Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

Fwd: Memutar Kemudi Pecinta Alam

Expand Messages
  • baduy amazone
    maaf kalau double posting. salam ba Memutar Kemudi Pencinta Alam Oleh : Harry Siswoyo* Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah sebuah cerita basi, dari
    Message 1 of 7 , Jun 27, 2007
    View Source
    • 0 Attachment
      maaf kalau double posting.

      salam
      ba

      Memutar Kemudi Pencinta Alam
      Oleh : Harry Siswoyo*

      Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah sebuah cerita basi, dari
      dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita. Sayang pembahasan
      ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah strategis. Sekian
      banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya sebagai pencinta alam
      ternyata berjalan beriringan dengan tingginya angka kerusakan
      lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur pengrusakan alam bisa
      jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu sendiri.

      Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam atau apapun namanya,
      yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka (KAT). Pada dasarnya
      dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat berorganisasi dan
      kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya. Event-event atau
      ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke tempat-tempat asing
      yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu wajib penggiatnya.
      Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah ampuh para senior
      yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi cerita dengan juniornya.
      Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan, penelusuran dan
      pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke generasi berikutnya.
      Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan diri ini, kemudian
      menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya. Kepuasannya hanya
      dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi secara tertulis yang
      telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best sellers' namun sayang
      jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding upaya dan tindakan yang
      arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.

      Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah petualangan, tapi kita coba
      berani melihat ini secara proporsional dan jujur. Sudah sejauh manakah
      peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa yang telah kita
      bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau dibongkar, secara
      konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam susunan program kerja
      yang telah disusun dalam sebuah organisasi pencinta atau penggiat alam
      yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara aktivitas petualangan
      dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan. Sudahkah ada
      keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan sejujur mungkin
      bukan jawaban benar.

      Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta alam itu selalu
      hura-hura, kerjaannya naik gunung terus, kemana-mana selalu bawa
      ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan dewasa ini, rasanya
      stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih kepada fakta.
      Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak bisa merubah image
      miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode, membanjirnya
      produk-produk outdoor di pasaran membuat atribut-atribut pencinta alam
      bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi celana lapangan
      hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi ikat kepala anak-anak
      gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang dipakai untuk hiasan
      tas. Yang mirisnya, buat mereka yang memang berlabel pencinta atau
      penggiat alam pun ternyata ikut terlibas dengan trend mode. Sulit
      dibedakan mana yang memang anak pencinta alam atau bukan secara
      tampilannya. Yang bawa ransel belum tentu anak pencinta alam dan
      bahkan yang bisa panjat tebit pung tidak mesti harus masuk organisasi
      pencinta alam terlebih dahulu. Lalu apa yang membedakannya?, hanya
      sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sejatinya,
      pencinta alam bukan diukur secara penampilan, tapi lebih kepada nilai,
      jiwa, sikap, solidaritas, pandangan dan tindakan mereka terhadap
      penyelamatan lingkungan atau alam. Selain aktif dalam kegiatan alam
      bebas, mereka juga peduli terhadap perlindungan dan pelestarian dari
      wadah bermainnya.

      Lalu yang menjadi tanda tanya besar sekarang adalah, apakah sikap,
      kepedulian dan nilai-nilai luhur yang melekat pada anak pencinta alam
      itu masih ada? Ataukah sudah tergerus dan kemudian sama dengan mereka
      yang jelas-jelas bukan berlabel pencinta alam?. Pertanyaan serius ini
      memang tidak mudah dijawab. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa pada
      umumnya kita memang lebih terlena pada romantisme petualangan.
      Aktivitas-aktivitas kampanye lingkungan, demo-demo atau peringatan
      hari bumi atau lingkungan tak lebih menjadi sebuah seremonial belaka.
      Belum dibarengi dengan pen-darah dagingan nilai-nilai lingkungan dalam
      jiwa seorang pencinta alam.

      Implikasi dari semua ini akhirnya, makin mengukuhkan image miring yang
      sudah dari dahulu lahir. Tanpa disadari kita sendiri yang ikut
      melemahkan 'positioning' pencinta alam itu sendiri. Ada analogi
      sederhana yang mungkin dapat menggambarkan kondisional pencinta alam
      saat ini. Kita akan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari kita
      yaitu, sebagaimana kita ketahui dan dimanapun kita bertanya yang
      namanya "Gudang Garam" atau "Djarum (jarum)" pasti akan dijawab
      'Rokok'. Orang dewasa sampai kecil biasanya akan menjawab dengan
      jawaban yang sama bahwa Gudang Garam atau Djarum itu adalah salah satu
      nama merk rokok terkenal yang ada di negara kita. Padahal sesungguhnya
      makna semantik dari dua kata tadi adalah bahwa Gudang Garam itu adalah
      gudang atau tempat penyimpanan garam, dan jarum itu adalah alat untuk
      menjahit. Rasanya akan sedikit sekali yang mau mendefinisikan Gudang
      Garam atau Jarum tadi dengan definisi diatas. Sebab ini sudah menjadi
      hal yang biasa dan selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.
      Terlepas dari kemampuan produsennya yang memang jago dalam
      mempublikasikannya, dua kata tadi hanya sebagai perumpamaan saja,
      untuk menunjukkan bahwa ada pergeseran makna sebenarnya dari sebuah
      kata Gudang Garam atau Djarum. Sekarang, istilah tadi kita gantikan
      dengan "Pencinta Alam" apakah kita akan mendefinisikan dan memaknai
      ini sesederhana seperti menjawab rokok, sebagaimana halnya ini sudah
      menjadi kebiasaan kita sehari-hari? Adakah pergeseran makna dari
      Pencinta Alam sebenarnya saat ini? atau jangan-jangan Pencinta Alam
      memang sudah sama dengan rokok, hanya sekali pakai. Hidupkan dan bakar
      lalu menjadi abu.

      Pembenahan kemudi ini, pada prinsipnya hanya pilihan bagi kita, toh
      tanggung jawab kita sebagai umat manusia sudah pasti dituntut kelak,
      tentang apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap alam. Hanya
      saja sekarang, tuntutan terhadap penyuaraan lingkungan dewasa ini
      sudah begitu mendesak. Kerusakan sudah terjadi dimana-mana, 97%
      permukaan bumi ini sudah dikuasai untuk memenuhi kebutuhan manusia,
      lalu apakah sisanya pun akan kita paksakan juga untuk memuaskannya?.
      Sudah menjadi sangat penting bagi anak pencinta alam untuk
      mendiskusikan ini secara lebih intensif. Materi-materi yang berkaitan
      dengan lingkungan dalam sistem pendidikan dasar organisasi pencinta
      alam sudah tak wajar lagi kalau hanya menjadi materi pelengkap atau
      tambahan. Silabusnya menuntut keberimbangan antara olah raga alam
      bebas dan lingkungan. Dan kedepan, inilah yang akan menjadi salah satu
      pembeda antara organisasi pencinta alam dan organisasi lain.

      Hobi naik gunung tidak mesti harus terhenti karena mau menyelamatkan
      lingkungan, sebab melindungi lingkungan tidak mesti harus ada event
      khusus, hari khusus atau jumlah orang yang banyak. Cukup dengan
      mengantongi sampah dalam baju atau celana kalau tidak ketemu tempat
      sampah rasanya sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
      Rasa-rasanya sudah selayaknya, kemudi yang selama ini agak sedikit
      melenceng dari pemaknaan sebenarnya tentang pencinta alam harus
      dibenahi. Sebelum ini berlarut dan menjadi arah jalur atau kebiasaan
      bagi seorang pencinta alam. Dan orang yang sudah terlanjur atau
      berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi pencinta alam harus bisa
      membedakan dirinya dengan mereka yang bukan anak organisasi pencinta
      alam. Sudah saatnya anak-anak pencinta alam menjadi pembicara dalam
      seminar-seminar atau diskusi yang membahas tentang lingkungan atau
      alam. Mereka harus menjadi `opinion leader' dalam isu-isu lingkungan,
      dan bukan pengekor isu. Bukan tidak mungkin artinya, anak pencinta
      alam bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika mengkritisi
      persoalan lingkungan dihadapan publik. Dengan kelengkapan data-data
      dari perjalanan (pendakian, mis) yang telah dilakukan dan kemampuan
      lapangan serta ruangan yang tangguh, rasanya tidak ada lagi yang akan
      memandang sebelah mata anak-anak pencinta alam.

      Terakhir, memutar kemudi ini sekali lagi harus diawali dengan
      kejujuran dan komitmen yang kukuh. berangkatnya hanya dari sebuah
      pertanyaan sederhana "Sebagai anak Pencinta Alam, apa kontribusi kita
      terhadap alam??".

      Penulis adalah mantan Ketua Umum Pencinta Alam Fakultas Ekonomi
      Universitas Bengkulu (PAFE-UNIB), 2003-2004 dan sekarang aktif sebagai
      Koordinator Pengembangan Kelembagaan SPORA-Bengkulu (Solidaritas untuk
      Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat)


    • HIrau Jenggala hiJAU
      Sebuah ulasan yang bagus untuk kita bis abercermin akan apa yang selama ini kita lakukan untuk sebuah kesenangan. Apa yang diuraikan Mas Harry adalah reality
      Message 2 of 7 , Jun 27, 2007
      View Source
      • 0 Attachment
        Sebuah ulasan yang bagus untuk kita bis abercermin akan apa yang
        selama ini kita lakukan untuk sebuah kesenangan. Apa yang diuraikan
        Mas Harry adalah reality yang ada dilapangan. Memang tidak semua
        berprilaku yang kurang bersahabat dengan alam, namun yg mendominasi
        justru hal2 yang kurang berkenan. Disadari atau tidak kita termasuk
        yang ikut andil didalamnya.

        Dari awal makna dari pecinta alam itu sendiri sudah salah kaprah,
        karena justru porsi terbesar adalah petualangan bukan masalah
        konservasi. Munculnya klub2 pecinta alam layaknya jamur dimusim
        penghujan, begitu subur dan menggairahkan di dukung dengan keadaan
        alam yang sangat menunjang, namun bila tak ada misi dan visi yang
        jelas tentunya bukan sebuah berita gembira, tapi justru sebaliknya.

        Lihat MAPALA atau KPA yang mempunyai nama besar, yang menjadi
        panutan MAPALA atau KPA lainya justru memberikan contoh yang kurang
        simpatik akan pembelajaran terhadap alam. Yang mereka kedepankan
        justru lebih banyak sisi petualangannya saja.

