Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: OOT : Menggali Inspirasi dari kisah 99 tokoh olah raga

Expand Messages
  • doNi daVinci
    dulu aku kau puja dulu aku kau sayang dulu aku sang juara yang selalu engkau cinta kini roda telah berputar kini aku kau hina kini aku kau buang jauh dari
    Message 1 of 2 , Dec 1, 2010
    • 0 Attachment
      dulu aku kau puja
      dulu aku kau sayang
      dulu aku sang juara
      yang selalu engkau cinta
      kini roda telah berputar

      kini aku kau hina
      kini aku kau buang
      jauh dari hidupmu
      kini aku sengsara
      roda memang telah berputar

      penggalan lirik lagu dari Nidji, yg sedikit mencerminkan potret kelam tokoh2 olahraga di Indonesia saat ini...

      -doNi-
      *my game is fair play


      --- In jejakpetualang@yahoogroups.com, Neng Asgar <neng.asgar@...> wrote:
      >
      > *Just Intermezzo...*
      > **
      > *Dulu Indonesia selalu berjaya di bidang olahraga. Dan sangat di segani.*
      > **
      > *Hmm..apakah yang salah sehingga prestasinya menurun?*
      > **
      > *Salam,*
      > *Neng Asgar*
      > **
      > --
      > Because adventure is about togetherness
      >
      > YM : epik_w
      > MP : http://nengasgar.multiply.com
      > **
      > **
      > *venty*:
      > Jakarta - Inspirasi tidak selalu datang ketika seseorang duduk sendiri di
      > tempat sunyi nan senyap, tetapi bisa dari membaca buku mengenai kisah
      > perjalanan hidup seseorang.
      >
      > Itulah yang diharapkan para penulis buku "99 Tokoh Olahraga Indonesia,
      > Catatan Satu Abad (1908-2008)".
      >
      > Buku berisi tentang kisah perjalanan tokoh-tokoh berprestasi dan berjasa
      > bagi perkembangan olahraga di Tanah Air itu, oleh para penggagas, penulis,
      > maupun penerbitnya diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi generasi masa
      > depan dalam mengukir prestasi di bidang olahraga.
      >
      > Perbedaan mencolok buku setebal 278 ini dengan buku-buku himpunan profil
      > atlet atau tokoh olahraga Indonesia lain adalah dalam hal pembagian rentang
      > waktu, dimana diurutkan secara runut mengenai kisah tokoh pada masa
      > prakemerdekaan hingga massa reformasi 2008.
      >
      > Dalam masa prakemerdekaan dikisahkan bagaimana Ir Soeratin mempelopori
      > pendirian Persatuan Sepak Raga Seloeroeh Indonesia yang kemudian menjadi
      > Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) hingga sekarang.
      >
      > Kisah Soeratin yang mengawali kisah perjalanan 99 tokoh olahraga dalam buku
      > ini sangatlah menyentuh. Ia yang bukan seorang atlet olahraga, telah
      > berjuang tanpa lelah mempersatukan bangsa di tengah himpitan ideologi
      > penjajahan Belanda, melalui sebuah organisasi olahraga sepakbola.
      >
      > Menyimak perjuangan Soeratin yang menempatkan sepakbola sebagai sarana
      > menanamkan semangat kebangsaan dan persatuan Indonesia, sungguh wajar jika
      > penulis menyertakan sedikit kritik dalam tulisan mengenai Soeratin ini.
      >
      > Penulis mengatakan, ide mempersatukan bangsa dengan sepakbola yang
      > dipikirkan Soeratin sama sekali bertolak belakang dengan kondisi
      > persepakbolaan Indonesia saat ini yang lebih identik dengan cerita kerusuhan
      > antar suporter atau manajer memukul wasit dan kisah-kisah "hitam" lainnya.
      >
      > Setidaknya dengan membaca buku tentang sejarah persepakbolaan Indonesia di
      > buku ini dari era Soeratin hingga Indonesia dijuluki "Macan Asia" pada 1950
      > hingga 1960-an, sungguh kita sekarang merasa kecil. Jangankan untuk bisa
      > sejajar dengan klub-klub Eropa, di Asia saja kita selalu "keok".
      >
      > Kisah Soeratin dan Ramang, sang tukang becak yang menjadi legenda sepakbola,
      > hanyalah sepenggal dari kisah tokoh olahraga dalam buku "99 Tokoh Olahraga
