Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: sekilas keberadaan Orang Rimba...

Expand Messages
  • bman
    sebuah artikel yang bagus dan cukup menarik, yang ingin membawa kita agar lebih arif dlm bertindak dan lebih santun dalam bergaul. ... masyarakat terasing
    Message 1 of 2 , Apr 5 6:12 PM
    • 0 Attachment
      sebuah artikel yang bagus dan cukup menarik, yang ingin membawa kita
      agar lebih arif dlm bertindak dan lebih santun dalam bergaul.


      --- In jejakpetualang@yahoogroups.com, "Raymond. N"
      <raymond_khumiez@y...> wrote:
      > Orang Rimba, Masyarakat Terasing yang Semakin Termarginalisasi
      >
      > Tulisan Kiki di situs Buana Khatulistiwa (www.bk.or.id). -- Istilah
      masyarakat terasing telah lama beredar di Indonesia yang dipelopori
      Departemen Sosial sebagai institusi pemerintah yang bertugas
      mengurusi masalah masyarakat terasing ini. Orang Rimba merupakan
      salah satu dari 370 suku/sub suku yang dikategorikan Departemen
      Sosial sebagai masyarakat terasing, yang tersebar di pedalaman hutan-
      hutan di Jambi, Sumatera Selatan dan Riau.
      >
      > Pada tulisan ini akan dibahas Orang Rimba yang hidup dikawasan
      Bukit Duabelas Jambi, dimana telah dan sedang terjadi proses
      marginalisasi terhadap mereka. Padahal dari 2670 jiwa Orang Rimba
      yang tersebar di Jambi, 1046 jiwa hidup dikawasan ini dan mereka
      inilah yang sampai saat ini masih sangat konsisten dan fanatik dalam
      menjalankan dan menjaga kelestarian adat istiadatnya.
      >
      > Penyebutan Orang Rimba
      >
      > Penyebutan terhadap Orang Rimba perlu untuk diketahui terlebih
      dahulu, karena ada tiga sebutan terhadap dirinya yang mengandung
      makna yang berbeda, yaitu : Pertama KUBU, merupakan sebutan yang
      paling populer digunakan oleh terutama orang Melayu dan masyarakat
      Internasional. Kubu dalam bahasa Melayu memiliki makna peyorasi
      seperti primitif, bodoh, kafir, kotor dan menjijikan. Sebutan Kubu
      telah terlanjur populer terutama oleh berbagai tulisan pegawai
      kolonial dan etnografer pada awal abad ini.
      >
      > Kedua SUKU ANAK DALAM, sebutan ini digunakan oleh pemerintah
      melalui Departemen Sosial. Anak Dalam memiliki makna orang
      terbelakang yang tinggal di pedalaman. Karena itulah dalam perspektif
      pemerintah mereka harus dimodernisasikan dengan mengeluarkan mereka
      dari hutan dan dimukimkan melalui program Pemukiman Kembali
      Masyarakat Terasing (PKMT). Ketiga ORANG RIMBA, adalah sebutan yang
      digunakan oleh etnik ini untuk menyebut dirinya. Makna sebutan ini
      adalah menunjukkan jati diri mereka sebagai etnis yang mengembangkan
      kebudayaannya yang tidak bisa lepas dari hutan. Sebutan ini adalah
      yang paling proposional dan obyektif karena didasarkan kepada konsep
      Orang Rimba itu sendiri dalam menyebut dirinya.
      >
      > Penyebutan Orang Rimba pertama kali dipublikasikan oleh Muntholib
      Soetomo tahun 1995 dalam desertasinya yang berjudul 'Orang Rimbo :
      Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat terasing di Makekal, Propinsi
      Jambi'. Penyebutan Orang Rimba dengan berakhiran huruf 'o' pada
      disertasi tersebut dipertentangkan oleh beberapa antropolog meski
      tidak ada perbedaan makna, tetapi akhiran 'o' pada sebutan Orang
      Rimbo merupakan dialek Melayu Jambi dan Minang. Sementara fakta yang
      sebenarnya adalah Orang Rimba tanpa akhiran 'o' (Aritonang).
      >
      > Persebaran dan populasi Orang Rimba di propinsi Jambi
      >
      > Orang Rimba tersebar di tiga propinsi di hutan pedalaman Sumatera,
      yaitu propinsi Jambi, Sumatera Selatan dan Riau. Populasi terbesar
      berada di propinsi Jambi dengan jumlah 2670 jiwa, dengan persebaran
      di tiga lokasi yaitu pertama, di sekitar/sepanjang lintas jalan
      sumatera antara kabupaten Sarolangun Bangko dan Bungotebo dengan
      jumlah populasi sebesar 1259 jiwa. Kedua, di kawasan Bukit Duabelas
      dengan populasi sebesar 1046 jiwa dan terakhir, di kawasan Bukit
      Tigapuluh dengan jumlah 365 jiwa.