        Coba lihat betapa sering mereka mempublish expedisi-expedisi yang
        dianggap fenomenal bila menjadi yang pertama menaklukan alam.
        Sehingga ini yang dijadikan barometer para pecinta alam / KPA
        lainnya. Sehingga berlomba-lomba mengikuti idolanya :(
        Sungguh sebuah pembelajaran yang kurang bijak yang pernah dilakukan.

        Sulit rasanya merubah paradigma lama yang sudah mengakar dan menjadi
        sebuah kebanggaan. Hanya satu cara untuk mulai merubah, yaa kita
        mulai merubah prilaku diri sendiri untuk lebih baik dan menjadikan
        contoh positif untuk orang lain.

        Lakukan hal terkecil sebelum memikirkan hal yang besar yang dapat
        kita lakukan. Apa yang menurut kita tidak baik, jangan dijadikan
        sebuah tameng untuk turut melakukannya.

        Bertidak dengan bijak dan berpikir dengan jernih, akan membawa kita
        menuju perbaikan yang berarti.

        Semoga, alam dan pengalaman dapat membimbing kita untuk lebih arif
        dalam setiap ayunan langkah kaki kita dimanapun berpijak.


        --- In jejakpetualang@yahoogroups.com, "baduy amazone"
        <baduy237@...> wrote:
        >
        > maaf kalau double posting.
        >
        > salam
        > ba
        >
        > Memutar Kemudi Pencinta Alam
        > Oleh : Harry Siswoyo*
        >
        > Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah sebuah cerita basi,
        dari
        > dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita. Sayang pembahasan
        > ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah strategis. Sekian
        > banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya sebagai pencinta
        alam
        > ternyata berjalan beriringan dengan tingginya angka kerusakan
        > lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur pengrusakan alam
        bisa
        > jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu sendiri.
        >
        > Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam atau apapun
        namanya,
        > yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka (KAT). Pada
        dasarnya
        > dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat berorganisasi dan
        > kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya. Event-event atau
        > ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke tempat-tempat
        asing
        > yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu wajib
        penggiatnya.
        > Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah ampuh para
        senior
        > yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi cerita dengan
        juniornya.
        > Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan, penelusuran dan
        > pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke generasi
        berikutnya.
        > Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan diri ini, kemudian
        > menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya. Kepuasannya hanya
        > dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi secara tertulis yang
        > telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best sellers' namun
        sayang
        > jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding upaya dan tindakan
        yang
        > arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.
        >
        > Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah petualangan, tapi kita
        coba
        > berani melihat ini secara proporsional dan jujur. Sudah sejauh
        manakah
        > peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa yang telah kita
        > bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau dibongkar, secara
        > konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam susunan program kerja
        > yang telah disusun dalam sebuah organisasi pencinta atau penggiat
        alam
        > yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara aktivitas
        petualangan
        > dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan. Sudahkah ada
        > keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan sejujur mungkin
        > bukan jawaban benar.
        >
        > Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta alam itu selalu
        > hura-hura, kerjaannya naik gunung terus, kemana-mana selalu bawa
        > ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan dewasa ini, rasanya
        > stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih kepada fakta.
        > Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak bisa merubah image
        > miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode, membanjirnya
        > produk-produk outdoor di pasaran membuat atribut-atribut pencinta
        alam
        > bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi celana lapangan
        > hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi ikat kepala anak-
        anak
        > gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang dipakai untuk
        hiasan
        > tas. Yang mirisnya, buat mereka yang memang berlabel pencinta atau
        > penggiat alam pun ternyata ikut terlibas dengan trend mode. Sulit
        > dibedakan mana yang memang anak pencinta alam atau bukan secara
        > tampilannya. Yang bawa ransel belum tentu anak pencinta alam dan
        > bahkan yang bisa panjat tebit pung tidak mesti harus masuk
        organisasi
        > pencinta alam terlebih dahulu. Lalu apa yang membedakannya?, hanya
        > sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sejatinya,
        > pencinta alam bukan diukur secara penampilan, tapi lebih kepada
        nilai,
        > jiwa, sikap, solidaritas, pandangan dan tindakan mereka terhadap
        > penyelamatan lingkungan atau alam. Selain aktif dalam kegiatan alam
        > bebas, mereka juga peduli terhadap perlindungan dan pelestarian
        dari
        > wadah bermainnya.
        >
        > Lalu yang menjadi tanda tanya besar sekarang adalah, apakah sikap,
        > kepedulian dan nilai-nilai luhur yang melekat pada anak pencinta
        alam
        > itu masih ada? Ataukah sudah tergerus dan kemudian sama dengan
        mereka
        > yang jelas-jelas bukan berlabel pencinta alam?. Pertanyaan serius
        ini
        > memang tidak mudah dijawab. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa
        pada
        > umumnya kita memang lebih terlena pada romantisme petualangan.
        > Aktivitas-aktivitas kampanye lingkungan, demo-demo atau peringatan
        > hari bumi atau lingkungan tak lebih menjadi sebuah seremonial
        belaka.
        > Belum dibarengi dengan pen-darah dagingan nilai-nilai lingkungan
        dalam
        > jiwa seorang pencinta alam.
        >
        > Implikasi dari semua ini akhirnya, makin mengukuhkan image miring
        yang
        > sudah dari dahulu lahir. Tanpa disadari kita sendiri yang ikut
        > melemahkan 'positioning' pencinta alam itu sendiri. Ada analogi
        > sederhana yang mungkin dapat menggambarkan kondisional pencinta
        alam
        > saat ini. Kita akan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari
        kita
        > yaitu, sebagaimana kita ketahui dan dimanapun kita bertanya yang
        > namanya "Gudang Garam" atau "Djarum (jarum)" pasti akan dijawab
        > 'Rokok'. Orang dewasa sampai kecil biasanya akan menjawab dengan
        > jawaban yang sama bahwa Gudang Garam atau Djarum itu adalah salah
        satu
        > nama merk rokok terkenal yang ada di negara kita. Padahal
        sesungguhnya
        > makna semantik dari dua kata tadi adalah bahwa Gudang Garam itu
        adalah
        > gudang atau tempat penyimpanan garam, dan jarum itu adalah alat
        untuk
        > menjahit. Rasanya akan sedikit sekali yang mau mendefinisikan
        Gudang
        > Garam atau Jarum tadi dengan definisi diatas. Sebab ini sudah
        menjadi
        > hal yang biasa dan selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.
        > Terlepas dari kemampuan produsennya yang memang jago dalam
        > mempublikasikannya, dua kata tadi hanya sebagai perumpamaan saja,
        > untuk menunjukkan bahwa ada pergeseran makna sebenarnya dari sebuah
        > kata Gudang Garam atau Djarum. Sekarang, istilah tadi kita gantikan
        > dengan "Pencinta Alam" apakah kita akan mendefinisikan dan memaknai
        > ini sesederhana seperti menjawab rokok, sebagaimana halnya ini
        sudah
        > menjadi kebiasaan kita sehari-hari? Adakah pergeseran makna dari
        > Pencinta Alam sebenarnya saat ini? atau jangan-jangan Pencinta Alam
        > memang sudah sama dengan rokok, hanya sekali pakai. Hidupkan dan
        bakar
        > lalu menjadi abu.
        >
        > Pembenahan kemudi ini, pada prinsipnya hanya pilihan bagi kita, toh
        > tanggung jawab kita sebagai umat manusia sudah pasti dituntut
        kelak,
        > tentang apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap alam. Hanya
        > saja sekarang, tuntutan terhadap penyuaraan lingkungan dewasa ini
        > sudah begitu mendesak. Kerusakan sudah terjadi dimana-mana, 97%
        > permukaan bumi ini sudah dikuasai untuk memenuhi kebutuhan manusia,
        > lalu apakah sisanya pun akan kita paksakan juga untuk
        memuaskannya?.
        > Sudah menjadi sangat penting bagi anak pencinta alam untuk
        > mendiskusikan ini secara lebih intensif. Materi-materi yang
        berkaitan
        > dengan lingkungan dalam sistem pendidikan dasar organisasi pencinta
        > alam sudah tak wajar lagi kalau hanya menjadi materi pelengkap atau
        > tambahan. Silabusnya menuntut keberimbangan antara olah raga alam
        > bebas dan lingkungan. Dan kedepan, inilah yang akan menjadi salah
        satu
        > pembeda antara organisasi pencinta alam dan organisasi lain.
        >
        > Hobi naik gunung tidak mesti harus terhenti karena mau
        menyelamatkan
        > lingkungan, sebab melindungi lingkungan tidak mesti harus ada event
        > khusus, hari khusus atau jumlah orang yang banyak. Cukup dengan
        > mengantongi sampah dalam baju atau celana kalau tidak ketemu tempat
        > sampah rasanya sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
        > Rasa-rasanya sudah selayaknya, kemudi yang selama ini agak sedikit
        > melenceng dari pemaknaan sebenarnya tentang pencinta alam harus
        > dibenahi. Sebelum ini berlarut dan menjadi arah jalur atau
        kebiasaan
        > bagi seorang pencinta alam. Dan orang yang sudah terlanjur atau
        > berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi pencinta alam harus bisa
        > membedakan dirinya dengan mereka yang bukan anak organisasi
        pencinta
        > alam. Sudah saatnya anak-anak pencinta alam menjadi pembicara dalam
        > seminar-seminar atau diskusi yang membahas tentang lingkungan atau
        > alam. Mereka harus menjadi `opinion leader' dalam isu-isu
        lingkungan,
        > dan bukan pengekor isu. Bukan tidak mungkin artinya, anak pencinta
        > alam bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika mengkritisi
        > persoalan lingkungan dihadapan publik. Dengan kelengkapan data-data
        > dari perjalanan (pendakian, mis) yang telah dilakukan dan kemampuan
        > lapangan serta ruangan yang tangguh, rasanya tidak ada lagi yang
        akan
        > memandang sebelah mata anak-anak pencinta alam.
        >
        > Terakhir, memutar kemudi ini sekali lagi harus diawali dengan
        > kejujuran dan komitmen yang kukuh. berangkatnya hanya dari sebuah
        > pertanyaan sederhana "Sebagai anak Pencinta Alam, apa kontribusi
        kita
        > terhadap alam??".
        >
        > Penulis adalah mantan Ketua Umum Pencinta Alam Fakultas Ekonomi
        > Universitas Bengkulu (PAFE-UNIB), 2003-2004 dan sekarang aktif
        sebagai
        > Koordinator Pengembangan Kelembagaan SPORA-Bengkulu (Solidaritas
        untuk
        > Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat)
        >
      • deni novendi
        Aku setuju dengan tulisan ini.....bahkan sangat setuju. aku juga pernah mengkritisi para JPers di milis ini, aktivitas yang dirilis koq cuma naik gunuuung
        Message 3 of 7 , Jun 28, 2007
        View Source
        • 0 Attachment
          Aku setuju dengan tulisan ini.....bahkan sangat setuju.  aku juga pernah mengkritisi para JPers di milis ini, aktivitas yang dirilis koq cuma 'naik gunuuung' melulu.  Apa manfaatnya bagi orang banyak?, apa manfaatnya bagi lingkungan ?, apa manfaatnya bagi negara ?, apa manfaatya bagi anak cucu kita ?. 
           
