Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

RE: [isnet-bl] Aceh - Afghanistan

Expand Messages
  • Syah, Tengku Abdilah
    Cerita ini bagus juga u/ dikaji. Kalau saya melihat, kenapa umat muslim di Indonesia lebih menyuarakan demo mengenai Afghan dibanding mengenai Aceh.
    Message 1 of 4 , Nov 11, 2001
    • 0 Attachment
      Cerita ini bagus juga u/ dikaji.
      Kalau saya melihat, kenapa umat muslim di Indonesia lebih menyuarakan demo
      mengenai Afghan dibanding mengenai Aceh.

      Menurutku...
      Kalau di Aceh penindasan/kekerasan dilakukan oleh pemerintah ina dimana
      penduduknya mayoritas islam begitu juga dgn prajuritnya.
      Sedangkan di Afghan yg menyerang adalah amrik yg mayoritas penduduknya
      kristen & begitu juga dgn prajuritnya.
      Jadi sepertinya versi penindasan antara pemerintah muslim oleh pemerintah
      musrik (Islam oleh Kristen). Nuansa Islam vs Kristen lebih ketara.
      Sehingga solidaritas sesama muslimnya lebih tinggi/kelihatan.

      Begitu juga sewaktu Irak & Iran berperang, Irak vs Kuwait +Sekutu.
      Demo2 seperti yg sekarang tidak begitu kelihatan saat itu.
      Karena peperangannya sesama pemerintah yg mayoritas penduduknya muslim.

      Any comment ?

      Wallahu'alam.


      -----Original Message-----
      From: Ichwan Sontani [mailto:sisichwa@...]
      Sent: Tuesday, August 22, 2023 11:33 PM
      To: isnet-bl@yahoogroups.com
      Subject: [isnet-bl] Aceh - Afghanistan

      Semoga dapat menjadi renungan kita ..


      Mak, maukah mereka membela rakyat di Aceh?
      Oleh Anies Baswedan
      abasweda@...

      "Mak, kenapa mereka mau berjihad ke Afganistan?" tanya
      Salahuddin pada
      mamaknya ketika melihat acara televisi yang menggambarkan
      demonstrasi penuh
      takbir.



      [Non-text portions of this message have been removed]
    • Doddy Setioadi
      Ada sebagian kekuatan ummat yang.....Think Globally....Act Globally.... Ada sebagian kekuatan ummat yang......Think Globally...Act Locally..... Ada sebagian
      Message 2 of 4 , Nov 12, 2001
      • 0 Attachment
        Ada sebagian kekuatan ummat yang.....Think Globally....Act Globally....
        Ada sebagian kekuatan ummat yang......Think Globally...Act Locally.....
        Ada sebagian kekuatan ummat yang......Think Locally.....Act Locally......
        Ada sebagian kekuatan ummat yang......Think Locally....Impact Globally.....

        Masalahnya adalah....sudahkah kita ada di dalam barisan kekuatan ummat
        tersebut ??.....barisan manapun....selama tujuannya ialah Allah SWT dengan
        tegaknya kalimat tauhid dan kejayaan Islam......
        metode hanyalah sarana ijtihad.....
        jangan jadikan sebagai penghambat....
        lantas diam tak berbuat.....