      >
      > Kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas adalah kawasan hidup Orang
      Rimba yang dilindungi dan ditetapkan melalui Surat Usulan Gubernur
      Jambi No. 522/51/1973/1984 seluas 26.800 Ha. Ditetapkannya kawasan
      Bukit Dua Belas sebagai Cagar Biosfir, karena kawasan ini memenuhi
      ciri-ciri atau kriteria yang sifatnya kualitatif yang mengacu pada
      kriteria umum Man and Biosphere Reserve Program, UNESCO , seperti
      berikut :
      >
      > - Merupakan kawasan yang mempunyai keperwakilan ekosistem yang
      masih alami dan kawasan yang sudah mengalami degradasi, modifikasi
      dan atau binaan;
      > - Mempunyai komunitas alam yang unik, langka dan indah;
      > - Merupakan landscape atau bentang alam yang cukup luas yang
      mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta
      kegiatannya secara harmonis;
      > - Merupakan tempat bagi penyelenggaraan pemantauan perubahan-
      perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan (Dirjen
      PHPA, 1993).
      >
      > Secara administratif kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas terletak
      di antara tiga kabupaten yaitu kabupaten Sarolangun Bangko, Bunga
      Tebo dan Batang Hari. Ketiga kabupaten tersebut saling berbatasan di
      punggungan Bukit Duabelas. Kawasan yang didiami oleh Orang Rimba ini
      secara geografis adalah kawasan yang dibatasi oleh Batang Tabir di
      sebelah barat, Batang Tembesi di sebelah timur, Batang Hari di
      sebelah utara dan Batang Merangin di sebelah selatan. Selain itu,
      kawasan inipun terletak diantara beberapa jalur perhubungan yaitu :
      lintas tengah Sumatera, lintas tengah penghubung antara kota Bangko -
      Muara Bungo - Jambi, dan lintas timur Sumatera. Dengan letak yang
      demikian, maka dapat dikatakan kawasan ini berada di tengah-tengah
      propinsi Jambi.
      >
      > Di kawasan Cagar Biosfir Bukit Duabelas yang merupakan wilayah
      tempat tinggal atau habitat Orang Rimba ini , terdapat tiga kelompok
      Orang Rimba yaitu kelompok Air Hitam di bagian selatan kawasan,
      Kejasung di bagian utara dan timur serta Makekal di bagian barat
      kawasan. Penamaan kelompok-kelompok tersebut disesuaikan dengan nama
      sungai tempat mereka tinggal. Seperti halnya masyarakat umum, Orang
      Rimba juga merupakan masyarakat yang sangat tergantung dengan
      keberadaan sungai sebagai sumber air minum, transportasi dan penopang
      aktifitas kehidupan lainnya. Orang Rimba hidup dalam kelompok-
      kelompok kecil yang selalu menempati wilayah bantaran sungai baik di
      badan sungai besar ataupun di anak sungai dari hilir sampai ke hulu.
      >
      > Budaya Orang Rimba dalam mengelola Sumberdaya Alam
      >
      > Sebagaimana suku-suku terasing lainya di Indonesia, Orang Rimba
      yang selama hidupnya dan segala aktifitas dilakukan di hutan, juga
      memiliki budaya dan kearifan yang khas dalam mengelola sumberdaya
      alam. Hutan, bagi mereka merupakan harta yang tidak ternilai
      harganya, tempat mereka hidup, beranak-pinak, sumber pangan, sampai
      pada tempat dilakukannya adat istiadat yang berlaku bagi mereka.
      Begitupula dengan sungai sebagai sumber air minum dan berbagai fungsi
      lainnya. Perlu kita cermati disini adalah bagaimana cara mereka
      memperlakukan sumberdaya alam tersebut secara lestari dan
      berkelanjutan.
      >
      > Dalam pengelolaan sumberdaya hutan, Orang Rimba mengenal wilayah
      peruntukan seperti adanya Tanoh Peranok-on, rimba, ladang, sesap,
      belukor dan benuaron. Peruntukan wilayah merupakan rotasi penggunaan
      tanah yang berurutan dan dapat dikatakan sebagai sistem suksesi
      sumberdaya hutan mereka. Hutan yang disebut rimba oleh mereka, diolah
      sebagai ladang sebagai suplai makanan pokok (ubi kayu, padi ladang ,
      ubi jalar), kemudian setelah ditinggalkan berubah menjadi sesap.