          Buat gue, naik gunung, hiking, dan penjelajahan sejenis, cuma akan melantunkan kebanggaan sesaat, setelah itu..... tidak ada !?
           
          Cobalah anak cucu kita bikin bangga dengan menunjuk, hutan itu bapak ku yang menanam, pohon ini bapakku yang melihara, dsb. OK !?

          HIrau Jenggala hiJAU <hijjau@...> wrote:
          Sebuah ulasan yang bagus untuk kita bis abercermin akan apa yang
          selama ini kita lakukan untuk sebuah kesenangan. Apa yang diuraikan
          Mas Harry adalah reality yang ada dilapangan. Memang tidak semua
          berprilaku yang kurang bersahabat dengan alam, namun yg mendominasi
          justru hal2 yang kurang berkenan. Disadari atau tidak kita termasuk
          yang ikut andil didalamnya.

          Dari awal makna dari pecinta alam itu sendiri sudah salah kaprah,
          karena justru porsi terbesar adalah petualangan bukan masalah
          konservasi. Munculnya klub2 pecinta alam layaknya jamur dimusim
          penghujan, begitu subur dan menggairahkan di dukung dengan keadaan
          alam yang sangat menunjang, namun bila tak ada misi dan visi yang
          jelas tentunya bukan sebuah berita gembira, tapi justru sebaliknya.

          Lihat MAPALA atau KPA yang mempunyai nama besar, yang menjadi
          panutan MAPALA atau KPA lainya justru memberikan contoh yang kurang
          simpatik akan pembelajaran terhadap alam. Yang mereka kedepankan
          justru lebih banyak sisi petualangannya saja.

          Coba lihat betapa sering mereka mempublish expedisi-expedisi yang
          dianggap fenomenal bila menjadi yang pertama menaklukan alam.
          Sehingga ini yang dijadikan barometer para pecinta alam / KPA
          lainnya. Sehingga berlomba-lomba mengikuti idolanya :(
          Sungguh sebuah pembelajaran yang kurang bijak yang pernah dilakukan.

          Sulit rasanya merubah paradigma lama yang sudah mengakar dan menjadi
          sebuah kebanggaan. Hanya satu cara untuk mulai merubah, yaa kita
          mulai merubah prilaku diri sendiri untuk lebih baik dan menjadikan
          contoh positif untuk orang lain.

          Lakukan hal terkecil sebelum memikirkan hal yang besar yang dapat
          kita lakukan. Apa yang menurut kita tidak baik, jangan dijadikan
          sebuah tameng untuk turut melakukannya.

          Bertidak dengan bijak dan berpikir dengan jernih, akan membawa kita
          menuju perbaikan yang berarti.

          Semoga, alam dan pengalaman dapat membimbing kita untuk lebih arif
          dalam setiap ayunan langkah kaki kita dimanapun berpijak.

          --- In jejakpetualang@ yahoogroups. com, "baduy amazone"
          <baduy237@.. .> wrote:
          >
          > maaf kalau double posting.
          >
          > salam
          > ba
          >
          > Memutar Kemudi Pencinta Alam
          > Oleh : Harry Siswoyo*
          >
          > Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah sebuah cerita basi,
          dari
          > dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita. Sayang pembahasan
          > ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah strategis. Sekian
          > banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya sebagai pencinta
          alam
          > ternyata berjalan beriringan dengan tingginya angka kerusakan
          > lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur pengrusakan alam
          bisa
          > jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu sendiri.
          >
          > Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam atau apapun
          namanya,
          > yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka (KAT). Pada
          dasarnya
          > dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat berorganisasi dan
          > kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya. Event-event atau
          > ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke tempat-tempat
          asing
          > yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu wajib
          penggiatnya.
          > Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah ampuh para
          senior
          > yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi cerita dengan
          juniornya.
          > Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan, penelusuran dan
          > pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke generasi
          berikutnya.
          > Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan diri ini, kemudian
          > menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya. Kepuasannya hanya
          > dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi secara tertulis yang
          > telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best sellers' namun
          sayang
          > jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding upaya dan tindakan
          yang
          > arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.
          >
          > Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah petualangan, tapi kita
          coba
          > berani melihat ini secara proporsional dan jujur. Sudah sejauh
          manakah
          > peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa yang telah kita
          > bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau dibongkar, secara
          > konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam susunan program kerja
          > yang telah disusun dalam sebuah organisasi pencinta atau penggiat
          alam
          > yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara aktivitas
          petualangan
          > dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan. Sudahkah ada
          > keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan sejujur mungkin
          > bukan jawaban benar.
          >
          > Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta alam itu selalu
          > hura-hura, kerjaannya naik gunung terus, kemana-mana selalu bawa
          > ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan dewasa ini, rasanya
          > stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih kepada fakta.
          > Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak bisa merubah image
          > miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode, membanjirnya
          > produk-produk outdoor di pasaran membuat atribut-atribut pencinta
          alam
          > bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi celana lapangan
          > hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi ikat kepala anak-
          anak
          > gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang dipakai untuk
          hiasan
          > tas. Yang mirisnya, buat mereka yang memang berlabel pencinta atau
          > penggiat alam pun ternyata ikut terlibas dengan trend mode. Sulit
          > dibedakan mana yang memang anak pencinta alam atau bukan secara
          > tampilannya. Yang bawa ransel belum tentu anak pencinta alam dan
          > bahkan yang bisa panjat tebit pung tidak mesti harus masuk
          organisasi
          > pencinta alam terlebih dahulu. Lalu apa yang membedakannya? , hanya
          > sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sejatinya,
          > pencinta alam bukan diukur secara penampilan, tapi lebih kepada
          nilai,
          > jiwa, sikap, solidaritas, pandangan dan tindakan mereka terhadap
          > penyelamatan lingkungan atau alam. Selain aktif dalam kegiatan alam
          > bebas, mereka juga peduli terhadap perlindungan dan pelestarian
          dari
          > wadah bermainnya.
          >
          > Lalu yang menjadi tanda tanya besar sekarang adalah, apakah sikap,
          > kepedulian dan nilai-nilai luhur yang melekat pada anak pencinta
          alam
          > itu masih ada? Ataukah sudah tergerus dan kemudian sama dengan
          mereka
          > yang jelas-jelas bukan berlabel pencinta alam?. Pertanyaan serius
          ini
          > memang tidak mudah dijawab. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa
          pada
          > umumnya kita memang lebih terlena pada romantisme petualangan.
          > Aktivitas-aktivitas kampanye lingkungan, demo-demo atau peringatan
          > hari bumi atau lingkungan tak lebih menjadi sebuah seremonial
          belaka.
          > Belum dibarengi dengan pen-darah dagingan nilai-nilai lingkungan
          dalam
          > jiwa seorang pencinta alam.
          >
          > Implikasi dari semua ini akhirnya, makin mengukuhkan image miring
          yang
          > sudah dari dahulu lahir. Tanpa disadari kita sendiri yang ikut
          > melemahkan 'positioning' pencinta alam itu sendiri. Ada analogi
          > sederhana yang mungkin dapat menggambarkan kondisional pencinta
          alam
          > saat ini. Kita akan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari
          kita
          > yaitu, sebagaimana kita ketahui dan dimanapun kita bertanya yang
          > namanya "Gudang Garam" atau "Djarum (jarum)" pasti akan dijawab
          > 'Rokok'. Orang dewasa sampai kecil biasanya akan menjawab dengan
          > jawaban yang sama bahwa Gudang Garam atau Djarum itu adalah salah
          satu
          > nama merk rokok terkenal yang ada di negara kita. Padahal
          sesungguhnya
          > makna semantik dari dua kata tadi adalah bahwa Gudang Garam itu
          adalah
          > gudang atau tempat penyimpanan garam, dan jarum itu adalah alat
          untuk
          > menjahit. Rasanya akan sedikit sekali yang mau mendefinisikan
          Gudang
          > Garam atau Jarum tadi dengan definisi diatas. Sebab ini sudah
          menjadi
          > hal yang biasa dan selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.
          > Terlepas dari kemampuan produsennya yang memang jago dalam
          > mempublikasikannya, dua kata tadi hanya sebagai perumpamaan saja,
          > untuk menunjukkan bahwa ada pergeseran makna sebenarnya dari sebuah
          > kata Gudang Garam atau Djarum. Sekarang, istilah tadi kita gantikan
          > dengan "Pencinta Alam" apakah kita akan mendefinisikan dan memaknai
          > ini sesederhana seperti menjawab rokok, sebagaimana halnya ini
          sudah
          > menjadi kebiasaan kita sehari-hari? Adakah pergeseran makna dari
          > Pencinta Alam sebenarnya saat ini? atau jangan-jangan Pencinta Alam
          > memang sudah sama dengan rokok, hanya sekali pakai. Hidupkan dan
          bakar
          > lalu menjadi abu.
          >
          > Pembenahan kemudi ini, pada prinsipnya hanya pilihan bagi kita, toh
          > tanggung jawab kita sebagai umat manusia sudah pasti dituntut
          kelak,
          > tentang apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap alam. Hanya
          > saja sekarang, tuntutan terhadap penyuaraan lingkungan dewasa ini
          > sudah begitu mendesak. Kerusakan sudah terjadi dimana-mana, 97%
          > permukaan bumi ini sudah dikuasai untuk memenuhi kebutuhan manusia,
          > lalu apakah sisanya pun akan kita paksakan juga untuk
          memuaskannya? .
          > Sudah menjadi sangat penting bagi anak pencinta alam untuk
          > mendiskusikan ini secara lebih intensif. Materi-materi yang
          berkaitan
          > dengan lingkungan dalam sistem pendidikan dasar organisasi pencinta
          > alam sudah tak wajar lagi kalau hanya menjadi materi pelengkap atau
          > tambahan. Silabusnya menuntut keberimbangan antara olah raga alam
          > bebas dan lingkungan. Dan kedepan, inilah yang akan menjadi salah
          satu
          > pembeda antara organisasi pencinta alam dan organisasi lain.
          >
          > Hobi naik gunung tidak mesti harus terhenti karena mau
          menyelamatkan
          > lingkungan, sebab melindungi lingkungan tidak mesti harus ada event
          > khusus, hari khusus atau jumlah orang yang banyak. Cukup dengan
          > mengantongi sampah dalam baju atau celana kalau tidak ketemu tempat
          > sampah rasanya sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
          > Rasa-rasanya sudah selayaknya, kemudi yang selama ini agak sedikit
          > melenceng dari pemaknaan sebenarnya tentang pencinta alam harus
          > dibenahi. Sebelum ini berlarut dan menjadi arah jalur atau
          kebiasaan
          > bagi seorang pencinta alam. Dan orang yang sudah terlanjur atau
          > berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi pencinta alam harus bisa
          > membedakan dirinya dengan mereka yang bukan anak organisasi
          pencinta
          > alam. Sudah saatnya anak-anak pencinta alam menjadi pembicara dalam
          > seminar-seminar atau diskusi yang membahas tentang lingkungan atau
          > alam. Mereka harus menjadi `opinion leader' dalam isu-isu
          lingkungan,
          > dan bukan pengekor isu. Bukan tidak mungkin artinya, anak pencinta
          > alam bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika mengkritisi
          > persoalan lingkungan dihadapan publik. Dengan kelengkapan data-data
          > dari perjalanan (pendakian, mis) yang telah dilakukan dan kemampuan
          > lapangan serta ruangan yang tangguh, rasanya tidak ada lagi yang
          akan
          > memandang sebelah mata anak-anak pencinta alam.
          >
          > Terakhir, memutar kemudi ini sekali lagi harus diawali dengan
          > kejujuran dan komitmen yang kukuh. berangkatnya hanya dari sebuah
          > pertanyaan sederhana "Sebagai anak Pencinta Alam, apa kontribusi
          kita
          > terhadap alam??".
          >
          > Penulis adalah mantan Ketua Umum Pencinta Alam Fakultas Ekonomi
          > Universitas Bengkulu (PAFE-UNIB), 2003-2004 dan sekarang aktif
          sebagai
          > Koordinator Pengembangan Kelembagaan SPORA-Bengkulu (Solidaritas
          untuk
          > Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat)
          >