      > Indonesia" ini, karena masih ada kisah 97 tokoh olahraga lainnya yang juga
      > menarik untuk diketahui.
      >
      > Misal pada masa awal kemerdekaan, bagaimana Widodo Sosrodiningrat menyatukan
      > pemimpin olahraga ke dalam PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia),
      > terbentuknya KOI (Komite Oliampiade Indonesia) hingga sepak terjang Rita
      > Suwobo sebagai Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
      >
      > Pembaca juga bisa menyimak mengenai kejayaan olahraga Indonesia di masa
      > pemerintahan Presiden Soekarno ketika di tengah-tengah susahnya kehidupan
      > rakyat waktu itu, ia berhasil membangun Gelora Bung Karno dan Kompleks
      > Olahraga Senayan, dan Indonesia menjadi runner up Asian Games 1962 sekaligus
      > menjadi tuan rumah pesta olahraga yang diikuti 17 negara tersebut.
      >
      > Perjalanan tokoh dan olahragawan pada masa Orde Baru juga diceritakan dengan
      > baik dalam buku ini, termasuk kejayaan perbulutangkisan Indonesia di
      > kompetisi-kompetisi dunia seperti Piala Thomas dan Uber, Olimpiade dan All
      > England.
      >
      > Dengan penulisan terstruktur yang membagi perjalanan para tokoh Indonesia
      > dalam enam periode masa, membuat pembaca buku ini bisa belajar dan
      > membandingkan bagaimana kondisi perolahragaan Indonesia dari jaman pra
      > kemerdekaan hingga masa reformasi.
      >
      > Kenapa 99?
      >
      > Meski sudah mengadopsi berbagai pemangku kepentingan dan mengisahkan
      > perjalanan karier atlet dan tokoh olahraga dari berbagai cabang, bukan
      > berarti buku ini tidak ada kekurangan.
      >
      > Dalam hal jumlah tokoh yang ditulis, kenapa tim kerja buku ini membatasinya
      > hanya 99. Apa alasan penentuan 99 tokoh, kenapa tidak 100 atau lebih? Angka
      > 100 sebenarnya lebih "nyambung" jika dikaitkan dengan tema "Catatan Satu
      > Abad" (100 tahun) dalam judul buku itu.
      >
      > Pembatasan 99 tokoh membuat beberapa tokoh yang sebenarnya layak untuk
      > ditulis dan dibagi pengalamannya kepada pembaca, entah sengaja atau tidak
      > menjadi terlewatkan. Petinju legendaris Elyas Pical misalnya, prestasinya
      > juga patut dikenang karena telah menjuarai kelas bantam yunior IBF pada
      > tahun 1980-an. Ia juga petinju pertama Indonesia yang mampu menyabet gelar
      > juara tinju dunia profesional.
      >
      > Kekurangan-kekurangan ini bukan tidak disadari. Tim penulis dalam Sekapur
      > Sirih juga mengakui hal itu. Menurut mereka, kesulitan-kesulitan memilih
      > orang-orang yang pantas ditampilkan, membuat awal penggarapan buku ini agak
      > tersendat.
      >
      > Pemilihan 99 tokoh diputuskan setelah tim penulis melakukan verifikasi yang
      > melibatkan pihak Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, pengamat sejarah
      > olahraga Indonesia, dan para wartawan olahraga senior Kantor Berita ANTARA,
      > lembaga yang menggagas pembuatan buku ini.
      >
      > Tim Penulis juga menyatakan minta maaf karena tidak bermaksud mengecilkan
      > keberadaan para tokoh olahraga yang mungkin memang lebih pantas ditampilkan,
      > tetapi tidak dikisahkan dalam buku tersebut.
      >
      > Namun, terlepas dari kekurangan yang dimiliki, buku yang isinya tidak
      > sekedar daftar riwayat prestasi para tokoh, tetapi juga mengupas berbagai
      > aspek kehidupan para tokoh olahraga sebagai sosok manusia utuh, punya
      > gagasan, harapan, kekecewaan, kesedihan, dan ketauladanan ini, patut menjadi
      > sumber inspirasi bagi siapa pun, baik pecinta olahraga atau pun bukan.
      >
      > Selebihnya buku ini tentu pantas untuk dikoleksi sebagai salah satu dokumen
      > penting tentang perkembangan, spirit, dan kejuangan olahraga di Indonesia.
      >
      > sumber: ANTARA News
      >
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.