      Sesap merupakan ladang yang ditinggalkan yang masih menghasilkan
      sumber pangan bagi mereka. Selanjutnya setelah tidak menghasilkan
      sumber makanan pokok, sesap berganti menjadi belukor.
      >
      > Belukor disini meski tidak menghasilkan sumber makanan pokok,
      tetapi masih menyisakan tanaman buah-buahan dan berbagai tumbuhan
      yang bermanfaat bagi mereka yang diantaranya adalah durian, duku,
      bedaro, tampui, bekil, nadai, kuduk kuya, buah sio, dekat, tayoy,
      buah buntor, rambutan, cempedak, petai, pohon sialong (jenis pohon
      kayu Kruing, Kedundung, Pulai, Kayu Kawon/Muaro Keluang), pohon
      setubung dan tenggeris (sebagai tempat menanam tali pusar bayi yang
      baru lahir), pohon benal (daunnya digunakan untuk atap rumah), kayu
      berisil (digunakan untuk tuba ikan) dan berbagai jenis rotan termasuk
      manau dan jernang.
      >
      > Benuaron memiliki fungsi yang sangat besar bagi Orang Rimba, dimana
      selain berperan sebagai sumber makanan (buah-buahan) dan kayu
      bermanfaat (pohon benal, sialong, dan berisil) juga berperan sebagai
      tanoh peranok-on. Tanah peranok-on merupakan tempat yang sangat
      dijaga keberadaanya, tidak boleh dibuka atau dialih fungsikan untuk
      lahan kegiatan lain, misalnya untuk lahan perladangan atau kebun.,
      karena merupakan tempat proses persalinan ibu dalam melahirkan
      bayi/anaknya. Tanoh peranok-on yang dipilih biasanya yang relatif
      dekat dengan tempat permukiman atau ladang mereka serta sumber air
      atau sungai. Seiring berjalannya waktu, disaat seluruh tumbuhan yang
      terdapat di benuaron tersebut semakin besar dan tua, maka pada
      akhirnya benuaron tersebut kembali menjadi rimba.
      >
      > Rotasi penggunaan sumberdaya hutan dari rimba menjadi ladang
      kemudian sesap, belukor dan benuaron, terakhir kembali menjadi rimba,
      merupakan warisan budaya mereka. Sehingga patut kita cermati juga
      bahwa Orang Rimba yang tergolong sebagai masyarakat terasing,
      ternyata memiliki kearifan tradisional dimana selama ini dilupakan
      oleh masyarakat atau pemerintah pusat.
      >
      > Proses marginalisasi terhadap Orang Rimba
      >
      > Lajunya pembukaan lahan serta perambahan hutan oleh pihak luar
      sangat dirasakan oleh Orang Rimba dikawasan ini, sehingga hampir
      disetiap wilayah kelompok-kelompok Orang Rimba dari hulu hingga hilir
      selalu dapat ditemui baik bukaan ladang ataupun penebangan kayu liar
      di wilayah ini. Orang Rimba merupakan suku yang tergolong defensive
      dan tidak terbiasa melakukan peperangan atau berjuang untuk
      mempertahankan haknya. Apalagi jika pihak luar tersebut masuk ke
      wilayah mereka dengan membawa surat bahwa mereka mendapat izin dari
      pemerintah, sangat dipastikan mereka akan diam saja. Hal tersebut
      karena mereka belum mengenal baca tulis dan yang terpenting adanya
      budaya mereka yang menyebutkan halom sekato rajo atau alam diatur
      oleh pemerintah.
      >
      > Dengan adanya perkembangan dalam kehidupan Orang Rimba serta
      lajunya pembangunan di wilayah ini, maka saat ini telah banyak Orang
      Rimba yang mulai kelur dari hutan sebagai tempat tinggalnya untuk
      beradaptasi atau menukar hasil hutan dengan kebutuhan lain yang tidak
      mereka dapat didalam hutan dengan masyarakat pendatang (transmigran)
      dan masyarakat dusun disekitar kawasan. Selain itu perubahanpun telah
      menyentuh mereka, di antara mereka mulai tumbuh harapan dan hak
      kepemilikan meski sikap terhadap alam yang merupakan warisan nenek
      moyang tetap mereka jaga. Namun demikian, keterbukaan mereka terhadap
      masyarakat transmigran, masyarakat dusun ataupun pihak luar lainnya
      disalah artikan dan dimanfaatkan oleh oknum yang mencari keuntungan
      semata. Akibatnya, banyak terjadi pembukaan lahan secara ilegal,
      penebangan kayu liar dan kegiatan lainnya yang berdampak pada hancur
      dan rusaknya hutan tempat tinggal mereka.
