Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.

[islam-kristen] Fw: [dcf] FW: [Eskol-Net]- Spot News: Penjelasan kasus Padang

Expand Messages
  • Omega Soemarso
    ... From: Lucky Antonio To: Opbet Suwadji ; Pahala Sinaga ; Paul Wenas ; Ruston
    Message 1 of 1 , Aug 4 1:37 AM
    • 0 Attachment
      -----Original Message-----
      From: Lucky Antonio <LuckyA@...>
      To: Opbet Suwadji <Opbet@...>; Pahala Sinaga <Pahala@...>; Paul
      Wenas <piwi@...>; Ruston Simatupang <ruston@...>; DCF
      <dcf@egroups.com>
      Date: Wednesday, August 04, 1999 7:52 AM
      Subject: [dcf] FW: [Eskol-Net]- Spot News: Penjelasan kasus Padang


      >
      >
      >> ----------
      >> From: Eskol-Net[SMTP:eskol@...]
      >> Sent: Monday, August 02, 1999 10:43 AM
      >> To: e-Buletin Eskol-Net
      >> Subject: [Eskol-Net]- Spot News: Penjelasan kasus Padang
      >>
      >> Pembaca yang terkasih, berikut ini kami postingkan penjelasan dari
      >> Pdt.Willy K.Amrullah mengenai kasus Padang yang sempat menghangat di
      >> Sumbar
      >> dan di tanah air.
      >> Kiranya posting ini bisa membantu kita memahami pergumulan dan
      >> permasalahan
      >> yang sebenarnya.
      >>
      >> Tuhan memberkati
      >>
      >> Redaksi Eskol-Net
      >> ----------------------
      >>
      >> KASUS KRISTENISASI YANG TERUS-MENERUS DI SUMBAR"
      >>
      >> Sejak awal tahun ini sampai sekarang kasus ini makin lama makin menjadi.
      >> Dimulai dengan tuduhan penculikan dan pemerkosaan, yang kemudian telah
      >> dialihkan dengan kasus yang paling hangat ialah kasus kristenisasi di
      >> Sumatera Barat. Tiap hari kami menerima berita2 yang ditulis dalam
      >> "Bijak", "Mimbar Minang", "Singgalang", "Haluan", sampai2 dimuat dalam
      >> majallah "Gatra" dan "Forum". Tuduhan2 telah dilakukan kepada orang2
      yang
      >> tersangka, sehingga sampai pula pada "Pendeta Willy Yang (Tak) Misterius"
      >> (Bijak 28 Juni-4 Juli '99). Saya tidak melarikan diri (buron) seperti
      >> yang
      >> ditulis oleh media massa karena kasus ini. Kasus ini baru terbuka lagi
      >> setelah kami beberapa minggu berada di Amerika, dimana saya berdomisili
      >> selama 49 tahun.
      >>
      >> Kelihatannya mass-media betul2 berpesta-pora memberikan kabar2 yang
      >> didengar dari sepihak saja, tanpa menyelidiki dahulu kebenarannya,
      >> sehingga
      >> telah menjatuhkan hukuman kepada orang2 tersangka. Tetapi saya juga
      >> mengerti, bahwa menulis "sensasi" biasanya surat kabarnya lebih laku.
      >> Selain daripada itu yang paling penting kelihatannya ialah menarik opini
      >> publik. Dalam hal ini, media tidak fair, karena kelihatannya mereka
      tidak
      >> pernah mewawancarai orang2 Kristen di Padang. Dan yang sangat
      menyedihkan
      >> sekali, ialah kita melupakan ajaran agama yang sebenarnya, yaitu: kita
      >> harus jujur dan jangan berbohong!
      >>
      >> Kalau ada diantara pembaca yang tidak mengikuti dan mengerti kasus ini,
      >> ada
      >> baiknya diterangkan secara singkat. Pada Jum'at, 27 Maret 1998, datang
      >> seorang gadis yang mengaku bernama "Devi" bersama-sama dua orang anggota
      >> GPIB, kerumah dimana kami berada. Dia mengaku bahwa dia berpindah agama
      >> menjadi Kristen, dan karena itu dia dalam bahaya ancaman dari keluarganya
      >> (akan dipasung). Devi juga mengakui bahwa dia mempunyai saudara kembar
      >> yang bernama "Lia". Kebetulan waktu itu, kami sedang berada di Padang.
      >>
      >> Kemudian pada hari Senin, 30 Maret '98, kami mendapat tilpun dari "Devi",
      >> mengatakan bahwa dia ada dalam bahaya dan perlu perlindungan. Hal ini
      >> membuat sedikit bingung untuk saya, karena dia minta alamat kami,
      >> sedangkan
      >> dia sudah datang pada hari Jum'at sebelumnya. Pendek kata, dia datang.