          We won't tell. Get more on shows you hate to love
          (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.

        • nhanha baik
          Terima kasih atas masukannya...... Harap dimaklumi bahwa milist ini masih baru berkibar ( walaupun sudah lama terbentuk ) , jadi milist ini masih kekurangan
          Message 4 of 7 , Jun 28, 2007
          View Source
          • 0 Attachment
            Terima kasih atas masukannya...... 
             
            Harap dimaklumi bahwa milist ini masih baru berkibar (  walaupun sudah lama terbentuk ) , jadi milist ini masih kekurangan sumber daya untuk mewujudkan suatu kegiatan yang bersifat pelestarian dan masih dalam  tahap   sekedar penyaluran hobby.
             
            Oleh karenanya,  milist ini sangat membutuhkan bimbingan dari orang-orang semacam om Deny, om baduy Amazone , Mas Budi Yakin.. , Bang Hendry, Om dodoy, Bung Hijau, Mas Undik, Penjaga makam , Garempa  dan masih banyak orang orang yang tidak bisa aku sebutkan namanya yang memiliki pengalaman lebih dari kami dalam hal pelestarian alam.
             
            Jadi kami tunggu bimbingannya untuk mewujudkan kegiatan yang bermanfaat bagi alam ini baik dengan postingan artikel , atau bahkan dalam bentuk nyata ......
             
             
            best regards
            Tante Nha2 - Feel the words unspoken..
             

             
            On 6/29/07, deni novendi <danovendi@...> wrote:

            Aku setuju dengan tulisan ini.....bahkan sangat setuju.  aku juga pernah mengkritisi para JPers di milis ini, aktivitas yang dirilis koq cuma 'naik gunuuung' melulu.  Apa manfaatnya bagi orang banyak?, apa manfaatnya bagi lingkungan ?, apa manfaatnya bagi negara ?, apa manfaatya bagi anak cucu kita ?. 
             
            Buat gue, naik gunung, hiking, dan penjelajahan sejenis, cuma akan melantunkan kebanggaan sesaat, setelah itu..... tidak ada !?
             
            Cobalah anak cucu kita bikin bangga dengan menunjuk, hutan itu bapak ku yang menanam, pohon ini bapakku yang melihara, dsb. OK !?


            HIrau Jenggala hiJAU <hijjau@...> wrote:
            Sebuah ulasan yang bagus untuk kita bis abercermin akan apa yang
            selama ini kita lakukan untuk sebuah kesenangan. Apa yang diuraikan
            Mas Harry adalah reality yang ada dilapangan. Memang tidak semua
            berprilaku yang kurang bersahabat dengan alam, namun yg mendominasi
            justru hal2 yang kurang berkenan. Disadari atau tidak kita termasuk
            yang ikut andil didalamnya.

            Dari awal makna dari pecinta alam itu sendiri sudah salah kaprah,
            karena justru porsi terbesar adalah petualangan bukan masalah
            konservasi. Munculnya klub2 pecinta alam layaknya jamur dimusim
            penghujan, begitu subur dan menggairahkan di dukung dengan keadaan
            alam yang sangat menunjang, namun bila tak ada misi dan visi yang
            jelas tentunya bukan sebuah berita gembira, tapi justru sebaliknya.

            Lihat MAPALA atau KPA yang mempunyai nama besar, yang menjadi
            panutan MAPALA atau KPA lainya justru memberikan contoh yang kurang
            simpatik akan pembelajaran terhadap alam. Yang mereka kedepankan
            justru lebih banyak sisi petualangannya saja.

            Coba lihat betapa sering mereka mempublish expedisi-expedisi yang
            dianggap fenomenal bila menjadi yang pertama menaklukan alam.
            Sehingga ini yang dijadikan barometer para pecinta alam / KPA
            lainnya. Sehingga berlomba-lomba mengikuti idolanya :(
            Sungguh sebuah pembelajaran yang kurang bijak yang pernah dilakukan.

            Sulit rasanya merubah paradigma lama yang sudah mengakar dan menjadi
            sebuah kebanggaan. Hanya satu cara untuk mulai merubah, yaa kita
            mulai merubah prilaku diri sendiri untuk lebih baik dan menjadikan
            contoh positif untuk orang lain.

            Lakukan hal terkecil sebelum memikirkan hal yang besar yang dapat
            kita lakukan. Apa yang menurut kita tidak baik, jangan dijadikan
            sebuah tameng untuk turut melakukannya.

            Bertidak dengan bijak dan berpikir dengan jernih, akan membawa kita
            menuju perbaikan yang berarti.

            Semoga, alam dan pengalaman dapat membimbing kita untuk lebih arif
            dalam setiap ayunan langkah kaki kita dimanapun berpijak.