        > ----------
        > From: Syah, Tengku Abdilah[SMTP:SYAHTENG@...]
        > Reply To: isnet-bl@yahoogroups.com
        > Sent: Monday, November 12, 2001 2:32 PM
        > To: isnet-bl@yahoogroups.com
        > Subject: RE: [isnet-bl] Aceh - Afghanistan
        >
        > Cerita ini bagus juga u/ dikaji.
        > Kalau saya melihat, kenapa umat muslim di Indonesia lebih menyuarakan demo
        > mengenai Afghan dibanding mengenai Aceh.
        >
        > Menurutku...
        > Kalau di Aceh penindasan/kekerasan dilakukan oleh pemerintah ina dimana
        > penduduknya mayoritas islam begitu juga dgn prajuritnya.
        > Sedangkan di Afghan yg menyerang adalah amrik yg mayoritas penduduknya
        > kristen & begitu juga dgn prajuritnya.
        > Jadi sepertinya versi penindasan antara pemerintah muslim oleh pemerintah
        > musrik (Islam oleh Kristen). Nuansa Islam vs Kristen lebih ketara.
        > Sehingga solidaritas sesama muslimnya lebih tinggi/kelihatan.
        >
        > Begitu juga sewaktu Irak & Iran berperang, Irak vs Kuwait +Sekutu.
        > Demo2 seperti yg sekarang tidak begitu kelihatan saat itu.
        > Karena peperangannya sesama pemerintah yg mayoritas penduduknya muslim.
        >
        > Any comment ?
        >
        > Wallahu'alam.
        >
        >
        > -----Original Message-----
        > From: Ichwan Sontani [mailto:sisichwa@...]
        > Sent: Tuesday, August 22, 2023 11:33 PM
        > To: isnet-bl@yahoogroups.com
        > Subject: [isnet-bl] Aceh - Afghanistan
        >
        > Semoga dapat menjadi renungan kita ..
        >
        >
        > Mak, maukah mereka membela rakyat di Aceh?
        > Oleh Anies Baswedan
        > abasweda@...
        >
        > "Mak, kenapa mereka mau berjihad ke Afganistan?" tanya
        > Salahuddin pada
        > mamaknya ketika melihat acara televisi yang menggambarkan
        > demonstrasi penuh
        > takbir.
        >
        >
        >
        > [Non-text portions of this message have been removed]
        >
        >
        >
        >
        >
        > Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
        >
        >


        [Non-text portions of this message have been removed]
      • Bramsi Prenata
        ... bukannya Taliban vs. Aliansi Utara + AS + Inggris, juga islam islam non islam terus gimana dengan orang yang berpendapat : Kalau Muslim
        Message 3 of 4 , Nov 12, 2001
        • 0 Attachment
          > Begitu juga sewaktu Irak & Iran berperang, Irak vs Kuwait +Sekutu.
          > Demo2 seperti yg sekarang tidak begitu kelihatan saat itu.
          > Karena peperangannya sesama pemerintah yg mayoritas penduduknya muslim.
          >
          bukannya Taliban vs. Aliansi Utara + AS + Inggris, juga
          islam islam non islam

          terus gimana dengan orang yang berpendapat :
          "Kalau Muslim dan Muslim bertikai, kita mendamaikannya, bukannya
          berperang"

          dengan booming tentang afghanistan, kayaknya dalam negeri kita (Maluku,
          Poso) jadi ternomor duakan.

          Adakah skala prioritas jihad qitaal bagi kita ummat Indonesia ?


          wallahu'alam bishshowwab.
        • Ichwan Sontani
          Semoga dapat menjadi renungan kita .. Mak, maukah mereka membela rakyat di Aceh? Oleh Anies Baswedan abasweda@niu.edu Mak, kenapa mereka mau berjihad ke
          Message 4 of 4 , Aug 22, 2023
          • 0 Attachment
            Semoga dapat menjadi renungan kita ..


            Mak, maukah mereka membela rakyat di Aceh?
            Oleh Anies Baswedan
            abasweda@...

            "Mak, kenapa mereka mau berjihad ke Afganistan?" tanya Salahuddin pada
            mamaknya ketika melihat acara televisi yang menggambarkan demonstrasi penuh
            takbir.
            Seperti biasa, malam itu belasan warga kampung menumpang nonton televisi di
            rumah Salahuddin, di sebuah desa di pelosok Aceh. Mamaknya, beberapa janda
            lainnya, para pemuda dan anak-anak menyaksikan berita demonstrasi di depan
            kedutaan Amerika dengan hikmat dan takjub. Keheningan mereka itu lalu
            terpotong dengan jawaban Mamaknya.