      >
      > Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRW-P) Jambi, sebagaian
      besar kawasan ini diperuntukkan sebagai areal budidaya perkebunan
      dalam bentuk HTI, budidaya kehutanan (HP dan HPT), dan kawasan
      konservasi Cagar Biosfer Bukit Duabelas seluas 26.800 ha. Jelas
      disini pemerintah daerah Jambi, tidak secara lengkap melihat data
      dilapangan dan seperti halnya kebiasaan di masa Orde Baru,
      perencanaan tata ruang selalu dibuat diatas kertas tanpa data
      lapangan yang detail. Dengan adanya RTRW-P Jambi tersebut, maka
      dikawasan tersebut sudah banyak dimulai penebangan, baik penebangan
      tebang jalur ataupun tebang habis. Padahal surat izi bagi instansi
      yang bergerak di HTI ini belum keluar.
      >
      > Dapat disimpulkan bahwa ancaman keterdesakan terhadap wilayah
      tempat tinggal Orang Rimba, bukan hanya datang dari masyarakat di
      sekitar kawasan, tetapi juga dari pemerintah yang masih menutup mata
      terhadap keberadaan mereka. Dalam kondisi yang demikian, sangat tidak
      mungkin jika Orang Rimba dibiarkan berjuang sendiri untuk
      mempertahankan wilayah mereka, selain baru mengenal budaya baru dan
      hak kepemilikan, merekapun belum mengenal baca tulis. Sehingga perlu
      ada lembaga/organisasi atau institusi baik dari pemetintah ataupun
      non pemerintah yang membantunya.
      >
      > Direktorat Bina masyarakat Terasing
      >
      > Pemerintah Indonesia dalam menangani masalah masyarakat terasing,
      membentuk Direktorat Bina Masyarakat Terasing dibawah Departemen
      Sosial. Institusi pemerintah ini memiliki pandangan bahwa sesuai
      dengan penyebutan sebagai masyarakat terasing yang secara definitif
      berarti kelompok masyarakat yang mendiami suatu lokasi tertentu, baik
      yang orbitasinya terpencil, terpencar dan berpindah-pindah maupun
      yang hidup mengembara di kawasan laut, yang taraf kesejahteraannya
      masih mengalami ketertinggalan, ditandai oleh adanya kesenjangan
      sistem sosial, sistim ideologi dan sistim teknologi mereka, serta
      belum atau sedikit sekali terintegrasi dalam proses pembangunan
      nasional(Dir. BMT,1992), maka masyarakat tersebut akan di bina dan di
      mukimkan seperti halnya masyarakat umum di Indonesia. Pembinaan yang
      dimaksudkan adalah untuk mengarahkan mereka untuk memiliki sistem
      sosial, ideologi, teknologi serta kesejahteraan yang sesuai dengan
      ukuran masyarakat umum. Salah satu program yang dilakukan adalah
      > program Pemukiman Kembali Masyarakat Terasing (PKMT), dimana
      dengan program tersebut Depsos melalui Dir.BMT membuat rumah-rumah
      untuk masyarakat tersebut.
      >
      > Program PKMT yang telah berjalan lebih dari 10 tahun diberbagai
      daerah, ternyata tidak mendapatkan respon positif dari masyarakat
      yang tergolong terasing ini. Begitu pula Orang Rimba, dengan budaya
      yang mereka miliki dan masih dilakukan hingga kini seperti melangun,
      memungkinkan mereka menolak program tersebut. Sangat disayangkan,
      instansi yang berwenang untuk menangai masalah masyarakat ini tidak
      melihat keragaman budaya yang dimiliki oleh suku-suku terasing ini
      sebuah kekayaan budaya yang patut dipertahankan. Sebagai negara besar
      yang memiliki wilayah yang luas dengan penduduk yang sangat banyak
      (210 juta jiwa) serta budaya yang beragam, maka perlu kiranya kita
      bersama-sama untuk menjaga keragaman tersebut.
      >
      > Sebagai penutup, dengan tulisan ini penulis mencoba untuk membuka
      mata kita bahwa masih ada masyarakat yang masih jauh dari pembangunan
      yang saat ini hidup secara lestari, arif dan bijaksana dalam
      mengelola sumberdaya alam. Namun demikian, keberadaan mereka juga
      semakin terdesak oleh yang namanya 'pembangunan', meski 'pembangunan'
      tersebut hanya untuk beberapa orang saja. (R. Kiki Taufik)
      >
      > Dok: Mapokal
      >
      >
      >
      > ---------------------------------
      > Do you Yahoo!?
      > Yahoo! Small Business $15K Web Design Giveaway - Enter today
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.