            --- In jejakpetualang@yahoogroups.com, "baduy amazone"
            <baduy237@...> wrote:
            >
            > maaf kalau double posting.
            >
            > salam
            > ba
            >
            > Memutar Kemudi Pencinta Alam
            > Oleh : Harry Siswoyo*
            >
            > Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah sebuah cerita basi,
            dari
            > dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita. Sayang pembahasan
            > ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah strategis. Sekian
            > banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya sebagai pencinta
            alam
            > ternyata berjalan beriringan dengan tingginya angka kerusakan
            > lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur pengrusakan alam
            bisa
            > jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu sendiri.
            >
            > Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam atau apapun
            namanya,
            > yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka (KAT). Pada
            dasarnya
            > dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat berorganisasi dan
            > kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya. Event-event atau
            > ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke tempat-tempat
            asing
            > yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu wajib
            penggiatnya.
            > Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah ampuh para
            senior
            > yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi cerita dengan
            juniornya.
            > Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan, penelusuran dan
            > pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke generasi
            berikutnya.
            > Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan diri ini, kemudian
            > menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya. Kepuasannya hanya
            > dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi secara tertulis yang
            > telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best sellers' namun
            sayang
            > jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding upaya dan tindakan
            yang
            > arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.
            >
            > Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah petualangan, tapi kita
            coba
            > berani melihat ini secara proporsional dan jujur. Sudah sejauh
            manakah
            > peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa yang telah kita
            > bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau dibongkar, secara
            > konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam susunan program kerja
            > yang telah disusun dalam sebuah organisasi pencinta atau penggiat
            alam
            > yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara aktivitas
            petualangan
            > dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan. Sudahkah ada
            > keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan sejujur mungkin
            > bukan jawaban benar.
            >
            > Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta alam itu selalu
            > hura-hura, kerjaannya naik gunung terus, kemana-mana selalu bawa
            > ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan dewasa ini, rasanya
            > stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih kepada fakta.
            > Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak bisa merubah image
            > miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode, membanjirnya
            > produk-produk outdoor di pasaran membuat atribut-atribut pencinta
            alam
            > bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi celana lapangan
            > hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi ikat kepala anak-
            anak
            > gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang dipakai untuk
            hiasan
            > tas. Yang mirisnya, buat mereka yang memang berlabel pencinta atau
            > penggiat alam pun ternyata ikut terlibas dengan trend mode. Sulit
            > dibedakan mana yang memang anak pencinta alam atau bukan secara
            > tampilannya. Yang bawa ransel belum tentu anak pencinta alam dan
            > bahkan yang bisa panjat tebit pung tidak mesti harus masuk
            organisasi
            > pencinta alam terlebih dahulu. Lalu apa yang membedakannya?, hanya
            > sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sejatinya,
            > pencinta alam bukan diukur secara penampilan, tapi lebih kepada
            nilai,
            > jiwa, sikap, solidaritas, pandangan dan tindakan mereka terhadap
            > penyelamatan lingkungan atau alam. Selain aktif dalam kegiatan alam
            > bebas, mereka juga peduli terhadap perlindungan dan pelestarian
            dari
            > wadah bermainnya.
            >
            > Lalu yang menjadi tanda tanya besar sekarang adalah, apakah sikap,
            > kepedulian dan nilai-nilai luhur yang melekat pada anak pencinta
            alam
            > itu masih ada? Ataukah sudah tergerus dan kemudian sama dengan
            mereka
            > yang jelas-jelas bukan berlabel pencinta alam?. Pertanyaan serius
            ini
            > memang tidak mudah dijawab. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa
            pada
            > umumnya kita memang lebih terlena pada romantisme petualangan.
            > Aktivitas-aktivitas kampanye lingkungan, demo-demo atau peringatan
            > hari bumi atau lingkungan tak lebih menjadi sebuah seremonial
            belaka.
            > Belum dibarengi dengan pen-darah dagingan nilai-nilai lingkungan
            dalam
            > jiwa seorang pencinta alam.
            >
            > Implikasi dari semua ini akhirnya, makin mengukuhkan image miring
            yang
            > sudah dari dahulu lahir. Tanpa disadari kita sendiri yang ikut
            > melemahkan 'positioning' pencinta alam itu sendiri. Ada analogi
            > sederhana yang mungkin dapat menggambarkan kondisional pencinta
            alam
            > saat ini. Kita akan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari
            kita
            > yaitu, sebagaimana kita ketahui dan dimanapun kita bertanya yang
            > namanya "Gudang Garam" atau "Djarum (jarum)" pasti akan dijawab
            > 'Rokok'. Orang dewasa sampai kecil biasanya akan menjawab dengan
            > jawaban yang sama bahwa Gudang Garam atau Djarum itu adalah salah
            satu
            > nama merk rokok terkenal yang ada di negara kita. Padahal
            sesungguhnya
            > makna semantik dari dua kata tadi adalah bahwa Gudang Garam itu
            adalah
            > gudang atau tempat penyimpanan garam, dan jarum itu adalah alat
            untuk
            > menjahit. Rasanya akan sedikit sekali yang mau mendefinisikan
            Gudang
            > Garam atau Jarum tadi dengan definisi diatas. Sebab ini sudah
            menjadi
            > hal yang biasa dan selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.
            > Terlepas dari kemampuan produsennya yang memang jago dalam
            > mempublikasikannya, dua kata tadi hanya sebagai perumpamaan saja,
            > untuk menunjukkan bahwa ada pergeseran makna sebenarnya dari sebuah
            > kata Gudang Garam atau Djarum. Sekarang, istilah tadi kita gantikan
            > dengan "Pencinta Alam" apakah kita akan mendefinisikan dan memaknai
            > ini sesederhana seperti menjawab rokok, sebagaimana halnya ini
            sudah
            > menjadi kebiasaan kita sehari-hari? Adakah pergeseran makna dari
            > Pencinta Alam sebenarnya saat ini? atau jangan-jangan Pencinta Alam
            > memang sudah sama dengan rokok, hanya sekali pakai. Hidupkan dan
            bakar
            > lalu menjadi abu.
            >
            > Pembenahan kemudi ini, pada prinsipnya hanya pilihan bagi kita, toh
            > tanggung jawab kita sebagai umat manusia sudah pasti dituntut
            kelak,
            > tentang apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap alam. Hanya
            > saja sekarang, tuntutan terhadap penyuaraan lingkungan dewasa ini
            > sudah begitu mendesak. Kerusakan sudah terjadi dimana-mana, 97%
            > permukaan bumi ini sudah dikuasai untuk memenuhi kebutuhan manusia,
            > lalu apakah sisanya pun akan kita paksakan juga untuk
            memuaskannya?.
            > Sudah menjadi sangat penting bagi anak pencinta alam untuk
            > mendiskusikan ini secara lebih intensif. Materi-materi yang
            berkaitan
            > dengan lingkungan dalam sistem pendidikan dasar organisasi pencinta
            > alam sudah tak wajar lagi kalau hanya menjadi materi pelengkap atau
            > tambahan. Silabusnya menuntut keberimbangan antara olah raga alam
            > bebas dan lingkungan. Dan kedepan, inilah yang akan menjadi salah
            satu
            > pembeda antara organisasi pencinta alam dan organisasi lain.
            >
            > Hobi naik gunung tidak mesti harus terhenti karena mau
            menyelamatkan
            > lingkungan, sebab melindungi lingkungan tidak mesti harus ada event
            > khusus, hari khusus atau jumlah orang yang banyak. Cukup dengan
            > mengantongi sampah dalam baju atau celana kalau tidak ketemu tempat
            > sampah rasanya sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
            > Rasa-rasanya sudah selayaknya, kemudi yang selama ini agak sedikit
            > melenceng dari pemaknaan sebenarnya tentang pencinta alam harus
            > dibenahi. Sebelum ini berlarut dan menjadi arah jalur atau
            kebiasaan
            > bagi seorang pencinta alam. Dan orang yang sudah terlanjur atau
            > berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi pencinta alam harus bisa
            > membedakan dirinya dengan mereka yang bukan anak organisasi
            pencinta
            > alam. Sudah saatnya anak-anak pencinta alam menjadi pembicara dalam
            > seminar-seminar atau diskusi yang membahas tentang lingkungan atau
            > alam. Mereka harus menjadi `opinion leader' dalam isu-isu
            lingkungan,
            > dan bukan pengekor isu. Bukan tidak mungkin artinya, anak pencinta
            > alam bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika mengkritisi
            > persoalan lingkungan dihadapan publik. Dengan kelengkapan data-data
            > dari perjalanan (pendakian, mis) yang telah dilakukan dan kemampuan
            > lapangan serta ruangan yang tangguh, rasanya tidak ada lagi yang
            akan
            > memandang sebelah mata anak-anak pencinta alam.
            >
            > Terakhir, memutar kemudi ini sekali lagi harus diawali dengan
            > kejujuran dan komitmen yang kukuh. berangkatnya hanya dari sebuah
            > pertanyaan sederhana "Sebagai anak Pencinta Alam, apa kontribusi
            kita
            > terhadap alam??".
            >
            > Penulis adalah mantan Ketua Umum Pencinta Alam Fakultas Ekonomi
            > Universitas Bengkulu (PAFE-UNIB), 2003-2004 dan sekarang aktif
            sebagai
            > Koordinator Pengembangan Kelembagaan SPORA-Bengkulu (Solidaritas
            untuk
            > Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat)
            >

             


            We won't tell. Get more on shows you hate to love
            (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.


          • mohammad anshori
            Ngambil dari kata-kata tante Nhanha neh : Jadi kami tunggu bimbingannya untuk mewujudkan kegiatan yang bermanfaat bagi alam ini baik dengan postingan artikel ,
            Message 5 of 7 , Jun 28, 2007
            View Source
            • 0 Attachment
              Ngambil dari kata-kata tante Nhanha neh : Jadi kami tunggu
              bimbingannya untuk mewujudkan kegiatan yang bermanfaat bagi alam ini
              baik dengan postingan artikel , atau bahkan dalam bentuk nyata...!!!!
              Wah Tante Nhanha dkk mau buat kegiatan dong...?? ajak-ajak ya kalo mau
              ada kegiatan...!!! Di dukung tante apapun bentuk kegiataannya