            "Din, umat islam itu bersaudara. Kalau ada satu yang didzalimi maka
            saudara-saudaranya akan datang menolong," jawab Mamaknya.
            Lalu, anak umur 10 tahun itu bertanya lagi, "Mak, waktu ayah dan paman
            diseret dari rumah, terus ditembaki dan waktu santri di pesantren kampung
            sebelah di tembaki, apakah mereka juga demonstrasi seperti itu?"

            "Iya Din, mereka juga demonstrasi dan siap mengirimkan mujahid ke kampung
            kita di sini. Mereka itu selalu membela saudaranya yang didzalimi. Cuma
            kita
            saja kebetulan tidak mendengarkan tv jadi tidak tahu berita", jawab
            Mamaknya.

            "Tapi Mak, maukah mereka sekarang pergi dan membela kampung kita?", cecar
            Salahudin. "Ya, tentu saja, merekapun memikirkan kita. Mereka memirkan dan
            memperjuangkan nasib orang Islam sedunia", tegas Mamaknya.

            Mamaknya sadar bahwa jawaban itu bertentangan dengan hati nuraninya, tapi
            dia tidak ingin membesarkan anaknya dengan rasa sakit hati dan potret
            diskriminatif pembelaan umat Islam di Indonesia.

            Mamaknya sadar benar, ketika suami dan adiknya dijemput lalu dipulangkan
            tanpa nyawa, tidak ada demonstrasi, tidak ada fatwa Jihad, tidak ada
            perhatian. Dan, ketika ribuan muslim di Aceh lainnya harus mati, Jakarta
            sepi-sepi saja.

            Malam itu, menyaksikan televisi memberitakan demonstrasi menentang serangan
            AS ke Afganistan, rasa sakit dan pilu itu muncul kembali. Mamak,
            Salahuddin,
            para janda dan warga kampung yang melantai di depan televisi itu tidak
            perlu
            penjelasan reporter tentang sakitnya penderitaan akibat operasi militer
            yang
            brutal. Mereka adalah korban dan saksi hidup kebrutalan itu.

            Mamak bisa membayangkan betapa pedihnya perang di Afganistan. Dia masih
            ingat ketika tetangganya, berlarian mencari pinjaman sepeda motor untuk
            membawa anaknya ke Puskesmas karena ada peluru nyasar yang menembus
            perutnya. Malam itu anak berumur 6 tahun tadi meninggal, dan mamak menemani
            tetangganya semalaman tepekur di samping jenazah untuk terakhir kalinya.

            Dua bulan kemudian, suami dan adiknya bersimbah darah dan meninggal.
            Separuh
            lebih wanita di kampung miskin itu adalah janda, ditinggal mati suami, para
            syuhada tanah Aceh. Sekarang, Mamak ini membayangkan situasi ganas macam
            itu
            sedang terjadi di desa-desa di Afganistan.

            Mamak itupun teringat, tahun lalu ketika dia ke Jakarta diantar oleh sebuah
            LSM pembela hak asasi manusia untuk jadi narasumber tentang pembantaian
            suaminya. Saat dia naik kereta Jabotabek melewati stasiun Gambir, dari
            jendela kereta dia melihat ribuan manusia berbaju putih menyemut di dekat
            kedutaan Amerika. Mereka memprotes penembakan tentara Israel terhadap
            beberapa pemuda palestina. Ya, ribuan jumlahnya, mereka berdemonstrasi
            membela pemuda Palestina yang dilarang masuk ke kompleks Baitul Maqdis.

            Dari atas kereta, mamak juga melihat pasukan berseragam berjaga-jaga di
            sekitar lokasi demonstrasi. Melihat itu mamak jadi teringat dengan
            penjagaan
            ketat sekeliling kampungnya. Penjagaan yang membuat mereka bingung harus
            pergi kemana untuk mencari kain kaffan bagi jenazah suami dan adiknya.

            Kejadian memilukan itu jadi terasa baru kemarin. Di bawah terik panas
            matahari Jakarta, luka hati itu menganga lagi. Tetesan air mata mamakpun
            lalu menggumpal jadi satu dengan keringat.

