Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Re: [JPers] Tolong Maafkan Aku, Kawan (OOT)

Expand Messages
  • febriana_maniez@yahoo.com
    Nice story..thanks ... From: Dani Sent: 2008-09-29 18:49:05 GMT+08:00 To: jejakpetualang@yahoogroups.com Subject: [JPers] Tolong
    Message 1 of 3 , Oct 1, 2008
    • 0 Attachment
      Nice story..thanks

      -----Original Message-----
      From: Dani <obie.savana@...>
      Sent: 2008-09-29 18:49:05 GMT+08:00
      To: jejakpetualang@yahoogroups.com
      Subject: [JPers] Tolong Maafkan Aku, Kawan (OOT)

      Tolong Maafkan Aku, Kawan

      Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di
      tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar
      temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan
      tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT
      TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

      Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka
      memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka
      hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil
      diselamatkan oleh sahabatnya.

      Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis
      di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
      Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa
      setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan
      sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum
      menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya
      di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan
      tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus
      memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup
      angin."

      Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding
      diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan 'hanya'
      karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut
      kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih
      perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga.
      Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

      Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya
      lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati
      yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti
      hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu. Bukankah sudah
      menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh
      sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia
      menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga
      sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam
      menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita
      tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai
      gurauan.

      ******

      Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk
      memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan
      sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami
      untuk 'menyerahkan' sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan
      pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, "Ya
      Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami
      dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni
      kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati
      kami."

      Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu
      dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena
      aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha
      memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.

      Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah
      menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.
      Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar
      aku 'ada' di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-
      kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku
      dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.
      Tolong, sekali pun jangan. Tolong, maafkan.**

      Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)


      --
      Salam,
      [OBIE]
      photosavana.multiply.com
    • sus santo
      Semoga besok ada yg cerita kayak gini lagi. ... -- Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com santo susanto.17@gmail.com
      Message 2 of 3 , Oct 1, 2008
      • 0 Attachment
        Semoga besok ada yg cerita kayak gini lagi.

        On 10/1/08, febriana_maniez@... <febriana_maniez@...> wrote:
        > Nice story..thanks
        >
        > -----Original Message-----
        > From: Dani <obie.savana@...>
        > Sent: 2008-09-29 18:49:05 GMT+08:00
        > To: jejakpetualang@yahoogroups.com
        > Subject: [JPers] Tolong Maafkan Aku, Kawan (OOT)
        >
        > Tolong Maafkan Aku, Kawan
        >
        > Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di
        > tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar
        > temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan
        > tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT
        > TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.
        >
        > Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka
        > memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka
        > hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil
        > diselamatkan oleh sahabatnya.
        >
        > Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis
        > di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
        > Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa
        > setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan
        > sekarang kamu menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum
        > menjawab, "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya
        > di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan
        > tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus
        > memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup
        > angin."
        >
        > Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding
        > diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan 'hanya'
        > karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut
        > kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih
        > perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga.
        > Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.
        >
        > Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya
        > lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati
        > yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti
        > hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu. Bukankah sudah
        > menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh
        > sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia
        > menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga
        > sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam
        > menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita
        > tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai
        > gurauan.
        >
        > ******
        >
        > Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk
        > memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan
        > sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami
        > untuk 'menyerahkan' sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan
        > pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, "Ya
        > Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami
        > dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni
        > kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati
        > kami."
        >
        > Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu
        > dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena
        > aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha
        > memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.
        >
        > Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah
        > menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.
        > Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar
        > aku 'ada' di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-
        > kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku
        > dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.
        > Tolong, sekali pun jangan. Tolong, maafkan.**
        >
        > Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
        >
        >
        > --
        > Salam,
        > [OBIE]
        > photosavana.multiply.com
        >
        >

        --
        Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

        santo
        susanto.17@...
      Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.