              salam damai

              ori

              --- In jejakpetualang@yahoogroups.com, "nhanha baik"
              <minyakkayuputihcaplang@...> wrote:
              >
              > Terima kasih atas masukannya......
              >
              > Harap dimaklumi bahwa milist ini masih baru berkibar ( walaupun
              sudah lama
              > terbentuk ) , jadi milist ini masih kekurangan sumber daya untuk
              mewujudkan
              > suatu kegiatan yang bersifat pelestarian dan masih dalam tahap
              sekedar
              > penyaluran hobby.
              >
              > Oleh karenanya, milist ini sangat membutuhkan bimbingan dari
              orang-orang
              > semacam om Deny, om baduy Amazone , Mas Budi Yakin.. , Bang Hendry, Om
              > dodoy, Bung Hijau, Mas Undik, Penjaga makam , Garempa dan masih banyak
              > orang orang yang tidak bisa aku sebutkan namanya yang memiliki
              pengalaman
              > lebih dari kami dalam hal pelestarian alam.
              >
              > Jadi kami tunggu bimbingannya untuk mewujudkan kegiatan yang
              bermanfaat bagi
              > alam ini baik dengan postingan artikel , atau bahkan dalam bentuk nyata
              > ......
              >
              >
              > best regards
              > Tante Nha2 - Feel the words unspoken..
              >
              >
              >
              > On 6/29/07, deni novendi <danovendi@...> wrote:
              > >
              > > Aku setuju dengan tulisan ini.....bahkan sangat setuju. aku juga
              > > pernah mengkritisi para JPers di milis ini, aktivitas yang dirilis
              koq cuma
              > > '*naik gunuuung*' melulu. Apa manfaatnya bagi orang banyak?, apa
              > > manfaatnya bagi lingkungan ?, apa manfaatnya bagi negara ?, apa
              manfaatya
              > > bagi anak cucu kita ?.
              > >
              > > Buat gue, naik gunung, hiking, dan penjelajahan sejenis, cuma akan
              > > melantunkan kebanggaan sesaat, setelah itu..... tidak ada !?
              > >
              > > Cobalah anak cucu kita bikin bangga dengan menunjuk, hutan itu
              bapak ku
              > > yang menanam, pohon ini bapakku yang melihara, dsb. OK !?
              > >
              > > *HIrau Jenggala hiJAU <hijjau@...>* wrote:
              > >
              > > Sebuah ulasan yang bagus untuk kita bis abercermin akan apa yang
              > > selama ini kita lakukan untuk sebuah kesenangan. Apa yang diuraikan
              > > Mas Harry adalah reality yang ada dilapangan. Memang tidak semua
              > > berprilaku yang kurang bersahabat dengan alam, namun yg mendominasi
              > > justru hal2 yang kurang berkenan. Disadari atau tidak kita termasuk
              > > yang ikut andil didalamnya.
              > >
              > > Dari awal makna dari pecinta alam itu sendiri sudah salah kaprah,
              > > karena justru porsi terbesar adalah petualangan bukan masalah
              > > konservasi. Munculnya klub2 pecinta alam layaknya jamur dimusim
              > > penghujan, begitu subur dan menggairahkan di dukung dengan keadaan
              > > alam yang sangat menunjang, namun bila tak ada misi dan visi yang
              > > jelas tentunya bukan sebuah berita gembira, tapi justru sebaliknya.
              > >
              > > Lihat MAPALA atau KPA yang mempunyai nama besar, yang menjadi
              > > panutan MAPALA atau KPA lainya justru memberikan contoh yang kurang
              > > simpatik akan pembelajaran terhadap alam. Yang mereka kedepankan
              > > justru lebih banyak sisi petualangannya saja.
              > >
              > > Coba lihat betapa sering mereka mempublish expedisi-expedisi yang
              > > dianggap fenomenal bila menjadi yang pertama menaklukan alam.
              > > Sehingga ini yang dijadikan barometer para pecinta alam / KPA
              > > lainnya. Sehingga berlomba-lomba mengikuti idolanya :(
              > > Sungguh sebuah pembelajaran yang kurang bijak yang pernah dilakukan.
              > >
              > > Sulit rasanya merubah paradigma lama yang sudah mengakar dan menjadi
              > > sebuah kebanggaan. Hanya satu cara untuk mulai merubah, yaa kita
              > > mulai merubah prilaku diri sendiri untuk lebih baik dan menjadikan
              > > contoh positif untuk orang lain.
              > >
              > > Lakukan hal terkecil sebelum memikirkan hal yang besar yang dapat
              > > kita lakukan. Apa yang menurut kita tidak baik, jangan dijadikan
              > > sebuah tameng untuk turut melakukannya.
              > >
              > > Bertidak dengan bijak dan berpikir dengan jernih, akan membawa kita
              > > menuju perbaikan yang berarti.
              > >
              > > Semoga, alam dan pengalaman dapat membimbing kita untuk lebih arif
              > > dalam setiap ayunan langkah kaki kita dimanapun berpijak.
              > >
              > > --- In jejakpetualang@yahoogroups.com
              <jejakpetualang%40yahoogroups.com>,
              > > "baduy amazone"
              > > <baduy237@> wrote:
              > > >
              > > > maaf kalau double posting.
              > > >
              > > > salam
              > > > ba
              > > >
              > > > Memutar Kemudi Pencinta Alam
              > > > Oleh : Harry Siswoyo*
              > > >
              > > > Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah sebuah cerita basi,
              > > dari
              > > > dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita. Sayang pembahasan
              > > > ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah strategis. Sekian
              > > > banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya sebagai pencinta
              > > alam
              > > > ternyata berjalan beriringan dengan tingginya angka kerusakan
              > > > lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur pengrusakan alam
              > > bisa
              > > > jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu sendiri.
              > > >
              > > > Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam atau apapun
              > > namanya,
              > > > yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka (KAT). Pada
              > > dasarnya
              > > > dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat berorganisasi dan
              > > > kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya. Event-event atau
              > > > ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke tempat-tempat
              > > asing
              > > > yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu wajib
              > > penggiatnya.
              > > > Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah ampuh para
              > > senior
              > > > yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi cerita dengan
              > > juniornya.
              > > > Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan, penelusuran dan
              > > > pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke generasi
              > > berikutnya.
              > > > Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan diri ini, kemudian
              > > > menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya. Kepuasannya hanya
              > > > dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi secara tertulis yang
              > > > telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best sellers' namun
              > > sayang
              > > > jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding upaya dan tindakan
              > > yang
              > > > arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.
              > > >
              > > > Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah petualangan, tapi kita
              > > coba
              > > > berani melihat ini secara proporsional dan jujur. Sudah sejauh
              > > manakah
              > > > peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa yang telah kita
              > > > bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau dibongkar, secara
              > > > konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam susunan program kerja
              > > > yang telah disusun dalam sebuah organisasi pencinta atau penggiat
              > > alam
              > > > yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara aktivitas
              > > petualangan
              > > > dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan. Sudahkah ada
              > > > keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan sejujur mungkin
              > > > bukan jawaban benar.
              > > >
              > > > Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta alam itu selalu
              > > > hura-hura, kerjaannya naik gunung terus, kemana-mana selalu bawa
              > > > ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan dewasa ini, rasanya
              > > > stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih kepada fakta.
              > > > Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak bisa merubah image
              > > > miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode, membanjirnya
              > > > produk-produk outdoor di pasaran membuat atribut-atribut pencinta
              > > alam
              > > > bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi celana lapangan
              > > > hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi ikat kepala anak-
              > > anak
              > > > gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang dipakai untuk
              > > hiasan
              > > > tas. Yang mirisnya, buat mereka yang memang berlabel pencinta atau
              > > > penggiat alam pun ternyata ikut terlibas dengan trend mode. Sulit
              > > > dibedakan mana yang memang anak pencinta alam atau bukan secara
              > > > tampilannya. Yang bawa ransel belum tentu anak pencinta alam dan
              > > > bahkan yang bisa panjat tebit pung tidak mesti harus masuk
              > > organisasi
              > > > pencinta alam terlebih dahulu. Lalu apa yang membedakannya?, hanya
              > > > sikap, kepedulian dan nilai-nilai luhur yang dianutnya. Sejatinya,
              > > > pencinta alam bukan diukur secara penampilan, tapi lebih kepada
              > > nilai,
              > > > jiwa, sikap, solidaritas, pandangan dan tindakan mereka terhadap
              > > > penyelamatan lingkungan atau alam. Selain aktif dalam kegiatan alam
              > > > bebas, mereka juga peduli terhadap perlindungan dan pelestarian
              > > dari
              > > > wadah bermainnya.
              > > >
              > > > Lalu yang menjadi tanda tanya besar sekarang adalah, apakah sikap,
              > > > kepedulian dan nilai-nilai luhur yang melekat pada anak pencinta
              > > alam
              > > > itu masih ada? Ataukah sudah tergerus dan kemudian sama dengan
              > > mereka
              > > > yang jelas-jelas bukan berlabel pencinta alam?. Pertanyaan serius
              > > ini
              > > > memang tidak mudah dijawab. Akan tetapi fakta menunjukkan bahwa
              > > pada
              > > > umumnya kita memang lebih terlena pada romantisme petualangan.
              > > > Aktivitas-aktivitas kampanye lingkungan, demo-demo atau peringatan
              > > > hari bumi atau lingkungan tak lebih menjadi sebuah seremonial
              > > belaka.
              > > > Belum dibarengi dengan pen-darah dagingan nilai-nilai lingkungan
              > > dalam
              > > > jiwa seorang pencinta alam.
              > > >
              > > > Implikasi dari semua ini akhirnya, makin mengukuhkan image miring
              > > yang
              > > > sudah dari dahulu lahir. Tanpa disadari kita sendiri yang ikut
              > > > melemahkan 'positioning' pencinta alam itu sendiri. Ada analogi
              > > > sederhana yang mungkin dapat menggambarkan kondisional pencinta
              > > alam
              > > > saat ini. Kita akan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari
              > > kita
              > > > yaitu, sebagaimana kita ketahui dan dimanapun kita bertanya yang
              > > > namanya "Gudang Garam" atau "Djarum (jarum)" pasti akan dijawab
              > > > 'Rokok'. Orang dewasa sampai kecil biasanya akan menjawab dengan
              > > > jawaban yang sama bahwa Gudang Garam atau Djarum itu adalah salah
              > > satu
              > > > nama merk rokok terkenal yang ada di negara kita. Padahal
              > > sesungguhnya
              > > > makna semantik dari dua kata tadi adalah bahwa Gudang Garam itu
              > > adalah
              > > > gudang atau tempat penyimpanan garam, dan jarum itu adalah alat
              > > untuk
              > > > menjahit. Rasanya akan sedikit sekali yang mau mendefinisikan
              > > Gudang
              > > > Garam atau Jarum tadi dengan definisi diatas. Sebab ini sudah
              > > menjadi
              > > > hal yang biasa dan selalu hadir dalam kehidupan kita sehari-hari.
              > > > Terlepas dari kemampuan produsennya yang memang jago dalam
              > > > mempublikasikannya, dua kata tadi hanya sebagai perumpamaan saja,
              > > > untuk menunjukkan bahwa ada pergeseran makna sebenarnya dari sebuah
              > > > kata Gudang Garam atau Djarum. Sekarang, istilah tadi kita gantikan
              > > > dengan "Pencinta Alam" apakah kita akan mendefinisikan dan memaknai
              > > > ini sesederhana seperti menjawab rokok, sebagaimana halnya ini
              > > sudah
              > > > menjadi kebiasaan kita sehari-hari? Adakah pergeseran makna dari
              > > > Pencinta Alam sebenarnya saat ini? atau jangan-jangan Pencinta Alam
              > > > memang sudah sama dengan rokok, hanya sekali pakai. Hidupkan dan
              > > bakar
              > > > lalu menjadi abu.
              > > >
              > > > Pembenahan kemudi ini, pada prinsipnya hanya pilihan bagi kita, toh
              > > > tanggung jawab kita sebagai umat manusia sudah pasti dituntut
              > > kelak,
              > > > tentang apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap alam. Hanya
              > > > saja sekarang, tuntutan terhadap penyuaraan lingkungan dewasa ini
              > > > sudah begitu mendesak. Kerusakan sudah terjadi dimana-mana, 97%
              > > > permukaan bumi ini sudah dikuasai untuk memenuhi kebutuhan manusia,
              > > > lalu apakah sisanya pun akan kita paksakan juga untuk
              > > memuaskannya?.
              > > > Sudah menjadi sangat penting bagi anak pencinta alam untuk
              > > > mendiskusikan ini secara lebih intensif. Materi-materi yang
              > > berkaitan
              > > > dengan lingkungan dalam sistem pendidikan dasar organisasi pencinta
              > > > alam sudah tak wajar lagi kalau hanya menjadi materi pelengkap atau
              > > > tambahan. Silabusnya menuntut keberimbangan antara olah raga alam
              > > > bebas dan lingkungan. Dan kedepan, inilah yang akan menjadi salah
              > > satu
              > > > pembeda antara organisasi pencinta alam dan organisasi lain.
              > > >
              > > > Hobi naik gunung tidak mesti harus terhenti karena mau
              > > menyelamatkan
              > > > lingkungan, sebab melindungi lingkungan tidak mesti harus ada event
              > > > khusus, hari khusus atau jumlah orang yang banyak. Cukup dengan
              > > > mengantongi sampah dalam baju atau celana kalau tidak ketemu tempat
              > > > sampah rasanya sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
              > > > Rasa-rasanya sudah selayaknya, kemudi yang selama ini agak sedikit
              > > > melenceng dari pemaknaan sebenarnya tentang pencinta alam harus
              > > > dibenahi. Sebelum ini berlarut dan menjadi arah jalur atau
              > > kebiasaan
              > > > bagi seorang pencinta alam. Dan orang yang sudah terlanjur atau
              > > > berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi pencinta alam harus bisa
              > > > membedakan dirinya dengan mereka yang bukan anak organisasi
              > > pencinta
              > > > alam. Sudah saatnya anak-anak pencinta alam menjadi pembicara dalam
              > > > seminar-seminar atau diskusi yang membahas tentang lingkungan atau
              > > > alam. Mereka harus menjadi `opinion leader' dalam isu-isu
              > > lingkungan,
              > > > dan bukan pengekor isu. Bukan tidak mungkin artinya, anak pencinta
              > > > alam bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika mengkritisi
              > > > persoalan lingkungan dihadapan publik. Dengan kelengkapan data-data
              > > > dari perjalanan (pendakian, mis) yang telah dilakukan dan kemampuan
              > > > lapangan serta ruangan yang tangguh, rasanya tidak ada lagi yang
              > > akan
              > > > memandang sebelah mata anak-anak pencinta alam.
              > > >
              > > > Terakhir, memutar kemudi ini sekali lagi harus diawali dengan
              > > > kejujuran dan komitmen yang kukuh. berangkatnya hanya dari sebuah
              > > > pertanyaan sederhana "Sebagai anak Pencinta Alam, apa kontribusi
              > > kita
              > > > terhadap alam??".
              > > >
              > > > Penulis adalah mantan Ketua Umum Pencinta Alam Fakultas Ekonomi
              > > > Universitas Bengkulu (PAFE-UNIB), 2003-2004 dan sekarang aktif
              > > sebagai
              > > > Koordinator Pengembangan Kelembagaan SPORA-Bengkulu (Solidaritas
              > > untuk
              > > > Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat)
              > > >
              > >
              > >
              > >
              > >
              > > ------------------------------
              > > We won't tell. Get more on shows you hate to
              love<http://us.rd.yahoo.com/evt=49980/*http://tv.yahoo.com/collections/265%0A>
              > > (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures
              list.<http://us.rd.yahoo.com/evt=49980/*http://tv.yahoo.com/collections/265%0A>
              > >
              > >
              > >
              >
            • heru gunawan
              Sebenarnya sudah lama kalimat ini mulailah dari diri sendiri dulu jadi mari kita mulai dengan tindakan kita, karena terkadang kita bicara mudah sekali tapi
              Message 6 of 7 , Jun 29, 2007
              View Source
              • 0 Attachment
                Sebenarnya sudah lama kalimat ini "mulailah dari diri
                sendiri dulu" jadi mari kita mulai dengan tindakan
                kita, karena terkadang kita bicara mudah sekali tapi
                melakukannya bukan tidak bisa tapi berat,

