Loading ...
Sorry, an error occurred while loading the content.
 

FW: [Kabar Baik] EKSISTENSI AGAMA LAIN [makalah]

Expand Messages
  • omega
    dari [kabar baik] ... From: Beshorah Internet Ministry [mailto:beshorah@hotmail.com] Sent: Saturday, 01 December, 2001 09:54 To: beshorah@yahoogroups.com
    Message 1 of 1 , Dec 2, 2001
      Message
      dari [kabar baik]
      -----Original Message-----
      From: Beshorah Internet Ministry [mailto:beshorah@...]
      Sent: Saturday, 01 December, 2001 09:54
      To: beshorah@yahoogroups.com
      Subject: [Kabar Baik] EKSISTENSI AGAMA LAIN [makalah]

      EKSISTENSI AGAMA LAIN

      DALAM PLURALITAS AGAMA[1]

       

      Oleh: Noviany Thenu[2]

       

      Indonesia adalah negara kepulauan yang masyarakatnya hidup dalam kemajemukan. Kemajemukan (pluralitas) itu tidak hanya dari segi etnik saja, melainkan juga dalam hal kepercayaan. Sebagaimana kita ketahui bahwa pada zaman dahulu, sebelum kedatangan agama-agama besar, masing-masing suku di Indonesia memiliki bentuk kepercayaannya sendiri-sendiri. Itu berarti, pluralitas agama sudah ada sejak dulu di negara kita. Ketika agama-agama besar masuk, realita pluralitas tetap saja ada. Hal ini disebabkan karena agama yang masuk ke Indonesia pun bukan hanya satu.

      Dari fakta di atas dapat kita lihat bahwa pluralitas telah cukup lama menjadi bagian dari kehidupan negara kita. Secara logis, mestinya selama waktu yang cukup lama hidup dalam pluralitas, mestinya negara kita sudah cukup mampu untuk menerima pluralitas sebagai kekayaan bangsa. Namun, pada kenyataannya, hal itu tidak terjadi. Lebih menyedihkan lagi bahwa pluralitas senantiasa mengancam keutuhan bangsa kita. Bahkan, pluralitas justru menumbuhkan sikap-sikap tertutup (eksklusif) dan keramahan semu, sehingga walaupun hidup bersama, namun terdapat sikap acuh tak acuh satu terhadap yang lain. Oleh karena itu, pluralitas harus dilihat sebagai suatu realitas objektif yang justru memiliki peran yang menentukan bagi upaya perwujudan persatuan dan kesatuan bangsa.

      Dalam konteks plural seperti ini, maka dialog sangatlah penting perannya. Sebuah dialog akan terwujud jika ada pengakuan the other dan tidak punya maksud tersembunyi untuk menaklukkannya atau menyeragamkannya. Untuk itu, yang pertama harus kita lakukan adalah menemukan dan memunculkan suatu nilai universal agama-agama, bahwa kita mengabdi kepada Tuhan, Pencipta dan Pemilik kehidupan dan jagad raya ini. Hal ini merupakan paradigma yang bisa dijadikan pijakan bersama untuk melakukan dialog dan sebuah kerja sama kemanusiaan. Berdialog berarti membuka diri bagi pandangan yang berbeda-beda dengan tetap setia kepada keyakinan dan identitas diri. Dalam rangka tugas bersama untuk memelihara dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan-tantangan baru.

      Namun, barangkali yang menjadi kendala adalah adanya ketakutan-ketakutan dari kelompok-kelompok tertentu bahwa keterbukaan yang diciptakan dan dimungkinkan dalam era modern ini bisa menghilangkan ciri khas dan identitas mereka. Kelompok-kelompok semacam ini sulit untuk diajak berdialog karena menganggap dialog sebagai basa-basi dan tidak perlu.

      Untuk itu, perlu dibangun jembatan-jembatan yang dapat menghubungkan agama-agama yang berbeda dan antar-umat penganutnya. Seperti dikatakan oleh Olaf Schumann bahwa agama-agama perlu dibebaskan dari benteng-benteng pertahanan eksklusivitasnya. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan pemahaman-pemahaman baru di dalam kalangan penganut agama sendiri (khususnya pemimpin agama) mengenai ajaran-ajaran agamanya menyangkut agama lain. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap agama unik dan khas. Keunikan itu harus diakui dan jangan direlatifkan. Pada saat yang sama  mau melihat adanya hal-hal yang baik dan benar dalam agama lain.

