan saya menjadi dokter. Lalu metode belajar saya sejak SD, SMP, SMA. Lalu perjuangan saya sekolah di Kedokteran. Setelah lulus lalu menjadi dokter Kepala Puskesmas Ossu, Kab Viqueque, Timor Timur. Lalu petualangan saya menjadi dokter di daerah darurat perang di Timtim. Pertempuran ABRI dengan gerilyawan Retilin dipimpin Xanana. Dokter berkuda dengan kotak obat-obatan dan peralatan medis, diiringi perawat-perawat putra daerah yang berkuda juga, keluar-masuk hutan, naik ke gunung-gunung mengobati masyarakat terpencil. Mengobati yang luka-luka perang, baik lawan maupun kawan obat dan tindakan medisnya sama.

           

          Selesai tugas di TimTim lalu balik ke Jogja untuk sekolah lagi 5 tahun menjadi dokter spesialis jiwa. Kemudian gangguan jiwa itu apa dan bagaimana bentuk terapi dan pengobatannya. Kemudian sebagai psikiater menolong korban gempa Bantul yang dahsyat itu. Selama setahun datang ke Puskesmas-puskesmas Imogiri Bantul untuk menolong yang sakit fisik maupun sakit jiwa.

           

          Tentu ini sukarela dan tidak mendapat bayaran. Kemudian juga ketika Merapi meletuskan lahar panas dan dingin di akhir 2010 dan awal 2011. Bersama 40 psikiater dan dua ratus perawat mendatangi korban pengungsi di TPS-TPS di Magelang, Sleman Jogja, Klaten dan Boyolali. Memberikan juga sumbangan sembako dan 10.000 bibit pohon. Foto-foto dokter berkuda di TimTim, lalu foto-foto dokter jiwa dan pasien-pasien di RSJ Kramat sedang mendapat terapi. Disusul foto-foto pertolongan psikologik pertama pada korban gempa Bantul, disusul tindakan dokter dan perawat pada korban-korban bencana Merapi yang berjibun ribuan di TPS-TPS.

          Hampir dua jam usai sudah pelajaran saya di Kelas Inspirasi ini (Ini ide dan programnya Anis Baswedan, Univ Paramadina). Saya tambahi sedikit dengan para pecandu Napza yang harus diobati juga oleh psikiater seperti saya. Jenis-jenis Napza dengan contoh asli yang harus dihindari mereka dan betapa berbahayanya zat-zat adiktif itu. Anak-anak SD kelas VI itu mendengarkan sejak awal sampai akhir dengan agak tegang, mata terbeliak dan hampir-hampir sukar bernafas. Ya, kehidupan dokter seperti saya memang selalu dekat dengan penderitaan manusia, memang agak mengerikan. Menghadapi setiap hari orang yang sakit fisik ataupun mental yang sangat butuh pertolongan. Kehidupan dokter yang kadang membahayakan dirinya sendiri. Kehidupan dokter yang lebih mementingkan menolog sesama daripada bayaran.

           

          Sumpah dokter untuk menghormati setiap hidup insani sejak terjadinya pembuahan. Meringankan penderitaan manusia dan memperpanjang usianya. Sekolah dokter yang amat panjang dan berat. Jiwa menolong yang harus dipupuk sejak anak-anak dengan kegiatan Pramuka. Pramuka itu berwatak ksatria. Hemat, cermat dan bersahaja. Selalu siap menolong dan wajib berjasa. Dalam keadaan apapun harus senang. Di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku senang. Inilah yang kemudian mendasari watak, perilaku dan kehidupan seorang dokter yang baik. Tak ada anak-anak yang berani bertanya di dalam kelas. Tapi di luar kelas, sambil foto-fotoan bersama, mereka pada bertanya ini-itu. Yang bertanya di dalam kelas malah guru-guru putri mereka itu. Walah, hahaha. Tapi semua, baik saya, murid-murid SD itu, maupun guru-gurunya, cukup puas dengan pelajaran kehidupan kaum profesional di Kelas Inspirasi ini.

          Image removed by sender. dr inu

          dr. Inu Wicaksana sedang sharing profesi dokter jiwa

           

          ***

           

          “Nak, 20-30 tahun lagi, siapa yang akan membangun Indonesia?”

          “Nak, jika ada warisan yang maha kaya berupa semesta alam Indonesia, 20-30 tahun lagi siapa yang akan mengolahnya, mengaturnya dan memanfaatkannya demi manfaat untuk sesama?”

          “Nak, jika saat ini kami menanam bibit pohon, 20-30  tahun lagi siapa yang akan merawatnya saat bibit pohon itu telah menjadi hutan?”

          “Nak, jika saat ini kalian diajar oleh orang dewasa, 20-30 tahun lagi siapa yangakan menjadi pengajar?”

          “Nak, jika saat ini kami menginspirasi dan kalian terinspirasi, 20-30 tahun lagi siapa yang akan menginspirasi?”

           

          Kalian!!!

          Benar kata Ibu Rara Wilis,“They inspired me as well.”

          Anak-anak ini setidaknya telah menampar kami, mengingatkan kembali kami, memunculkan kembali nilai-nilai sosial pada diri kami orang dewasa. Bahwa apa yang sudah kita perbuat untuk sesama? Jika masih tersembunyi di dalam diri, keluarkanlah!! Ikhlas.

           

          “Khairunnasi anfauhum linnas.

          “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”

          Jazakumullahukhoiro, wassalamu’alaikum wr. wb.

           

          Image removed by sender. inspirator dan murid (2)

          Fotografer          : Tommy Gustavi, Ricco, Anin

          Videografer       : Ananto Prasetyo

           

          ~ be brave
          jogja, 1 Maret 2013
          hestu

          Important Notice: This communication (including any attachments) is intended for the use of the intended recipient(s) only and may contain information that is confidential, privileged or legally protected. Any unauthorized use or dissemination of this communication is strictly prohibited. If you have received this communication in error, please immediately notify the sender by return e-mail message and delete all copies of the original communication. Thank you for your cooperation.



           

          --
          Facebook : Jiteng Bat'packer
          Twitter      : BiJitss
          Flickr       : jiteng28

          Important Notice: This communication (including any attachments) is intended for the use of the intended recipient(s) only and may contain information that is confidential, privileged or legally protected. Any unauthorized use or dissemination of this communication is strictly prohibited. If you have received this communication in error, please immediately notify the sender by return e-mail message and delete all copies of the original communication. Thank you for your cooperation.
        Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.