      >> Berdasarkan belas kasihan, "Devi" (karena dia mengatakan bahwa dia tidak
      >> bisa pulang dan juga dia tidak membawa barang2 keperluan pribadinya)
      >> disetujui, untuk tinggal bersama keluarga Salmon Ongirwalu (asal Ambon)
      >> dan
      >> isterinya Nenen (Liza Zuriana, Minang asli) yang mempunyai dua anak.
      >> Menyadari tidak tahu berapa lama "Devi" perlu perlindungan, akhirnya
      >> "Devi"
      >> disekolahkan di sekolah Kristen Kalam Kudus. Kalau orang2 yang
      memelihara
      >> dan menolong dia, bermaksud hendak mencemarkan dan menodai dia, apakah
      >> mungkin dia disekolahkan, apalagi di Padang?
      >>
      >> Baru sesudah ada orang mencari dia di Kalam Kudus, dan diketahui bahwa
      dia
      >> membawa pisau kesekolah, menurut dia untuk digunakan "membunuh dirinya
      >> sendiri" jika diserang /dikeroyok oleh bekas teman-temannya, maka kami
      >> tanyakan kepada dia, apakah dia mau pindah sekolah diluar Padang.
      >> Kebetulan bapak Pendeta Robert Marthinus, Kepala Sekolah Kalam Kudus,
      >> mempunyai keluarga yang tinggal di Malang, dan juga Sekolah Kalam Kudus
      >> juga mempunyai afiliasi disana. Yang penting diketahui, ialah bahwa
      >> "Devi"
      >> menyetujui pemikiran tersebut. Sebelum dia berangkat ke Malang, kami
      >> sempat menanyakan, siapakah sebenarnya yang datang pertama kali? Dia
      >> mengakui bahwa yang datang ialah "Lia" bukan dia. Ketika itu, kami
      >> menyadari bahwa selama ini, mereka telah berbohong.
      >>
      >> Dengan ini nyatalah, karena "Devi" datang dengan kemauannya sendiri dan
      >> minta bantuan perlindungan, dan dia setuju untuk pergi ke Malang, maka
      >> tidak pernah ada "paksaan pemurtadan" ataupun "penculikan dan
      >> pemerkosaan".
      >>
      >> Makin lama makin terlihat kebohongan2 yang telah timbul dari kisah2 yang
      >> seakan-akan di sutra-darai oleh pamannya Abu Samah, dimulai dengan
      tuduhan
      >> "penculikan/pemerkosaan" ("Bijak" 14-20 Juni '99 "Cerita ini sebagaimana
      >> dituturkan Abu Samah di PN Padang kepada BIJAK"),yang kemudian beralih
      >> kepada "kristenisasi paksaan". Saya percaya bahwa beliau adalah bagian
      >> dari suatu plot yang lebih besar lagi, yang tampaknya pamannya ini turut
      >> ambil bagian yang penting. Sebenarnya pemeriksaan tidak cukup dengan
      >> memvisum apakah Khairiyah (yang hanya kami kenal dengan nama "Devi")
      masih
      >> gadis atau tidak? Kenapa tidak menggunakan penyelidikan forensic atau
      >> DNA?
      >> Sesudah diselidiki oleh yang berwajib, juga tidak ada bukti2 yang
      >> memberatkan Sdr. Salmon. Dia ditahan dengan alasan untuk "menyelamatkan"
      >> dia dari ancaman2 massa. Berarti dia sudah dihukum sebelum dijatuhkan
      >> hukuman, dan massa juga mengancam untuk menghukumnya dengan cara mereka
      >> sendiri.
      >>
      >> Kasus seperti ini, adalah laksana ombak yang menarik dengan kuat sebelum
      >> menghempas dipantai. Jadi, ombak ini adalah oknum2 yang sengaja
      >> mencemarkan nama pemuka2 Kristen seperti Sdr.Yanuardi Koto dan Pdt.
      Robert
      >> Marthinus (yang sekarang juga dipenjarakan seperti Sdr. Salmon), termasuk
      >> saya sendiri sehingga reputasi kami sebagai hamba2 Tuhan dihancurkan.
      >> Semoga tim penyelidik yang sudah dibentuk oleh yang berwajib, betul2
      >> menyelidiki kebenaran. Salah satu dari ajaran ayahku (Dr. H. Abdul Karim
      >> Amrullah), bahwa kita jangan "bertaqlid buta" dalam menyelidiki yang
      benar
      >> (beliau meninggal pada tanggal 02 Juni 1945, bukan 1944 seperti yang
      >> dikatakan oleh Sdr. Rusydi Hamka, "Bijak" 12 Juli '99).