                misalnya gw coba tuk ikut mengkampanyekan GreenPeace
                asia Tenggara berawal dengan niat mulia tuk menjaga
                kelestarian hutan dengna modal senyum manis dan
                meminta tanda tangan orang kita temui disekitar kita
                untuk mendukung aksi petisi sejuta tanda tangan....wow
                alangkahnya malu, takut dan sebagainya tuk melakukan
                itu klo tidak dengan niat menjaga lingkungan dari hal
                terkecil tersebut. Gak sedikit yg menghindar dan
                malas...walo hanya tandatangan dan sdikit data....tp
                tetep gw berjalan.....

                mari jangan hanya bicara......

                salam lestari
                heru gunawan
                --- deni novendi <danovendi@...> wrote:

                > Aku setuju dengan tulisan ini.....bahkan sangat
                > setuju. aku juga pernah mengkritisi para JPers di
                > milis ini, aktivitas yang dirilis koq cuma 'naik
                > gunuuung' melulu. Apa manfaatnya bagi orang
                > banyak?, apa manfaatnya bagi lingkungan ?, apa
                > manfaatnya bagi negara ?, apa manfaatya bagi anak
                > cucu kita ?.
                >
                > Buat gue, naik gunung, hiking, dan penjelajahan
                > sejenis, cuma akan melantunkan kebanggaan sesaat,
                > setelah itu..... tidak ada !?
                >
                > Cobalah anak cucu kita bikin bangga dengan
                > menunjuk, hutan itu bapak ku yang menanam, pohon ini
                > bapakku yang melihara, dsb. OK !?
                >
                > HIrau Jenggala hiJAU <hijjau@...>
                > wrote:
                > Sebuah ulasan yang bagus untuk kita bis
                > abercermin akan apa yang
                > selama ini kita lakukan untuk sebuah kesenangan. Apa
                > yang diuraikan
                > Mas Harry adalah reality yang ada dilapangan. Memang
                > tidak semua
                > berprilaku yang kurang bersahabat dengan alam, namun
                > yg mendominasi
                > justru hal2 yang kurang berkenan. Disadari atau
                > tidak kita termasuk
                > yang ikut andil didalamnya.
                >
                > Dari awal makna dari pecinta alam itu sendiri sudah
                > salah kaprah,
                > karena justru porsi terbesar adalah petualangan
                > bukan masalah
                > konservasi. Munculnya klub2 pecinta alam layaknya
                > jamur dimusim
                > penghujan, begitu subur dan menggairahkan di dukung
                > dengan keadaan
                > alam yang sangat menunjang, namun bila tak ada misi
                > dan visi yang
                > jelas tentunya bukan sebuah berita gembira, tapi
                > justru sebaliknya.
                >
                > Lihat MAPALA atau KPA yang mempunyai nama besar,
                > yang menjadi
                > panutan MAPALA atau KPA lainya justru memberikan
                > contoh yang kurang
                > simpatik akan pembelajaran terhadap alam. Yang
                > mereka kedepankan
                > justru lebih banyak sisi petualangannya saja.
                >
                > Coba lihat betapa sering mereka mempublish
                > expedisi-expedisi yang
                > dianggap fenomenal bila menjadi yang pertama
                > menaklukan alam.
                > Sehingga ini yang dijadikan barometer para pecinta
                > alam / KPA
                > lainnya. Sehingga berlomba-lomba mengikuti idolanya
                > :(
                > Sungguh sebuah pembelajaran yang kurang bijak yang
                > pernah dilakukan.
                >
                > Sulit rasanya merubah paradigma lama yang sudah
                > mengakar dan menjadi
                > sebuah kebanggaan. Hanya satu cara untuk mulai
                > merubah, yaa kita
                > mulai merubah prilaku diri sendiri untuk lebih baik
                > dan menjadikan
                > contoh positif untuk orang lain.
                >
                > Lakukan hal terkecil sebelum memikirkan hal yang
                > besar yang dapat
                > kita lakukan. Apa yang menurut kita tidak baik,
                > jangan dijadikan
                > sebuah tameng untuk turut melakukannya.
                >
                > Bertidak dengan bijak dan berpikir dengan jernih,
                > akan membawa kita
                > menuju perbaikan yang berarti.
                >
                > Semoga, alam dan pengalaman dapat membimbing kita
                > untuk lebih arif
                > dalam setiap ayunan langkah kaki kita dimanapun
                > berpijak.
                >
                > --- In jejakpetualang@yahoogroups.com, "baduy
                > amazone"
                > <baduy237@...> wrote:
                > >
                > > maaf kalau double posting.
                > >
                > > salam
                > > ba
                > >
                > > Memutar Kemudi Pencinta Alam
                > > Oleh : Harry Siswoyo*
                > >
                > > Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah
                > sebuah cerita basi,
                > dari
                > > dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita.
                > Sayang pembahasan
                > > ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah
                > strategis. Sekian
                > > banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya
                > sebagai pencinta
                > alam
                > > ternyata berjalan beriringan dengan tingginya
                > angka kerusakan
                > > lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur
                > pengrusakan alam
                > bisa
                > > jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu
                > sendiri.
                > >
                > > Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam
                > atau apapun
                > namanya,
                > > yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka
                > (KAT). Pada
                > dasarnya
                > > dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat
                > berorganisasi dan
                > > kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya.
                > Event-event atau
                > > ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke
                > tempat-tempat
                > asing
                > > yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu
                > wajib
                > penggiatnya.
                > > Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah
                > ampuh para
                > senior
                > > yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi
                > cerita dengan
                > juniornya.
                > > Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan,
                > penelusuran dan
                > > pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke
                > generasi
                > berikutnya.
                > > Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan
                > diri ini, kemudian
                > > menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya.
                > Kepuasannya hanya
                > > dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi
                > secara tertulis yang
                > > telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best
                > sellers' namun
                > sayang
                > > jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding
                > upaya dan tindakan
                > yang
                > > arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.
                > >
                > > Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah
                > petualangan, tapi kita
                > coba
                > > berani melihat ini secara proporsional dan jujur.
                > Sudah sejauh
                > manakah
                > > peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa
                > yang telah kita
                > > bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau
                > dibongkar, secara
                > > konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam
                > susunan program kerja
                > > yang telah disusun dalam sebuah organisasi
                > pencinta atau penggiat
                > alam
                > > yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara
                > aktivitas
                > petualangan
                > > dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan.
                > Sudahkah ada
                > > keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan
                > sejujur mungkin
                > > bukan jawaban benar.
                > >
                > > Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta
                > alam itu selalu
                > > hura-hura, kerjaannya naik gunung terus,
                > kemana-mana selalu bawa
                > > ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan
                > dewasa ini, rasanya
                > > stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih
                > kepada fakta.
                > > Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak
                > bisa merubah image
                > > miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode,
                > membanjirnya
                > > produk-produk outdoor di pasaran membuat
                > atribut-atribut pencinta
                > alam
                > > bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi
                > celana lapangan
                > > hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi
                > ikat kepala anak-
                > anak
                > > gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang
                > dipakai
                === message truncated ===







                ________________________________________________________
                Sekarang dengan penyimpanan 1GB
                http://id.mail.yahoo.com/
              • Dody Johanjaya
                kalau gak salah....ini isu lamaaaaa....yang kembali tercuat, tapi selalu emang relevan tuk dimunculkan di kapanpun saja tuk mempertanyakan eksistensi PA, KPA,
                Message 7 of 7 , Jul 1, 2007
                View Source
                • 0 Attachment
                  
                  kalau gak salah....ini isu lamaaaaa....yang kembali tercuat, tapi selalu emang relevan tuk dimunculkan di kapanpun saja tuk mempertanyakan eksistensi PA, KPA, Mapala dan sebagainya.... dan selalu berujung ketidakpuasan atas perannya yang seolah-olah gak memperhatikan kelestarian, gak peduli konservasi dan sebagainya....its ok, PA, Mapala, KPA dan sebagainya setahu saya dibentuk memang bukan tuk memuaskan para pihak kok, setahu saya hanya jadi sarana berkumpul rekan sehati, sepengertian, setujuan, searah untuk jalan2, bertualang...menurut saya itu lebih dari cukup, karena dengan jalan di alam banyak teman yg akhirnya lebih mencintai alam, punya pengetahuan luas, lebih mengenal teman...dan yang pasti lebih cinta tanah air, yang belum puas dengan itu semua ya kemudian ikutan LSM....mencoba jadi pahlawan lingkungan, ya its ok juga toh, ada yang kemudian sekedar tukang ngomong tanpa berbuat apaupun juga its ok, jadiiii....biarlah semua dengan peran, tugas, impian dan angan masing2, yang atu sibuk bertualang mendaki berbagai gunung tinggi hingga ke manca negara ya hebat toh....peran ini kan gak semua PA, Mapala, KPA lakukan, mereka juga kan sudah mengharumkan bangsa, merelakan jiwa dan raga menggapai puncak2 impian....apakah itu salah kaprah, apakah itu tindakan kurang simpati dan gak patut jadi panutan....justru semangat2 mereka lah yang membuat bangsa harum dan terdepan dalam petualangan.....dan sejarahnya, kegiatan di alamlah yang telah membebaskan kita tuk sebebas-bebasnya mengapresiasikan dan mengaktualkan diri tuk mencintai alam, melestarikan alam dan .....melepaskan generasi muda dari kotornya tangan2 politik....
                   