            Sekarang, malam ini, mamak menyaksikan laporan televisi tentang Afganistan.
            Mamak sadar benar bahwa Afganistan perlu perlindungan. Dia cuma tersentak
            mendengar pertanyaan anaknya tadi. Sekarang dia mulai heran mengapa
            "saudara-saudaranya" dari luar Aceh itu siap berjihad justru ketika rakyat
            Afganistan dianiaya. Padahal, tangis istri dan para anak menyaksikan suami
            dan ayah yang tak lagi bernyawa itu sama-sama menyayat.

            Aceh dan Afganistan penuh penduduk muslim, penuh surau tempat anak-anak
            belajar tajwid, dan penuh mujahid tangguh. Lalu dalam hatinya bertanya,
            "Mengapa kedzaliman terhadap kami yang di depan mata ini didiamkan,
            sementara kedzaliman yang nun-jauh disana malah membuat saudaraku di
            Indonesia jadi menggebu-gebu?"

            Sesudah mendengarkan wawancara dengan salah satu demonstran di Jakarta,
            Salahuddin mengutip kata-kata guru ngajinya, "Mak, kata Tengku, lebih
            banyak
            orang Islam yang ditindas penguasa Islam daripada yang ditindas penguasa
            kafir?"

            'Oh ya. Memangnya Tengku bilang apa, Din?," jawab Mamaknya.

            "Katanya, umat Islam yang ditindas penguasa Islam itu lebih banyak, tapi
            tidak pernah dibela. Umat Islam itu cuma senang ribut-ribut kalau kalau
            musuhnya kafir, tapi kalau musuhnya ketidakadilan dan kesewenang-wenangan
            penguasa Islam, maka mereka diam. Mungkin karena tidak kelihatan gagah ya
            Mak ya?", kata Salahudin.

            Mamaknya mengangguk, seakan setuju.

            "Mak, kata Tengku juga, pengalaman kita di Aceh ini sama dengan di Bosnia,
            Chechnya, Kashmir, Kurdi, Palestina, Philippina, Xinjiang dan di banyak
            negara Arab sana, tapi cuma Palestina saja yang dibicarakan terus. Jadi
            Mak,
            nanti kalau sudah besar Udin mau jihad, membebaskan Aceh dari
            ketidak-adilan
            seperti Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Palestina," lanjut Salahuddin.

            "Din, Jihad yang paling utama dan besar itu adalah melawan hawa nafsu, jadi
            kalau mau membebaskan macam-macam, sekarang bebaskan dulu dirimu dari hawa
            nafsu. Berjihad itu harus karena Allah bukan karena balas dendam dan jangan
            juga karena ingin terkenal, itu namanya riya'," jawab mamaknya.
            Salahuddinpun terdiam.

            Sesudah pembicaraan itu, hati mamaknya makin bergolak, juga para
            tetangganya. Belasan pasang mata di depan televisi itu memandang heran dan
            mulutnya terdiam seakan mempertanyakan keadilan perhatian umat Islam, media
            massa, dan pemerintah di Indonesia. Mengapa mereka peduli dengan
            Afganistan,
            dengan Palestina, tapi seakan melupakan Aceh?

            Penduduk miskin di pelosok Aceh ini sudah kenyang dianiaya moril-material,
            disingkirkan, dan dilupakan. Lalu sekarang, di depan televisi, mereka harus
            jadi saksi atas saudara-saudara seiman, sebangsa, dan setanah air yang
            merapatkan shafnya, mengepalkan tangannya, dan menggemuruhkan kalimat
            takbir
            serta memekikkan seruan, "Bebaskan Afganistan!"

            Sambil menelan ludah dan dengan getir, nurani mereka bertanya, "inikah
            potret solidaritas umat Islam Indonesia?"
            ------------------------------

            Essai ini dimuat oleh harian Jawa Pos, 6 November 2001, dengan perubahan
            kata-kata judul oleh Redaksi.



            Ichwan Sontani
            Sistelindo Mitralintas
            AT&T Global Network
            Jakarta - I N D O N E S I A
            eMail : sisichwa@...
          Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.