      >>
      >> Saya sangat tertarik dan merasa bangga akan tulisan2 karangan kakak saya
      >> Abdul Malik (Hamka), salah satunya ialah buku "Pribadi" yang diterbitkan
      >> oleh "Bulan Bintang" halaman 101: "Orang yang telah meleburkan dirinya
      >> kepada agamanya sendiri, walaupun agama apa yang dipeluknya, sekali-kali
      >> tidak ada kesempatan buat benci kepada pemeluk agama lain. Bagaimana
      akan
      >> ada kebencian dalam hati orang yang mendekati Tuhan?" Dan juga dalam
      >> halaman yang sama A.R. Sutan Mansur mengatakan: "Dalam agama ini,
      seumpama
      >> kita lahir dua kali, kelahiran yang pertama ialah dalam Islam. Tetapi
      >> setelah kita dewasa kita harus lahir sekali lagi. Kita selidiki agama
      itu
      >> sedalam-dalamnya dan kita sesuaikan hidup kita dengan dia. Kemudian kita
      >> selidiki pula agama yang lain, supaya - sebagai orang Islam - kita
      ketahui
      >> apa persamaan kita dan apa pula perbedaan kita."
      >>
      >> Sebagai orang tua, saya ingin bertanya kepada pemuda/pemudi, apalagi yang
      >> sudah kuliah di IAIN. Kenapa jadi gentar dan kuatir mendengar orang2
      >> Minang yang sudah menjadi Kristen yang hanya 93 orang itu di Sumbar dan
      >> 400
      >> orang di luar? (Sedangkan hal ini telah berlaku selama lebih dari 20
      >> tahun, yaitu sebelum ada PKSB - Persekutuan Kristen Sumatera Barat).
      >> Kalau
      >> kita betul2 ta'at kepada ajaran2 Islam, kita tidak usah takut untuk
      >> bergaul
      >> atau mempelajari Kitabullah yang lain. Sebab, kita percaya bahwa Firman
      >> Allah tidak berobah-robah, mulai dari Taurat, Zabur dan Injil. Di
      Amerika
      >> Serikat, universitas/seminari Kristen mendatangkan guru2 Islam untuk
      >> mengajarkan agama Islam kepada orang2 Kristen. Seperti Bpk. Prof. Shihab
      >> mengajar di Harvard University, dan lain2. Buya Hamka sendiri pernah
      >> berceramah berkeliling di AS pada tahun 1952, dan sayapun sempat
      >> mengantarkan beliau kemana-mana di California. Waktu itu pula, saya
      >> menerima buku karangan beliau "Ayahku". Disitu dapat dibuktikan siapa
      >> saya
      >> (lihat: "Ayahku" cetakan ke-tiga, Penerbit Djajamurni - Djakarta, halaman
      >> 224-225), biarpun saya sudah dianggap "saudara-tiri" dari Buya Hamka oleh
      >> Sdr. Rusydi. Saya terus ingat hubungan antara Ishak dan Ishmael, mereka
      >> satu ayah, tapi lain ibu; apakah mereka bersaudara tiri, sedangkan bibit
      >> yang ditanam adalah dari satu sumber. Didalam bahasa Inggeris ada
      bedanya
      >> antara "step brother" (yang tidak ada hubungan darah sama sekali) dan
      >> "half
      >> brother" (biasanya satu ayah lain ibu atau sebaliknya). Saya dengan Buya
      >> Hamka adalah "half brother", dan tidak ada satupun yang berhak atau bisa
      >> merampas "hak azasi" (birthright) saya itu, yang diberikan Allah.
      >>
      >> Saya tidak pernah ingin mencoreng nama Buya Hamka. Buktinya ialah sejak
      >> saya menjadi Kristen selama 18 tahun (tanggal 10 Juni '81 waktu saya
      >> berumur 54 tahun dan terjadi di Bali; satu bulan sebelum Buya Hamka
      >> meninggal dunia, tanggal 24 Juli '81), saya selalu mengelak untuk
      >> mengekspose diri saya, karena hal ini akan menjadi suatu sensasi yang
      akan
      >> menghebohkan. Syukurlah kalau Sdr. Rusydi Hamka sendiri yang telah
      >> membuka
      >> kesempatan kepada saya untuk memberikan keterangan yang sebenarnya.
      >>
      >> Maksud saya sering pulang kekampung, ialah untuk menikmati hari tua saya
      >> di
      >> tanah air yang saya cintai dan yang saya perjuangkan selama ini, yang
      >> mempunyai falsafah "Pancasila". (Saya keluar dari Indonesia, bukanlah
      >> hanya untuk menjadi kelasi kapal saja. Saya keluar negeri sebelum
      >> penyerahan kedaulatan, sesudah saya dipenjarakan oleh Belanda. Zaman
      >> revolusi saya bergerak dalam Angkatan Pemuda Indonesia, yang kemudian
      >> menggabungkan diri di Resimen VI, Polisi Tentara, Bagian Penyelidik, Div.