                   
                   
                  Salam,
                   
                  Dody
                   
                   
                   
                    
                   
                   
                   
                  ----- Original Message -----
                  Sent: Friday, June 29, 2007 11:16 PM
                  Subject: Balasan: Re: [Jejak Petualang] Re: Fwd: Memutar Kemudi Pecinta Alam

                  Sebenarnya sudah lama kalimat ini "mulailah dari diri
                  sendiri dulu" jadi mari kita mulai dengan tindakan
                  kita, karena terkadang kita bicara mudah sekali tapi
                  melakukannya bukan tidak bisa tapi berat,

                  misalnya gw coba tuk ikut mengkampanyekan GreenPeace
                  asia Tenggara berawal dengan niat mulia tuk menjaga
                  kelestarian hutan dengna modal senyum manis dan
                  meminta tanda tangan orang kita temui disekitar kita
                  untuk mendukung aksi petisi sejuta tanda tangan....wow
                  alangkahnya malu, takut dan sebagainya tuk melakukan
                  itu klo tidak dengan niat menjaga lingkungan dari hal
                  terkecil tersebut. Gak sedikit yg menghindar dan
                  malas...walo hanya tandatangan dan sdikit data....tp
                  tetep gw berjalan.... .

                  mari jangan hanya bicara......

                  salam lestari
                  heru gunawan
                  --- deni novendi <danovendi@yahoo. com> wrote:

                  > Aku setuju dengan tulisan ini.....bahkan sangat
                  > setuju. aku juga pernah mengkritisi para JPers di
                  > milis ini, aktivitas yang dirilis koq cuma 'naik
                  > gunuuung' melulu. Apa manfaatnya bagi orang
                  > banyak?, apa manfaatnya bagi lingkungan ?, apa
                  > manfaatnya bagi negara ?, apa manfaatya bagi anak
                  > cucu kita ?.
                  >
                  > Buat gue, naik gunung, hiking, dan penjelajahan
                  > sejenis, cuma akan melantunkan kebanggaan sesaat,
                  > setelah itu..... tidak ada !?
                  >
                  > Cobalah anak cucu kita bikin bangga dengan
                  > menunjuk, hutan itu bapak ku yang menanam, pohon ini
                  > bapakku yang melihara, dsb. OK !?
                  >
                  > HIrau Jenggala hiJAU <hijjau@pendakierror .com>
                  > wrote:
                  > Sebuah ulasan yang bagus untuk kita bis
                  > abercermin akan apa yang
                  > selama ini kita lakukan untuk sebuah kesenangan. Apa
                  > yang diuraikan
                  > Mas Harry adalah reality yang ada dilapangan. Memang
                  > tidak semua
                  > berprilaku yang kurang bersahabat dengan alam, namun
                  > yg mendominasi
                  > justru hal2 yang kurang berkenan. Disadari atau
                  > tidak kita termasuk
                  > yang ikut andil didalamnya.
                  >
                  > Dari awal makna dari pecinta alam itu sendiri sudah
                  > salah kaprah,
                  > karena justru porsi terbesar adalah petualangan
                  > bukan masalah
                  > konservasi. Munculnya klub2 pecinta alam layaknya
                  > jamur dimusim
                  > penghujan, begitu subur dan menggairahkan di dukung
                  > dengan keadaan
                  > alam yang sangat menunjang, namun bila tak ada misi
                  > dan visi yang
                  > jelas tentunya bukan sebuah berita gembira, tapi
                  > justru sebaliknya.
                  >
                  > Lihat MAPALA atau KPA yang mempunyai nama besar,
                  > yang menjadi
                  > panutan MAPALA atau KPA lainya justru memberikan
                  > contoh yang kurang
                  > simpatik akan pembelajaran terhadap alam. Yang
                  > mereka kedepankan
                  > justru lebih banyak sisi petualangannya saja.
                  >
                  > Coba lihat betapa sering mereka mempublish
                  > expedisi-expedisi yang
                  > dianggap fenomenal bila menjadi yang pertama
                  > menaklukan alam.
                  > Sehingga ini yang dijadikan barometer para pecinta
                  > alam / KPA
                  > lainnya. Sehingga berlomba-lomba mengikuti idolanya
                  > :(
                  > Sungguh sebuah pembelajaran yang kurang bijak yang
                  > pernah dilakukan.
                  >
                  > Sulit rasanya merubah paradigma lama yang sudah
                  > mengakar dan menjadi
                  > sebuah kebanggaan. Hanya satu cara untuk mulai
                  > merubah, yaa kita
                  > mulai merubah prilaku diri sendiri untuk lebih baik
                  > dan menjadikan
                  > contoh positif untuk orang lain.
                  >
                  > Lakukan hal terkecil sebelum memikirkan hal yang
                  > besar yang dapat
                  > kita lakukan. Apa yang menurut kita tidak baik,
                  > jangan dijadikan
                  > sebuah tameng untuk turut melakukannya.
                  >
                  > Bertidak dengan bijak dan berpikir dengan jernih,
                  > akan membawa kita
                  > menuju perbaikan yang berarti.
                  >
                  > Semoga, alam dan pengalaman dapat membimbing kita
                  > untuk lebih arif
                  > dalam setiap ayunan langkah kaki kita dimanapun
                  > berpijak.
                  >
                  > --- In jejakpetualang@ yahoogroups. com, "baduy
                  > amazone"
                  > <baduy237@.. .> wrote:
                  > >
                  > > maaf kalau double posting.
                  > >
                  > > salam
                  > > ba
                  > >
                  > > Memutar Kemudi Pencinta Alam
                  > > Oleh : Harry Siswoyo*
                  > >
                  > > Bahasan peran pencinta alam sebenarnya adalah
                  > sebuah cerita basi,
                  > dari
                  > > dulu sampai sekarang selalu menjadi bahan cerita.
                  > Sayang pembahasan
                  > > ini belum begitu dibarengi dengan langkah-langkah
                  > strategis. Sekian
                  > > banyak organisasi yang mengatas namakan dirinya
                  > sebagai pencinta
                  > alam
                  > > ternyata berjalan beriringan dengan tingginya
                  > angka kerusakan
                  > > lingkungan. Setuju atau tidak, salah satu unsur
                  > pengrusakan alam
                  > bisa
                  > > jadi ada dalam aktivitas pencinta alam itu
                  > sendiri.
                  > >
                  > > Menjamurnya organisasi penggiat dan pencinta alam
                  > atau apapun
                  > namanya,
                  > > yang ada kaitannya dengan Kegiatan Alam Terbuka
                  > (KAT). Pada
                  > dasarnya
                  > > dapat mengindikasikan semakin suburnya semangat
                  > berorganisasi dan
                  > > kemauan generasi untuk mengenal lingkungannya.
                  > Event-event atau
                  > > ekspedisi besar kerap dilakukan. Penjelajahan ke
                  > tempat-tempat
                  > asing
                  > > yang bernuansa eksotik dan menantang menjadi menu
                  > wajib
                  > penggiatnya.
                  > > Bahkan tak jarang cerita-cerita ini menjadi petuah
                  > ampuh para
                  > senior
                  > > yang sudah tinggi jam terbangnya saat berbagi
                  > cerita dengan
                  > juniornya.
                  > > Euphoria dan romantisme pendakian, pengarungan,
                  > penelusuran dan
                  > > pemanjatan pun akhirnya begitu menggema hingga ke
                  > generasi
                  > berikutnya.
                  > > Kisah-kisah haru biru dan menjajal ketangguhan
                  > diri ini, kemudian
                  > > menjadi pengalaman tersendiri bagi pelakunya.
                  > Kepuasannya hanya
                  > > dinikmati para pelakunya. Kendati dokumentasi
                  > secara tertulis yang
                  > > telah dibukukan terkadang menjadi bacaan `best
                  > sellers' namun
                  > sayang
                  > > jiwa petualangan begitu mendominasi dibanding
                  > upaya dan tindakan
                  > yang
                  > > arif dan bijak terhadap lingkungan atau alam.
                  > >
                  > > Bukan bermaksud meminggirkan sebuah kisah
                  > petualangan, tapi kita
                  > coba
                  > > berani melihat ini secara proporsional dan jujur.
                  > Sudah sejauh
                  > manakah
                  > > peran kita terhadap perlindungan lingkungan? Apa
                  > yang telah kita
                  > > bhaktikan terhadap lingkungan atau alam?. Kalau
                  > dibongkar, secara
                  > > konservatif sebenarnya dapat kita lihat dalam
                  > susunan program kerja
                  > > yang telah disusun dalam sebuah organisasi
                  > pencinta atau penggiat
                  > alam
                  > > yang kita geluti. Berapa prosentasenya, antara
                  > aktivitas
                  > petualangan
                  > > dan aktivitas yang berbau penyelamatan lingkungan.
                  > Sudahkah ada
                  > > keberimbangan? Tapi ingat menjawabnya harus dengan
                  > sejujur mungkin
                  > > bukan jawaban benar.
                  > >
                  > > Ada stigma yang lahir dari dahulu, bahwa pencinta
                  > alam itu selalu
                  > > hura-hura, kerjaannya naik gunung terus,
                  > kemana-mana selalu bawa
                  > > ransel atau tas besar dan entah apa isinya. Dan
                  > dewasa ini, rasanya
                  > > stigma ini bukan lagi sebagai ungkapan tapi lebih
                  > kepada fakta.
                  > > Ternyata kita memang enggan atau mungkin tidak
                  > bisa merubah image
                  > > miring ini. Pencinta alam sudah menjadi mode,
                  > membanjirnya
                  > > produk-produk outdoor di pasaran membuat
                  > atribut-atribut pencinta
                  > alam
                  > > bisa dikenakan siapa saja. Sudah tidak zaman lagi
                  > celana lapangan
                  > > hanya dipakai anak gunung, bandana sudah menjadi
                  > ikat kepala anak-
                  > anak
                  > > gaul. Miniature cincin kait pun sudah banyak yang
                  > dipakai
                  === message truncated ===



                  ____________ _________ _________ _________ _________ ________
                  Sekarang dengan penyimpanan 1GB
                  http://id.mail. yahoo.com/

                Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.