      Saya mengutip pandangan agama-agama tentang manusia sebagai berikut: dalam agama Kristen ditegaskan bahwa manusia adalah Gambar dan Rupa Allah (Kejadian 1:26,27; 5:1,2), di mana hal itu merupakan panggilan bagi manusia untuk menjadi mitra Allah dalam mengelola kehidupan yang adalah ciptaan Allah. Dalam agama Islam dikatakan bahwa manusia adalah Khalifah Allah di bumi (Q.s 6:165) yang ditugaskan Allah sebagai pelaksana kehendak Allah untuk mengelola kehidupan yang dikaruniakan bagi manusia (Q.s 2:11-12).

      Dalam agam Hindu diyakini bahwa Brahman adalah prinsip asasi dari segala sesuatu (ciptaan). Manusia adalah sebagai bagian dari alam semesta sehingga manusiapun harus memperlakukan alam semesta sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri. Kesatuan Brahman-atman memperlihatkan adanya ketergantungan antara seluruh alam semesta. Sedangkan bagi agama Buddhis, menekankan pencerahan rohani sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap semua umat manusia bagi kebaikan semua. Itu sebabnya, ancaman kemanusiaan adalah ancaman terhadap semua umat beragama. Tidak ada mahluk selain manusia yang dipercaya Tuhan mengatur dan mengelola dunia seisinya. Pengaturan alam semesta bagi umat beriman, tentu harus mencerminkan pengaturan yang telah digariskan Tuhan. Sebagai wakil-Nya di muka bumi, seluruh tingkah laku dan tindakan mereka pun tidak luput dari sifat-sifat luhur Tuhan. Jadi, kesimpulannya, setiap agama lahir untuk membentuk serta menciptakan pelayanan dan kesejahteraan hidup.

      Untuk itu, kesadaran menerima eksistensi agama lain tidak hanya dalam kerangka pengakuan pluralisme sebagai realitas sosial, melainkan dalam kerangka sikap tulus sebagai perwujudan dari pandangan agamawi. Dalam hal itu, para pemimpin dari masing-masing agama dituntut untuk menumbuhkan sikap positif dalam kajian mereka terhadap agama-agama lain.

      Dalam hal ini, ada dua hal yang harus dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu: (1) menggali berita-berita Kitab Suci yang sifatnya universal dan mengajak kita berpikiran inklusif. Hal ini dimaksudkan untuk mengingatkan umat bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang universal. Khalik langit dan bumi, yang mengasihi seluruh umat ciptaan-Nya. (2) menggali kembali pola pikir yang pernah tumbuh dan berkembang di tengah-tengah bangsa kita, yaitu Prinsip Kerukunan. Hal ini dimaksudkan untuk menyadarkan umat bahwa apa dan siapapun yang berada pada posisi ekstrim yang menganggap hanya dirinyalah yang paling benar dan selalu mencurigai agama lain, misalnya: adanya Kristenisasi dan Islamisasi, sesungguhnya telah mengingkari satu sikap hidup dan pola pikir yang sebenarnya, yang merupakan bagian dari dirinya sendiri. Bila kedua hal tersebut dapat dilakukan oleh semua agama, maka kemajemukan agama tidak lagi menjadi persoalan, melainkan kekayaan yang menjadi modal dalam memperkokoh kesatuan bangsa.



      [1] Makalah disampaikan dalam siaran Midrash Ha Beshorah, YMPI Alkitabiah, di RPK 96,35 FM; 01 Desember 2001

      [2] Penulis adalah Pelaksana Harian YMPI Alkitabiah; alumni STT Apostolos, Jakarta



      Kunjungi situs kami: www.beshorah.cjb.net atau di: www.kabarbaik.cjb.net



      Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
    Your message has been successfully submitted and would be delivered to recipients shortly.