      >> Siliwangi, Cikampek). Di luar negeri saya terus menerus memperjuangkan
      >> Indonesia: 17 tahun sebagai pegawai Konjen RI di San Francisco, dan
      >> membentuk Ikatan Masyarakat Indonesia di A.S., dan terus-terusan sampai
      >> sekarang mempromosikan pariwisata ke negara kita, khususnya Sumatera
      >> Barat.
      >>
      >> Apabila saya berada ditanah air, khususnya di Padang, jika melihat
      >> kemiskinan dan penderitaan orang2 terlantar, terutama orang2 Minang yang
      >> dikucilkan dan diusir oleh keluarganya karena masuk Kristen, maka saya
      >> teringat akan ajaran Kristus, yang mengatakan: "Barangsiapa mempunyai
      >> harta
      >> duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu
      >> hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap
      >> didalam dirinya? ..... marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau
      >> dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran" (1 Yohanes
      >> 3:17,18). Menolong Devi, yang telah menceritakan kepada kami suatu
      cerita
      >> yang luar biasa, yang kelihatannya begitu tulus hati ... kami dapat
      >> memperlihatkan kasih kami dengan "tindakan" untuk membantu dia, biarpun
      >> dia
      >> bukan orang Minang.
      >>
      >> Jadi, ketika Khairiyah datang dengan menceritakan nasibnya, dengan
      >> sendirinya sayapun sangat kasihan dan sedapat mungkin kami dapat menolong
      >> anak yang malang ini. Hal tersebut adalah ajaran/perintah dari Yesus
      >> Kristus ('Isa Almasih 'Alaihissalam) untuk mengasihi sesama manusia, baik
      >> dia ber-agama apapun. Dalam ajaran Kristen tidak ada paksaan agama.
      Saya
      >> ingin menjelaskan, biarpun saya ditahbiskan sebagai pendeta di Amerika
      >> Serikat, tetapi saya tidak pernah membaptiskan Khairiyah Eniswah.
      >>
      >> Kembali kepada kasus Salmon, "mengkristenkan lantas membaptiskan
      >> Khairiyah", saya kira itu adalah karangan Sdr. Abu Samah, sebagai dalang
      >> dari permainan ini, sebagai alat dari oknum2 yang ingin mencemarkan nama
      >> kami dan agama Kristen. Kalau dia betul2 orang Islam yang benar, dia
      >> harus
      >> berdo'a dan minta ampun kepada Allah SWT atas perbuatannya. Atau, apakah
      >> dia percaya pula, bahwa dengan perbuatannya ini, dia akan mendapat pahala
      >> di akhirat, karena "jihad fi sabilillah"? Sebenarnya, dialah yang harus
      >> diselidiki benar2. Sangat disayangkan media-massa sudah terpengaruh oleh
      >> kebohongan2 ini.
      >>
      >> Saya tidak akan mengelak untuk ditanya, dan saya telah bersedia untuk
      itu.
      >> Hal ini, sudah saya laporkan dua kali, kepada Duta Besar RI Berkuasa
      Penuh
      >> di AS, Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Tapi sayang, sampai sekarang
      >> kelihatannya tidak mendapat tanggapan. Selain daripada itu, kami telah
      >> menghubungi organisasi2 HAM dan "International Freedom of Religion"
      >> (kira2:
      >> 20) di seluruh dunia, supaya mereka waspada apa yang sedang terjadi di
      >> Sumbar.
      >>
      >> Dalam menghadapi reformasi untuk menciptakan negara yang adil dan makmur,
      >> sudah waktunya kita menyadari pentingnya pengertian dan keharmonisan
      hidup
      >> bersama dalam negara ini. Semoga "seluruh" tulisan saya ini, dapat
      dimuat
      >> di surat kabar saudara, demi untuk menyatakan kebenaran. Terimakasih!
      >>
      >> Salam Hormat,
      >> Pdt. W.K. Amrullah
      >>
      >> P.O. Box 1303
      >> Downey, CA 90240-0303
      >> U.S.A
      >>
      >> "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
      >> Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
      >> ***********************************************************************
      >> Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
      >> Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
      >> tulisan harap menghubungi eskol@...
      >> Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
      >> a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
      >> ***********************************************************************
      >> Kirimkan E-mail ke majordomo@... dengan pesan:
      >> subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
      >>
      >
      >------------------------------------------------------------------------
      >GET WHAT YOU DESERVE! A NextCard Platinum VISA: DOUBLE Rewards points,
      >NO annual fee & rates as low as 9.9% FIXED APR. Apply online today!
      >http://clickhere.egroups.com/click/606
      >
      >
      >eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/dcf
      >http://www.egroups.com - Simplifying group communications
      >
      >
      >
      >
      >
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.